Social Media

Image Slider

Kampanye Sehat Lingkungan di Car Free Day Dago

06/12/17
Hari minggu akhir November, kami jalan-jalan ke Car Free Day di Jalan Dago. Biasalah di sana jalan kaki terus jajan. Hihi. Tapi ada yang beda nih di CFD Dago pagi itu. Saya ikutan kampanye lingkungan sehat dari Balitbang PUPR :) 

Sekarang pembangunan infrastruktur digenjot tanpa ampun. Tidak lagi berpusat di Jawa saja, kini Sumatera, Kalimantan, termasuk Papua, pembangunan di sana mulai diperhatikan, terutama infrastruktur yang jadi jantung kegiatan warga: jalan raya. Dari satu tongkat pemimpin ke pemimpin lainnya, Jokowi-JS Kalla meneruskan dan menambah target proyek pembangunan Infrastruktur.

Di tahun 2017 saja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menargetkan 392 km jalan (tol) yang akan beroperasi.Bagian menarik lainnya, seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur tersebut, Balitbang yang bernaung di bawah Kementrian PUPR melancarkan inovasi. Menariknya inovasi tersebut tidak melulu berhubungan dengan infrastruktur.

Inovasi dari Balitbang PUPR saya ketahui pada hari minggu 19 November 2017 di Car Free Day Dago, Bandung. Pada acara itu lah Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang PUPR) menyelenggarakan acara bertajuk Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang. Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti PU ke-72.


Limbah Plastik Jadi Aspal, Inovasi Balitbang PUPR
Bila ada fakta menarik berhubungan dengan kampanye lingkungan sehat dari Balitbang PUPR di Car Free Day Dago kemarin itu, maka hal tersebut adalah limbah plastik yang dijadikan aspal!

Dengan pembangunan insfratruktur yang masif kayak sekarang, utamanya pembangunan jalan raya, penggunaan plastik sebagai salah bahan campuran aspal dilakukan dalam rangka mendukung aksi nasional pengendalian sampah plastik laut.

Di Indonesia saja diperkirakan ada 3,32 juta metrik ton limbah plastik yang belum terkelola. Tercatat 1,29 juta metrik ton limbah plastiknya dibuang ke laut (Jambeck, 2015).  Angka yang…memalukan bukan? Sekarang nih ada solusinya, kumpulin limbah plastiknya dan jadikan campuran aspal.

Lantas timbul pertanyaan. Memangnya aspal dengan campuran bahan limbah plastik ini berkualitas baik?


Kotak pengumpulan sampah plastik
Dalam kadar tertentu, penggunaan plastik sebagai salah satu campuran aspal meningkatkan stabilitas dan kekuatan yang menambah kualitas umur layan jalan. Campuran beraspal umumnya dimodifikasi dengan polimer, plasti itu salah satu jenis polimer. Jadi gak ada masalah dengan penggunaan plastik sebagai campuran aspal.

Sayangnya pengolahan plastik sebagai aspal ini tidak ditampillkan secara detail. Jenis plastik apa yang cocok untuk campuran aspal? Apakah pengolahan plastinya dengan cara dibakar? Ada efek sampingnya tidak dari campuran plastik dalam aspal ini? Di mana saja inovasi ini sudah diterapkan?

Meski limbah plastik jadi aspal ini bisa jadi solusi tentang pengelolaan sampah, ya bukan berarti kita bisa leluasa menggunakan plastik sih. Tetap lah kurangi pemakaian plastik, bila harus terpaksa ya gak usah pake plastik sekalian. Bahkan saya amat sangat setuju bila kita menggunakan plastik, kita harus bayar :D

Mengembalikan bumi jadi ‘hijau’ tugasnya bukan ada pada hanya ada di pemanfaatkan limbah saja, tapi juga pola pikir kita sebagai penghuni planet bumi ini.

Untuk itulah Balitbang PUPR juga mengkampanyekan kesadaran lingkungan dari pengolahan sampah Rumah Tangga dan Jalan ‘Hijau’.


Kampanye Lingkungan Sehat dari Balitbang PUPR di Car Free Day Dago Bandung
Sejak pukul 6 pagi acara sudah dimulai. Konten acara dari Balitbang PUPR pagi itu sangatlah bergizi. Mulai dari jalan santai dan pungut sampah yang titik berangkatnya dari PUSair di Simpang Dago dan berakhir di titik pos Balitbang di CFD Dago, games, senam zumba, akustik, dan photobooth.



Oh iya bagi pengunjung yang tidak berinteraksi secara langsung dengan acara, Balitbang PUPR meletakkan beberapa poster di titik strategis dan dapat dibaca oleh siapa saja yang melewatinya. Poster tersebut berisi kampanye lingkungan sehat dan inovasi yang dilakukan Balitbang PUPR terkait empat tema: limbah plastik yang dijadikan aspal, sampah, banjir, dan jalan ‘hijau’.

Interaksi dari acara yang berlangsung selama empat jam selama Car Free Day Dago tersebut makin meriah dan berbobot.

Balitbang PURP menyediakan booth warna hijau mencolok. Booth yang menarik mata pengunjung itu merupakan wadah besar berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah plastik. Pengunjung membuang sampah plastiknya pada wadah tersebut. Sampah plastik itu nantinya diangkut dan digunakan sebagai campuran ‘adonan’ aspal jalan.


Peserta Jalan Santai

Gizi acara bertambah dengan diselenggarakannya diskusi ringan seputar banjir, sampah, dan limbah rumah tangga, dan plastik. Menghadirkan beberapa narasumber di bidang lingkungan, pengunjung Car Free Day dapat mendengar dan bertanya mengenai paparan dengan tema lingkungan sehat.

Bila diperhatikan. Bandung termasuk kota yang memberi perhatian terhadap pengolahan limbahnya.

Masih saya ingat kampanye Biopori bertajuk Gerakan Sejuta Biopori yang heboh dan Gerakan Pungut Sampah di tahun 2013. Belum lagi kampanye Biodigester.

Ruang terbuka hijau pun ditambah. Taman-taman di Bandung dipercantik kondisinya. Lebih hidup dan lebih hijau.

Trotoar bagi pejalan kaki diperbaiki dan kondisinya sekarang layak dan menyenangkan! Trotoar di jalan-jalan utama Bandung sekarang lebih lebar. Disediakan pula bangku untuk pejalan kaki istirahat atau pun menunggu angkot datang. Saya berharap kondisi seperti ini merata di seluruh kota Bandung (sampai ke kabupatennya).



Di tahun 2016 dan 2017, Bandung khusus bagian utara membangun infratruktur selokan untuk menampung air hujan.

Ceritanya gini. Kalau musim hujan di Bandung ada penyakit namanya Cileuncang. Alias banjir dadakan, banjir sementara akibat air hujan yang tidak tertampung. Air hujan memenuhi jalanan karena gak ada jalan air macam selokan. Kalau pun ada, selokannya dangkal karena endapan, mampat karena sampah, dan menyempit terhimpit bangunan dan jalan.

Langkah revolusi diambil pemerintah kota. Selokan dibongkar dan digali ulang. Kedalaman ditambah, lebar diperbesar. Bukan itu saja, revolusi terbaru dari pemkot Bandung adalah membangun jalan sungai Citepus di Jalan Pasteur dan kawasan Pagarsih.

Masih ada sih Cileuncang, tapi memang gak separah dulu. Wewenang terkait pembangunan di ruang terbuka hijau dan kawasan serapan air mestinya dipertegas. Gak boleh membangun bangunan komersil atau pemukiman di area serapan air  di KBU(di Bandung namanya Kawasan Bandung Utara) dan sempadan sungai. Bukan hanya kota Bandung sih seharusnya, wilayah lain di tingkat Kabupaten sampai dengan Provinsi juga mesti bahu-membahu menjaga alam serapan air hujan.

Upaya untuk membasmi banjir pun menurut saya datangnya bukan dari pemerintah kota saja, tapi juga dari warganya. Kita masih buang sampah sembarangan gak, sudah memilah sampah belum, sudah bikin biopori di halaman rumah kah, bangunan kita menutup jalan air gak, dan masih banyak lagi.


Limbah Rumah Tangga dan Komposter untuk Mengolahnya
Salah satu diskusi yang saya ikuti di acara gelarannya Balitbang PUPR di Car Free Day Dago ini temanya tentang sampah, khususnya limbah rumah tangga.

“Mengolah sampah dimulai dari sumbernya, paling gampang ya dari rumah, dari dapur kita,” ujar Lia Meilany Setyawati dari Puslitbang Perumahan dan Permukiman yang menjadi narasumber dalam diskusi tersebut.

Selain membahas tentang konsep 3R (reuse, reduse, recycle),  bagi saya salah satu hal menarik tentang konsep recycle dan reuse yang beliau ceritakan tentang komposter. Di rumah saya menggunakan komposter bernama Takakura. Mendengar paparan beliau tentang komposter sederhana dari karung dan pot, kok terdengar lebih mudah diterapkan dibanding komposter Takakura ya. Bahkan komposter yang ditanam ke tanah dan komposter bernama Kascing (bekas cacing) juga menggiurkan untuk saya aplikasikan di rumah.

“Di mana saya bisa beli komposternya, Bu?” tanya saya kepada narasumber. Ia mengatakan untuk mendapat komposter tanam dan Kascing tersebut saya harus memesan terlebih dahulu. Kepada siapa, ia tidak memberi keterangan lebih detail.

Andai saja membeli komposter dan alat-alat yang berhubungan dengan pengolahan limbah rumah tangga semudah jajan beras di minimarket.

Saya menyayangkan kampanye lingkungan, utamanya limbah rumah tangga ini, masih minim penerapannya. Kampanyenya jalan terus, tapi target penerapannya yang gak terlacak. Pada prakteknya banyak yang masih malas menerapkannya. Kenapa coba?

Bila di masa mendatang Balitbang PUPR menyelenggarakan lagi kampanye lingkungan yang sehat, mungkinkah juga memajang komposter-komposter siap beli?

Pengunjung membaca informasi tentang kampanye Jalan Hijau

Orang Indonesia tuh pengennya langsung beli, malas merakitnya :D Termasuk saya, komposter Takakura saja saya membelinya di sebuah markas besar komunitas lingkungan di Bandung. Toko Organik namanya. Bila merakitnya sendiri saya harus menyiapkan satu wadah besar yang ada penutupnya, sekam yang dijadikan bantal, sekam untuk mengeram sampah organik, kardus, dan sekop. Alamak :D

Jujur saja susah banget nyari komposter di Bandung. Bila saja komposter ini dikapitalisasi dan mudah dijangkau seperti kita menjangkau barang-barang di minimarket, praktek pengolahan sampah dapur ini bakal cepat terealisasi.

Namun uraian Ibu Lia berikutnya mencerahkan, “komposter itu bisa sesederhana memanfaatkan karung tak terpakai. Masukan sampah organik ke dalam karung, simpan karung di tempat yang kering dan beralas batu kerikil agar air dari sampah organik mengalir dan tidak menimbulkan bau busuk,” tuturnya lagi.

Komposter karung ini mulai terdengar menarik dan aplikatif untuk saya :D




(Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com.)





Foto: Nurul Ulu
Teks: Nurul Ulu

Kerinduan Pada Hidangan Pesisir

02/12/17
Kedatangan saya di Kota Udang berawal dari sebuah kerinduan. 15 tahun bermukim di Bandung saya kembali ke Cirebon membawa misi berbeda: membedah perjalanan sejarah kota itu seperti saya mengulik sudut-sudut kota Bandung.

Mengupas sejarah kota yang dahulunya perlintasan bangsa-bangsa ini sepertinya menarik bila dimulai dari sesuatu yang ringan dan legendanya panjang: kuliner. 


Suara kereta api menderit. Bayangan romantika pulang kampung berbayang saat berada di stasiun kereta api Cirebon. 
Keluar stasiun, saya menyongsong hawa panas Kota Udang.

Di Jalan Siliwangi saya menyetop becak. Hendak ke mana kah? Menuju sebuah rumah makan di ujung batas utara kota Cirebon!


Empal Gentong Krucuk jadi pembuka jelajah kuliner kami di Cirebon. Menumpang becak, lima menit waktu tempuhnya dari stasiun.




Hampir jam makan siang. Tiga porsi empal gentong tersaji. Kepul panas dari kuah empalnya menguar. Saya endus wanginya, lapar semakin liar.

Banyak orang menyamakan empal gentong dengan gulai. Saya sendiri merasa makanan legendaris ini serupa soto bersantan. 


Empal Gentong terdiri kuah dan bahan-bahan daging berlemak sapi. Di permukaan kuahnya ada potongan daun kucai, membuat aromanya lebih istimewa.

Memandang empal gentong rasanya seperti bertemu kawan lama. "Hello again, my old friend!" ucap saya sebelum makan.


Berjam-jam empal dimasak dalam kuali (gentong), bergolak selama 7 jam, apinya berasal dari kayu bakar. Kayunya mesti lah kayu pohon asam, kayu dari pohon mangga pun jadi. Bumbu meresap kuat-kuat di dagingnya, melekat dalam pada kuahnya. Barulah ideal disantap.

Cuaca dan makanan memang sepaket. Dalam dekapan hawa Cirebon yang hangat dan empal gentong yang mahanikmat, keringat kami bercucuran deras! 


Anehnya, usai makan badan ini terasa lebih sejuk.

Naga dan ular di perut tenang sudah. Tapi saya tahu kali ini mereka ingin sesuatu yang manis, dingin, dan menyegarkan. Penawar lemak-lemak empal gentong.

Krucuk saya tinggalkan. Menuju Jalan Karanggetas saya menumpang angkot warna telur asin. Es Kopyor 4848 menanti di sana.

Satu gelas es kopyor ditukar dengan tiga lembar uang sepuluh ribu. Jelas saja mahal namanya juga kopyor.





Kopyornya ada banyak, satu gelas terisi. Dimasukan juga susu (kental manis) dan sedikit cairan gula. Terakhir, sirup merah. Lalu kocok-kocok. Sluuuurp!

Ramuan sirup warna merah adalah kunci kelezatannya. Pernah lihat sirup tjampolay? Nah begitulah sirup di sini. Pemilik toko mengatakan (gula) sirupnya buatan sendiri. Katanya tidak berbahan pengawet dan kita bisa membeli sirupnya terpisah dari es kopyor. 

Indramayu adalah tetangganya Cirebon. Kota kampung halaman pertama saya sebab masa kecil hingga SMP tandas di sana. 

Salah satu makanan yang saya rindukan dari Indramayu adalah rumba.

Bila di Bandung, rumba ini saudara kembarnya lotek. Kalau di Surabaya mirip pecel.


Sayurannya dikukus atau direbus. Terdiri dari beberapa sayuran, dalam seporsi rumba ada kangkung, timun, daun semanggi, dan tauge. Juga terdapat sayuran langka bernama kembang turi dan buah lamtoro.

Rumba dimakan dengan bumbu yang tidak manis dan tidak asin, tapi pedas. Pedas yang durjana itu bernama sambel asem. 


Bayangkan bumbu manalagi yang rasa bumbunya pedas saja sudah. 

Saking pedasnya, tubuh berkeringat seperti sedang berarung jeram. Sebab panasnya ganda: panas cuaca dan 'panas' cabai! 

‘Bukan makan rumba kalo gak keringatan’ begitulah prinsip makan rumba. Kombinasi kerupuk dan minum air hangat membuat rumba mendarat damai di dalam perut.




Sehabis gempuran pedas yang biadab, tubuh terasa lebih sejuk. Paradoks. Saya sering menemui makanan pedas di Cirebon dan Indramayu. Rupanya rasa pedas memiliki khasiat mendinginkan tubuh. Seperti memasak nasi di rice cooker, energi panasnya akan berhenti di satu titik. Habis itu temperaturnya turun sedikit dan rice cookernya mengeluarkan uap dan sedikit air.


Lidah sudah tenang. Bibir mulai damai. Rasa pedas hilang, kami sambut makanan berikutnya di restoran Panorama Indramayu. Di sini terdapat satu hidangan yang unik. 

Sebab pada mulanya makanan ini adalah limbah. Tahu ikan mayung? ikan yang dagingnya jadi asin jambal roti. Kepalanya tidak berguna. Tak ada pasarnya. 

Oleh para nelayan kepala ikan mayung dikumpulkan. Statusnya sampah. Mereka bawa limbah ini pulang ke rumahnya. Sayang bila dibuang -sebab ukuran kepalanya besar sekali!- istri nelayan mengolahnya jadi masakan yang kita kenal bernama: Gombyang. 



 (source)

Gombyang ini lah yang sekarang jadi menu kenamaan di Indramayu. Kepala ikan mayung direbus. Tidak tahu berapa lama. Dimasukkan aneka rempah ke dalam kuahnya sehingga muncul rasa asam yang kuat dan segarnya luar biasa. Saya benci asam tapi di sini pengecualian.

Pedas tidak? bisa diatur. Di dalam kuahnya ada cabai hijau dan merah. Bila ingin pedas, tinggal dipotong saja cabainya. Tidak mau pedas ya keluarkan saja dari piringnya.

Di restoran Panorama ini menurut saya Gombyang terbaik berada. Kuahnya banyak, warnanya bening, dan kepala mayungnya bisa dimakan berdua. Besar sekali! Dagingnya masih banyak. Tulangnya bisa disedot-sedot nikmat sampai ia kering. 

Makanan pesisir ini memang....ckckckck....makanan nusantara sih intinya itu memang....kalau boleh saya mau hidup seribu tahun untuk cari makanan-makanan terenak nusantara dari ujung Sabang sampai ubun-ubun Merauke! Hahaha. 

Di dalam kereta api menuju Bandung, perut terpuaskan, hati senang. Makanan adalah mesin waktu, dibawanya kita menyusuri kenangan dalam aroma dan rasa.

Bila waktu bisa dibeli dan bawa kita kembali ke masa lalu, berapa harganya ya...






Teks: Nurul Ulu
Foto oleh Indra Yudha

Main ke Hotel Sandalwood di Lembang

27/11/17
Lembang di akhir pekan gak mungkin saya datangi kalau bukan karena teman baik. Ceritanya Noe dan Pungky plesir ke Bandung. Mereka langsung ke Lembang aja gitu gak main dulu di kota Bandungnya. Ya kayak Ungaran kalau di Semarang mah, kayak Bogor kalau di daerah Jabodetabek mah. 

Mereka berdua mau nginep 3 hari 2 malam di hotel lucu di Lembang. Hotel Sandalwood namanya. Saya gak ikut nginep sih. Saya datengin mereka pagi-pagi aja, berangkat dari rumah jam tujuh pagi. Dan Lembang lagi dingin banget pagi itu! Asooooy!


Saya bawain Noe dan Pungky oleh-oleh khas Bandung. Belinya di toko Tahu Tauhid aja, pas di seberang hotel yang mereka inapi. Ini riya bukan sih hahaha maksudnya gak ke sana da. Ya intinya mah saya pengen ketemu sama kembaran yang bengis itu (Noe nama depannya Nurul, sama kayak saya. Tapi dia mah ketus, saya mah ramah *naon :P*). 

Pendek kata, Noe ajak saya ikut sarapan. Dan sarapan lah kami berempat. Bersama Pungky dan teman baru bernama Jose. 

Duh itu ya Sandalwood, dari pintu masuk di lobi aja udah lucu banget dekorasinya juga rumahnya, begitu masuk ke dalam, hwaduuhhhh halaman di tengah itu bagus sekali. Banyak pohonnya, ada rumputnya, dan rumputnya bisa diinjak-injak horeeeee gak diusir :D 

Terus ada kolam renangnya juga. Saya celupin jari tangan, hwaduh airnya dingin! Siapa orang gila yang mau berenang di sini. Eh pas kami makan, ada dong tamu hotel yang berenang hahahaha. 


Di tempat sarapannya nih, bisa lihat pemandangan pegunungan di Bandung Utara dan sedikit ke arah timur. Saya tuh suka sentimentil gimana gitu kalau bisa lihat puncak gunung. Apa kamu juga begitu, merasa romantis waktu melihat puncak gunung dari dekat? 

Agak lama kami berdiam di restoran. Mulut sih gak diam ya karena makan terus hahaha. Ya biasa lah temen lama ketemu ngapain, ngobrol-makan-ngobrol-makan. Dan lagi mereka blogger pula yang mendamba feed Instagram yang rapi, hayoh weh terus popotoan. Abis makan juga tetep popotoan. Banyak sudut menarik sih di Sandalwood yang sudah pasti gak ada di rumah kita :D Ya baguslah saya ada gunanya juga di sana bantuin motoin. Wkwk. 
 

Saya diajak Noe masuk ke kamar yang dia tiduri. Ada tiga ranjang di dalamnya: queen dan twin bed. Jose nawarin saya ke balkon kamar. "Luas banget balkonnya!," begitu katanya. Pas saya lihat sendiri, hwuidiihhhh aslinya luas amat bisa jadi satu kamar sendiri! 


Enakeun sih kamarnya. Jendelanya banyak, ada balkon yang luaaaas banget, juga ada balkon mungil. Kamar Noe menghadap langsung ke kolam renang. Saya poto nih pemandangan yang saya lihat dari balkon mungilnya. Ucul banget! 

Lain kali saya mau ah nginep di Hotel Sandalwood ini. Main aja mah kurang hahahaha. Juga pengen berenang deh, tapi ntar deh nunggu matahari mulai muncul rada sering huhuhu dingin dan berangin di Bandung nih, termasuk Lembang. Hujan terus. 


Selamat menikmati foto-fotonya, kalau ke Lembang, nginepnya di Sandalwood yaaaa :)



Teks: Ulu
Foto: Ulu

Di Jatinangor, Berkenalan dengan SINTA: Rancangan untuk Mempermudah Perizinan Bagi UMKM

19/11/17
Kamu pernah gak bertanya-tanya, kalo lihat feed instagram orang yang kesannya jalan-jalan mulu, ini orang apa ya kerjanya? uangnya dari mana? sambung nyawanya kayak apa?

Kalo kamu nanya saya, nanya ke Bandung Diary, kami jawabnya ya jualan ikan. 

Sejak tahun 2009 kami udah bergelut di dunia perikanan. Bangkrut mah udah biasa (tapi gak mau dibiasakan hahaha). Bikin peternakan, tutup. Bikin rumah makan, tutup. Baru nih usaha yang ke tiga ini jalan terus, Fish Express namanya. Berkat dunia digital. 

Saya dan Indra adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah, alias UMKM. Saat ini saya kami tercatat sebagai UMKM binaan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bandung. Kamu udah baca catatan perjalanan saya di Yogyakarta beberapa waktu lalu? sebenarnya kami ke Yogyakarta dalam rangka ikut pelatihan teknologi olahan perikanan 😅  Indra yang ikut pelatihan, saya yang pergi jalan-jalan (dengan uang pribadi yoooww). 

Jadi, waktu Teh Efi pengurus komunitas Blogger Bandung mengajak saya ke acara bertajuk Kampanye Nasional Reformasi Perizinan UMKM Dalam Rangka Mendorong Daya Saing Ekonomi Daerah, saya merasa wajib datang. Walau status saya pada waktu hadir adalah blogger, tapi selama acara saya merasa sebagai pelaku usaha kecil. 

Kampanye dalam bentuk seminar tersebut berlangsung pada hari Sabtu 18 November 2017, bertempat di Grha Giri Wisesa PKP2A I LAN, di Jalan Kiarapayung, Jatinangor. Yup Jatinangor yang di Sumedang. Perjalanan kami hari Sabtu itu lintas kota demi melihat reformasi kayak apa sih yang udah dilakukan pada perizinan UMKM ini.

Dalam acara tersebut beberapa UMKM dilibatkan sebagai pengisi tenan. Ada batik, kuliner, aneka pakaian dari kulit, sampaia dengan mainan untuk anak-anak terbuat dari kayu.




60% UMKM Belum Punya Izin

Tercatat saat ini di Indonesia ada 56,7 juta jumlah UMKM. Sayangnya 60% dari mereka belum memiliki izin usaha. Saya sendiri merasa gak termasuk di antaranya karena saya sudah punya akta perusahaan dan sertifikasi halal. 

Tapi saya lagi kesulitan urus perizinan BPOM nih 😁 berbekal izin legal kayak BPOM, saya bisa mengembangkan usaha perikanan saya dengan masuk ke pasar yang lebih besar kayak supermarket. Sayangnya urus BPOM ini batu sandungannya gak sedikit. 

Kembali ke angka lagi deh. 

Dari jumlah puluhan juta itu, 98% usahanya termasuk usaha mikro. Penyerapan tenaga kerjanya mencapai jumlah 90%. Bayangkan jumlah sebanyak itu seharusnya bisa jadi simbiosis mutualisme antara pemerintah dan UMKM. 

Masalahnya bagi UMKM, pemerintah tuh rese banget. Urus izin berbelit-belit dan bolak-balik. Perlu uang, butuh waktu, dan capek hati. Sementara bagi pemerintah, UMKM pernah dianggap sebagai pintu pendapatan aja. 

Berkaca dari data tersebut, pemerintah (akhirnya) menyadari harus ada reformasi di bidang perizinan UMKM. Daya saing Indonesia di mata dunia ada di urutan ke 37. Kalah dari Thailand apalagi Malaysia yang ada di urutan ke 20an. 

Bila Malaysia sudah berlari kencang dalam urusan UMKM, Indonesia masih jalan terseok. 

Sebab itu lah Lembaga Aparatur Negara (lengkapnya Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Lembaga Aparatur Negara, PKP2A I LAN) membuat pelatihan bertajuk Reform Leader Academy yang disingkat RLA. Pelatihan ini ditujukan membuat sinergi antar kementrian dan lembaga. Sinergi ini lah yang jadi bekal reformasi perizinan UMKM. 

Intinya sih pelatihan ini menyatukan isi kepala tiap kementrian dan lembaga agar membuat sistem yang membuat pemerintah kompak, bersinergi, dan gak bikin pelaku UMKM bolak-balik urus perizinan (baca: mempermudah layanan perizinan UMKM). 

Bagian menariknya adalah dalam acara ini salah seorang pembicara mengatakan dengan sadar kalau pemerintah harus saling legowo dan mengesampingkan ego masing-masing kementrian dan lembaga agar reformasi terkait perizinan UMKM ini dapat segera dilakukan.

Pelatihan dari negara untuk negara. Karena kesulitan perizinan itu seringnya datang dari negara/pemerintah itu sendiri.


SINTA UMKM, Rancangan Sistem Mempermudah Perizinan UMKM

Peserta pelatihan RLA ke-8 jumlahnya ada 11 institusi. Masing-masing institusi pemerintah mengirim wakilnya, mulai dari :

Kementrian Dalam Negeri, 
Kementrian Keuangan, 
Kementrian Perdagangan, 
Kementrian Perindustrian, 
Kementrian BUMN, 
Kementrian Pariwisata, 
Kementrian Kominfo, 
Lembaga Administrasi Negara, 
LIPI, 
POLRI, dan 
Pemprov Lampung. 

(Fyi, saya masih bertanya-tanya Pemprov Lampung dipilih sebagai perwakilan pemerintah provinsi di situ). 

Bayangkan segenap kunci institusi ada di pelatihan tersebut dan urun rembuk tentang gimana caranya nih mereformasi layanan perizinan UMKM. Saya harap pelatihan ini gak sia-sia alias hasilnya dijadiin. 

Dalam acara seminar -yang untuk saya terlihat sebagai FGD (forum grup discussion) dan bukannya seminar ini-, perwakilan peserta maju ke panggung dan presentasi konsep yang mereka godog selama satu bulan pelatihan: SINTA UMKM. 

SINTA UMKM merupakan Sistem Izin Terpadu Usaha Mikro Kecil dan Menengah skala nasional. 

SINTA adalah rancangan dalam bentuk digital yang menampilkan informasi skema perizinan, termasuk akses data kebutuhan pendanaan dan kapasitas UKM. SINTA dapat diakses dalam bentuk website dan aplikasi. Bukan saja menampilkan lokasi detail data UMKM, SINTA juga terhubung dengan kantor kecamatan. 

Oh iya saya harus tekankan lagi, SINTA ini bentuknya masih konsep dan ide. Artinya SINTA ini belum jadi. 

Konsep SINTA ini digelontorkan di depan para narasumber dalam seminar tersebut. Para penilai (alias dosen sidangnya) terdiri dari Bappenas, Kemenpan, Kemendagri, Kadin, Kepala Pkp2A I LAN, dan BRI. 

Ke-6 institusi tersebut menilai apakah SINTA ini sistem yang bagus atau enggak, cocok atau enggak, sesuai atau enggak. Masing-masing perwakilan memaparkan penilaiannya yang panjang dan birokratis ala-ala pejabat. 

Sementara itu penilaian menarik buat saya datangnya dari perwakilan BRI (Bank Rakyat Indonesia) sebagai pemberi kredit mikro untuk UMKM (ngomong-ngomong usaha saya pernah jadi krediturnya BRI di tahun 2015, udah lunas hamdalah 😁). Penilaian beliau pendek, lugas, padat, dan fokus pada solusi. "Saya tunggu kapan SINTA ini akan diluncurkan," kata Agung Setyabudi, BRI, disambut tepuk tangan tulus peserta lain, termasuk saya. 

Sayang sekali UMKM gak dilibatkan dalam seminar ini sebagai penilai. Tidak ada pertanyaan atau penilaian dari UMKM. Gak ada yang nanya UMKM ini butuh apa sih dari sebuah rancangan sistem terpadu kayak SINTA. 

Saya pikir dalam acara ini akan ada sesi terbuka tanya jawab, dari rumah saya sudah siapkan pertanyaan untuk kementrian-kementrian yang duduk di sana. Tapi yang ada komunikasinya satu arah dari penilai terhadap SINTA UMKM. 

Fyi, untuk urus perizinan kami pernah dipingpong antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Belum selesai, kami juga harus urus dokumen ke dinas lingkungan. Repotnya melelahkan. Kenapa sih antar dinas gak saling telpon aja dan konfirmasi. Kenapa sih harus kami yang bolak-balik ke masing-masing dinas. 

SINTA UMKM ini bisa jadi pintu masuk reformasi layanan perizinan. Sebagai pelaku UMKM sih saya merasa butuh banget sistem seperti SINTA. Biar apa? biar izin usaha cepat beres dan gak perlu bolak-balik ke kantor dinas dan antar dinas. Udah gitu bisa ngembangin usaha lebih luas lagi skalanya.

Kota Bandung udah punya sistem mirip SINTA. Namanya Gampil dan gak melulu buat UMKM sih, lebih untuk keperluan perizinan warga kota Bandung. Saya udah cek aplikasinya dan directorynya gampang banget. Hanya aja sering eror 😅 segitu juga udah bagus sih. Tercantum dalam aplikasinya daftar syarat perizinan mulai dari berapa biayanya dan kelengkapan surat yang dibutuhkan.

Tapi itu kan levelnya daerah ya. SINTA kan diproyeksikan skala nasional. 

Emang sih SINTA ini masih rancangan, masih dalam bentuk konsep. Dari acara tersebut, saya perhatiin reformasi layanan perizinan UMKM ini baru beranjak ke tingkat kesadaran dan ide. Di lapangan, saya sendiri merasakan ada perubahan layanan. Punglinya gak ada dan ada upaya dari masing-masing dinas untuk membantu kami para pelaku UMKM. 

Hanya saja sistem antar dinasnya yang mesti ditinjau lagi. Ya masa saya bikin SPPL, surat yang berhubungan dengan pengolahan limbah, mesti bolak-balik dari Dinas Perikanan ke Dinas Lingkungan (juga Dinas Perindustrian). Atuhlah...

Menurut saya jadiin dulu aja SINTA-nya. Luncurkan. Pada prakteknya nanti pasti ada evaluasi toh, bisa kali per periode ada perbaikan fitur layanan. Kalo mengendap terlalu lama khawatirnya cuma jadi wacana. Di era kayak gini, perubahan adalah pasti dan percepatan adalah kunci. Ayo pemerintah Indonesia, saatnya berlari!



Nginep di Hotel Utari dan Main ke Car Free Day Dago

15/11/17
Hotel Utari di Dago murah banget! Ini nih yang penting juga: LOKASINYA BAGUS. 

Sebenernya saya numpang nginep sih. Kakaknya Indra (kami menyapanya Teteh) datang ke Bandung (dia tinggal di Garut, fyi). Mendadak harus menginap dan dia pengennya di kota, sekalian jalan-jalan. Skroling di aplikasi hotel, saya dapet nih Hotel Utari. Lah dia pengennya hotel dengan budget 300ribuan gitu. Hotel Utari saya bisa book dengan harga di bawah 300ribu, Sodara-sodari :) 


Selain rikwes pengen nginep di hotel yang murah tapi lumayan lah gak kelas bekpeker banget, si teteh juga minta diantar ke Ayam Gepuk Pak Gembus. 

Anyway, terus menginaplah mereka sekeluarga di Hotel Utari. Kami sebagai pemandu dan pengantar kok ya males pulang. Mana malamnya kami ikutan walking tour dari Mooi Bandoeng tentang hantu-hantu di Bandung. Baru beres jam 10 malam. Mana hujan. Akhirnya kami menyambangi si kakak di Hotel Utari dan pesen aja extra bed lah. Hahahaha. 

Hotel ini mungil banget. Ya kalo dibandingin dengan hotel di sebelah dan di seberangnya yang bertingkat-tingkat itu. Cuma terdiri dari tiga lantai tanpa lift, hotel ini termasuk hotel senior di Bandung. Pegawainya kebanyakan laki-laki, bapak-bapak kayak di film 80an gitu. Khekhekhe :D

ini bukan bapak-bapak yang saya maksud ya, ini mah Nabil anak saya da sepupunya dari garut wkwk
Lokasinya pas di Jalan Dago. Itu pun strategis pas di perempatan Sulandaja - Dago. Di sebelah Utari masa ada aneka macam restoran fast food macam Pizza Hut. Mau berobat, tinggal nyeberang ada Kimia Farma. Mau jalan-jalan tinggal pesen ojek/taksi online atau angkot. Sok sebutin mau ke mana, di mana-mana tempat wisata.

Macet? oh sudah pasti :D 

Karena itu kami nongkrong aja di hotelnya. Secara pas sorenya tuh ada karnaval Light Fest. Teteh seneng banget bisa lihat kota Bandung dalam waktu terbaiknya. Nonton festival dari pinggir jalan Dago, kalo capek atau mau pipis, tinggal balik ke hotel dan masuk kamar. Asoy :D 

Kamarnya pun gak buruk. Malah terbilang luas. Hanya saja ACnya berisik dan channel televisi itu-itu aja, banyaknya saluran televisi lokal. Oh wifinya juga gak bagus kecuali di lobi hotel. 

Pagi harinya, kami langsung ke Car Free Day. Gak dapet sarapan di hotel, kami cari makan di CFD aja. Sekalian jalan-jalan pagi, jajan, belanja, cuci mata. Gak cuma ke CFD, si Teteh juga belanja edan-edanan ke...Gasibu! 



Seperti biasa si teteh kalo ke Bandung terkesima dengan perkembangan wisata kuliner dan belanja. Kalap hahaha.

Sebagai tukang makan, dia (dan kami semua sebenernya tukang makan :D) rikwes pengen makan ayam gepuk, "yang kayak Ayam Gepuk Pak Gembus anu aya di tipi tea," kepengen si teteh. 

Saya juga pernah nonton sih liputan tentang Ayam Gepuk Pak Gembus, tapi rasanya belum ada di Bandung ya? Eh ada gak sih? Kayaknya belum deh. Akhirnya kami makan-makan di Toko You aja deh. Cari yang deket hotel aja masih kisaran Dago. 

Kalap belanja dan jajan, di satu sisi juga teteh dan keluarganya mengeluhkan macetnya Bandung. "Mendingan di Garut," begitu katanya. Saya pikir keputusannya buat nginep aja di pusat kota juga karena alasan itu, biar ke mana-mana tinggal jalan kaki aja daripada naik kendaraan terus macet terus bete. Fiiuuhhh....

Ah ya namanya juga ibukota Jawa Barat. Bandung emang terasa banget tambah macetnya. Kayaknya butuh strategi khusus gitu kalo mau jalan-jalan. Gila udah mah strategi, khusus pula. Wew...



Teks : Ulu
Foto : Ulu

Di Jakarta 24 Jam

08/11/17
Jalan-jalan di Jakarta, aduh kayak gak ada kota yang lain aja :D

Kenapa ya sebagai orang luar Jakarta, saya parno banget jalan-jalan di sana. Emang bisa gitu plesir di ibukota? Apa serunya, kan macet?

Padahal setelah dijalani mah ya bisa aja. Jalan-jalan di Jakarta selama satu hari kira-kira asyiknya ke mana aja ya, nih coba dilihat yang saya pernah lakuin di sana.

1. Ke Monas
Ngacung siapa yang belum pernah ke Monas? Saya sih baru sekali ke Monas, naik ke puncaknya pun ya sekalian baru sekali itu. Rasanya seneng dong. Cuma gak kuat antriannya aja. Lain kali ke sana pas bukan musim liburan atau (long) weekend deh.

Di Monas bisa lihat kerlap-kerlip Jakarta. Iya kebeneran saya ke sana pas malam hari, gak bisa lihat polusi Jakarta sih (ups hahaha). Kalau siang, ya garing sih pemandangannya. Begitu malam, cahaya kotanya jadi terlihat berkilau.


 Kandungan sejarahnya juga menambah 'nilai moral' kunjungan kita ke Monas. Mana di dalamnya ada museum juga kan, bisa berkeliling museum dulu sebelum atau sesudah naik ke puncak Monas.

2. Berkunjung ke Balaikota
Nah ini saya lakukan di zaman gubernurnya Ahok, saya gak tahu nih gubernur yang baru gimana, apa masih bisa berkunjung ke Balaikota.

Nilai bangunannya yang sarat sejarah merupakan alasan kenapa saya datang ke Balaikota. Pengen lihat lebih dekat aja kayak gimana gedung kolonial peninggalan Belanda. Wuih ternyata memang megah banget. Ya namanya juga gedung pemerintahan sih.


 Pilarnya besar-besar. Terasnya luas banget. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan yang gak kalah megahnya. Saya rasa bangunan seperti ini punya niat mengkerdilkan rakyat biasa sih pada zamannya dulu. Hahaha.

(Baca juga: Eatlah Jakarta)

3.  Kota Tua
Nah ini kunjungan mainstream abis! Tapi mainstream kan bukan berarti jelek, bukan berarti buruk. Seru-seru aja buat saya mah, mana kali pertama juga.

Kota Tua Jakarta itu yah ternyata...bagus banget! Gedung tua ada di mana-mana. Di satu kawasan sih gak sebanyak yang saya kira, tapi segitu juga udah bagus. Beberapa gedung masih berfungsi. Beberapa bangunan tua lainnya tak terisi seperti kosong aja gitu.


 Kayaknya pun kawasan ini emang sentra wisata sejarah ya di Jakarta. Museum juga ada di sini. Mau jalan kaki bisa, mau bersepeda ya bisa juga. Mun barudak ayeuna mah tempat jiga kieu teh disebutna Instagramable ceunah.

4.  Planetarium
Ini lokasinya masih dekat Balaikota. Sebenernya selain Kota Tua, tiga lokasi yang saya sebutin masih berdekatan sih. Gak nyampe lima menit udah nyampe ke tempat tujuan.

Planetarium ini bucket list saya banget. Di umur kepala tiga baru kesampaian ahahahaha. Kamana ateuh...

(Baca juga : Toko Jamu Ginggang di Yogyakarta)

Di sini terasa bener saya harusnya gak datang pas akhir pekan. Ramenya luar biasa. Anak-anak semua. Ya termasuk orang tuanya sih. Antrinya adooohhhh. Baca di artikel-artikel wisata, tiket bisa dibeli sejak jam 9 pagi. Lah jam 10 masih belum buka antrian tiketnya. Adooohhh!

Tapi ya selalu ada kali pertama dan pertama kalinya itu menyenangkan. Saya mau balik lagi ke Planetarium tapi bukan di hari Sabtu dan Minggu hahahah :D

5. Makan di Eatlah Jakarta
Ini mah akibat media sosial. Mampir ke Eatlah Jakarta dan makan-makan di sana. Sebenernya bisa pesen via ojeg online aja ya, tapi sebagai orang dari desa (Bandung *halah*) kan pengen ngerasain langsung makan di sana.

Aneka menu telur asinnya unik sih. Walo kemasannya kecil pun isinya yah lumayan banyak, bisa ngeganjel perut pas lapar.


Segitu doang sih. Ya namanya juga jalan-jalan sehari semalam. Usahain mulai dari pagi-pagi karena ya mepet aja sih kalau siang baru jalan mah euy. Usahain juga dikerjakan di hari kerja. Sebab di hari berlibur mah tempat-tempat itu ramainya hwedan :D Selamat jalan-jalan!





Teks : Ulu
Foto : Dokumen pribadi, Foody.id

Tur Perhantu-hantuan di Bandung

03/11/17
Ini bakal jadi yang pertama dan terakhir kalinya saya ikutan tur macam begini. Berjalan kaki di malam hari, menyusuri rute di mana rumor mengenai hantu legendaris di kota Bandung berada.

Bukan karena acaranya mengecewakan. Tapi karena...sayanya penakut heuheuheu.

Sebagai tambahan, informasi mengenai sejarah lokasi yang kami datangi ikut diceritakan. Walau begitu, cerita mistisnya sih yang menarik buat saya. Haha :D

Bagi beberapa orang, dunia perhantuan dan hidupnya tuh hubungannya kayak love & hate gitu lah. Gak suka tapi bikin penasaran. Heuheu. Macam saya ini lah.

Fyi, dalam tur tersebut kami dapat bonus. Aura mistis di beberapa tempat menguar. Bonusnya kombo. Bagi yang (tidak) beruntung, ada penampakan makhluk halus yang muncul. Nah yang kombo ini saya gak kebagian. HAMDALAH!

Sebelum memulai perjalanan selama dua jam itu, pemandu mengingatkan kami agar tidak melamun dan tetap merapat dengan rombongan. Saya anggap kalimat pengingat itu sebagai kalimat pendek yang  berbunyi: Start!

Mau gak jadi ikutan aja, sayang udah bayar 85ribu. Diterusin kok ya deg-degan. Ah kagok edan lah terusin aja. Hehehe.

Peserta tur dibekali (tujuh lembar) kartu heritage, kopi, pin, dan tote bag

Tur Perhantu-hantuan di Bandung

Jadi malam minggu lalu (28/10/2017) saya dan Indra ikutan walking tournya Mooi Bandoeng. Judulnya Urban Legend (Legenda URang BANdung). 

Acara dimulai jam 20.00, berakhir (mungkin) jam 23.00.

Kami pulang duluan jam 22.00 saat peserta lain masih eksplorasi (hantu-hantu) gedung SMA 3 dan 5 Bandung. 

Rute yang kami tempuh jaraknya sekitar 3 km. Bermula di Taman Musik, berakhir pula di tempat yang sama. 

Rumah Kentang (Rumah Jalan Banda sih istilah yang lebih saya sukai), Gereja Katolik Bebas Albanus, Taman Maluku, Gedung Sabau, dan SMA 3 Bandung jadi titik utama pemberhentian kami. 

Saya cerita apanya nih, hantunya ya? Duh gak usah lah ya. Males cerita hantunya mah heuheuheu. Ya kamu ikutan lah turnya ini kalau dibuat lagi. Follow @mooibandoeng untuk memperoleh kabar terbaru tur-turnya (termasuk kalo mau lihat video dan foto-foto dari tur ini).

Oke, Boleh lah Cerita Dikit tentang Rumah Kentang

Rumah ini berada di Jl Banda. Kalau kamu lihat rumahnya sendiri, bisa saksikan rumah tua ala pemukiman zaman kolonial yang ukurannya besar. Membuat saya bertanya-tanya seperti apa bagian dalam rumahnya bila dari luar saja rumahnya terlihat seperti raksasa. 

Rumah ini dijuluki Rumah Kentang karena bila adzan magrib berlalu, area sekitarnya semerbak wangi kentang (yang abis dimasak). Saya sering lewati rumah ini, tapi gak ingat apa pernah mencium aroma kentang. 

Tahun 2011 saya pernah bekerja di Tobucil. Tobucil ini lokasinya bersebrangan dengan Rumah Kentang. Beberapa kali saya nongkrong di Tobucil sampai malam jam 20.00, gak pernah sih ada wangi kentang. Tiap pulang pasti jalan kaki lewat depan rumah ini, syukurlah gak pernah ada pengalaman aneh.

Mungkin orang-orang terpilih aja yang bisa mencium aroma kentangnya ya :D setahu saya bila ada aroma kentang menguar di malam hari pertanda ada Genderuwo. Hiiii...

Rumah di Jalan Banda di ini beberapa bulan lalu masih terlihat gelap karena rimbunnya pepohonan dan tanaman merambat di pagar. Angkernya begitu terasa meski saya hanya melihatnya dari dalam kursi angkot yang melaju.

Sekarang rumahnya lebih cerah, rerumputan dibersihkan, tanaman merambat dicabut. Dengar-dengar di sana akan ada kafe. 

Banner kecil warnanya merah dipasang malas melintang di pintu. Tercantum kalimat berbunyi: Rumah Kentang. Jujur aja banner ini ganggu banget. Gak enak dilihat dan membuat keagungan dan misteri rumah ini jadi kerdil. Ganjen.

Yak udah ya cukup sampai Rumah Kentang aja ceritanya. Hahaha. Detail hantu dan sejarah bangunan mah ntar diceritain pemandunya aja, siapa tau tur ini diadain lagi, kamu mesti ikutan.

Horor di Mana-mana, dari Albanus sampai SMA 3

Di Gereja Katolik Bebas St. Albanus, nah ini ngeri juga. Mana mulai gerimis pula.

Pemandu cerita kalo gedung ini sudah kosong. Yah... Hati saya mencelos. Setau saya di sini ada kelas belajar Bahasa Belanda dan perpustakaan.

Rupanya semua perabotan udah dibawa pergi, termasuk buku-bukunya. Gak tau ke mana mereka pindah. Gedongnya kosong melompong.

Pintunya memanjang dengan jendela kotak-kotak kaca. Hitam pekat di dalam sana. Saya gak mau dekat-dekat.

Yah sejauh-jauhnya kamu membuat jarak dengan dunia gaib, menyaksikan gedung seantik, kosong, dan pekat begitu kamu tahu di dalam sana ada 'sesuatu' lah.

Pemandu mempersilakan kami mengintip bagian dalam gedung lewat jendela. Perserta berhamburan menuju si pintu berjendela itu. Saya diam saja di tempat. Indra di parkiran motor gak tau ngapain.

Takut kalo intip-intip. Gimana kalo hantu di dalam sana juga ikut mengintip kita dari jendela yang sama. Beradu pandang, saling menempel mata di jendela. Ya kalo mereka ada matanya kayak manusia...

Heuheuheuheu.

Pernah gak sih kamu ngerasa kamu gak mau ada di sebuah tempat, bahkan di halamannya, jangankan sendiri lah, berdua bertiga berempat juga gak mau. Nah itu lah perasaan saya waktu berdiri menghadap rumah jalan Banda.

Perasaan yang sama waktu kami melintas di Taman Maluku dan Gedung Sabau. Gerimis makin kencang.

Lebih parah lagi, ada perasaan tertekan gimana gitu. Padahal udara lagi segar-segarnya sebab gerimis dan kami berada di sebuah taman yang banyak pohonnya.

Kabar baiknya adalah, kalo malam hari pepohonan emang gak berfotosintesis dan gak ngeluarin oksigen. Wkwk. Mungkin dari sana lah udara pengap itu berasal.

Horor Masih Berlanjut...

Buat saya sih ada di Rumah Kentang, Taman Maluku, dan Gedung Sabau itu udah paling nyeremin. Gak suka lah pokoknya pengen cepet-cepet cabut dari sana. Ah gak cuma di situ sih tapi hampir di semua tempat ahahahaha. Di tengah jalan saya nanya ke Indra, urang teh nanaon kayak gini. Jirrrr hahahah.

Di Taman Maluku kami berhenti. Berdiri kami semua menghadap sebuah patung berbentuk manusia dalam jubah pastur. Patung ini nih yang dipercaya gentayangan. Matanya bergerak mengikuti mereka yang melintas Jalan Seram. Jiiiirrrr nama jalannya Jalan Seram. Kebetulan macam apa itu heuheuheu...

Di Taman Maluku ini saya memperhatikan pepohonan yang tinggi dan kegelapan yang memeluk kami. Gak ada penerangan sama sekali di Taman Maluku. Entahlah kehidupan macam apa yang ada di taman ini bila malam tiba.

Pada waktu pemandu asyik bercerita di depan Gedung Sabau, saya curi pandang sekali ke arah Taman Lalu Lintas di balik punggung kami. Duh gelapnya bukan main. Malas amat jalan kaki di sini malam hari sendirian ya, bisik saya dalam hati kepada diri sendiri :D

Di SMA 3 dan 5, saya putuskan gak ikut jelajah bangunan. Indra ikut nemenin saya lihat-lihat lobi/ruang di pintu utama. Saya sih sok aja kalo dia mau ke lantai dua. Dia menggeleng dan berkata "udah cukup dulu zaman sekolah," sambil nyengir.

Eh saya udah cerita belum? Di gedung SMA 3 dan 5 (beda nama sekolah tapi satu bangunan) kalau sore jendela-jendela kelas ditutup. Namun ada daun jendela yang gak bisa ditutup. Bukan kerena rusak, tapi jendelanya 'emang gak mau ditutup'.

Ngerti kan maksudnya?

Konon jendela itu ada di ruangan si hantu legendaris Nancy berada. Ruangan itu pula yang jadi kelasnya Indra waktu sekolah di sini.

"Dulu temen sekelas pernah kerasukan, ngakunya Nancy, terus Nancynya bilang naksir & nyebut nama salah satu anak cowok di kelas," Indra cerita sambil ketawa asem. Sungguh gak lucu buat saya mah heuheuheu.

"Sebenernya selain Nancy, ada lagi yang nyeremin di sini," lanjut Indra lagi.

Saya mengedarkan pandangan ke lorong sekolah "ya pasti lah, gedungnya tua gini."

Indra menunjuk lonceng. "Lonceng itu tuh, sering bunyi sendiri," Indra mengajak saya memegang loncengnya. Eeewwww...

Cukup ah. Abis ngobrol pendek dengan Fajar dan Wine, juga Irfan, kami putuskan pulang duluan karena udah malem banget (padahal baru jam 22.00 aja sih, yes kamu yang belum punya anak, nikmati baik-baik ya keleluasaan waktu bermain wkwk).

Saya gak mau ceritain detail hantu-hantunya ya. Takut euy ngetiknya juga. Inget-inget kisahnya juga gak mau karena keingetan mulu tiap lagi sendiri di rumah.

Kalo kalian tipenya pemberani dan lempeng-lempeng aja sama yang namanya hantu, wah cocok lah ikutan tur ini. Cetek lah da dipikir-pikir mah di tur ini gak ada uji nyali sih, berjalannya pun ramean.

Tapi kalo penakut mah ya sebaiknya ikutan juga. Hahaha. Daripada penasaran. Hahaha.

Ohiya sori ya gak foto banyak. Saya foto-foto sih, tapi udah saya hapus hampir semuanya :D dilihat-lihat lagi fotonya kok ya perasaan gak enak. Hahaha deletedeletedelete!




teks: Ulu
foto : Ulu