Matahari Terbit di Bromo, Ada Wajah Ayah di Sana

April 01, 2018
Sejak ayah saya wafat empat tahun lalu, perasaan sentimentil saya makin parah kambuhnya begitu lihat pemandangan alam yang epik, mahaluas, dan tentu saja indah. 

Lihat matahari terbit, 
lekuk bulan purnama yang cerah, 
langit penuh bintang, 
garis kuning mentari terbenam, 
pucuk-pucuk pegunungan, 
pantai yang menawan dengan suara ombak yang berdesir, 
barisan pepohonan Asem dengan latar pesawahan membentang, 
dalam seporsi Nasi Lengko Pagongan dan semangkuk Gombyang Panorama... 

Di semua keindahan yang memukau itu saya melihat wajah ayah saya. 

Kenapa bisa begitu, saya juga kurang tahu. Saya pikir orang-orang baik yang meninggal, mereka ditempatkan di tempat-tempat terbaik, terindah. Di sanalah ayah saya berada. 

Sejauh apapun jarak yang saya tempuh untuk menjangkaunya, rasanya gak pernah sampai benar-benar dekat. Ayah saya ada nun jauh di seberang sana. Selalu bersebrangan dengan saya, dipisah lembah, lautan, dan pegunungan juga angkasa. 

Jadi sewaktu hari itu, Sabtu 10 Maret 2018, saya ada di Bromo dan menyaksikan keagungan matahari terbit yang luar biasa menawan, saya nangis. Agak susah menahan air mata agar gak bercucuran seperti air di Curug Cimahi kala musim hujan, karena malu juga atuh banyak orang di sekitar saya :D 

Mata basah sebab rasanya ada ayah saya di ujung sana. Seolah-olah kami sedang saling memandang saja. Tidak terjangkau tapi saling berhubungan.


Untuk beberapa menit, saya lupa dengan kebisingan orang-orang yang berswafoto di sisi kanan dan kiri. Saya mencari titik penglihatan matahari yang gak tertutup kamera orang lain atau tubuh orang lain. Simpan kamera di saku celana dan menyerap semua energi yang saya tatap pagi itu. Syahdu, indah, magis, dan mengharukan. 

Untuk apa mencari-cari pemandangan yang maha indah, ternyata empat tahun belakangan alasannya baru saya temukan. Untuk 'bertemu' ayah saya.