Social Media

Image Slider

Taman Sejarah Bandung di Balaikota, Ordinary But New

05/02/17
Terbaru lagi di Bandung. Taman Sejarah Kota Bandung. Taman ini buat anak-anak seru nih, bisa main air di kolam air (renang) sederhana. Orang dewasa bisa baca-baca sejarah Bandung, tepatnya mah profil pendek bekas bupati dan walikota Bandung zaman dahulu. 

Lahan yang jadi Taman Sejarah ini dulunya tempat parkir. Gak dulu banget sih, ya beberapa bulan lalu mah masih tempat parkir mobil. Saya pernah parkir beberapa kali di sini. Gak nyangka dalam waktu pendek wajah tempatnya sudah berubah. Wow...




Sebenernya kalo diperhatiin ini taman biasa aja sih. Bukan taman penuh bunga. Ya semacam biasa tapi baru buat warga Bandung mah. Termasuk saya. Istimewa banget ya menurut saya gak juga. Biasa aja. RK ini emang paling bisa memberi perspektif baru dalam menikmati kota. Walau sayangnya baru di sekitaran Bandung Utara aja sih perubahan fisiknya. 

Kalau melihat taman ini dari jauh kita bisa baca teks terpasang di dinding bertuliskan: SEJARAH BANDUNG DI ERA WIRANATAKUSUMAH. 

FYI, Wiranatakusumah adalah mantan bupati Bandung. Wiranatakusumah II adalah sosok dibalik kepindahan pusat kota Bandung dari daerah Dayeuh Kolot (di Bandung Selatan, tepi sungai Citarum) ke kawasan Cikapundung (Asia Afrika, Alun-alun). 

Ada juga panel-panel profil walikota dan bupati Bandung dari zaman Hindia Belanda sampai dengan RK sekarang. Ketika saya pikir RK gak akan senarsis itu pasang panel profilnya, panel profil beliau paling banyak. Ada 3 panelnya. Hehehe ☺

Kalau diperhatiin, gaya pejabat memberi tanda 'SAYA PERNAH MIMPIN' bisa kelihatan dari banner-banner, baligo, patung, dan aneka tulisan kayak 'sumbangan walikota/guberner periode blablabla', sampai dengan gedung-gedung publik dan pemerintahan. Nah kalau RK mah kalau diamatin jarang kayak gitu. Legacy RK banyak dan bentuknya kelihatan banget hampir gak ada yang dipasang papan pengumuman ditulis 'dibuat di era kepemimpinan RK'. Hehehehe. 

Tapi yang satu ini nih, di Taman Sejarah ini agak beda. Karena panel profilnya RK ada tiga! ☺ Gak apa-apa sih. Cuma gak nyangka aja hehehe. 

Jadi sekarang di kompleks Balaikota ini banyak bener tamannya. Ada Taman Sejarah, Taman Dewi Sartika, Taman Balaikota itu sendiri, Taman Labirin...wow... Nambah lagi tempat jalan-jalan (gratis) di Bandung nih. Gak usah ke Farmhouse dulu, ke Lembang juga tunda dulu, ke Kawah Putih nanti aja hahaha. Ke Balaikota aja gih. Banyak tamannya. 

Mau janjian juga enak sekarang mah banyak taman, gak usah di mall terus (kecuali hujan hehehe). 

Btw, kalau datang ke Taman Sejarah dengan anak-anak bawa pakaian salin ya. Siapa tahu mau main air karena ada kolam yang disediakan untuk main air. Airnya ya kotor sih hehehehe. Sesekali main kotor gak apa-apa lah. Cuma tolong ini orang tuanya awasin anaknya, karena pas saya ke sana dan duduk di dekat kolam, tahu-tahu ada anak kecil 2 perempuan jongkok di depan saya dan...pipis! What the heck! 

Ini kan tempat umum. Cik atuh lah sekalian ajarin anak-anak bagaimana sebaiknya berperilaku di tempat umum. Di antaranya ya gak pipis sembarangan. Heuheuheu... Juga tolong lah itu cowok-cowok (dan cewek) yang merokok, tahan dulu lah jangan merokok di sini. Banyak anak-anak, tempat umum pula masa pada ngerokok sih. 

Lama-lama kalau diperhatiin mah laju perkembangan yang RK terapkan untuk kota ini kadang gak selaras dengan kelakuan warganya. Gak semua kelakuan warganya buruk, tapi banyak juga yang nyebelin heuheuheu....

Cara ke Taman Sejarah Bandung:

1. Lokasinya di Jalan Aceh, persis di belakang kantornya RK (Balaikota). 

2. Pada tahu mall namanya BIP kan? Nah deket-deket BIP kok lokasinya, pas di perempatan Jalan Merdeka - Jalan Aceh. 

3. Cek di googlemap, cari lokasi Balaikota Bandung sih gampangnya mah. 

4. Angkot yang lewat di depan tamannya:
Via Jalan Aceh: 
Kalapa - Ledeng (arah Kalapa)
Antapani - Ciroyom
St Hall - Gedebage

Via Jalan Merdeka:
Kalapa - Dago
St Hall - Dago
Leuwipanjang - Dago
Kalapa - Ledeng (arah Ledeng)

Via Jalan Wastukencana, berhenti di depan Masjid Al-Ukhuwah/Masjid Balaikota : 
Cisitu - Tegalega
Sederhana - Sukajadi

5. Naik Grab/Uber/Gojek kalau naik angkot bikin bingung mah

6. Parkirnya bisa di dalam Balaikota, pintu masuk ada di Jalan Merdeka









Foto : Ulu, difoto dengan kamera hape Lenovo A6000
Teks : Ulu

Berkunjung ke Situs Batulonceng yang Sunyi di Lembang

03/02/17
Gak ada niat kembali mengunjungi Situs Batulonceng untuk kedua kalinya. Tapi takdir mana tahu ya. Ternyata saya balik lagi ke sini. Bila tahun 2009 saya datang ke sini di musim kemarau, tahun ini bertemu lagi dengan Batulonceng di musim hujan, tepatnya mah sehari setelah Imlek (29/1/2017).  Tujuan mengikuti kegiatan komunitas Lembang Heritage ini mau jalan-jalan saja, ajak Nabilkubil hiking walau sebentar.




Sehari setelah Imlek, musim hujan baru benar-benar terasa di Bandung. Dingin dan berangin. Mau berangkat saja tertunda-tunda karena hujan. Padahal niatnya mau berangkat jauh lebih pagi. Mau makan sate kelinci di Tahu Tauhid dan yang paling penting mah gak mau kena macet akhir-minggu-Lembang. Tapi lagi-lagi takdir mana tahu ya. Berangkat dari rumah terlalu siang, kena macet di dekat Farmhouse dan masih hujan. 

Sampai juga di Tahu Tauhid dengan perasaan was-was takut ditinggal. Tahu Tauhid adalah lokasi peserta jelajah berkumpul sebelum berangkat ke Kampung Batulonceng, 15 km dari pusat kota Lembang. Patungan uang dan sewa dua angkot, kami berangkat ke Batuloceng. Kondisi jalannya buruk. Sebentar aspal, sebentar tanah. Di Maribaya jalannya berbatu-batu. Masuk ke Cibodas, sudah saja jalannya tanah semua. Ya menurut saya sih buruk untuk jalan sekelas Lembang ya jadi idola pariwisata yang kesohor. 

Berkelok-kelok jalannya, sampai di pertigaan kampung. Khas pisan lah pemandangannya. Kebayang kayaknya dulu pertigaan jalan Setiabudi-Cipaganti teh dulu begini ☺ Ada perbukitan, perkebunan, jembatan kecil, dan warung. Sudah terlihat Kampung Batuloncengnya. Kami berada di Patahan Lembang.

Gak ada angkutan umum di sini selain Ojeg. Angkot dari Lembang berhenti di Terminal Cibodas. Jauh lah, kalau minimarket pertanda peradaban modern di zaman sekarang, nah di sini mah gak ada minimarket. 

Berjalan kaki menuju Kampung Batulonceng Desa Suntenjaya, udaranya dingin sekali. Sudah lama tidak mengalami kedinginan macam ini di Bandung. Gak bawa jaket, gerimis turun. Kabut merayap di pucuk-pucuk perbukitan. Seandainya Bandung tiap hari cuacanya begini, saya mungkin bakal 30 kg lebih berat dan asma Indra kambuh tiap hari ☺ 

Bau kotoran sapi dan kuda menyeruak. Amboi sedapnya, tapi mual kalau lama-lama menciumnya. Saya ingin jalan bergegas, tapi membawa anak kecil jalan-jalan begini memang membuat kaki serasa dirantai. wkwkwkwk ☺ 

Berjalan di Kampung Batulonceng, melewati rumah-rumah kayu dan beton. Dahulu ke sini, rasanya rumah kayu semua. Sekarang ada yang rumah tembok, apa mereka tahu mereka berada tepat di jantung Patahan Lembang ya? Patahan ini kan kapan saja bisa terguncang gempa skala besar. Euuhh melihat rumah tembok dan membayangkan gempa saya sudah merinding. Gak ada papan petunjuk evakuasi di sini. Gak ada peringatan tentang bahaya gempa. 

Dari Kampung Batulonceng perjalanan ke situsnya memakan waktu 30 menit saja. Atau lebih sedikit. Jaraknya hanya 1 km saja, begitu kata Pak Maman. Jalan setapaknya basah dan licin. Susah juga jalan nanjak dan tiap waktu bisa terpeleset jatuh. Jarak sependek satu kilometer saja terasa bagai dua kali lipatnya. 

Ada sekitar 20 orang lebih berjalan kaki bersama-sama. Mereka jalan kakinya seperti mudah saja, enteng seperti melayang. Pada perjalanan pergi dan pulang dari Situs Batulonceng, saya dan Indra terseok-seok paling belakang bersama Malia, koordinatornya Lembang Heritage. Saya jatuh. Indra jatuh. Malia juga jatuh hahahaha. Memang senang menertawakan orang jatuh, tapi diri sendiri yang jatuh ya sakitnya gak enak banget. 

Situs Batulonceng sama kondisinya dengan kebanyakan situs yang saya datangi dan letaknya di dalam hutan. Semacam tempat-tempat yang mencerminkan budaya sakral yang kita anut. Ada keteduhan, ada kesepian, ada energi yang aneh gitu. Mistis dan misterius. Mirip Hutan Larangan. Banyak pohonnya, ada dua atau tiga pohon raksasa, dan ada makamnya.

Pohon paling besar namanya Kalimlorot, begitu kata Pak Maman. Pohon Saninten nama umumnya mah. Buahnya sama kayak Rambutan tapi jangan dipegang dengan tangan kosong, alamak itu rambut di buahnya tajam seperti duri. Jangan langsung digigit juga ntar sakit berdarah euy kitanya. Harus langsung dibelah sama pisau atau golok sih. Itu kan buah kesukaan monyet, monyet makannya gimana ya, mereka belah buahnya pake batu kali ya?

Kembali ke Situs Batulonceng.

Batulonceng itu bentuknya seperti lonceng. Bisa gitu bentuknya bisa jadi karena bekas bom waktu penjajahan Belanda. Begitu Pak T. Bachtiar (geograf, penulis buku Bandung Purba) bilang. Kalau diperhatiin batunya seperti patung anak kecil setengah badan tanpa kepala. Kecil kok ukurannya, tapi kalau diangkat beeeuhhhh berat luar biasa edan parah beratnya! 

Ada lagi batu lainnya. Batu Kujang namanya. Bentuknya mirip keris kujang, ukurannya lebih tinggi. Berat enggaknya mah saya gak tahu karena gak nyobain angkat batunya karena bentuk dan posisinya kayak gak mungkin diangkat gituh. 

Kedua batu ini dikeramatkan. Bila dulu hanya Batulonceng yang terlindung dalam sebuah pondok, sekarang mah ada pondokan baru, lokasi di mana Batu Kujang berada. Baru lima tahun sih rumah untuk Batu Kujang ini dibuat. Kata Pak Maman mah maksud pondokannya biar yang datang untuk berdoa di sini gak kehujanan. Tapi menurut saya mah sayang juga sih, karena dulu waktu ke sini, area sekitar Batu Kujang ini tempat cahaya matahari masuk. Batulonceng yang dulu saya datangi jauh lebih terang dan segar. Dari titik Batu Kujang ini berdiri, kita bisa lihat pemandangan ke arah perbukitan lainnya. 

Batulonceng dan Batu Kujang banyak mitosnya. Kalau secara ilmu pengetahuan yang saya tahu dari uraian T. Bachtiar (geograf, penulis buku Bandung Purba), Batu Kujang itu menhir. Batu pemujaan manusia purba, asalnya dari zaman megalitikum. 

Setiap puncak bukit, menurut Pak Bachtiar, ada peninggalan megalitikumnya. Dari lokasi Situs Batulonceng berada kalau ditelusuri sampai ke Bukit Tunggul, ada peninggalan megalitikum juga di sana dengan skala yang lebih banyak dan lebih luas.

Kembali ke jalan utama, saya melewati jalan yang berbeda. Ada lebih banyak pohon kopi di sini. Jenisnya arabika. Di sekitar daerah Cibodas-Lembang ini emang banyak perkebunan kopi. Di akhir perjalanan kami diajak makan siang dan beristirahat di Kafe Arjuna, warung kopi sekaligus produsen kopi.

Pertahunnya produksi kopi Kopi Arjuna mencapai 60 ton. Selain punya kebun kopi sendiri, pemiliknya juga bekerja sama dengan banyak petani kopi. Salah satu suplier kedai kopi terkemuka merek st*rb*ck ini memenangkan penghargaan juara favorit ke dua di ajang West Java Cofee Festival 2016. Kalau kamu sedang berada di Lembang dan ingin merasakan kopi yang rasanya orisinil, nah ke Kopi Arjuna aja. Tinggal googling, alamatnya ada, petunjuk arahnya ada. Tempatnya mah biasa aja, tapi tempat kayak gini biasanya juara kalau soal rasa. Nu resep kopi geura angkat kaditu ☺

Dipikir-pikir kenapa ya Lembang ini. Banyak wahana wisata rekreasi yang sifatnya senang-senang dan heboh, semuanya disukai turis. Ngehits banget lah pokoknya. Tapi kalau melihat Lembang lebih dekat ada Situs Batulonceng yang sunyi, ada perkebunan kopi, dan ada kualitas kopi di secangkir Kopi Arjuna. Diintegrasi itu semuanya bisa jadi paket wisata yang lebih 'kalem' dan berisi. Kalau datang ke De Ranch dan Farmhouse dianggap rekreasi melepas penat, ikutan jalan-jalan model begini buat saya jauh lebih rekreatif.

Kalau mau baca perjalanan saya lainnya bersama Lembang Heritage , tinggal klik di sini ya. 













Pintu masuk Situs Batulonceng
Rumah Batulonceng


Kuncen Situs Batulonceng, Pak Maman. Di sebelahnya adalah Pohon Saninten

Pohon Kopi Arabika 






Teks : Ulu
Foto : Indra, Ulu. Difoto dgn Lenovo A6000, edit dgn VSCO

Skywalk Cihampelas di Bandung, Beeeuhhhh Heboh Pisan!

02/02/17
Hari ke dua Skywalk Cihampelas dibuka untuk umum, saya datang ke sana. Lokasinya dekat rumah hahaha ☺

Memanfaatkan hari kerja dan jam yang kepagian, saya mampir ke Skywalk Cihampelas. Saya udah tahu sih ini tempat nama resminya Teras Cihampelas. Pas ke sana mah ya emang ada 11 terasnya. Berundak-undak gitu bentuknya dari 1 teras ke teras lain. Cuma dari awal kan gembar-gembornya Skywalk, ya udah keterusan saya sebut Skywalk Cihampelas. 




Mengalami proses pembuatan skywalk ini, rasanya stres juga. Jalan macet dan berdebu. Jalan Cihampelas kan jalur saya ke sana ke mari. Ada sih Jalan Siliwangi dan Sukajadi, ya sama macet juga lantaran daerah favorit komersil dan kampus-kampus ternama ada di sekitaran sini wkwkwwkwk.

Baca juga : Tips Ajak Anak Traveling Adalah Bersabar! Hahaha :D

Jalan Cihampelas sebenarnya jalan yang panjang. Titik paling ramenya ada di sekitar CiWalk (Cihampelas Walk). Padahal kalau ditarik garis panjang, Cihampelas ini memanjang sampai berpotongan dengan Pabrik Kina dekat stasiun. Tapi turis-turis mah tahunya Cihampelas teh ya daerah belanja baju murah, oleh-oleh, banyak hotel, dan tentu aja mall bernama CiWalk. 

Saya gak pernah bayangin wajah Jalan Cihampelas bakal begini. Ada 'terowongan' kayak sekarang. Masalahnya emang Jalan Cihampelas di sekitar CiWalk ini pelik juga sih. Gak ada trotoar karena lahan yang harusnya jadi trotoar jadi tempat parkir dan lahan jualan para PKL. Lebarin jalan pun gak mungkin karena di belakang Jalan Cihampelas kan sungai (namanya Ci Kapundung). Mindahin PKL, ke mana? Atau gak boleh ada kendaraan yang parkir kendaraan, terus parkirnya ke mana? Nah puyeng. 

Bertahun-tahun kondisinya ya dibiarkan saja. Tumbuh secara organik. Ada PKL ya dibiarkan. Ada yang parkir ya dibiarkan. Semrawut buat jalan kaki pokoknya mah. 

Mungkin itu sih alasannya RK bikin Skywalk ini. PKL dipindahin, jualan di Skywalk saja. Para pejalan kaki bisa agak leluasa jalan kaki di Jalan Cihampelas. Trafiknya terbagi di jalan dan di Skywalk. Pas saya ke sana sih belum semua PKL pindah ke Skywalk. Butuh waktu kali ya. Waktu untuk pindahan, juga waktu untuk berpikir heuheuheuheu....

Skywalk ini startnya ada di deket RS. Advent. Finishnya di seberang BJB (Bank Jabar) Cihampelas.

Proses pembuatan Skywalk yang tinggi dari jalannya sekitar 5,6 m ini juga beeeuh heboh bener. Udah mah bikin macet ya. Belum lagi melihat pepohonan dipangkas-pangkas. Gak tahu sih ada enggak pohon yang ditebang. Saya ingetnya sewaktu ada protes keras tentang penebangan pohon di Cihampelas ini, RK konfirmasi kalau pohonnya gak ditebang, tapi dipangkas untuk merapikan saja. Bentuk Skywalk juga disesuaikan dengan lokasi pohonnya. Tapi ya selalu ada yang protes mah. Saya juga awalnya ikut protes sih mengingat untuk trotoar di Jalan Riau tuh, deket Purnawarman, pepohonannya kan ditebang. 

Setelah ributnya proses pembuatan Skywalk yang proyeknya memakan dana 45 miliar ini, ya saya penasaran lah lihat hasilnya. Pergi ke Skywalk teh dalam rangka ngamatin hahahaha. 

Dan ternyata Skywalk yang panjangnya 500 m ini menyenangkan sih. Seru-seru aja. Skywalk ini macam trotoarnya Jalan Cihampelas. Bisa jalan kaki dengan leluasa. Bisa duduk-duduk. Bisa jajan nasi kuning atau batagor. Pepohonan masih lebat. Skywalknya juga cukup nyaman dan aman lah. Banyak kurangnya sih tapi saya pengen menikmati dulu lah. Mana ini tempat gratis juga. Bukan perkara orang Indonesia seneng gratisan sih. Tapi di sebuah kota yang jadi magnetnya turis dan tempat yang lucu-lucu ditiketin terus ada tempat begini lucu dan gratis ya rasanya warga teh masih dianggap lah gitu.

Toilet ada, keamanan ada, trek untuk orang-orang difable juga ada. Liftnya juga disediakan dan saya berharap yang pake bukan orang-orang kayak saya yang sehat kedua kakinya, tapi emang temen-temen difable dan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sepuh. Kita mah naik tangga aja lah.

Tangga naik turunnya ada di beberapa titik. Saya gak merhatiin di mana aja selain starting point dan finishnya euy wkwkwkwk. Ntar ya saya balik lagi saya perhatiin bener-bener deh. 

Skywalk pasti menyedot banyak turis juga sih. Ya gak apa-apa. Toh gak setiap hari mereka bisa datang ke sini. Kalau pengen rada sepi mah datangnya pagi hari di jam kerja. Atau pas hujan wkwkwkwk karena di sini gak ada tempat berteduh, kalau hujan pasti sepi sih :D

Cuma yang jadi PR sekarang, kalau banyak orang datang ke sini pengen ke Skywalk terus mereka menumpang kendaraan pribadi, parkirnya di mana wkwkwkwkwk. Kalau motor ya agak fleksibel sih bisa di Jalan Sastra atau di parkiran CiWalk. Tapi kalau pada parkir di pinggir Jalan Cihampelas ya nyusahin orang lain juga. Kalau mobil gimana tuh, ribet soalnya hehehe. Yang pada mulanya ingin mengurai kemacetan, tetep aja bakalnya macet kalau banyak yang ke sini dengan kendaraan pribadinya.

Aslinya sih saya kalau lewat Cihampelas dan lihat proses pembuatan Skywalk ini rasanya agak sedih. Wajah Cihampelas berubah banget dan rasanya kayak ada yang hilang. Tapi di sisi lain emang butuh trotoar sih.

Yah sementara itu mah mari dinikmati dulu Skywalk Cihampelasnya. Lebih detail tentang Skywalknya, baca di tulisan Skywalk Cihampelas: parkir di mana, enaknya hari apa ke sana, tangganya di sebelah mana, boleh bawa sepeda gak, hotel terdekat apa, dll. 

Mungkin saya balik lagi ke sini. Pengen tahu juga kalau malam hari di sini bagaimana rasanya. Aman gak, terang gak. Mau foto-foto lagi dan meratiin tangga naiknya di mana aja. Selamat menikmati foto-fotonya yak, saya moto pake kamera hape euy jadi ya begini. 




















Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan smartphone Lenovo A6000

Imlek di Bandung: Kirab Cap Go Meh yang Mengharukan

27/01/17
Berikut ini adalah cerita lama yang asalnya dari tahun 2011. Melihat perayaan Tahun Baru Cina (Imlek) belum pernah saya lakukan selain mengintip dari luar klenteng saja. Berkunjung ke kota lain yang merayakan Imlek secara besar-besaran pun sama sekali belum saya pikirkan. Namun pada enam tahun lalu itu ada perayaan Imlek yang berbeda di Bandung.

Untuk pertama kalinya sejak saya mendiami kota ini, saya melihat Kirab Cap Go Meh. Kirab Cap Go Meh merupakan puncak dari perayaan Imlek. Biasanya diselenggarakan 15 hari setelah Imlek. Kirab Cap Go Meh dilakukan dengan turun ke jalan dan berjalan membawa atribut khusus.

Di Bandung setahu saya gak ada perayaan Imlek secara meriah sih. Palingan di klenteng masing-masing atau di tempat-tempat komersil. Tapi festivalnya seingat saya tidak ada. Kirab Cap Go Meh ini adalah acara yang termeriah dari perayaan Imlek di Bandung.




Bukan saja menontonnya, saya mengikuti kirabnya sejak awal mulai hingga acara selesai. Rupanya bukan saja perayaan tersebut jadi yang pertama untuk saya. Bagi umat yang menjalankan perayaan Imlek, Kirab Cap Go Meh di Bandung tahun 2011 merupakan kirab pertama setelah hampir 44 tahun ketiadaannya.

Begini ceritanya.


Berjalan Mengikuti Kirab Cap Go Meh


Di tepi Jalan Cibadak sore itu, dua porsi baso tahu siomay tandas, dua gelas air teh tawar habis. Bekal untuk perut saya dan Indra sudah cukup. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Saatnya meleburkan diri ke dalam sebuah pawai yang saya pikir pada mulanya biasa saja, tapi ternyata memberi kesan yang dalam dan mengharukan.  

Ratusan orang mengenakan pakaian merah-merah di ujung Jalan Cibadak, di depan Vihara Dharma Ramsi. Ratusan orang lainnya berdiri di pinggir jalan hendak menonton pawai tersebut. Pawai yang saya maksud adalah Kirab Cap Go Meh. 

Kamera siap bekerja, kaki-kaki kami siap berjalan dan berlari mengikuti pawai Cap Go Meh. Melihat lautan manusia yang memenuhi jalanan, ponsel dan dompet kami simpan dalam ransel. Tidak ada waktu untuk update status ke Twitter dan Facebook, pikir saya waktu itu. 

Sebelum saya berangkat mengikuti dan menonton pawai Kirab Cap Go Meh, saya membaca sebuah headline portal berita. Perayaan Imlek di tahun 2011 adalah perayaan besar pertama sejak pelarangan Imlek oleh rezim Soeharto di tahun 1967.




Berbeda dengan penganut Konghucu di daerah pesisir. Mereka secara terbuka sudah merayakan Imlek dengan ramai dan mengadakan Kirab Cap Go Meh sejak Presiden Gusdur mencabut Inpres no 14/1967 tentang pelarangan Imlek, di tahun 2001. Sementara di Bandung, perayaan Imlek sudah dilakukan tapi Kirab Cap Go Meh di tahun 2011 adalah kirab pertama kalinya sejak tahun munculnya Inpres itu. 

Mengetahui hal tersebut, saya pikir sayang banget kalau saya melewatkan Kirab Cap Go Meh. Lha bayangkan saja perasaan kamu (kalau kamu muslim) bila dilarang merayakan Lebaran, gak boleh takbiran, dan gak boleh sholat Id di muka publik selama puluhan tahun, bagaimana rasanya?

Jadi bagaikan kembang yang layu dan kembali segar, seperti itu lah kesan yang saya dapatkan sewaktu melihat Kirab Cap Gomeh di Bandung tahun 2011.

Suasananya riuh sekali. Seperti kenduri ala orang kaya zaman dahulu. Ramainya luar biasa. Meriah tiada tara. Ada yang memukul gong. Pasukan Barongsai mulai beratraksi. Liong ditegakkan. Kio mulai diayun-ayun. Wangi hio bertebaran. Musik khas Tionghoa bertabuh keras sekali, gendang ditabuh kuat-kuat dan kompak. Jantung saya berdebar-debar karena terbawa suasananya.


Liong dan Barongsai, Favorit Saya!


Saya tidak tahu atribut yang diarak selama kirab apa artinya. Baru di rumah saya mencari tahu via mecin pencari. Misalnya saja Liong yang bentuknya kepala naga dan badan ular adalah penolak bala, membawa perlindungan, berkah, dan keselamatan.

Terlepas dari maknanya, secara umum saya menikmati arak-arakan Cap Go Meh karena Liong itu sangatlah indah sekali! Warna-warni Liongnya, dominan merah, kuning, dan hijau. Orang yang membawa Liong jumlahnya lebih dari lima. Mereka semua bergerak seperti menari, kompak sekali. Liongnya meliuk-meliuk. Ular naga yang rupawan!






Belum lagi orang yang menggotong-gotong Kio. Kio ini semacam panggung kecil, pada bagian tengahnya terdapat dewa-dewi. Bukan hanya pria yang menggotong Kio, wanita juga. Bahkan banyak ibu-ibu dan wanita manula ikut-ikutan membawa Kio dong. Wadooow! Terbayang beratnya. Namun mereka nampak bahagia dan senang saja. Woow!

Juga ada sosok yang bentuknya besar dan tinggi. Rupanya jelek sekali, menyeramkan seperti hantu. Saya lupa istilah khusus dari makhluk ini. Sepertinya dia ini makhluk antagonis.




Barongsai tentu saja jadi favorit. Bukan saja jadi kesukaan saya, tapi banyak orang lainnya. Sering saya temui Barongsai diajak berfoto bersama. Hahaha seru. Eits, saya juga bawa angpao dong. Saya kasih-kasihin ke Barongsainya. Ternyata ngasih angpao ke Barongsai menimbulkan sensasi yang lucu banget. Ya senang ya lucu. Sayang saya gak bawa tali pancingan, saya lihat gak sedikit yang memberi angpao dengan tali pancing. Angpaonya ditempatkan di ujung tali dan ditarik ke atas agar Barongsainya kesusahan ngambilnya dan loncat-loncat gitu jadinya. Hahaha seruuu!

Makin malam suasana kian semarak namun juga syahdu. Lampion menyala. Warna Liong dan Barongsai semakin mencolok berpendar-pendar.




Berhubung di Bandung masih ada beberapa bangunan tua, maka atraksi terbaik Kirab Cap Go Meh menurut saya kalau arak-arakannya melewati di depan gedung/rumah kuno. Belum lagi kalau rumah kunonya rumah khas arsitektur cina. Hwuidiihhh terbayang suasana Imlek di Bandung tahun 1930an saja.


Kirab Cap Go Meh di Bandung


Sudah jam 4 sore, jalan Cibadak dipenuhi manusia. Untuk berjalan pindah tempat berdiri susahnya bukan main. Harus pintar berkelit dari kaki-kaki yang berdiri, badan yang menghadang, dan tangan-tangan yang sibuk. Saya dan Indra sudah bertekad akan menyusuri kirab berbarengan dengan pesertanya. Kami memutuskan mengambil titik bersama rombongan paling depan agar tidak terseok-seok tergerus penonton yang membludak di sepanjang kirab.

Kira-kira jam setengah lima sore kirab mulai bergerak teratur. Langit cerah dan wajah-wajah peserta kirab bahagianya tak terperi. Dari anak-anak sampai dengan nenek-nenek dan para kakek, turun semua ke jalan. Senang sekali! 

Macet? ya sudah pasti. Hahaha. Bukan gara-gara kirabnya sih, melainkan Pemerintah Kota Bandung (waktu itu bukan Ridwan Kamil walikotanya) dan pihak polisi yang tidak melakukan sosialisasi penutupan jalan. Saya bersyukur tidak menjadi mereka yang kena macet dan tidak tahu ada apa gerangan ☺ 

Ya coba bayangkan saja, ini perayaan pertama setelah 44 tahun terabaikan, ya pasti ramailah! Komunitas Tionghoa di Bandung turun semua ke jalan. Jangankan orang Bandung, peserta kirabnya juga banyak yang berasal dari di kota-kota tetangga.

Jalur yang digunakan dalam Kirab Cap Go Meh ini adalah area yang banyak dihuni warga Bandung keturunan Tionghoa: Jalan Cibadak, Jalan Kelenteng, Jalan Kebon Jati, Jalan Otista, Jalan Sudirman, dan kembali ke Jalan Kelenteng.




Hampir semua rumah yang dihuni warga keturunan Tionghoa di pinggir jalan, pintu rumahnya dibuka. Beberapa di antaranya membuat altar kecil. Bukan hanya penganut Konghucu, umat muslim yang juga keturunan Tionghoa keluar rumahnya dan memberi angpao ke hampir semua peserta Kirab, utamanya Barongsai.

Saya berdiri bersama mereka dan melihat sendiri mata-mata yang sedang bahagia. Seperti sedang terharu. Generasi anak cucu mereka yang sebaya dengan saya pasti belum pernah melihat Kirab Cap Go Meh di Bandung. Bisa jadi ibu dan ayahnya juga harus plesir ke kota lain dulu untuk merayakan kirab. Tapi sekarang di Bandung pun sudah bisa berkirab. Horeeee! 

Pukul delapan malam, kirab berakhir. Bekal baso tahu siomay ampuh memberi tenaga kami berjalan dan berlari-lari mengejar arak-arakan peserta kirab yang sebentar diam beratraksi dan sebentar jalan cepat sekali. Usai mengikuti Kirab Cap Go Meh, saya dan Indra kembali mencari restoran dan hendak makan malam. Menu santapan kami waktu itu juga asalnya dari Cina: kwetiaw dan ifumi ☺

Indra menandaskan banyak makanan. Dia memang lapar sekali saking capeknya, karena tugasnya memotret (dan berjalan, sesekali berlari mengejar tempo peserta Kirab). Sementara saya memang lebih santai, hanya mengamati saja (dan tentu saja ikut berlari-lari, hahaha).


Melihat Perayaan Imlek di Kota Lain Bukan Cuma di Bandung? Mauuuu! 


Saya berjilbab dan saya melihat perayaan Imlek sebagai perayaan yang bukan melulu tentang perayaan agama. Saya muslim dan mengapresiasi perayaan tersebut sebagai sebuah budaya. Bagi penganutnya, Imlek berhubungan dengan tuhan dan para leluhurnya. Untuk saya, Imlek merupakan sebuah atraksi budaya yang sangat menarik, indah, sakral, dan magis.

Sejak Kirab Cap Go Meh 2011, saya menyimpan keinginan untuk melihat Festival Imlek Indonesia: di Semarang, Singkawang, Palembang, Cirebon, Surabaya, Lasem, termasuk sampai ke negeri Cina. Sampai saat itu tiba, saya masih setia melihat perayaan Imlek dan Kirab Cap Go Meh di Bandung.

Sejak tahun 2011, tidak tiap tahun Kirab Cap Go Meh diselenggarakan di kota Bandung. Namun bila pengumuman akan diadakannya Kirab Cap Go Meh sudah muncul, saya selalu menyediakan waktu untuk melihatnya.

Kalau kamu ingin melihat perayaan Imlek, coba cek jadwal di kotamu. Beberapa kota biasanya secara berkala mengadakan perayaan Imlek.

Selamat Tahun Baru Cina. Selamat datang, Tahun Ayam Api!






Teks : Nurul Ulu
Foto: Indra Yudha


Halo!

22/01/17
Tulisan pertama untuk blog ini di tahun 2017. Mood ngeblog lagi gak bagus, hilang gitu. Jenuh, mungkin. Sekarang sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan saja. Memberi jarak dengan blog sendiri, supaya kembali dengan kondisi semangat. Dan semangatnya mulai muncul dikit demi sedikit. Hehehe. 

Bila kamu memiliki akun Instagram, di sanalah kabar Bandung Diary secara berkala masih dapat diikuti selama blog ini hiatus hampir tiga minggu. 

Awal Januari kami plesir ke Cirebon dan Indramayu. Sudah niat ingin menyusuri bangunan tua di Cirebon, senangnya misi tersebut dapat tercapai. Cirebon memiliki banyak rumah kuno yang aduhai istimewa nian rupanya. 




Kembali ke Bandung. 

Beberapa hari setelah kembali dari Cirebon, kami hiking menyusuri rute Maribaya di Lembang ke Dago Pakar. Sengaja, ingin menghirup lagi udara pegunungan yang sejuk dan asri meski nampaknya sebagian dari trek yang saya susuri itu sudah gak seasri dulu. 

Saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum Pendidikan Nasional. Juga akan menulis resensi sebuah hotel lama yang super recommended yang terletak di Dago. Ah saya juga pernah berjanji akan memaparkan beberapa buku yang saya baca di tahun 2016, tanggal sudah bergulir ke angka 22 di tahun 2017 dan janji tersebut belum saya tunaikan. 

Pukul delapan malam minggu, sedang suntuk kami bertiga ingin jalan-jalan santai. Karena sedang butuh raket tenis (bekas saja), kami datang ke sebuah toko barang bekas yang berlokasi di Jalan Riau. Rumah tua, barang-barang bekas semua. Bbrrrrr....saya meremang di lantai dua. Serem :D Barangnya bagus-bagus, mungkin kami akan kembali. Perkara seramnya mah bumbu saja hehehe. 

Tahun ini ada beberapa kota yang ingin (sekali pake banget kuadrat sepuluh!) saya sambangi. Semoga tercapai. 

Seminggu yang lalu, saya mengikuti workshop fotografi khusus Human Interest yang dimentori oleh fotografer kawakan Budhi Ipoeng. Saya gak sengaja ikutan acara ini, karena diajak seorang teman baik saja. Namun saya sangat senang karena paparan Pak Ipoeng tentang fotografi sangatlah menyenangkan dan membuka cakrawala saya akan tema human interest. Selalu membahagiakan mendengar kisah dan petuah dari fotografer yang lahir di zaman kamera analog. Sejenis orang yang menganggap kamera bukan barang keren tapi sebuah alat saja, media untuk berkarya. Orang-orang yang menerapkan praktek one-shoot-one-kill. Orang yang pernah motret secara profesional dengan roll film. Nanti saya ceritain ya apa yang Pak Ipoeng bahas di workshopnya, di artikel khusus #photographytalk. 

Playlist akan saya tambah. Lagunya ya masih gitu-gitu aja hahaha. 




Di Instagram, saya mengikuti perjalanan seorang teman di Jepang. Pimpi nama teman saya. Dia memiliki usaha craft shop di Indonesia, Sawo Kecik namanya. Kalau melihat hasil karyanya, buat saya Pimpi adalah seorang seniman. Dia sedang mendalami teknik Katazome (browsing sendiri Katazome apa ya :D). Kalau baca di akun IG miliknya, Pimpi cerita sudah menerapkan teknik ini pada prakarya yang ia buat setahun belakangan. Dan awal Januari lalu dia ke Jepang untuk belajar Katazome. Serunya melihat perjalanan Pimpi. Datang ke kota-kota kecil untuk berguru pada sensei-sensei yang juga khusus berkarya dengan Katazome. Seneng aja gitu baca ceritanya Pimpi yang tulus, happy, dan memberi sudut pandang baru pada sebuah kegiatan bernama traveling. Jenuh lihat orang-orang unggah foto pemandangan epik dan menclok ke sana-sini dengan tujuan jalan-jalan tok pengen kekinian lah, pengen bertualang lah :D Baca ceritanya Pimpi mah beda, saya jadi agak malu juga sih karena jadi refleksi ke diri sendiri saya traveling buat apaan. Hahaha :D apeeeuuu. 

Hmmm... apalagi ya....

Oh iya. Jadi beberapa hari lalu saya dalam perjalanan dari utara Bandung ke selatan. 28 km saja jaraknya. Sore waktu itu sangatlah dramatis. Gradasi warna kuning, merah muda, dan oranye bersatu dengan warna kelabu dan putih. Senja yang indah, lembayung yang magis. 

Terpikir untuk menghentikan kendaraan yang sedang Indra pacu. Tapi sedetik kemudian saya berpikir, kenapa segala yang saya lihat harus saya foto. Buat apa. Mau dimasukin ke IG? terus kalau udah diunggah apa yang saya rasain, seneng? bangga? 

Terus saya diam saja. Kendaraan melaju, lembayung tertarik berkebalikan arah dengan saya. Berkas-berkasnya masih ada dan tajam warnanya. Lalu saya teringat ayah saya. Dua tahun lalu beliau wafat, tiap kali saya melihat pemandangan-pemandangan magis seperti senja itu, saya selalu ingat padanya. Memang agak aneh, kontradiktif sekali. Pemandangannya indah, tapi sayanya sedih. Saya suka mikir kalau ayah saya ada di sana sekarang, di angkasa, di lautan, di pucuk-pucuk pepohonan yang tinggi dan rindang. Indah tapi tak tergapai, hanya bisa dirasakan saja. 

Ya mungkin sama seperti kalau sedang hujan dalam keadaan ideal, menimbulkan perasaan romantis. Namun yang saya rasakan seiring bertambah umur, romantis adalah istilah yang banyak sayapnya. Iya, Januari ini saya bertambah tua. 

Selamat hari lahir, Ulu. 






Teks : Ulu
Foto : Ulu