Social Media

Image Slider

Showing posts with label Kuningan. Show all posts
Showing posts with label Kuningan. Show all posts

Situs-Situs Kuno di Cigugur - Kuningan

02/12/19
Terima kasih akun @cirebonheritage, karena dialah saya tahu ada empat situs kuno di Cigugur, Kuningan:

Pertama, makam antik.
Kedua, bangunan ibadah penganut aliran kepercayaan.
Ketiga, gedung tua dengan menara persegi delapan. 
Terakhir, situs megalitikum.




Istimewa sekali Cigugur ini. Maksudnya, ada bebatuan yang datangnya dari zaman purba, tersusun rapi tonggak peradaban manusia. Tidakkah itu menarik banget sekali pisan?

Indonesia ini memang, banyak amat harta karunnya ya!

Tiga dari situs-situs kuno tersebut berlokasi di tepi jalan. Begitu mudah mencapainya, motor dapat diparkir begitu saja. Saya pikir dibutuhkan usaha ekstra seperti waktu saya menggapai Bangbayang Sumedang. Hahaha. Ini enggak! Seru amat!

Unang, teman lama yang juga saya kontak jadi pemandu dadakan sebab ia berdomisili di Kuningan, mengatakan bahwa Cigugur merupakan wilayah yang unik di Kuningan. Area yang pluralis: penganut aliran kepercayaan, muslim, dan katolik ada semua.

"Di sini sekolah kristen ada banyak, Lu," kata dia lagi. Unang juga menambahkan, penganut aliran kepercayaan yang menyebrang keyakinan, mayoritas memasuki agama kristen. Katolik umumnya.

Saya mencari datanya di internet. Tahun 2017, jumlah warga muslim di Cigugur mencapai angka empat ribuan. Sementara katolik berjumlah setengahnya. Dua ribu. Sisanya protestan, penghayat, budha, dan hindu.

Banyak gak sih itu? banyak ya. Barusan saya browsing, maaf kalo perbandingan data kejauhan, tahun 2010 di Bandung muslimnya tiga jutaaan, katoliknya 128ribuan. Porsi di Cigugur lebih seimbang gak sih jadinya? :D

Oke. Kembali ke situs-situs kuno di Cigugur.

Bangunan makam ini terlihat menonjol karena dialah satu-satunya bangunan antik di sana. Di seberangnya rumah warga. Ke belakang ada beberapa nisan bertuliskan Lumantow. Nisan tak terawat. Tak jauh dari sana ada pemukiman. Lantas dominasi pepohonan masih besar. Menambah aura teduh yang agaknya menakutkan bagiku. Entahlah mengapa.




Makam ini tempat bersemayam Van Beck. Tokoh kolonial penting pada masanya. Makamnya saja semewah itu saya kira dia bukan orang biasa. Namun sulit menemukan apa kedudukannya, saya mencarinya di google, gak ketemu. Pejabat kolonial paling mungkin sih, di Kuningan gak ada perkebunan. Paling dekat ada perkebunan gula di kota-kota tetangganya Kuningan: Cirebon dan Majalengka.

Bila kamu tahu siapa Van Beck, beritahu saya ya. Komen saja.

Makamnya berbentuk seperti siput. Masuk ke dalamnya, terlihat macam gudang tak terurus. Gelap dan berantakan. Dari luar terlihat mewah, dari dalam wow megah! Atapnya kubah. Nisan berada di tengah. Namun sepertinya makam tersebut sudah tidak ada. Karena seperti kosong saja nisannya.

Didalamnya, saya merinding. Saya gak memotret bagian dalamnya. Unang yang melakukannya. Dia biasa-biasa saja tidak ketakutan sepertiku. Fiuhhh...gak tahulah. Auranya gak enak sekali di dalam sana. Saya beranjak cepat.

Perasaan yang sama walo gak dalam-dalam amat terjadi di Gedung Marapat Lima dan Paseban Tri Panca Tunggal. Apakah perasaan keueung ini muncul karena efek mendung dan hutan-hutan kecil di tepi jalan? seriusan, pepohonan besar dan lebat berceceran di sini. Adem lihatnya, meski agak ngeri hawanya. Hahaha mungkin perasaan saya saja yang salah.

Paseban Tri Panca Tunggal dan Gedung Marapat Lima adalah cagar budaya yang bersaudara.



Paseban Tri Panca Tunggal

Bangunan yang saya sebut pertama itu, ada sejak tahun 1840. Tua. Dia rumah ibadah sekaligus rumah pribadi. Milik keluarga Madrais, penyebar aliran kepercayaan di sini. Madrais kurang lebih sama dengan Sunda Wiwitan. Ada juga yang menyebutkan Sunda Jawa.

Tiap tanggal satu suro ada Seren Taun di sini. Acara besarnya Kuningan sejak bertahun-tahun lamanya. Penghayat baru diakui negara di E-KTP, di sini Seren Taun bahkan jadi agenda pemerintah lokal. Lha wong baligo Seren Taun yang saya amati di tepi jalan, begitu banyak logo dinas pemerintahan tercantum di sana. Hahaha.

Di beberapa tempat, penganut aliran kepercayaan tidak termarjinalkan. Cigugur salah satunya. Namun entah bila mereka keluar dari Cigugur.

Bagiku, agama adalah ranah pribadi. Kolom agama di KTP hilangkan saja. Apa perlunya mencantumkan agama di kartu identitas? Kalau kamu punya jawabannya, kasihtahu saya, komen aja.

Sementara Marapat Lima tidak diketahui fungsinya. Arsitekturnya memukau. Cantik sekali bangunannya dilihat dari berbagai penjuru. Pintu masuk ada dua. Bangunannya ada dua saling merapat di bagian bokongnya, di bagian tengah atas ada menara persegi delapan. Cantik sekali.

Perasaan keueung memudar saat saya berada di Cipari. Masih di Cigugur. Ada situs megalitikum di sini. Dikepung pemukiman dan pesawahan.




Situs ini ditemukan tidak sengaja. Tahun 1972. Di tahun tersebutlah penelitian arkelogi bermula. Penggalian dimulai. Makin banyak bermunculan perkakas dari dapur purba, gerabah, perunggu, dan pondasi-pondasi.

Tercatat situs ini ada di era Neolitik. Kisaran tahunnya 1000 SM - 500 SM. Artinya, ini peradaban yang terbilang canggih dong ya. Mereka berorganisasi. Mengasah batu. Menetap lantas bertani dan beternak. Membuat tembikar. Mereka memuja leluhurnya dengan mendirikan bangunan ibadah berupa batu-batu megalitik. Kalo baca-baca di Wikipedia, Cipari seumuran dengan zaman Yunani Kuno. CMIIW.

Di Cipari ada satu bangunan museum. Fyi, museumnya impresif sekali. Bukan koleksinya, tapi bangunannya. Cakep banget!

Lihat deh ke sana, datangi langsung. Koleksi zaman neolitikum di Kuningan disimpan di satu bangunan terdiri dari satu ruang. Bentuk museumnya mengingatkan saya pada rumah-rumah di Indonesia Timur.




Anehnya, itu museum gak jelek hahaha maksudku, gak jomplang dengan situsnya. Bangunannya oval, atapnya dari ijuk dengan ujung meruncing. Jendela memenuhi dinding-dindingnya. Sewaktu saya dan Unang masuk ke museum, hwaduh terasa adem sekali!

Lantainya merah bladus. Langit-langitnya tinggi, plafon dari kayu. Kondisi museumnya baik-baik saja. Tidak ada yang rusak. Sederhana dan impresif. Kayak, less is more.

Adanya situs megalitikum di Cigugur ini menunjukkan kawasan ini bukan saja kota tua, tapi juga daratan tua dong ya! Istimewa sekali! Kuningan bangga amat!

Kesan lain saya terhadap Kuningan adalah hawanya beneran sejuk. Unang membawa saya melewati desa-desa di kaki-kaki Gunung Ciremai. Jalanannya gokil, mudun nanjak berkelok-kelok! Tanah kosong masih banyak. Gak tau kondisi air di sana bagaimana. Unang bilang ada beberapa mata air sih. Banyak yang kering, tapi ya ada juga yang airnya masih curcor.

Pensiun di sini boleh juga. Bila mencari kota kecil untuk didiami dan ingin cuacanya adem gak bikin keringatan, saya rekomendasi Kuningan.

Cerita dari Kuningan belum selesai. Wait.

Cerita Dari Gedung Naskah

16/09/19
Highlight jalan-jalan saya di Kuningan adalah Museum Perundingan Linggarjati. Atau Gedung Naskah. Abis baca biografinya Sjahrir nih gara-garanya. Kalo ke Banda Naira menyusuri jejak Sjahrir iraha boa atuh, tapi ke Kuningan bisalah karena dekat dari Bandung. Ada kan shuttle Bhineka jurusan ke sana, naiknya dari Pasteur atau Mekarwangi. 





Perundingan Linggarjati, Buat Apa? Mengapa?

Di bangunan bergaya kolonial inilah berlangsung perundingan resmi pertama Indonesia dengan Belanda setelah proklamasi. Eh? Kan kita udah merdeka, ngapain berunding segala? 

Kita udah merdeka memang. Kata siapa? Kata kita sendiri. Gak apa-apa ngaku-ngaku merdeka? Gak apa-apa. Akan tetapi begini lho.

Dunia belum kenal kita. Gak ada yang tahu negara kita namanya Indonesia. Dunia taunya kita ini Hindia Belanda, koloninya negara Belanda yang sedang dicaplok Jepang. 

Ditambah fakta, mana maulah Belanda lihat kita merdeka.

Setelah 17 Agustus 1945 itu, Belanda gak terima kemerdekaan kita. Kan waktu itu Jepang kalah di Perang Dunia II, tersingkirlah dari Indonesia.

Terus Belanda datang lagi ke Indonesia. Angkat senjata, mereka melancarkan agresi militer. Gak bisa kamu merdeka, kamu kan koloni saya. Gitu meureun kalo Belanda bisa ngomong. Hehe. 

Bandung kena tuh agresi militernya Belanda. Pasti tahu kan peristiwa Bandung Lautan Api? Saya pernah nulis tentang peristiwa tersebut. Link di sini.

Kita melawan Belanda lagi. Dengan senjata juga. Jendral Soedirman, Bung Tomo, Tan Malaka. Pokoknya kita gak mau balik lagi jadi budak-budak Belanda! Soedirman bilang gini: lebih baik di (bom) atom daripada tidak merdeka seratus persen! 

Etapi apa iya kita harus ambil cara itu terus-terusan? Angkat senjata dan secara frontal berperang dengan Belanda dan sekutunya? 

Enggak. Ada cara lain. Yaitu cari pengakuan kemerdekaan Indonesia dari kancah internasional. Berdiplomasi.

Hatta dan Sjahrir adalah otak-otak dibalik diplomasi Indonesia ke dunia. 


Diplomasi Sjahrir, Mundur untuk Loncat! 

Jadi, setelah proklamasi itu pahlawan-pahlawan kita berbagi tugas. 

Pertama, ada yang melawan Belanda dengan senjata. Soedirman contohnya. 

Kedua, ada yang melawan dengan diplomasi. Sjahrir orangnya. 

Ketiga, ada yang nonstop menggelorakan kemerdekaan. Siapa lagi kalo bukan Sukarno. 

Jangan abaikan juga peran Tan Malaka yang perjuangannya dari balik layar.

Di sini nih, di Gedung Naskah yang dulunya vila bekas hotel perundingan berlangsung empat hari. November 1946. Sjahrir otak di balik terjadinya perundingan ini. 

Ingat gak pelajaran sejarah di sekolah dulu? Perundingan Linggarjati dianggap nguntungin Belanda aja. Kita kalah.

Sjahrir diece-ece gagal. Tapi apa iya dia gagal? 

Hasil perundingannya gini: wilayah Indonesia secara de facto hanya Jawa dan Sumatera, Belanda mengakuinya. Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat yang tergabung dalam Uni Indonesia Belanda. 

Namun gak banyak yang tahu, bahwa dalam hasil perundingan Linggarjati, Sjahrir dengan cerdiknya mengusulkan satu pasal yang jadi batu loncatan. Pijakan  yang membawa kita ke kancah internasional. 

Kayak main catur, langkah Sjahrir dalam perjalanan politik kelihatannya hati-hati, sabar, cerdik, dan tentu saja elegan.

Emang bunyi pasalnya gimana?

Sjahrir mengajukan pasal perundingan di tingkat PBB apabila  terjadi perselisihan lagi. Belanda nurut. Mereka udah kesenengan merasa menang. Gak sadar, ia masuk jebakan Sjahrir. 

Sjahrir tahu, usai perundingan, kita gak akan berhenti melawan. Soedirman dan simpul-simpul perjuangan terus bergerak. Gak mau ditindas. Belanda ya sudah pasti nyerang terus.

Hasilnya? Tahun 1947 Belanda melancarkan agresi militer. Yak perselisihan!

Prediksi Sjahrir terjadi. Belanda masuk 'perangkap' Sjahrir. Dilaporin lah Belanda ke PBB. "Nih mantan penguasa koloni kami  -Belanda- menindas kami nih!"

Dueng! Belanda baru nyadar taktik Sjahjrir. Sjahrir membuat dunia internasional melek bahwa ada negara namanya Indonesia, sudah merdeka, tapi masih ditindas mantan(penguasa koloni)nya. 

Di tingkat PBB itulah kita berunding lagi. Sjahrir memanfaatkan momentum tersebut. Sambil berunding, sambil juga ia berjejaring dengan berbagai negara. Mencari simpati. 

Lantas Belanda terbukti melanggar perjanjian. Akhirnya Belanda harus menuntaskan persengketaan atas wilayah Indonesia di sidang Internasional di PBB. Ya, sambil... ditonton...dunia…

Akhir perundingannya gini. PBB mengakui eksistensi RI dan menyebut nama “Indonesia”, bukan “Netherlands Indies” atau “Hindia Belanda” dalam setiap keputusan resminya. 

Perundingan berlanjut di Konferensi Meja Bundar di Hague Belanda. Kali itu, Hatta yang jadi peluru menghabisi Belanda di meja perundingan. 




Museum dan Artefak

Itu ya, cerita yang saya kasih lihat tadilah yang saya harap ada di Gedung Naskah. Tapi gak ada. 

Museum ini membosankan setengah mati. Artefaknya aja yang dipajang. Konteksnya enggak. Bahkan Sjahrir gak kelihatan penting di sini.

Ada foto, tanggal, tahun, nama, hasil perundingan. Namun menurut saya gak cukup museum hanya menyajikan info apa dan siapa. 

Tidak ada keterangan mengapa dan bagaimana. Mengapa perundingan harus berlangsung. Bagaimana perundingan berjalan. Apa efeknya bagi kemerdekaan kita. Mengapa masih ada perundingan setelah Linggarjati. Blablablabla….

Cerita yang saya perlihatkan di atas pun hanya cuplikan saja. Teman-teman mesti baca sendiri kronologisnya. Termasuk taktik Sjahrir mengirim hampir setengah juta ton beras ke India. Itu ada hubungannya dengan diplomasi mencari kedaulatan. Dan menaklukan boncengannya Belanda, yaitu Inggris.

Saat saya membaca kisah yang saya paparkan ulang ini, kok saya jadi lebih ngerti ya. Tanggal dan tahun gak lagi angka-angka sekedar hapalan. Nama Sjahrir saja buat saya gak lagi sama. Ia terbaca begitu…keren!


Mungkin gitu bagusnya pendekatan belajar ya. Dengan pendekatan bercerita. Terima kasih banyak buku-buku biografi. Hahaha. Harusnya buku sekolahan tuh buku biografi ajalah. Jadi gak kaku. 


Bangunan Museumnya sih Cakep! Banget!

Terpisah dari konten sejarahnya, bangunan Gedung Naskah ini cuakeepppp banget! Pintu jendela dicat hijau. Dindingnya putih. Ala kolonial. 

Dahulunya ini bangunan hotel namanya Rustoord. Tahun 1935. Pernah jadi markas belanda, pernah jadi sekolahan. Juga pernah...terbengkalai. 

Tahun 1976, gedungnya direstorasi. Lantas jadi museum. Hingga sekarang. 

Bila ke Kuningan, saya rekomendasikan Gedung Naskah. Bukan untuk berfoto saja, tapi untuk menyadari ini lokasi legendaris. Dan tentang Sjahrir, baca-baca dulu tentangnya sebelum ke museum ini. Dialah orang yang membuka jalan pengakuan kedaulatan Indonesia dari dunia. Ya, dari kaki gunung Ciremai ini mulanya. 

Museumnya sudah buka sejak pukul 8 pagi. Tiketnya Rp2.000.






Menteri Sosial RI yang pertama, orang yang mengusulkan lokasi perundingan di Linggarjati


Unang yang sedang merintis sekolah dasar di Kuningan bernama Linimasa