Playlist 18: Reuni

September 20, 2019
Minggu kemarin saya singgah di Cirebon. Ada reunian SMA. Perjalanan menuju ke sana dari Bandung, saya tempuh dengan Ciremai Express.

Kereta berangkat pukul enam pagi. Saya sendiri. Di hari yang sama, malam yang sama, sepupu saya menikah. Saya memilih pertemanan dibanding keluarga. Moga-moga saya gak kena kutukan. Toh suami dan anak saya ada menggantikan. Maaf ya, Mega Mahardika! Saya kirim doa-doa dari kursi kereta buat kamu! Mudah-mudahan Mega dan Adit saling setia, rukun, dan tentram!

Kereta berangkat pukul enam pagi. Saya tidak bawa makanan. Perbekalan berupa playlist. Didengar selama melamun di tepi jendela kereta api. Memandang kemarau. Melihat bukit gersang-gersang. Menunjuk sawah kering. Juga menyusuri masa-masanya berseragam putih abu-abu.

Kereta berangkat pukul enam pagi. Ia berhenti sebentar di Jatibarang. Memuntahkan penumpang. Stasiun kereta terdekat dari rumah, di sinilah wajah ayah saya berpendaran.  Dalam suatu siang, usai tujuh hari tahlilan, saya bertanya pada entah apa di stasiun ini sewaktu menunggu kereta ke kota kembang: bagaimana cara saya menghadapi hari-hari yang sama esok hari dengan perasaan asing begini?

Kita kembali lagi pada kereta yang berangkat pukul enam pagi. Pada ingatan bangku sekolahan. Yang pelajarannya menjemukan. Namun teman-temannya tidak.

IPA 2 namanya. Bila hari kamis tiba, kami berlomba-lomba datang lebih pagi. Sebab itulah waktunya bangku dirotasi. Jika kesiangan, niscaya duduk paling depan. Sasaran empuk teror para guru. Presiden kami Ayu Wulandari. Maskotnya Zainal Muttaqin, orang yang suara ngajinya paling keras bila ada ayat suci berbunyi: muttaaaqqiieeeeennnnnn!

Kereta berangkat pukul enam pagi. 30 menit lebih lama dari jam pergi saya ke sekolah. Bis aset Pertamina moda transportasinya. 60 kursinya. Saya sudah cerita belum? Kampung halaman saya disangga sawah-sawah berbatas cakrawala. Jantungnya gas alam, lambungnya minyak-minyak bumi.

Kereta berangkat pukul enam pagi. Bintang Limanya Dewa yang berkumandang tiap pagi di dalam bis sekolah. Berasal dari kaset milik anak pegawai pertamina, Adam Pribadi namanya. Siswa SMPN 1 Cirebon. Tahu kan lagu galau umat se-Indonesia saat itu: cintaku tak harus, miliki dirimu, meski perih mengiris, iris segala janji...

Kereta berangkat pukul enam pagi. Tidak saya tidak pernah pacaran sewaktu SMA.

Masih dari Ciremai Express yang mengangkut saya pukul enam pagi. Di gerbong kereta, saya bertemu Subrata, anak Gegesik simbol harapan orang tua pinggiran kota, yang jadi budak perusahaan rokok di Bandung. Teman satu kelas. Satu nasib.

Kami meninggalkan kursi kereta. Lantas nongkrong berdua di bangku restoran kereta api. Berbincang apa saja. Kebanyakan tentang cinta-cintaan. Topik abadi memang! Tiga minggu lalu, ia putus. "Waktu putusnya sih gak berasa, tiga hari setelahnya kok di sini sakit banget ya, Lu?" Brata menunjuk-nunjuk jantungnya. "Perih gitu," katanya lagi.

"Nangis, Brat?"
"Seminggu abis putus...nangis, Lu!"

Kami tertawa! Brata memukul-mukul meja restoran, masih tertawa. Matanya berkaca-kaca.

Kereta berangkat pukul enam pagi dan reuni dimulai jam tiga sore. Bertemu teman. Tidak ada mantan. Namun saya tidak lupa, seseorang dan ingatan di bangku kelas dua. Satu-satunya yang pernah menelepon ke nomor 484366 di suatu minggu siang. Di ujung telpon, ia bertanya "rumah kamu deket pasar kan, Lu? ini saya udah di pasar karangampel. Dari sini ke mana?" Cuk! Di sudut mata saya, saat telepon saya banting, ayah sudah berkacak pinggang, "siapa yang mau datang?!"

Kereta berangkat pukul enam pagi. Tahu-tahu sudah delapan malam. Reuni bubar. Bersalam-salaman. Berfoto sampai kamera ponsel gemetaran.

Waktu tergelincir sudah. Baru kemarin rasanya jadi anak pantura. Berkawan matahari, bersahabat obat nyamuk baygon. Lihat sekarang, saya udah jadi orang gunung. Berteman baik cuaca dingin, menyembah dedaunan mentah.

Gang dua selatan
Pasar Karangampel
Wahidin 79
Pasar Pagi
Kanoman
Grage mall
Elf-elf pantura biadab tapi elf majalaya lebih setan!

Ini dia kota yang, meminjam puisinya Saini KM- jalannya uratku, udaranya napasku.




Langsung aja dah playlistnya mana. Ini dia.

1. Anda - Dalam Suatu Masa
2. Rusa Militan - Senandung Senja
3. Hindia - Membasuh
4. GAC - Berlari Tanpa Kaki
5. Ari Reda - Surat Cinta
6. Mata Jiwa - Semesta
7. Silampukau - Lagu Rantau
8. Melancholic Bitch - Bioskop, Pisau Lipat
9. Anda - Tentang Seseorang
10. Andien - Indahnya Dunia


Post Comment
Post a Comment