Blitar dan Wajah Asing Soekarno

April 02, 2018
Tumbuh besar di negeri ini tanpa membaca kutipan-kutipan dari presiden pertama Republik Indonesia agak mustahil. Terutama kalau kamu berhasil duduk hingga ke bangku perkuliahan. Sebagai tambahan: apalagi bila kamu tinggal di Bandung. 

Bandung dan Soekarno bagai roti dengan selainya. Sayur dengan garamnya. Mie ayam dengan saosnya. 

Merantau ke Bandung untuk bersekolah, Soekarno ngekos di sebuah rumah jalan Ciateul. Rumah yang mempertemukannya dgn istri ke-2: Inggit Garnasih. (Tulisan pendek saya tentang Inggit Garnasih bisa dibaca di sini). 

Sekolah di HBS (sekarang ITB), Soekarno adalah angkatan pertama jurusan Arsitekturnya ITB. Bersama gurunya, Schoemaker, ia ikut merancang Hotel Preanger. Beberapa rumah di Malabar, Kebon Kalapa, Kaca-kaca Wetan hasil rancangannya. Vokal terhadap pemerintah kolonial, ia diadili di Landraad (sekarang Gedung Indonesia Menggugat), divonis hukuman Soekarno masuk penjara Banceuy dan Sukamiskin.  

Presiden RI pertama itu bahkan turun tangan merombak rupa Masjid Agung Bandung demi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.

Iya betul, dia menunjuk Bandung jadi tempat berlangsungnya KAA 1955 yang legendaris itu. 

Banyak kota yang Soekarno taburi jejaknya di Indonesia, tapi saya kira tidak seintim di Bandung. 

Lalu saya ke Blitar, kota  di mana Soekarno berasal dan bermuara. Di kota mungil ini saya mendapati wajah Soekarno yang berbeda. Soekarno di balik panggung kebesarannya. Wajah Soekarno yang...asing. 

Keberangkatan kereta api yang saya tumpangi pulang ke Bandung pukul 17.47. Urusan di kota Malang sudah saya anggap selesai walau menggantung :D (akan kembali lagi ke Malang, entah kapan). Saya cek lokasi kota terdekat dari Malang dan jadwal keberangkatan kereta api lokal. Kayaknya seru juga transit beberapa jam di kota kecil sebelum balik ke Bandung, begitu pikir saya. 

Ada Blora dan Kota Blitar. Cek rute, kota yang kedua dilalui kereta api Malabar 91 menuju Bandung. Ah ya sudah saya pilih ke Blitar.

Dari Malang menumpang kereta api lokal, jam 10.20 berangkat, kira-kira pukul setengah satu siang sampai di Blitar. 

Bila menyebut Blitar, langsung teringat Soekarno sebab di semua buku disebut Blitar sebagai kota kelahirannya. Bisa jadi ada museum yang berhubungan dengan Soekarno di sana, kata saya dalam hati. Terpekur di internet  beberapa menit, saya cari tahu wisata sejarah sekitar stasiun Blitar. Biar gak usah jauh-jauh jalan-jalannya, cuma punya waktu empat jam di Blitar. 

Hasil pencarian tentang Blitar dan wisata sekitar stasiun kereta api membawa saya pada satu tulisan sekaligus berkenalan dengan warga Blitar yang juga penulis tulisan tersebut, bernama Pandu Aji. Tulisannya tentang 6 Tempat Wisata Dekat Stasiun Blitar bisa dibaca di sini. 

Tidak cuma berkenalan, saya juga meminta tolong Pandu menemani ke beberapa tempat sekitar stasiun Blitar. Ia menyanggupi. Ngobrol dengan Pandu seperti ketemu teman lama saja, padahal baru kenalan. Seporsi soto daging dan es teh manis yang kami tandaskan sepertinya ikut andil dalam mencairkan suasana. Makanan memang gak pernah salah. Khekhekhe. 

Hanya tersisa tiga jam di Blitar, Pandu mengajak saya ke Makam Bung Karno dan Istana Gebang. 

Makam Bung Karno memuat beberapa bangunan. Selain bangunan utamanya yaitu pendopo yang memayungi makam Soekarno, ada juga museum dan perpustakaan. 


Perpustakaan saya lewatkan saja. Gak bisa cepat-cepat kalau menyusuri buku-buku mah. Pandu menuturkan "perpustakaan ini isinya buku-buku yang dibaca Soekarno. Buku langka. Cuma warga Blitar yang boleh pinjam, soalnya mesti pake KTP kota Blitar untuk pinjam buku di sini." 

Istimewa juga ya jadi warga kota Blitar :) 

Beranjak ke museum, wah ramai sekali di pintu masuk sampai susah bergerak. Pengunjung berdatangan di hari Rabu. Dominan kaum manula pula. Kata Pandu, mereka itu orang-orang yang hendak berziarah ke makam Soekarno. 

Koleksi museumnya terdiri dari banyak lukisan wajah Soekarno. Beberapa barang pribadi Soekarno (peti dan keris). Juga ada foto-foto sejak ia kecil hingga akhir hayat. Iya saya melihat banyak foto semasa ia di Bandung.

Patung dan lukisan menjadi latar favorit untuk berfoto. Saya ikutan foto juga dong. Bukan saya deng tapi Nabil. 

Di Makam Bung Karno, saya tidak masuk hingga bertemu nisannya. Terlalu penuh, banyak yang berziarah dan khusyuk berdoa. Kami berdiri di luar pendopo saja. Melihat-lihat suasana, memotret pendopo. 

Di sini saya baru menyadari wajah Soekarno yang dikultuskan. 

Saya sendiri gak menyukai sosoknya sedemikian rupa. Tidak seperti walikota saya itu (yes, Ridwan Kamil). Pidato-pidatonya yang bergelora, kecintaannya pada seni dan wanita cantik, dan kecerdasannya membangun hubungan setara dengan negara lain sungguh mengagumkan. Namun Soekarno seperti lupa untuk berhenti dan memberi tongkat estafetnya pada negarawan yang lain. Diktator, pada akhirnya begitu sih ujung-ujungnya tentang Soekarno. 

Saya lebih menyukai Hatta yang bersahaja dan setia pada satu hubungan (ini agak subjektif heuheuheu). Hatta, menurut saya, bukan tipe orang yang larut dalam kekuasaan .

Kembali ke Istana Gebang. 

Lalu di Istana Gebang, saya gak merasakan semangat Soekarno sama sekali. Ya wajar saja sebenarnya mah. Karena apa? Begini. 


Istana Gebang merupakan rumah keluarga Soekarno. Pernah dimiliki kakaknya Soekarno dan hendak dijual karena biaya mengurus rumah yang tidak murah, pemerintah membelinya. Ketimbang rumah tersebut dibeli orang lain dan diubah jadi tempat yang gak ada hubungannya dengan Soekarno kan. 

Apakah di rumah ini Soekarno lahir? gak tahu. 
Apakah ini rumah masa kecilnya Soekarno? Iya (menjelaskan statusnya adalah bangsawan, rumah ini pada zamannya -termasuk zaman sekarang- sangatlah luas dan megah. Halamannya saja seperti luas lapangan bola).

Istana Gebang terbuka untuk umum sejak pukul 7 pagi. Tutup jam 5 sore. Kedatangan saya persis sebelum tempatnya mendekati jam tutup. Terdiri dari beberapa kamar dan perabotan mewah, memang ini rumah layak disebut istana. Foto-foto dan lukisan Soekarno dan keluarganya terpajang.

Pandu bilang pengunjung yang ziarah ke makam juga mampir ke Istana Gebang. Wah pikir saya menarik juga. Mereka tertarik dengan peninggalan sejarah non-makam rupanya. 

Tapi pikiran tersebut musnah sih karena di bagian belakang rumah ada sumur. Air sumurnya ini ramai-ramai diminum dan diwadahin buat dibawa pulang oleh para peziarah. Oh ternyata tujuan utamanya ke sumur itu. 

Ada apa orang Indonesia dengan sumur-sumur ini ya...bisa jadi tesis penelitian: Korelasi dan Perspektif Orang Indonesia terhadap Sumur Dalam Kehidupan Spiritualitualisme.

Menyusuri Istana Gebang, saya jadi pengen cepat-cepat baca buku sejarahnya Soekarno. Tahun berapa sih beliau meninggalkan Blitar dan pergi ke Surabaya? Kenapa di otak saya, Soekarno hanya menumpang lahir di Blitar dan 'dipaksa' dimakamkan di Blitar tapi sebenarnya ia lebih dekat dengan Surabaya (sebab ayah keduanya, HOS Tjokroaminoto berasal dan tinggal di Surabaya dan kayaknya dia lebih dekat dengan Tjokroaminoto ketimbang keluarganya di Blitar).

Atau jangan-jangan benar ya yang menulis tempat kelahiran Soekarno itu di Surabaya? :D

Sedekat apa Soekarno dengan keluarganya di Blitar? Bila Soekarno membangun Jakarta, Surabaya, termasuk Bandung, apa pernah terpikir olehnya untuk melambungkan nama Blitar lebih dari sekadar status kota kelahirannya, kota yang jadi akarnya itu? Atau jangan-jangan Soekarno itu aslinya memang arek Suroboyo...hmmmmm...




(teks: Ulu, foto: Ulu, Pandu)