Social Media

Image Slider

Showing posts with label Garut. Show all posts
Showing posts with label Garut. Show all posts

Cerita Dari Toko Buku Merpati di Garut

05/06/23

Sejak sehari sebelum berangkat dari Bandung saya sudah fokus pada empat tujuan di Garut: makan bacil, berendam di Tirta Gangga, belanja teh kiloan di Pasar Mandalagiri, dan mampir ke toko buku di Jalan Ciledug. Hamdalah tiga dari empat kesampaian. Terutama yang terakhir itu, ke toko buku Merpati.

 

toko buku di garut toko buku merpati


Tahun lalu waktu berkunjung ke Garut secara tidak sengaja saya melihat toko buku sehabis makan bubur di Jalan Ciledug sekitar pukul sembilan pagi. 


Berjalan kaki di trotoar saya memperhatikan pertokoan di sisi kanan. Etalase toko berupa kaca berlapis jendela kayu klasik warna cokelat terlihat menarik. Itulah Toko Buku Merpati.

Saya berlalu saja sambil berkata dalam hati mungkin sore nanti saya mampir ke tokonya. Keputusan yang salah karena pada waktu kembali ke sana, tokonya sudah tutup dan saya harus kembali ke Bandung esok harinya pagi-pagi sekali.

Tahun 2023 inilah saya berjodoh dengan Merpati. Ada rasa gugupnya saat pergi ke Jalan Ciledug. Khawatir tokonya tutup. Syukurlah buka. Terlihat dari etalase tokonya.

Sesuai instruksi mamang parkir, saya harus mengetok pintunya. “Dibel weh, Neng!” teriak Mamang Parkir. Oke baik saya pencet bel pintu. Tingtong!

Selang beberapa detik pintu dibuka oleh ibu-ibu berkaos merah. Kukatakan padanya hendak membeli buku. Dengan ramah ia menyambutku, kami mengobrol dalam bahasa sunda.

Saya pergi ke toko bersama Indra, jadi dengan bahasa sunda level basic yang saya kuasai ini, Indra yang skill bahasa sundanya level advanced membantu saya ngobrol dengan pemilik Toko Buku Merpati.
 

"Asih Setiasih, mangga Ibu Asih wae," ucapnya sambil tersenyum saat mengenalkan diri.

Seperti ngobrol dengan teman lama, Ibu Asih memulai cerita toko buku Merpati dari orang tuanya. Tokonya adalah warisan. Ayahnya menitipkan toko buku tersebut agar tetap buka meski mereka sudah tiada. 

 

toko buku di garut toko buku merpati


“Kinten-kinten tahun 50an mung abdi hilap tahun sabaharana mah,” jawab Ibu Asih, saya bertanya padanya tahun berapa toko buka pertama kali.

Mayoritas buku yang tersedia di sini adalah buku-buku berbahasa sunda. Semua bukunya disuplai oleh penerbit asal Bandung. Ada penerbit Pustaka Jaya, Kiblat, dan Ujung Galuh.

Dahulu ada lebih banyak penerbit yang menitipkan bukunya di sini, termasuk Gramedia. Namun bisnis perbukuan cetak menurun, penerbit berguguran. Gramedia sendiri baru buka tokonya di Garut tahun 2022 dan sejak itu buku terbitannya tidak lagi masuk ke Toko Buku Merpati.

Kutanyakan padanya bahwa tahun lalu saya berniat mampir ke toko, tapi tokonya sudah tutup meski belum pukul 4 sore. “Tabuh sabaraha buka tutupnya, Bu?" kutanyakan untuk konfirmasi.

Ibu Asih menjawab simpel: pagi dan sore. Kalau pagi kira-kira pukul sembilan dan sorenya tutup sebelum magrib, katanya. Bahkan, katanya lagi, kalau ia menyapu trotoar depan toko subuh-subuh, itu artinya toko sudah buka. 

 

"Serius, Bu?" tanya saya rada olohok. 

"Muhun atuh hahaha!" Ibu Asih tertawa renyah saat berkata demikian. Saya pun ikutan tertawa.

Saat ini ibu dua anak tersebut sedang menjalani masa pensiun. Waktunya lebih leluasa buat mengasuh toko. Sebelum pensiun, ia membuka tokonya sehabis jam kerja kantor.

Saya meresapi perkataannya. Punya toko buku, bekerja di kantor, sekarang pensiun, tokonya masih dalam pengasuhan. Wah sepertinya kehidupan yang menarik bila saya menilainya dari lapis permukaan saja. Utamanya jika pemilik toko adalah kutu buku juga.

 

toko buku di garut toko buku merpati

 

Namun menjual buku bukan pekerjaan mudah, lantas bagaimana dengan menjual buku berbahasa sunda?

Ibu Asih cerita bahwa pelanggan tokonya terdiri dari pegawai dinas pemerintah, guru dan anak sekolah dasar, lalu perantau.

“Perantau, Bu?” tanyaku rada bingung tapi saya dapat menebak arahnya ke mana.

“Muhun,” jawabnya. Ia melanjutkan, perantau orang sunda yang bekerja dan tinggal di luar pulau jawa dan luar negeri bila pulang ke Garut pasti mampir ke tokonya dan memborong banyak buku. Salah satu pelanggannya bermukim di Kalimantan.

“Buat obat kangen” ucapku, Ibu Asih mengiyakan. Biar serasa tidak jauh dari kampungnya mungkin, katanya lagi. 

 

Saat itu saya ingin memotret Ibu Asih tapi beliau berkata sedang tidak memakai kerudung. Tidak enak hati memotonya secara diam-diam, saya hanya meminta izin foto toko dan buku-bukunya saja. 


Penampakan tokonya seperti bukan buatan tahun 2000an. Tegel kuning kusam terlihat seumur dengan ayah saya, lemari buku yang rapi dan sunyi, etalase toko dengan majalah Mangle yang menggantung-gantung hening di sana. Semuanya, meski tidak tua-tua amat, terasa begitu antik. 


Saya menyimpulkan Ibu Asih sayang pada tokonya. Ia juga pembaca buku, dengan fasih dan lincah ibu berusia 62 tahun tersebut merekomendasikan berbagai macam judul.

Dibantu rekomendasinya, saya membeli tiga buku di sini. Total harganya Rp99.000. Tidak lupa saya minta cap tokonya juga di halaman pertama tiap buku sebagai tanda mata. Kenang-kenangan.


toko buku di garut toko buku merpati

 

Toko buku Merpati tidak berjualan online. Alamatnya di Jalan Ciledug 57 Garut.

Senin - Sabtu
Buka pukul 09.00
Tutup sebelum magrib

Mungkin hari minggu juga buka

 

Bila kamu datang ke sana dan mendapati tokonya tutup di antara pukul 9 dan sebelum magrib, anggap saja belum beruntung. 


Toko Buku Merpati ini ibaratnya kue-kue rumahan, diasuhnya dengan sentuhan pelan dan longgar, tergantung aktivitas pemiliknya. Subuh-subuh saja, jika kamu melihat seorang ibu-ibu sedang menyapu trotoar depan etalase toko, mungkin itu pertanda sudah buka tokonya.


toko buku di garut toko buku merpati

Ngagabrug Teman Lama di Mie Ayam Goyang Lidah

01/08/22

Saya dari Bandung. Intan dari Bogor. Kami bertemu di Garut berkat mie ayam. Berkat takdir kehidupan, maksudku, dibantu rasa lapar dan warung Mie Ayam Goyang Lidah. 


Mie Ayam Goyang Lidah di Jalan Veteran Garut


Aneh banget bisa ketemu teman lama di sini, di warung kecil di kota yang sama-sama bukan domisili kami. 


Sayang saya hanya bisa ngobrol sebentar karena Intan, yang udah beres makan mie ayamnya, harus cabut duluan. 


Saya makan buru-buru supaya bisa berfoto bareng sebelum ia pergi. Saya paham banget gak bisa berlamban-lamban dengan ibu yang anaknya dua balita. 


Kumakan baso cepat-cepat. Nelan mie ayamnya ngebut. Minum air satu botol glekglekglek. Kami berfoto dengan mulut saya mingkem, khawatir ada daun seledri yang nyangkut di gigi.


Mie Ayam Goyang Lidah di Jalan Veteran Garut


Bagian teranehnya adalah saya memikirkan Intan beberapa hari itu dan berencana mengirimnya pesan di dm instagram. 


Lebih aneh lagi, saat saya utarakan itu padanya, Intan menimpali "aku tuh kepikiran loh mau ngontak teteh nanya tempat makan di garut."


Ada-ada aja. Saling memikirkan dan akhirnya tatap muka tanpa sengaja. 


Intan sedang menjalani masa-masa istimewa bersama anak sulungnya. Karena itulah saya memikirkan dia. Jadi saya senang bisa bertemu dengannya secara langsung dan tentu saja ku memeluknya. Ngagabrug caritana mah. Take care, Intan!


Mie Ayam Goyang Lidah

Jl Veteran, Garut

Ongkos makan 45.000 (dua mangkok, dua teh botol)

Menginap di Sekitar Stasiun Garut, Kami Tidur di RedDoorz Near Alun-Alun Garut

05/07/22

Langsung aja. Namanya RedDoorz Near Alun-Alun. Ini hotel modern terdekat dengan Stasiun Garut. Kuperhatikan ada juga hotel lainnya, tapi hotel lama yang kayaknya udah ada sejak tahun 80an deh kalo diukur dari gaya bangunannya. 

 

reddoorz hotel di sekitar stasiun garut

Saya dan Indra milih Reddoorz Near Alun-Alun Garut aja. Batas waktu check in pukul 4 dini hari. Kami masuk ke sana pukul 11 malam. Hehe lumayan kemalaman. Abisnya kami naik kereta malam.

Kereta api tujuan Bandung - Garut rada kagok sih jam kedatangannya. Mesti pagi banget dari Bandungnya atau malam hari. Alhasil buat yang gak ada rencana menginap di kota Garut rada ribet sih.

Langsung aja saya bahas penginapan nih. 



ROOM

Kayak kamar kos. Hehe. Katanya ada harga ada rupa. Dibandrol Rp230.000+++ per malam, saya ambil yang standar aja tipenya. Alias tipe termurah. Sing penting tidur enak dan ada AC. Kamar mandi bersih. Ekspektasinya sih gitu.

Kenyataannya? Ya so-so. Cukuplah. Kamarnya sempit tapi cukup buat kami tidur satu kasur. Tiga orang (dua orang ndut dan satu anak kecil kegencet. Hehe enggak yah gak kegencet kok).

Bantal ada dua dan itu saja sudah. Tambahan bantal RedDoorz sih yang signature dia banget warna merah. Total tiga bantal.

AC menyala dengan baik. Masih baru soalnya, masih segar.

Kasur melenoy tapi yeah okelah dari saya gak ada keluhan. Kasurnya spring bed cuma ya itu melenoy aja.

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut

 

TV? oke tv kabelnya mantap! Dia pake indihome kalo gak salah. WIFI? Mantap juga. Gak ada buffering loading munding.

Tidak ada pemandangan dari jendela. Kan sudah saya sebut tadi ini mirip kamar kos-kosan.

Ada lemari untuk simpan pakaian. Ada meja untuk simpan barang lainnya.

Colokan hp tersedia di pinggir tempat tidur, hanya di satu sisinya saja. Bila kamu tipe pembawa segala macam alat digital lebih dari tiga macam, biasakan aja bawa sendiri terminal listriknya ya. 



KAMAR MANDI

Wah kamar mandinya luas jadi tidak dukdek riweuh saat berada di dalamnya. Ada air panas meski agak lama nunggu angetnya. Pun kamar mandinya bersih. Tidak wangi tapi bersih.

Closetnya oke lancar semua. Shower mulus ngocornya. Tidak ada bau-bauan pada airnya. Tersedia wastafel.

Amenities dari penginapan ada satu set: sampoo, sabun, dan pasta gigi sikat gigi. Semuanya versi ekonomis.

Kalo kamu pernah menginap di RedDoorz di awal kemunculan penginapan jenis ini, pasti tahu kalo amenities mereka terbilang mewah. Peralatan mandinya diwadahin pouch. Sampo dan sabunnya botolan. Nah sekarang tidak lagi, kini formatnya sachetan kayak di warung. Tetap terlihat fancy but yeah kurasa begini lebih efisien buat ongkos produksi. Hehe. 

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut


LOKASI

Strategis banget! Beneran deh. Dari penginapan menuju Alun-Alun aja tinggal menggelinding. 500 meter jaraknya. Dari penginapan ke stasiun garut hanya 150 meter. Dekat banget kan.

Mau cari tempat makan pun mudah dan dekat. Ke Pasar Ceplak, surganya jajanan malam hari, pun sama dekatnya. Memudahkan bangetlah.

Beda cerita kalo kamu mau beraktivitas di Cipanas. Nah baiknya menginap di hotel-hotel sekitar Cipanas aja. 



SERVICE

Saya hanya ketemu resepsionis aja satu orang. Hospitality okelah, seperti bertemu ibu kos. Hehe. Di sini ada uang deposit Rp100.00.  Juga ada warung jadi bisa jajan tapi ibu warungnya pergi-pergi mulu deh saya mau jajan gak ada yang ngaladangan kan gak jadi jajannya.

Bagi yang membawa kendaraan sendiri di sini ada parkiran luas! Halaman parkirnya dikasih sun shading semacam waring. Menarik juga dipikirin pake waring segala.

Kebersihan penginapannya oke. Tidak boleh merokok di kamar. Bolehnya di luar kamar. Tapi janganlah merokok dekat kamar kasihan penghuni kamar lainnya. Soalnya asap rokoknya masuk kamar. Merokok di halaman parkir ajalah tolong para perokok nih dipikirin nasib para perokok pasifnya seperti kami ini. 



PRICE

Sudah saya sebut di awal tadi, ongkos tidurnya 230ribuan. Bookingnya di aplikasi RedDoorz aja karena murah. Di aplikasi hotel lainnya kulihat-lihat harganya lebih mahal.

Penginapannya gak melayani pemesanan langsung di meja resepionis. Harus online.

Begitu aja resensi penginapan dekat Stasiun Garut ini. Saya pernah menginap di beberapa hotel lainnya di Garut, hanya saja lokasi hotel jauh dari stasiun dan alun-alun. Nanti saya sambung resensi hotel lainnya ya.

Postingan tentang rekomendasi jalan-jalan di sekitar Stasiun Garut bisa dibaca di sini.

Jalan-Jalan di Sekitar Stasiun Garut

29/06/22

Kalau pernah terpikir untuk pindah ke kota kecil dan bekerja remote WFA/WFH saja, saya rekomendasikan Kota Garut. Pilih kos-kosan sekitar Alun-Alun. Dekat stasiun kereta api. Ke sana dekat, ke sini dekat. Berjalan kaki masih nyaman, bersepeda apalagi ngegelosornya enakeun. Lalu ini yang mahapenting: udaranya sejuk dan adem. Juga ayam gepreknya enak-enak!

 

jalan-jalan sekitar alun-alun garut


Sayangnya saya tidak tahu tarif hidup di sana. Tiga hari di Garut gak bisa jadi patokan tahu biaya hidup. Harga jajannya lebih murah dari Bandung yang pasti sih. Ah ketang liburan aja dulu ke Garut atuh, meni jauh ngomongin pindah kota segala rek naon sih heuheu. 

 

Mana sekarang ada stasiun kereta api juga. Buat saya warga Bandung, terhubungnya kota saya dengan kota garut melalui jalur kereta api kerasa ngegampangin banget. Emang sempat kepotong pandemi dua tahun sih, pandeminya pun masih ada. 

 

Namun yah udah bisalah sekarang jalan-jalan ke Garut. Hehe. udah pada vaksin tiga kali kan? Anak-anaknya udah pada vaksin dua kali? Kalo sudah ya bisa kayaknya jalan-jalan. Dipake aja maskernya, hand sanitizer bawa terus, kalo jaga jarak sih udah lapur ka mana tea heuheu.

FYI, Garut kotanya enakeun banget ya. Please note yang saya bicarakan adalah sekitar Alun-Alunnya saja. 

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Untuk berjalan kaki ke sana ke mari di tengah kotanya cukup nyaman. Suasananya juga hidup. Artinya banyak pertokoan yang buka. Hiruk pikuk kota terasa ramai tapi tidak riweuh. Banyak tempat jajan dalam radius berdekatan. Alfamart dan Indomaret ada tapi tidak berceceran seperti di Bandung.

Saya dan Indra berjalan kaki pagi hari, siang, dan sore. Makan buku, jajan baso, menyantap mie ayam, menelan bacil! 

 

Juga tentu saja memoto toko-toko tua di Jalan Ahmad Yani. Bolak-balik ke Toko Buku Merpati dan  bermain di Alun-Alun. Enak deh hype Alun-Alunnya tuh kerasa banget generator kegiatan warga buat leleson. 


Saya jajan kopi juga. Entah buat siapa pokoknya beli aja dulu. Maunya saya bertanya segala macam tentang Toko Ek Bouw Jaya, tapi sungkan nih. Coba kamu aja gimana kalo ke Garut mampir ke Toko Ek Bouw di Jalan Ahmad Yani terus ngobrol sama Oom yang punyanya. Terus ceritakan. Hehe.

Gak ada timeline jalan-jalan yang kami rancang. Secara spontan hanya berkeliling area stasiunnya saja. Begitu-gitu aja kegiatannya, jalan kaki-ngobrol-makan-ngobrol-berfoto-main hape-jalan kaki. Saya jadi mempertanyakan ini: liburannya buat saya atau kubil. Hahah rada ngaco emang.

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Berikut ini beberapa jalan yang kami susuri:

  • Jl Bank (kami makan paketan ayam di sini, punten saya gak catat nama restonya)
  • Jl Veteran (hotel tempat kami menginap dan ada Mie Ayam Goyang Lidah yang oke juga)
  • Jl Ahmad Yani (saya beli kopi, kopi giling halus di Toko Ek Bouw dan Indra beli lem buat panci. Wkwk)
  • Jl Mandalagiri (belanja teh curahan)
  • Jl Ciledug (jajan bubur namanya Bubur Panin dan mampir ke Toko Buku Merpati -yang mana saya belon berjodoh dengan tokonya)
  • Jl Pasar Baru (Baso Ma Iko dan Restoran Sunda Mang Iki)
  • Alun-Alun (bisa bermain lama di sini: badminton, sewa skuter, baca buku, berfoto, sholat di masjid, dan berkeliling di gang-gang sekitar Alun-Alun dan jajan. Gak ngerti sih kami jajan street food lumayan banyak heuheu).
  • Pasar Ceplak! ini di jalan apa ya saya lupa lagi nama jalannya

Dan beberapa ruas jalan lainnya.

Banyak jalan kaki membuat si kaki terasa pegal saat sampai di kamar hotel. Namun lagi-lagi namanya juga turis yang everything is new everything is interesting jadi yah senang aja bawaannya. Sing penting tidur enam jam, menetralkan tubuh yang capek. Esok hari bisa tancap ke gigi tiga lagi.

Kami sempat berganti hotel satu kali. Yakni di Hotel Joglo. Booking via Reddoorz. Ada kolam renang di sana jadi yah okelah buat cemplungin si kubil. Dua malam lainnya kami tidur di hotel dekat stasiun, masih di Reddoorz juga yang Near Alun-Alun. Rate kedua hotel tersebut cukup aman buat yang sedang diet finansial seperti kami. 

 

hotel sekitar stasiun garut


Main ke Mal Garut, nonton di bioskop, main di wahana anak-anak. Yah udah kubilang tadi kegiatannya begitu aja hanya beda kota, biasanya di Bandung, ini mah di Garut. Hehe. Seru-seru aja buat kami.

Bila uang gak jadi masalah, kamu bisa pergi ke Cipanas. Ada atraksi air panas alami di sana. Berenang dan berendam di hotel-hotel seperti Tirta Gangga pasti menyenangkan. 

 

Atau liburannya yang ala-ala leisure mewah di Kampung Sampireun juga menarik, kami sendiri sudah pernah mencobanya dan Kampung Sampireun adalah resort yang sangatlah mengesankan. Luar biasa impresif tempat, makanan, dan pengalamannya.

Yah begitu aja. Selamat berlibur sekolahan ya! Bila kamu membaca tulisan ini dan kamu tinggal di Bandung, ayo atuh booking kursi kereta api ke Garut. Rekomendid jalan-jalan di sana, kieu pisan 👍

Makasih ya, Kereta Api Indonesia. Ongkos dari Bandung ke Garut murah banget. Jadi kebantu banyak nih menahan laju pengeluaran. Malah mahalan gocar dari rumah ke stasiun sih hahaha bodor juga. 


Saya pernah menulis tentang Garut yang lainnya dalam tulisan 24 Jam di Garut. Mangga dibaca juga. Makasih yah!

Dari Bandung ke Garut Menumpang Kereta Api Lokal Cibatuan, Ongkosnya 14.000

28/06/22

Gimana kalo ke Garut naik kereta api. Emang ada kereta api dari Bandung ke Garut? 

 

kereta api bandung garut


Ada! baru aja kemarin saya, Indra, dan Kubil pergi ke Garut naik kereta api


Waduh pengalaman pertama ke Garut dengan transportasi kereta api ini sangat menyenangkan! Padahal dipikir-pikir kami gak lihat pemandangan apapun selama di jalan. Lha kami ambil keberangkatan malam hari pukul 19.28. Hehe.


Biasanya ke Garut transportasinya mobil. Ada elf di kendaraan umum. Ada kendaraan pribadi. Kena macet di Nagreg. Kalo tidak mau kena macet bisa ambil jalur ke Kamojang atau Japati.   

 

Rel kereta api ke Garut sebenarnya sudah ada sih sejak zaman kolonial, tapi mati suri. Puluhan tahun mati, bangkit lagi di tahun 2019. Stasiun Garut diresmikan tepat sebelum pandemi. Lalu terjadilah lockdown. 


Saat itu wacana jalur kereta hingga ke Stasiun Cikajang sudah ada. Sayang kini proyek kereta api Cikajangnya berhenti. Sementara Stasiun Garut sudah siap. Jadi Garut ini stasiun terakhir dari Jakarta dan Bandung. 

 

Bila ada kota-kota kecil terhubung ke Bandung via kereta api, pasti deh saya pengen ke sana naik kereta api! Seperti waktu ke rute kereta api Bandung - Tasikmalaya terhubung, saya cobain tuh. 


Begitupun Garut. Saya coba juga nih. 



Cara Memesan Tiket Kereta Api Bandung - Garut

Satu-satunya cara hanya via aplikasi KAI Access. Ada dua kereta api yang berangkat menuju Garut:

  • KA Cikuray (kereta api jarak jauh) berangkat dari Pasar Senen Jakarta. Ongkosnya 45.000 dari Bandung.
  • KA Lokal Cibatuan, (kereta api lokal), berangkat dari mana saja di stasiun mana saja di Bandung (dan Purwakarta). Ongkosnya dari Bandung 14.000.

Saya pilih Cibatuan aja karena murahlah apalagi. Berangkatnya dari Stasiun Bandung. Paling dekat dengan rumah soalnya. Namanya juga kereta lokal, jadi gak ada nomor kursi alias bebas mau duduk di mana aja.

Ada dua jam keberangkatan kereta api dari Bandung ke Garut (updated Juni 2023): 
07.00
18.44

Namun sayangnya dari Garut ke Bandung gak ada waktu yang cocok nih buat perjalanan pergi-pulang same day. Dari Garut ke Bandung berangkatnya:
05.35
10.45 


bandung garut naik kereta api cibatuan


Jadi kayaknya mesti nginep di Garut kalo kamu jalan-jalan di sana. Saya pun begitu. Saya booking satu kamar di Redddoorz Near Alun-Alun. Permalamnya 230+++. Lokasi strategis dan kamarnya cukup okelah buat menumpang tidur. Bukan kamar fancy, seperti kamar kos aja. Kayaknya seru deh kalo ada hostel di Garut.

Ayo Garut, disambut nih potensi turis-turis ngehe dari Bandung. Hehehe apa sih ngehe, maksudku turis-turis bageur.

Sebaliknya warga Garut diuntungkan banget dengan kereta api Cibatuan ini. Mereka bisa pergi pagi dari Stasiun Garut, dan pulang malam dari Bandung. Seru ya! Gak apa-apa deh, saling bergiliran aja buang uangnya hehehe orang Bandung buang uang menginap di Garut. Orang Garut buang uang jalan-jalan sehari aja di kota Bandung.

Gitu aja. Cerita jalan-jalan di Garut saya buat di postingan berbeda yah! Bisa dibaca di tulisan Jalan-Jalan Sekitar Stasiun Garut. 


Ayo dibooking tiket kereta api dari Bandung ke Garut di aplikasi KAI Access ya! Lesgow, lesgooow!

Pabrik Teh di Cikajang

07/02/18
Tidur baru tiga jam saja. Semangat liburan lumayan ngurangin kepala pening akibat begadang.

Indra bilang di depan rumah yang kami inapi (rumah bibinya Indra), ada perkebunan teh. Diskusi bentar, kami sepakat hiking ke kebun teh. Pusing kepala langsung hilang ahahaha. 

Sekitar 20 menit berjalan kaki, gak sengaja ketemu sebuah bangunan besar mirip gudang. Iseng aja sih masuk ke dalamnya. Wangi teh menguar. Barulah paham itu pabrik teh. 


Sebelum masuk ke pabrik terlalu dalam, Indra masuk ke ruangan yang kayaknya sih kantor. Meminta izin kepada seorang bapak tua, ia memberi restu. Bahkan Pak Udung menemani kami berkeliling pabrik, sekalian curhat. Heuheuheu. 

Pabrik Teh Mekarwangi namanya dan berdiri tahun 90an. Bukan pabrik tua peninggalan Belanda. Walo gak tua-tua amat, proses pembuatan tehnya masih konvensional sih. 

Proses sortir daun teh, dilakukan manual. Kata Pak Udung, pemetik teh sekarang gak perhatian sama daun teh yang mereka petik. Ilalang dan daun tanaman lain juga kepetik banyak. Makanya harus disortir. Manual.

Abis itu daun teh dimasukkan ke sebuah mesin yang berputar-putar. Daun teh dipanggang sambil teraduk. 

Daun yang udah kering, dikirim ke bagian sortir lagi. Sortirnya masih manual juga, dilakukan gadis-gadis Cikajang yang belia nan cantik.

Daun dipisah dari batangnya. Si batang bakal masuk ruangan lain dan diproses lagi jadi teh, yakni teh celup (teh bubuk). 

Sementara daunnya entah dikemanakan, langsung dibungkus apa dipanggang lagi, saya gak tahu. 

Saya rasa pagi itu adalah pagi yang penuh berkah. Mataharinya hangat. Hawa pabrik teh yang dingin dan senyap, tapi saya suka. Seperti makanan, teh juga  mesin waktu.

Cikajang sama kayak Sukawana di Lembang, Gambung, Malabar. Sama-sama perkebunan teh yang digalakkan di zaman kolonial. Bicara Teh di negeri ini artinya bicara sejarah yang panjang. 

Juga bicara tentang kesedihan. Abainya pemerintah terhadap industri teh ini menyebabkan penjualan yang lesu. Bukan pemerintah yang sekarang aja sih yang gak perhatian, tapi sejak pemerintah yang dulu-dulu itu.

Teh, tanaman yang dianggap remeh. Batu bara, minyak bumi, dan kelapa sawit mah jor-joran banget ya. Teh? Mati segan hidup pas-pasan. 

Di pabrik ini aja, Pak Udung lebih banyak cerita yang sedih-sedihnya daripada senengnya. Kayaknya gak ada cerita seneng deh. Penjualan menurun lah, ekspor dilibas Thailand lah, pabrik dipertahankan untuk menggaji pegawainya aja lah. Hiks. 

Untuk mendongkrak penjualan, mereka bikin diversifikasi produk. Produk untuk dijual ke pasar, ke toko oleh-oleh, sampai ke supermarket. 

Produk buat ke pasar, tehnya teh bubuk. Buat toko oleh-oleh, daun tehnya masih campur-campur dengan batangnya. Teh kelas premium murni daun teh aja isinya. 

Saya beli semuanya. Murah kok, yang premium kalo gak salah 20 ribu deh (apa 30ribu gitu ya).

Sebagai orang yang gak ngerti rasa Teh, teh yang bubuk kok ya enak-enak aja. Terus saya coba teh berikutnya yang daun+batang, rasanya lebih maknyus.

Pekat gitu kali ya. Rasanya tuh 'mentah'. Seperti ngisep daun dan tanah. Juga bagaikan menghirup bau matahari. Lezatnya banget ini tehnya. Abis nyobain teh model tubruk begini, teh celup jadi kayak sirup kebanyakan air heuheu.

Teh yang termahal saya gak coba sebab saya kasih buat bibinya Indra.

Kenapa sih industri teh melapuk begini? 

Apa gak bisa kirim petugas-petugas pengurus perkebunan ke Jepang gitu untuk studi banding. Kayaknya di sana, segala macam yang mereka kerjakan abadi dan lestari. Kenapa kita gak bisa kayak mereka...saaaddddd.

Apa yang gak ada di kita tapi ada di orang-orang Jepang? Apresiasi? Ketulusan?Kecintaan? Ketekunan? 

Indra bilang tingkat konsumsi teh di negara ini masih rendah. Apa iya? Terus saya browsing deh. Di tahun 2016, konsumsi per kapita Indonesia 500gr aja. Dibanding Inggris, mereka konsumsinya 2kg/kapita. 

Setengah tahun pertama di tahun 2017, ekspor teh turun sebanyak 17%. Padahal di tahun 2014, pemerintah menaikkan anggaran untuk revitalisasi perkebunan teh. Bahkan perbaikan dan penambahan infrastruktur salah satunya digalakkan untuk menekan biaya logistik yang mana salah satunya untuk teh ini. (Ngomong-ngomong saya dapet beritanya dari kompas.com dan situs-situs berita ekonomi).

Baca-baca aja deh sendiri tentang peliknya industri teh di negeri ini. Kayaknya sih, butuh orang-orang sekelas Bu Susi buat memperbaiki ekosistem kerja dan menggenjot penjualan. Orang yang ngerti dari hulu ke hilir perkebunan teh. Perubahan yang radikal dan revolusioner. 

Kalo perlu, kenapa gak taro anak-anak muda di kursi-kursi penting perkebunan teh dan minta mereka bikin program yang realistis tapi dinamis dan cepat. 

Kok kayaknya kalo lihat pesatnya industri startup Indonesia ya baguslah gitu, masa iya semangat yang sama gak bisa diaplikasikan ke industri-industri lama kayak perkebunan teh ini. 

Atau mungkin itu sebabnya ya, startup yang tumbuh sekarang, skala industrinya mungil-mungil. Sementara ngurusin perkebunan teh ibaratnya ngurusin panti asuhan. Kecil-kecil, banyak, terabaikan puluhan tahun, masalah yang berakar bererentet puanjang, dll, dst, dkk, dsb. 

Saya juga makin ngaco ngetiknya.  Nulis apa sih saya ini. Emang lebih gampang ngomong (nulis) ketimbang ngerjain. Bah. Bentar lah minum teh dulu. 














Teks: Ulu
Foto : Ulu

24 Jam di Garut: Berendam Air Hangat dan Bandung – Garut via Kamojang

09/05/17
Gak sengaja kami menginap di Garut. Ini kayak rezeki nomplok banget lah! Jalanan yang lengang dari Bandung ke Garut, cuaca yang sendu akibat gerimis dan kabut, dan seporsi sop iga yang lezat. Garut dalam semalam itu meninggalkan kesan yang mendalam.

Dua minggu yang penuh stres di Bandung berguguran sudah! Berkat Garut tentu saja. Kami berendam di air hangat alami, air hangat dari Gunung Guntur. Tidur malam itu rasanya lebih nyenyak dari biasanya.

Kami menginap di danau Dariza Resort. Ditraktir kakaknya Indra nih (makasih banget, Teh :D). Hotel kecil di Cipanas yang gak kecil-kecil amat ketang. Ada kolam renang segala mah atuh tidak kecil kan. Kamarnya berbentuk cottage. Ada bathtubnya jadi bisa berendam sepuasnya buligir tanpa risih hahaha.

Cabut dari hotel setelah makan-berenang-makan, kami pulang ke Bandung via Kamojang. Terus ya pemandangannya dari Samarang sampai Kamojang itu CANTIK SEKALIIIIII!

Pengen saya sih parkir buat nonton pemandangan, tapi gak ada ruang buat mobil menepi. Keren pisan lah Kamojang, bisa lihat Garut dan Bandung sekaligus dari situ.

Wangi hutannya juga amboi sejuknya. Di Kamojang kami berhenti sebentar dan jajan mie rebus di warung-warung nonpermanen. Pemandangan yang terlihat hutan aja kalo dari tempat kami makan. 
 
Makan mie rebus sambil lihat hutan di seberangnya, waduh senangnya hati ini rasanya tentram.

Terus kami lewatin situsnya Indonesia Power. Banyak pipa-pipa gede, pabrik geothermal, dan perkantoran Indonesia Power. Lalu kami ngelewatin Jembatan Kuning yang epik banget karena pemandangan dari jembatan ini ke arah Bandung luar biasa megah. Jembatan ini jalur baru menggantikan tanjakan curam terjal bernama Tanjakan Monteng.

So yeah di Garut itu ya kami makan enak, tidur enak, berkendaraan enak, semua-muanya enak. Namanya juga liburan heuheu.

Garut is definetely an awesome short getaway from Bandung! Fotonya dikit ajah, diambil dengan kamera smartphone.