Sore itu di Hadapan Ayam Suniaratu

February 11, 2020
Kamu pernah gak melihat foto atau lukisan terus di dalam hati kok rasanya seneng gitu lihatnya. Kayak ada bunga-bunga mekar di dalam kepalamu dan hal-hal kayak itu membangkitkan perasaan romantis, sentimentil, dan jatuh cinta. Agak suram, tapi ya...seneng.⁣⁣


⁣⁣Itulah yang kulihat dan kurasakan saat berdiri sehabis hujan. Jam tujuh malam di pojok Suniaraja. Dan itu bukan foto atau lukisan.⁣⁣
⁣⁣
Cuma perkara mau beli ayam goreng Suniaratu, menuju ke sana jalan kaki sedikit, lantas mengapa perasaan saya sudah terhibur. Makan aja belum. ⁣⁣
⁣⁣
Jalanan basah. Hujan murupuy. Kuhindari genangan air, berjalan pelan takut tiseureuleu. Kuperhatikan genangan air berkilauan. Diam dan kotor. ⁣⁣
⁣⁣
Jalan Pecinan Lama hening. Beberapa toko bangunan tutup. Yang masih buka adalah warung-warung makan yang sepi. Suram. ⁣⁣
⁣⁣
Di depan warung nasi padang, mobil ekspedisi parkir. Suara sayup-sayup musik dangdut berasal darinya. Kabel-kabel listrik semrawut. Bangunan tua compang-camping dindingnya. Ayam Suniaratu gemerlapan.

Saya berdiri menghadap Jalan Suniaraja, abis beli kerupuk terasi. Sewaktu siap-siap nyebrang menuju lapak Suniaratu itulah saya bengong sebentar. Memandang...ya itulah, panorama yang sebut di paragraf-paragraf atas. ⁣⁣
⁣⁣
Waduh cakep banget pemandangannya. Gitu dalam hati ini bilang. Kamu mungkin gak setuju. Gak apa-apa, sebab menengok dari foto begini yang kelihatan cuma poek, pedagang kaki lima, becek, truk, gedung-gedung gak jelas. Suram emang. ⁣⁣
⁣⁣
Coba kalo kita jalan bareng kemarin. Ada di sana sama-sama. Kena gerimis sama-sama. Kena becek sama-sama. Kita ngobrol. Mungkin apa yang kurasakan itu, kamu alami juga. Tapi kemarin ku jalan sendiri. Bengong sendiri. Senyum-senyum sendiri.⁣⁣





Post Comment
Post a Comment