Cerita dari Konser Dewa di Bandung

February 16, 2020
Malam itu saya gugup. Efek kegugupanku? Dompet ketinggalan. Padahal kubutuh KTP yang ada di dalamnya. Tiket konser jatuh entah di mana. Untung ku ingat di mana tiketnya kukeluarkan dari tas. Nah, jatuhnya dekat saja, 10 meter dariku. Masih rezeki emang dasar!

Kegugupanku yang ketiga: asam lambung naik. Saya hentikan dengan makan tepat waktu dan cemal-cemil. Juga kubawa minyak buatan Botanina yang dari judulnya saja sudah membantu meredakan sakit lambungku: Jaga Sukma.


Sungguh ribet nonton konser band kesukaan di umur kepala tiga ini. Badanku, saking antusiasnya, merespon dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Anak 90an mana yang gak cinta dengan Dewa 19 dan Dewa?

Maksudku, lagu-lagu mereka yang mengiringi masa remajaku. Di umur-umur keemasan itulah mereka ada dan melekat kuat-kuat dalam ingatan. Ini pertama kalinya saya nonton langsung Dewa. Kurasa wajar kalau ku gugup.

Konser Dewa di Bandung berlangsung di ballroom Hotel Trans Luxury pada hari Sabtu (15/02/2020). Dalam jadwalnya tercantum, konser dimulai pukul 20.00 dan berakhir pada 22.30.

Pada kenyataannya, molor hampir satu jam. Mendekati jam 21.00 konser pun mulai. Dewa membuka pertunjukkannya dengan Arjuna Mencari Cinta. Beugh semua kegugupanku bukan saja hilang, entah energi darimana padahal saya lagi capek banget, saya langsung loncat-loncat dan ikut mengejar suara Once yang tinggi banget!

Lagu berikutnya yang menghantam telinga kami tanpa ampun: Angin, Dewi, dan Kosong.

Once gak banyak ngomong. Sekalinya ngomong juga garing. Hahaha. Kaku sekali, Once. Gak apa-apa, saya tetap menyukaimu, Maz Once! 

Lantas Ahmad Dhani yang kukira ada di panggung, ternyata baru muncul di lagu ke-5. Ya maaf saja, saya bisa melihat panggung, tapi bagian atasnya. Hahaha. Personel Dewanya sama sekali gak terlihat!

Dhani muncul dengan lagu Queen berjudul Now I’m Here. Heboh sekali. Ini konser pertamanya setelah ia keluar dari penjara. Makanya ia setel kemunculannya di konser agak istimewa begitu.


Lagu-lagu yang dinyanyikan Dewa setelah Queen itu:
Mati Aku Mati,
Pupus,
Perempuan Paling Cantik,
Sedang Ingin Bercinta,
Cinta Gila,
Kangen,
dan Mistikus Cinta. 

Sebisa mungkin saya ikut nyanyi semua lagu tersebut. Saya sadar betapa kumenjiwai semua lirik-liriknya ahahahahahaha. Gokil aku senang!

Ada yang saya gak hapal liriknya. Bahkan ada lagu yang saya gak sukai sama sekali (Sedang Ingin Bercinta terutama sih, sebab pas lagu itu pas Dhani proses berpisah dengan Maia. Kurasa itu lagu buat Mulan Jameela. GEULEUH!).

Kupikir waktu akan terasa lama saat kuikut bernyanyi dengan Once. Ternyata waktu terbang ya. Satu jam terasa lima menit saja. Konser ini dibagi jadi dua sesi. Sesi pertama yang kusebut di atas lagu-lagunya.

Sesi kedua adalah lagu-lagu Bintang Lima.

Di antara sesi tersebut ada sesi istirahat selama 15 menit. Selama nunggu sesi-2, penonton kembali duduk selonjoran dan minum air banyak-banyak. Tenggorokan kering hahaha.

Nah di sesi kedua dimulai, suasana makin panas. Lagu dari album Bintang Lima keluar. Urutannya juga sama dengan album kaset.

Waktu intro Roman Picisan yang mana langsung masuk ke lirik, uuuuuuhhhh saya kembali bergejolak. Apakah saya sedang bermimpi, mengapa ini terasa sureal, kubernyanyi dengan mata tertutup…

“Cintaku tak haruuuuuuussss…miliki dirimuuuuu….meski perih mengiris-iriiiisss…iris segala janjiiii….”

Bahagianya saya malam itu udah gak jelas lagi bentuknya bagaimana. Bintang Lima adalah salah satu album terbaik dalam hidupku sepanjang sejarahku dengerin musik. Rasanya ku ingin singgah sebentar ke tahun 2000 dan berkata pada Ulu yang sedang nunggu-nunggu videoklip Roman Picisan ditayangkan di program acara RCTI Clear Top 10 terus bilang: Lu, kamu nonton konser mereka di tahun 2020! 

Saya cuma yang...saya gak ngerti lagi...saya senang...saya kayak...duh gimana jelasinnya ini ya....

Meski sound dalam ballroom itu kacau menurutku, tapi rasa sentimentil yang muncul karena Bintang Lima dinyanyikan di hadapanku langsung begitu...saya tuh...aduh gimana ya...mau nangis! mau ketawa! mau teriak sekencang-kencangnya!

Saya ingat sekali di mana saya jatuh cinta dengan album Bintang Lima di tahun 2000 waktu itu! 

Konser ditutup dengan lagunya Queen berjudul Radio Gaga. Kuperhatikan, gak banyak yang hapal lagu tersebut, kecuali suamiku dan orang-orang seumurnya. Hahaha!

Konser band apa yang ditutup sama lagunya Queen? Ya konser Dewa semalem itu. Sebegitu cintanya Dhani dengan Queen. Iya, saya setuju Queen adalah legenda, cuma...gimana ya nutup konser sendiri pake lagu orang. Sekelas Dewa pula. Kurasa, lagu Sayap-Sayap Patah udah cakep buat nutup konsernya dan membuat puncak konser terasa monumental.

Konser Dewa memanglah menyenangkan! Tapi gak setinggi harapanku, gak terlalu memikat dari segi teknis acara, sebab:
(1) Ballroom hotel adalah tempat yang amat sangat buruk untuk pertunjukan konser musik.
(2) Konser semalem adalah konser Dewa. Bukan Dewa 19.

Feelingku bilang saya akan nonton konser Dewa lainnya, termasuk yang konsernya featuring Ari Lasso. Gak tahu kapan :D 

Mengutip Felix Dass, berhentilah bikin lagu baru, Dhani. Sering-sering saja konser dan membawakan lagu-lagu lawasmu yang brilian jenius luar biasa itu.




Post Comment
Post a Comment