Hutan Larangan Jatigede

April 14, 2015
Desa Cipaku. 

Menginap di rumah panggung adalah pengalaman yang unik. Sensasinya ada di dalam rumah panggung berbeda dengan rumah modern. Terdiri dari kayu Mahoni dan Jati, ada di dalam rumah panggung rasanya adem. Di desa Cipaku semua rumah panggungnya punya minimal satu 'hiasan' di depan rumahnya: Pohon Rambutan. 

Ada pohon yang besar dan rimbun di halaman rumah sendiri hari gini sudah jarang sekali. Kalau di kota, punya halaman dan pepohonan di area rumah kita semacam pertanda kesejahteraan pemilik rumahnya. 

Rasanya gak jauh beda dengan apa yang saya lihat di Desa Cipaku, Jatigede, Sumedang. Orang-orangnya hidup sejahtera: rumah dari kayu jati, mau makan ayam tinggal sembelih ayam peliharaannya, mau makan rambutan tinggal petik!

Dari kacamata saya yang tinggal dan bekerja di kota kayak Bandung, hidup di Cipaku jauh lebih sederhana dan menenangkan. Meski ada perasaan was-was karena bulan Juni nanti kawasan Jatigede akan ditenggelamkan jadi bendungan, tapi warga lokal masih menyibukkan diri dengan aktivitas sehari-hari. Tanam padi, misalnya. 

Rumah yang saya tinggali 1x24 jam di Cipaku - Jatigede saat itu pemiliknya bernama Teh Awang. Wanita dua anak yang super ramah, baik hati, senang tertawa, dan selalu berusaha membuat tamunya nyaman. Oh iya, dia juga jago masak! 

Sehabis menyantap makan siang yang lezat hasil masakan Teh Awang, saya dan teman-teman yang lain langsung diajak tuan rumah acara ini, Kang Asep, berkunjung ke Hutan Larangan Cipaku, gak sampai satu kilometer jaraknya dari rumah tempat saya menginap.

Sebagai tuan rumah, Kang Asep fasih menjelaskan sejarah Jatigede dari zaman kerajaan Sunda sampai cerita tentang nama pepohonan yang ada di wilayah Jatigede. Beliau sendiri adalah sosok putera daerah yang terbilang sukses mereguk kesejahteraan di kota lain. Tidak melupakan kulitnya, Kang Asep sering bolak-balik Bogor - Sumedang, menjenguk kakek-nenek, sekaligus kampung halamannya. 

Hutan Larangan berada di tengah areal pesawahan dan berbatasan langsung dengan sungai Cimanuk. Suka merhatiin gak sih kalau sedang dalam perjalanan melintasi pesawahan yang luaaaas banget, ada pemandangan sawah di mana-mana terus nyembul areal hutan di tengah-tengahnya? Nah ya gitu kita-kira gambaran Hutan Larangan. Seperti Fangorn Forest di film Lord of The Rings gitu lah.

Pohonnya tinggi-tinggi, lebat, dan batang pohonnya besar-besar. Jalan setapak di hutan berupa bebatuan, tanah, dan air :D Licin karena sedang musim hujan dan seperti hutan tropis lainnya, banyak nyamuk. Saya bertemu dan bertegur sapa dengan penduduk lokal yang berjalan berlawanan arah. Habis pada ngapain ya mereka di Hutan Larangan?

Sudah kelihatan dari namanya, Hutan Larangan, dilarang tebang pohon, bahkan katanya ambil ranting pun gak boleh. Siapa saja yang masuk Hutan Larangan hanya boleh berjalan kaki dan berziarah saja di dalamnya.

Konsep takes nothing but pics and leave nothing but footprints berlaku di Hutan Larangan. Dan semua orang nurut. Warga patuh, begitu juga pendatang. Karena kalau enggak, sesuatu bakal menimpa orang yang melanggarnya. 'S e s u a t u' if you know what i mean...

Di Hutan Larangan ada banyak situs Kabuyutan. Situs Kabuyutan itu situs Patilasan. Semacam tempat yang pernah didatangi dan dikunjungi dalam rangka bersemedi selama beberapa waktu lamanya.

Tempat mereka bersemedi dijadikan tempat yang sakral. Bentuknya seperti makam raksasa, ada satu batu yang ditancapkan seperti nisan dan dibungkus kain putih. Buat saya sebagai orang kota yang tidak pernah bersinggungan langsung dengan tradisi seperti itu, situs-situs terlihat menyeramkan. Saya gak bisa bayangin ada di situ sendirian, baik itu dihari yang terang apalagi malam.

Tapi di satu sisi, tempat-tempat yang penuh doa dan harapan membawa kebaikan. Mempertahankan keberadaan situs kabuyutan, bagaikan mempertahankan kebaikan itu sendiri.

Situs Kabuyutan di Cipaku dipagari kayu yang berselimut bendera merah putih. Gak sedikit orang yang datang dari berbagai macam daerah berziarah ke situs kabuyutan. Mereka berdoa untuk dirinya sendiri, keluarganya, nenek moyangnya, sampai untuk keselamatan pekerjaannya. 

Di daerah Jatigede tercatat ada 33 Situs Kabuyutan. Jika Bendungan Jatigede rampung dan air mulai dibendung, maka situs-situs tersebut tenggelam. Semuanya. 

Saya bukan penganut agama yang masih mendatangi situs kabuyutan untuk ziarah. Tapi sedih gak sih ada tempat di mana orang-orang menaruh harapan, terus tempatnya ditenggelamkan? Tempat yang dikunjungi karena mereka percaya tempat itu adalah titik singgah nenek moyangnya, terus dalam waktu dekat mereka gak bisa melihat lagi tempatnya. 

Tan Hana Huni Tan Hana Mangke. Kita gak akan ada, kalau nenek moyang kita juga gak ada. Bila tidak ada masa lalu, maka tidak akan tercipta masa yang sekarang.

Saya gak bisa bayangin jadi warga Jatigede. Pindah rumah, pindah kampung halaman, situs Kabuyutan ditenggelamkan. Memindahkan kampung halaman gak sebanding dengan 20 juta atau 50 juta yang dikompensasikan pemerintah. Uang habis, kampung halaman dan semua memorinya ada terus. Sedih gak, sih? Saya mah sedih membayangkan tempat terhubung dengan nenek moyang saya terhapus sudah.

Kadang-kadang sejarah kan gak seharusnya semuanya ilang. Berada di Jatigede dan berinteraksi dengan warganya walau cuma sebentar, saya jatuh cinta sekaligus patah hati. 




























Tulisan yang lain ada di sini, di sana, di situ
1 comment on "Hutan Larangan Jatigede"
  1. Ahhh seru nian tampaknya kemarin pingin ikut sebenernya mak...tp apa daya "driver" ku tak bisa mengantar hehehe...

    ReplyDelete