Membaca Orang-Orang Oetimu

September 22, 2019
Capek baca novelnya. Bukan capek yang buruk, lebih kayak lelah aja baca konflik personal tiap tokoh di tiap chapternya. Bila ini semua ditulis berdasarkan kejadian sehari-hari di Oetimu, malang nian. Saya gak bisa lupa sama Laura ibunya Sersan Ipi...Maria yang benci gereja...Silvy yang jenius namun...

Novel terdiri dari 220 halaman.
Ditulis oleh Felix K Nesi.




Gak ada kata pengantar. Langsung masuk ke cerita dan bertemu Sersan Ipi. Habis itu Julio. Lantas Laura. Ada Aim Siki. Atino. Martin Kabiti. Romo Yosef. Maria. Silvy. Linus. Dan lain-lainnya.

Latar tempatnya Nusa Tenggara Timur. Timor-timor tepatnya. Dengan kerangka luarnya konflik perang dari zaman Belanda, Jepang, Indonesia, pemberontakan. Juga Orde baru hingga Reformasi, saya baca keseharian warga di sana. Hwaduh membaca novelnya, saya berulang kali bilang ke diri sendiri. Betapa beruntungnya saya tinggal di Jawa, Jawa Barat, Kota Bandung, Setiabudi...

Tiap chapter tokohnya berbeda. Namun semuanya saling berhubungan. Gak ada satupun bagian dalam novel ini yang membosankan atau karagok. Enak bener bacanya. Luwes kalimatnya. Seolah-olah saya sedang dinyanyiin, didongengin. Membaca novelnya kayak denger orang lagi ngomong nonstop. Nyerocos.

Semua kalimat di novel ini, cakep-cakep banget!

"Sersan Ipi menjemput Martin Kabiti dengan sepeda motornya. Itu adalah sepeda motor RX King yang telah ia modifikasi knalpotnya, sehingga raungannya menggelegar membelah rumah orang-orang miskin, membikin anjing melolong, dan kelelawar berterbangan dari pucuk-pucuk bunga kapuk".

Itu baru halaman pertama saja.

"Silvy menyentuh punggung tangan Sersan Ipi. Anjing-anjing kecil saling gigit dan mengaing di samping dapur. Seekor ayam berkokok di kejauhan. Angin sepoi menerobos. Sepeda motor menderu di kejauhan. Telur telah matang. Dan mereka telah berciuman."

Tentang suasana di antara adegan, deskripsinya sangat menyenangkan untuk dibaca. Tiap adegan, jadi layar di kepala saya.

"Wangi karang dan angin laut, kicau burung dan debu jalanan. Matahari belum juga jatuh. Cahayanya merah pendar beberapa senti di atas Laut Sawu. Saat itulah sepeda motornya dihantam dari belakang. Mereka terseret sembilan meter dan kena gilas tiga truk lain. Pakan ayam berhampuran. Darah dan otak menggumpal di jalanan".

Oetimu yang sabananya luas-luas. Orangnya senang berjalan kaki. Atau naik kuda. Di sana, ojek gak laku. Laki-lakinya gemar sepakbola. Juga minum-minum, tuaknya bernama sopi. Sopi kepala. Mereka menanam cendana, jagung, jati. Prianya terkenal pria sejati. Tidak malu melakukan pekerjaan perempuan dan selalu berjalan di sisi kanan.

Bukan novel dengan kisah yang menyenangkan hati. Utamanya buat saya sebagai perempuan. Tapi sebagai karya yang 'menghibur', ini novel dibelilah. Sangat brilian ceritanya.


2 comments on "Membaca Orang-Orang Oetimu"
  1. Ya ampon, saya sudah cukup lama tida membaca buku :' padaha bukubuku masih plastikan masih numpuk wgwgggw

    Baru tau sama bukunya Felix ini ._.

    ReplyDelete
  2. Udah lama nggak baca novel yang mampu menggambarkan isi kepala gitu. Maksudnya, narasinya bagus gitu lho. Udah lamaa banget ga baca novel yang gitu.

    Eh atau aku sekarang udah mulai males baca novel aja ya. Hahaha

    Baiklah, akan aku masukkan ke dalam wishlist yang perlu dibeli next time kalo mampir ke gramedia

    ReplyDelete