Social Media

Image Slider

Museum Bio Farma, Sejarah Vaksin di Bandung Satu Abad Lalu

25/07/18
Kesan pertama baca/denger Bio Farma pasti cuek-cuek aja. Apa istimewanya nama yang terkesan medis, biologis, dan berbau ilmu pengetahuan alam itu?

Ohooo istimewa banget!

Bio Farma punya sejarah panjang di Bandung. Wait, bahkan di Indonesia!

Gimana bisa?



Bio Farma adalah BUMN yang memproduksi vaksin dan antisera. Dahulu bernama Institute Pasteur & lembaga ini yang merintis pembuatan vaksin di Hindia Belanda.

Kamu tahu lah pasti Jalan Pasteur, orang Jakarta nih pasti tahu wkwkwk. Pasteur adalah ilmuwan yang menemukan (cara pembuatan) vaksin. Karena jasanya, namanya diabadikan jadi nama jalan di Bandung. Tepat di lokasi Bio Farma berada, di mana pekerjaannya Pasteur diteruskan sampai sekarang.

Sebenernya sih nama jalan Pasteur diubah jadi Jl. Dr Djundjunan. Tapi warga Bandung dan kebanyakan tulisan wisata tahunya ya Jalan Pasteur.

Sejak awal mula berdirinya 1890 di Batavia, mereka turun tangan mengatasi wabah penyakit di nusantara. Cacar Api salah satu penyakit yang berhasil ditumpas dengan imunisasi (vaksin). Vaksinnya dibuat di Institute Pasteur dong.

Faktanya sekarang, lembaga yang ada di Bandung sejak tahun 1923 ini memproduksi vaksin dan menyuplainya ke seluruh Indonesia. Termasuk memenuhi 10% kebutuhan vaksin dunia: 137 negara, 49 negara Islam (OIC).

Gileee Bio Farma! Mantap! Satu-satunya negara di Asia Tenggara yang kayak gini nih!

Karena sejarah yang panjang dan aset-aset medis yang mereka simpan baik-baik dan umurnya sudah satu abad, Bio Farma memuseumkan benda-benda bersejarah tersebut.




Rabu 18 Juli 2018, Bandung Diary dan banyak teman dari komunitas sejarah, blogger, dan museum menghadiri undangan acara dari Bio Farma. Ada talkshownya dan tur ke museum Bio Farma.

Museum Bio Farma sudah ada sejak tahun 2015. Namun karena datanya diperbarui & ada perubahan tata letak pameran, mereka ajak kami melongok kembali museum medis mungil dengan sejarah panjang ini.

Upaya menghadirkan museum ini adalah cara Bio Farma ikut melestarikan sejarah Bandung, utamanya di bidang kesehatan.

Di dalam Museum Bio Farma kita bisa melihat asal muasal penemuan vaksin,  wabah penyakit, 'pembuatan' vaksin, dan peralatan medis yang digunakan di tahun 1930an, serta beberapa alat medis lainnya. Cocok nih museumnya bagi kamu, kamu, dan kamu yang antivaksin. Ketahui asal usul vaksin, kenal vaksin lebih dekat. Supaya apa? Agar paham dan tobat dari antivaksin.

Display benda koleksinya bagus-bagus. Modern & dirancang apik sehingga enak dibaca dan bagus buat foto-foto. Khekhe.

Ada empat area di dalam museum. Dimulai dari data bos-bos Bio Farma sejak 1 abad lalu. Abis itu timeline perjalanan Bio Farma sejak zaman kolonial sampai kemerdekaan. Banyak foto yang merekam pembuatan vaksin dan imunisasi di era kolonial. Memang orang-orang Belanda ini ya arsip dokumentasinya bagus banget. Salut juga kepada Bio Farma yang menyimpan dan menjaga 'harta karun' tersebut baik-baik.

Oke. Dari area 1 dan 2 yang bahasnya fokus ke sejarah, di area 3 masuk ke area yang bahas vaksin. Banyak Taksidermi (cmiiw). Di antaranya saya melihat ular. Kamu pernah bertanya-tanya gak sih vaksin itu bikinnya gimana? kalau meratiin dari museumnya Bio Farma, saya jelasin dikit nih. Benerin ya kalo ada yang salah.

Jadi bikin vaksin itu ibarat ternak ikan lele. Bakteri baik diternakan. Untuk mengembakbiakan bakteri tersebut, butuh media. Media ini nih aneh-aneh sih. Ya namanya juga bakteri sih ya apa yang gak aneh darinya :D

Kayak vaksin untuk cacar api nih, dikembangbiakannya di perut kerbau. Memang hanya bisa di perut kerbau. Terus pas panen, diambil lah bakterinya terus entah gimana cara ekstraknya, buang zat buruknya, ambil zat baiknya. Butuh waktu sekitar hampir 10 bulan untuk proses pembuatan vaksin tersebut. Ceunah kata pemandu museumnya.

Hamdalah ya cacar api udah musnah.



Btw balik ke museum. Di bagian akhir museum ada area yang memajang prestasi Bio Farma. Juga ada profil kerja tim CSRnya mereka.

Pernah denger Ciletuh kan, yang sekarang udah resmi jadi Geopark Nasional. Nah, Bio Farma dengan tim CSRnya turun tangan mendampingi warga di sana mewujudkan status geopark tersebut sejak tahun 2014. Kamu bisa baca tulisan jalan-jalan saya di Ciletuh di sini yak.

Btw, setelah talkshow dan tur ke museum, kami juga diimunisasi, disuntik vaksin Flubio. Vaksin Influenza. Wah terima kasih, Bio Farma!

Bila ingin berkunjung ke Museum Bio Farma, reservasi dulu ke webnya. Cek ke bio akun @biofarmaid dan klik websitenya.

Museumnya terbuka untuk umum & gratis, namun datangnya gak bisa perorangan gitu.

Museum menerima kunjungan di hari rabu & kamis, jam 09.00-11.30.



Piala Dunia dan Mimpi Nonton Final di Rusia #Spon

08/07/18
Kamu tahu gak sih definisi patah hati buat saya apa? Negara Amerika Latin tersingkir dari Piala Dunia 2018. Eheee. Jagoin Uruguay, oala kok kandas di kaki-kaki anak Prancis! 

Walo kompetisi masih berjalan dan pegangan saya udah gak ada, Piala Dunia masih seru buat ditonton. Empat tahun sekali ateuh meuni sayang kalau dilewatkan. 

Selama laga Piala Dunia 2018, saya baru sekali aja ikut nobar alias nonton bareng. Yakni di tanggal Uruguay kalah dari Prancis (ahahaha watir), 6 Juli 2018. Berlokasi di kafe One Eighty Music Coffee di Jl Ganesha no. 3 Bandung, Bandung Diary dan beberapa rekan media cetak dan digital diundang untuk nobar sekaligus menghadiri acara bertajuk Race to Moscow yang diselenggarakan perusahaan ekspedisi tersohor seNusantara: JNE. 



Jadi gini. JNE bikin undian berhadiah nonton final piala dunia. NONTON LANGSUNG DI RUSIA LHOOOO! Bisi weh pada nyangka nonton di lapangan Gasibu kan :D 

Terus program undian ini dikasi tajuk Race to Moscow. Pesertanya hanyalah member JNE yang sudah terdaftar di JNE Loyal Card (JLC). Hayoooo yang sering-sering kirim paket via JNE, apakah kalian merasa melewatkan sesuatu? Ekhekhekhe. Ntar yah saya ceritain si JLC di bagian paling bawah. 

Sampai mana tadi teh? 
Oh iya Race to Moscow. 

Sistem lombanya gini. Member JNE nuker poin sebanyak-banyaknya. 1 poin bernilai 25.000. Terus JNE undi nih siapa yang dapet hadiah ke Moscow. Jumlah pemenang ada enam orang. EMPAT PEMENANG DI ANTARANYA ORANG BANDUNG SEMUA AAAAHHHEEUUU! 

Karena itu JNE bikin seremonial penyerahan hadiah Race to Moscow di Bandung. Dibarengin dengan nonton bareng duel perempat final Piala Dunia. 

penyerahan hadiah
kira-kira 30 menit sebelum gol Uruguay bobol :D

20 menit sebelum Prancis jebol gawang Uruguay :D

Di waktu yang sama, pukul 19.00, di kota Malang juga diselenggarakan acara yang serupa. Kenapa? karena satu orang pemenang lainnya dari Malang. 

Sisa satu pemenang kan, asalnya dari Jakarta. Ya kan Jakarta udah dikasih kantor pusat, jadi gak diselenggarakan seremoni penyerahan hadiah Race to Moscow di sana. *ngarang :D*

Nya intina mah pemenang teh aya genep. Lalaki opat, istrina dua. Pemenang yang empat orang hasil diundi dari transaksi member di JNE. nah kalo dua orang lainnya, diundi dari hasil transaksi JNE di Shopee. Iya JNE sama Shopee kolaborasi. 

Keenam pemenang bakal berangkat dari Indonesia tanggal 13 Juli 2018. Di Rusia nonton final Piala Dunia sekalian jalan-jalan. Totalnya 4 hari 3 malam di sana. Tiket pergi-pulang gratis, akomodasi dikasih, logistik gak usah khawatir, visa diurusin sama JNE. Hayah kari bawa badan jeung koper buat buka jastip weh meureun :D 

Beruntung banget yah 6 orang pemenang Race to Moscow JNE. Perbuatan baik apa yang mereka sudah lakukan sampe segitu beruntungnya yah...

Kabita teu? Ah kan ada pengen jadi member JNE kan? Saya juga mau. Melalui program membershipnya ini, setiap transaksi kita dibarter dengan poin. Makin banyak poin nanti dikasi hadiah macam-macam sama JNE. Ada hadiah gawai, mobil, jalan-jalan! Hweeeee jangan dilewatkan! 

Siapa tahu nanti ada Race to Piala Eropa atau ke Copa America, pada siap-siap dari sekarang. Kebetulan mah gak ada, adanya persiapan. Tah kitu. 

Gini kalau mau daftar jadi member JNE di JNE Loyal Card:

1. Buka website JNE di http://jlc.jne.co.id
2. Isi data
3. Nanti JNE mengirim kartu melalui email yang terdaftar saat kalian registrasi
4. Prosesnya gratis
5. Nanti kalo udah dapet kartunya, tiap transaksi di konter JNE tunjukin kartu membernya ya

Pertanyaan dan jawaban seputar member JNE Loyal Card bisa dibaca di webnya JNE. Silakan dibaca teliti dulu supaya paham. Hehe. 
Coba difollow akun membernya JNE di @JNE_JLC. 

Selamat mendaftar jadi membernya JNE.
Selamat bagi enam orang yang berangkat ke Rusia.
Dan ayo kirim paket via JNE terus dapetin poinnya! 





Teks: Ulu
Foto: Ulu

Waktu Mudik Menumpang 4848 dan Kebanyakan Penumpang di Terminal Bis Kelakuannya Kayak Zombie

08/06/18
Mudik tuh udah kayak medan perjuangan. Gini ceritanya. 

Anak sulung bukan cuma kebagian barang-barang baru yang masih segar, anak sulung tuh saksi perekonomian keluarga. Kayak saya.

Dari jadi guru, kepala sekolah, sampai jadi pengawas tingkat provinsi, saya mengikuti perjalanan karir Bapak. Uangnya cukup buat beli televisi tabung ukuran 14 inch sampai ia sanggup naro 1 tv di ruang tengah dan 1 tv di kamarnya, ya saya mengalami juga perkembangan itu.

Dalam hal mudik, sama juga. Transisi kemampuan finansial Bapak dan Ibu, saya ikut jadi saksi matanya.

Mudik -sewaktu saya masih bocah cilik- adalah menumpang bis. Bisnya kelas ekonomi. Rasanya awut-awutan banget. Duduk tertindih sebagian badan penumpang lain. Belum lagi harus jaga barang atau adik-adik. Ruwet! Paling gak suka deh dengan bis kayak gini. Saya udah cerita bagian rebutan masuk bisnya belum? Deuh kesel banget lah kalau bapak udah bilang "bisnya udah dateng, siap-siap". Heuheu. 

Jadi penumpang elf, pernah juga. Tapi samar-samar ingatnya. Gak bisa cerita banyak tentang angkutan ini.

Lantas perekonomian bapak bergerak naik, kami bisa duduk di kursi bis AC yang nyaman. Tapi kalau musim mudik mah bisnya tetap penuh saja sampai ada penumpang yang berdiri. Udah gitu masuknya pun masih berebutan. Yah lumayan gak semenyiksa bis ekonomi sih tapinya.

Shuttle 4848. Ah ini mah saya ingat. Menumpang di kursi paling belakang dan kartu profil pesepakbola favorit saya tertinggal di saku kursi. Dennis Bergkamp kalau gak salah nama pemainnya. Sedang ramai piala dunia rasanya waktu itu. Pas nyadar kartunya ketinggalan, yah sedih banget…

Photo credit: 4848 Transportasi

Menumpang mobil keluarga yang kebetulan mau atau lewat ke Bandung. Rasanya? Kayak tamu :D mau rikwes berhenti sebab perut mual dan pengen muntah, gak bisa. Cuma bisa diam aja. Diajak makan, hayuk. Mau jalan terus juga saya ikut aja. Manut wae lah judulnya.

Dikirim mobil jemputan oleh nenek dari Bandung lengkap dengan sopirnya. Biasanya di dalam mobilnya bau ayam. Sebab kakek saya pedagang ayam kan. Mobilnya suka dipake buat antar jemput kakek dari-ke pasar. Yah bau banget mobilnya! Kami suka bersihin dulu sih sampe disemprot pewangi. Tapi seneng aja sih pake mobil gini, lebih mending daripada angkutan massal.  

Mobil angkutan ilegal. Biasanya bentuknya Carry atau Zebra. Satu mobil ditumpuk penumpangnya sampai 18-20 orang. Cih mobil durjana! Susah duduk. Keluar mobil, lutut tuh udah kayak stek, tinggal ditanem aja.  

Mobil dinas dari kantor bapak saya. Aheuuuu. Mobilnya gede banget kayak Hiace lah tapi versi jelata. Adik saya yang ada 8 itu muat ditaro di mana aja bisa. Wkwk. Luas banget bagian dalamnya. Kacanya dong bening. Kami udah kayak ikan di dalam aquarium. Terus di badan mobilnya tercantum tulisan besar sekali: DINAS PENDIDIKAN BLABLABLABLA (blablabla merujuk ke kantor ayah saya). Sampai awal saya jadi anak kuliah, ini mobil masih dipake. Kalau udah masuk Ujung Berung, saya tenggelemin kepala sampe bawah jendela. Sebab malu pake mobil dinas. Kampungan banget. Bapak saya ya entahlah. Dia cuek bebek aja kelihatannya. Atau ditegar-tegarin :,)

Mobil pribadi. AKHIRNYA! Memang gak ada yang bisa ngalahin nyamannya naik mobil sendiri. Kecuali: pertengkaran domestik antara kakak dan adik di dalam mobil juga mood si sopir alias bapak saya :D Nah kalau udah berantem sama adek, saya mah milih naik bis aja wkwk.

Kereta Api. ANGKUTAN TERBAIK! Baru muncul di tahun 2013, setelah PT. KAI mereformasi sistem dan pelayanannya itu lho. Rute Bandung-Cirebon baru lahir. Gila ini angkutan terberadab tersuci dan terislami! Bersih, tertib, dan gak kena macet! Saya cinta kereta api!

Kenapa kalian baru muncul sih, wahaaaaiiii gerbong-gerbong kereta api!

Kalian pernah nonton Train To Busan kan? Itu zombie-zombie yang ngejer kereta persis sama dengan kelakuan para penumpang yang rebutan naik bis. Sikut-sikutan. Hukum rimba banget. Heeuuugh. 

Bapak saya sih seringnya masuk dari pintu supir :D 

Saya tuh suka mikir ini kapan Dishub mau berbenah. Kapan mau pasang loket dan karcis. Biar tertib masuknya. Biar penumpang tenang aja, naik bis gak usah sikut-sikutan sebab udah dapet tempat duduk juga toh.

Terus muncul lah shuttle yang sistemnya persis yang saya pikirin. Ahahahaha. Ongkos lebih mahal daripada bis tapinya. Ahahahaha. Ada harga ada rupa.

Memang selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan. Perjuangan banget buat dapetin kenyamanannya. Beda usia, beda juga kenyamanan yang saya dapat waktu mudik. Seru sih kalau saya review lagi perjalanan mudiknya sekarang. Kalo pas ngalamin banget mah antara seneng dan kesel yang terasa eheee. 

Hampa di Malang

17/04/18
Dari Bromo saya mampir ke Malang. Tiga hari lamanya di kota apel ini. Pertama-tama main di Jatim Park 2 tentu saja. Barulah di hari berikutnya mulai main di kota, menyusuri bangunan tuanya.




Seperti biasa, peta sudah di tangan. Rencana disiapkan. Saya dan Nabil berjalan kaki dengan titik mula di Pasar Besar Malang. Ke sana untuk makan sate klomoh yang legendaris. Tidak sulit cari warungnya yang mana. Pasarnya sepi gak seramai pasar yang saya bayangkan pada umumnya. 

Bisa jadi sayanya kesiangan ke pasar ya, jam 9.30 waktu itu. Sate Klomoh tiga tusuk cukup sudah. Ngobrol dengan dua ibu-ibu yang dulu pernah bermukim di Bandung. Tahun 90an katanya pernah tinggal di Jalan Suci. Balik ke Malang awal tahun 2000.

Saya pamit kepada ibu-ibu tersebut. Keluar pasar dan cek daftar kuliner yang mau saya coba.

Ketan bubuk. Saya cari-cari pedagangnya, dua orang yang saya tanya bilang saya kesiangan. Pedagangnya udah tutup lapak. Ah ya sudahlah. 

Saya ajak Nabil ke Museum Bentoel. Kali ini naik ojek online. Ternyata museumnya ada di sebelah pasar aja tinggal jalan dikit ahahahaha. Kesalnya belum berakhir. Museumnya tutup. Yaaah sudahlah.




Akhirnya berjalan kaki saja mengikuti rute di peta. Kira-kira dua jam kemudian kami mendarat di Toko Oen. 

Semestinya seorang teman baru menemani perjalanan saya di Malang ini. Namun mendadak ia harus lembur sehingga saya dan Nabil berjalan tanpa pegangan. Rasanya hampa banget jalan melihat-lihat bangunan kuno di Malang tanpa ditemani narator. Udah gitu harus nyebrang-nyebrang jalan aduh sejak tertabrak motor di Yogyakarta, saya trauma menyebrang sendiri :D 

Kira-kira di Jalan Tumapel, saya putuskan sewa ojek online lagi. Saya membayarnya lebih banyak untuk mengantar saya ke beberapa lokasi yang tercantum di peta. Ini sopir ojeknya keukeuh mau bawa saya dan Nabil ke Kampung Pelangi. 

Buat apa ke Kampung Pelangi, Mas? 
Buat foto-foto, Mbak.

Euuurrr... kami sudah berhenti di mulut masuk ke Kampung Pelangi dan saya dengan sedih harus menolak ajakannya. Sebab saya sudah punya tujuan sendiri dan kampung warna-warni seperti itu (dan semua yang dibuat untuk instagram) bukan favorit saya. Kecuali kampung yang di Kali Code. 

Hampa banget nih jalan di Malang. Kayak kurangnya banyak banget. Beda banget dengan perjalanan singkat di Blitar yang malahan terasa begitu 'penuh'. 

Saya udah bilang sih sama Indra, pengen balik lagi ke Malang. Main lagi di Jatim Park 2 (bagian kebun binatangnya mau saya lewatkan saja, lebih seru main di wahana fantasinya ahahahahaha). Tentu saja pengen lagi datengin bangunan kunonya. Nanti mah wajib ditemenin warga lokal biar gak garing. Biar gak hampa. Halah :D




Kesan saya terhadap kota ini adalah:

1. Dia gak sedingin Bandung. Malang 400++ mdpl kalau Bandung di 700++ mdpl.
2. Walo begitu Malang tetep adem, saya suka kotanya ehehehehe. Minimal mah abis makan teh teu kesangan kayak di Cirebon, Surabaya, atau Jakarta :D
2. Jalan-jalannya kecil mirip di Bandung. Dibikin searah juga terus belok-belok mulu ah lieur.
3. Waktu di Jalan Ijen, hwaduh rasanya kayak ketemu cinta lama, yaitu jalan Pasteur di Bandung sebelum ada Jalan Layang Pasupati. Mirip banget 99%. Rumah-rumah kuno di tepi jalan. Taman kecil sepanjang jalan di bagian tengah. Jalan rayanya terbagi dua dipisah taman. Pohon palem raja di sepanjang pinggir jalan. Duh jatuh cinta saya mah sama jalan Ijen.
4. Makanan jalanannya enak-enak.

Ini kota-kota adem begini memang jadi kecintaan.
Bandung difavoritkan Jakarta.
Malang juga disukai Surabaya.

Tapi...Malang kalau gak hati-hati dalam perencanaan kota, nasibnya bisa sama kayak Bandung. Macet menggila. Kawasan Batu itu tuh ya serupa Lembang. Tempat wisatanya banyak. Tapi ya gimana ya, saya aja datang ke Jatim Park 2 dan itu teh menyenangkan banget.

Cukup gak sih tempat wisata 1-2 aja. Gak usah ada Jatim Park 3, 4, 5, dst, dll, dsb. Maksudnya apa ya bikin banyak tempat wisata? memecah keramaian? mendatangkan uang lebih banyak? membuka lapangan kerja lebih hwedan sehingga warga lokal terpenuhi pendapatannya?

Kok saya merasa ada yang salah ya. Gak di Bandung, gak di Malang...

Sesampainya di Bandung, beberapa hari kemudian saya nonton berita di televisi. Walikota Malang ditangkap KPK...

Di Sudut-sudut Antik Kotagede

11/04/18
Dalam tubuh saya mengalir darah Pantura, Indramayu dan Cirebon. Ketika saya sampai di Kotagede, Yogyakarta, agak aneh geli sendiri rasanya. Karena Kotagede yang dahulunya kerajaan Mataram ini pernah mencaplok kawasan nenek moyang saya. Bergiliran dengan kerajaan Pajajaran, Mataram menguasai  Cirebon jauh sebelum Belanda datang. Sampai pada akhirnya Belanda yang menjajah kita semua. 

Mungkin begini ya rasanya orang Indonesia yang berkunjung ke negara Belanda. Hahaha perumpamaan yang gak terlalu tepat sih tapi ya kira-kira begitu lah. 

Masih lekat dalam ingatan, saya pernah berkunjung ke Yogyakarta untuk pertama kali -selama 10 hari- di tahun 2007. Umur saya 22 tahun waktu itu. Lama tak bersua dengan Kota Pelajar, bulan Juni di tahun 2015 saya kembali ke Yogyakarta. 

Wajah Yogyakarta sekarang banyak berubah. Yhaaa serupa Bandung lah. Lebih riuh, makin padat. Tapi tidak dengan rindu saya padanya yang masih sama sejak terakhir kali saya meninggalkannya. Masih sama segitu-gitu aja. Hehe. 

Berada di Yogyakarta, saya berlibur bersama dua orang lainnya, anak (nabilkubil) dan suami (indra). Satu tempat yang sudah kami niatkan untuk kunjungi namanya adalah Kotagede. 

Di sana kami bertiga hendak menikmati segelas es dawet di Warung Sido Semi, melongok makam-makam Raja Mataram, dan menyusuri bangunan antik sepanjang Kotagede.





Ke Jogja, saya dan Indra membawa bekal peta perjalanan buatan Emile Leushuis. Karena kami gak berencana belanja atau wisata kuliner, tujuannya satu: gedung-gedung kuno di Kotagede.

Kotagede pernah menjadi sentranya kerajinan dan perdagangan. Wilayah ini merupakan pusat kota Mataram. Banyak jejak pemukiman bangsawan yang pernah atau masih tinggal di sini. 

Mengingat statusnya, ini kawasan berarti tua banget. Sudah ada sejak Sultan Agung masih hidup. Sekitar 5 abad lalu.

Berbekal sebuah peta yang kami fotokopi dari buku Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia yang ditulis oleh ahli geografi dan pemandu wisata Emile Leushuis, kami menapaki satu demi satu gedung bersejarah di Kotagede. 

Perjalanan di Kotagede kami mulai pukul sembilan pagi. Cuaca masih segar meski panasnya sudah begitu terasa menggigit. Titik keringat sudah bermunculan. Maklumlah, kami orang gunung. Datang dari Bandung yang suhunya sejuk, ke Yogyakarta yang temperaturnya hangat. 

Belum banyak langkah kaki kami alun sejak Jalan Tegalgendu, beberapa bangunan tua sudah dapat dilihat. 

Berdasarkan buku yang saya baca, itu rumah tua Rumah Kalang namanya. Orang Kalang asalnya dari zaman Majapahit yang ada campuran etnis Bali. Ini saya baca di internet aja sih asal-usulnya. Orang Kalang ini profesinya saudagar. Kaya raya pula. Cerita menarik tentang orang Kalang bisa kamu baca di sini ya. 

Bangunan di Kotagede gaya arsitekturnya ala kolonial campur jawa. Itu rumah-rumah di tepi jalan. Kalau kamu masuk ke gang-gang kecil, nah baru kelihatan rumah-rumah tradisionalnya. Ada sih bangunan modern, tapi ada juga yang bentuknya masih joglo. 

Dapat memasuki sebuah bangunan tua menjadi pengalaman yang saya tunggu-tunggu. Di toko perhiasan silver bernama Silver Anshor saya melakukannya. Wah indah sekali gedungnya. Warna bangunan putih, lantainya masih model tempo dulu, interiornya yang megah, dan pilar-pilar gedungnya mencirikan pemiliknya yang berasal dari kaum bangsawan. Kebanyakan gedung-gedung kuno di Kotagede cat dindingnya berwarna putih. Warna yang sama dengan bangunan sejenis di Eropa, khususnya Belanda. 




Dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu gedung ke gedung yang lain, Kotagede sungguh memikat. Saya tidak melihat ada bangunan komersil yang lebih tinggi dari rumah-rumah (kuno) di sini. Kelestariannya cukup terjaga (bila dibanding Bandung). 

Di tengah perjalanan kami mampir ke suatu warung sederhana. Seorang teman -sebelum kami berangkat ke Kotagede- menyarankan begini: kalau ke Kotagede harus jajan Kipo! 

Di warung tersebut saya hendak menunaikan pesan dari teman. Tugas mulia bernama makan Kipo! 

Oala ternyata bentuknya sangat kecil sekali. Sebesar ibu jari. Tak terbayang sebelumnya bahwa Kipo adalah kue yang ukurannya mini. Warnanya hijau. Terbuat dari tepung beras dan pada bagian dalamnya campuran gula merah dan kelapa parut. Kipo serupa dengan kue Dadar Gulung. Konon Kipo adalah kue yang dahulu menjadi suguhan di Keraton. 



Kipo sudah habis. Istirahat cukup. Energi sudah kembali. Perjalanan kembali dilanjut. 

Kali ini kami memasuki gang kecil, menyelami Kotagede lebih dalam, mengenalnya lebih dekat. Bahkan di dalam ruang yang lebih sempit semacam gang, Kotagede memiliki pemandangan yang sama seksinya dengan panorama yang kami lihat di pinggir jalan raya. Bahkan ada gedung tua yang megah di dalam gang. Rumah Rudi Pesik, misalnya. Juga ada beberapa rumah tradisional Jawa, yaitu Joglo, dan rumah-rumah sederhana yang kuno dan apik. 

Saya melihat pintu rumah antik terbuka. Sungguh menggoda untuk saya ketok pintunya dan ngobrol dengan penghuninya. Suara ibu-ibu terdengar sedang bicara. Medok dan merdu. Saya intip dari jendela, mereka kayak lagi asyik masak begitu. 



Warung Sido Semi yang saya tuju tutup sudah. Tutup selama-lamanya. Tetangganya berkata demikian. Waduh sayang uhuhuhu....

Ya sudah kami berjalan saja ke Pasar Legi. Dan sudah terlalu siang untuk belanja atau jajan. Uhuhuhuhu. Rencananya mau melongok isi pasar. Tapi pasarnya kayak udah agak sepi. Agak menyesal juga saya langsung tinggalin pasarnya. Lebih baik saya masuk saja dulu mana tahu di dalam pasar bagaimana pemandangannya.

Pasar Legi Kotagede sudah ada sejak abad 16.

Kami berbelok saja ke Makam Raja-raja Mataram. Menapaki Gerbang Paduraksa rasanya terasa begitu syahdu. Ini pertama kalinya saya mengunjungi makam Raja-raja Mataram. 

Sinar matahari meredup. Langit berawan. Angin semilir di kompleks pemakaman tersebut menyambut kami bertiga. Jalur jalan pelancong dan peziarah di makam ini sangat berkelok. Jalan lurus - ketemu tembok - belok kiri - lurus - belok kanan - lurus. Serupa adat orang Jawa yang kalau sedang bicara terdengar berputar-putar. Cara orang membangun sebuah tempat konon persis sama dengan adat budaya cara berpikirnya. 

Tentu saja makam seorang raja berbeda dengan makam orang-orang kebanyakan. Tempat yang saya kunjungi itu sangat mewah, bukan hanya gapuranya tinggi-tinggi dan megah, tapi juga ada tempat pemandian bernama Sendang Seliran. Sungguh ini kompleks pemakaman yang luas, sakral, dan eksotik. 

Berada di kompleks Makam Raja Mataram saya harus melewati pintu-pintu (gapura) berukuran besar dan pepohonan beringin. Makamnya sendiri tidak boleh dilihat sembarangan. Butuh orang dengan status tertentu untuk melihat langsung makam para Raja Mataram. 

Waktu saya ke sana sih sepi banget. Karena bukan hari akhir pekan dan hari libur. Saya gak merasa ada yang angker di sini. Tiap sudutnya cantik dan tradisional. Di pintu masuk gapura agak terganggu pemandangan jemuran warga sih. 

Rencananya kami ingin beristirahat lagi di Masjid Besar Mataram, sayang masjidnya ditutup karena renovasi. Kami beranjak keluar dari kompleks tersebut. Matahari kembali terang dan panas. Aneh sekali. Di dalam kompleks pemakaman Raja Mataram tadi rasanya sangat sejuuuuk banget. 


Kembali ke luar masuk gang, kami sempat tersesat. Tapi tak sulit keluar dari labirin gang-gang Kotagede. Papan nama jalan terpancang rapi. Penduduk lokal pun selalu menjawab ramah jika kami tanya. 

Dua jam sudah berlalu sejak jam makan siang berlaku. Kami sudah berada di Kotagede sejak jam 9 pagi. 

Pukul dua siang perjalanan di Kotagede kami akhiri. Restoran atau warung makan menjadi destinasi kami berikutnya. Memesan taksi, kami putuskan kembali ke pusat kota. 

Dari dalam taksi kami kembali menyusuri jalanan Kotagede, kembali melewati Jalan Tegalgendu. Saya menyaksikan lagi bangunan-bangunan yang kami saksikan dari dalam jendela kendaraan, sekilas rasanya seperti sedang me-review perjalanan yang kami lakukan dari tadi pagi. Mengkaji ulang dan merekam baik-baik pemandangan dan rasa Kotagede. 

Setelah delapan tahun akhirnya saya bisa bertemu lagi denganmu, Yogyakarta. Di Kotagede, saya menuntaskan rindu itu. Semoga kita bersua lagi ya. Masih ada sudut-sudut Yogyakarta yang ingin saya saksikan, sudut yang sama, sudut-sudut kota yang tradisonal dan bersahaja (kecuali bangunan miliknya Keraton dan Raja-raja Mataram :D). 

Disclaimer: tulisan ini adalah tulisan lama yang saya buat di tahun 2016. Saya perbaiki tulisannya dan saya unggah ulang per bulan April 2018 ini. 





Teks : Nurul Ulu W
Foto : Indra Yudha

Blitar dan Wajah Asing Soekarno

02/04/18
Tumbuh besar di negeri ini tanpa membaca kutipan-kutipan dari presiden pertama Republik Indonesia agak mustahil. Terutama kalau kamu berhasil duduk hingga ke bangku perkuliahan. Sebagai tambahan: apalagi bila kamu tinggal di Bandung. 

Bandung dan Soekarno bagai roti dengan selainya. Sayur dengan garamnya. Di mana saja jejak Soekarno di Bandung?

Merantau ke Bandung untuk bersekolah, Soekarno ngekos di sebuah rumah jalan Ciateul. Rumah yang mempertemukannya dgn istri ke-2: Inggit Garnasih. (Tulisan pendek saya tentang Inggit Garnasih bisa dibaca di sini). 

Sekolah di HBS (sekarang ITB), Soekarno adalah angkatan pertama jurusan Arsitekturnya ITB. Bersama gurunya, Schoemaker, ia ikut merancang Hotel Preanger.

Beberapa rumah di Malabar, Kebon Kalapa, Kaca-kaca Wetan hasil rancangannya. Vokal terhadap pemerintah kolonial, ia diadili di Landraad (sekarang Gedung Indonesia Menggugat), divonis hukuman Soekarno masuk penjara Banceuy dan Sukamiskin.  

Presiden RI pertama itu bahkan turun tangan merombak rupa Masjid Agung Bandung demi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.

Iya betul, dia menunjuk Bandung jadi tempat berlangsungnya KAA 1955 yang legendaris itu. 

Banyak kota yang Soekarno taburi jejaknya di Indonesia, tapi saya kira tidak seintim di Bandung. 

Lalu saya ke Blitar, kota  di mana Soekarno berasal dan bermuara. Di kota mungil ini saya mendapati wajah Soekarno yang berbeda. Soekarno di balik panggung kebesarannya. Wajah Soekarno yang...asing.


Wajah Soekarno di Blitar


Bila menyebut Blitar, langsung teringat Soekarno sebab di semua buku disebut Blitar sebagai kota kelahirannya. Bisa jadi ada museum yang berhubungan dengan Soekarno di sana, kata saya dalam hati. 

Terpekur di internet  beberapa menit, saya cari tahu wisata sejarah sekitar stasiun Blitar. Biar gak usah jauh-jauh jalan-jalannya, cuma punya waktu empat jam di Blitar. 

Hasil pencarian tentang Blitar dan wisata sekitar stasiun kereta api membawa saya pada satu tulisan sekaligus berkenalan dengan warga Blitar yang juga penulis tulisan tersebut, bernama Pandu Aji. Tulisannya tentang 6 Tempat Wisata Dekat Stasiun Blitar bisa dibaca di sini. 

Tidak cuma berkenalan, saya juga meminta tolong Pandu menemani ke beberapa tempat sekitar stasiun Blitar. Ia menyanggupi. 

Ngobrol dengan Pandu seperti ketemu teman lama saja, padahal baru kenalan. Seporsi soto daging dan es teh manis yang kami tandaskan sepertinya ikut andil dalam mencairkan suasana. Makanan memang gak pernah salah. Khekhekhe. 

Hanya tersisa tiga jam di Blitar, Pandu mengajak saya ke Makam Bung Karno dan Istana Gebang.


Berkunjung ke Makam Bung Karno


Makam Bung Karno memuat beberapa bangunan. Selain bangunan utamanya yaitu pendopo yang memayungi makam Soekarno, ada juga museum dan perpustakaan. 


Perpustakaan saya lewatkan saja. Gak bisa cepat-cepat kalau menyusuri buku-buku mah. Pandu menuturkan "perpustakaan ini isinya buku-buku yang dibaca Soekarno. Buku langka. Cuma warga Blitar yang boleh pinjam, soalnya mesti pake KTP kota Blitar untuk pinjam buku di sini." 

Istimewa juga ya jadi warga kota Blitar :) 

Beranjak ke museum, wah ramai sekali di pintu masuk sampai susah bergerak. Pengunjung berdatangan di hari Rabu. Dominan kaum manula pula. Kata Pandu, mereka itu orang-orang yang hendak berziarah ke makam Soekarno. 

Koleksi museumnya terdiri dari banyak lukisan wajah Soekarno. Beberapa barang pribadi Soekarno (peti dan keris). Juga ada foto-foto sejak ia kecil hingga akhir hayat. Iya saya melihat banyak foto semasa ia di Bandung.

Patung dan lukisan menjadi latar favorit untuk berfoto. Saya ikutan foto juga dong. Bukan saya deng tapi Nabil. 

Di Makam Bung Karno, saya tidak masuk hingga bertemu nisannya. Terlalu penuh, banyak yang berziarah dan khusyuk berdoa. Kami berdiri di luar pendopo saja. Melihat-lihat suasana, memotret pendopo. 

Di sini saya baru menyadari wajah Soekarno yang dikultuskan. 

Saya sendiri gak menyukai sosoknya sedemikian rupa. Tidak seperti walikota saya itu (yes, Ridwan Kamil). Pidato-pidatonya yang bergelora, kecintaannya pada seni dan wanita cantik, dan kecerdasannya membangun hubungan setara dengan negara maju sungguh mengagumkan.

Namun Soekarno terbuai kekuasaan juga. Lupa berhenti dan memberi tongkat estafetnya pada negarawan yang lain.


Di Istana Gebang, Rumah Masa Kecil Bung Karno


Lalu di Istana Gebang, saya gak merasakan semangat Soekarno sama sekali. Ya wajar saja sebenarnya mah. Karena apa? Begini. 


Istana Gebang merupakan rumah keluarga Soekarno.  Dibeli ayahnya dari pejabat kolonial di tahun 1917 sewaktu ia mengajar di Blitar. 

Pernah dimiliki kakaknya Soekarno dan hendak dijual karena biaya mengurus rumah yang tidak murah, pemerintah membelinya. Ketimbang rumah tersebut dibeli orang lain dan diubah jadi tempat yang gak ada hubungannya dengan Soekarno kan. 

Apakah di rumah ini Soekarno lahir? gak tahu.

Apakah ini rumah masa kecilnya Soekarno? Iya (menjelaskan statusnya adalah bangsawan, rumah ini pada zamannya -termasuk zaman sekarang- sangatlah luas dan megah. Halamannya saja seperti luas lapangan sepakbola. Bila ditotal, laham Istana Gebang ada 1,8 hektar. 

Istana Gebang terbuka untuk umum sejak pukul 7 pagi. Tutup jam 5 sore.

Kedatangan saya persis sebelum tempatnya mendekati jam tutup. Terdiri dari beberapa kamar dan perabotan mewah, memang ini rumah layak disebut istana. Foto-foto dan lukisan Soekarno dan keluarganya terpajang.

Pandu bilang pengunjung yang ziarah ke makam juga mampir ke Istana Gebang. Wah pikir saya menarik juga. Mereka rupanya antusias dengan peninggalan sejarah non-makam rupanya. 

Tapi pikiran tersebut musnah sih karena di bagian belakang rumah ada sumur. Air sumurnya ini ramai-ramai diminum dan diwadahin buat dibawa pulang oleh para peziarah. Oh ternyata tujuan utamanya ke sumur itu. 

Ada apa orang Indonesia dengan sumur-sumur ini ya...bisa jadi tesis penelitian skripsi dengan judul: Korelasi dan Perspektif Orang Indonesia terhadap Sumur Dalam Kehidupan Spiritualisme.

Menyusuri Istana Gebang, saya jadi pengen cepat-cepat baca buku sejarahnya Soekarno. Tahun berapa sih beliau meninggalkan Blitar dan pergi ke Surabaya? Kenapa di otak saya, Soekarno hanya menumpang lahir di Blitar dan 'dipaksa' dimakamkan di Blitar tapi sebenarnya ia lebih dekat dengan Surabaya (sebab ayah keduanya, HOS Tjokroaminoto berasal dan tinggal di Surabaya dan kayaknya dia lebih dekat dengan Tjokroaminoto ketimbang keluarganya di Blitar).

Atau jangan-jangan benar ya yang menulis tempat kelahiran Soekarno itu di Surabaya? :D

Sedekat apa Soekarno dengan keluarganya di Blitar? Bila Soekarno membangun Jakarta, Surabaya, termasuk Bandung, apa pernah terpikir olehnya untuk melambungkan nama Blitar lebih dari sekadar status kota kelahirannya, kota yang jadi akarnya itu? Atau jangan-jangan Soekarno itu aslinya memang arek Suroboyo...




(teks: Ulu, foto: Ulu, Pandu)

Matahari Terbit di Bromo, Ada Wajah Ayah di Sana

01/04/18
Sejak ayah saya wafat empat tahun lalu, perasaan sentimentil saya makin parah kambuhnya begitu lihat pemandangan alam yang epik, mahaluas, dan tentu saja indah. 

Lihat matahari terbit, 
lekuk bulan purnama yang cerah, 
langit penuh bintang, 
garis kuning mentari terbenam, 
pucuk-pucuk pegunungan, 
pantai yang menawan dengan suara ombak yang berdesir, 
barisan pepohonan Asem dengan latar pesawahan membentang, 
dalam seporsi Nasi Lengko Pagongan dan semangkuk Gombyang Panorama... 

Di semua keindahan yang memukau itu saya melihat wajah ayah saya.


Kenapa bisa begitu, saya juga kurang tahu. Saya pikir orang-orang baik yang meninggal, mereka ditempatkan di tempat-tempat terbaik, terindah. Di sanalah ayah saya berada. 

Sejauh apapun jarak yang saya tempuh untuk menjangkaunya, rasanya gak pernah sampai benar-benar dekat. Ayah saya ada nun jauh di seberang sana. Selalu bersebrangan dengan saya, dipisah lembah, lautan, dan pegunungan juga angkasa. 

Jadi sewaktu hari itu, Sabtu 10 Maret 2018, saya ada di Bromo dan menyaksikan keagungan matahari terbit yang luar biasa menawan, saya nangis. Agak susah menahan air mata agar gak bercucuran seperti air di Curug Cimahi kala musim hujan, karena malu juga atuh banyak orang di sekitar saya :D 

Mata basah sebab rasanya ada ayah saya di ujung sana. Seolah-olah kami sedang saling memandang saja. Tidak terjangkau tapi saling berhubungan.

Untuk beberapa menit, saya lupa dengan kebisingan orang-orang yang berswafoto di sisi kanan dan kiri. Saya mencari titik penglihatan matahari yang gak tertutup kamera orang lain atau tubuh orang lain. Simpan kamera di saku celana dan menyerap semua energi yang saya tatap pagi itu. Syahdu, indah, magis, dan mengharukan. 

Untuk apa mencari-cari pemandangan yang maha indah, ternyata empat tahun belakangan alasannya baru saya temukan. Untuk 'bertemu' ayah saya. 


24 Maret 2018, Earth Hour di Bandung Bertema #Connect2Earth

22/03/18
24 Maret sebentar lagi. Yup besok! Artinya Earth Hour sudah di depan mata. 

Sejak tahun 2009, negara kita ikut meramaikan peringatan Earth Hour. Di tahun 2007, Earth Hour untuk pertama kalinya hanya berlangsung di Sydney, Australia. Karena semangat sadar-lingkungan yang patut ditularkan, berbagai negara ikut berkontribusi mengikuti ritual Earth Hour ini. 

Akan ada 180 negara di dunia yang meramaikan Earth Hour 2018. Indonesia juga dong. Bukan hanya Indonesia pada umumnya, secara khusus kota-kota secara mandiri juga ikutan Earth Hour. Tercatat 60 kota akan melaksanakan Earth Hour. Termasuk Bandung. 

Bukan hanya di tingkat kota, tingkat provinsi juga gak mau kalah. Makin banyak yang terlibat dalam penyelenggaraan Earth Hour justru makin bagus. Negara dan kota (pemerintah), sektor swasta, masyarakat, dan organisasi. 

Berhubung Bandung Diary mengikuti konferensi pers dari penyelenggaraan Earth Hour ini di The 18th Restaurant & Lounge Trans Luxury Hotel Bandung (20/3/2018), saya kasih tahu nih rincian acara peringatan Earth Hour 2018. 



Sejak tahun 2011, penyelenggaraan Earth Hour di Bandung diorganisir oleh Earth Hour Bandung (@EHbdg) dan Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE). Merangkul banyak pihak, Earth Hour juga didukung penuh oleh Kawasan Trans Studio Bandung, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung.

Acara seremoni Earth Hour berlangsung di dua tempat di Bandung. Untuk tingkat provinsi Jawa Barat diselenggarakan di halaman Gedung Sate. Sementara di tingkat kota acara digelar di halaman plaza Trans Studio Mall. 

Earth Hour 2018 mengusung tema #Connect2Earth. Puncak acara, yaitu pemadaman listrik sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni jam 20.30-21.30. Sementara untuk meramaikan peringatan Earth Hour, acara akan berlangsung dari pukul 10.00 - 22.00. 

Kawasan Trans Studio ambil bagian dan mendukung penuh penyelenggaraan Earth Hour karena selama empat tahun ini mereka sudah mengaplikasi konsep ramah-lingkungan pada sistem penerangan, elektronik, dan air di kawasan tersebut. Green Living, demikian Kawasan Trans Studio menamakannya. 

Green Living adalah teknologi yang diterapkan untuk menghemat energi di Kawasan Trans Studio (Trans Luxury Hotel, Trans Studio Bandung, Trans Studio Mall, dan Ibis Trans Studio). Teknologi tersebut Building Technology System dan Smart Chiller System, pengatur otomatis suhu ruangan yang disesuaikan dengan suhu di luar ruangan. Penggunaan lampu LED di 70% area hotel. Pemanfaatan sumur resapan. Program daur ulang limbah cair. Program daur ulang air hujan. Air hasil daur ulang digunakan untuk laundry. Tenang saja, kualitas air sudah teruji baik oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. 

Fakta mengejutkan lainnya: empat tahun menerapkan Green Living, mereka menghemat sekitar empat milyar rupiah! Epik! 

Leo Palayukan selaku Director of Engineering The Trans Luxury Hotel berjanji akan terus mengembangkan program green living lain di Kawasan Trans Studio. 

Bukan hanya The Trans Luxury Hotel, Ibis Bandung Trans Studio turun tangan memeriahkan kampanye Green Living dengan pemutaran video. Video tersebut memperlihatkan kondisi bumi selama satu jam. Tujuan pemutaran video tersebut adalah meningkatkan perhatian tamu tentang pentingnya kesadaran lingkungan. 

Kembali ke Earth Hour di Bandung. Pada penyelenggaraannya nanti, akan digelar kegiatan seru seperti pameran komunitas, pameran fotografi, lomba cerdas cermat tingkat SMP/sederajat, pameran kuliner dari foodtruck, hingga uji emisi gratis dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Menambah seru suasana, pada pemadaman listrik selama satu jam nanti akan dibagikan 100 kue tart cuma-cuma dari Hokkaido Baked Cheese. 

Sementara itu seremoni Earth Hour di tingkat provinsi akan dimeriahkan dengan lomba Eksperimen Sederhana tingkat SMA/SMK/sederajat se-Jawa Barat, pameran efisiensi energi dari berbagai instansi, pameran foto, stand kuliner berupa foodtruck, dan macam-macam hiburan lainnya. 

Belum tahu mau jalan-jalan ke mana tanggal 24 Maret besok? Nah ajak teman-teman atau sanak saudara ke Plaza Trans Studio atau Halaman Gedung Sate. Ramai-ramai kita dukung aksi Earth Hour dan ikut memadamkan listrik selama satu jam. Satu jam saja, kawan-kawan. Sungguh gak sepadan dengan kerusakan yang manusia lakukan untuk bumi ini, jadi satu jam saja untuk #Connect2Earth dan ''mengademkan bumi' gak terlalu masalah, bukan? 

Follow @EHbdg untuk cek kegiatan rutin dan seremoni Earth Hour. Cari tahu apa yang bisa kawan-kawan lakukan di sana untuk ikut menghemat energi dan #Connect2Earth. 





Selamat Datang Kembali, Padi

07/03/18
Hari yang saya tunggu-tunggu di bulan Februari cuma satu: Sabtu tanggal 24. 

Di malam minggu itu saya bisa ngomong: selamat datang kembali, Padi! 

Fadly, Piyu, Ari, Rindra, dan Yoyo konser di Bandung. Penampilan mereka kemarin itu yang ke dua di kota kembang sejak Padi comeback ke industri musik lagi. 

Suara Fadly masih melengking gak kedengeran fals. Wew gila. Saya sih lebih senengnya lagi karena bisa langsung menyaksikan Yoyo uhuuhuhu. Duh kenapa ya drummer teh (yang jago ngedrumnya tentu aja) bikin saya jatuh cinta wae :D Yoyo drummer idolakuuuuu! 

Lagu-lagunya Padi masih terasa dalem aja yah. Justru makin-makin sih seiring bertambahnya umur saya aheuheuheu. 

Kenapa bisa gitu ya...

Semua lagu hitsnya keluar. 
Sobat
Rapuh
Semua Tak Sama
Menanti Jawaban
Harmoni
Kasih Tak Sampai
Begitu Indah
Hitam
Sesuatu yang Indah
Seperti Kekasihku
Mahadewi
Ternyata Cinta
Sudahlah
Tempat Terakhir
Sang Penghibur
Bayangkanlah

Apa lagi yah... Kayaknya itu aja deh lagu-lagu yang bikin penonton bergelinjang dimabuk kenangan hahahaha. 

Termasuk saya lah tentu aja. 

Paling heboh sih waktu Kasih Tak Sampai, Rapuh, dan Seperti Kekasihku dinyanyikan. Kayaknya penonton pada keingat mantan berjamaah gitu heuheuheu :D 

Baper, kalo kata orang-orang mah. 

Sepanjang denger Padi, saya gak ingat siapa-siapa hahaha. Secara zaman SMA dulu saya gak pernah pacaran heuheu. Naksir sih ke satu orang, selama tiga tahun dari kelas 1 sampe lulus. Gak kesampaian ahahahah. Tapi ya gak ada ikatan batin dalam hal percintaan sama Padi mah. 

Kalo dengar Padi, kenangan yang nempel di kepala adalah nostalgia selama sekolah aja.  
Berada di umur hari ini dan sudah mengalami perjalanan hidup yang 'ajaib', denger Padi tuh jadi berasa masuk mesin waktu. 

Teringat-ingat:
perjalanan sekolah 32km Karangampel-Cirebon naik bis sekolah punya Pertamina.

Toko penyewaan buku di Jalan Tuparev yang suka saya datengin abis pulang sekolah.

Nongkrong di Grage Mall. Makan es campur mang ade depan rumah. 

Buku-buku sekolah bersampul cokelat. 

Tas ransel warna kuning dan sepatu hitam dengan tulisan kecil 'milenium' (norak :D). 

Majalah Gadis yang saya beli sebulan sekali dan para pemenang gadis sampul yang saya idolakan.

Majalah Annida yang saya sukai cerpen-cerpennya. 

Kaos kaki hadiah ulang tahun dari Fery, teman sebangku. 

Kelas yang jendelanya besar-besar. Lorong sekolah yang tegelnya warna abu-abu ukuran 20x20cm. 

Pfiiuuhh. Mengenang masa lalu tuh campur rasa banget. Ya sedih, ya seneng, ya lucu :)

Saya gak catat Padi memainkan berapa lagu di konser malam itu. Dibuka dengan Sang Penghibur dan ditutup dengan lagu yang saya gak tahu judulnya ahahahaha. Lagu baru mereka kali ya. Kalo baca-baca di resensi konser Padi, mestinya lagu penutup adalah Bayangkanlah. 

Tapi di Trans Studio waktu itu, penontonnya kompak minta lagu lagi. Jadilah Fadly ngasi bonus satu lagu. Eheeee. 

Kalo ada yang terasa kurang dari penampilan mereka, maka itu adalah tempatnya. Trans Studio bukan tempat bagus buat konser musik. 

Lain kali Padi ke Bandung lagi, boleh lirik dong Sabuga atau teater tertutupnya Dago Tea House. Ruang akustik di Bandung buat konser yang paling epik, menurut saya, di dua tempat tersebut. 

Ditambah posisi kursi penontonnya juga kayak tribun. Di Trans Studio mah rata. Penonton yang postur tubuh pendek ya mati aja udah heuheuheu :D 

Kemaren saya ambil kelas festival. 250K harga tiketnya. Open gate jam 17.00 dan saya baru tiba jam tujuh malamnya. 

Di jadwal sih jam 7 itu udah mulai konsernya. Molor 45 menit. 

Dan saya ga nonton sendiri. Ada Tisa, Brata, dan sepupunya Brata. Mereka teman SMA saya di Cirebon dulu. Hahaha bodor juga gak janjian reuni, tau-tau dalam hitungan 1x24 jam nonton Padi barengan. 

Sampe detik ini saya masih nyanyi lagu-lagunya Padi. Indra udah eneg aja :D 

Sepenuhnya akuuuuuuu
Ingin memelukmuuuuuu
Mendekap penuh harapan
Tuk mencintaimuuuuu