Lima Hari Jelajah Jalan Raya Pos di Jawa Tengah

March 10, 2019
Lima hari. Terlampau singkat untuk menjelajahi sebuah jalan legendaris seribu kilometer itu. Ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan lama-lama euy. Lima hari sepertinya waktu kompromis berkunjung ke kota-kota kecil di jalur bersejarah pulau Jawa ini: Jalan Pos, Jalan Daendels.

Terbatas waktu, edisi jelajahnya di Jawa Tengah dulu. Gak apa-apa, dicicil sedikit demi sedikit sebelum sampai ke Panarukan. Sepanjang tahun 2019, tujuan traveling saya demi satu hal saja. Jalan Pos. 

Saya bermukim di Bandung. Jalan Raya Pos melintas di kota ini. Bila teman-teman bertandang ke Jalan Asia Afrika, itulah highlight titik Jalan Raya Pos di Kota Kembang. Dari tadi nyebut Jalan Pos. Apaan sih itu?


Gara-gara buku yang saya baca, cita-cita menyusuri Jalan Pos ini lahir. Lagipula, sekalian saya mau hunting bangunan klasik tempo dulu dan memotretnya untuk koleksi pribadi. 

Jalan Pos adalah jalan yang membentang 1.000 km dari Anyer di barat Pulau Jawa, hingga ke Panarukan, Jawa Timur. Ini jalan dibangun di sepanjang utara dan jadi tulang punggung perekonomian Nusantara sejak tahun 1909.

Ada beberapa sumber literasi yang bahas Jalan Pos Daendels, tapi yang saya ingat sih ada dua: Pramoedya Ananta Toer ‘Jalan Raya Pos Jalan Daendels’ dan buku seri sejarah keluaran penerbit KPG, Jalan Pos Daendels.

Daendels adalah gubernur Hindia Belanda yang terkenal bengis. Juga ambisius. Karenanya, hanya tiga tahun saja pembangunan Jalan Raya Pos berlangsung. Sukses sih meski cerita pahit di belakang layarnya banyak. Korban berjatuhan. Pajak tinggi. Bahkan 40 tahun pertama, Jalan Pos tidak boleh dilalui pribumi. Dahulu kita jalannya di jalan setapak yang paralel dengan Jalan Pos.

Namun di sisi lain, Jalan Pos ini jadi sumber lahirnya keramaian kota-kota  di Jawa. Berhasil menyambungkan akses dari satu kota ke kota lain.

Where To Go

Nah bila saya memulai jelajah Jalan Pos dari Bandung, maka kota pertama yang ingin saya datangi adalah:

PEKALONGAN

Harusnya ke Cirebon dulu, namun saya sudah tiga kali ke sana. Jadi Pekalongan adalah titik mula jelajah saya. Ini kota identik dengan batik. Namun bukan batiknya yang ingin saya ketahui. Tapi Limun Orientalnya.

Ya, saya mau lihat pabrik antik yang memproduksi Limun Oriental Cap Nyonya yang masih handmade itu! Diwarisi oleh generasi kelima, limun klasik yang ada sejak 1920 ini masih bertahan di Pekalongan. Satu-satunya.

Di Bandung bahkan gak ada. Sewaktu kecil, saya sering jajan air soda lokal ini. Pasti menyenangkan sekali bisa minum limun yang serupa.

photo courtesy: blog teman saya, Alfian Widi

SEMARANG

Semarang adalah kota metropolisnya Jawa Tengah. Di Kota Lumpia ini saya bikin daftar kunjungan agak banyak :D 
Inginnya ke mana saja?
  1. Area Kota Lama. Keliling bangunan tua era kolonial. Hunting banyak foto jendela dan pintu tempo dulu.
  2. Kauman. Melihat rumah kuno di sana, dari masjid sampai kawasan santrinya.
  3. Menjelajah Stasiun Tawang dan sedikit area kereta api di sekitarnya. Di sinilah lahir rel pertama dan stasiun pertama di Hindia Belanda.
  4. Ke rumah Radja Goela. Sebagai salah satu sentra pabrik gulanya Hindia Belanda, Semarang ini punya banyak pabrik gula, terbengkalai sudah pasti. Radja Goela merupakan salah satu peninggalan era keemasan gula di Hindia Belanda dan Indonesia. Legenda kelas berat.
  5. Menyusuri rute Pecinannya Semarang.
  6. Menyantap Lumpia! Tentu saja :D 
photo courtesy: blog.reddoorz.com

Alamak. Dengan daftar sebanyak itu, satu hari di Semarang mana cukup! Di kota ini saya akan menginap juga. Sepanjang misi jelajah jalan raya pos, urusan inap menginap saya serahkan pada aplikasi RedDoorz saja.

Meski tipe traveling yang saya jalani bukan ala backpacker, tapi urusan berhemat ada dalam top prioritas. Mau irit, tapi gak mau sekarat juga :D

Dengan demikian, urusan tidur juga mesti selektif. Penginapan yang ongkos tidurnya terjangkau memang penting. Tapi fasilitas di dalamnya juga mesti diperhatikan.

Makanya saya cari penginapan via aplikasi RedDoorz.

RedDoorz merupakan jaringan penginapan online. Artinya, mereka kerja sama dengan properti penginapan dan menjual kamar secara online.

Makanya nama penginapan di RedDoorz pake nama RedDoorz-@-nama tempat atau RedDoorz-near-nama wilayah. Misal nih kalo di Bandung namanya RedDoorz @Asia Afrika atau RedDoorz near Bandung Indah Plaza.

Memang kesan namanya random banget. Sebab ‘near Asia Afrika’ kan ada banyak. Sebelah mananya Jalan Asia Afrika nih maksudnya?

Mulanya saya pikir juga begitu. Tapi saya pernah menginap di RedDoorz @Sukamulya Pasteur. Dalam pilihan penginapannya, mereka masukin kategori penginapan ke perwilayah. Kalo kamu cari penginapan di Bandung, misalnya nih, cari tahu wilayah yang kamu pengen inepin di mana. Dago misalnya, klik tab Dago. Nanti muncul daftar penginapan berlokasi di Dago aja.

Kayak gini, kamu masukin keyword Dago, nanti muncul distrik yang ada di Dago.
Cocokin dengan lokasi atau nama tempat yang kamu hendak kunjungi di Bandung.

Namun, turis kalo traveling kadang belon riset dan gak paham nama lokasi. Gampang, browsing aja dulu penginapannya di RedDoorz. Terus cocokin namanya dengan tempat-tempat yang kamu ingin kunjungi. 

RedDoorz mencantumkan alamat penginapan secara rinci. Ditambah setelah booking, mereka akan mengirim ulang alamat sebagai konfirmasi tambahan. So, harusnya kita gak nyasar sih. Tinggal aktifin googlemap aja sebagai pemandu arah. Sesuai aplikasi :D 

Di app ada tab Direction dan Call kalo butuh bantuan. Juga tersedia foto penginapan. Bisa pake ilmu cocokologi foto dan bertanya ke resepsionisnya sih :D

Dan ini sih yang selalu saya perhatiin tiap kali booking online: selalu baca review/testimoni. Cek aja ke bagian review di tiap penginapan, di aplikasi ada kok tinggal baca-baca.




RedDoorz menyediakan kamar dengan harga terjangkau dan fasilitas kamar yang baik. Mereka bahkan kasih jaminan: linennya bersih, kamar mandi bersih, ada perlengkapan kamar mandi, dan wi-fi gratis! Tidak ketinggalan televisi dan air mineral.

Menginap dua malam di Semarang, saya mau lanjutkan perjalanan ke kota berikutnya yang terletak 32 km ke arah timur.

DEMAK

Di kotanya Sunan Kalijaga ini saya hendak mampir sebentar. Mau lihat Masjid Agung Demak. Peninggalan Kerajaan Islam pertama di Jawa. 

Sejak 2017 masjid kuno masuk ke daftar tujuan traveling saya. Nah di Demak ada satu masjid tua –salah satu yang tertua malahan- di Indonesia. Bagian atapnya berbentuk limas. Serambinya disangga delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Konon Raden Patah, keturunan Raja Majapahit terakhir 

Tak lupa saya mau menyantap hidangan serba kerbau di Kedai Bu Saki. Di Demak ini, kerbau dihidangkan dalam banyak bentuk. Ada soto, sup, sate, baso, hingga pindang! Saya mau makan sotonya saja :D

Pokoknya tiap kota, mesti makan kuliner khasnya. Nyam! 

KUDUS

Bersih, suci, murni. Begitulah arti kata Kudus, diambil dari bahasa Arab. Masjid Kudus tentulah tujuan saya. Menyaksikan masjid-masjid nusantara ini bukan lagi saya kategorikan sebagai hobi, tapi kewajiban. Bukan karena saya sholehah lho ya. Wekekeke. Tapi pengen memandang langsung peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara. Lagipula masjidnya memang unik dan sejarahnya panjang.

Bayangkan bisa menyentuh artefak yang umurnya 470 tahun kayak Masjid Kudus. Membuat saya serasa istimewa. Ibarat kamu fans K-drama garis keras dan bersalaman dengan Gong Yoo, nah seperti itu perasaan saya bila bersentuhan dengan bangunan klasik :D

Di Masjid Kudus, menaranya masih bercorak dari tradisi Jawa-Hindu. Bukan hanya menaranya sih, tapi juga candi bentar dan gerbang paduraksa ada di sini.

Umumnya masjid-masjid kuno yang pernah saya lihat, arsitekturnya menyatu dengan tradisi lokal. Sedap sekali memandang arsitektur masjid yang datangnya dari masa lalu ini. Terselip rasa bangga juga kadang-kadang. Betapa tingginya craftmanship orang-orang zaman dahulu! Ke mana perginya skill itu sekarang ya...

Selain menara Masjid Kudus, pasti pada tahu kan Kudus identik dengan apa? Rokok kretek! Sebab itu mereka punya museum khusus Kretek. Juga monumennya.

Makan Soto Kudus tak boleh dilewatkan. Pasti beda ya rasanya makan Soto Kudus di Kudus! 

Demak dan Kudus, dua kota berturut-turut. saya menginap saja di Kota Kretek ini sebelum ke kota berikutnya. Tapi belum bisa booking via RedDoorz, sebab RedDoorz jaringannya di kota-kota besar se-Indonesia. Belum masuk ke kota-kota kecil.

LASEM

Kota terakhir sebelum balik ke Bandung.  Disebut-sebut Tiongkok kecilnya Indonesia, ada beberapa rumah kuno bergaya pecinan di sini. Foto-foto rumah kuno di Lasem sering saya saksikan di timeline instagram. Juga youtube. Tapi yang pertama kali mengenalkan saya dengan Lasem adalah film Ca Bau Kan, seting filmnya berlokasi di Lasem.

Makin sering dilihat, makin besar keinginan berkunjung ke kota di pesisir pantai utara ini.

Photo courtesy: @kesengsemlasem

Lasem juga surganya batik-batik mewah nan klasik. Dibuat handmade, batik Lasem terkenal istimewa. Agak sangsi saya akan belanja batik di sana. Makanan membuat saya semangat, tapi urusan sandang gak terlalu menyukainya. Walo begitu saya mengapresiasi banget karya-karya tradisi seperti batik.  Utamanya yang tulis dan butuh waktu berminggu-minggu membuatnya.

Kota-kota kecil ini menarik amat ya. Tiap kota, denyut nadinya berbeda. Padahal masih satu pulau, tapi tradisinya berbeda, bahasanya rupa-rupa. Seolah-olah, tiap kota ada harta karunnya sendiri. Dan semua didapat dengan lima hari saja. Insyaallah. Kan baru rencana nih. Doain ya semoga terwujud! Hehe.

How To Go

Mulanya terpikir menumpang kereta api. Tapi urung. Bawa mobil sendiri saja. Transportasinya lebih efisien dan murah. Ongkos kami bertiga bisa dialokasikan untuk bensin. Saya hitung pun lebih irit. Tinggal banyakin olahraga dan atur pola makan agar stamina bagus. 

Perjalanan pergi via jalan pantura. Pulang ke Bandung baru ambil jalan tol. 

Lima hari di jalan (plus nginep-nginepnya), di Bandung istirahat dulu sebelum gas kerja jalan lagi :D 

Where To Sleep

Di kota besar saya mengandalkan RedDoorz. Di kota-kota kecil, saya gak mengandalkan apa-apa, senemunya hotel aja. Jika dilihat dari rencana perjalanan, menginap hanya di Semarang dan Kudus saja. 

Kalo mau nanya-nanya tentang RedDoorz, komen aja nanti saya bantu jawab. Simpel aja booking di RedDoorz cuma pilih penginapan, isi data nginep, book, bayar transfer aja. E-ticket dikirim ke email dan di app. Jangan lupa cek promo, siapa tahu ada kode promo atau tanggal-tanggal diskonan :D

Photo Courtesy: @reddoorzid

Jika resolusi traveling 2019 temen-temen adalah traveling ke Filipina, Vietnam, Singapura, bisa nih riset dulu penginapan di RedDoorz. Karena ada juga RedDoorz di sana.

How Much

Yes, berapa banyak uang yang dianggarkan untuk perjalanan lima hari tersebut? Cant' tell. Ada sih jumlah minimalnya, tapi ini baru bisa saya kasih tahu bila perjalanannya sudah terjadi :D 

 When

TAHUN 2019 INI DONG DOAKAN YAAAAA! PINTU-PINTU KLASIK SEPANJANG PANTURA, JENDELA-JENDELA KUNO, TEGEL ARTDECO, MUSEUM-MUSEUM, MASJID-MASJID NUSANTARA, GEREJA TUA... TUNGGU SAYA DATANG! 

Agak lebay tapi yah namanya juga usaha (yang tertunda-tunda mulu dari kapan dan bersaing ketat dengan anggaran biaya daftar anak sekolah :D). Kalo teman-teman, tahun 2019 pada mau traveling ke mana nih? 
12 comments on "Lima Hari Jelajah Jalan Raya Pos di Jawa Tengah"
  1. Asik yah kak klo kmn2 mah gampang skrg semenjak ada RedDoorz hehe. Btw smg resolusinya terealisasi yah kak

    ReplyDelete
  2. Aamiin luu, ikut doain yaa, supaya tambah rame n seru blognya. Lagian aku pengen ikutan liat foto2 klasiknya. Naksir deh sama yg shabby2 penuh filosofi gitu <3

    ReplyDelete
  3. Ulu.. semoga kita berjodoh jalan bareng yaa.. i wish

    ReplyDelete
  4. Berkali-kali menyusuri jalan Raya Pos Deandels, cuma mampir sebentar aja. Suatu saat pengen banget berhenti di beberapa kota dan nginap di sana.

    ReplyDelete
  5. huah teteh seru pisan kamana-mana wae euy jalannya btw Red doorz itu langganan di kantor teh kalau ada tamu atau konsultan yang bakalan lama di Bandung sudah pasti aku hubungi red doorz teh :p

    ReplyDelete
  6. Ternyata jalan raya persis depan rumah juga jalan raya pos, #proud

    ReplyDelete
  7. Tulisan teteh ituuu...sangat kental seninya.
    Entah dari dulu...aku terbius sama bahasa yang teteh gunakan untuk menggambarkan sebuah tempat.

    gak se-simpel itu mau ngomong "Tempat ini bagus banget loo..."
    Aku ngerasa...teteh cocok banget kalo suaminya arsitek.
    ((laa...ini apa hubungannya? hahhaa...hubungannya, istilah-istilah setiap bangunan kok rasanya yaa...beda gitu feel nya kalau aku yang nulis..))

    Kece banget, teh.
    Sampai terpana saat ada Gong Yoo melintas di antara deretan kata yang teteh rangkai.
    Kucek-kucek mata untuk bener meyakinkan...dan bikin aku yakin "Teh Ulu juga nonton drama Korea yaaa...?"

    Hahhaha~

    ReplyDelete
  8. kota yang disebutin sama teh ulu adalah kota2 yang udah lama gak aku kunjungi lagi. jadi pingin ke sana nih sama suami :D

    ReplyDelete
  9. Beberapa kota di sepanjang Jalan Raya Pos ini pernah saya singgahi. Kota-kota yang bikin mandi keringat.hehehe..

    ReplyDelete
  10. teh, pas ke belitong aku dapet redors 99ribu ada kulkasnya ada tv nya. 99 ribu buat 2 hari. bayangkaaan!!! padahal aku niatnya amu ngemper aja di jalanan. wkkwkw as search aplikasi nemu begini ya mending di hotel. deket kemana2 dan di terasnya ada ATM. Bangunan baru, ga horor, bersih, meski sendirian juga berani.

    ReplyDelete
  11. Jadi inget dulu gara-gara bukunya Pram saya sama temen kampus nabung buat sewa mobil biar bisa road trip nyusurin Groote Postweg ini. Belum terwujud, sahabat saya tadi keburu meninggal. :(

    ReplyDelete