Social Media

Image Slider

Akhirnya ke Farmhouse

18/10/17
Mendung di Bandung waktu itu. Sekitar dua minggu lalu hari rabu. Pernah gak sih mood jelek, rasanya kesal dan stress, terus secara acak kamu pergi ke satu tempat tanpa mikir?

Nah ke Farmhouse lah saya hari rabu itu. 

Tanpa macet saya dan Nabil sampai di Farmhouse. Naik angkot dari rumah. Dekat kok cuma 5 km jaraknya dari rumah, ongkos angkot cuma 3ribu. 

Sedekat itu jarak saya dengan Farmhouse, baru sekarang saya ke sana. Setelah kehebohan Farmhouse selama dua tahun ini di jagad wisata Bandung. Hahaha.


Farmhouse di hari kerja, bukan musim liburan, dan di bawah jam 12 siang, rupanya sudah ramai pengunjung. Bahkan ada rombongan tur anak sekolah dari Wonosobo :D 

Gila bukan hari libur saja sudah ramai begini. 

Namun kami masih leluasa berjalan kaki. Sesekali berhenti menunggu yang berfoto. 

Farmhouse memang cantik ya. Saya harus akui. Semua sudutnya dirancang jadi latar foto. Legit pemandangannya. 

Dari pintu toko yang cantik dan aneka bunga-bunga menawan warnanya. Saya saja tidak berhenti foto-foto. Hahah. 

Tapi pemandangan kontras dengan keindahan ini saya lihat di dek Farmhouse. Sebuah dek yang menghadap ke perbukitan dan ladang warga. 

Berdiri di sana, semua orang berfoto ria. Sesekali memandang pemandangan kota Bandung di kejauhan. 

Di sisi luar Farmhouse, agak jauh sih jaraknya, saya menyaksikan tumpukan sampah. Bukan sedikit, tapi buanyaaaakkkk. Seperti air terjun bentuknya.

Di sisi kiri dan kanan ada sedikit pemukiman warga. Terbuat dr triplek kayu, rumah-rumahnya doyong seperti mau rubuh. 

Risih juga saya foto-foto di dek tersebut. Kami turun saja dan beranjak ke restoran, mau makan sekalian tukar kupon tiket masuk. Lumayan diskon 25K. 

Ternyata kuponnya cukup untuk nutupin harga pajak makanan. Ahahah. Kami menyantap spagheti carbonara dan grill chicken. Rasanya gak enak. Porsi banyak. Harga mahal. Seporsi 40-50ribu. 

Satu-satunya yang saya sukai dari restoran di Farmhouse adalah dekorasinya. Seperti pemandangan resto yang saya lihat di Eropa (melalui Instagram lah, iraha boa urang ka yurop, can pernah kaditu. Hahah) dengan sentuhan tropis dari tegelnya. 

Lucu banget tegelnya. Membuat saya bertanya-tanya, tegelnya asli atau sengaja bikin gaya tempo dulu gitu yak. 

Keluar restoran dengan perut yang kenyangnya gak jelas (karena rasa makanan yang gak enak), beberapa orang saya perhatikan mengenakan kostum ala petani/peternak susu di Eropa. Beriringan mereka berjalan kaki. Eugh siapa yang mau pake baju kayak gitu selain mereka, pasti gak ada, pikir saya dalam hati. Ternyata banyak sekali yang pake kostumnya dan berkeliling Farmhouse! Heuheuheu. Jujur aja kostumnya terlihat ridiculous atau sayanya aja yang cupet. Idk lah. 

Anyhow, berkeliling Farmhouse membuat saya sadar kalau tempat wisata ini memang menarik. Lucu. Keren. Indah. Bagus. Gak aneh kalau semua paket wisata di Bandung ini itinerarynya pasti aja berkunjung ke Farmhouse. 

Lihat saja, saya yang butuh hiburan sejenak bisa terhibur karenanya. 

Walo begitu, saya pikir Farmhouse bila sedang ramai-ramainya pengunjung sebaiknya hindari saja. Iya yang saya maksud pas musim liburan atau akhir pekan. Bahkan untuk berjalan pun sepertinya bakal sulit. Saking penuhnya orang. Saya beranjak pulang dari Farmhouse tepat jam 12 siang, itu pun suasananya sudah terlalu ramai bagi saya. 

Selain tempatnya yang cantik, saya rasa bunga-bunga yang ada di Farmhouse mengobati rasa stres yang waktu itu melanda saya. Tenang banget bisa lihat warna-warni alami. Seneng. Juga karena datangnya pagi dan di hari kerja, saya bisa berjalan kaki keliling tanpa terhalang-halang kaki orang lain. Mau berfoto juga bebas, gak ada antrian. 

Dua jam yang menyenangkan di Farmhouse.

Farmhouse
Buka jam 09.00
Tutup jam 20.00
















Foto: Ulu
Teks : Ulu

Upeti untuk Nabil: Gembira Loka

16/10/17
Ini gak tahu ya saya dan Indra orang tua egois atau enggak. Tiap kali bepergian Nabil kan selalu kami ajak. Masalahnya kami sangat jarang mengunjungi tempat yang khusus untuk anak-anak.

Begitu juga kalau sedang main ke mall. Sesekali saja ke Gamemaster ajak Nabil main di sana, sebulan sekali juga jarang. Seperti di Yogyakarta, semua tempat yang saya kunjungi bukan children friendly banget.

Tapi buat saya mah konsep children friendly seringnya masalah perspektif aja. Kalau Nabil bisa lari-lari di lapangan di depan Masjid Gedhe Kauman, ya buat saya dia sedang bermain dan senang-senang. Nabil juga saya biarkan injek-injek kubangan air. Airnya juga bersih lah. Heuheu.

Walo begitu, ada juga bisikan dalam batin yang bilang sebaiknya saya kasih upeti untuk Nabil. Sebagai ungkapan terima kasih karena sudah berbaik hati menemani ibu dan ayahnya jalan-jalan ke tempat yang gak-anak-kecil-banget.

Setelah kami ke Masjid Syuhada, Kota Baru, Los Bunder, Kauman, dan beberapa masjid lainnya, di hari ke tiga saya putuskan ajak Nabil ke Gembira Loka. Kebun binatangnya Yogyakarta.



Di atas angkutan Grab yang melaju, saya bilang sama Nabil. "Kita mau ke kebon binatang, Bil,".

"Hah? Beneran, Mah? Asyiiiiikkk!" Mukanya lucu banget lol!

Hahaha. Aduh Bil, maaf ya jarang nih ibu kamu ajak-ajak ke tempat kayak gitu. Heuheu.

Gembira Loka tutup jam 4 sore. Kami ke sana pukul dua siang. Cuaca di Yogyakarta sedang bersahabat. Adem. Lucunya bukan cuma Nabil yang seneng keliling Gembira Loka. Saya jugaaaaa hahahahahah.

Gembira Loka ini gak kayak yang saya harepin. Ah paling biasa aja lah kayak kebon binatang kebanyakan. Nyatanya adalah dia bagus banget. Eh ralat: BAGUUUUUSSSS BANGEEETTT!

Bersih, teratur, layak, aman, luaaasss, rindang, informatif, banyak tempat sampah, ada bis kalau capek, banyak stasiun bis, aneka koleksi binatangnya juga banyak ya.

Di mana-mana ada pepohonan sehingga berjalan kaki pun rasanya teduh. Kalau capek, bisa selonjoran. Ada beberapa titik kantin dan semua kantinnya rapi dan bersih.

Ngomong-ngomong kebaikan Gembira Loka di atas itu saya lagi bandingin dengan kebon binatang di Bandung sih yang busuknya luar biasa. Heuheuheuheu...

Masuk ke Gembira Loka, kami dibekali peta lokasi. Saya ajak Nabil naik bis dulu, pemetaan lokasi gitu lah biar saya tahu seberapa jauh nih kalau jalan kaki. Beres keliling 1 putaran, saya ajak Nabil lagi, mau gak keliling lagi tapi jalan kaki. Eh dia mau. Ya uwis kami keliling Gembira Loka dua kali deh. Wkwk.

Paling seneng bisa lihat Harimau Sumatera. Kebanyakan binatang di sana yang saya lihat kayaknya sedang leyeh-leyeh :D males-malesan gitu kayak abis makan kekenyangan. Makna-tidur-makan-tidur. Life is good, eh?

Sore yang menyenangkan di Gembira Loka. Nabil seneng banget dan selama satu bulan lamanya sejak plesiran kami itu, dia bahas Gembira Loka melulu wkwk.

Tolong jangan sebut kasihan lihat binatang dikrangkeng, oh saya juga kasihan. Seharusnya mereka ada di habitat aslinya. Tapi lihat kondisinya di Gembira Loka, saya pikir mereka akan baik-baik saja.














Foto : Ulu
Teks : Ulu

Terpukau Kauman Yogyakarta

10/10/17
Kampung Kauman berada di jantung kota Yogyakarta. Saya menemukannya dalam buku Jelajah Kota-Kota Pusaka di Indonesia halaman 187, ditulis geograf asal Belanda Emile Leushuis. Disebut sebagai kampung kuno, Emile memaparkan Kauman sebagai dunia yang berbeda. Kupikir, maksudnya beda gimana ya? 
 

rumah kuno di kauman yogyakarta

Ceritanya waktu di Yogyakarta saya berkunjung ke masjid-masjid kuno yang ada di sana. Saya buat daftarnya. Masjid Gede di dekat Keraton salah satunya. 

Di belakang masjidnya ada kampung kauman. Lumrah di belakang masjid raya suatu kota ada perkampungan islam. Seperti Kauman ini. 

Di Bandung juga ada namanya Dalem Kaum. Sayang di kota saya jejaknya tinggal nama jalan dan kompleks pemakaman. Sementara di Jogja, kampungnya masih ada. 

Kubaca di bukunya Emile itu, katanya Kauman mulanya adalah lokasi ulama-ulama besar bermukim, imamnya Masjid Gede. 
 
Para istri ulamanya berbisnis batik. Produksi dan penjualan batik makmur dan membuat Kauman menjadi kampung eksklusif. 

Kemakmuran itulah yang mengubah wajah rumah-rumah di Kauman seperti sekarang: padat dan rumah-rumah bergaya kolonial campur lokal (baca: mewah kali yah). 
 
Mungkin dahulunya di Kauman hanya ada sedikit rumah ya? Rumah-rumahnya bergaya tradisional entah bagaimana. 
 
Dalam buku tersebut ditulis rumah-rumah asli berganti menjadi bangunan tembok bertingkat, serambi terbuka, pilaster-pilaster klasik, konsol besi, bingkai atap hias, gable yang dilapisi kayu hias, bovenlicht yang indah, daun jendela dan pintu ganda. 

Memanglah itu yang saya lihat di Kauman. Rumah-rumah bergaya klasik yang dekorasi arsitekturnya cantik-cantik semua! Seperti melihat banyak wanita yang dandanannya grandeur, santun, anggun, dan berbeda satu sama lain. Saya sampai melongo lihatnya.

Pintunya, jendelanya, serambi rumahnya, semua penampakan depannya membuatku terpukau. Bila kamu sama seperti saya, sama-sama menyukai pintu jendela kuno, Kauman inilah surganya. Rumah-rumahnya tuh packed, tersusun rapi, klasik, dan beragam banget penampakannya. 

Teman saya jalan kaki di Kauman, Alfian, bilang saya kalap. Hahaha iya betul saya kalap. Di sisi lainnya saya harus menjaga kelakuan diri agar tidak berisik dan heboh sendiri. Bagaimanapun juga saya memasuki wilayah pribadi orang lain, wilayah orang-orang Kauman.

Kauman sendiri terkenal karena cikal bakalnya gerakan sosial Muhammadiyyah didirikan K.H Ahmad Dahlan. Islam pembaharu. Ia pun khatib di Masjid Gede. 
 

Kauman dan Ahmad Dahlan - Muhammadiyyah

Ahmad Dahlan mau ngasih alternatif selain yang ditawarkan (pada saat itu kebanyakan) oleh lembaga-lembaga kristen, katolik, dan umum. Karenanya Muhammadiyah mendirikan sekolah, panti asuhan, klinik, rumah penampungan orang miskin, sampai organisasi perempuan. 

Mulanya Muhammadiyah tidak bertujuan sebagai organisasi politik. Sekarang sih sudah berubah ya. Maksudku, ah ya itulah tahu kan ya? hehe.
 
Di Kauman saya lihat ada musola khusus perempuan. Musola Wedhok istilahnya. Saya masuk ke dalamnya. Dan anak saya diusir marbot musolanya karena dia laki-laki meski usianya 5 tahun. Okesip gak apa-apa saya yang salah waktu itu.  
 
Kurasa bisa juga napak tilas jejak Ahmad Dahlan di sini. Sayang sekali saya berjalan tanpa panduan, hanya mengandalkan peta dari bukunya Emile dan beberapa keterangan deskriptif pendek. 
 
Kuharap suatu hari nanti saya kembali ke Kauman dan berjalan ditemani seseorang yang paham betul Kauman. Tentang Muhammadiyahnya maupun mengenai rumah-rumah di sini. 

Meski saya sudah pernah ke Kauman, tapi rasanya seperti melintas aja, numpang lewat aja. Sekembalinya di Bandung saya membaca-baca ulang tentang Kauman dan waduh banyak sekali yang saya lewatkan di sana. 
 

Kauman di Jogja Bersih Banget! 

Satu hal lainnya yang membuat saya terpukau di Kauman: semua lorong gang di Kauman bersih apik. Tidak ada sampah sekecil puntung rokok sekalipun.

Saya bertanya pada Alfian, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? mengapa tidak ada yang menyampah? kita ini sedang di mana, apakah ini planet jawa? masa iya? mengapa gak ada yang membuang sampah sembarangan?

Satu hal lainnya, beberapa kali saya papasan dengan bapak-bapak tua yang mendorong motornya. Mesin motor dimatikan karena peraturannya begitu. Tidak boleh berisik.  

Saya, Alfian, dan Kubil pun ngobrol pelan aja karena memang harusnya begitu. Masa iya tertawa cekakakan dan sibuk berfoto selfie terus seolah-seolah Kauman adalah tempat wisata. 

Kauman bukan tempat wisata dan saya hanya tamu. 

Jajan

Sesi jajan selalu ada. Saya lihat ada rumah yang pintunya tiga. Dua pintu tertutup, satu pintu terbuka dan berisi toko kelontong. Di situ saya jajan banyak cokelat superman. 

Untungnya saya ajak warga lokal buat jalan di Kauman. Teman saya Alfian Widi mendampingi saya dan Kubil selama jalan-jalan di Jogja. Menggunakan bahasa jawa, Alfian ngobrol dengan pemilik rumah/warung. 

Katanya ia membeli rumah tersebut di Kauman seharga 70 juta di awal tahun 2000an. Beliau sendiri mengaku bukan orang asli Kauman. 

Setelah jajan, saya minta izin berfoto di depan rumahnya. Rumah itu sangatlah cantik. Pintu rumahnya ada tiga berjajar dicat abu-abu dan semuanya pintu ganda. Dua pintu dengan pintu koboinya (maaf saya tidak tahu apa istilah akademisnya pintu koboi) dan satu pintu terbuka yang ada warungnya. 

Rumah kuno yang sangat indah! "An, apa saya beli aja rumah di sini satu ya?" Alfian tertawa meringis. Saya pun sama. Bila ucapan adalah doa, maka kalimat pertanyaan saya itu sedang sungguh-sungguh.

Di ujung gang kami jajan lagi ke warung berbilik. Warungnya doyong seperti mau rubuh. Di dapurnya kulihat mereka masak pake anglo. Saya beli bihun, ayam goreng, ikan lele goreng, tahu bacem. Makanan yang kubeli lezat semua! Kalau tidak ingat masih mau jalan kaki lebih jauh, saya sudah bungkus sayur lodehnya!

Keademan, keheningan, keberagaman rumah tuanya, wah iya betul. Kauman terasa berbeda hawanya dengan suasana di luar wilayah Kaumannya. Melangkah keluar dari gapura Kauman, saya ketemu lagi wajah kota Yogyakarta. 

Semua-mua yang ada di kota Jogja berkesan. Kauman ini ada di urutan ke satu terimpresif. Keduanya Kotagede. Bila ada kesempatan saya ke Jogja lagi saya pasti kembali ke sana. 

Satu-satunya yang misleuk di Jogja adalah sopir bis transjog dan wiraniaga di Tip Top yang judes abis. Hehe.





























Teks : Ulu
Foto : Ulu, kecuali foto kami berdua yang motret Alfian

Sebentar Saja di Kota Baru dan Berlama-lama di Los Bunder

09/10/17
Berjalan kaki di kota Yogyakarta itu sulit, kawan :D

Wilayah yang ramai turis sih nyaman jalan kakinya. Keluar dari sekitar Malioboro, ah semacam pertaruhan nyawa. Baru mau nyeberang sudah diberondong klakson. Orang Jogja nih kalau sudah naik motor gak ada yang selow.

Ngomong-ngomong, kembali ke jalan-jalannya Bandung Diary di Yogyakarta. Kami menghabiskan sore pada hari rabu di awal Agustus di sekitar Kota Baru. Alfian Widi masih jadi penunjuk jalan dan pemandu.

Dari Museum Sandi, jalan kaki ke kawasan Kota Baru deket banget. Masih di wilayah yang sama sih.

Kota Baru ini dahulunya pusat pemukiman orang-orang Belanda di Jogja. Wilayah kolonial. Karena itu kawasannya kental rumah-rumah bernuansa Eropa. Beda dengan wilayah Jogja lainnya yang diperuntukkan bagi pribumi.

Memang tata kotanya di sini terasa lebih rapi. Di sisi jalan banyak pohon besar. Suasananya asri dan teduh. Kalau di Bandung mirip daerah sekitar Gedung Sate atau Dago.

Di sini ada rumah yang dibangun tahun 1918. Kalo dari buku yang saya baca, rumah tersebut dibangun untuk anggota keluarga keraton dan sampai sekarang masih dihuni keturunannya. Memang selain orang kolonial, kawasan Kota Baru jadi tempat tinggal kaum menak pribumi juga saudagar Tionghoa.

Susteran Darah Mulia

Terus ada juga gereja katolik, Kolese St Ignatius, dibangun tahun 1923. Bagus bangunannya ada menaranya gitu. Di seberang gereja tersebut ada bangunan yang amat sangat cantik. Menaranya dua dan pintu gerbangnya terbuka, masuklah kami ke dalamnya. Ke dalam halamannya saja.

Dahulunya vila milik Liem Han Tjioe, dibangun tahun 1920. Baru deh tahun 1966, bangunan ini diambil alih Suster-suster Darah Mulia jadi biara.

Bangunan lainnya entah apa dan bagaimana sejarahnya. Kami hanya melihat sebentar abis itu pergi. Bagus-bagus sih yang pasti mah arsitekturnya. Banyak yang tertutup pohon besar dan pintu gerbangnya tertutup.

Gak banyak berfoto di sini kami mah euy. Sebentar aja di Kota Baru. Gak ada satu rumah/gedung yang kami masuki. Mampir sebentar ke biara karena bangunannya cantik sekali. Seperti semua bangunan yang dipelihara yayasan kristen, kondisinya sangat terawat.


Karena Los Bundar di Indonesia Hanya Ada Dua, Salah Satunya di Yogyakarta

Abis itu ceritanya sore masih terlalu muda. Aan ajak kami ke Los Bunder (Los Bundar istilahnya dalam Bahasa Indonesia, orang Jogja bilangnya Los Bunder).

Kami putuskan ikut ajakannya. Sayang kalau langsung balik ke hotel mah euy.

Los Bunder itu bangunan milik Kereta Api Indonesia yang digunakan untuk menyimpan lokomotif. Bayangkan sebesar apa bangunannya :D

Kalau teman-teman pernah lihat serial kartun Chuggington, nah tempat si para lokomotif itu pulang dan istirahat namanya Los Bundar.

Kalau kami lihat dari luar, bentuk bangunannya mirip stadion sepakbola. Bentuk bangunannya bulat, tinggi, dan besar. Berkedok ingin memotret dalam rangka lomba fotografi, oleh satpamnya kami dibolehkan masuk ke dalam Los Bunder.

Dan di dalamnya saya bisa lihat Turntable!

Aaahhhkkkk senangnya bisa lihat langsung jejak peninggalan kereta api di masa lampau! Turntable ini dipake untuk memutar lokomotif atau menggeser rel. Turntable biasanya ada di tengah los bunder. Saya pernah lihat juga Turntable di Bandung, tapi los bundernya udah gak ada.

Di dalam Los Bunder, turntable di tengahnya

Los Bunder ini cuma ada dua di Indonesia. Satu di Yogyakarta, satunya lagi di Sumatera, di Tebing Tinggi kalau gak salah (cmiiw).

Terus kami gak bisa foto Los Bunder secara keseluruhan. Butuh kamera lensa besar sementara kami bawa lensa 35mm ajah :D

Ah yasudahlah. Melihat Los Bunder dan Turntable sepuasnya, kami merasa cukup dan beranjak ke tempat berikutnya: rumahnya Aan!

"Rumah saya dibangun tahun 1929, Lu." Semacam kalimat pemancing itu mah euy hahaha. Ternyata rumahnya berada di lingkungan pegawai Kereta Api Indonesia. Sejak tadi Aan ini emang mengobral cerita masa kecilnya dengan kereta api.

Rupanya bapaknya Aan ini pensiunan PJKA (nama dulu sebelum KAI). Sekeluarga mereka menempati rumah dinas yang umurnya hampir satu abad. Rumahnya pun masih 80% asli kayak dulu.

Khas banget lah rumahnya. Pagarnya aja masih kayu. Halaman depannya ada pohon asam yang guedeeeee banget.

Dari teras sampai dapur, Aan bawa kami room tour. Bahkan ke kamarnya yang gila luas amat. "Pernah ada 15 orang tidur di kamar ini," kata Aan. Ranjangnya saja masih super jadul dengan kelambu. Bahkan chandeliernya juga klasik amat. Dari lantai sampai langit-langit, masih orisinil.

Jendela rumahnya tinggi dan besar. Saya coba buka jendelanya, buset berat amat ya. Bukan karena rusak dan sudah tua, tapi karena kayunya yang berat.

Rumahnya Aan, in frame adalah Aan dan Nabil
Lantai rumahnya Aan

Balai Yasa, bengkelnya kereta api

Pohon Kenari yang dicagarkan

Bagian paling seru: sebuah batu di pojok kamarnya.

Di bagian tengah batu terdapat besi, seperti kumparan. Kata Aan, batu itu sudah ada sejak ia kecil. Dari ceritanya, si batu digunakan untuk mengusir makhluk halus.

Wow baru tahu benda kayak gitu untuk usir hantu :D

Sebelum pulang, Aan bawa kami ke bengkel kereta api. Deket banget sama rumahnya.

Di sana saya lihat deretan pohon kenari yang dicagarbudayakan. Suasananya teduuuhh sekali. Damai banget. Kecuali pas motor-motor lewat :D

Kami nongkrong di tepi rel, di depan Balai Yasa Yogyakarta, semacam bengkelnya kereta api. Kami ngobrolin banyak hal yang sekarang saya lupa apa aja yang kita obrolin waktu itu ya, An? Hahahaha :D

Jogja yang hangat (secara harfiah tentu saja :D) dan sinar matahari yang bersahabat. Sore yang menyenangkan di sudut Yogyakarta. Jauh dari keramaian wisata, saya bisa lihat wajah lain dari kota idola turis-turis domestik dan mancanegara ini.

Berikutnya saya mau cerita perjalanan kami di kampung Kauman. Besok ya!




Teks : Ulu
Foto : Ulu, Indra


Laweyan, Bukan Tentang Batiknya

01/10/17
Ceritanya dari Jogja, kami mampir ke Solo, niatnya mau ke Laweyan. Bukan mau belanja batik, kami gak nyiapin dana perjalanan utk beli batik di Laweyan. Kami datang karena cerita tempatnya. 


Ke Laweyan di hari minggu, ternyata kampungnya sepi aja. Sepi mah terlalu biasa. Lebih cocok pake istilah ini nih : senyap & misterius.



Jalanan kosong kayak kampung tanpa penghuni. Banyak dinding rumah tinggi-tinggi banget. 



Kalo ditilikitili, rumahnya gede-gede seperti istana. Rumah-rumah yg tampak frontal pintu dan jendelanya emang kuno sih gayanya, tapi gak seantik yang saya bayangin. Lha ya kan jadi penasaran banget bentuk rumah yg tertutup rapat dinding & pintu tinggi itu kayak gimana bentuknya. 



Membaca artikel ini : baca di http://alfianwidi.com/2016/04/laweyan/ jadi tahu kenapa gerangan tembok rumahnya tinggi-tinggi. Juga sejarah lainnya, termasuk tentang kenapa ada pintu kecil dan pintu besar kayak pintu yang saya foto ini nih. Teman-teman bisa baca lebih detail tentang sejarah Laweyan pada link tersebut. 



Menarik sekali ya Laweyan ini. Bahkan ada hubungannya dgn feodalisme keraton surakarta. 



Walo saya gak dapat impresi pertama yang menyenangkan dari Laweyan, saya mau balik lagi ke sana. Mengutip perkataan teman saya: Laweyan itu mesti lebih sabar dihadapinya, ketimbang sudut-sudut tua Jogja.



Entah kapan saya bakal nulis lebih panjang tentang Laweyan. Ini aja tulisannya saya salin dari status saya di Facebook bulan Agustus lalu. Heuheu.