Social Media

Image Slider

Lorong Rahasia di Kantor Pusat Kereta Api Indonesia - Staatsspoorwegen te Bandoeng

06/03/17
Tahun 1884, kereta api di Bandung lahir. Mulanya kereta api ditujukan mengangkut dua macam benda: peralatan militer dan komoditi perkebunan (teh, kopi, kina). Urusan tersebut terpenuhi, barulah jalur angkutan manusia dibuka.




Jalur angkutan pertama yang dibuka tentu saja menuju Batavia. Markas besar kompeni.

Dibukanya jalur kereta api yang menghubungkan Bandung ke Batavia (-lewati Cianjur - Sukabumi - Bogor) ibarat menyemai pupuk pada tanaman. Tumbuh subur tanamannya. Bandung tanamannya, rel kereta api dan stasiun yang jadi pupuknya.

Bandung yang tak terjangkau bagi kebanyakan orang-orang (khususnya Belanda), mulai terlihat menjanjikan sebagai benteng pertahanan, plesiran, tempat tinggal, dan berdagang.

Orang-orang cina juga berdatangan, awalnya mereka bekerja sebagai kuli-kuli pembangunan rel kereta saja, lama kelamaan para saudagar cina yang kaya raya bermukim di Bandung juga. Abis itu ya berdatangan lah etnis-etnis lainnya.

Stasiunnya sudah jadi, dibuatlah hotel untuk menampung penumpang yang ingin istirahat atau transit beberapa waktu. Hotel sudah ada dibangunlah restoran.

Berturut-turut bermunculan tempat-tempat belanja dan berpesta, bioskop, toko buku, dan sebagainya. Wilayah sekitar stasiun Bandung menggeliat utamanya di bidang perdagangan: Braga, Asia Afrika, Kebonjati, dan wilayah Pasar Baru sekarang.

Memperingati 50 tahun berdirinya jalur kereta api di Bandung, perayaannya dilakukan dengan memasang tugu, pada pucuknya ada lampu listrik. Iya, lampu listrik pertama di Bandung. Benderang cahayanya. Pribumi dan warga kolonial berbondong-bondong mendatangi tugu ini.

Terang lampunya bagai 1000 lilin yang apinya menyala. Begitu warga mengumpamakan terangnya si lampu listrik pertama di Bandung ini.

Tugu lampu bersejarah yang juga berfungsi sebagai penanda lokasi itu sudah tidak ada. Berganti jadi tugu lokomotif yang kamu lihat dalam foto di atas. 

121 tahun kemudian sejak lahirnya jalur rel kereta di Bandung, muncul Tol Cipularang. Pola yang sama terjadi. Tapi lebih 'brutal'. Hotel-hotel bertambah jumlahnya, kafe dan restoran menjamur di mana-mana, factory outlet berderet-deret, dan wahana wisata antri minta dikunjungi. 

Ada gula ada semut. Lokasi gulanya makin terjangkau, semutnya tambah banyak. Beda zamannya, sama polanya 😁

Gitu yang diceritain pemandu tur sejarah kereta api di Bandung yang kami ikuti hari minggu (26/2/2017).


Tur Jalan Kaki Staatsspoorwegen te Bandoeng (SS)

Tur jalan kaki yang saya, Indra, dan Nabil ikuti ini judulnya Staatsspoorwegen te Bandoeng (Tur SS). Tur ini membahas sejarah perkeretaapian di Bandung. Peserta dibatasi 25 orang saja. Staatsspoorwegen yang disingkat SS artinya jalur kereta api negara Hindia Belanda.

Hari minggu yang menyenangkan. Mataharinya cerah, langitnya biru. Kalau ikut tur kayak begini rasanya kayak olahraga jalan kaki, dengan bonus-bonus di dalamnya. Saya bisa masuk ke sebuah gedung tua yang selama ini cuma saya bisa lihat dari luar pagar, dikasih buku sejarah kereta api Hindia Belanda, dan memperoleh sebuah kartu pos watercolour gambar stasiun kereta api Banjar. 

Juga tentu saja bisa sampai di rumah tepat sebelum Bandung hujan besar. Hahaha. Bandung lagi hujan tiap hari nih, biasanya hujan turun setelah jam 12 siang.


Sejarah kereta api di Bandung pernah saya baca beberapa kali. Tapi mengikuti tur jalan kaki temanya khusus kereta api begini malah baru banget. Walau sebagian informasi yang diceritakan pemandunya -Dicky Soeria Atmaja- sudah saya ketahui dari buku-buku yang saya baca, tapi seru juga mengetahui ulang ceritanya dan tambahan informasi lainnya.

Kayak misalnya nih, saya baru tahu kalau jalur kereta api di Indonesia ini inisiatif pembangunannya dilakukan oleh perusahaan perkebunan, bukan negara (pemerintah kolonial). Kalau di Bandung aja sejarah panjang kereta api dimulai tahun 1884, kalau ditarik mundur, rencana pembangunan jalur kereta api udah ada sejak tahun 1840 untuk kepentingan militer.

Saya selalu ngerasa ada sentimentil yang beda kalau naik kereta api. Kayak ada romantika yang entah sedih entah bahagia. Ternyata memang sudah semestinya begitu. Jalur kereta api di Hindia Belanda jadi saksi bisu dari tanam paksa, VOC yang kaya raya dari teh, gula, kina, dan kopi, peperangan, politik etis, perkembangan teknologi, dan masih banyak lainnya. 

Ngomong-ngomong -sebagai catatan- tur jalan kaki ini menyenangkan karena tempo berjalannya nyaman, cara bertutur pemandunya juga rapi. Juga tentu saja koleksi foto bangunan tua kami bertambah. Kekurangnya di bagian leaflet (peta kawasan tur SS).

Gak informatif isi leafletnya, kurang cantik buat dijadiin koleksi. Ada dua peta (satu peta tempo dulu, satu peta kayak ambil dari google map) terpampang di leafletnya. Di samping peta tercantum daftar nama tempat kunjungan tanpa keterangan tambahan. Garing sih menurut saya mah. Kayaknya kalau dibuat lebih apik desainnya bakal lebih menarik (dan informatif) buat dibaca setelah ikutan turnya oleh peserta tur atau pun yang bukan 😀

FYI penyelenggara tur ini adalah Icomos - Unesco. Icomos ini lembaga resmi di bawah Unesco PBB. Kantor pusatnya di Paris, Prancis. Icomos pusat ini punya cabang-cabang sebagai perpanjangan tangan di 120 negara, salah satunya di Indonesia.

Kalau kamu termasuk orang yang baru tahu tentang Icomos ini, ya sama saya juga. Icomos kerjaannya berhubungan dengan heritage (warisan budaya/alam). Unesco mengarahkan Icomos menjadi partner pemerintah, begitu yang Pak Dicky ceritain. 


Turntable, Artefak Staatsspoorwegen Masih Ada di Bandung!

Terus terang aja motivasi saya daftar tur ini karena melihat salah satu daftar kunjungan tur: ke kantor pusat Kereta Api Indonesia (KAI) di Viaduct. Ternyata highlight tur ini buat saya bertambah dua.

Pertama, saya masuk ke lorong rahasia SS. Kedua, di awal tur dibahas tentang Turntable (Pemutar Rel) milik SS yang artinya Turntable ini tua banget umurnya. Dan negara yang punya Turntable ini udah jarang banget. Teknologi kereta juga kan beralih ke diesel dan listrik. Bahkan di Eropa aja gak ada Turntable dong.

Turntable dipake untuk memutar jalur gerbong kereta api. Bentuknya lingkaran besar. Bayangin mundurin kereta seberat ton-tonan kayak apa dulu susahnya. Berkat teknologi Turntable ini nih keretanya bisa putar balik.

Dan artefak SS ini masih ada dong di Bandung. OMG saya ke mana aja ya kok baru tahu dan rasanya terbelakang banget ya baru sadar sekarang 😂

Lokasinya di samping Ci Kapundung, seberang Jalan Pasir Kaliki Paskal Hyper square! Dari pinggir jalan kelihatan Turntablenya. Beberapa hari setelah tur SS ini saya niatin ke Pasir Kaliki dan lihat langsung turntablenya. Waaaah besar sekali ya turntable ini.

Saya foto sih tapi gak jelas ketutup daun dan pagar gitu turntablenya. Ah browsing aja deh Turntable kayak gimana. Atau datang langsung ke Pasir Kaliki, turun di depan Paskal Hyper Square, berdiri di jembatannya dan lihat ke arah stasiun Bandung. Turntable ada di sebelah kiri.


Bangunan-bangunan Penting di sekitar Stasiun Kereta Api Bandung

Oke cukup dulu euforia turntablenya 😂

Kalo diperhatiin sepanjang rel kereta api Bandung ini bangunan penting semua. Semua bangunan ini ada dengan stasiun kereta yang jadi jantungnya. Sayang banyak jalur rel yang udah mati di Bandung.

Ada Bank Indonesia di Braga
Gedung Karesidenan (sekarang rumah dinas Gubernur jawa Barat) di Kebon Karet
Kantor Pusat KAI di Viaduct
Gedong Papak yang dulu gudang kopi dan sekarang jadi kantor walikota (Balaikota)
Gedung Pergudangan yang sekarang jadi Paskal Hyper Square
Pabrik Kina
Gudang persediaan perusahaan kereta api negara terbesar se-Indonesia di Cikudapateuh
Sampai dengan pabrik militer Pindad

Jalur rel kereta api di Bandung dulu nyampe ke Buah Batu, Dayeuh Kolot, dan Ciwidey. Sayang banget yah aset ini udah mati dan diduduki warga. Entah aset ini masih milik kereta api atau bukan. Tapi kalau mereka mau mengaktifkan jalurnya lagi, pasti ada penggusuran besar-besaran. 

Eh saya kasih tahu dulu rute SS te Bandoeng ini ya: 

Stasiun kereta api pintu utara 
Stasiun kereta api pintu selatan
Balik lagi ke pintu utara
Jalan Kebon Kawung
Jalan Kebon Karet
Potong jalan masuk ke kompleks Kantor Pusat KAI lewat pintu belakang 
Kantor Pusat KAI
Jalan Perintis Kemerdekaan
Jalan Braga
Balaikota

Rute pendek, durasi turnya juga singkat. Jam 9 pagi mulai jalan,  sebelum jam 1 siang beres. Kami menghabiskan banyak waktu di kompleks kantor pusat KAI, terutama di museum dan di auditorium. Keduanya ruang-ruang yang kental antiknya.


Lorong Rahasia SS itu adalah Museum Bawah Tanah

Yup. Lorong rahasia yang dimaksud adalah museum bawah tanah milik KAIyang berada di kompleks kantor pusatnya.

Masuk museumnya aja unik banget, cuma muat 1 orang jalurnya. Di dalam bunker ada dua lorong saling terhubung. Di ujung kedua lorong ini ada ruangan sempit muat 3 orang dewasa. Di ruangan ini dulu ada lorong lain. Entah deh ke mana arah lorongnya. Pintu lorongnya sudah ditutup.

Di dalam museum bunker ini ada foto-foto dokumentasi pembangunan stasiun se-Jawa Sumatera. Saya mau foto satu-satu tapi kuota memori terbatas. Jadi yah foto dikit aja. Kebanyakan sumber foto-fotonya dari web KITLV.

Bagian mengagumkannya adalah betapa detailnya orang-orang Belanda ini mendokumentasikan pembuatan dan bangunan aset stasiun kereta api. Gak cuma itu sih, foto-fotonya juga bagus sekali. Rapi-rapi dan beberapa foto manis banget komposisinya.

Kayaknya foto dokumentasi SS banyak deh gak cuma satu dua, bisa jadi ada foto-foto detailnya. Foto-foto kayak gitu bakal kepake banget kan kalau ada rel, kereta, atau bangunan yang rusak. Minimal bisa tahu lah pake baut apa, berapa jumlahnya, bentuknya gimana. CMIIW.

Dari lorong bawah tanah, kami menaiki tangga dan kembali melihat langit biru. Berkumpul dan ngobrol sebentar di bawah Porot Karet Munding yang daunnya lebat-lebat, baru deh masuk ke gedung utama Kantor Pusat KAI.


Yeaaay Masuk ke Bangunan Tua, Kantor Pusat Kereta Api Indonesia 

Sama kayak nasib bangunan tua di seluruh Indonesia, ada yang mati enggan hidup tak mau, namun ada juga yang kondisinya amat terawat. Gedung tua yang satu ini terawat banget.

Kantor pusat KAI ini bangunan kuno yang bagus banget masih cakep luar biasa. Lokasinya mojok di Jalan Perintis Kemerdekaan, di sisi sungai Ci Kapundung, dekat dari Balaikota kantornya Ridwan Kamil.

Menginjak tangga dan teras gedung saja rasanya udah kayak bangsawan. Saya berdiri menghadap arah Viaduct dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Oh begini rasanya lihat rakyat jelata seliweran, bisik saya dalam hati 😁

Kolom bangunan dan gedungnya sendiri mewah banget sih. Intimidatif lah buat rakyat kecil kayak saya ini. Bisa masuk ke teras gedungnya saja sudah berasa istimewa. Seperti pakaian, arsitektur bangunan juga bisa jadi pembeda miskin dan kaya, terutama mereka yang ingin dianggap penguasa.

Interior bagian dalam gedungnya gak sekuno yang saya kira. Seingat saya mah ubinnya gak antik. Tembok dilapis wallpaper. Pengen sih masuk ke kamar pimpinan KAI, tapi jelas gak boleh 😀

Kami berjalan menuju auditorium.

Di dalam auditorium kami beristirahat. Ruangannya besar sekali. Langit-langit tinggi banget. Dekorasi dindingnya juga bagus khas kolonial lah bentuknya. Di dekat langit-langit ada kerawang/ventilasi.

Satu hal yang teristimewa dari auditorium ini adalah balkonnya yang mungil. Balkonnya mirip di Gedung Merdeka gitu bentuknya kayak penggaris busur, setengah lingkaran. Ih cantik banget balkonnya, ada pintu geser segala. Kata Pak Dicky dahulu auditoriumnya dipake buat pesta-pesta, makan-makan. Wah pantas ya ruangnya gede.

Tur yang mengasyikkan. Kalau ada waktu luang dan tur ini kembali diadakan, kamu mesti deh ikutan. Itung-itung jalan-jalan menyusuri jalur penuh romantika dan belajar sejarah. Tur kayak gini harus ada lebih sering dan lebih banyak.

Senang rasanya BUMN yang satu ini mulai menyadari keberadaan asetnya. Sempat salah urus sebelum Jonan melakukan revolusi besar di dalam tubuh Kereta Api Indonesia, kondisi kereta api di negara ini jauh lebih bagus. Pelayanan oke, fasilitas nyaman. Tapi semoga PT. KAI gak berhenti di situ aja mengingat sejarah panjangnya yang sayang kalau gak dikenang.

Semoga jalur-jalur lama yang ditutup mulai dibuka lagi. Kalau ngomongin jalur rel di sekitar Bandung, saya pengen jalur ke Ciwidey diaktifkan lagi, jalur Bandung - Cianjur dibuka lagi, dan stasiun Cikajang juga aktif kembali.

Kelak kalau anak saya menikah, saya punya cucu, cucu saya beranak dan cicit saya berkembangbiak, seperti apa dia akan mengenang sejarah kereta api ya...

Dan wahai PT KAI, sebagai pelanggan kereta api yang lebih sering lapar daripada ngantuk di dalam kereta, saya mohon kembalikan menu pecel-pecel itu ke dalam kereta. Walau pedagang asongan udah dilarang, tapi bisa kan kolaborasi dagangin menu lokal di restoran kereta api, bukan menu-menu mie instan serta daging berselaput terigu dan saos pedas berbahan kimia saja.




Stasiun Bandung pintu selatan, dulu ini pintu masuk utamanya
sekarang salah satu kantor KAI, dahulu hotel
Rumah (dinas) Gubernur Jawa Barat, 200 m dari Stasiun Kereta Api Bandung
Di dalam kompleks Kantor Pusat KAI, ini gardu listrik

Gedung Arsip
Pintu dan lorong menuju museum bawah tanah KAI
Di dalam museum

Gedung Pusat KAI



Auditorium Gedung Pusat KAI

Gardu kereta, di Jalan Braga




Teks: Ulu
Foto : Indra, Ulu. Difoto dengan Lenovo A6000

Artsy Places in Bandung - Berkunjung ke Toko Buku dan Galeri Seni

05/03/17
Hello! 

Gimana, udah bosen ke Lembang? Males macet-macetan ke Ciwidey? Udah sering ke Tebing Keraton? Kita ganti tema jalan-jalan di Bandungnya. Bukan ke Lembang atau Kawah Putih di Ciwidey.  Jalan-jalannya di kota aja yuk! 

Bayangin jalan-jalan di Bandungnya santai aja. Gak ngejer tempat wisata yang heboh-heboh dan gak mesti yang tempatnya lagi hits. Bukan rusuh dateng dan pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Sekarang waktunya menikmati Bandung dengan sentosa, tentram dan tenang.

Tema jalan-jalan yang saya mau bahas sekarang Bandung yang artsy alias Bandung yang nyeni! Jadi ambil napas dalam-dalam, hembuskan pelan. Jalan-jalan yang satu ini stylenya tentram abis lah hihihi.


Yes! galeri dan buku, apalagi yang bikin kalem selain dua hal itu coba. Sebenarnya kalo kamu gak suka buku dan seni sih agak susah ya nyambungan tempat-tempat ini dengan style jalan-jalan kamu, tapi ya lihat aja dulu siapa tahu tertarik 😊 

Let's go!


Tobucil - Toko Buku Kecil

Toko buku satu ini legenda banget. Enggak, umurnya bukan puluhan tahun sih. Lahirnya juga di tahun 2000an. Buat saya Tobucil lebih dari sekadar toko buku. Malahan koleksi bukunya ya gak terlalu istimewa. 

Di Tobucil kamu bisa belanja barang-barang handmade (prakarya). Kalo suka berkreasi prakarya bisa juga belanja materialnya di sini. Tobucil punya banyak stok benang rajut, jarum rajut, pen untuk sketsa, cat air, perintilan untuk mempercantik prakarya kita, dan lain-lain.

photo credit: Bandung Diary
Sebagai toko buku, Tobucil bukan cuma majang buku aja. Gerakan literasinya yang oke banget. Tobucil sering bikin kelas-kelas yang beda dari biasanya. Salah satunya Kelas Kami Punya Cerita (fotografi), ada juga workshop-workshop seru kayak kelas menulis perjalanan, kelas bikin lampion, kelas shibori, dan masih banyak lagi. Cek jadwal kegiatan Tobucil di instagramnya ya.

Tobucil
Jl. Panaitan 18 Bandung
Instagram @tobucil 


Kineruku - Buku dan Film

Ah ini favorit saya. Kineruku tuh toko buku, perpustakaan, kafe, dan toko barang bekas. Khusus toko barang bekas namanya Garasi Opa sih, lokasinya di dalem Kineruku ini. 

Koleksi bukunya ada banyak. Temanya beragam, kebanyakan sih setahu saya seni, sastra dan budaya. Tapi buku-buku dari genre lainnya juga banyak kecuali yang sifatnya eksak akademis (halah :D). Tempatnya jauh dari jalan raya yang bising. Suasananya sejuk dan adem.

photo credit : @kineruku
Menyenangkan browsing buku di sini, baca-baca sampai ngantuk (hahaha saya itu mah), abis itu pesan kopi atau es krim goreng, makan dulu, dan lanjut baca lagi. Banyak tempat buat duduk lah. 

Kalau bosen ya mampir ke Garasi Opa lihat barang-barang bekas. Mau beli ya bungkus, gak dibeli ya foto-foto aja tapi izin dulu ya pada yang jaga lapaknya. 

Kineruku
Jl. Hegarmanah 52
Bandung


Galeri NuArt - NuArt Sculpture Park

Ini galeri terepik sih menurut saya. Lahannya luas banget, ada ruang indoor tiga lantai. Ada juga yang outdoor. Wajar juga karena yang terpajang di sini adalah....patung! 

Pernah denger Garuda Wisnukencana (GWK) yang ada di Bali? 
Atau patung Jalesveva Jayamahe di Surabaya?

photo credit: Bandung Diary

Nyoman Nuarta adalah sosok dibalik karya-karya maha indah tersebut. Galeri Nu Art memajang karya-karya beliau. Patung yang ukurannya sedang-sedang saja ada di dalam ruangan. Patung ukuran besar ditempatkan di taman. Seneng deh jalan-jalan di NuArt, pemandangan indah-indah, suasananya pun sangat mendukung. 

Favorit saya sih di galeri di taman-tamannya. Udah mah suasana sejuk, enak untuk berjalan kaki, banyak tempat duduk, ah pokoknya Galeri Nu Art ini highly recommended! Gak cukup 1-2 jam di sini deh kayaknya 😁  kalau ditambah melamun atau membaca buku di tamannya bisa sampai tiga jam kali ya hohohoho. 

Galeri NuArt
Jl. Setraduta Raya L-6
Bandung

Selasar Sunaryo

Satu tempat lagi yang cantik di Bandung Utara. Tepatnya di Dago, beda bukit dengan Tebing Keraton. 

Selasar Sunaryo adalah galeri seni yang juga terdiri dari kafe dan tempat pertunjukkan. Sebenarnya sih tanpa ada pertunjukkan pun Selasar ini tempatnya udah nyeni banget. Ditambah lokasinya di utara yang emang terkenal dengan ademnya. Ya semacam puncaknya Bogor atau Kaliurangnya Yogyakarta atau Batu di Malang.

photo credit: @selasarsunaryo

Permainan ruang di Selasar Sunaryo memberi pengalaman lucu dan menggelitik. Instagramable lah bisa buat latar foto. Malah Selasar Sunaryo ini pernah jadi tempat favorit buat foto pre-wed sebelum era tempat instagramable bermunculan di Bandung. 

Mau nongkrong lama-lama di sini bisa banget. Kopinya terkenal sedap. Bisa kali jajan dulu di Selasar. Pulangnya mampir ke Wot Batu yang ada di seberang Selasar Sunaryo ya.

Selasar Sunaryo
Bukit Pakar Timur No. 100
Ciburial Cimenyan
(Dago) Bandung

Selain ke empat tempat di atas ada lagi beberapa lainnya yang oke juga:
1. Ki Putih 
2. Omunium
3. Lawangwangi
4. Roemah Seni Sarasvati
5. Griya Seni Popo Iskandar
6. Galeri Soemardja
7. Galeri Gerilya
8. Kelana Buku

Daaan masih ada lain-lainnya. 

Tapi kalau mau didatengin semua tempat itu (4 tempat pertama dan 8 tempat lainnya) bakal butuh waktu lama untuk menyusuri satu per satu tempatnya. Sementara perkiraan saya acara jalan-jalan kamu gak akan lebih dari 2 hari di Bandung.

Jadi ya 4 tempat teratas itu menurut saya udah cukup untuk perjalanan awal menyusuri tema Artsy Bandung ini dalam waktu dua hari lah 😃

Terus gimana transportasi menuju ke tempat-tempat itu? Saran saya sewa mobil aja kalau non-weekend. Mana lagi musim ujan begini ya, enak kali naik mobil mah gak kehujanan. Hehehehe. 

Sewa mobil di Bandung bisa kamu lakukan melalui tiket.com. Buka websitenya atau download dulu aplikasinya di Google Store atau Apple Store. Kalau yang saya kasih contohnya ini saya ambil dari websitenya.


photo credit : tiket.com

Enaknya sewa mobil di Tiket.com tuh mobilnya bisa pilih sendiri. Sebenarnya di tempat sewa manapun bisa pilih sendiri sih ya, cuma di Tiket.com mah pilihannya buanyak banget wkwkwkwkw.

Durasi penyewaannya dihitung 175K/5 jam. Kalau mau gak mau repot dengan BBM tambah 100K/5 jam. Harga sudah termasuk sopir.

photo credit : tiket.com

Oke. Sekarang anggap tujuan kamu adalah Tobucil, Kineruku, Selasar, dan Galeri Nu Art. Terus nginepnya di mana?


Hotel-hotel Artsy di Bandung!

Kalau pengen pengalaman artsynya makin bulat (halah heuheuheu), nginepnya di hotel nyeni juga nih:

1. Olivers Hostelry
Hotel di Bandung kan trennya jumlah kamarnya dikit dan tiap kamar pun beda-beda desainnya. Pengalaman nginepnya jadi lebih berkesan. Toh harga penginapan kayak gini masih di bawah sejutaan kok. Kalau lagi low season dan non-weekend malah di bawa 500K.

photo credit: @olivershostelry 

Ya Olivers ini nih salah hotel tipe kayak gitu. Lucu-lucu deh kamarnya. Tinggal pilih yang warna dan temanya sesuai selera. Kalau saya suka banget kamar yang temanya antariksa.

2. Beehive Hotel and breakfast
Wow ini hotel baru banget. Belum setahun lah umurnya. Awalnya kafe, sekarang mereka nambah fasilitas nginep. Kamarnya cantik banget! Classy dan agak genit dengan padu padan warna yang warnanya natural. Pilih kamar yang ada balkonnya deh. Arsty banget!

3. Summerbird
Kalau di sini jumlah kamar lebih banyak dari yang 2 hotel yang saya bahas sebelumnya. Ada 27 kamar kalau gak salah.

photo credit: Bandung Diary

Ukuran kamar gak gede-gede amat tapi karena penataan ruang yang baik justru terasa apik. Begitu masuk lobinya mata gak berkedip deh, kamera juga pasti gak akan nganggur. Foto-foto terus :D

4. The Silk
Bukan hotel yang besar dan mewah, justru kalau lihat dari pinggir jalan raya kayaknya mungil amat hotelnya. Yes interiornya menawan. Begitu pun kamarnya. Warna desainnya gak mencolok banget, ada pun satu warna yang jadi kontras desainnya.

5. Malaka
Ini cocoknya buat yang tipe minimalis dan anggaran tipis. Hahaha. Hotel Malaka gak heboh-heboh amat lah desainnya.

photo credit : hotelmalaka.com

Justru permainan ruangnya yang tegas dan apik cocok banget dijadiin frame buat foto-foto. Harganya pun termasuk yang termurah dari 4 hotel di atas, dengan resiko lokasinya juga agak jauh dari 4 toko buku dan galeri rekomendasi. Hotel Malaka ini lebih deket dengan Trans Studio Mall.

Gimana, tertarik jalan-jalan dengan tema kalem dan berbudaya kayak gini gak? Hihi 😀 Sesekali datang ke Bandung untuk meluangkan waktu mengunjungi galeri seni dan toko buku- toko buku alternatifnya. Jalan-jalan di Bandungnya pasti tambah berkesan (dan mudah-mudahan permai) 😊


Bio Tour: Berkenalan dengan Pepohonan di Bandung

23/02/17
Kududuk di bawah naungan Pohon Trembesi, sarapan saya dalam wadah kotak makanan itu nikmat sekali. Ada Celorot, Bacang, Klepon dan Cikak. Semuanya tandas berturut-turut tanpa ampun di mulut. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali saya menyantap Celorot. 

"Dalam keseharian kita gak bisa jauh dari pepohonan. Coba dibuka lagi kotak makanannya."

Kupandang sisa-sisa perjuangan sarapan tadi. Tinggal daun-daun pembungkus makanannya saja. Ini saya aja yang kotak makannya sudah kosong atau peserta lain juga ya? 😹

"Celorot dibungkus daun kelapa yang masih muda. Bacang dibungkus daun hanjuang hijau. Klepon dan Cikak beralaskan daun pisang." 

Itu barusan yang ngomong namanya Arifin Pemandu Bio Tour. 

Oh saya belum cerita ya. Hari minggu (19/2/2017) saya dan Indra mengikuti sebuah walking tour bertema pepohonan di kota Bandung.

Tur jalan kaki ini bernama Bio Tour Bandung Botanical Garden. Arifin Surya Dwipa Irsyam nama pemandunya. Indischemooi penyelenggaranya.
Menjadi peserta Bio Tour biayanya Rp135.000. Durasi waktu turnya 3-4 jam. Jarak tempuh berjalan kaki sekitar 5 km. Peserta mendapat fasilitas berupa makanan satu kotak, minum, tote bag, pin, daun salam, dan pengetahuan dari seorang pemandu yang menyenangkan. 

Bio Tour memulai aktivitasnya di Balaikota yang ceria dan panas. Hari minggu pagi penuh sekali manusia di sana. 

Waktu Arifin mulai bercerita, orang-orang yang selintas lewat seperti penasaran. Beberapa pengunjung Balaikota bergabung dan menyimak sebentar, beberapa lainnya melirik dan berjalan lalu saja.

"Kita mulai dari Trembesi," kata Arifin mulai bercerita. 

Trembesi adalah pohon terbesar di kompleks Balaikota Bandung ini. Ikonik. Ironisnya bahkan yang terlihat besar dan jelas begini saya tidak tahu apa namanya. Pada mulanya saya pikir itu Pohon Beringin.

"Trembesi disebut juga Ki Hujan. Kalau hujan turun, daun Trembesi akan mengatup sehingga air hujan langsung meluncur ke akar. Pohon ini aslinya berasal dari daerah gurun. Trembesi punya kemampuan menyerap air dalam jumlah banyak. Saking banyaknya, Trembesi meneteskan air melalui daun seolah sedang hujan," cerita Arifin.

Beribu kali saya datang ke Balaikota, baru tahu kalau Trembesi begitu karakternya. Nama 'trembesi' mirip kata 'merembes' (meresap) sih.

"Coba lihat pohonnya," Arifin menunjuk ke arah atas. Kami semua mendongak menatap batang dan daun Trembesi yang tinggi-tinggi sekali. 

"Untuk menopang pohon sebesar ini kan pasti dibutuhkan akar yang juga besar. Oleh karenanya Trembesi jenis pohon peneduh yang harus ditanam di lahan yang luas supaya akarnya leluasa tumbuh dan menopang batang pohonnya. Pohon ini gak cocok kalau ditanam di pinggir jalan," Arifin menjelaskan. Berapi-api dengan suara yang lantang dan cemerlang.

Kami manggut-manggut tanda memahami. Arifin bergegas menuju pohon yang lain, kami mengikutinya. Mirip anak ayam, nempel ke mana pun induknya pergi.

Kali ini kami mengelilingi pohon Kayu Manis. Memang ada pohon Kayu Manis di Bandung, tepatnya di Balaikota? ADA BANGET! Saya baru mengetahuinya. 

Arifin memetik satu daun Kayu Manis. Sebelum memetik ia mengucapkan minta maaf dulu karena daunnya dipetik. Entah mohon maafnya kepada pohonnya atau kepada kami. 

Ia meremas daunnya sambil berkata "salah satu ciri Pohon Kayu Manis ada di daunnya. Kalau kita remas akan terasa tekstur daunnya yang mirip perkamen naskah tua". Ia melanjutkan "coba cium wangi daunnya," Arifin menyodorkan daun yang agak remuk itu pada kami. 

Bergiliran kami mencium wangi daunnya. Hmmm iya wangi kayu manis. Gak nyangka di Balaikota ada pohon jenis rempah begini. Saya ikut meremas daun Kayu Manis. Arifin benar, efek suara dan sensasinya seperti sedang meremas perkamen naskah tua. Saya belum pernah pegang perkamen naskah tua sih, tapi ya kira-kira daunnya seperti kertas tapi tekskturnya lebih kokoh. 

"Kayu Manis adalah jenis pohon peneduh. Selain jadi bumbu dapur, pohon ini berkhasiat sebagai obat mual dan obat perut kembung." Kami manggut-manggut sambil berbisik "oohhhh" pertanda baru tahu. Daun Kayu Manis masih digilir peserta untuk diendus-endusi aromanya.

Cowok yang menenteng-nenteng buku berjudul 1001 Garden Plants in Singapore ini beranjak, mengajak kami ke tempat parkir motor, melihat pohonnya lainnya.

Ki Sabun nama pohon berikutnya. Kiara Payung nama aliasnya. Mengandung senyawa Saponin yang jadi bahan membuat sabun, pohon ini menyebabkan jalan licin bila hujan. Karenanya gak cocok ditanam di pinggir jalan dan tempat parkir. 

Bahkan pohon peneduh di tempat parkir saja sebaiknya harus dipikirkan karakter pohonnya ya. Gokil saya baru tahu siah! Arifin harus diangkat jadi kepala divisi pertamanan kota Bandung deh! 

Di bawah Pohon Jamblang yang langka (yes! Ada Pohon Jamblang di Balaikota dong!),  Arifin cerita kalau buah Jamblang (Anggur Jawa) dahulu banyak dijual di pasar tradisional. "Rasa buahnya lebih enak dari stroberi dan apel. Paling cocok dimakan di siang hari yang terang" katanya lagi.

Indra -suamiku- mengiyakan cerita Arifin, "waktu SD masih suka makan buah jamblang. Ke mana ya buah ini sekarang?" tanyanya padaku. Sepertinya di zamannya saya dulu, udah gak ada kebiasaan makanin buah jamblang deh. 

Arifin mengingatkan bahwa langkanya buah jamblang jadi penegas kalau pola makanan orang kota berubah. Saya belum pernah makan buah ini. Lantas kenapa buahnya jadi langka kalau rasanya enak?

Begitulah. Makin siang, makin banyak pepohonan yang dibahas. Saya buat daftarnya, ini pohon ada semua di Balaikota, Gaessss! Here goes: 

Pohon Ganitri yang bijinya diolah dan jadi biji tasbih.

Pohon Damar yang berfungsi sebagai pemecah angin, getahnya untuk menambal gigi.

Hanjuang yang jadi pohon pagar pembatas dua dunia: mati (pemakaman) dan hidup.

Trengguli, pohon jamu untuk diet melangsingkan badan.

Pohon Kemiri ada minyak di biji pohonnya, digunakan sebagai bahan bakar lampu penerang.

Pohon Puspa yang khas priangan dan jenis pohon peneduh yang cocok untuk reboisasi.

Pohon Huni memiliki daun yang edible alias dapat dimakan mentah-mentah (lalap).

Pohon Pucuk Merah yang ditanam di pot dan menurut Arifin cara penanamannya salah banget.

Ki Merak alias Patrakomala yang mengandung senyawa sianida.

Pohon Kenari yang jenisnya tanaman peneduh dan akarnya besar-besar, gak cocok ada di tepi jalan.

Saya tulis singkat-singkat aja, kenyataannya saat Bio Tour si pemandu bercerita banyaaaakkkkk sekali. Nyerocos dengan koma dan titik yang teratur. 

Sesekali Arifin menyebut nama latin tanamannya, fasih banget. Kamu tahu sedang bersama orang yang mencintai bidangnya saat ia -tanpa kikuk dan tidak planga plongo- sanggup melafalkan nama lokal sebuah tanaman, sekaligus nama ilmiahnya dan ceritanya panjang lebar seolah-olah dia mau bagikan semua dunia perbotanian yang ia cintai pada kami semua. 

Menjauh dari Balaikota, tanaman di dalam selokan pun Arifin bahas. Dari tanaman yang tumbuh di parit seperti Kareumbi dan Babadotan, sampai tanaman hias yang kebanyakan bunganya beracun misalnya Patrakomala dan Oliander.

Lalu tibalah waktunya pepohonan favorit saya dibahasnya: Angsana dan Tanjung.

Pohon Angsana ada banyak di wilayah Dago: Jalan Raden Patah, Jalan Pager Gunung, dan Jalan Kyai Gede Utama. Perhatikan bila bunganya yang kuning itu berguguran. Aduh cantiknya. 

Lalu bunga tanjung dijadikan hiasan pada keranda jenazah. Sebab bunganya menguarkan wangi nan harum. Di rumah ibuku ada satu Pohon Tanjung. Bila malam wanginya sedap nian. 

Kata Arifin nih, Pohon Tanjung adalah pohon peneduh yang ideal ditanam di pinggir jalan. Sebab akarnya tidak terlalu besar, daunnya menyerap karbondiosida, dan buahnya mungil. 

Aduh bayangin yah jalan kaki di tepi jalan, malam hari gitu, terus ada wangi-wangi dari Pohon Tanjung. Sekarang gak takut lagi ada kuntilanak kali yah karena sudah tahu asal muasal wanginya darimana 😹

Saya termasuk beruntung bisa tinggal di lingkungan yang masih banyak pohonnya. Cuma sayang sekali saya gak tahu nama pohonnya apa aja, fungsinya apa, khasiatnya apa, beracun enggak. Kecuali pohon buah yang saya konsumsi.

Karena Bio Tour sekarang saya jadi tahu. Emang sih gampang tinggal baca di buku atau browsing di Google. Tapi kalau pratik langsung turun ke jalan kayak Bio Tour lebih seru karena ada interaksi dengan pohonnya secara langsung. 

Selama turnya saya tuh: 
mencium bunga Pohon Tanjung
ngebauin daun Kayu Manis
menghirup aroma getah Pohon Kenari
gesek-gesek daun Pohon Sikat Botol di tangan, wanginya kayak kayu putih
melihat pohon yang bisa jadi 'obat HIV'
mengernyit karena bau jamu dari Buah Trengguli
makan Bunga Begonia
makan Buah Bihbul yang teksturnya kayak mentega, enak amat saya suka! 
mengagumi bunga Oliander dan Patrakomala yang cantik-cantik tapi beracun
Dan rumput pipih boleh diinjak! 

Seru yah lima indra kepake semua. Mata, telinga, hidung, lidah, tangan. Pantesan selama tur ini hati rasanya senang. Begitu pun turnya meninggalkan kesan yang membekas baik. 

Oiya, sekarang kutahu, kalau lapar dan gak punya uang tinggal pergi ke Balaikota dan Taman Lalu Lintas, berburu buah di sana. Hehe. Tinggal cari tahu mana yang beracun, mana yang aman untuk perut manusia.

Bahkan saya sekarang tahu kalau tumbuhan raksasa kayak Pohon Trembesi itu ternyata bersaudara dengan tanaman kacang hias merambat. Jauh amat ya, yang satu menjulang ke angkasa, satunya lagi membumi di tanah.  

Menurut panitianya, Bio Tour akan dilakukan secara rutin. Kapan waktunya, langsung tanya ke penyelenggaranya aja. Cek akun di Instagram @indischemooi. Jangankan saya yang mewajibkan diri mengikuti tur pepohonan ini, walikota Bandung juga harus. Orang-orang di Dinas Pertamanan juga wajib nih melek pepohonan di Bandung.

Bagian paling menohok dari tur ini adalah muncul kesadaran kalau usaha walikota Bandung dan Pemkot dalam mempercantik kota belum selaras dengan keberadaan makhluk lainnya. Kitanya senang, estetik sih emang. Namun salah sebab kita gak kenal karakteristik tanamannya. 

Arifin menunjuk pohon Pucuk Merah yang ditanam dalam pot di Balaikota. Tanaman bernama Kastuba. 

"Cara menanam kayak gini salah. Pucuk Merah butuh lahan luas untuk tumbuh," kami mengamati pohonnya yang mulai layu dan mengering. Pantas atuh mati ya. Akarnya gak leluasa bergerak ketahan pot. Pohonnya gimana mau tumbuh.

Arifin juga menyinggung bunga-bunga warna merah yang digantung di tiang-tiang lampu jalan. Ternyata salah menempatkan bunga Pohon Kastuba kayak gitu. Kodratnya pohon Kastuba tumbuh 1,5 m - 4 m dan gak boleh kena sinar matahari langsung. 

Kastuba di Jalan Riau dan Purnawarman rada mending sih karena digantung di bawah pepohonan besar. Pot Kastuba yang di jalan Dago salah naro karena ngegantungnya di tengah jalan dan kena sinar matahari langsung. 

"Jadi cocoknya tanaman yang digantung di pinggir jalan kayak gitu apa dong, Pin?" tanya saya.

"Bunga Senecio Macroglossus, tapi gak tahu nama dagangnya," kata Arifin yang sekolahnya jurusan Biologi di Unpad dan magister di IPB ini. 

Hmm coba deh nanti saya google kayak gimana itu Senecio Macroglossus. 

Begitulah Bio Tour. Radius yang kami kitari gak nyampe 5 km aja, tapi pepohonannya beragam banget. Saya paling suka bagian mencium-mencium wangi bunga dan daun, rasanya damai banget. Hehehe. Kayaknya Bio Tour ini mesti diulang-ulang deh acaranya. Biar makin banyak yang ikutan.

Mudah-mudahan pepohonan di Bandung lestari. Pohon yang renta diganti yang muda. Pohon yang muda tumbuh aman gak ditebang-tebang dan gak jadi korban pembangunan.

Dan semoga kita kenal sama tanaman dan pepohonan di sekitar kita yah! 


Bacang, Cikak, Klepon, Celorot
Di bawah Pohon Puspa
Pohon Kayu Manis
Bunga Puspa yang wangi dan rumput Gajah Kecil 
yang aman banget diinjek-injek tapi seringnya dilarang diinjek 


The Giant Pohon Karet Munding
Karet Munding masih bayi
Membahas Pohon Kenari 
Buah Pohon Kenari kalau dibelah kayak gini penampakannya
Baby Kareumbi
Pohon gak boleh dililit kain kayak gitu,
mengganggu metabolisme pohon, kata Arifin
Dua Pohon Tanjung di Jalan Aceh, jenis pohon peneduh yang ideal karena:
buahnya kecil, akarnya gak gede-gede amat, menyerap karbondiosida







Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan Lenovo A6000

Skywalk Cihampelas : Parkir di Mana? Enaknya Hari Apa ke Sana? Tangganya di Sebelah Mana? Boleh Bawa Sepeda Gak? Hotel Terdekat Apa?

14/02/17
Teras Cihampelas lagi ramai-ramainya. Ya mirip Farmhouse lah hebohnya. Dan saya belum pernah ke Farmhouse ahahahaha. Cuma ngerasain macetnya aja :D

Kalau Teras Cihampelas saya udah pernah ke sana, juga merasakan macet karenanya aheuheuheuheu. 

FYI kalau saya sebut Teras Cihampelas, yang saya maksud adalah Skywalk Cihampelas yak. Saya pernah bahas dikit tentang Skywalk ini di tulisan sebelumnya. Baca di Skywalk Cihampelas di Bandung, Beeuh Heboh Pisan!




Di tulisan ini saya bahas beberapa keterangan lain seputar Skywalk Cihampelas berdasarkan pertanyaan yang masuk ke Instagram, Facebook, Twitter, dan komen di tulisan tentang Skywalk. Barangkali kamu pengen tahu juga, apa aja yang ditanyain dan apa ada pertanyaan kamu juga di sini. So mari saya mulai.

Baca juga : Tips Ajak Anak Traveling Adalah Bersabar! Hahaha :D

HARI APA KE SKYWALK CIHAMPELAS

Berhubung Skywalk ini baru jadi dan belum sebulan dibuka untuk umum, jadinya rameeee banget banyak pengunjung. Tapi sebenernya ramenya di akhir minggu aja. Hari kerja mah masih relatif lebih lowong lah. Terutama di bawah jam 12 siang. 

Mau jalan-jalan di Skywalk lebih leluasa, ya datanglah di hari kerja, senin - jumat. 

Kalau hari Sabtu dan Minggu gimana? Ya seru-seru aja sih. Cobain deh datangnya hari Sabtu jam 7 pagi, kayaknya masih oke lah keramaiannya relatif kosong. 


PARKIR DI MANA

Kalau rumahnya gak jauh-jauh amat mah mending gunakan transportasi umum ke sini. Tapi kalau emang pada pake motor dan mobil pribadi ke sini, parkirnya di:

Motor: Jl. Sastra, halaman parkir Arumanis (atau Harumanis ya, lupa nama tempatnya) dan CiWalk

Mobil : CiWalk

Motor bisa di mana aja sih selama ada tempat parkir motor. Kalau mobil emang agak repot. Apalagi kalau weekend. Kalau saya biasanya naik angkot, kalo mesti bawa kendaraan sendiri parkirnya di CiWalk atau Jalan Sastra aja. 

NAIK TANGGA KE SKYWALK CIHAMPELAS, TANGGANYA DI MANA?

Ada 3 titik tangga naik turunnya. 
1. Di deket kampus STBA (RS. Advent)
2. Di depan Hotel Serela Cihampelas, seberangnya CiWalk
3. Di depan Hotel Promenade - Bank BJB

Kalau mau menyusuri jalur Skywalk secara lengkap, mulainya bisa dari tangga di dekat kampus STBA ini. Jalurnya nanti bakal menurun. Kalau naik tangganya dari Hotel Promenade, males naik tangga per terasnya. Ini saya aja sih :D Kan lebih enak turun daripada naik. 

Paling strategis sih naiknya dari tangga di depan Hotel Serela Cihampelas. Deket ke mana-mana, deket CiWalk, deket tempat parkir motor.

LIFT NAIK KE SKYWALK CIHAMPELAS DI MANA?

Cuma 1 lift, ada di depan Hotel Aston Tropicana & Hotel Fave Cihampelas. Kalau gak salah liftnya belum dipake. 

Lift ini kayaknya sih dipake buat yang udah sepuh (tua) dan temen-temen yang difable. Jadi kalau masih pada sehat kakinya, pada naik tangga aja gak usah naik ke Skywalk pake lift. IMO sih. 

BOLEH BAWA SEPEDA KE SKYWALK CIHAMPELAS?

Saya pernah lihat ada yang gotong sepedanya dan jalan-jalan bersepeda di Skywalk. Boleh dong berarti. 

JAJAN DI SKYWALK CIHAMPELAS

Bisa banget. Ada banyak kios di sana. Dari suvenir sampe makanan. PKL di sekitar CiWalk pada pindah ke Skywalk. Kalau kamu ada uang berlebih, jajan yak ke PKL-PKL ini. 




Menurut saya mah Pemkot udah mencoba ngasih solusi atas ribetnya kondisi sepotong Jalan Cihampelas ini dengan adanya Skywalk. Tugas kita sekarang sebagai warga dan turis buat ikutan menjadi bagian dari solusi dengan menggerakan perputaran uang di Skywalk. Kalau pada jajan kan PKL-PKL di Skywalk pasti seneng dan betah. 

Jangan lupa kalau jajan makanan ada sampahnya, buanglah di tempat sampah. Setahu saya mah ada banyak tempat sampah di sana. 

KALAU HUJAN GIMANA?

Ya kehujanan :D Rasanya gak ada tempat berteduh di sana. Kecuali pada bawa payung/raincoat sih. 

APA MENARIKNYA SKYWALK CIHAMPELAS INI SIH?

Serius pertanyaannya? :D 

Menarik sih. Abisnya mana lagi tempat umum di Bandung yang lucu begini. Lucu maksudnya mah tempatnya di atas melayang di atas jalan umum. Mana teduh lagi banyak pohon. Udah gitu gratisan pula wkwkwkwk. 

Skywalk bisa jadi tujuan rekreasi sih. Ya palingan jalan-jalan, jajan, duduk santai. Kalau lagi sepi bisa kali bawa buku dan baca di sini, tinggal cari pojokan yang rada tenang gitu suasananya. 

Anak saya sih seneng banget di Skywalk. Abis dari Skywalk terus masuk ke CiWalk dan kami main di Game Center :D Hahaha. Yah buat menyalurkan energi anak-anak, Skywalk ini cocok juga. Saya juga seneng ada tempat kayak gini di Bandung.

Emang gak seatraktif De Ranch, Dusun Bambu, Farmhouse dam sejenisnya. Tapi ada ruang publik yang kayak gini gimana gak seneng warganya atuh :D Saya sih seneng hehehe.

HOTEL SEKITAR SKYWALK CIHAMPELAS APA AJA?

Banyak! Pada dasarnya sih Cihampelas ini favorit turis kan, jadi berceceran lah hotel di sini. Tapi kalau mau cari hotel-hotel yang langsung bersinggungan dengan Skywalk Cihampelas, maka jawabannya?

1. Hotel Serela Cihampelas
2. Hotel Grand Batara
3. Hotel Puma
4. Hotel Fave Cihampelas
5. Hotel Aston Tropicana
6. Hotel Promenade

Hotel lainnya ada :
1. Hotel Sensa
2. Hotel De Batara
3. Grand Tjokro
4. Hotel Cihampelas 1, 2. dan 3
5. The Regia
6. Hotel Vio Cihampelas
7. Hotel Amaris Cihampelas
8. Dan masih ada beberapa lainnya. 

Ratenya beragam dari yang murah banget sampai kelas bintang 4 kayak Hotel Sensa. FYI, saya bisa bantu book hotel-hotel tersebut karena saya agen Agoda. Tinggal kontak saja kalau mau book hotelnya :D baca lebih lengkap tentang booking hotel ini di tulisan Booking Hotel di Bandung. 

Apalagi ya...euuuhh... 

Wifi di Skywalk? gak tau ada gak.
Colokan listrik di Skywalk? belum tau juga gak merhatiin.
Kalau bangku dan meja mah ada.
Gak ada playground buat anak-anak, gak ada ayunan, gak ada perosotan, dsb. 




Segitu dulu kali ya. Hehehe. Kalau pertanyaan kamu gak ada di sini, tinggal komen aja. Selamat jalan-jalan di SkyWalk Cihampelas ☺

Playlist #11 : Left Of The Middle

11/02/17
Masih inget gak kaset yang pertama kamu beli? Pertanyaan ini khusus yang kamu yang lahir di tahun 80an ke atas. Saya mah kelahiran 85 sih. Apeeuu ga penting. Hahaha ☺ 

Kaset saya yang pertama adalah albumnya Natalie Imbruglia. Left Of The Middle judul albumnya. Cewek gokil dari Australia ini popularitasnya ketilep Alanis Morissete sih. Walau begitu saya mencintai keduanya. Album pertamanya Natalie ini menurut saya mah yang terbaik. Musiknya, apalagi liriknya. Kelas 1 SMP saya beli kasetnya dan saya bangga hahahaha. 

Dulu saya anak MTV banget ☺ MTV sekarang masih ada gak sih? 

Terus pas lagi nonton vlognya Jennifer Bachdim (i looovvvveeeee #TeamBachdim) tiba-tiba nongol perasaan: eh pengen denger lagunya Imbruglia lagi euy. Ternyata di Youtube ada dong heuheuheu. Dan begitu lah seminggu ini saya nyalain album Left Of The Middle terus. 

So playlist saya gak jauh-jauh dari lagu-lagunya Natalie. Digabung dengan lagu lainnya, begini playlistnya.




Nomor 10, harusnya Young Lex feat. Gamaliel ya. Tapi...anu...eeuuuu... ya gitu lah heuheu ☺

ps: Ralat no 2, harusnya Left Of The Middle. Heuheuheu.

Main ke Mupenas UPI, Museum Pendidikan Nasional

09/02/17
Museum di Bandung bertambah jumlahnya dengan kehadiran Museum Pendidikan Nasional. Lokasinya ada di kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Cocok sih, museumnya tentang pendidikan, adanya di kampus pendidikan juga. 




Bagian ironisnya tentang museum ini ada pada saya sih. Saya kan lulusan kampus ini. Gedung jurusan saya ya gedung yang sekarang jadi museumnya. Gedung sebelumnya bernama Pentagon, karena bentuknya emang segi lima, kayak Pentagonnya Amerika ☺. Si Pentagon abal-abal ini dirubuhkan. Huks...semua kenangan saya selama kuliah lenyap sudah bentuk fisiknya. Lokasi di mana Pentagon ini dirubuhkan menjadi cikalnya Museum Pendidikan Nasional. 

Dan kenapa saya jadi curhat heuheuheuheu. 

Lama tertunda, mampirlah kami ke Mupenas di hari jumat penghujung Desember 2016. Kesan pertama: so-so lah. Not so good. Not so bad. Yang pasti mah tata letak koleksi barangnya membuat gak nyaman difoto. Juga benda yang ada teks-teksnya tuh menyulitkan dibaca karena silau akibat pantulan kaca. Gimana bisa? Ntar saya jelasin. 

Mupenas terdiri dari beberapa lantai. Benda koleksi yang dipajang tiap lantai disusun berdasarkan urutan sejarah. Lantai pertama tentang manusia pra-sejarah dan sejarah tulis-menulis. Di lantai yang saya lupa berapanya, terpampang sejarah pendidikan dari zaman kerajaan, kolonial Belanda, Jepang, sampai era kemerdekaan. 

Informasinya seputar pendidikan semua. Termasuk sejarah tentang Universitas Pendidikan Indonesia itu sendiri yang dahulu bernama IKIP. Menteri-menteri pendidikan sampai dengan display tingkat Sekolah Dasar - Sekolah Menengah Atas. Aslinya saya berasa di zaman orde baru waktu lihat display anak sekolahan ini hehehehe. 

Juga ada sedikit kisah tentang Soekarno yang pernah jadi guru di Bandung. Ada miniatur bangku dan meja sekolahan zaman dulu yang mengingatkan saya masa-masa saya sekolah di madrasah karena sama banget meja bangkunya. 

Ada juga patung-patung setengah badan tokoh pendidikan nasional. Menarik untuk difoto. Terlebih lagi sangat berisi untuk jadi bahan bacaan. 

Secara konten mah sangat menarik museum ini teh. Cuma sayangnya interiornya enggak banget. Tapi yang paling bikin aneh adalah gedungnya yang berdinding kaca-kaca jendela dan banyak ruang kosong di dinding. Teu puguh, kalau Indra bilang.

Dinding kaca-kaca itu memantulkan sinar matahari. Emang sih ruangannya jadi terang gak perlu nyalain lampu banyak-banyak. Tapi gak enak banget jadi silau pas baca-baca. Pas moto pun riweuh karena mau foto objeknya, tapi bayangan saya dan kaca-kaca itu ikut kepoto wkwkwkwk ☺

Museum kan seharusnya membuat kita fokus pada objeknya. Di museum ini mah enggak. Riweuh pisan arsitekturnya. Siapa arsiteknya ya? ☺

Ya sudahlah heuheuheu. Terlepas dari desain ruangnya yang menurut saya mengganggu kenyamanan membaca dan memotret, Mupenas ini boleh atuh dikunjungi. Kalo malas naik tangga, ada liftnya. Tapi seriusan kalau sehat walafiat mah naik tangga atuh. Ntar di lantai paling atas baru turun pake lift. 

Museum Pendidikan Nasional 
Jl. M Yamin - Universitas Pendidikan Indonesia di Jl. Setiabudi 229 Bandung

Jam buka Senin - Kamis: 09.00 - 15.00
Khusus Jumat : 09.00 - 15.30
Sabtu dan minggu : reservasi dulu, ada jumlah minimalnya. 
Website : Mupenas UPI

Sorry for the horrible pictures di bawah ini ya. Saya foto pake kamera hp. 
















Foto : Ulu, difoto dengan kamera smartphone Lenovo A6000
Teks : Ulu

Petunjuk Arah Menumpang Angkot ke Lembang

07/02/17
Saya buat tulisan khusus cara ke Lembang nih. Abis banyak yang nanya. Maksud tulisan ini mah, kalau ada yang nanya tinggal saya kasih linknya. Terus orangnya baca sendiri ☺

Here goes!


Dari Stasiun Kereta Api Bandung: 

  1. Keluar di pintu utama (pintu utara yang menghadap ke Jalan Kebon Kawung). 
  2. Cari angkot warna krem jurusan St. Hall - Lembang.
  3. Jangan langsung naik angkotnya, tanya dulu ke sopirnya: angkot langsung ke Lembang gak? Soalnya jalur tersebut dipake juga angkot yang sama untuk ke Pasar Baru dulu, bukan langsung ke Lembang.
  4. Angkot ini bakal bawa kamu langsung ke Lembang. 
  5. Ongkos Rp10.000.
  6. Di Lembang nanti turunnya di mana? Tergantung tujuan kamu di mana? 
  • Ke Gunung Tangkubanparahu, turun di dekat Pom Bensin Lembang setelah Alun-alun. 
  • Ke De Ranch, turun di Jalan Maribaya. Bilang ke Pak Sopir Angkot, pengen ke De Ranch, minta diturunin di Jalan Maribaya. 
  • Ke The Lodge Maribaya, idem kayak ke De Ranch
  • Ke Floating Market, bilang ke Sopir Angkot turunin di Floating Market. Nanti kamu diturunin di depan jalan masuk menuju Floating Market.

Baca juga: Transportasi Umum dari Stasiun Kiaracondong ke Lembang

Dari Terminal Leuwipanjang:

  1. Sampai di Terminal Leuwipanjang, cari jalur Bis Kota (DAMRI) jurusan Leuwipanjang - Ledeng.
  2. Naik bisnya, duduk santai. Inget ya kalau ada ibu-ibu hamil dan manula, kasihin kursi yang kamu dudukin buat mereka. 
  3. Turun di Terminal Ledeng. Pindah angkot. Naik angkot warna krem jurusan ke Lembang. 
  4. Di Lembang turunnya di mana? Cek poin di atas itu ya udah saya jelasin ☺

Baca juga: Cari Uang untuk Traveling

Dari Bandara Husein Sastranegara:

  1. Keluar dulu dari bandara. Bisa jalan kaki (rada jauh), bisa juga naik Ojeg, bisa juga naik taksi. Mau menumpang transportasi taksi dan ojeg online? Nanti saya bahas di bawah ya. 
  2. Keluar bandara, ketemu Jalan Pajajaran
  3. Naik angkot yang ke arah Jalan Pasir Kaliki. Pasti semua angkot yang lewat Jalan Pajajaran ini menuju ke Pasir Kaliki sih.
  4. Turun di Pasir Kaliki (landmark: perempatan jalan, ada mall di sebelah kiri jalan).
  5. Pindah angkot naik angkot jurusan St. Hall - Lembang.
  6. Udah deh tinggal tunggu sampai di Lembang.

Jika kamu merasa naik angkot ini ruwet, sudahlah pesan saja taksi online hehehehehe ☺ 

Transportasi di Bandung : Do's and Don'ts (A Travel Guide)

06/02/17
Tulisan ini saya buat berdasarkan jumlah pertanyaan di DM Instagram @bandungdiary. Terus terang kerasa juga capeknya juga jawab pertanyaan sama berulang-ulang : di Bandung transportasinya apa ya, Teh? Dari stasiun mau ke Lembang naik apa ya, Teh? Ongkos angkotnya berapa, Teh? Ada Grab gak? Ada Uber gak? Uber mau gak ngangkut saya ke Lembang?

EEEAAAAAAAAAAA!

Gimana rasanya jadi Raisa ya nyanyiin lagu yang sama terus-terusan tiap konser. Duta, Ariel, Taylor Swift, Adele... oh i feel you, guys *preeet 😂*




Baiklah mari simak tulisan saya yang ini. Tulisan ini berlaku kalau kamu menggunakan kendaraan umum ya. Di Bandung saya masih rajin menumpang transportasi umumnya. Jadi tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman sendiri.

ANGKOT

Kendaraan sejuta umat di Bandung nih sebelum (kredit) motor menguasai jalanan. Huehehehehe.

Angkot di Bandung ada banyak jurusannya. Warnanya juga macam-macam. Ada hijau, biru, merah jambu, kuning, dan merah. Beda jurusan, beda warnanya. Dan lagi di sini meski angkot ada nomor jurusannya, tapi kami gak kenal nomornya hahaha. Kami cuma tahu warnanya dan judul jurusan si angkot di bagian depan dan belakang kaca mobilnya. 

Misalnya Cicaheum - Ledeng, warnanya hitam hijau. 
Kalapa - Ledeng, hijau - biru.

Angkot-angkot di Bandung berangkat dari banyak terminal yang tersebar di titik-titik tertentu:
Terminal Ledeng di utara. 
Terminal Cicaheum di timur.
Terminal Kebon Kalapa di selatan.
Kalau di Barat saya gak tahu terminal apa. Terminal Cimahi kali ya. 

Di antara terminal itu ada terminal-terminal kecil. Di Tegalega, Setrasari, Dipati Ukur, Stasiun Hall/Bandung, dan lain-lain. 

Do's
  1. Perhatiin warna angkotnya. Orang Bandung nih kalau ditanya perangkotan, mereka bakal jawab warna si angkot dan ada di mana angkotnya. 
  2. Perhatiin judul jurusan angkotnya. Pasti ada di kaca depan bagian atas. 
  3. Siapkan uang receh untuk bayar angkot. Mutlak banget nih hukumnya karena jika uangnya kegedean, uang kembaliannya suka kurang deh. Kesel saya mah yang kayak gini teh. 
  4. Apakah di Bandung ada copet di dalam angkot? Ada. Oleh karenanya waspadalah! waspadalah!
Dont's
  1. Kalau mau nanya arah jalan mendingan ke sesama penumpang aja. Nanya petunjuk arah ke sopir angkot mah jadiin langkah terakhir aja kalau gak ada orang lain di dalam angkotnya. 
  2. Sopir mah mengikuti kelakuan penumpang. So kamu jangan naik angkot pas di pengkolan jalan atau pas lampu merah lagi ijo. Ya dipikirin lah kira-kira di mana posisi naik dan turun angkot yang ganggu-ganggu amat pengguna jalan lainnya. 


BIS KOTA

Bis kota nih angkutan favorit saya banget. Ukurannya gede (yaiyalah bis namanya juga). Dan karena gede dan tinggi, kalau duduk di dalam bisa bisa lihat pemandangan kota lebih tinggi dari biasanya.

Bis kota di Bandung biasa kami sebut DAMRI. Sering sih cuma nyebut 'beus' aja.

Ongkosnya flat dan udah jelas dari awal. Gak kayak naik angkot yang ongkosnya mengira-ngira. Menumpang bis sekarang nyaman karena gak ada lagi asap rokok. Rokok beneran dilarang di dalam bis! Horeeee.

Bis kota yang sekarang ini juga nyaman banget. Palingan kursinya aja yang jumlahnya dikit. Saya gak masalah sih berdiri di dalam bis seru-seru aja.

Posisi duduk favorit di bangku paling belakang karena...posisinya tinggi banget. Lebih tinggi dari kursi lain di dalam bis. Lihat pemandangan ke jalan lebih leluasa, bisa ngintip rumah-rumah yang ketutup pagar tinggi. Huehehehe.

Di dalam bis kadang ada kondektur, kadang gak ada. Kalau ada kondektur, ongkosnya nanti ditagih sama dia. Kalau gak ada, kamu kasih ongkos ke sopirnya pas mau turun.

Do's:
  1. Bersiap turun sebelum titik yang kita tuju. Kalau kamu udah tahu mau ke mana tapi gak tahu mesti turun di mana, tanya penumpang lain ya. Pasti dibantuin.  
  2. Gak mesti siapin uang receh sih, biasanya kondektur punya banyak uang kembalian. Tapi ya usahain lah bayar uang pas. 
Dont's:
  1. Jangan merokok di dalam bis.
  2. Pantang duduk di kursi prioritas kecuali semua kursi dalam bis sudah diduduki.
  3. Begitu masuk ke dalam bis dan nampaknya kursi udah pada penuh, masuk aja terus ke dalam, Jangan berdiri di dekat sopir lah karena menghalangi orang masuk dan keluar.
  4. Jika kedua kaki kamu sehat dan tubuh masih kuat, jangan pura-pura gak lihat ada manula dan ibu hamil yang naik bis. Begitu mereka masuk dan kamu tahu semua kursi udah penuh, segera bangkit dari kursi kamu dan persilakan mereka duduk. Kecuali kamu tertidur (jangan pura-pura merem lho awas lho 😎)


TAKSI

Taksi di Bandung ada banyak armadanya. Kalau saya sih selalu menggunakan Taksi Blue Bird dan Taksi GR.
  1. Selalu pilih taksi yang ada argonya. Taksi tanpa argo sering bohong, awalnya udah sepakat 50.000, misalnya. Nanti di tengah jalan dia minta nambah. Nyebelin lah.
  2. Di beberapa tempat, taksi nonargo merajai kawasannya bagai preman. Taksi dgn argo sering gak boleh masuk ke kawasan tertentu. Gak ngerti deh kok pihak berwenang diem aja ngelihat peraturan ala preman begini. Jadi kalau kamu pesen taksi dengan argo dan sopir taksinya minta kamu berjalan lebih jauh biar gak kelihatan sopir taksi nonargo, ya nurutlah. Kasian sopir dengan argonya. Heuheuheu...
  3. Siapin uang receh. Sopir taksi mah gak punya uang kembalian hehehe.
  4. Tanya sopirnya ya, tahu jalan enggak. Kalau enggak, kamu cek arah jalan pake google map juga biar gak nyasar.

ARMADA BERBASIS APLIKASI

Kendaraan umum berbasis aplikasi udah lengkap di Bandung. Sama kayak Jakarta lah. Ada Uber, Grab, dan Gojek. Gak cuma armada motornya, mobilnya juga ada. Terus dari semua itu murahan yang mana? Rekomendasinya yang mana?
  1. Kalau jarak jauh dan pengen naik mobil, saya selalu pilih Grab. Karena kalau hujan dan macet, tarifnya sama aja. Armadanya juga banyak. 
  2. Biasanya tarif Grab dan Gojek lebih murah dari Uber. Kalau ojek online, saya sering banget pake Grab. Taksi juga sama aja, Grab favorit!
  3. Selebihnya sih sama aja. Toh kebanyakan sopir Grab ya sopir Uber dan Gojek juga 😀
Terus timbul pertanyaan: mereka mau angkut ke Lembang gak? MAUUUUUU! Dengan catatan bukan akhir minggu. Kalau Sabtu dan Minggu mah agak susah saking macetnya, mereka juga males ngangkutnya. Ya ada sih yang mau mah, coba aja dulu order taksi/ojeg onlinenya.

Terus dari semua itu: angkot/bis kota, taksi, taksi online/ojeg online, murahan mana? Tergantung kamu berangkat dari mana, tujuan ke mana? Kalau jarak jauh, murahan naik angkot. Tapi jauh dekat terkadang relatif sih ya.

Dirinci aja mau pergi ke mana. Kalau cuma butuh 1 kali naik angkot, murahan angkot. Resikonya ya ngetem lah, nyetirnya gak membuat kita nyaman lah, rutenya juga rute umum.

Tapi kalau tujuan kamu membuat kamu harus naik angkot beberapa kali, mending pilih taksi online/ojeg online aja.

Segini dulu penjelasan tentang transportasi umumnya, cukup gak? 😄
Kalau mau nanya, drop komen aja. Mau nambahin informasinya juga boleh banget.

FYI, gak buang sampah di dalam angkot/bis ya. Kantongin aja dulu sampahnya baru buang ke tempat sampah, bukan buka jendela terus buang sampah ke jalan 😂

Selamat jalan-jalan di Bandung menumpang kendaraan umum!