Social Media

Image Slider

Sebentar Saja di Kota Baru dan Berlama-lama di Los Bunder

09/10/17
Berjalan kaki di kota Yogyakarta itu sulit, kawan :D

Wilayah yang ramai turis sih nyaman jalan kakinya. Keluar dari sekitar Malioboro, ah semacam pertaruhan nyawa. Baru mau nyeberang sudah diberondong klakson. Orang Jogja nih kalau sudah naik motor gak ada yang selow.

Ngomong-ngomong, kembali ke jalan-jalannya Bandung Diary di Yogyakarta. Kami menghabiskan sore pada hari rabu di awal Agustus di sekitar Kota Baru. Alfian Widi masih jadi penunjuk jalan dan pemandu.

Dari Museum Sandi, jalan kaki ke kawasan Kota Baru deket banget. Masih di wilayah yang sama sih.

Kota Baru ini dahulunya pusat pemukiman orang-orang Belanda di Jogja. Wilayah kolonial. Karena itu kawasannya kental rumah-rumah bernuansa Eropa. Beda dengan wilayah Jogja lainnya yang diperuntukkan bagi pribumi.

Memang tata kotanya di sini terasa lebih rapi. Di sisi jalan banyak pohon besar. Suasananya asri dan teduh. Kalau di Bandung mirip daerah sekitar Gedung Sate atau Dago.

Di sini ada rumah yang dibangun tahun 1918. Kalo dari buku yang saya baca, rumah tersebut dibangun untuk anggota keluarga keraton dan sampai sekarang masih dihuni keturunannya. Memang selain orang kolonial, kawasan Kota Baru jadi tempat tinggal kaum menak pribumi juga saudagar Tionghoa.

Susteran Darah Mulia

Terus ada juga gereja katolik, Kolese St Ignatius, dibangun tahun 1923. Bagus bangunannya ada menaranya gitu. Di seberang gereja tersebut ada bangunan yang amat sangat cantik. Menaranya dua dan pintu gerbangnya terbuka, masuklah kami ke dalamnya. Ke dalam halamannya saja.

Dahulunya vila milik Liem Han Tjioe, dibangun tahun 1920. Baru deh tahun 1966, bangunan ini diambil alih Suster-suster Darah Mulia jadi biara.

Bangunan lainnya entah apa dan bagaimana sejarahnya. Kami hanya melihat sebentar abis itu pergi. Bagus-bagus sih yang pasti mah arsitekturnya. Banyak yang tertutup pohon besar dan pintu gerbangnya tertutup.

Gak banyak berfoto di sini kami mah euy. Sebentar aja di Kota Baru. Gak ada satu rumah/gedung yang kami masuki. Mampir sebentar ke biara karena bangunannya cantik sekali. Seperti semua bangunan yang dipelihara yayasan kristen, kondisinya sangat terawat.


Karena Los Bundar di Indonesia Hanya Ada Dua, Salah Satunya di Yogyakarta

Abis itu ceritanya sore masih terlalu muda. Aan ajak kami ke Los Bunder (Los Bundar istilahnya dalam Bahasa Indonesia, orang Jogja bilangnya Los Bunder).

Kami putuskan ikut ajakannya. Sayang kalau langsung balik ke hotel mah euy.

Los Bunder itu bangunan milik Kereta Api Indonesia yang digunakan untuk menyimpan lokomotif. Bayangkan sebesar apa bangunannya :D

Kalau teman-teman pernah lihat serial kartun Chuggington, nah tempat si para lokomotif itu pulang dan istirahat namanya Los Bundar.

Kalau kami lihat dari luar, bentuk bangunannya mirip stadion sepakbola. Bentuk bangunannya bulat, tinggi, dan besar. Berkedok ingin memotret dalam rangka lomba fotografi, oleh satpamnya kami dibolehkan masuk ke dalam Los Bunder.

Dan di dalamnya saya bisa lihat Turntable!

Aaahhhkkkk senangnya bisa lihat langsung jejak peninggalan kereta api di masa lampau! Turntable ini dipake untuk memutar lokomotif atau menggeser rel. Turntable biasanya ada di tengah los bunder. Saya pernah lihat juga Turntable di Bandung, tapi los bundernya udah gak ada.

Di dalam Los Bunder, turntable di tengahnya

Los Bunder ini cuma ada dua di Indonesia. Satu di Yogyakarta, satunya lagi di Sumatera, di Tebing Tinggi kalau gak salah (cmiiw).

Terus kami gak bisa foto Los Bunder secara keseluruhan. Butuh kamera lensa besar sementara kami bawa lensa 35mm ajah :D

Ah yasudahlah. Melihat Los Bunder dan Turntable sepuasnya, kami merasa cukup dan beranjak ke tempat berikutnya: rumahnya Aan!

"Rumah saya dibangun tahun 1929, Lu." Semacam kalimat pemancing itu mah euy hahaha. Ternyata rumahnya berada di lingkungan pegawai Kereta Api Indonesia. Sejak tadi Aan ini emang mengobral cerita masa kecilnya dengan kereta api.

Rupanya bapaknya Aan ini pensiunan PJKA (nama dulu sebelum KAI). Sekeluarga mereka menempati rumah dinas yang umurnya hampir satu abad. Rumahnya pun masih 80% asli kayak dulu.

Khas banget lah rumahnya. Pagarnya aja masih kayu. Halaman depannya ada pohon asam yang guedeeeee banget.

Dari teras sampai dapur, Aan bawa kami room tour. Bahkan ke kamarnya yang gila luas amat. "Pernah ada 15 orang tidur di kamar ini," kata Aan. Ranjangnya saja masih super jadul dengan kelambu. Bahkan chandeliernya juga klasik amat. Dari lantai sampai langit-langit, masih orisinil.

Jendela rumahnya tinggi dan besar. Saya coba buka jendelanya, buset berat amat ya. Bukan karena rusak dan sudah tua, tapi karena kayunya yang berat.

Rumahnya Aan, in frame adalah Aan dan Nabil
Lantai rumahnya Aan

Balai Yasa, bengkelnya kereta api

Pohon Kenari yang dicagarkan

Bagian paling seru: sebuah batu di pojok kamarnya.

Di bagian tengah batu terdapat besi, seperti kumparan. Kata Aan, batu itu sudah ada sejak ia kecil. Dari ceritanya, si batu digunakan untuk mengusir makhluk halus.

Wow baru tahu benda kayak gitu untuk usir hantu :D

Sebelum pulang, Aan bawa kami ke bengkel kereta api. Deket banget sama rumahnya.

Di sana saya lihat deretan pohon kenari yang dicagarbudayakan. Suasananya teduuuhh sekali. Damai banget. Kecuali pas motor-motor lewat :D

Kami nongkrong di tepi rel, di depan Balai Yasa Yogyakarta, semacam bengkelnya kereta api. Kami ngobrolin banyak hal yang sekarang saya lupa apa aja yang kita obrolin waktu itu ya, An? Hahahaha :D

Jogja yang hangat (secara harfiah tentu saja :D) dan sinar matahari yang bersahabat. Sore yang menyenangkan di sudut Yogyakarta. Jauh dari keramaian wisata, saya bisa lihat wajah lain dari kota idola turis-turis domestik dan mancanegara ini.

Berikutnya saya mau cerita perjalanan kami di kampung Kauman. Besok ya!




Teks : Ulu
Foto : Ulu, Indra


Laweyan, Bukan Tentang Batiknya

01/10/17
Ceritanya dari Jogja, kami mampir ke Solo, niatnya mau ke Laweyan. Bukan mau belanja batik, kami gak nyiapin dana perjalanan utk beli batik di Laweyan. Kami datang karena cerita tempatnya. 


Ke Laweyan di hari minggu, ternyata kampungnya sepi aja. Sepi mah terlalu biasa. Lebih cocok pake istilah ini nih : senyap & misterius.



Jalanan kosong kayak kampung tanpa penghuni. Banyak dinding rumah tinggi-tinggi banget. 



Kalo ditilikitili, rumahnya gede-gede seperti istana. Rumah-rumah yg tampak frontal pintu dan jendelanya emang kuno sih gayanya, tapi gak seantik yang saya bayangin. Lha ya kan jadi penasaran banget bentuk rumah yg tertutup rapat dinding & pintu tinggi itu kayak gimana bentuknya. 



Membaca artikel ini : baca di http://alfianwidi.com/2016/04/laweyan/ jadi tahu kenapa gerangan tembok rumahnya tinggi-tinggi. Juga sejarah lainnya, termasuk tentang kenapa ada pintu kecil dan pintu besar kayak pintu yang saya foto ini nih. Teman-teman bisa baca lebih detail tentang sejarah Laweyan pada link tersebut. 



Menarik sekali ya Laweyan ini. Bahkan ada hubungannya dgn feodalisme keraton surakarta. 



Walo saya gak dapat impresi pertama yang menyenangkan dari Laweyan, saya mau balik lagi ke sana. Mengutip perkataan teman saya: Laweyan itu mesti lebih sabar dihadapinya, ketimbang sudut-sudut tua Jogja.



Entah kapan saya bakal nulis lebih panjang tentang Laweyan. Ini aja tulisannya saya salin dari status saya di Facebook bulan Agustus lalu. Heuheu. 





Bandung adalah Ibu Tiri #Bandung207

30/09/17
Sore ini saya sudah berada di rumah. Ini hari Sabtu. Capek. Dua bulan ini pekerjaan saya rasanya gak habis-habis. Alhamdulillah tentu saja. Saya masih punya pendapatan.

Seneng banget rasanya sebelum jam 6 sore udah nyampe rumah. Home sweet home.

Dan tau gak sih, otak saya kayak minta jatah istirahat terus menerus. Makin tambah umur, 24 jam berasa sangat kurang.

Terus karena saya suka nulis, saya merasa waktu untuk menulis saya habis untuk bekerja. Menulis untuk orang lain. Isi kepala saya yang ada malah tambah penat. Dan jujur aja, blogging jadi sangat membosankan.

Waktu untuk membaca pun gak ada.

Kali ini saya mau nulis untuk diri sendiri. Mumpung lagi istirahat. Nunggu ngantuk datang. Padahal saya bisa kali nih baca beberapa halaman buku ya. Yayaya kontradiktif pisan urang teh euy.

Jadi, Bandung kan abis ulang tahun ke-207. Saya udah niat dari kapan mau bikin tulisan dalam rangka dirgahayu tersebut. Ealah mana sempat hahahahaha. Pret banget lah.

Sekarang aja deh nulisnya.

Sering saya baca kalimat bunyinya: Bandung heurin ku tangtung. Artinya, Bandung udah sempit banget gara-gara kebanyakan manusia.

Saya ngerasa, manusia itu saya juga sih. 15 tahun lalu, saya yang anak pesisir ini datang ke Bandung untuk kuliah.

Sejak itu saya betah di Bandung. Udaranya sejuk luar biasa karenanya saya suka. Udah gitu orang Bandung kok ya ramah-ramah amat. Makanannya enak.

Enggak. Saya bukan tukang jalan-jalan. Fitrah itu baru muncul di tahun 2005. Empat tahun pertama, saya mah anak rumahan.

Baru deh abis itu penjelajahan dimulai. Gara-gara suatu kejadian di bulan September 2005 sih.

Bertahun-tahun menjelajahi Bandung, saya kok malah makin kangen kampung halaman sendiri. Karena Bandung, saya bisa lihat potensi daerah nun jauh di sana, lima jam dari Bandung.

Kalian tau Tarling gak? Dangdut pantura? Gila sesuatu yang dahulu saya sebut norak, sekarang jadi obat kangen. Baru denger intronya aja, hati saya udah anget rasanya...

Bandung buat saya adalah kota yang menyenangkan. Di sisi lain, ia menumbuhkan cinta saya pada yang lain.

Tapi saya selalu pengennya pulang ke Bandung. Hawa dinginnya yang saya cinta mati.

Saya ini seperti anak angkat yang masih cinta ibu kandungnya namun inginnya pulang ke si ibu tiri.

Selamat ulang tahun, Bandung.


Serunya Weekend di Grand Tjokro Bandung

29/09/17
Seminggu yang lalu, Bandung Diary diajak Grand Tjokro Bandung berkunjung ke hotelnya. Saya gak sendirian  karena beberapa blogger juga diundang ikut serta. Acaranya dimulai pagi dan berakhir siang hari. Pada acara kali ini saya bawa serta bocah cilik yang cerewetnya tiada akhir, Nabil. 


Saya datang kepagian. Gak masalah sih sebab di lobi hotel terdapat playground corner. Tidak dipungut biaya. Nabil main dulu sepuasnya sampai acara dimulai. 

Sekitar 30 menit kemudian, kami diminta pergi ke restorannya yang berada di lantai dua. Di sana kami menyantap sarapannya yang super festive saking banyaknya menu yang tersajikan. Gila, menu terbanyak yang pernah saya lihat seumur-umur menginap di beberapa hotel di Bandung. Bayangin pagi itu saya makan apa aja: roti cane kari, churros, omelete dan sosisnya, daging ayam panggang, macaroni schotel, mashed potato, sushi, aneka macam pastry, es krim, nasi kuning, aaarrgghhhh ini sarapan atau menu kondangan buanyak bangeeetttt! 

Untunglah sehabis makan-makan tanpa akhir ini kami beranjak ke lantai enam dan berjalan kaki mengikuti sesi hotel tour. 

Oke. Setelah mencicipi gimana sih rasanya jadi tamu di Grand Tjokro Bandung, berikut ini hasil laporan pandangan mata dan hati saya :D 

Seperti biasa kayak resensi penginapan yang lain, saya mulai dari :

ROOM

Kamar yang saya lihat tipenya Junior Suite yang luas kamarnya 9x4 m. Pemandangan jendela kamar mengarah ke jalan Cihampelas. 

Dari penampakannya kamar ini terlihat berkelas dan super simpel. Interior kamarnya semacam penganut konsep 'less is more'.

Sebenarnya itu tipe kamar yang termasuk mewah. Di bawah tipe Junior Suite ada tipe kamar Premiere, Deluxe, dan Superior.  

sori bednya berantakan :D anak-anak nih pada loncat-loncatan di situ heuheu



Lantainya berhampar permadani. Empuk sudah pasti. Warna di kamar cuma dua macam, cokelat tanah dan putih. Aksen motif warna ada pada permadani dan kain di ranjangnya. 

Ngomong-ngomong ranjangnya empuk sekaliii. Ukurannya king alias lebar sangat! Dan bantalnya tahu gak ada berapa: EMPAT! Hahahaha, ini belum termasuk cussionnya dua buah.

Kebersihan mah sudah pasti baik. 

Di kamar mandi tersedia bathtub (saya cek di Agoda, Superio dan Deluxe mah hanya shower aja). Amenitiesnya super lengkap, sampe sewing kit dan sisir juga tersedia. Ya namanya juga hotel bintang empat. Hehehe. Ukuran kamar mandinya pun lumayan luas alias gak riweuh nyenggol sana-sini.


FOOD

Dari makanan yang saya coba, rasa yang paling menonjol adalah daging panggangnya. Waktu itu saya lihat ada tiga macam daging panggangnya deh, beda bumbu gitu. Saya pilih yang berbumbu barbekyu. 

Tips saya kalau teman-teman menginap di Grand Tjokro Bandung adalah: jangan melewatkan jam makan pagi euy dan usahakan gak makan nasi deh, supaya ruang di perut cukup untuk menampung menu-menu non-nasi yang uhuuuyyyy banyak pilihannya! 

Rasa makanannya selain si daging panggang enak juga kok. Ini kalau kalian bawa anak pun mereka bakal seneng banget karena.... (drumm roll!).... ada es krimnya juga! Saya gak lagi ngomongin es krim yang satu skup vanila atau cokelat gitu ya. Satu freezernya dipajang, pilihannya banyak! Hahahaha. 

 

SERVICE

Gak bisa saya ceritakan banyak-banyak karena saya belum berinteraksi banyak dengan para pegawainya. So far so good. Begitu masuk hotelnya mereka sudah menyapa saya. Bahkan menawari untuk ikut serta cooking class bikin pizza :) 


LOCATION

Ini nih yang suka jadi bahan pikiran kita-kita kalau menginap. Hotelnya strategis gak? Menurut saya nih yang orang Bandung, Grand Tjokro Bandung lokasinya bagus. Dia berada di Jalan Cihampelas. 

Biasanya turis-turis pada ke mana kalau traveling di Bandung. Setahu saya pasti ke Lembang, Dago, Cihampelas, dan tentu saja kawasan Asia Afrika. Semua lokasi itu tuh terhubung dengan Cihampelas. Apalagi ke Lembang, kalau gak macet mah 40 menit juga sampai. Tapi bila macet mah ya jangan ditanya heuheuheu. 


Lagipula Cihampelas itu seru juga untuk dijelajahi. Ada mall favorit saya (karena toiletnya selalu bersih, pedestrian walknya bagus, dan pelopor mall dengan mushola bersih dan sangat layak pakai: CiWalk. 

Belum lagi SkyWalk Cihampelas, jalan layang yang membentang sekitar 500m khusus untuk pejalan kaki. Di Indonesia yang kayak gini cuma ada di Bandung. Masih kurang? belanja sandang dan oleh-oleh Bandung bisa banget di Cihampelas. 

Masih kurang juga? nyari kafe-kafe lucu tinggal loncat (saking deketnya hehehe) ke kawasan Ciumbuleuit. Saya rekomendasikan kafe bernama Kiputih Satu yang manis dan gak bikin mata pusing karena dekorasinya yang sederhana tapi buagus banget. Ada juga Lereng Anteng, Paradesa, Warung Sombar, dan burger enak-enak di Brother John and Sons, Garage 107, dan yang lagi hits nih namanya Kalpa Tree.

Mau ke Dago pun deket. Intinya sih Jalan Cihampelas ini termasuk jalan utama di Bandung dan terhubung dengan jalan-jalan hits lainnya. Superb!  


FASILITAS

Saya udah cerita ya di awal tulisan bahwa di lobi hotel tersedia playground untuk anak-anak. 

Lumayan seru mainnya. Ada mobil-mobilan, puzzle, boneka, dan beberapa mainan yang berhubungan sensorik anak-anak. 

Abis itu kami ke Rooftop Garden yang ternyata bisa disewa untuk wedding party. Ruangannya outdoor dan indoor. Buat merayakan ulang tahun juga bisa nih. 

Gak cuma itu, sebagai hotel berbintang empat, Grand Tjokro juga menyediakan gym, spa dan kolam renang dua buah: untuk orang dewasa dan untuk anak-anak. Ohiya, airnya gak hangat yak. Dan di akhir acara hotel-tour ini kami berenang ramai-ramai. Hehehe. Seru! 


Kolam renangnya ada di rooftop. Di dekat kolam renang ada playground juga. Puas-puasin main!


WEEKEND SERU DI GRAND TJOKRO BANDUNG

The joy is not over yet. Sebelum berenang, kami makan-makan lagi dong. Uniknya makanan yang kami santap adalah buatan sendiri alias hasil karya anak sendiri :D 

Di restorannya Grand Tjokro Bandung yang bernama Street Grill and Friends, kami ikutan kelas memasak menu pizza!

Bahan-bahan sudah tersedia. Kami tinggal mencampur aneka bahan sesuai panduan chef. 

Supreme Pizza yang kami buat ini merupakan menu best sellernya Street Grill and Friends. Bahan-bahannya gampang aja, tapi kok saya bikin sendiri di rumah hasilnya beda jauh ya hahaha. Ah ya bahannya beda kali nih. 

 

Ini bukan cooking class yang pertama Nabil dan saya ikutin. Walo begitu, setiap kelas memasak yang kami ikuti bersama selalu seru-seru! Termasuk cooking class di Grand Tjokro Bandung ini nih. Ditambah ini pertama kalinya kami masak pizza barengan hehehehe. Menguleni adonan pizza aja drama banget karena saya nuangin terlalu banyak air heuheuheu. Drama berakhir setelah chef resto yang lincah dan cekatan membantu kami :D 

Yah kotor-kotor dikit gak masalah, udah pake apron yang warna-warni juga sih. Hehehe. 

Pizzanya bikin sendiri dan kami makan sendiri. Yummy enak banget! Habis sekejap mata saja hahaha. Delapan iris gede-gede, cukup untuk bekal makan siang. 

Resto Street Grill and Friends bukan hanya menyediakan cooking class, tapi juga available untuk arisan, perayaan ulang tahun, reuni, dan acara sejenisnya. Dan khusus untuk acara kayak cooking class ini nih diselenggarakan di akhir minggu. Seru ya.


RATE

Grand Tjokro Bandung tersedia di hampir semua web dan aplikasi booking online. Harganya dimulai dari 600ribuan. 

Memesan online di web Grand Tjokro juga bisa, cek ke web http://www.grandtjokro.com/. Harganya saya perhatikan cukup bersaing. Belum lagi kalau ada kode promo, lumayan diskonan :D 

Sering-sering cek atau sekalian aktifin notifikasi Grand Tjokro Bandung deh di Instagram, nama akunnya @grandtjokrobandung.

Bila ingin staycation di Bandung, Grand Tjokro Bandung adalah pilihan tepat. Sempurna untuk pejalan tipe keluarga atau bagi yang ingin ajak jalan-jalan keluarga besarnya. Wifi ada di seantero kamar dan penjuru hotel, gratis. 

Bagian seru lainnya adalah beberapa fasilitas bisa dinikmati pengunjung yang tidak menginap di hotel Grand Tjokro. Kayak kolam renang, biayanya 100K. Lalu cooking class juga dapat diikuti tamu yang gak nginep, biayanya 100K juga. 


Grand Tjokro Bandung

Jl. Cihampelas no. 211-217 Bandung
Facebook Fanpage : Grand Tjokro
 





Teks: Nurul Ulu
Foto: Nurul Ulu

Masjid Kaliwulu: Situs Kuno Di Balik Batik-batik Trusmi

07/09/17
Sinar matahari dosis tinggi tak menyurutkan niat turis-turis domestik berbelanja kain batik. Mumpung masih jam 9 pagi. Cuaca panas menyengat, masuk ke toko-toko batik yang berjejer itu lebih menyenangkan sebab bisa menyejukkan diri dengan mesin pendingin udara di dalamnya. 

Namun saya dan Indra urung membeli oleh-oleh khas Cirebon di Trusmi. Tujuan kami di Kampung Batik Trusmi berada agak jauh dari keramaian, menepi ke sisi terjauh Desa Trusmi yang senyap.

Desa Kaliwulu merupakan tetangga dekat Desa Trusmi. Masjid kuno nan keramat bernama Masjid Kaliwulu berada di sekitar perbatasan kedua desa tersebut. Rasa penasaran akan masjid yang antik membawa saya padanya.



Dari mulut Jalan Panembahan Plered yang merupakan gerbang masuk ke Kampung Batik Trusmi, Indra kemudikan kendaraan lurus saja mengikuti Jalan Syekh Datul Kahfi menuju Jalan Ki Natagama.  Terima kasih Googlemap :D 

Jalan mulai agak lengang dan menyempit. Kendaraan diparkir dan kami memutuskan menumpang becak. Tawar menawar harga, sepakat di angka Rp10.000 bolak-balik ke dan dari Masjid Kaliwulu.

Menyusuri jalan kecil menuju masjidnya dari dalam becak, saya pikir sebenarnya mudah saja melaluinya dengan berjalan kaki. Tapi anu lho, panasnya luar biasa. Padahal baru jam 9 pagi saja. 

Kira-kira 1,5 km dari mulut jalan Ki Natagama dan melewati barisan rumah, kami bermuara ke sebuah tempat yang hening. Di situlah Masjid Kaliwulu berada.

Kesunyian Masjid Kuno Kaliwulu

Becak berhenti di dekat makam-makam warga yang jadi halaman depan Masjid Kaliwulu. "Makam keramat ada di belakang masjidnya," ucap Pak Sobari - tukang becak- tanpa saya tanya. Dia pikir saya mau ziarah kali ya :D 

Saya memintanya menunggu sembari saya menjelajahi masjidnya. Sepi sekali suasana masjidnya. Pohon besar-besar dan hamparan nisan membuatnya lebih temaram. 

Sekilas memandang dari luar, masjid yang dipagari tembok bata merah setinggi 1,5 m ini tampak luas. Lebar sisi depannya saja kira-kira 50 meter. Pepohonan rindang menaungi makam dan sebagian wilayah masjid. Perasaan sejuk mendekap.



Dari beberapa literatur yang saya baca di internet, masjid ini disebut berumur lebih dari 200 tahun ini. Sayangnya tahun pendirian masjid tidak tercatat pada badan masjid. Namun terdapat balok kayu di bagian atas pintu masuk ke ruang utama masjid yang mencantumkan informasi dalam huruf arab tahun perbaikan masjid, yakni tahun 1826. 

Masjid Kaliwulu didirikan oleh putra dari Pangeran Panjunan yang mendirikan Masjid Merah Panjunan. Namanya Syekh Abdurrahman. Oleh karenanya Masjid Kaliwulu dikenal juga dengan nama Masjid Keramat Syekh Abdurrahman. Nama Kaliwulu diambil dari sungai di belakang masjid. Lagipula pelafalan Kaliwulu lebih mudah diucapkan sih. 


Baca juga: Menelusuri Rumah Kuno di Cirebon


Ada tiga pintu gerbang masuk ke Masjid Kaliwulu. Seperti pada umumnya gerbang-gerbang di Cirebon, di sini gerbangnya berwujud gapura dari bata merah.

Menilik masjid dari halaman depannya, saya bisa lihat ada beberapa atap. Pada bangunan masjid semuanya beratap genteng. Sementara bangunan makam Syekh Abdurrahman beratap sirap. Di bangunan utama masjid atapnya tumpang dua. Pada pucuk masjidnya terdapat Memolo (ukiran). 

Tiap bagian di kompleks Masjid Kaliwulu memiliki fungsi dan nama. Wilayah makam keramat dinamakan Pasarean. Tempat sembahyang di luar ruang utama masjid dinamakan Pawestren. Ada pula bangunan Pendhapa (serambi). 

Meski sekarang tersedia keran air untuk berwudu, dua sumur masih lestari keberadaannya, terletak di sisi selatan dan utara masjid. Di sebelah pintu masuk ke Pasarean ada kendi ukuran besar untuk berwudu sebelum masuk ke area makam. Saya membasuh muka dari kendi tersebut. Ah segar sekali, airnya dingin terasa sejuk.

Saya minta izin pada pengurus masjid untuk memasuki ruang utama masjid, bagian asli dari masjidnya. Namun ia menolak. Saya hanya bisa menginjakkan kaki di ruang tengah masjid yang merupakan gabungan dari bangunan lama dan baru, yaitu Pawestren dan Pendhapa.

Sebelum masuk ke Pendhapa, saya berpapasan dengan dua orang yang hilir mudik di luar pintu makam Syekh Abdurrakhman yang dikeramatkan. “Mau kliwonan, Mba”, tutur salah seorang laki-laki muda, mungkin umurnnya 15 tahunan. Saya cek kalender online. Rupanya kedatangan saya pada hari kamis itu menjelang hari yang istimewa. Ah mana saya tahu kalau malam nanti malam jumat kliwon...heuheu. 


Di Dalam Pendhapa

Dari buku berjudul Masjid Kuno Cirebon tulisan Dr. Eng Bambang Setia Budi Dkk disebutkan, di dalam ruang utama masjid terdapat empat sakaguru dan delapan sakarawa. Dari total 12 tiang di ruang utama, terdapat satu tiang penuh ukiran. Sayang sekali saya belum berkesempatan untuk melihat tiang dengan ukiran yang konon indah sekali tersebut.

Sebelum masuk masjid kami berwudhu dulu. Formalitas aja sih, tapi Indra emang udah niat mau sholat katanya. 

Kami menginjakkan kaki terlebih dahulu di Pawastren. Lantainya keramik zaman sekarang yang membosankan itu lho :D Tapi kalau tengadahkan kepala lihat atap/langit-langitnya, whuidih masih kayu malang melintang. Belum lagi ada kaca-kaca patri sebagai dekorasi. Pawastren ini memang bangunan baru sih, fungsinya menampung tambahan umat utamanya kaum perempuan. 

Habis itu kami masuk ke Pendhapa dan menahan napas barang sedetik dua detik sebab terpesona dinding Paduraksa yang terlihat kokoh, gagah, dan luar biasa cantik. 



Bila pernah mengunjungi Masjid Merah Panjunan yang di dindingnya unik karena ada piring-piring tertanam di dalamnya, maka seperti itu lah pemandangan yang kami saksikan di dalam Pendhapa Masjid Kaliwulu. Hanya saja di sini warna dindingnya putih. Piring-piringnya pun kebanyakan polos tak ada gambar seperti di Masjid Panjunan. 

Ruang utama masjid dengan Pendhapa, dipisahkan Paduraksa. Tempat di mana saya dan Indra berdiri itu dahulu merupakan teras masjidnya. Saya dan Indra menyentuh dindingnya, meraba piringnya. Ah begini kali nih rasanya ada di lorong waktu :)

Kami juga mengintip-intip ke ruang utama dari celah pintu. Ah ingin masuk ke dalamnya tapi mana bisa. Pintu kayunya dikunci dan juga tidak dapat izin dari pengurus masjid. 

Ya sudah mengintip juga sudah cukup. 



Memendarkan pandangan ke sekeliling ruang Pendhapa, saya melihat ada empat tiang sakarawa. Satu dari empat tiang tersebut dibungkus kain putih. Tiga tiang bersih tanpa ukiran. Bagian bawah tiang disangga umpak batu. Tiang terbungkus kain putih adalah tiang yang umurnya sudah tuaaaaa sekali. 

Entah apa alasannya kenapa dibungkus kain putih. Mungkin dikeramatkan. Bisa jadi juga untuk melindungi tiang kuno tersebut dari kerusakan. Tapi saya lebih yakin alasan keramat itu sih.

Pada bagian pendhapa terdapat dua pintu antik nan mungil beratap rendah di sisi utara dan selatan. Pintunya tertutup karena sudah ada pintu pengganti yang normalnya kita lihat sekarang lah bentuknya. Di sisi pintu-pintu kuno itu lah terdapat sumur untuk berwudhu.

Nah di Pendhapa ini lah muncul perasaan takut yang merayap ke punggung dan leher saya. Ditambah pula saya mengintip-intip ruang utama dari celah pintu. Ugh senyapnya luar biasa. Minim cahaya, temaram menambah kesan angkernya. 

Indra menyempatkan sholat dhuha. Saya enggak. Hanya duduk memandang keindahan dinding dan paduraksa sambil kipas-kipas muka. Juga sambil mengenang tempo dulu suasananya bagaimana. Usai sholat dan merasa cukup melihat Pendhapa, kami keluar dan saya dengan santainya masuk ke ruang sumur. 

Sebenarnya ruang sumurnya terbuka sih, sumurnya ditutup dinding warna merah setinggi 165 m tanpa atap dan pas masuk gak langsung ketemu sumurnya, sedikit berkelok lah baru ketemu sumurnya. Dan di sini lah hawa horor itu menjadi-jadi, terasa begitu kuat. 

Perasaan aneh yang 'gelap' dan horor ini terbawa hingga ke rumah, bahkan saat saya di Bandung pun rasa merindingnya masih melekat, seperti ada beban menempel di pundak.  

Beberapa kali mengunjungi situs kuno, tapi gak semua dari tempat itu meninggalkan hawa yang angker meski tempatnya emang menyeramkan. Masjid Kaliwulu ini beda banget auranya, perasaan yang sama pernah saya alami di situs Gunung Padang Ciwidey. Perasaan angkernya terbawa hingga ke rumah berhari-hari lamanya.


Kalo diperhatiin dari fotonya sih kayak yang biasa aja ya gak ada yang bikin merinding. Mesti ke sana langsung deh. Hawa mah tak terlihat. Enaknya dirasakan sendiri.

Gak apa-apa sih, namanya juga tempat keramat dan kuno. Terlepas dari aura tak sedap yang bikin gelisah, Masjid Kaliwulu ini sungguh masjid yang indah. Walau sudah ditambah ruang-ruang baru, tapi keasliannya masih terjaga dan saya menyukainya. 

Dan juga nama masjidnya mirip nama saya, ulu = wulu. Ehehehe maksa :D 

Bila datang ke Cirebon, ayo datangi situs-situs kunonya. Pengalaman wisata yang sungguh berbeda bila dibandingkan dengan berbelanja benda-benda atau swafoto belaka. Yang ini namanya belanja pengalaman, gak bisa dibeli dengan uang. 



Bila Ingin ke Masjid Kaliwulu

1. Masjid Kaliwulu, paling mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi. Namun bila menggunakan transportasi umum pun tak masalah. Buka aplikasi Googlemap untuk penunjuk jalan.

2. Selain ojek, pilihan menumpang becak bisa jadi keasyikan tersendiri. Dari pusat kota Cirebon ke Plered menaiki angkot. Berhenti di Plered, tinggal dipilih ojek atau becak yang ingin ditumpangi. Sekarang di Cirebon ada Gojek dan Grab sih. Tapi kayaknya bakal repot pas pesen mereka dari Kaliwulunya. 

3. Belajar menggunakan bahasa lokal. Tak usah banyak kosakata, cukuplah kata ‘terima kasih’ dalam bahasa cirebonan.

4. Setiap masjid ada kuncennya. Pastikan meminta izin dahulu sebelum memotret, apalagi bila menggunakan kamera DSLR.

5. Berhubung tempat-tempat yang saya kunjungi adalah tempat ibadah sekaligus tempat yang dikeramatkan, pakaian yang kita kenakan harus sopan dan berperilaku lah santun.




Teks : Ulu
Foto : Indra Yudha, Nurul Ulu

Sebab Efek Rumah Kaca Adalah Cinta Lama

04/09/17
Efek Rumah Kaca adalah cinta sejak tahun 2007. Seneng bangetngetnget saya bisa dengar mereka secara langsung, semalam di Teater Terbuka Dago Tea House (3/9/2017) dalam Konser Sepenggal Rindu. Beruntung saya bisa hadir di sana yang vibe penontonnya cakep, soundnya bagus, dan latar panggungnya apik banget! 


Saya datang satu jam lebih awal sebelum pintu gerbang dibuka. Antisipasi antrean masuk pintu gerbang. Dua temen saya nonton, Unis dan Akbar, datangnya pas jam 6 sore. Kami sempet terpisah tapi ketemu lagi dan duduk bareng pas konsernya mau dimulai.  
 
Dago Tea House juaranya sih buat konser atau gigs musik. Ruang akustiknya bagus dan vibenya sejuk karena namanya juga Dago Atas gitu. 
 
Ditambah waktu konser si tata suaranya apik. Malamnya pun cerah. Di dalam tas saya sudah berbekal jaket jaga-jaga kalau hawa terlalu dingin. Juga ada jas hujan untuk penangkal kebasahan kalau turun hujan. Keduanya tidak terpakai. Udaranya dingin tapi tidak menusuk. Rembulan aja menggantung-gantung di atas kepala kami dan langitnya bersih hanya saja gak berbintang.

Benar-benar malam itu salah satu malam terbaik yang pernah saya alami. Cakep semuanya.

Kata Mayang, temen lama yang panitia acara, jumlah penonton ada seribu. Kapasitas tempat memuat 1800 orang. Tapi Omunium, orgasinator acara, gak mau jual tiket banyak-banyak. "Biar penonton bisa menikmati acaranya sih," kata Mayang. Waaagh makasih, Omunium!

Dan itu tuh tiketnya udah sold out! Si Mayang cerita dia minta tiket tambahan ke bos dan mau dia jual 300K di jalan Dago. Sinting. Hahaha. Bosnya gak mau. 1000 orang is 1000 orang!

Harga tiketnya 75K aja. Terhitung murah buat saya mah demi nonton ERK. Mana tempatnya asyik gitu.

Dan senangnya lagi nontonnya gak kehalangin kepala/badan penonton lain. Ampiteater sih namanya juga. Ditambah penontonnya tertib-tertib. Gak ada serobot tempat atau gencet-gencetan. Masuknya rapi, milih tempat duduk juga gak kayak anak kecil rebutan permen atau ibu-ibu rebutan antrian di Alfamart. 

Ya palingan pas tiga lagu terakhir sih penonton yang duduk di barisan depan maju mendekat dan naik ke panggung dan beberapa dari mereka berswafoto. Swafoto dan (nampaknya) rekam instastoriesnya dengan latar si Cholil lagi nyanyi. Gak cewek gak cowok, hayoh weh swafoto/video. Untuk sejenak, menjadi penonton konsernya Ayu Tingting dan Efek Rumah Kaca jadi terasa sama aja. Smartphone emang bikin kita jadi banal. Heugh. 

Saya gak banyak rekam konsernya, baik dalam bentuk foto dan video. Pengen menikmati suasananya. Pengen ikutan nyanyi keras-keras tapi gak dimarahin orang (karena saya tahu suara saya jelek :D). Pengen menyalurkan perasaan yang sama tentang lagunya barengan dengan Efek Rumah Kaca-nya. Pengen merasakan apa kalau denger Cholil nyanyi langsung darah saya sama mendidihnya waktu denger Mosi Tidak Percaya dan lagu Merah, juga Biru. Pengen dipuas-puasin tanpa terganggu gadget. Sekaligus menghormati penonton yang ada di belakang saya.

Efek Rumah Kaca barangkali di album barunya nanti mau bikin lagu tentang kelakuan orang-orang dan smartphonenya yang banal itu? 

Secara keseluruhan konsernya menyenangkan. Mestakung. Bahkan saya merasa baik-baik saja saat penonton di samping saya ini -selama 3,5 jam acara berlangsung- merokok 10 batang (ini hiperbolis amat ya :D Hahaha. Bah teu paduli lah sebanyak apa dia ngudud yang penting saya bisa nyanyi bareng Efek Rumah Kaca. Toh tempatnya juga ruang terbuka jadi asap rokoknya bertebaran ke angkasa.

Dan semua orang ikut nyanyi bareng si Cholil. Saya juga lah :D

Tenggorokan saya kering. Sepanjang konser ikut nyanyi. Kecuali dua lagu: Putih dan Jingga. Sedih ternyata kalau denger langsung. Gak bisa gak nahan air mata. Tercekat. Jadi teringat-ingat orang terdekat yang udah gak ada, terutama ayah saya.


Kayaknya hampir semua lagu di album Sinestesia keluar. Dari album Kamar Gelap dan Efek Rumah Kaca hanya 5-7 lagu yang dinyanyikan. Cmiiw.

Salah satu lagu favorit saya gak keluar. Dia adalah Jangan Bakar Buku. 

Ah ya gak apa-apa. Senggaknya Melankolia, Jingga, dan Di Udara juga Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa semalam berkumandang.

Begitu juga dengan Sebelah Mata. Saya ngarep-ngarep ada Adrian tiba-tiba masuk ke panggung pada waktu komposisi tersebut dilantunkan. Tapi gak ada, gak apa-apa. Saya bisa ikut nyanyiin lagu ini, dengan mata berkaca-kaca :')

Dan jujur aja gak semua liriknya Efek Rumah Kaca saya ingat. Mana kosakatanya rumit-rumit :D Untunglah ada layar besar di panggung dan menampilkan lirik-lirik dari lagu yang ERK bawain. Jadi ajah ikut nyanyinya enakeun. Kayak karaoke.

Sampai di rumah, saya masih denger ERK dari playlist di laptop dan smartphone. Sepertinya bakal begini terus sampai banyak hari di depan. 

Terima kasih, Efek Rumah Kaca
Terima kasih, Omunium

(Strategi Agar Gak Kegencet Penonton Lain) Sewaktu Nonton Karnaval Kemerdekaan di Bandung

31/08/17
Oke. Jadi seminggu lalu kami bertiga nonton karnaval di Bandung (26/8/2017). Karnaval ini nih rada beda karena skalanya nasional dalam rangka merayakan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Dua tahun sebelumnya Karnaval Kemerdekaan berlangsung di Pontianak dan Danau Toba. Tahun 2017 ini Bandung dapat kehormatan jadi tempat karnavalnya.

Biasanya emang ada karnaval sih di Bandung setahun sekali dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika. Tapi skalanya ya lokal. 

Mengingat Karnaval Kermerdekaan ini skalanya nasional, organisatornya sudah pasti Pemkot Bandung ikutan dan ada Jokowi, maka saya, Indra, dan Nabil berunding dan memutuskan ayo berangkat nonton karnaval!


Dan karena saya dan Indra follow akunnya walikota Ridwan Kamil (RK), semua informasi tentang Karnaval Kemerdekaan kami peroleh dari akun beliau. Belum lagi banyak yang share di grup whatsapp.

Ini acara Karnaval Kemerdekaan yang sosialiasi acaranya via media sosial. Makin dekat ke hari H, makin gencar yang share poster-poster berisi rute, susunan acara, sampai himbauan gimana jadi penonton yang baik, gimana jadi peserta karnaval yang gak nyampah, hingga ke lokasi parkir kendaraan. Mantap!

Baca juga : Tips Ajak Anak Traveling adalah Banyak-banyak Sabar :D 


Bahkan ada relawan segala. Abis RK umumin poster pendaftaran relawan, dalam waktu 24 jam terkumpul relawan sebanyak lk. 1300 orang. Selama acara berlangsung, saya lihat sih mereka ada di mana-mana: mungut sampah, dokumentasi, jaga garis pembatas, dll, dsb, dst. 

Anw, berdasarkan semua informasi yang wara-wiri di media sosial, kami menyimpulkan bahwa karnaval itu bakal heboh banget, rame pisan, dan pasti buanyak buanget orang! 

Eugh. Hiruk pikuk bukan situasi yang kami sukai. Lantas gimana nih biar nontonnya gak bete nih. Males kan kegencet-gencet penonton lain. Seriusan deh, di Indonesia tuh ya susah banget jadi penonton tertib. Gak bisa lihat garis pembatas. Pura-pura gak sadar kalau tempatnya udah penuh. Pokoknya bego rame-rame lah. Kan kesel jadi ikut bego. 

Jadi, kami memutuskan menyusun strategi biar gak kegencet dan keinjek dan marah sama penonton lain. Gimana cara?

1. Perhatiin Waktu Acara

Acara mulai jam 14.00 dan selesai jam...jam berapa ya lupa :D Sorean deh jam 17.00 kalau gak salah. 

Karena udah tau waktunya, saya dan Indra susun jam berangkat dan jam pulang. Ini kepake banget karena kami mau menghindari jalan macet dan penutupan jalan. 

Tau gak kami nyampe Balaikota jam berapa, jam 10 pagi ahahahahaha. Kami leyeh-leyeh dulu lah di Balaikota, makan di warteg di jalan Suniaraja, window shopping ke toko-toko bangunan di Jalan ABC dan Suniaraja. Pendek kata mah ngabisin waktu nunggu jam 2 siang. Kalau mau tidur tinggal ke Masjid Al Ukhuwah di seberang Balaikota :D ya asal tidurnya sambil duduk sih gak enak juga tidur terlentang mah atuh wkwkwkwk. 

Pulangnya pun malam hari. Karnavalnya sudah selesai sejak jam 5 sore kalau di Jalan Merdeka, lokasi kami nonton karnaval. Kami istirahat dulu di gerai fast food. Sekalian nuker poin dapet diskon 30ribu (rencana ini pun udah kami siapin sejak dari rumah ahahaha). Pokoknya colling down dulu deh di restoran sampe macetnya mereda, baru kami pulang. 

2. Perhatiin Susunan Acara

Ada yang share rundown Karnaval Kemerdekaan di grup whatsapp. Nah ini dia yang saya butuhin! Harusnya sih acaranya gak molor ya, secara bakal ada Jokowi. Lagian emang ini jamannya Dada Rosada yang selalu telat itu tuh (kejadian pas perayaan Cap Go Meh 2011 di Bandung). Hih! 

Dalam rundown disebutin karnaval baru berjalan jam 15.00. Kami santai dulu lah cari makan siang biar pas nonton tenang. Makan sate aja di pinggir jalan Wastukencana.


3. Udah makan, kenyang! 

Eh udah disebutin ya barusan di no 2, makan dulu. Biar gak rese pas nontonnya. 

4. Numpang transportasi umum atau pikir dulu mau parkir di mana deh kalo bawa kendaraan

Kami numpang ojek online aja. Eh sori, maksudnya taksi online. Berangkat naik Grab, pulang naik Gojek. Sebenernya mah kalau mau kendaraan sendiri juga bisa sih. Parkirannya banyak kok asal mau jalan kaki dikit. Toh poster yang ngasitau informasi parkiran juga udah tersebar kan.

Tapi di sini lah potret orang Indonesia kebanyakan. Gak mau survey data. Gak mau mikir.

Sebenernya kalau mau persiapan dari rumah, bisa kok tentuin waktu keberangkatan diatur-atur biar gak kena macet di jalan. Bisa kok kalau mau persiapan mikir tempat parkir yang bukan di trotoar jalan. Bisa kok. BISA BANGEEETTTT! Bisa banget kok gak bego ramai-ramai parkir di trotoar jalaaaaan *kezel!*

Kalo di sekitar Balaikota, parkir tuh bisa di basement Masjid Al-Ukhuwah, di parkiran BIP, parkiran BEC, Gramedia, sampai kalau perlu mah di kampus UNISBA atau UNPAS. Jalan dikit doang apa susahnya. Cik atuh lah nanaon teh dipikiran atuh lah. Ini mah acara jam 2 siang, baru pada datang jam 2 siang pula, parkir pengen yang deket-deket acara. Halah kumaha teu nyusahkeun batur jeung oge ngarusak trotoar euy.

Baca juga: Waktu Saya di Cirebon


Kenapa kami gak bawa kendaraan sendiri: tentu aja karena macet. Kedua: kami menyadari pasti bakal capek banget sih, lagi capek disuruh nyetir alamak letih euy. Mending bayar orang buat nyetirin :D (terima kasih Gojek! hatur nuhun, Grab!).



5. Mikir Posisi Nonton

Waktu itu kami bikin peta lokasi berdasarkan rute karnaval. Hahaha niat amat. Ah gak juga, tinggal buka googlemap :D 

Oke. Karnaval berangkat dari Gedung Sate. Rutenya ke : Gedung Sate - Sulanjana - Dago - Jalan Merdeka - Taman Vanda (Jokowi berhenti di sini, karnaval yang lainnya terus sampe ke Alun-alun) - Lengkong - Asia Afrika - Alun-alun. 

Kami perkirakan ada 3 titik utama pusat keramaian:
Kawasan Asia afrika/Alun-alun.
Balaikota.
Gedung Sate.

Nah titik-titik itu yang kami hindari. 

Sempet sih nonton di dekat Taman Sejarah yang mana masih di area Balaikota. Dan salah besar ahahahaha. Kami berdiri di baris kedua. Berhimpitan dengan penonton lain. Dan betapa menyebalkannya ada di antara orang-orang yang merasa bisa mengisi ruang penuh itu dengan tambahan temannya, dengan rokok, dan pura-pura menyempil sambil mendorong. CIH! Kalau lagi nonton karnaval begini emang terasa peradaban kita itu mundur 10 abad. 

Penuh sesak, 30 menit kemudian kami memutuskan kembali ke rencana, jangan nonton di sekitar Balaikota banget lah. Kami putuskan jalan kaki ke arah Dago. Di jalan Merdeka masih penuh orang-orang, tapi cuma di area perempatan Jalan Merdeka -  Jalan Aceh sih.

Jalan Merdeka, dekat Taman Sejarah Balaikota
Di depan Gramedia Merdeka

Kami berjalan kaki sampai pas di depan Gramedia, LHO KOK KOSONG GAK ADA YANG NONTON AHAHAHAHAHA! Langsung lah kami ambil tempat di pagar pembatas jalan dan nongkrong di situ sampai acara selesai. 

Resikonya satu aja sih: punggung kepanasan ahahahahahaha. Ah gak masalah lah matahari jam 3 sampe jam 5 sore mah anget *yeaaahhh right wkwkwkwk*. 

Seriusan tempat kami nonton di depan Gramedia Merdeka itu adalah tempat terbaik! 

Bayangin aja. Penonton cuma satu baris, di belakang saya tuh lowong gak ada siapa-siapa hahahahaha. Palingan polisi pada seliweran berjaga-jaga. Emang ada sih satu ibu nyelipin anaknya pas di sebelah si Nabil. Tapi kami masih bisa geser-geser kok. 

Ah senangnya bisa nonton dengan damai dan tenang, tanpa kegencet, kedorong, dan keinjek. Kalo yang merokok mah masih ada sih tapi gak banyak, penonton di dekat saya kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. 

Ternyata bener ya tiga titik utama itu emang menyedot keramaian luar biasa. Tapi di banyak area masih pada kosong melompong. Mungkin kami cuma beruntung, tapi saya mah percaya usaha kami mencari tempat nonton selain di Asia Afrika, Balaikota, dan Gedung Sate yang menggiring kami ke arah Gramedia Merdeka :) 

Kami beruntung, tapi dengan usaha. Bukan cuma untung-untungan semata. 

6. Creating Our Own Happiness

Halah nonton gitu aja mesti pake strategi. Oh harus dong. Namanya pengen bahagia mah kudu diciptakan sendiri. 

Gak mau kena macet? Ya pikirin gimana caranya. 
Gak mau jadi penyebab macet? Ya pikiran juga lah. 
Gak mau nontonnya keinjek orang lain? 
Gak mau telat nonton?
Gak mau keganggu nontonnya sebab hal-hal yang bisa diantisipasi? 

Pasti ada sih hal-hal tak terduga. Sesuatu yang kita gak harepin terjadi. Pasti ada aja. Di situ lah kita mau mutusin, mau seneng aja atau mau bete. Mau ngomel-ngomel atau menikmati acaranya. 

Pun gak sedikit yang saya baca di media sosial gak akan datang ke acaranya karena pasti macet. Selama gak jadi apatis, pilihan itu adalah kebebasan tiap orang. Terus kalau bete karena macet, wajar aja sih. Tapi kalo dipikir lagi, kita pelaku macetnya kok. Gimana lagi namanya juga acara gede mah pasti macet atuh. 

Kalau kata Soe Hok Gie: "hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih menjadi manusia merdeka." Untuk itulah kami membuat strategi nonton Karnaval Kemerdekaan 2017, untuk jadi manusia merdeka dan menciptakan kebahagiaan sendiri. Heuheuheu.

Tiga hal yang kami sesali adalah: kenapa gak dari awal segera nongkrong di perpotongan Jalan Merdeka - Jalan Riau - Jalan Dago. kenapa gak bawa DSLR. kenapa gak bawa tongsis. Hiks. 

Secara keseluruhan, karnavalnya seru banget! Sosialisasi acaranya nyampe ke saya. Selama acara pun seneng-seneng aja, kecuali bagian penonton gak tertib. Emang kelihatan banyak peserta karnaval yang udah kecapekan. Tapi banyak juga yang masih berapi-api, apalagi kalau mereka dielu-elukan, didadah-dadahin, dan ditepuk tanganin penonton. Hehehehe. 

Dan satu hal lagi yang saya rasain selama nonton Karnaval Kemerdekaan: pengen keliling Indonesia! Gila ya kita ini punya kain-kain lokal yang eksotis dan cantik-cantik, alat musik yang unik dan beragam suaranya, dari ujung kepala sampai ujung kaki benda yang dikenakan peserta karnaval bagus-bagus semua. Bahkan makhluk jadi-jadiannya aja yang kayak monster terlihat sangat kereeeeennn!

Terima kasih, Jokowi.
Hatur nuhun, Kang Emil. 
Acaranya oke banget! 

Selamat ulang tahun ke 72, Indonesia! Semoga kamu baik-baik aja dan akur sentosa sejahtera di antara semua perbedaan agama, ras, suku, cara makan, cara ngomong, berpakaian, tidur, bekerja, wajah, bahasa, dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. 






Teks : Ulu
Foto : Indra Yudha, Ulu