Social Media

Image Slider

Daftar Toko Bahan Kue di Bandung (Murah-murah!)

22/04/19
Toko Bahan Kue di Bandung ada banyak. Ada yang mahal, murah apalagi.

Berhubung mau masuk bulan Ramadan, waktunya saya ngasitahu toko-toko bahan kue yang rekomendid. Sebab apa? barangkali butuh rekomendasi toko bahan kue di Bandung supaya budget bikin kue keringnya bisa ditekan tapi rasa tetep enak :D heheheh.

Baca juga: Beberes Lebaran Sewa GO-CLEAN Aja

Ada 2 toko bahan kue  di Bandung yang jadi andalan saya berbelanja bahan kue. Toko Sejati dan toko belakang Pasar Baru. Selain murah-murah, produknya juga bagus. Di toko belakang Pasar Baru itu saya belanja keju edam buat bikin kue kering keju. Ibu mertua saya sih yang suka belanja di sana. Saya kebawain :D

Jadi langsung aja nih!

1. Toko Sejati

Toko bahan kue termurah se-Bandung. Andalan saya belanja bahan kue.
Bisa digojekin.
Kalo datang langsung, ambil kertas terus tulis pesanan. Kasih aja ke pelayan toko dan tunggu dipanggil.
Jl. Suniaraja 20
Tlp 022-420.1760

2. Dwi Berkat

Di sini butter wysman termurah se-Bandung.
Bisa digojekin.
Jl. Belakang Pasar no. 118 Gardujati
Tlp 0813.1222.2908

Belakang Pasar Baru ini surganya toko-toko loyang dan toples. Kenapa? MURAH!

3. Toko Harum

Ibu mertua saya kalo belanja di sini. Tapi stoknya gak lengkap.
Di sebelah Lotek Kalipah Apo.

4. Mutiara Kitchen

Gak ada bahan kue, tapi buat peralatan memasak kue di sini murah-murah banget!
Datengin tokonya yang di Bypass. Stoknya lengkap.
Tempat belanja favorit karena bersih, gak panas, dan enak aja kayak belanja di supermarket.
Bypass 497 seberang Bank Mandiri.

5. Sepanjang Kalipah Apo

Banyak toko perlengkapan masak. Langganan saya Toko Subur.
Di jalan ini juga ada distributor cokelat elmer (CV Sakura).

6. Toko Bahan Kue Bandung

Jl Baranang Siang 75B

7. TBK Lili

Jl Leuwipanjang no. 4
Gak punya no teleponnya.
Lebih murah dari Toko Sejati.

8. Ibu Cucu

Pasar Barat no. 29
022-242.163.24

Kalo bertanya, kok gak ada Kijang Mas? Mahal itu mah :D

Nah sekarang waktunya belanja bahan kue. Atau udah? hehehehe. Selamat datang, Ramadan! Selamat berbelanja di toko bahan kue murah-murah di Bandung!

Wisata Malang: Museum Bentoel dan Berburu Ketan Bubuk

21/04/19
Kalo ada satu kota yang ingin saya datangi lagi, itu Malang.

Rasanya kayak ada urusan yang belum selesai di sana. Dan bila saat itu tiba, saya mau suami -Indra- juga ikut!

Tahun lalu, hanya saya dan Kubil yang main ke Malang. Indra di Bandung aja. Sayang juga.

Tanpa dia, berada di kota apel tersebut selama empat hari terasa ada yang kurang.

Ibu dan anak berkeliling kota, si ibu gak bisa baca peta. Hahaha. Niatnya mau menyusuri bangunan antik di sana berdasarkan peta yang saya bawa. Hasilnya? kesasar.

Tapi saya gak butuh Indra untuk bacain peta. Anggap aja rencana ke Malang ini sebagai honeymoon. Hadiah buat kami berdua sebab kami bisa bertahan satu sama lain selama...delapan tahun! Hehe.



Selain mau menginap di hotel di Malang yang agak fancy (minimal ada kolam renangnya. Lol), saya mau ajak dia ke tempat-tempat yang saya pernah kunjungi. Standar aja sih kalo di Malang tempat buat turis itu-itu aja.

Udah bisa nebak ke mana aja serunya kalo di Malang?

1. METIK APEL

Tentu saja. Hahaha. Batu di Malang ini ibarat Lembang di Bandung. Banyak tempat wisatanya. Surga buat turis. Kecuali macetnya. Karenanya mesti pintar pilih waktu ke sana.

Kegiatan metik apel ini memang remeh. Tapi enggak kalo kamu turis. Ternyata seru-seru aja hunting apel mana yang matang. Gak butuh banyak toh yang penting pengalaman metikin apelnya. Terutama buat si Kubil, anak kecil yang banyak ingin tahunya.

Bagi orang dewasa kayak saya, metikin apel juga menyenangkan. Semacam kegiatan motorik yang sederhana namun memberi kesan adem (dan gatal digigit semut :D).

Nah bila metik apel sudah. Kami beranjak ke...

2. SEHARIAN DI JATIM PARK II

Banyak tempat kayak gini di Malang. Jatim Park aja ada tiga. Sampe bingung milihnya. Tapi hasil baca-baca review di google menunjukkan, untuk kali pertama di Malang, Jatim Park II udah tepat. Banget.

JATIM PARK II IS AWESOMEEEEEEE!

Tahun lalu ke sana, saya datang jam 11 siang, pulang jam 6 sore. Yak betul. Seharian di sana hahahaha. Itupun belum semua kami jelajahi.


Ada empat wahana besar di sini: kebun binatang, wahana permainan, kebun binatang lagi, museum satwa dunia.

Bagi saya, semuanya memuaskan. Gak ada komplen. Bahkan saya pikir harusnya datang lebih pagi. Tapi tempatnya juga baru buka jam 10 :D

Sejak ke sana, dalam hati ini udah bercita-cita 'saya harus ajak Indra ke Jatim Park II'. Kalo di kota ini, opsi kunjungan ke Jatim Park I, II, dan III mesti ada di paket honeymoon Malang.


3. ES KRIM OEN DAN BANGUNAN ANTIK DI SEKELILINGNYA

Kalo di Bandung, es krim Oen ini bisa dibilang mirip resto Sumber Hidangan. Ketertarikan saya pada bangunan tua, membawa saya ke Toko Oen.

Sewaktu di sana, kami nongkrong agak lama. Saya makan es krim sambil memperhatikan ruangan. Kubil menggambar. Bila Indra ada dalam perjalanan ini, dia pasti sedang foto-foto.

Di restoran peninggalan era kolonial ini saya memesan es krim gula jawa. Juga beberapa roti. Rasanya biasa aja. Seharusnya saya browsing dulu apa best sellernya Toko Oen sih. Heuheu.


Oya, di sekeliling Toko Oen banyak bangunan kolonial. Yang paling kentara dua gereja. Saya memotret keduanya. Di Bandung, saya memperlihatkannya pada Indra. Terus dia yang "bagus banget! banyak yang antik-antik di sana?"

"Buanyaakkk!," jawab saya. Makin bulat tekad ke Malang, sebulat perut-perut kami.

4. MUSEUM BENTOEL 

Biasanya museum tutup hari senin. Di sini museumnya tutup hari selasa. Pas saya ke sana pula. Hahaha.

Gagal masuk Museum Bentoel. Padahal, sejak sebelum berangkat ke Malang saya sudah ancer-ancer mewajibkan diri ke museum tersebut.

Akhirnya kami berfoto saja di depan museumnya.

Makanya, kunjungan ke dua saya ke Malang kelak, museum ini ada di urutan pertama.

5. KETAN BUBUK WHERE ARE YOU!

Selain museum, ini juga benda yang gagal saya peroleh. Wajar kalo traveling pengen ngerasain kuliner lokalnya. Di Pasar Besar Kota Malang saya berburu Ketan Bubuk.

Jam 10 pagi waktu itu. Sesampainya di lokasinya, lapak ketan bubuknya sudah bubar.

Saya kesiangan!

Sebagai sesama pemamah biak, saya mau ajak Indra mencari Ketan Bubuk lagi. Nanti mah harus datang lebih pagi.

6. SATE KOMOH DI PASAR BARU KOTA MALANG

Kuliner yang satu ini berhasil masuk perut saya. Makan tiga tusuk. Kubil menyantap satu tusuk. Kalo Indra ada di sana, dia pasti makan 10 tusuk :D

Khusus untuk kuliner Malang, saya browsing datanya via internet. Dari web Kompas saya peroleh informasi mengenai kios-kios kuliner yang direkomendasikan di Pasar Besar Malang.

Sate Komoh khas kuliner Jawa Timuran. Terbuat dari daging sapi bagian hasnya. Dicampur dengan bumbu rempah-rempah. Lalu dibakar. Ukurannya lebih besar dibanding sate biasa. Walo besar-besar, tapi empuknya jangan ditanya. Gak susah gigitnya.

Sate Komoh ada di Waroeng Lama H Ridwan. Warung makan yang ada sejak tahun 1925. Lokasinya ada di dalam Pasar Besar. Di antara kios-kios pakaian.

Unik sih saya suka tempat-tempat yang gak fancy begini. Suasananya, hawanya kayak bukan di tahun 2019.


Terus kapan mau ke Malang lagi nih?

Segera!

Begitulah Malang dan rencana besar saya memboyong Indra ke sana. Tentang ingin berbagi hal-hal yang menyenangkan, itu yang terjadi saat saya di Malang tanpanya.

Saya hanya kirim foto via whatsapp saja saja padanya waktu itu. Sedang makan apa, enak gak, main di mana, nyampe hotel jam berapa, mainnya seru, nyasar segala, gak dapet ketan bubuk, blablabla.

Memang benar kata Christopher McCandless: happiness is only real when shared, bersama orang terkasih. Malang, tunggu kami datang!




Foto: dokumen pribadi

Acara Bedah Buku 'Journey To Samarkand' di Khalifah Tour

18/04/19
Seminggu yang lalu (Sabtu 13/04/2019) saya menghadiri bedah buku. Journey To Samarkand judul bukunya. Ditulis oleh jurnalis Kompas Gramedia, Marfuah Panji Astuti.

Lokasi bedah buku di kantor sebuah tour & travel bernama Khalifah Tour.

Traveling tema tematik pasti saya tertarik. Saya rasa itu yang membuat saya hadir di sana.


Penulis yang sapaan namanya 'Mba Uttiek' ini bukan cuma suka sejarah peradaban Islam. Tapi cintaaaaaaaaaaaaaa banget.

Oya, buku tersebut merupakan buku ketiganya dalam rangkaian tema Jelajah Tiga Daulah.

Bukunya yang pertama, Journey To Andalusia. Lanjut yang kedua, Journey To Ottoman. Nah yang baru terbit tahun ini adalah perjalanannya di Uzbekistan, Journey To Samarkand.

Samarkand, menurut penulisnya, merupakan kota yang memukau. Saking menawannya, bawaan orang yang ke sana jadi puitis. ''Berbunga-bunga,'' kata Mba Uttiek.

Bila di Andalusia ia merasa patah hati. Di Ottoman, muncul kebanggaan bangkitnya peradaban Islam. Maka di Samarkand rasanya seperti sedang jatuh cinta. Tutur Mba Uttiek sungguh-sungguh.

Penulis yang juga wartawan ini mengakui bahwa sebagai jurnalis, ia memiliki beban bila tidak menulis dan menerbitkan buku.

Ditambah statusnya sebagai muslim, ia mengatakan bahwa menulis adalah jalannya berdakwah.


Ada beberapa hal yang Mba Uttiek ucapkan perihal tip menulis catatan perjalanan. Tipnya sudah dan akan saya praktekkan. Apa aja?
  1. Riset. Riset. Riset
  2. Menentukan framing. Maksudnya begini. Sebelum traveling, kamu sudah tahu akan membuat catatan perjalanan. Membuat karya tulis. Nah agar tulisannya fokus dan terarah, tentukan temanya sedari awal. Dalam buku tersebut misalnya, framingnya menyusuri jejak peradaban Islam. 
  3. Mencatat saat perjalanan. "Karena perasaan sewaktu di tempatnya langsung memberi efek wow yang berbeda bila kita endapkan ekspresinya setelah beberapa hari," tutur Mba Uttiek. Karenanya ia sangat menyarankan mencatat. Mau nulis di buku, di notes smartphone, atau langsung ditulis dalam bentuk status di media sosial. Intinya, tangkap momen dalam bentuk tulisan pendek.  
  4. Membuat outline. "Outline bermanfaat supaya tulisan kita gak ke maa-mana, tidak mengulang, dan tidak ambigu," kata Mba Uttiek lagi. 
  5. Terakhir nih, baru masukan data dan fakta. 
Mba Uttiek cerita, perjalanan yang ia pilih adalah dalam rangka mengonfirmasi apa yang ia dengar dan baca. Dari kisah Shalahudin Al Ayubi yang ayahnya bacakan saat ia berumur 4 tahun hingga buku-buku yang ia lahap setelahnya: perjalanan Ibnu Battutah, Imam Bukhari, Peradaban Ustmani, termasuk Sejarah Umat Islam karya Buya Hamka. Dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.

"Ketika sudah datang ke sana, kita bisa mengonfirmasi sejarah. Dan saya sudah tahu dulu ceritanya apa saja. Ada cerita sejarah Islam apa," tutur wanita berkaca mata tersebut.

Traveling dengan Khalifah Tour

Perjalanan Mba Uttiek menjelajahi peradaban Islam gak ia lakukan sendiri. Perjalanannya diorganisir sebuah biro perjalanan. Khalifah Tour namanya.

Berlangsungnya bedah buku 'Journey To Samarkand' juga tanpa sengaja. Ibaratnya mah, yang riset data Mba Uttiek. Pemandu perjalanannya Khalifah Tour.

"Mba Uttiek sudah berkali-kali traveling dengan Khalifah Tour, jadi kenapa tidak bedah bukunya diselenggarakan di kantor Khalifah Tour sekalian," ujar Rustam Sumarna, CEO Khalifah Tour yang juga hadir dan beberapa kali safar dengan Mba Uttiek.


Dalam acara ini disebutkan bahwa Khalifah Tour bukan hanya penyelenggara biro perjalanan haji dan umroh. Mereka juga punya paket perjalanan ke negara-negara yang kental sejarah Islamnya. Halal Tour namanya.

Pak Rustam menambahkan, Khalifah Tour gak hanya jalan-jalan senang, selfie, dan belanja. "Kami juga menyediakan pemandu yang paham sejarah Islam."

Halal Tour tersebut meliputi: Mesir, Palestina, dan Jordania (Yerussalem). Namun Khalifah Tour juga melayani paket-paket perjalanan privat. Ke Dubai, Turki, Korea Selatan, Jepang pun bisa. Seperti yang Mba Uttiek jalani.

Selain ke tiga negara Halal Tour, Khalifah Tour menawarkan paket traveling ke Uzbekistan. Berupa paket 10 hari Uzbekistan atau paket 10 hari Uzbekistan + Rusia.

Kenapa memilih Khalifah Tour?

"Saya rekomendasikan travel agent dibanding bepergian sendiri, lebih karena urusan makanan. Kalo dengan Khalifah Tour, sudah jelas halalnya" ujar wanita yang sudah bekerja 22 tahun sebagai wartawan tersebut.

Tidak hanya jaminan makanan halal, bila bicara halal artinya mencakup semua kegiatan seperti: jam sholat dan pemilihan penginapan.

Artinya, traveler seperti Mba Uttiek gak perlu riset banyak mengenai akomodasi dan urusan lain. Risetnya lebih ke kebutuhan data aja mau lihat apa dan mengapa. Sisanya, Khalifah Tour yang urus.

Kecakapan pemandu dalam bertutur juga terjamin. Utamanya handal dalam pengetahuan sejarah Islam.

Khalifah Tour
Jl. Brigjen Katamso no. 11 Bandung
022-888-5617
0813.2000.8448

Setelah bedah buku ini saya jadi mikir. Di jalan pulang ke rumah kayak termenung gitu. Kayak ada banyak pertanyaan muncul. Seperti disuruh ngaca dan bertanya pada diri sendiri.

Perjalanan-perjalanan yang saya lalui atas dasar kecintaan saya pada apa.

Jadi, Saya Menulis Blog di IG Stories...

14/04/19
Saya udah cerita belum sih kalo saya nulis blog di ig stories?

Gak ada kerjaan amat ya nulis dobel-dobel, di stories dan di platform blogspot ini. Untuk tulisan yang sama.

Justru sebaliknya, karena banyak kerjaan saya nyempetin melakukan itu semua. Kalo enggak, otak saya stres dilindas-lindas pekerjaan atas nama uang :D




WHY?

Uang. Uang. Uang. Capek juga hidup dipake kejar uang terus. Sesekali mikirin kesejahteraan batin. Buat saya sih dengan menulis. Ini alasan pertama.

Kedua. Saya butuh interaksi. Menulis untuk blogspot, sulit membuat orang berkomentar. Mereka harus nulis nama di kolom, belon link. Kalo males, mereka bisa pilih anonim.

Tapi saya gak mau ngobrol sama anonim. Heuheu.

Di stories, orang bisa komen langsung. Dan ya saya menyukai kemudahan tersebut.

Karena kemudahannya itu, saya menantang diri sendiri agar tulisannya bikin orang mau komen :D

HOW?

Untuk tulisan yang sama, mengapa saya bikin dua versi tulisan?

Sebab: saya menulis ulang, mengemas tulisan lama dan tiap platform tersebut beda karakter penggunanya.

Di ig stories, orang kayaknya males baca teks panjang. Mesti gayanya foto-foto gitu. Gambar bukan teks.

Sementara tulisan saya di blogspot panjangnya hadeuuhhhh bikin males baca gak sih? :D wwkwkwkwk. Mudah-mudahan enggak ya.

Maka dari itu, di ig stories saya nulis pake prinsip: sederhanakan, fokus, pendek.

Udah baca tulisan blog saya di ig stories belum?

Saya pake kalimat pendek, bukan majemuk.
Tulisan saya juga gak mbeleber ke mana-mana.
Satu paragraf, 3 kalimat udah kebanyakan.

WHEN?

Bebas aja saya upload sesuka hati dan sesesampatnya saya rekonstruksi ulang tulisan.

Pengennya mah terjadwal. Misal satu minggu sekali upload tiap malam senin. Tapi komitmen saya belon ada. Takutnya jadi bacot doang heuheuheu.

Kemudian Apa?

Jadi nih, tulisan di blogspot saya bisa 1500 kata. Di ig stories cuma 600 kata. Menurut saya itu masih kepanjangan. Saya perlu belajar mangkas tulisan lagi.

Bagian menariknya, saya menyukai proses pangkas-memangkas tulisan sendiri. Memang mengorbankan idealisme. Namun di sisi lain, saya juga belajar untuk fokus aja.

Gak usah semua mau diceritakan. Fokus. FOKUS.

Dan menahan ego. Ya, belajar menahan ego.

Sejauh ini udah 3 tulisan saya upload ke stories. Masih miskin foto. Entahlah saya gak menyukai teks yang ditempel ke foto, apalagi banyak foto. Selera saya begitu. Tapi saya juga membuka diri dengan selera orang lain.

Karenanya, saya masih belajar naro foto dan teks di stories. Gak apa-apa pelan-pelan aja. Saya gak cari uang dari sini, tujuannya hanya memuaskan diri sendiri.

Meski begitu, saya juga mau tulisan saya dibaca. Dibaca banyak orang. Karenanya saya gak keberatan harus kompromi idealisme. Toh gak mengubah saya jadi orang yang berbeda juga. Masih ulu yang sama :D

Saya juga mesti belajar desain. Walo simpel aja sih modal aplikasi foto hahaha. Tapi kan selera warna saya buruk. Selera naro-naro teks dan foto jelek. Masih harus latihan nih. Ada satu temen, desainer, dia ajak kolaborasi. Nah! Menarik ajakannya.

Gak cuma foto, saya juga harus mikirin template. Ya, template teksnya.

Saya sebagai sukanya yang simpel aja, pilih warna putih dengan aksen ikon di pojok kanan bawah. Menurut saya cukup. Tapi saya tahu itu terlalu membosankan?

Begitulah saya emang orangnya. Bosenin heuheuehu :D

VIEW?

Sejauh ini sih kecil hahahaha ya kalo dibandingin Amrazing atau Nicholas Saputra atau travel blogger selebgram. Followers saya 3000, Ceu :D 

Dari tiga stories blog, angka di Forward gak lebih dari angka Impresi. Artinya, ada yang baca stories blog saya. 

Saya masih nulis di blog kok. Stories blog cuma jalan pintas aja. Sekali upload dalam waktu 24 jam, saya bisa dapet impresi 200-300. Sementara di blogspot ini gak gitu. Angka viewnya naik pelan-pelan. Udah mah saya nulis gak pake teknik SEO juga sih :D 

Terus, sejak upload stories, jumlah view yang cek profil angkanya bertambah! 

Jadi, saya rasa saya cukup berhasil membuat interaksi di instagram Bandung Diary. Bukan interaksi yang fenomenal. Hanya saja, ada pergerakan sedikit mah atuh wekekekeke. 

Ya begitulah kira-kira cerita stories blog saya. Awal-awal mah masih semangat nih ngerjainnya. Entah besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Saya harap mah semangatnya nyala terus. 

Kamu follow Pinot juga gak? Saya selalu baca twit-twitnya dan jujur aja semangat begini nih, selain dorongan dari diri sendiri, juga karena motivasinya Pinot. Berkreasi aja teruslah. Gak tahu karya kita akan bawa kita ke mana. Just do it.

Kalo mau baca blog versi ig stories saya, cek ke akun @bandungdiary dan lihat highlightnya.

Tengkyu! 

Perlakukan Tempat Sebagai Entitas Hidup (Kelas Menulis Perjalanan Bersama Windy Ariestanty)

10/04/19
Saya daftar jadi peserta workshop kepenulisan. Kelas pendek tentang menulis tema perjalanan. Mentornya Windy Ariestanty. Organisatornya Nalawa Patra. Biaya workshopnya 100ribu.

Windy editor sekaligus penulis buku. Beliau juga menggawangi beberapa travel web. Intinya mah saya ikutan acara ini karena mentornya :D

Jadi ilmu apa aja yang saya dapat?

Di kelas ini, pembahasannya dikerucutkan tentang menulis perjalanan naratif. Story telling cenah kata Mba Windy.

Artinya, kami diajak nulis bukan deskriptif-style. Tapi naratif. Kebayang gak?

foto dapet pinjem dari nybookseditor.com

Saya catat beberapa hal tentang menulis catatan perjalanan gaya naratif, berdasarkan penjelasan Mba Windy
  • Gak mesti nulis kegiatan kronologis
  • Bukan tulisan review
  • Bukan tulisan panduan perjalanan
"Menulis tulisan naratif, berangkatnya dari persoalan. Kegelisahan apa yang mau kamu bahas dalam tulisan?"
Begitu kata Mba Windy.

Saya mengerti maksudnya. Kalo jalan-jalan, biasanya saya tentuin tujuan dulu. Bukan traveling berdasarkan hits atau tidak tempat tersebut. Namun berdasarkan minat saya. Saya sukanya apa. Saya mau lihat apa. Saya mau menuntaskan rasa penasaran pada apa.

Tapi saya gak nyangka kebiasaan tersebut berperan besar dalam menulis catatan perjalanan gaya naratif sih. Baru tahu malahan :D hihihi.

Lantas Mba Windi menambahkan begini.

"Bagi teman-teman yang mau bikin catatan perjalanan naratif, sebelum kamu pergi traveling coba tanya diri sendiri. Apa alasan kamu pergi ke tempat tersebut?"

Untuk keren-kerenan?
Untuk memanjangkan ingatan?
Untuk memuaskan rasa penasaran?
Untuk yaaahh mau jalan-jalan aja gak niat mau memecahkan rasa gelisah, pengen senang-senang aja?

Saya catat lagi beberapa tip dari Windy perihal menulis catatan perjalanan bergaya story telling. Here goes!
  1. Bikin struktur tulisan, bukan urutan peristiwa
  2. Tujuan ceritanya apa
  3. Pilih pengalaman mana yang bisa membangun cerita
  4. Menulislah untuk diri sendiri. Bila menulis untuk pembaca, fokuskan mereka pada cerita. "Bukan pada banyaknya waktu dan uang yang kamu habiskan di sana," kata Mba Windy.
  5. Eksplorasi dengan panca indra. Sentuh, raba, cium aroma. Mba Windy bilang: otak bisa lupa, tapi sentuhan dan aroma melekat lebih lama dalam ingatan.
  6. Riset. Riset. Riset. Dan risetnya jangan cuma googling. Sebab Mba Windy bilang: internet membuat kita mendangkalkan konten!
Kelihatannya ribet bikin tulisan naratif? Enggak kok. Kata Mba Windy, nulis mau beribu-ribu kata bisa banget, mau cuma 700 kata juga ya kenapa enggak.

"Saat menulis catatan perjalanan naratif, perlakukan tempat sebagai entitas hidup," tutur Mba Windy lagi. Edan euy banyak banget kalimat-kalimat dia yang bisa dijadiin kutipan :D

Terus di sesi pertanyaan, ada satu orang yang pertanyaannya bagus dan emang kepikiran sih saya juga.

Gimana caranya menahan ego untuk gak nulisin segala macam dalam satu tulisan? Kan pengennya orang lain tahu apa yang kita alami, yang kita rasakan, yang kita lihat.

Mba Windy jawab: Gak apa-apa. Wajar banget. Bikin skala prioritas dan buat tabungan ide. Tempat yang didatengin cuma satu, tapi idenya banyak. Sehingga tulisannya bisa lebih dari satu.

Sayangnya dalam kelas tersebut, kami praktek nulis satu kali. Khusus nulis paragraf pembuka aja, dikomenin Mba Windy gitu. Jadi kita bisa revisi tulisannya nih.

Kata Mba Windy, paragraf pembuka penting banget. "Saya aja kadang mikir berhari-hari buat nulis paragraf pembuka," gitu dia bilang. Sepertinya itu bahasan berbeda ya. Bisa bikin kelas lain lagi buat bahas nulis paragraf pembuka hehehe.

Kepingin saya sih kelas kayak gini bisa maraton. Karena kalo cuma sekali, cuma sebatas teori. Kalo maraton, bisa ada prakteknya. Tapi pasti biayanya gak cuma 100ribu sih. Hehehe.

Oiya, dari kelas menulis ini saya langsung praktekin lho. Saya bikin satu tulisan berjudul Blitar dan Wajah Asing Soekarno. Boleh dibaca dan dikomenin :D



Kemping di Bangbayang, Trekking ke Curug Cikidang

23/03/19
Malam itu yang saya khawatirkan adalah asap rokok. Bukan hanya kami berenam yang tidur di dalam tenda. Ada dua tenda lainnya, diisi remaja-remaja desa yang mencari hiburan, di malam minggu.

Kami bertiga piknik ke desa di puncak bukit. Hampir 100 km dari kota Bandung. Letaknya di Desa Bangbayang Situraja, Kabupaten Sumedang. Dari jalan utama saja, jarak ke desa itu kira-kira 10 km.


Menuju ke sana melewati perbukitan. Jalannya horor. Bukan ada kuntilanak dan pocong, tapi tanjakan dan tikungannya itu lho.. Tanjakan panjang, abis itu jalannya nikung sambil nanjak pula!

Kalo kamu pernah ke Bromo, nah menuju Bangbayang mirip di sana kontur jalannya.

Kami bertiga, Kang Ichsan, dan Teh Mima, tidur di tenda yang berbeda. Nuhun buat Kang Ichsan yang minjemin tendanya pada kami :)

Malam di Bangbayang dan Makan Pohpohan

Jadi, teman kuliah Indra berkebun tanaman kopi di Bangbayang. Melihat potensi alam desanya, ia mengajak teman-temannya datang ke kampung itu. Gak mau maju sendiri, ia ingin melibatkan warga desa mengolah wisata Bangbayang.

Kang Asep nama temannya Indra itu. Waktu ke Jatigede, saya ikut tur buatan Kang Asep juga. Sok dibaca tulisan saya tentang jatigede di sini.

Kesan pertama mendapati pemandangan Bangbayang, indah sekali memang. Sejauh mata memandang hanya ada pucuk-pucuk bukit. Entah saya berada di ketinggian berapa. Di google map katanya 700anmdpl. Sama kayak Bandung.

Tapi sore itu hangat aja hawanya. Baru terasa dingin di atas jam 10 malam. 

Jam 6 sore kabut berdatangan. Udara mulai sejuk. Teh Mima mengenakan jaket. Tenda kami sudah berdiri. Alat pembakaran stand by, di atasnya ada ubi, jagung, ikan tenggiri, dan segelas kopi milik Kang Ichsan.

Kami juga ngemil jajanan Bangbayang. Kang Asep nampaknya mengundang warga untuk jualan di tepi lapangan. Ada cimol segala.

Highlight dari camilan di Bangbayang adalah keripik pisang. Terbuat dari Pisang Ro’ib. Rasanya manis banget, padahal gak pake gula sama sekali. Enak! 

Ada lagi namanya Sate Iwung, terbuat dari rebung. Pas dimakan, teksturnya seperti kol. Rasanya gimana? wuenak! Sate rebungnya dibumbuin sambal kacang. Pedasnya aja yang bikin gak kuat :D

Juga ada kopi Bangbayang. Biji kopi dari perkebunan setempat. Robusta kalo gak salah. Kami gak minum kopinya, Teh Mima dan Kang Ichsan yang minum. Rasanya gak tahu gimana, saya lupa nanya. Heuheu. 

Bila ada hal yang saya sayangkan di sini, itu adalah plastik sebagai kemasan. Dengan suplai berbahan alami di sekitar mereka, menggunakan kemasan daun (atau sejenisnya) pasti lebih bagus. Baik itu nilai jualnya, maupun dampak ekologinya.

Malam itu, Kang Asep menyuguhkan kami makanan besar berupa Nasi Liwet, Pepes Ikan, Asin, Sambal, daun singkong rebus, dan Pohpohan. Tapi itu terjadi jam setengah sepuluh malam.

Kami sudah isi perut duluan sehabis Magrib. Whehehehe. Dan tetap ikut makan besar juga hehehehe. Nikmatnya haduh jangan ditanya. Juaranya kombinasi ikan asin, sambal, dan pohpohan yang terasa begitu segar!

Malam itu kami adalah manusia blasteran kambing, makan nasi berkali-kali, makan daun lebih banyak lagi. Whehehe.

Rupanya bukan isu perngududan yang harus saya cemaskan. Gak ada bau asap rokok malahan. Tapi abg-abg tetangga kemping bernyanyi semalaman, memetik gitar. Berisiknya membuat susah tidur. Tenda mereka persis di sebelah kami.

Kubil tertidur pulas sejak ia masuk ke sleeping bag. Sementara saya dan Indra, susah payah biar merem. Wekekekek. Niat hati mau tidur diiringi suara alam. Daun yang bergesekan, tonggeret yang bernyanyi, hening yang syahdu. Boro-boro. Hahaha. Malah denger lagunya Armada dkk.

Tapi saya ingat saya sanggup tidur kok. Gak nyenyak tapi cukup enak dan bangun dengan perasaan senang. Karena pas buka tenda, di depan saya bukan pemandangan sehari-sehari kalo saya bangun tidur.

Ada tebing dan hutannya, lapangan bola (ya kali wekekekek), dan bekas api unggun. Kabut tipis mengudara. Udara segar berkuasa. 

Pagi di Bangbayang,  Trekking Melihat Puncak Tampomas

Kang Asep mengajak kami trekking. Lihat puncak Gunung Tampomas, katanya. Kami berpapasan dengan petani penyadap getah pohon pinus, terlihat bahan baku tersebut jadi tulang punggung warga selain gula aren dan sapu ijuk/uyun. 

Di sini nih permainan baru dimulai. Permainan yang menyadarkan saya dan Indra, bahwa kami kelamaan di kota, gak pernah olahraga, dan bobot badan udah kelebihan. Aheuheheu. 

Sebuah permainan yang 'menukar' kaki-kaki pegal kami dengan panorama alam pegunungan yang memukau.


Kubil ikut trekking enggak? Ikut dong :D 

Berbeda dengan kami yang kepayahan trekking, anak cerewet itu malah kayak kijang. Gak ada capek. Gak ada bete. Salut juga saya sama dia. Menerjang trek-trek terjal dan ekstrim gak ada keraguan sama sekali. Emang saya dan Indra bikin dia senang terus sih, kalo enggak wadoohhhh gawat hahahaha.

Di balik anak yang senang jalan kaki di galengan sawah dengan jurang di sisi kirinya, ada orang tuanya kepayahan hahahaha. Capeknya tiga kali lipat memang kalo hiking dengan anak kecil.

Gak apa-apa. Kami berdua senang sekali bisa kasih Kubil pengalaman baru. Mudah-mudahan kamu inget pengalaman kita hiking di Bangbayang sampai tua nanti, Bil.

Dua kali melewati sungai berbatu-batu kali, Kubil juga main air melulu. Terus terang aja, ketemu air kayak gini membuat kondisi saya segar lagi. Capek dan lesunya berkurang. Bukan cuma kaki dicelup ke sungainya, saya juga cuci muka. Hahaha. Gak ada orang mah saya mandi juga nih.

Airnya itu lho, bening, mengalir jernih, dan merontokkan perasaan-perasaan negatif. Pantes ya orang zaman dahulu terlihat damai, kalem, tenang, pasrah. Sehari-hari bersentuhan dengan air kayak gitu.

Menuju Curug Cikidang

Di sinilah saya ketemu pemukiman, Desa Bangbayang. Rumah yang dikepung perbukitan. Terpencil, jauh dari mana-mana. 

Rumah-rumah di sini kombinasi tradisional dan modern. Terlihat banyak bekas rumah panggung. Lantai kayu berganti keramik. Kayu bakar menumpuk di sisi rumah. Sepertinya saya harus menginap lagi di Bangbayang, menginap di rumah warga.

Untuk apa kayu-kayu itu, untuk masak kali ya? Jadi ingin lihat dapur rumahnya. Di kampung kayak gini mah masih bisa siduru kali ya.


Di belakang kampung mungil padat rumah itu, ada sungai besar. Lebar sekali. Di sungai ke-dua itulah kami main air lagi. Halaman belakang yang mengasyikkan. Sungai yang airnya jernih, perbukitan, pepohonan. Apa dulu Citarum kayak gini bentuknya? Bagaimana dengan sungai di Bandung itu, Cikapundung?

Sungai diterjang, kami pergi menuju Curug Cikidang.

Woh meski gak besar, air terjunnya eksotis! Bener-bener kayak mandi dibanjur shower. Shower raksasa. Saya juga ikutan dong kena airnya tipis-tipis. Kubil mah jangan ditanya, basah sebadan-badan! 

Di sini terasa bukan cuma perasaan buruk dalam hati yang terhempas air. Tapi dosa-dosa juga rasanya ikut hanyut. Segar airnya tuh masuk ke relung hati. Terasa damai.

Apa begini rasanya jadi pertapa? Mandi membersihkan diri dari dosa, dari rumitnya perkara dunia.

Saat kembali ke tenda, saya copot baju kubil dan menggantinya dengan raincoat, karena cuma itu yang ada di tas.  Heuheu. Sungguh pengalaman trekking yang menguji mental. Mental sebagai orang tua, tentu saja. Lain-lainnya sih gak ada masalah.

Sebelum pulang, kami makan lagi. Kali ini disuguhkan belalang goreng. Simeut nama makanannya. Renyah dan gurih, seperti makan udang goreng. Daun Pohpohan gak ada. Adanya daun singkong rebus.

Pulang ke Bandung, kami membawa setumpuk pakaian kotor dan otot-otot yang siap tegang esok hari. Benar saja, bangun tidur, sebadan-badan sakit semua. Kata Indra jangan diam aja. Justru badan harus tetap bergerak supaya ototnya mengendur dan sakitnya hilang. Alamak!

Wisata ke Bangbayang, Daftarnya ke Mana? 

Lebih tepatnya ke siapa. Ke Kang Asep aja. Nih nomor kontaknya: 0812.939.7391. Ini websitenya: Kampung Bangbayang.

Kalo diperhatikan lagi, trek di Bangbayang ramah buat keluarga. Tinggal atur-atur ambil jalurnya ke mana. 

Nah kalo kamu adventure junkie, bhahahahak di sana cocok banget! Seneng bersepeda di tanjakan dan turunan, ada semua di Bangbayang. Minta aja jalur-jalur ekstrim, pasti dikasih. Pemandangan mah jangan ditanya, indah sekali :)

Kalo mau kemping, toiletnya bagaimana? Ada dong. Bukan yang ideal seperti di rumah kita, tapi masih okelah. Gak ada komplen kalo saya mah. 




Kubil dan Kang Ichsan

Teh Mima dan saya :D
Dipoto Kang Ichsan



Dipotoin Kang Ichsan



Ajak Anak Traveling Biar Apa?

19/03/19
Biar dia tahu kalo dunia ini kejam. Apalagi tinggal di negara berkembang kayak Indonesia.

Di rumah diajari, "nanti jalan kaki di trotoar ya," eh trotoarnya ga ada. Atau ditempati gerobak kaki lima. Atau dipake jadi parkiran mobil motor.

Dikasihtahu etika antre, eh pas ante diserobot bapak-bapak. Di Alfamart. "Bapak duluan ya. Cuma satu kok belinya," Wuasuuuu!

Di rumah diberi bekal ilmu dasar tentang buang sampah di mana dan bagaimana. Pas jalan-jalan, lihat tumpukan sampah. Sungai yang kotor. Orang yang buat sampah gitu aja.

Di rumah juga saya ceritakan tentang Zebra Cross. Eh pas jalan-jalan, mau nyebrang di zebra cross, gak ada motor yang mau selow.

Ajak naik angkot. Si angkot ngetemnya lama. Ada penumpang masuk angkot, eh dia merokok. Duduknya di depan, samping sopir. Asapnya ke belakang. Pura-pura batuk, ngasih kode yang merokok. Si perokok pura-pura tuli.

Ya pada dasarnya, jalan-jalan bawa anak dalam rangka ngasitahu ke dia bahwa banyak orang dewasa punya mata dan telinga yang normal. Tapi gak benar-benar mereka gunakan. Begitupun otaknya.

Tapi gak semua, Bil. Begitu saya bilang padanya.

Banyak juga kok yang anti plastik. Ada kok yang disiplin antre. Juga masih banyak yang nyebrang jalan di zebra cross.

Keburukan di dunia luar ada banyak, kebaikan apalagi. Nilai-nilai yang diajarkan di rumah, berbenturan dengan sifat dan sikap orang lain. Terbentur, terbentur, terbentuk. Begitu kata Chairil Anwar, penyair sableng nan idealis.


Lima Hari Jelajah Jalan Raya Pos di Jawa Tengah

10/03/19
Lima hari. Terlampau singkat untuk menjelajahi sebuah jalan legendaris seribu kilometer itu. Ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan lama-lama euy. Lima hari sepertinya waktu kompromis berkunjung ke kota-kota kecil di jalur bersejarah pulau Jawa ini: Jalan Pos, Jalan Daendels.

Terbatas waktu, edisi jelajahnya di Jawa Tengah dulu. Gak apa-apa, dicicil sedikit demi sedikit sebelum sampai ke Panarukan. Sepanjang tahun 2019, tujuan traveling saya demi satu hal saja. Jalan Pos. 

Saya bermukim di Bandung. Jalan Raya Pos melintas di kota ini. Bila teman-teman bertandang ke Jalan Asia Afrika, itulah highlight titik Jalan Raya Pos di Kota Kembang. Dari tadi nyebut Jalan Pos. Apaan sih itu?


Gara-gara buku yang saya baca, cita-cita menyusuri Jalan Pos ini lahir. Lagipula, sekalian saya mau hunting bangunan klasik tempo dulu dan memotretnya untuk koleksi pribadi. 

Jalan Pos adalah jalan yang membentang 1.000 km dari Anyer di barat Pulau Jawa, hingga ke Panarukan, Jawa Timur. Ini jalan dibangun di sepanjang utara dan jadi tulang punggung perekonomian Nusantara sejak tahun 1909.

Ada beberapa sumber literasi yang bahas Jalan Pos Daendels, tapi yang saya ingat sih ada dua: Pramoedya Ananta Toer ‘Jalan Raya Pos Jalan Daendels’ dan buku seri sejarah keluaran penerbit KPG, Jalan Pos Daendels.

Daendels adalah gubernur Hindia Belanda yang terkenal bengis. Juga ambisius. Karenanya, hanya tiga tahun saja pembangunan Jalan Raya Pos berlangsung. Sukses sih meski cerita pahit di belakang layarnya banyak. Korban berjatuhan. Pajak tinggi. Bahkan 40 tahun pertama, Jalan Pos tidak boleh dilalui pribumi. Dahulu kita jalannya di jalan setapak yang paralel dengan Jalan Pos.

Namun di sisi lain, Jalan Pos ini jadi sumber lahirnya keramaian kota-kota  di Jawa. Berhasil menyambungkan akses dari satu kota ke kota lain.

Where To Go

Nah bila saya memulai jelajah Jalan Pos dari Bandung, maka kota pertama yang ingin saya datangi adalah:

PEKALONGAN

Harusnya ke Cirebon dulu, namun saya sudah tiga kali ke sana. Jadi Pekalongan adalah titik mula jelajah saya. Ini kota identik dengan batik. Namun bukan batiknya yang ingin saya ketahui. Tapi Limun Orientalnya.

Ya, saya mau lihat pabrik antik yang memproduksi Limun Oriental Cap Nyonya yang masih handmade itu! Diwarisi oleh generasi kelima, limun klasik yang ada sejak 1920 ini masih bertahan di Pekalongan. Satu-satunya.

Di Bandung bahkan gak ada. Sewaktu kecil, saya sering jajan air soda lokal ini. Pasti menyenangkan sekali bisa minum limun yang serupa.

photo courtesy: blog teman saya, Alfian Widi

SEMARANG

Semarang adalah kota metropolisnya Jawa Tengah. Di Kota Lumpia ini saya bikin daftar kunjungan agak banyak :D 
Inginnya ke mana saja?
  1. Area Kota Lama. Keliling bangunan tua era kolonial. Hunting banyak foto jendela dan pintu tempo dulu.
  2. Kauman. Melihat rumah kuno di sana, dari masjid sampai kawasan santrinya.
  3. Menjelajah Stasiun Tawang dan sedikit area kereta api di sekitarnya. Di sinilah lahir rel pertama dan stasiun pertama di Hindia Belanda.
  4. Ke rumah Radja Goela. Sebagai salah satu sentra pabrik gulanya Hindia Belanda, Semarang ini punya banyak pabrik gula, terbengkalai sudah pasti. Radja Goela merupakan salah satu peninggalan era keemasan gula di Hindia Belanda dan Indonesia. Legenda kelas berat.
  5. Menyusuri rute Pecinannya Semarang.
  6. Menyantap Lumpia! Tentu saja :D 
photo courtesy: blog.reddoorz.com

Alamak. Dengan daftar sebanyak itu, satu hari di Semarang mana cukup! Di kota ini saya akan menginap juga. Sepanjang misi jelajah jalan raya pos, urusan inap menginap saya serahkan pada aplikasi RedDoorz saja.

Meski tipe traveling yang saya jalani bukan ala backpacker, tapi urusan berhemat ada dalam top prioritas. Mau irit, tapi gak mau sekarat juga :D

Dengan demikian, urusan tidur juga mesti selektif. Penginapan yang ongkos tidurnya terjangkau memang penting. Tapi fasilitas di dalamnya juga mesti diperhatikan.

Makanya saya cari penginapan via aplikasi RedDoorz.

RedDoorz merupakan jaringan penginapan online. Artinya, mereka kerja sama dengan properti penginapan dan menjual kamar secara online.

Makanya nama penginapan di RedDoorz pake nama RedDoorz-@-nama tempat atau RedDoorz-near-nama wilayah. Misal nih kalo di Bandung namanya RedDoorz @Asia Afrika atau RedDoorz near Bandung Indah Plaza.

Memang kesan namanya random banget. Sebab ‘near Asia Afrika’ kan ada banyak. Sebelah mananya Jalan Asia Afrika nih maksudnya?

Mulanya saya pikir juga begitu. Tapi saya pernah menginap di RedDoorz @Sukamulya Pasteur. Dalam pilihan penginapannya, mereka masukin kategori penginapan ke perwilayah. Kalo kamu cari penginapan di Bandung, misalnya nih, cari tahu wilayah yang kamu pengen inepin di mana. Dago misalnya, klik tab Dago. Nanti muncul daftar penginapan berlokasi di Dago aja.

Kayak gini, kamu masukin keyword Dago, nanti muncul distrik yang ada di Dago.
Cocokin dengan lokasi atau nama tempat yang kamu hendak kunjungi di Bandung.

Namun, turis kalo traveling kadang belon riset dan gak paham nama lokasi. Gampang, browsing aja dulu penginapannya di RedDoorz. Terus cocokin namanya dengan tempat-tempat yang kamu ingin kunjungi. 

RedDoorz mencantumkan alamat penginapan secara rinci. Ditambah setelah booking, mereka akan mengirim ulang alamat sebagai konfirmasi tambahan. So, harusnya kita gak nyasar sih. Tinggal aktifin googlemap aja sebagai pemandu arah. Sesuai aplikasi :D 

Di app ada tab Direction dan Call kalo butuh bantuan. Juga tersedia foto penginapan. Bisa pake ilmu cocokologi foto dan bertanya ke resepsionisnya sih :D

Dan ini sih yang selalu saya perhatiin tiap kali booking online: selalu baca review/testimoni. Cek aja ke bagian review di tiap penginapan, di aplikasi ada kok tinggal baca-baca.




RedDoorz menyediakan kamar dengan harga terjangkau dan fasilitas kamar yang baik. Mereka bahkan kasih jaminan: linennya bersih, kamar mandi bersih, ada perlengkapan kamar mandi, dan wi-fi gratis! Tidak ketinggalan televisi dan air mineral.

Menginap dua malam di Semarang, saya mau lanjutkan perjalanan ke kota berikutnya yang terletak 32 km ke arah timur.

DEMAK

Di kotanya Sunan Kalijaga ini saya hendak mampir sebentar. Mau lihat Masjid Agung Demak. Peninggalan Kerajaan Islam pertama di Jawa. 

Sejak 2017 masjid kuno masuk ke daftar tujuan traveling saya. Nah di Demak ada satu masjid tua –salah satu yang tertua malahan- di Indonesia. Bagian atapnya berbentuk limas. Serambinya disangga delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Konon Raden Patah, keturunan Raja Majapahit terakhir 

Tak lupa saya mau menyantap hidangan serba kerbau di Kedai Bu Saki. Di Demak ini, kerbau dihidangkan dalam banyak bentuk. Ada soto, sup, sate, baso, hingga pindang! Saya mau makan sotonya saja :D

Pokoknya tiap kota, mesti makan kuliner khasnya. Nyam! 

KUDUS

Bersih, suci, murni. Begitulah arti kata Kudus, diambil dari bahasa Arab. Masjid Kudus tentulah tujuan saya. Menyaksikan masjid-masjid nusantara ini bukan lagi saya kategorikan sebagai hobi, tapi kewajiban. Bukan karena saya sholehah lho ya. Wekekeke. Tapi pengen memandang langsung peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara. Lagipula masjidnya memang unik dan sejarahnya panjang.

Bayangkan bisa menyentuh artefak yang umurnya 470 tahun kayak Masjid Kudus. Membuat saya serasa istimewa. Ibarat kamu fans K-drama garis keras dan bersalaman dengan Gong Yoo, nah seperti itu perasaan saya bila bersentuhan dengan bangunan klasik :D

Di Masjid Kudus, menaranya masih bercorak dari tradisi Jawa-Hindu. Bukan hanya menaranya sih, tapi juga candi bentar dan gerbang paduraksa ada di sini.

Umumnya masjid-masjid kuno yang pernah saya lihat, arsitekturnya menyatu dengan tradisi lokal. Sedap sekali memandang arsitektur masjid yang datangnya dari masa lalu ini. Terselip rasa bangga juga kadang-kadang. Betapa tingginya craftmanship orang-orang zaman dahulu! Ke mana perginya skill itu sekarang ya...

Selain menara Masjid Kudus, pasti pada tahu kan Kudus identik dengan apa? Rokok kretek! Sebab itu mereka punya museum khusus Kretek. Juga monumennya.

Makan Soto Kudus tak boleh dilewatkan. Pasti beda ya rasanya makan Soto Kudus di Kudus! 

Demak dan Kudus, dua kota berturut-turut. saya menginap saja di Kota Kretek ini sebelum ke kota berikutnya. Tapi belum bisa booking via RedDoorz, sebab RedDoorz jaringannya di kota-kota besar se-Indonesia. Belum masuk ke kota-kota kecil.

LASEM

Kota terakhir sebelum balik ke Bandung.  Disebut-sebut Tiongkok kecilnya Indonesia, ada beberapa rumah kuno bergaya pecinan di sini. Foto-foto rumah kuno di Lasem sering saya saksikan di timeline instagram. Juga youtube. Tapi yang pertama kali mengenalkan saya dengan Lasem adalah film Ca Bau Kan, seting filmnya berlokasi di Lasem.

Makin sering dilihat, makin besar keinginan berkunjung ke kota di pesisir pantai utara ini.

Photo courtesy: @kesengsemlasem

Lasem juga surganya batik-batik mewah nan klasik. Dibuat handmade, batik Lasem terkenal istimewa. Agak sangsi saya akan belanja batik di sana. Makanan membuat saya semangat, tapi urusan sandang gak terlalu menyukainya. Walo begitu saya mengapresiasi banget karya-karya tradisi seperti batik.  Utamanya yang tulis dan butuh waktu berminggu-minggu membuatnya.

Kota-kota kecil ini menarik amat ya. Tiap kota, denyut nadinya berbeda. Padahal masih satu pulau, tapi tradisinya berbeda, bahasanya rupa-rupa. Seolah-olah, tiap kota ada harta karunnya sendiri. Dan semua didapat dengan lima hari saja. Insyaallah. Kan baru rencana nih. Doain ya semoga terwujud! Hehe.

How To Go

Mulanya terpikir menumpang kereta api. Tapi urung. Bawa mobil sendiri saja. Transportasinya lebih efisien dan murah. Ongkos kami bertiga bisa dialokasikan untuk bensin. Saya hitung pun lebih irit. Tinggal banyakin olahraga dan atur pola makan agar stamina bagus. 

Perjalanan pergi via jalan pantura. Pulang ke Bandung baru ambil jalan tol. 

Lima hari di jalan (plus nginep-nginepnya), di Bandung istirahat dulu sebelum gas kerja jalan lagi :D 

Where To Sleep

Di kota besar saya mengandalkan RedDoorz. Di kota-kota kecil, saya gak mengandalkan apa-apa, senemunya hotel aja. Jika dilihat dari rencana perjalanan, menginap hanya di Semarang dan Kudus saja. 

Kalo mau nanya-nanya tentang RedDoorz, komen aja nanti saya bantu jawab. Simpel aja booking di RedDoorz cuma pilih penginapan, isi data nginep, book, bayar transfer aja. E-ticket dikirim ke email dan di app. Jangan lupa cek promo, siapa tahu ada kode promo atau tanggal-tanggal diskonan :D

Photo Courtesy: @reddoorzid

Jika resolusi traveling 2019 temen-temen adalah traveling ke Filipina, Vietnam, Singapura, bisa nih riset dulu penginapan di RedDoorz. Karena ada juga RedDoorz di sana.

How Much

Yes, berapa banyak uang yang dianggarkan untuk perjalanan lima hari tersebut? Cant' tell. Ada sih jumlah minimalnya, tapi ini baru bisa saya kasih tahu bila perjalanannya sudah terjadi :D 

 When

TAHUN 2019 INI DONG DOAKAN YAAAAA! PINTU-PINTU KLASIK SEPANJANG PANTURA, JENDELA-JENDELA KUNO, TEGEL ARTDECO, MUSEUM-MUSEUM, MASJID-MASJID NUSANTARA, GEREJA TUA... TUNGGU SAYA DATANG! 

Agak lebay tapi yah namanya juga usaha (yang tertunda-tunda mulu dari kapan dan bersaing ketat dengan anggaran biaya daftar anak sekolah :D). Kalo teman-teman, tahun 2019 pada mau traveling ke mana nih? 

Toko Oleh-oleh di Cirebon: Toko Monas, Super Duper Highly Recommended!

26/02/19
Oleh-oleh Cirebon apa aja sih? Ini kita lagi ngobrolin makanan aja ya. Kalo pakaian mah ke Trusmi udah paling bener. Kainnya bagus-bagus dari yang kelas murah sampai batik tulis.

Tapi kalo toko oleh-oleh khusus makanan di Cirebon, di mana belinya?




Ke TOKO MONAS aja.

Percaya deh, sebagai lulusan sekolah negeri di Cirebon (apa hubungannya wkwkwk), saya amat sangat merekomendasikan Toko Monas.

Ibu mertua saya jago banget masaknya. Dia asli orang Bandung dan cinta banget sama Toko Monas. Kalo ke Cirebon, pasti belanja di sana. Gak mau dia belanja di tempat lain.

Apa yang bikin tokonya rekomended? Barangnya lengkap, bagus, dan murah!

Wait. Coba aja bandingin sama toko sejenis, saya udah dan Toko Monas ini emang harganya paling okeeee :D

Terus, belinya apa di Toko Monas?

Beli Apa di Toko Monas

  1. Terasi, ada banget. Pilih aja mau yang mana. Bilang ke cicinya, pilihin terasi yang bagus yang mana. 
  2. Emping dong pastinya. Emping gurih dan Emping manis. Ada semua! 
  3. Kecap. Kecap mana aja asal produksi Jatiwangi, Majalengka, dan Indramayu enak semua. Coba pilih Cap Matahari. 
  4. Jambal Roti gak boleh ketinggalan. Pilih yang paling mahal. Hahaha.
  5. Bekasem ya tolong ini aduhhhhh gak ada Bekasem seenak itu yang made in Cirebon! Pilih Bekasem Japuh dan Bekasem Jambal. Saya sendiri doyan banget sama Bekasem Japuh. 
  6. Kerupuk udang! Pilih kerupuk yang bentuknya stik. Sebab gak ada di mana pun selain di Cirebon. Merek mah apa aja, bagus semua kok. Saya biasa pake merek Indrasari. 
  7. Ebi. PARAH DI SINI EBINYA TERBAIIIKKKKK! Kalo kamu doyan masak, pasti ngerti maksudnya. Ebinya pilih yang paling mahal. Seons 45ribu. Gak tahu nih sekarang berapa. Satu ons tuh udah banyak banget.
  8. Bumbu instan Empal Gentong. Pernah nyobain dan masih enak buatan tetangga saya hahahaha. Tapi buat pilihan kepepet, bisa kok beli di sini. Ntar di rumah, kamu tambahahin lagi bumbu-bumbunya biar mantap rasanya. 
  9. Udah nih, bebas milih mau apalagi. Sirop? ada di sini. Tapi saya saranin beli di Kopyor 4848 aja di Jl. Karanggetas. 
Saya biasa belanja 8 produk di atas dan boyong ke Bandung sebagai stok makanan.

maapkan ini warna Jambal Roti setelah saya edit kok jadi gini ya :D aslinya mah gak gini da heuheu

Sebagai informasi tambahan, kalo kamu belanja pagi-pagi, di depan Toko Monas ada mbok-mbok udah tuaaaa banget. Beliau jualan asam jawa. Unik banget karena asem jawanya macem-macem. 

Ada asem jawa yang masih nempel ke tangkai, asem muda, asem tua, asem jawa yang gak berbiji, dan asem jawa yang berbiji. Sama satu lagi, saya lupa asem jawanya gimana tuh bentuknya :D Saya pernah ke sana jam 10, si mbok udah gak ada. 

Dan informasi bonus nih, Toko Monas memproduksi mie. Ho oh bikin mie sendiri. Saya pernah beli dan saya lupa saya pernah beli, pas buka kulkas, mienya udah basi. Udah lebih dari dua minggu. LOL. Sayang banget! Lain kali ke Toko Monas, saya bakal beli mienya lagi. 

Pasar Kanoman ini memang gudangnya bahan pangan terbaik. Bahkan ulekannya aja bagus-bagus lho kalo beli di sini. Murah pula. Pake batu kali bukan batu semen. 

Di mana Toko Monas

Persis di sebelah Pasar Kanoman. Pake googlemap ajalah biar gampang. Posisinya tuh pas banget bangunan terakhir sebelon masuk ke pasar inti Kanomannya. 

Kalo kamu berdiri menghadap gerbang ke jalan Keraton Kanoman, nah Toko Monas ada di sebelah kanan. 

Buka gak tahu jam berapa, mestinya jam 6 udah buka sih :D Kayaknya jam 7 pagi deh bukanya. Tutup jam 5 sore. 

Buka setiap hari. 

Gimana, cukup gak infonya nih? Cukup ya. Saya sering buka jastip kalo mudik nih, beli banyak buat dijual lagi di Bandung. Belinya di mana? Di Toko Monas dong :) 


Serunya Workshop Colour to Life Bersama Faber-Castell di Bandung

24/02/19
Minggu lalu saya ajak Nabil ikutan workshop mewarnai. Faber-Castell yang membuat workshopnya. Acaranya gak lama, kira-kira jam 11-13 PM. Sekalian makan siang, kita santai-santai mewarnai.




Saya datang terlambat karena salah dateng ke lokasi :D Ketuker. Tapi pas nyampe, acaranya baru mau mulai juga. Syukurlah! Udah deg-degan aja kalo telat tuh.

Sebelum masuk ruangan, kami dibekali sebuah buku dan satu set connector pen Faber-Castell. Kami pernah punya tools untuk mewarnai Colour to Life ini. Emang favorit keluarga Faber-Castell tuh. Zaman kuliah, ayahnya Nabil pengguna Faber-Castell buat ngerjain tugas arsitekturnya. Pinsil warna Faber-Castell empuk katanya.

Nah khusus workshop Colour to Life ini, saya pengen banget dateng. Berhubung acaranya menjanjikan mau ngajarin teknik mewarnai dan menurut saya itu hal yang baru bagi saya dan Nabil yang gak tahu bahwa mewarnai ada tekniknya, maka itu saya anggap penting. Banget!

Tapi sebelum masuk ke cerita tentang workshopnya, bahas dulu sebentar tentang Faber-Castell apaan sih?

Faber-Castell, What Are You?

Merek ini udah terkenal sebagai produk alat tulis. Gak hanya untuk anak-anak, Faber-Castell juga menyediakan produk untuk orang dewasa hingga manula.

Perusahan asal Jerman milik keluarga yang umurnya 2,5 abad ini udah diurus oleh keturunan ketujuh dari pendiri pertamanya. Kini pabriknya ada empat di Indonesia.

Departemen kreatif Faber-Castell merancang sebuah program bernama #Art4All. Bagi mereka, kreativitas dalam berpikir, bertindak, dan menghadapi hidup ini tuh bisa dibangun dari kesenian. Dari mewarnai, menggambar, menulis, sketsa, melukis, dan sejenisnya.

Kampanye #Art4All ini bermaksud mengajak kita-kita buat menumpahkan ekspresi lewat seni. Toolsnya dari Faber-Castell dong.


Bersinggungan langsung dengan dunia seni -kamu sadari atau enggak- banyak manfaatnya buat kita. Membuat anak percaya diri dan fungsi motorik otaknya terlatih, mencegah demensia bagi yang uzur usianya, otak terasa rileks bagi kamu yang banyak stresnya.

Gak hanya untuk anak-anak, penyebarluasan program tersebut ditujukan untuk dewasa dan manula. Misal nih, Faber-Castell bikin pelatihan pengajar khusus skill yang ada hubungannya dengan art. Pernah juga Faber-Castell menyelenggarakan lomba menggambar untuk anak-anak dan memboyong pemenangnya ke Jerman. Lantas untuk usia remaja, ada juga lomba art & graphic. Bagi kakek-nenek kita ada program coloring for relaxation.

Sudah lomba aja nih? Hahaha jangan salah. Tiap-tiap pemenang dikompilasikan karyanya dan dijadikan buku!

Dan kalo kamu pikir kerjaan Faber-Castell cuma gambar-gambar aja, salah besar. Mereka juga membuat workshop menulis kreatif.

Nah sekarang nih Faber-Castell merambah ke dunia digital. Dunia kita semua :D

Colour to Life namanya. 


Workshop Colour to Life, Gimana Ceritanya

Satu buku dan connector pen, cukup untuk Nabil aja mengikuti workshop Colour to Life. Saya ikut menemani mewarnai. Gini, saya ceritain dulu apa maksud workshop Colour to Life ini.

Colour to Life (CTL) adalah aplikasi buatan Faber-Castell. Yap, betul. Bisa didownload di app store. Untuk menggunakan aplikasi CTL, kamu harus punya toolsnya, yaitu buku gambar (colouring book) dan connector pen dari Faber-Castell.

Nantinya hasil mewarnai kita, discan oleh aplikasi CTL. Nah interaksi antara kita dengan gambarnya jadi lebih banyak setelah gambarnya kita 'hidupkan' di aplikasi tersebut.

Colouring book ada 15 halaman. Sudah ada gambarnya, kita tinggal mewarnai saja pake connector pen. Di sinilah teknik mewarnai berperan agar kertasnya gak ketipisan digerus connector pen yang tebel tintanya, mirip spidol.

Oke. Colouring book dan connector pen sudah di tangan. Teknik mewarnai gimana nih?




Bikin pola mewarnai seperti: bulet-bulet spiral. Nanti bagian yang kosong tinggal diisi dengan membubuhi titik-titik aja.

Prinsip mewarnai kan bebasin aja, nah sekarang coba pola segitiga kecil-kecil.

Lantas, bisa juga bikin garis-garis mengikuti rangka gambar.

Sesederhana itu aja tekniknya. Kita tinggal warnai tipis-tipis di ruang kosong pola tersebut.

Nabil seneng, saya seneng. Kalo bepergian, buku gambar dan pinsil warna selalu ada di tas (termasuk komik Sentaro dan beberapa mainan). Dia cuma pake smartphone di hari Minggu. Bahkan mau download game juga saya batasi. Hasilnya, dia lebih banyak menggambar sih dibanding megang hp.



Etapi aplikasi Colour to Life ini kan berbasis smartphone. Ikuti instruksi di petunjuk aplikasi. Nanti begitu gambarnya hidup, kita bisa jadiin gambar kita sebagai properti foto atau jadi game! Coba diperhatiin di video di atas, cara pake app Colour to Life gimana.


Beli Colour to Life di Mana?

Di Gramedia
Di Shopee
Di Tokopedia

Harga Colour to Life Berapa?

Macam-macam. Ada yang jual 80ribuan hingga 120ribuan. Browsing aja untuk mendapatkan harga tercocok. 

Selamat menggunakan Colour to Life ya, temani anak pas dia mewarnai. Scan barengan pas pake aplikasinya. Produk ini bagus banget untuk main barengan orang tua dan anak. Highly recommended.