Social Media

Image Slider

Makan-makan di Keuken #7

23/08/16
Asyik makan-makan lagi di Keuken! Cari festival makanan di Bandung, Keuken sudah pasti saya rekomendasikan. Pokoknya kalau Keuken sudah rilis tanggal acara, buat kamu yang di luar kota silakan book hotel terdekat dengan lokasi Keuken dan kunjungi Keuken. 

Keuken #7 berlokasi di Cikapundung Timur pada hari minggu 21 Agustus 2016. Festival makanan yang cuma sehari ini diselenggarakan setahun sekali. Tiap tahun temanya beda-beda. Tahun ini temanya Revisiting The River. Ci Kapundung kan nama sungai yang membelah kota Bandung. Sungai yang ikonik. Cikapundung juga nama tempat. Ya cocok sih lokasi dengan temanya walau saya agak bosan juga dengan lokasi ini karena kebanyakan acara di Bandung sekarang ini ya diadakan di sini. Heuheuheuheu :D 




Maksud temanya sih kembali membangun koneksi dengan sungai kali ya. Namun entahlah di acaranya menurut saya sih gak ada koneksi yang terbangun sama sekali, gak ada penyadaran tentang sungai sebaiknya diperlakukan seperti sungai Thames di London :D

But anyway, tema Revisiting The River adalah langkah yang udah bagus. 

Seperti biasa ada banyak kios makanan di Keuken. Tapi Keuken gak pernah naro booth makanan banyak-banyak sih. Secukupnya saja dan selalu dikurasi. Kalau diperhatikan di Keuken ini yang tampil dominan makanan modern. Western gitu. Ada juga Batagor dan Pepes Ikan kok, cocok untuk yang doyannya kuliner tradisi. 

Datang ke Keuken mah kudu nyiapin perut yang kosong, waktu yang luang, dan uang yang banyak. Hahaha :D Ya bayangin aja banyak kios makanan dan kayaknya enak-enak semua. 

Terus bagaimana cara milih makanan di Keuken ya. 

Kalau saya mulai dengan browsing semua kios dulu. Lihat satu-satu kiosnya, scanning, perhatikan menu dan harganya. Baru di pada ronde kedua sudah saya putuskan mau makan apa. Biasanya sih saya beli dari menu yang sudah saya kenal duluan. Saya beli burger Ima Mobs karena saya pernah makan dan rasanya emang enak. Semacam gak akan nyesel gitu deh. Habis itu baru deh hunting makanan lain-lainnya. Ya sesekali keluar dari zona nyaman dengan membeli makanan yang gak biasa. Kalau saya nyobain makanan yang dibeli teman saya Kuke, Burger Crabs dan Stereo Dessert.

Baca juga : Keuken #5 di Balaikota Bandung, Seru Banget!


Beberapa produk merek lama masih ada di Keuken. Kayak Aromanis, Ima Mobs, Pampidou, Batagor Hanimun, dan Pesgobar. Tapi ada juga yang produknya saya baru lihat euy. Burger Crabs, Es Krim Paleta, Burito, dan masih banyak lagi nama-namanya saya gak ingat. Sampai Sate Klathak juga ada lho di sini. Hahaha efek AADC memang mantap :D

Makanan yang jadi highlight buat saya adalah Burger dan steak fries Brother Jonn & Sons, es krim Paleta, Co Drink Premium, dan cupcake Pampidou. Enaknya bikin mau terjun ke Ci Kapundung :D Enggak ding, rasanya worth the price banget. 

Buat saya enaknya lagi di Keuken itu seru buat hunting foto. Panitia nyiapin beberapa dekorasi acara yang bagus untuk difoto. Itu sih yang saya ingat dari Keuken, acaranya simpel tapi enak untuk foto-foto. Terutama waktu Keuken #5 di Balaikota itu udah paling juara lah. Enak makan, enak duduk, enak foto-foto.  

Kalau kamu doyan street photography khusus fashion, mesti lah datang ke Keuken. Karena muda-mudi Bandung (juga yang gak muda) berdatangan dan biasanya pada tampil okeh-okeh. Chic dan egdy. Enak dilihat, bagus difoto :D 

Kalau di dunia internet, Keuken ini semacam Instagram khusus acara kuliner di Bandung. 

Sebagai nilai plus sebuah festival, Keuken biasanya menyiapkan tenaga relawan bersih-bersih. Semacam tim pembersih sampah. Mereka keliling cari sampah berserakan dan mengingatkan pengunjung untuk buang sampah ke tempat sampah. Ada juga booth khusus penukaran sampah. Saya gak tahu sih tim ini bekerja sampai malam atau tidak karena saya ke Keuken hanya di pagi sampai siang saja. Kalau sore ke malam Keuken sudah terlalu penuh dan acaranya terlalu gemerlapan ajeb-ajeb gimana gitu :D 
Semoga aja tema acara Keuken ini sampai ke hati para pengunjungnya ya. Kalau buat saya sih tema Keuken yang paling ngena adalah waktu Keuken #5 di Balaikota: The Cityhall Fairground. Banyak tempat duduk, banyak pohon rindang. Jadi adem dan leluasa bergerak.

Tema besarnya Keuken adalah Reclaim The Street. Semacam penyadaran kalau area publik adalah milik warga dan sudah seharusnya kita meramaikan area tersebut. Meski toh pada akhirnya makan-makan gak gratis tapi proses menikmati ruang publiknya itu yang seru. 

Tema Keuken yang sekarang ini -Revisiting The River- saya gak rasain apa efeknya. Biasa aja heuhuehueuheu :D Sejujurnya juga acaranya gak yang kayak saya kira. Gak sebaik Keuken #4 dan #5. Keuken udah dapat tempat di hati banyak orang yang sesuai kalangannya. Kalau ada Keuken, pasti rame banget. 

Cikapundung lokasi Keuken #7 kemarin itu udah kekecilan untuk menampung umatnya Keuken. Lagipula setahu saya Keuken adalah festival yang menghidupkan banyak ruang publik yang sebelumnya orang gak pernah kepikiran. Sayang aja sih harus balik ke Cikapundung (Riverspot) lagi. 
Masih banyak ruang publik di Bandung yang belum kesorot. Waktu Keukeun bikin di kompleks KAI kan itu unik banget. Juga waktu di kompleks Bandara Husein (cuma akses aja yang susah, macet dan gak ada transportasi umum). 

Sebagai sebuah festival, Keuken udah paling juara. Keuken adalah festival yang mengenalkan konsep good design. Cuma sayang di Keuken #7 itu kayaknya salah tempat :D heuheuheuheu. 

















Lebih banyak foto dapat kamu lihat di album foto fanpage Bandung Diary di Facebook. Please also kindly follow my page :)

Foto oleh Nurul Ulu dan Indra Yudha



Beli Kopi di Javaco

19/08/16
Kopi dari Bandung, kebanyakan orang tahunya Kopi Aroma. Namun ada beberapa tempat lainnya yang setipe dengan Kopi Aroma, kios yang menjual kopi sejak zaman dahulu kala. Kopi Javaco nih salah satunya. Penjualnya sekarang adalah generasi yang ke-4. 

Biasanya toko kopi tempo dulu tempatnya ya tua juga. Javaco menempati sebuah rumah berlantai dua yang arsitekturnya klasik banget. Macam rumah-rumah di tahun 1920an. Rumah Javaco ini salah satu 'harta karun' yang bertahan di Bandung. Kenapa ya rumah-rumah tempo dulu enak dilihat...

Toko kopi kayak begini terpusat di daerah Pecinan Bandung sih. Kopi Aroma, Kopi Javaco, Kopi Kapal Selam, dan Kopi Malabar. Semuanya ada di sekitar Pasar Baru, gak jauh dari stasiun kereta api. Pemiliknya juga rata-rata keturunan Tionghoa. Gak heran sih karena pertumbuhan penduduk dari warga Tionghoa memang terpusat di kawasan dekat stasiun. Pada awalnya mereka datang ke Bandung bekerja untuk membangun rel kereta. Selanjutnya ya berkembang jadi kuli dan kebanyakan jadi pedagang. 

Kembali ke Kopi Javaco yang udah ada di Bandung sejak tahun 1928. Di sini ada tiga pilihan kopi: Tip-top, Robusta, dan Arabica. Semuanya kopi giling kasar. Kalau kamu penggemar berat kopi, cocoknya Arabica karena masuknya kategori Grade I. Kalau gak suka yang terlalu asam, pilih yang Robusta. Penjualnya gak nyaranin saya beli yang kopi berlabel Tip-top, katanya kurang bagus untuk penggemar kopi.




Proses penggilingan kopi dilakukan di sebuah rumah di Jalan Sudirman Bandung, tepatnya di Jalan Kasmin. Rumah di Jalan Kebon Jati ini hanya berfungsi sebagai toko kopi saja. 

Saya bukan penggemar berat kopi sih. Kalau ketemu tempat-tempat kuno yang bisa saya masuki, saya pasti masuk ke dalamnya. Saya usahakan juga belanja di dalamnya. Meski sedikit tapi senang sudah merasakan sedikit sensasi berada di dalam sebuah rumah kuno.

Perhatiin baik-baik ya, ini saya udah gemes banget banyak yang kirim wa nanyain mau beli kopinya. Udah gitu dipikirnya saya yang punya Javaco. Aduh euy, saya bukan pemilik Kopi Javaco. Please guys, masa gak bisa bedain tulisan review atuh euy.

Nih harga kopinya. 

Harga kopi per 250 gram:
Robusta : 27.000
Arabica : 32.500

Kopi Javaco
Jalan Kebon Jati no. 65

Buka hari senin - sabtu
Jam 09.00 - 14.00

Baca tulisan dari Komunitas Aleut berikut ini yang mengupas lebih dalam tentang sejarah pemilik Kopi Javaco. 

Kamu dapat memesan Kopi Javaco ini via Bandung Diary, saya buka jasa titip  Kirim email ke bandungdiary@gmail.com atau wa ke 0812.2005.4556 dan inget ya saya buka jasa titip, bukan pemilik Javaconya. Thank you untuk membaca tulisan ini dengan seksama :D













Teks : Ulu
Foto : Indra Yudha

Review Hotel Fabu, Hotel Dekat Pasar Baru Bandung

16/08/16
Ketemu lagi dengan kategori resensi hotel di Bandung. Kali ini bahas hotel yang letaknya di sekitar area Pasar Baru. Sebelumnya ada Hotel Pasar Baru Square yang posisinya pas bersebrangan dengan Pasar Baru. Sekarang saya mau review Hotel Fabu yang ada di belakang Pasar Baru. 

Harganya lebih murah dari Hotel Pasar Baru Square. Here goes.



LOCATION

Ada di Jalan Kebonjati. Tetanggaan dengan Rumah Sakit Santosa. Bisa mencapai Pasar Baru dengan berjalan kaki, 5 menit sampai. Jajan ke minimarket ada di sebrangnya dan jalan dikit doang. Mau ke kawasan Asia Afrika gampang, kalau mau naik angkot ya sekali saja dari depan hotelnya. Ke arah pusat kota di Dago, Setiabudi, atau Cihampelas yang agak repot. Agak muter gitu deh rutenya. 

ROOM

So far ini kamar tersimpel yang pernah saya inapi. Gak banyak cingcong gitu deh dekorasinya. Saya sih suka kamar begini. Hotel Fabu banyak memasang warna biru sebagai akses dan identitas. Bagusnya warna biru gak berlebihan. 

Seperti di kamar deluxe yang saya book via Agoda. Kamarnya luas euy, ini luasnya oke banget. Gerak saya bisa leluasa hehehe emang mau ngapain :D 

Ranjangnya standar dan nyaman. Bantalnya sih yang oke banget, pengen bawa pulang. Saya pesan kamar yang bednya double, dikasihnya kamar yang bednya twin tapi bednya digabung gitu. Ya gak apa-apa sih. Abis kali kamar yang bednya double, sayanya juga check in telat. 

AC kamar lumayan gitu. Gak kencang juga gak terlalu dingin. So so lah speednya. TV kabel agak kurang sih channelnya, cuma buat saya yang penting ada channel film-film macam Fox Movies Premium :D Jendela kamar gede bentuknya persegi panjang. Pemandangannya bagus banget ketika sunrise dan malam hari kalau langit cerah bintang. 

Pada malam kami menginap kami matikan semua lampu kamar dan gadget. Tirai jendela kami buka. Langit gak cerah-cerah amat sih, tapi enak aja gitu suasana sangat sepi, hening, dan kami berbicang semalaman tentang banyak hal sampai ngantuk dan tertidur. Pada waktu subuh bangun hampir kesiangan hehehehe :D Lihat ke jendela sunrisenya bagus sekaliiii!








Ada sofa merah yang empuk banget, cocok buat nongkrong di tepi jendela (tepatnya di bawah jendela hehehe) sambil update status dan skroling feed Instagram :D 

Kondisi kamar mandi not bad. Luas juga. Air panas cepet on dan tarikannya mantap. Hotel Fabu membatasi durasi air hangatnya 5 menit dan akan menyala kembali pada 15 menit kemudian. Katanya dalam rangka mengurangi dampak buruk pada lingkungan. 

Amenities standar dan cukup untuk saya. 

FOOD

Menu sarapan standar. Prasmanan makanan berat terdiri dari tiga macam lauk pauk. Roti, buah-buahan, cornflakes, dan air minum jus. Rasanya tidak mengecewakan.




Mau makan di luar, gak terlalu banyak tempat makannya. Kalau saya makan di RM Padang, di sebelah hotelnya. Enak banget hahahaha baru nemu restoran Padang ini nih. Ada sih kafe di hotel Gino Feruci, gak jauh dari Hotel Fabu. Bisa ditempuh jalan kaki. Restoran lain mah gak ada. Kayaknya hotel ini cocoknnya untuk numpang tidur aja sih. Terutama kalau jadwalnya mau belanja di Pasar Baru. 

SERVICE

Pelayanan agak garing sih :D Gak terlalu hangat, terkesan dingin. 


RATE

Di Agoda tarif untuk kamar deluxe include breakfast sekitar 400.000+++. Tersedia juga beberapa tipe kamar lainnya, Junior Suite dan Suite.




Untuk wilayah sekitar Pasar Baru, saya baru nyicip 2 hotel. Menurut saya sih Hotel Fabu lebih oke dalam hal makanan dibanding Hotel Pasar Baru Square. Tapi kalau lokasi lebih menang si Hotel Pasar baru Square sih :D 


Cara Menuju Hotel Fabu


Lokasi di Jalan Kebon Jati yang satu arah. 

Kalau kamu datang dari arah Bandara Husein Sastranegara : keluar bandara - Jalan Pajajaran - nanti ada perempatan, belok kanan ke Jalan Pasir Kaliki - lurus saja nanti setelah melewati Paskal Hypersquare ada perempatan lagi, kamu belok kiri dan kamu sudah ada di Jalan Kebon Jati. Hotel Fabu ada di sebelah kiri jalan.



Kalau kamu datang dari arah stasiun, ini lebih dekat lagi : keluar dari pintu stasiun belakang (selatan), naik becak sampai hotelnya. Bisa sih jalan kaki, tapi agak muter gitu rutenya. Atau keluar dari pintu stasiun depan (utara) dan naik angkot jurusan Lembang - St Hall arah stasiun (harus ditanya ke sopirnya dan pastikan arahnya ke stasiun).


Hotel Fabu
Jalan Kebonjati 32
Bandung







Teks : Ulu
Foto : Nurul Ulu dan Indra Yudha

Makan Siang di Skylight Dago

14/08/16
Browsing dengan kata kunci Skylight Dago, banyak restoran yang bermunculan. Apalagi kalau browsingnya di Instagram. Beuh berderet-deret restoran dan kafe yang menawarkan pemandangan oke. Nah yang ini namanya memang beneran Skylight Dago. Saya dan teman-teman makan siang di Skylight yang pada hari itu benar-benar sky lights! alias langitnya terang benderang. 




Lokasinya di Dago Atas, Skylight terdiri dari dua tempat di satu bangunan. Satu restoran di lantai dasar, ruangan semi outdoor. Satu restoran lagi di lantai teratas. Nah di lantai 3 ini lah saya bisa mengerti kenapa nama restorannya Skylight. Awalnya sih kami bersantap di resto yang lantai dasar, makanan sudah kami habiskan gitu. Terus habis itu pindah ke lantai atas dan makan lagi :D

Menu yang ada di Skylight lantai dasar dan lantai tiga sama saja. Tapi kalau di lantai tiga, ada tambahan menu-menu premium. Saya makan banyak hari itu. Paket nasi standar (seperti menu Nasi Timbel), pizza, nyicipin Rib Eye Steak, dan melototin menu pesanan teman-teman yang lain. Ada Sop Buntut Anglo dan Iga Bakar Madu. Ini belum dengan minumnya. Jagoan saya Virgin Mojito. Sempat juga sih nyicipin Skylight Fiesta yang warna merah membara. Aduduh perut saya siang itu kekenyangan banget.

Secara keseluruhan sih rasa makananannya oke. Buat saya yang jadi highlight adalah Cheeze Pizza dan Rib Eye Steak yang medium well. Cheeze Pizza unggul di kejunya, apa ya itu kejunya, saya gak nanya pula. Rasa kejunya strong, gurih, dan sayang taburan keju terlalu sedikit. Rib Eye Steak amat sangat empuk dengan saus mushroom shitake yang kental dan banyak potongan shitakenya. Kalau saya penyuka jamur, jadi saus jamur yang ada jamurnya bukan kuahnya doang jelas saya kasih jempol 3. Kalau enak, saya kasih jempol lima+++ :D 

Sementara itu untuk minumannya saya suka Virgin Mojito. Sudah pasti rasanya segar luar biasa. Apalagi siang itu di Bandung panasnya bukan main, padahal di Dago yang notabene sejuk ya. Mojito asam sih, cocok diminum setelah menyantap menu berat macam iga bakar dan steak. 

Tempatnya oke bangeeet! Lucu sih. Semua dindingnya berbentuk jendela. Bisa lihat pemandangan 360 derajat. Ini khusus yang di Skylight lantai 3 ya. Ada pemandangan ke arah kota Bandung. Ada juga yang panoramanya ke pepohonan. Saya kan udah ke sini siang hari, pengen juga lihat pemandangannya di malam hari. Sepertinya saya akan kembali untuk kedua kalinya. Ajak Indra ah dinner di sini, romantis-romantis gitu kayaknya kalau malam hihihi :D 

Kalau Skylight di lantai dasar oke juga sih, tapi gak ada pemandangan seru seperti di lantai 3. 




Anyway beres makan di Skylight saya dan teman-teman berkunjung melihat proses pembuatan perhiasan berlian yang lokasinya masih di satu gedung dengan Skylight. Hanya beda entrance saja. Maksud hati sih sekalian mumpung di satu tempat. Cerita tentang wisata berlian di Dago ini bisa dibaca di tulisan sebelumnya ya, atau klik linknya aja langsung. 


Skylight Dago
Kompleks Citra Green Dago
Blok N 1-10 Dago





Cara Menuju Skylight Dago

1. Arahkan kendaraan ke Terminal Dago
2. Setelah Terminal Dago ada belokan ke kiri (menurun gitu jalannnya), belok ke situ ya
3. Ikuti terus jalannya, nanti masuk ke Kompleks Citra Green
4. Lurus saja, Skylight ada di gedung Indo Wisata Permata Building di sebelah kiri jalan, setelah Stanford School. 

















ps: sorry ya foto-fotonya pizzaporn abis :D heuheuheuehu




Foto : Nurul Ulu
Teks : Nurul Ulu

Berkunjung ke Wisata Berlian Indo Wisata Permata di Dago

13/08/16
Sebenarnya hari itu acaranya makan siang di Dago. Tapi gak nyangka kalau restoran tempat saya bersantap satu gedung dengan toko sekaligus pusat pembuatan berlian di Indonesia. In fact, se-Asia Tenggara. Lebih tepatnya se-Asia. 

Jadi sehabis makan siang saya dan teman-teman berkunjung ke Indo Wisata Permata (IWP). Biaya kunjungan Rp 50.000. Biaya ini sebenarnya voucher makan di Skylight, restoran tempat saya makan sebelumnya. Aheuheuheu ada alasan untuk kembali ke sini, voucher 50.000 belum terpakai :D 

IWP berada di lantai tiga. Saya membayangkan pembuatan berlian itu rumit dan panjang prosesnya. Di IWP saya melihat prosesnya terlihat mudah saja. 



Keluar dari lift pengunjung kami masuk ruangan kosong, hanya ada flatscreen. Dalam layar tersebut ada film pendek tentang berlian di Indonesia, menceritakan tentang Martapura secara sekilas. Sebuah daerah di Kalimatan yang jadi pusat bongkahan batu berlian. Video ini semacam pengantar sebelum masuk ke ruangan pembuatan berliannya. 

Sudah lama tidak mendengar tentang Martapura. Terakhir kayaknya waktu saya masih duduk di bangku sekolahan. Menyenangkan juga bahwa melalui video tersebut ingatan saya disegarkan kembali tentang tempat yang jadi unggulan sumber dari the ultimate jewelry in the world ini. Martapura. 

Tapi sayang kualitas videonya gak bagus padahal kontennya oke, tentang Martapura. Hari gini gampang cari videografer yang sinematografinya keren-keren. Hunting di youtube atau Instagram. Video yang bagus itu kayak video buatan Tim Embara yang membuat film hits Epic Java dan Indonesia Kirana. 

Anyway, usai pemutaran film selama lk. 5 menit itu kami masuk ke ruangan berikutnya. Pembuatan berlian. Bagian antara koridor pengunjung dan tempat pembuatan terpisah jendela kaca. 

Tahu tidak ternyata tahapan proses pembuatan berlian gak sepanjang yang saya kira. Rumitnya sih iya, tapi dari luar kaca saya memandangnya kayak yang gampang. Ada empat proses sebelum bongkahan batu (material mentahnya) jadi berlian. Dari filter batunya sampai proses memoles berlian. Rentang waktu membuat berlian berkat kecanggihan teknologi di IWP hanya 1-1,5 jam. Mesinnya canggih-canggih, teknologi laser gitu deh. Sumber Daya Manusianya khusus didatangkan dari India yang memang skill mengolah berliannya sudah terkenal. 

Keluar dari ruangan pembuatan berlian, saya masuk ke toko berliannya. Uwooow berkilauan sekali. Perhiasan memang teman baik wanita. Melihat berlian-berlian itu saya seperti sudah mengenalnya lamaaaa sekali. Macam-macam bentuk berliannya. Indah sekali. Harganya sepadan. Tempat ini surga untuk kamu pecandu berlian. Highly recommended karena tempatnya yang private, sejuk, dan luas. Belanja perhiasan di sini nyaman banget sih kayaknya, kemarin saja saya hanya melihat-lihat sudah senang, Apalagi kalau sambil belanja juga.. Pelayanannya oke. Saya sama sekali tidak merasa minder di sini meski hanya melihat-lihat saja.




Ratri teman saya nampaknya langsung hunting beberapa perhiasan. Beberapa kali ia memilih cincin yang ia sukai dan mencobanya lalu memotretnya. Dalam waktu dekat nampaknya Ratri akan kembali ke IWP hehehe :D 

IWP ini satu-satunya di Indonesia. Sekaligus the whole Asia. Biasanya toko perhiasan kan memajang perhiasan saja. Kalau IWP industrinya dari hulu ke hilir. Mereka yang cari bongkahan batu berlian, mereka juga yang memprosesnya jadi perhiasan, mereka juga yang menjualnya. Biasanya juga harga produk dari industri hulu-hilir seperti ini lebih terjangkau dari toko perhiasan pada umumnya. 

Saya sih akan merekomendasikan Indo Wisata Permata pada teman-teman dan kamu tentu saja yang baca blog ini. Bagian yang suka adalah wisata edukasi tentang berliannya. Di IWP ini prosesnya canggih sekali. Dengan cara tradisional proses menggosok berlian ini bisa seharian, teknologi membuatnya lebih cepat dan lebih bagus. Selama ini saingan Indonesia untuk bahan baku berlian di dunia adalah Afrika sih. Sementara itu skill memoles berlian yang dianggap terbaik bertempat di negara-negara Eropa. Ya saatnya Indonesia unjuk gigi nih.






Oiya harga termurah berlian di sini 1,5 juta. Termahal ya bayangkan saja sendiri, sky is the limit :D Murah apalagi mahal, IWP menjamin kualitas berliannya berada di kelas excellent. 

Menurut saya sih ini atraksi baru di Bandung (dan Indonesia) yang sangat potensial. Bahan baku dari negeri sendiri, berkolaborasi dengan tenaga terlatih dari India, disokong teknologi canggih pula. Untuk pecinta perhiasan atau yang sedang hunting perhiasan terbaik utamanya berlian, IWP highly recommended. 


Indo Wisata Permata
Kompleks Citra Green
Blok N no 1-10
Dago Atas

Instagram : @iwp.bdg

Buka setiap hari
09.00 - 17.00

Biaya masuk Rp 50.000


Cara Menuju Indo Wisata Permata




1. Arahkan kendaraan ke Dago
2. Nanti di Terminal Dago bersiap belok ke kiri, menuju kompleks Citra Green. Hati-hati jalannya menukik tajam dan menanjak. 
3. Masuk ke kompleks Citra Green, lurus saja, Indo Wisata Permata ada di sebelah kiri jalan di samping Stanford School. 
4. Kalau naik kendaraan umum: naik Angkot jurusan apa saja yang ke arah Dago, turun di Terminal Dago, lanjut naik Ojek. Tidak disarankan berjalan kaki karena jaraknya cukup jauh dengan kontur turunan dan tanjakan yang lumayan bikin capek. 




Teks : Nurul Ulu
Foto : Nurul Ulu

Catatan dari Acara Bersama Kementrian Pariwisata: More Digital, More Global

07/08/16
Pada hari sabtu (6/8/2016) saya memenuhi undangan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) yang acaranya berlokasi di Green Forest Resort. Tema acara tentang Wisata Halal. Sejujurnya saya datang dengan ekspektasi rendah banget. Acara kementrian kayaknya bakal membosankan & begitu-gitu saja.



Green Forest Resort

Instansi pemerintah yang menurut saya 'katak dalam tempurung' ternyata hari itu memberi saya pandangan yang berbeda. Sebaliknya, saya lah katak dalam tempurung itu karena asumsi yang saya simpan dalam kepala selama ini salah. 

Bicara tentang Wisata Halal, saya banyak apriorinya. 

Pertama: konsep wisata halal buat saya cuma pembeda-beda umat beragama. Buat apa coba, kok kesannya diskriminatif banget. Ribet amat sampai harus nanya sertifikasi halal waktu makan di restoran. Karena untuk saya pribadi sih kalau pengelola sudah bilang 'halal' ya sudah cukup lah gak usah minta sertifikat halal segala aheueuheuhue.

Kedua: muslim sudah terbiasa menyesuaikan dirinya dengan berbagai kondisi. Gak masalah lah jalan-jalannya di mana. Yang penting gak makan daging babi dan minuman beralkohol. Jam ibadah sholat juga browsing saja lah. 

Well, Saudara-saudari, justru di situ peluangnya. Kesulitan mencari tempat makan halal dan tempat beribadah adalah peluang bisnis! Wisata Halal is business opportunity, Wisata Halal is travel-lifestyle. Begitu kata Taufan Rahmadi yang menjadi narasumber dalam acara Kemenpar tersebut. 

Tapi saya ketemu hal lain yang membuat saya apatis. 

Pemerintah adalah tipikal instansi yang cuek dengan perkembangan zaman. Mana mereka paham pentingnya Digital Marketing macam branding di Instagram, Fanpage Facebook, jumlah Likes, jumlah Followers. Jangankan paham sih, Facebok Ads aja pada ngerti gak ya mereka?

Dan asumsi saya itu rontok semua di acara bersama Kemenpar ini. Ahahahaha :D Apriori saya menutup wawasan saya sendiri perihal Wisata Halal. Sepanjang acara waktu Taufan presentasi, saya menunjuk-nunjuk kening sendiri sambil berujar pada diri sendiri, "Ulu! Ke mana saja kamu selama ini!" :D 

Bagaimana cara Taufan mengenalkan Lombok Sumbawa dan Wisata Halal-nya? Saya bahas di bagian berikutnya yak. 




Sosialisasi Wisata Halal Bersama Kementrian Pariwisata di Bandung


Judul acara yang saya hadiri pada hari Sabtu itu adalah Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial. Terdiri dari dua sesi, narasumber sesi I didatangkan langsung dari Lombok, Taufan Rahmadi dan Siti Chotijah. Sementara itu Agus Wibowo yang pernah menjajal Wisata Halal di Jepang, menjadi narasumber di sesi II. 

Taufan adalah Creative Strategic Expert yang memimpin proyek Wisata Halal di Lombok Sumbawa. Dua tahun ia merintisnya, Lombok Sumbawa diganjar The Best Halal Tourism Destination 2015, mengalahkan dua raksasa pedagang Wisata Halal kelas kakap: Turki dan Malaysia. "Waktu nama Lombok Sumbawa diumumkan jadi pemenang di World Halal Tourism Destination Award, yang pertama kali saya lakukan adalah melihat raut wajah menteri pariwisata Malaysia," kata Taufan. Hihihi :D 

Siti Chotijah merupakan team leader dan communication strategy Volunteer Wonderful Lombok Sumbawa. Proyek Wisata Halal Lombok Sumbawa ini mengerahkan beberapa orang sukarelawan untuk bekerja secara offline dan online, menggaungkan wisata Lombok Sumbawa secara umum dan wisata halal di sana secara khusus.



Wisata Halal, Apa Itu?


Cakupan Wisata Halal ini terbilang luas dan berdasarkan pada kebiasaan umat islam. Wisata Halal menjual tempat-tempat wisata yang sama dengan wisata pada umumnya. Tapi ada beberapa hal yang menjadi skala prioritas dalam wisata halal ini:

1. Ketersediaan tempat ibadah yang mudah dijangkau.
2. Ada kamar mandi dan tempat berwudhu yang layak, terpisah antara perempuan dan laki-laki.
3. Penginapan yang menyediakan informasi label makanan halal food dan non halal food. 
4. Penginapan yang di dalam kamarnya ada informasi yang mencantumkan arah kiblat.
5. Pemberitahuan jam dan menyediakan waktu untuk ibadah sholat selama traveling.
6. Melihat dan mengunjungi atraksi yang tidak vulgar.
7. Tempat yang dikunjungi bukan tempat prostitusi dan bukan tempat hiburan seperti club-club yang membebaskan pengunjung laki-laki dan perempuan berbaur.
8. Jaminan 'everything is halal' sepanjang perjalanan sejak naik pesawat (kalau kendaraannya pesawat) sampai mereka kembali pulang ke tempatnya berasal. 

Selebihnya sih Wisata Halal mencakup hal yang sama dengan wisata pada umumnya. Seperti menyiapkan SDM yang tourist-friendly, kebersihan yang terjamin, sarana komunikasi yang bagus, dan infrastruktur yang membuat turis-turis nyaman. 

Jadi pada dasarnya sih kalau yang saya tangkap dari Wisata Halal ini sebenarnya sama saja dengan wisata pada umumnya. Hanya lebih spesifik saja. Membangun wisata halal = membangun wisata kebanyakan kok. Ujung-ujungnya kan daerah itu harus membangun daerahnya biar pengunjung betah. 

Bagian yang menarik adalah negara-negara maju di dunia ini paham kalau wisata halal adalah the next big thing dalam industri wisata. Australia dan Jepang, terutama Jepang sih, adalah negara yang aktif mengkampanyekan wisata halal. 

The Global Muslim Travel Index 2015 mengumumkan bahwa turis yang jenisnya segmented spendingnya mencapai 145 TRILIUN DOLAR AMERIKA. 10% dari pasar yang segmented tersebut adalah Muslim, berarti ada 108 juta turis muslim di dunia. Di tahun 2020 angka ini akan melesat jadi 150 juta muslim travelers. 

Seru juga mengamati Jepang yang niat banget mengedukasi warganya tentang keseharian umat Islam agar ketika turis-turis muslim ini tiba di tempat mereka, orang Jepang tahu bagaimana harus memperlakukannya. Bang Aswi, narasumber di sesi ke II cerita pengalamannya berwisata halal ke Jepang. "Di Karatsu, Fukuoka, waktu saya lagi jalan-jalan di kota dan tiba waktu sholat, saya tidak menemukan masjid terdekat. Yang menarik, warga di sana dengan ramahnya mempersilakan saya sholat di rumahnya, beralaskan Tatami." 

Jadi wisata halal bukan semata-mata tentang agama saja. Bukan tentang 'bagiku agamaku, dan bagimu agamamu'. Tapi tentang memberikan pelayanan yang excellent. Target pasarnya muslim kok, ya kuasai keseharian mereka dalam beribadah supaya mereka senang dan puas. UUD, Ujung-ujungnya Duit. Pelanggan senang, mereka akan kembali lagi dan share ke banyak orang. Pendapatan daerah meningkat, pendapatan negara bertambah. 

Terus saya jadi mikir, saya egois banget ya waktu mikir wisata halal cuma segregasi turis berdasarkan agama. Iya emang wisata halal dibuat mengacu dengan syariat agama Islam sih. Tapi gak sesempit itu juga maknanya. Bukan berarti orang non-muslim gak bisa datang ke tempat yang berkonsep Wisata Halal. 

"Halal Tourism adalah extended services pelayanan wisata, not religion tourism," ujar Taufan. 







Tahun 2014 turis muslim yang datang ke Indonesia dan menjajal wisata halal ada 2 juta orang. Negara sebelah, Thailand, tahu gak berapa jumlah turis muslimnya? 6 juta! Thailand gak main-main menangani wisata halalnya. Dan Thailand bukan negara bermayoritas muslim!  

Kita -yang luas negaranya edan dan penduduk mayoritas muslim ini- masih tertinggal jauh di belakang Thailand, Australia, dan Jepang. Tiap tahun angka pertumbuhan muslim travelers yang mencari gaya liburan ala Wisata Halal akan bertambah. 

Peluang bisnis banget, kan? Dengan mayoritas penduduk mayoritas muslim, tidak sulit untuk Indonesia menembus pasar wisata dunia. Masalahnya mau gak perbaiki infrastrukturnya, mau gak marketing gencar-gencaran di dunia maya?

Saya pernah mendengar cerita teman-teman yang traveling ke Malaysia dan menurut mereka pemandangannya indah tapi lebih memukau panorama di Indonesia. Masalahnya Malaysia rajin banget jualannya. Gesit marketingnya. Satu hal yang menurut saya harus kita tiru dari mereka. Malah harus lebih lagi lah. Iya gak :)



Wisata Halal di Media Sosial


"Waktu saya diminta Pemprov NTB untuk menangani Wisata Halal di Lombok Sumbawa, yang pertama kali saya lakukan adalah pendekatan melalui media, cerita Taufan. 

Taufan secara gencar membenahi fasilitas di Lombok Sumbawa sekaligus melakukan pendekatan ke berbagai media cetak dan media digital.

Pria yang pernah menjadi anak didik Alm. Harry Roesli ini membuat video travel Lombok Sumbawa. Tidak berhenti sampai di situ, Taufan secara intens mendekati pimpinan Garuda Indonesia agar video berdurasi 3 menit tentang Lombok Sumbawa itu tayang pada inflight entertainment maskapainya.

Taufan juga membentuk tim volunteer Wonderful Lombok Sumbawa.

Para relawan ini bekerja di dua lini: offline dan online. Tujuan pertamanya adalah sosialisasi tentang Wisata Halal di Lombok Sumbawa. Berbagai kegiatan dilakukan secara offline, baik mandiri dan dengan bantuan sponsor. Sementara itu tim digital bergerak terus menerus update konten fanpage facebooknya.

Pada intinya para relawan bekerja menyuarakan wisata halal ke masyarakat Indonesia umumnya pada masyarakat muslim dunia pada khususnya. Prinsip Taufan dengan aktifnya tim relawan Wonderful Lombok Sumbawa adalah menguasai media, menguasai digital, memberi respon, dan menembus pasar dunia.

Saat ini relawan Wonderful Lombok Sumbawa sedang mengejar target 1 juta Like di Fanpage Facebooknya. Sekarang baru sampai di angka 102K sih. Masih panjang jalan terentang, ayo dukung mereka dengan like fanpagenya yuk! Nih di Wonderful Lombok Sumbawa.

Lombok Sumbawa tidak berhenti branding sampai di Facebook. Tim volunteer membuat akun Instagram, Twitter, hingga Line dan Youtube. Hashtag #wonderfullomboksumbawa jadi keywordnya. 

Pada World Halal Travel Summit (WHTS) 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Indonesia mengirim Lombok Sumbawa sebagai kontingen perwakilan. WHTS adalah event terbesar yang berhubungan dengan industri pariwisata halal skala dunia. 

Di WHTS tersebut Lombok Sumbawa menjadi cover story dalam majalah Halal Travel Magazine. Menariknya lagi majalah dengan format e-magz ini tersebar di 130ribu jaringan pelaku industri halal seluruh dunia! 

Segala usaha telah dikerahkan, dalam perlombaan World Halal Tourism Award, sistem kemenangan berdasarkan voting. Malaysia sebagai pelanggan the best World Halal Tourism Award di tahun 2015 harus gigit jari. Lombok Sumbawa mendapatkan voting terbanyak, tidak hanya di satu kategori tapi dua kategori: Best world halal tourism destination dan best world halal tourism honeymoon dentination. 



Generasi Pesona Indonesia


Belajar dari formula volunteer Wonderful Lombok Sumbawa, Kemenpar ingin menerapkan hal yang sama di kota-kota lainnya. Membentuk tim sukarelawan yang bekerja secara online dan offline. Mereka ini yang nanti dinamakan Generasi Pesona Indonesia. Disingkat menjadi Gen PI. 

GEN PI inilah yang nantinya bersinergi dengan dinas pariwisata daerah dan kementrian pariwisata di tingkat nasional. Fyi, pekerjaan ini bersifat sukarelawan tak dibayar. Artinya bekerja sebagai GEN PI modal utamanya adalah komitmen. 

Kamu tahu Australia.com gak? Fanpage di Facebooknya aktif banget, Likenya aja mencapai 7 juta! Buset banyak. Pesona Indonesia baru 317K :D Basis krunya Australia.com itu volunteer juga. So kenapa enggak kita menerapkan hal yang sama. 


Nampaknya Kementrian Pariwisata sudah sadar akan pentingnya digital marketing. Makanya tagline kerja mereka sekarang "digital is personal, digital is global, digital is professional'. 

Jadi pada hari itu saya melihat orang-orang dari kementrian membahas jumlah Followers, Likes, Instagram, Fanpage Facebook, Twitter, dan Hashtag. Untuk saya semua itu terdengar revolusinoner di dunia birokrasi yang dalam persepsi saya adalah dunia yang kaku dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman. 

Hari Sabtu yang lalu adalah pengalaman seru dan berbobot yang saya peroleh dari sebuah instansi pemerintah. 

Kalau ingin bergabung di GEN PI kamu bisa kontak Bang Aswi
Like fanpage resmi Pesona Indonesia di Indonesia.Travel






Teks : Nurul Ulu
Foto: Nurul Ulu