Social Media

Image Slider

Showing posts with label Malang. Show all posts
Showing posts with label Malang. Show all posts

Edan Euy Jatim Park 2 Seru Banget!

14/02/19
Saya belon cerita kesan-kesan main ke Jatim Park 2. Kalo dijabarkan dalam satu kalimat kita-kira bunyinya gini: PARAH GILA KAMU KUDU KE SANA WAHANANYA GAK ABIS-ABIS SERU AAARRGGHHHHHHHH!

Satu hari di Malang kami persembahkan khusus untuk senang-senang di Jatim Park 2. Enggak deng. Pagi-pagi nyari kebon apel dulu, Farah dan anak-anaknya mau metik apel. Nah jam 10 kami cabut ke Jatim Park 2.

Lihat jam tangan, belon jam 11 sih. Kami udah masuk ke Jatim Park 2. Saya belon browsing ini tempat kayak gimana. Farah bilang seru. Ya udah ngikut ajalah. Kami beli tiket masing-masing seingat saya 120ribu/orang untuk masuk kebon binatang, wahana fantasi, dan museum jatim park.

Dalam hati sih ya berguman buset mahal juga ini emang ada apaan dalemnya.

Terus masuk ke kebon binatang dulu. HWUDIIWWWWW! satwanya gak cuma sehat tapi juga unik-unik! Niat banget ngumpulin hewan-hewan cantik dari sudut dunia dan bawa ke Malang. Saya gak tahu sih mereka langka atau enggak. Tapi ya udahlah jangan mikir banyak kayak biasa, dinikmati aja dulu. Heuheu.

Kebon binatang di sini membuat kebon binatang di Bandung kelihatan sangat buruk.

Nah abis itu barulah masuk ke wahana favorit saya dan Farah dan anak-anak. Wahana Fantasi. Benerin kalo salah nama :D

OMG di sini gak bisa berhenti main. Gak hanya anak-anak, saya dan Farah juga naikin hampir semua permainannya kayak orang gila. Gak berhenti wkwkwkwk. Tapi khusus yang boleh ditumpangi orang dewasa lho ya. Sebab ada tuh permainan yang buat anak kecil doang.

Kalo diperhatiin, di sini permainannya sederhana. Gak fancy dan gak bombastis kayak -kalo kamu pernah lihat atau ke sana- Universal Studio (USS) dan Dufan. Farah yang warga lokal Singapura dan bolak-balik ke USS dan Legoland aja muji-muji Jatim Park 2 ini. Sangat memuaskan, katanya.

Kata Farah, di jatim park enak antrinya gak lama. Mainan mah mirip sih, kemasan doang yang beda, di Singapur mah lebih mewah, kata dia. Tapi antrinya panjang, malesin. Lanjutnya lagi.




Saya naikin banyak wahana tapi ada tiga yang saya ingat banget. Tsunami, kayak tornado kalo di Dufan. Bombomcar saya naikin bolak-balik 10x, dan rollercoaster versi kampung wkwkwkwwk.

Aduh gila seru banget. Tahu-tahu udah jam 5 sore dan kami belon ke museum! buru-buru deh tuh ke museum, karena di wahana fantasi udah pada tutup.

Museumnya gimana? PARAH NIAT AMAT YANG BIKIN JATIM PARK!

Koleksi museum bagus-bagus. Tiap koleksi ada scanbarcode, jadi kamu bisa baca keterangan lebih banyak via smartphone. Display juga kayak diperhatiin beneran. Kayak misalnya koleksi satwa di Afrika, dikasih miniatur padang Afrika. Terus beruang di Antartika, ada tuh 3D bentuk gunung es dan beruangnya. Apalagi sok? display kebakaran di hutan juga ada! Bukan foto lho ya tapi 3D.

Megah. Mewah. Canggih. Detail.

Aduh saya kehabisan kata mau ceritain gimana lagi ahahaha. Nya kitu pokonamah kudu kaditu barudak pasti reusepeun! kitu oge ibuna bapana.

Bila mencari kota untuk berlibur dengan anak-anak, Malang pilihan yang oke. Selain kota-kota kayak Bali dan Jogjakarta, juga Bandung itu sendiri. Tapi menurut saya mah Malang -di Batu khususnya- ngasi level liburan yang berbeda.

Walo senang, bagian prihatin juga ada. Pulang dari Jatim Park 2 kami order Gocar. Di jalan saya bertanya padanya tentang Malang yang jadi idola turis.

Malang tambah macet, katanya.
Kalo wiken jangan ke Batu, katanya.
Jatim Park gak cuma ada satu, tapi ada 3, katanya.

Saya ngerti banget. Secara rumah saya di Setiabudi. Mau nonton ke CiWalk aja mendingan saya ambil jam malem banget. Mau ke mana-mana mending naik gojek karena angkot kena macet. Lembang jadi primadona, tapi bagi kami warga lokal, Lembang adalah tempat yang kami hindari bila musim libur tiba.

Sama aja di mana-mana. Pertumbuhan ekonomi diikuti masalah-masalah sosial yang menimpa warga lokalnya. Emang gak ada solusi untuk ini ya?

Ada perasaan gak enak nyelip sewaktu denger curhatan sopir gocar. Namun di satu sisi saya lagi seneng dan terkesan dengan Jatim Park 2 ini. Serba salah heuheuheu.

Oiya, sori foto gak banyak. Satu dulu. Gak banyak foto-foto di sana juga sih lagian. Saking sibuknya main khekhekehkhe :D

Jalan Kaki Tujuh Kilometer (Bromo Trip Story 3)

10/02/19
Gini ya, kalo umur kamu kepala tiga dan gak pernah (ulangi: GAK PERNAH) olahraga, doyan makan indomie, gak bisa hidup tanpa nasi, maka ini tips terbaik bila ingin menggapai puncak Bromo: sewa kuda.

Hanya 3,5 km jarak dari parkiran jeep ke Puncak Bromo. Tapi jalannya gak santai. Bukan hanya debu dan tahi kering kuda beterbangan, namanya jalan ke puncak pasti nanjak. Sebuah fakta yang saya abaikan. Wk.

Puncak Bromo adalah tujuan terakhir dalam susunan perjalanan kami di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.



Farah dan saya berunding cepat. Keputusan kami begini. anak-anak ikut jalan kaki bentar sampe tanjakan yang nyusahin. Lantas kami sewa kuda. Anak-anak naik kuda. Kami berdua jalan kaki.

Beneran nih jalan kaki aja? bisik saya dalam hati pada diri sendiri. Orang yang jalan kaki ada banyak gak hanya kami. Kalau mereka bisa, kami juga dong.

Begitulah prinsip bego kami. Wkwkwkwkwk.

Jadilah itu 3,5 kilometer terpanjang dalam hidup saya! Setelah pendakian ke Gunung Lawu dan tersesat di Jayagiri, mencapai Puncak Bromo adalah pencapaian membanggakan yang terjadi dalam sejarah hidup saya nih hahahaha.

Saya dan Farah tadinya jalan beriringan. Pas di bagian nanjak-nanjak mah kami terpisah jauuuhhh sekali hahaha. Ada kali 500 m. Saya di depan, Farah terseok-seok di belakang.

Namun benar kalo ada yang bilang, jalan kaki membuat kita melihat lebih dekat. Benar sekali.

Jalan yang tadinya datar, pelan-pelan menanjak konturnya. Sepertinya saya menaiki bongkahan bekas lava. Sulur-sulur bekas lavanya terlihat jelas sekali. Eksotis luar biasa.

Makin tinggi dataran, saya berbalik dan menyaksikan panorama di bawah sana. Mata menyapu semua lanskap taman nasional ini. Pemandangan makin indah. Luar biasa fantastis. Eksotis. Saturasi warna langit yang biru sempurna, hitam abu-abu dari pasir Bromo, hijau-hijau pepohonan di atas tebing, dan Pura Luhur Poten yang menambah aroma sakral.



Duh Ya Allah makasih udah bawa saya ke sini.

Namun di Puncak Bromo, saya kecewa di sana. Segala daya dikerahkan meniti tanjakan dan ratusan tangga, begitu sampai di bibir kawah ada banyak sampah di tebingnya. Pagar pembatas rusak.

Sudah begini saja? dalam hati saya bilang. Untuk semua keagungan yang saya saksikan selama perjalanan ini, begini saja akhirnya?

Di puncak itu saya bertiga dengan Nabil dan Byan. Keduanya masih kecil-kecil dan tenaga masih penuh. Saya ajak mereka turun saja. Loncat-loncat mereka, bisa terjun bebas ke kawah Bromo. Duh ngilu-ngilu kaki ini. Bila pagar pembatas utuh, kayaknya saya gak akan separno itu sih.

Saya yang berlebihan atau wajar kalo kecewa gak sih?

Mulai dari bau pesing di mulut tangga, tangga yang gak kerawat, lantas pagar pembatas yang putus-putus, sampah bertebaran di tebing kawah.

Perjalanan yang antiklimaks. Masih menyenangkan memang.

Seperti biasa kalo dalam perjalanan pulang, ada perasaan sentimentil yang bermunculan. Ya senang, ya sedih, ya kecewa, juga ada perasaan asing di antara itu semua. Tidak sampai 24 jam saya ada di taman nasional ini dan karenanya rasanya asing aja gitu.

Di dalam jeep, saya melihat Bromo dari jendela belakang. Pertunjukan wisata alam selesai. Kami berpamitan dalam hati.

Selesai.

Serius Namanya Bukit Teletubies?! (Bromo Trip Story 2)

23/01/19
Kita yang terlalu malas mencari nama atau otak kita segitu-gitu aja kemampuan berpikirnya?

Serius nama tempatnya Bukit Teletubies? Segitu noraknya nama yang disematkan pada sebuah area perbukitan di Bromo yang maha agung itu dan nama Teletubies yang kalian taro di sana? WWWHHHHHAAATTTTTT THEEEEEEEEE FUUUUUU*******KKK!

Tunggu. Kita mundur dulu ceritanya ke Pasir Berbisik. Saya masih bahas Bromo Trip. Ini catatan ke-2. Bagian pertama bisa di baca di Menggenggam Matahari Terbit.


Saya punya banyak pertanyaan untuk sopir jeep sewaan. Tapi dilihat dari gelagat dan jawabannya yang pendek-pendek, saya putuskan diam saja. Pernah ketemu orang yang sudah bosan bekerja karena pekerjaan (menurutnya) begitu-begitu saja? Nah begitulah kesan saya pada sopir bertubuh gempal itu. 

Jadi dalam susunan perjalanan kami di Bromo, setelah melihat sunrise kami diajak ke tempat-tempat bernama ini: Pasir Berbisik, Bukit Teletubies, padang savana, barulah ke puncak Bromo. Cuaca cerah. Langitnya bagus dan kabut yang tadi merayap sudah hilang ditimpa sinar matahari.

Memasuki area Bromo yang banyak pasir, bukit, dan savananya, saya amati seperti sedang di kuali saja. Seperti sedang di kawah. Iya, saya yang ada di dalam kawahnya. Ini sewaktu-waktu Bromo mbeledos, habislah saya dimakan kuah lava :D

Baiklah. Saya mulai aja review-review penuh emosi ini dari Pasir Berbisik ya.



Di Pasir Berbisik itu saya masih gak ngerti ngapain di sana hahahaha. Gini, lihat pemandangan ya sudah pasti. Menikmatinya ya tentu saja. Tapi apa itu maksudnya pasir berbisik? iya tahu itu diambil dari nama filmnya Dian Sastro. Di bagian mana berisiknya, kapan, fenomena apa itu, gimana mulanya bisa begitu.

Farah bilang seharusnya saya jalan-jalan ditemani geolog. Hahaha. Duh tapi bisa kan menghapal informasi dasar 5W+1H euy.

Nabil, Dhila, dan Byan, trio kwek-kwek itu amat sangat senang dengan Pasir Berbisik. Mereka lari-lari gak berhenti. Anak-anak memang lebih jago menikmati pemandangan, orang dewasa berusaha menghayati tapi jatohnya jadi sok pinter (ya! saya maksudnya!).

Sampai di mana tadi? oh lautan pasir.

Bukit Teletubies berikutnya. Hadeuh menulis namanya saja saya agak enggan nih. Tapi panoramanya...waduh...bikin hati riang dan terkagum-kagum!

oh ternyata teletubbies, dengan dua huruf b :D 


Sekeliling saya gak hanya bukit tapi juga tebing-tebing raksasa. Hijau warnanya. Musim hujan memberi rona warna kesuburan. Semua orang sibuk berfoto, termasuk saya. Indah sekali memang. Pemandangan yang bikin rusak ya kita-kita ini, manusianya heuheuheueheu.

Untuk pemandangan semahaindah itu, betapa kerdil nama teletubies. Memangnya gak ada istilah-istilah dalam jawa kuno yang sepadan dengan bentangan alam di sana ya...*cukup ngomel-ngomelnya, uluuuu!*

Baiklah.

Di padang savana inilah...Bromo ini gak ada habisnya-habisnya bikin hati saya berdecak kagum. Itu rumput dari hijau, kuning, dan merah ada semua warnanya. Gabungkan semuanya jadi satu, saturasi warnanya memukau sekali! Ya Allah saya sampe mikir apa iya saya ada di Bromo dan kenapa saya beruntung sekali bisa ada di sana...



Betapa mudahnya berwisata alam di Bromo. Keluar dari jeep, jalan dikit, nyampelah. Area pegunungan ini gak memberi medan sulit layaknya gunung-gunung. Begitu pikir saya pada mulanya.

Sampai saya meniti jalan di tujuan terakhir nanti.

Kemudahan-kemudahan yang kami alami di sana digilas habis dengan perjalanan menuju puncak Bromo. Di sini saya merasa modyaaaarrrrr! Modar gimana nih maksudnya?



(bersambung)

Menggenggam Matahari Terbit (Bromo Trip Story 1)

20/01/19
Saya belum cerita tentang perjalanan kami di Bromo.

Saya dan Nabil gak jalan-jalan berdua aja. Kami diajak Farah, teman kuliah saya yang bermukim di Singapura. Dia juga bawa anaknya, dua-duanya.

Saya berangkat dari Bandung, Farah dari Singapura. Kami janjian ketemu di Surabaya. Agak selow, Farah pengen lihat di Jembatan Suramadu. Ke sanalah kami sebentar saja. Menginjak tanah Madura yang tandus. Untuk berfoto. Ya berfoto saja.

Setelah itu barulah tancap gas menuju Bromo via Pasuruan. Aduh jangan ditanya ya perasaan saya gimana lewatin Pasuruan. Pengennya mah turun dari mobil dan moto rumah-rumah tua di sana yang cantik banget! pengennya mah nongkrong dulu di Alun-alun Pasuruan!

Tapi gak bisa :D Sebab sudah pukul dua siang dan Farah yang mengorganisir perjalanan ini. Saya mah tahu beres aja (tengkyu, Far!).

Pendek kata, berbekal googlemap kami menempuh jalan menuju Tosari, lokasi homestay kami berada. Desa Tosari gak jauh dari Bromo. Waktu tempuh dari pintu gerbang taman nasional Bromo Tengger dari homestay cuma 30 menit saja.

Sopir sewaan saya, ia gak tahu jalan menuju Tosari. Kami apalagi.

Satu hal yang tidak kami ketahui, Tosari ini adalah kampung di puncak pegunungan. Hasilnya, dua jam perjalanan kami tempuh dengan perut teraduk-aduk isinya. Sebab jalannya gak ada yang lurus. Tapi berbelok semua. Untunglah saya selamat gak sampai muntah wkwkwkwk. Karena biasanya ketemu jalan kayak gitu mah isi lambung saya keluar semua :D




Bagian terbaik dan terburuk ada di satu jam terakhir mencapai penginapan. Hujan turun. Gak besar, tapi menambah suasana kelam aja. Lampu jalan ada banyak. Rambu jalan lengkap. Kondisi jalan mulus. Dan ada marka jalan.

Hujan masih turun. Pepohonan berderai-derai. Kabut memeluk. Jalanan gak lagi berbelok-belok, tapi menanjak dan menurun tajam.

Sampai di homestay, waduh rasanya lega luar biasa. Pukul 6 sore waktu itu, rasanya seperti jam 8 malam. Bergegas kami masuk kamar, bongkar tas, cari baju ganti, mandi. Lantas makan.

Anak-anak sudah tidur sementara saya dan Farah saling curhat sampai jam 11 malam. Baru deh tidur. Jam 2 sudah bangun lagi bersiap nonton sunrise di Bromo.

Anak-anak ribet gak diajak ke Bromo? Enggak sama sekali.

Jam 3 subuh udah bersiap, jeep menjemput. Seseorang (yang sepertinya warga lokal) berdiri di depan homestay kami. Rupanya jualan topi dan syal. Waduh saya kan kasihan, dini hari dia udah nongkrong depan homestay berharap kami beli barang dagangannya. Mana gak ada yang nginep selain kami.

Saya beli aja dah kupluknya. Gak nawar. Farah protes. Ya gimana dong saya gak biasa nawar-nawaran wkwkwkwk. Kepikiran aja itu si bapak udah berdiri ngarep-ngarep ada yang beli kan. Kupluk harga 25ribu itu udah saya kasih ke sepupunya Nabil sih. Gak kepake kalo di Bandung. Terlalu tebal.


Menuju Bukit, Menyaksikan Matahari Terbit

Bromo jam 4 subuh penuuuuuh banget! Gila. Jeep sepanjang jalan. Manusia di mana-mana. Ini kita ganggu habitat hutan gak sih kok gini amat penuhnya.

Jeep sewaan parkir di bawah dan kami berjalan hingga kaki bukit. Setengah lima subuh, kami sudah duduk nyaman di sebuah puncak. Entah puncak apa, kami ikuti aja orang-orang berjalan.

Terdengar suara bayi, anak-anak menangis (anak orang bukan anak kami). Hingga pukul lima, makin berjejalan. Nabil kedinginan dan mulai merengek. Kami berpelukan. Saya juga mengigil apalagi anak kecil.

Lantas, gelombang manusia masih berdatangan. Semua orang ingin duduk di posisi paling depan. Saya pikir posisi kami sudah strategis. Sampai datang lagi turis lainnya dan berdiri di depan kami.

Menikmati pemandangan matahari terbit ini seperti pertandingan saja. Semua turis berlomba-lomba ingin paling dekat, ingin berfoto paling bagus, daaaan lain-lain. Menyebalkan. Saya bagaimana? Masih berdiri di posisi yang sama dan terhalang punggung orang lain.

Ada juga yang naik ke pagar. Naik ya, bukan duduk tapi di pagar itu mereka berdiri. BERDIRI. Wong edan manusia-manusia ini. Banal sekali.

Farah minta difotokan. Saya juga memotret diri sendiri. Gelap bergulir agak terang, saya turun mencari titik strategis memotret sunrisenya. Dapat memang. Tapi malahan muncul rasa terharu. Indah sekali pemandangannya. Satu menit kemudian baru saya foto.

Setelah itu ya sudah pemandangannya tinggal dinikmati tanpa kamera. Tapi masih susah duduk bersantai menikmatinya. Sebab orang-orang masih berdiri. Bila saya duduk, hanya lutut dan bokong yang nampak. Hahaha.

Saya harus cari uang lebih banyak. Niat kaya raya akhirnya satu aja: menggenggam matahari yang sedang terbit untuk diri sendiri, saya bungkus, saya bawa pulang. Kalo mau lihat lagi, tinggal buka aja bungkusnya.

Tertawa juga saya saat pikiran tersebut melintas. Sebab apa bedanya saya dengan mereka, sama-sama ingin menggenggam matahari untuk diri sendiri.

Kenapa ya manusia ini. Kejar-kejaran dengan alam. Tinggal duduk aja dinikmati suasananya. Kenapa harus berebutan, mengacung-acungkan tongkat swafoto seperti mencolok-colok langit. Monyet-monyet di hutan Bromo geleng-geleng kepala lihat kita.

Ada di sana menonton kebanalan manusia memang kesal. Tapi di satu sisi, panorama matahari terbit ini juga magis sekali. Matahari lahir di antara perbukitan. Kabut yang tadinya tebal, pelan menipis seperti selendang, ya memang bagai selendang. Sejauh mata memandang cuma bukit, savana, kabut, dan berkas matahari. Wah indahnya luar biasa. Membuat kamu merasa kecil dan gak berarti apa-apa.




Pukul enam langit sudah terang benderang. Barulah terlihat sebanyak apa manusia di sana. Banyak sekali hahaha. Ini apa, CiWalk atau Taman Nasional?

Ada warung, ada kamar mandi. Turis dimanjakan. Lapar tinggal jajan. Pengen pipis ada tempatnya. Taman Nasional Bromo Tengger ini beneran wisata kesukaan banyak orang.

Lima mangkuk mie rebus habis. Lima jagung bakar tandas. Farah bergegas, katanya ayo cepat. Kasihan sopir jeep udah nunggu. Tujuan berikutnya: Bukit Teletubbies katanya.

Hah? Bukit apa?




(bersambung)

Aventree Malang: Pertama Kali Menginap di Hotel Syariah!

13/10/18
Empat malam di kota Malang. Dua malam pertama di hotel Ubud Cottages. Abis itu saya dan Nabil pindah hotel. Dua malam terakhir kami menginap di penginapan berkonsep syariah di Aventree Malang.

Ini  nih -menginap di hotel syariah- pengalaman baru banget buat saya.

Bagi yang belum tahu apa itu hotel syariah, ya kira-kira ini hotelnya gak bakal nerima tamu berpasangan yang bukan muhrim/bukan suami istri. Juga di penginapannya menyajikan menu-menu halal. Mestinya sih ada peralatan sholat di kamar tapi saya gak nemu di Aventree ini. Alquran juga rasanya gak ada. Mungkin saya kelewat juga ya gak terlalu merhatiin sebab sudah bawa peralatan ibadah sendiri.

Ya intinya mah hotel syariah adalah hotel yang menerapkan syariat islam. Kalau gak berjilbab dan menginap di sini boleh gak? harusnya sih bisa-bisa aja. Gak ada masalah dengan penampilan fisik mah.


aventree malang


Anyway balik lagi ke cerita kami.

Kenapa saya pindah hotel? cari yang tarifnya cocok ama uang sendiri dan ganti suasana.
Kenapa hotel syariah? itu yang pas dengan budget saya ahahaha.

Enggak itu aja sih. Saya cek foto hotelnya, foto kamarnya, dan baca reviewnya. Sepertinya hotel itu yang sesuai untuk saya yang sedang traveling berdua aja sama anak. Sama Nabil.

Mungkin juga karena efek menginap di hotel sebelumnya (bukan hotel aneh2 & lebih fancy dr Aventree), kamar saya sebelahan dengan kamar yang di dalamnya ada pasangan cowok cewek jam 10 malam lagi making love dan suaranya kenceng banget! Hahahaha. Seru sih dengernya mah ahahaha. Gila suaranya nembus ke kamar sebelah gitu ya. Saya sih gak masalah. Tapi saya gak bisa bayangin si Nabil mendengar itu. Hahaha. Untung Nabilnya udah tidur.

Jadi efek tersebut membawa saya pada pilihan menginap di hotel syariah.  Gak sengaja nemu hotelnya juga di Agoda pas sekrol-sekrol gitu. Ah ya udah deh menginap di Aventree Syariah Homestay aja.


aventree malang
pinjem foto dari Agoda (source)

Pas check in, KTP saya beneran dibaca dan ditanya-tanya nginep sama siapa. Berdua aja, Mba? sama anaknya? itu anaknya? gak sama suami?

Kayak interogasi tapi gak mengganggu kok. Mungkin karena ada label 'syariah' sehingga saya udah siap dengan pertanyaan-pertanyaan bersifat pribadi kayak gitu. Lagian jawabnya juga gampang. Iya, iya, iya, enggak. Hahaha. Toh gak ditanyain juga suaminya mana. Kalo ditanya pun saya jawab aja lagi kerja di Bandung :D

Tiga hari dua malam ditotal-total kalo gak salah ingat 500ribu. Sudah include breakfast. Kamarnya tipe deluxe.

Bagian menyenangkannya adalah kamarnya gak sempit! Walo dalam kondisi gak seger-seger amat, tapi kamarnya gak banyak cingcong sih. Sederhana bercat putih dengan furnitur kayu semua. Manis juga. Terus jendelanya guedeeeee! Saya suka jendela gede.

Bagian yang gak nyenengin adalah pegawainya tidak ramah dan tidak sigap.

Saya rinciin deh satu-satu penginapannya kayak gimana. Ini dia review Aventree Malang.

ROOM

Ranjang ukuran queen. Oke banget gak ada keluhan.
Televisinya menghasilkan gambar yang rumek. Matikan saja sebab gak ada yang bisa ditonton.
Wifi bagus! berseluncur saja di youtube :D
AC oke gak ada keluhan.
Penerangan lampu ya standar saja gak ada keluhan.

Satu dinding di sini berupa jendela. Makin seneng aja saya suka kaca yang besaaaaaar! Ada balkonnya juga walo pemandangannya gak bagus-bagus amat karena mengarah ke kafe Aventree. Tapi saya suka sih ada jendela dan balkon karena ngasih kesan ruangan gak pengap.


aventree malang
bukan foto yang bagus sih, kepotong pula foto kepala kasurnya :D
tapi ya begini kamarnya

Aventree Malang ini kan Barbeque House gitu di lantai utamanya, ya kafe ya restoran. Penginapan ada di lantai yang sama (lantai 1) dan lantai dua. Kamar yang saya inapi ada di lantai 2. Saya pikir wangi asap makanan bakal ke kamar karena lokasinya menyatu kan. Tapi engga tuh, kamar bebas asap masakan.

Bising gak? enggak. Ada suara pengunjung restoran, tapi buat saya gak ganggu. Mungkin karena saya di lantai 2 ya. Entah yang di lantai 1.

Kamar mandinya cukup-cukup aja.
Wastafel yang oke.
Shower yang berfungsi dengan baik.
Air panas yang lancar.
Amenities yang standar juga.
Kebersihan yang baik.
Handuk yang bersih.
Nyaman sih kamar mandinya gak sempit.


FOOD

Standar dan enak. Bukan sarapan yang mewah namun mengenyangkan dan menyenangkan. Sarapannya ada ruangan sendiri bukan di restoran/kafe.

Saya lupa sarapannya apa waktu itu. Kalau gak salah nasi goreng dan mie goreng. Ada roti selai juga. Ya standar aja begitu. Tapi rasanya enak :)


SERVICE

Saya sih mendapat kesan pegawai penginapan menghindar dari interaksi dengan tamu hotel. Kayak 'dingin' begitu.

Masih ingat saya pergi ke toko oleh-oleh dan kembali ke penginapan membawa satu kardus dan plastik besar. Tangan saya sibuk semua. Begitu mau masuk ke hotel, gak ada yang bukain pintunya. Padahal ada security dan satu orang di meja resepsionis. Kami bahkan sempat berpandangan dari luar (pintunya kaca, btw). Dalam hati saya bilang "bukain pintunya, bukain pintunya, bukain pintunya". Tapi enggak hahahaha.

Gak apa-apa. Gak sulit kok kayak masuk Alfamart aja gitu tinggal dorong pake badan udah kebuka. Tapi gestur-gestur kecil seremeh dibukain pintu itu sangat berkesan buat tamu hotel yang sedang bawa barang banyak.

Kalo pegawai Aventree Malang baca tulisan ini, jangan tersinggung ya :D Kalian sudah bekerja dengan baik, hanya saja level kepekaannya ditambahin biar tamu seneng begitu :D heuheuheu.

aventree malang
pojok kafenya Aventree

LOCATION

Bukan di pusat kota banget tapinya BANYAK TEMPAT MAKAN! Ramai sekali bila malam. Jangan takut kelaparan hahaha. Aventreenya sendiri kan restoran jadi bisa pesan makanan di sana. Saya pun begitu. Namun harganya tidak murah :D ya sama aja kayak jajan di kafe-kafe di Bandung sih.

Tiap bepergian keluar hotelnya, saya pesan grab/gojek. Gak mahal untuk menjangkau kota. Gak nyampe 15ribu.

Hanya saja: MALANG MACET JUGA YA! Mirip Bandung banget euy!


PRICE

Gak ada masalah. Buat yang satu malam 250ribuan ya masih oke. Kamarnya oke, makanan enak, service cukup. Jarak ke tempat jalan-jalan masih terjangkau dalam waktu cepat.

Aventree Syariah Homestay bukan hotel mewah tapi saya rekomendasikan buat temen-temen yang mau plesir ke Malang. Bukan yang terbaik sih emang. Ya cari-cari yang di situs online booking mana yang cocok. Kalau budget nginepnya 250rebuan+++ ya bisa lah menginap di Aventree Malang.

Aventree Syariah Homestay Malang
Jl Soekarno Hatta Blok B no. 4A


Hampa di Malang

17/04/18
Dari Bromo saya mampir ke Malang. Tiga hari lamanya di kota apel ini. Pertama-tama main di Jatim Park 2 tentu saja. Barulah di hari berikutnya mulai main di kota, menyusuri bangunan tuanya.




Seperti biasa, peta sudah di tangan. Rencana disiapkan. Saya dan Nabil berjalan kaki dengan titik mula di Pasar Besar Malang. Ke sana untuk makan sate klomoh yang legendaris. Tidak sulit cari warungnya yang mana. Pasarnya sepi gak seramai pasar yang saya bayangkan pada umumnya. 

Bisa jadi sayanya kesiangan ke pasar ya, jam 9.30 waktu itu. Sate Klomoh tiga tusuk cukup sudah. Ngobrol dengan dua ibu-ibu yang dulu pernah bermukim di Bandung. Tahun 90an katanya pernah tinggal di Jalan Suci. Balik ke Malang awal tahun 2000.

Saya pamit kepada ibu-ibu tersebut. Keluar pasar dan cek daftar kuliner yang mau saya coba.

Ketan bubuk. Saya cari-cari pedagangnya, dua orang yang saya tanya bilang saya kesiangan. Pedagangnya udah tutup lapak. Ah ya sudahlah. 

Saya ajak Nabil ke Museum Bentoel. Kali ini naik ojek online. Ternyata museumnya ada di sebelah pasar aja tinggal jalan dikit ahahahaha. Kesalnya belum berakhir. Museumnya tutup. Yaaah sudahlah.




Akhirnya berjalan kaki saja mengikuti rute di peta. Kira-kira dua jam kemudian kami mendarat di Toko Oen. 

Semestinya seorang teman baru menemani perjalanan saya di Malang ini. Namun mendadak ia harus lembur sehingga saya dan Nabil berjalan tanpa pegangan. Rasanya hampa banget jalan melihat-lihat bangunan kuno di Malang tanpa ditemani narator. Udah gitu harus nyebrang-nyebrang jalan aduh sejak tertabrak motor di Yogyakarta, saya trauma menyebrang sendiri :D 

Kira-kira di Jalan Tumapel, saya putuskan sewa ojek online lagi. Saya membayarnya lebih banyak untuk mengantar saya ke beberapa lokasi yang tercantum di peta. Ini sopir ojeknya keukeuh mau bawa saya dan Nabil ke Kampung Pelangi. 

Buat apa ke Kampung Pelangi, Mas? 
Buat foto-foto, Mbak.

Euuurrr... kami sudah berhenti di mulut masuk ke Kampung Pelangi dan saya dengan sedih harus menolak ajakannya. Sebab saya sudah punya tujuan sendiri dan kampung warna-warni seperti itu (dan semua yang dibuat untuk instagram) bukan favorit saya. Kecuali kampung yang di Kali Code. 

Hampa banget nih jalan di Malang. Kayak kurangnya banyak banget. Beda banget dengan perjalanan singkat di Blitar yang malahan terasa begitu 'penuh'. 

Saya udah bilang sih sama Indra, pengen balik lagi ke Malang. Main lagi di Jatim Park 2 (bagian kebun binatangnya mau saya lewatkan saja, lebih seru main di wahana fantasinya ahahahahaha). Tentu saja pengen lagi datengin bangunan kunonya. Nanti mah wajib ditemenin warga lokal biar gak garing. Biar gak hampa. Halah :D




Kesan saya terhadap kota ini adalah:

1. Dia gak sedingin Bandung. Malang 400++ mdpl kalau Bandung di 700++ mdpl.
2. Walo begitu Malang tetep adem, saya suka kotanya ehehehehe. Minimal mah abis makan teh teu kesangan kayak di Cirebon, Surabaya, atau Jakarta :D
2. Jalan-jalannya kecil mirip di Bandung. Dibikin searah juga terus belok-belok mulu ah lieur.
3. Waktu di Jalan Ijen, hwaduh rasanya kayak ketemu cinta lama, yaitu jalan Pasteur di Bandung sebelum ada Jalan Layang Pasupati. Mirip banget 99%. Rumah-rumah kuno di tepi jalan. Taman kecil sepanjang jalan di bagian tengah. Jalan rayanya terbagi dua dipisah taman. Pohon palem raja di sepanjang pinggir jalan. Duh jatuh cinta saya mah sama jalan Ijen.
4. Makanan jalanannya enak-enak.

Ini kota-kota adem begini memang jadi kecintaan.
Bandung difavoritkan Jakarta.
Malang juga disukai Surabaya.

Tapi...Malang kalau gak hati-hati dalam perencanaan kota, nasibnya bisa sama kayak Bandung. Macet menggila. Kawasan Batu itu tuh ya serupa Lembang. Tempat wisatanya banyak. Tapi ya gimana ya, saya aja datang ke Jatim Park 2 dan itu teh menyenangkan banget.

Cukup gak sih tempat wisata 1-2 aja. Gak usah ada Jatim Park 3, 4, 5, dst, dll, dsb. Maksudnya apa ya bikin banyak tempat wisata? memecah keramaian? mendatangkan uang lebih banyak? membuka lapangan kerja lebih hwedan sehingga warga lokal terpenuhi pendapatannya?

Kok saya merasa ada yang salah ya. Gak di Bandung, gak di Malang...

Sesampainya di Bandung, beberapa hari kemudian saya nonton berita di televisi. Walikota Malang ditangkap KPK...

Matahari Terbit di Bromo, Ada Wajah Ayah di Sana

01/04/18
Sejak ayah saya wafat empat tahun lalu, perasaan sentimentil saya makin parah kambuhnya begitu lihat pemandangan alam yang epik, mahaluas, dan tentu saja indah. 

Lihat matahari terbit, 
lekuk bulan purnama yang cerah, 
langit penuh bintang, 
garis kuning mentari terbenam, 
pucuk-pucuk pegunungan, 
pantai yang menawan dengan suara ombak yang berdesir, 
barisan pepohonan Asem dengan latar pesawahan membentang, 
dalam seporsi Nasi Lengko Pagongan dan semangkuk Gombyang Panorama... 

Di semua keindahan yang memukau itu saya melihat wajah ayah saya.


Kenapa bisa begitu, saya juga kurang tahu. Saya pikir orang-orang baik yang meninggal, mereka ditempatkan di tempat-tempat terbaik, terindah. Di sanalah ayah saya berada. 

Sejauh apapun jarak yang saya tempuh untuk menjangkaunya, rasanya gak pernah sampai benar-benar dekat. Ayah saya ada nun jauh di seberang sana. Selalu bersebrangan dengan saya, dipisah lembah, lautan, dan pegunungan juga angkasa. 

Jadi sewaktu hari itu, Sabtu 10 Maret 2018, saya ada di Bromo dan menyaksikan keagungan matahari terbit yang luar biasa menawan, saya nangis. Agak susah menahan air mata agar gak bercucuran seperti air di Curug Cimahi kala musim hujan, karena malu juga atuh banyak orang di sekitar saya :D 

Mata basah sebab rasanya ada ayah saya di ujung sana. Seolah-olah kami sedang saling memandang saja. Tidak terjangkau tapi saling berhubungan.

Untuk beberapa menit, saya lupa dengan kebisingan orang-orang yang berswafoto di sisi kanan dan kiri. Saya mencari titik penglihatan matahari yang gak tertutup kamera orang lain atau tubuh orang lain. Simpan kamera di saku celana dan menyerap semua energi yang saya tatap pagi itu. Syahdu, indah, magis, dan mengharukan. 

Untuk apa mencari-cari pemandangan yang maha indah, ternyata empat tahun belakangan alasannya baru saya temukan. Untuk 'bertemu' ayah saya.