Social Media

Image Slider

Showing posts with label Featured. Show all posts
Showing posts with label Featured. Show all posts

Sukacita Menulis Untuk #30HariBercerita

12/02/20
Ini tahun 2020 dan pertama kalinya saya mengikuti program tahunan di Instagram: #30HariBercerita. Gokil ku sungguh tidak menyangka bahwa program tersebut amat sangat menyenangkan buatku dan membuatku ketagihan!

Di tahun-tahun sebelumnya, saya pembaca aja. Baru sekarang kuputuskan, baiklah saya akan menulis caption 30 hari! Hahaha. Sebuah tekad yang syukur alhamdulillah dapat konsisten kulakukan.

Saya baru ikutan menulis #30HBC di hari ke-4. Saat saya berada di Tasikmalaya. Ugh tidakkah itu monumental, maksudku pertama kali ku menulis caption dengan sungguh-sungguh di kamar sebuah hotel di Tasikmalaya untuk #30HBC. Hujan waktu itu. Saya dan Indra baru saja makan baso bakar dan pizza lokal. Selamanya saya akan mengingat momen tersebut. Momen menulisnya, bukan cuma pizzanya :D


Cerita pertamaku di #30HBC tentang polisi kereta api yang menggiring saya dan Gele sebab kami gak bayar tiket untuk Kubil. Hahaha. Kubil kan umurnya udah 4 tahun. Polsuska marah-marah. Sebab yang gratis duduknya anak umur 3 tahun. Hmmmmpppffftttt....

Tahu gak. Saya mau ikutan #30HBC mulanya ragu-ragu. Akun saya namanya @bandungdiary. Saya mau cerita apa tentang Bandung tiap hari begitu.

Deskripsi Gedung Merdeka?
Ngeluh kemacetan?
Review kafe?
Itinerary liburan ke Lembang?

Apa coba hahahaha bingung karena nama. Namun kuingat-ingat lagi. Akun @bandungdiary adalah akun personal bukan akun wisata. Sepantasnya saya cerita segala macam yang saya sukai saja. Ngapain dibatas-batasi segala (walo yha, saya membatasi diri dalam bercerita detail keluarga di medsos).

Kemudian ya begitulah mengalir saja tulisan-tulisan pendek #30HBC. Ada hari di mana saya bolos menulis sebab saya tidak sanggup memenuhi tema yang admin berikan. Ya daripada maksa-maksa bari gak suka, saya tidak ikutan saja. Esoknya ya nulis lagi.

Ada tulisan panjang. Banyak tulisan pendek. Dari 30 hari kami bercerita di Instagram, ada enam hari saya 'gak hadir'. Sisanya, tulis terooozzzzz!

Seneng ya. Tiap hari nunggu-nunggu mau nulis apa ya, ada tema khusus gak. Hihihi. Antusias sekali. Andaikan rasa bahagia menanti-nanti 'tugas menulis' seperti ini kurasakan dulu sewaktu duduk di bangku sekolah dan perkuliahan...

Saking antusiasnya, seolah-olah ada 'hewan peliharaan' di dalam jiwa saya yang bakal marah kalo saya gak nulis satu hari aja untuk #30HBC. Aneh memang hahahaha. Kecuali tema yang susah sih saya putuskan gak ikut karena emang gak bisa ahahaha. Makin tua kamu makin jago dalam menerima kemampuan diri sendiri memang ahahaha apaan sih ini saya nulis apa tuatua maksudnya apa hhmmmmmfffttt...


Secara statistik, ada enggagement lebih daripada biasanya dari efek #30HBC. Followers nambah meski gak banyak. Tiap postingan ada yang save post. Langka sekali hahaha. Mana saya direpost satu kali oleh adminnya.

Namun cukuplah angka-angka duniawi itu. Hal itu kuanggap minor sebab kebahagiaan dalam menulis yang kurasakan di #30HBC jauh lebih penting!

Makasih banyak, #30HariBercerita!

Tak sangka sebulan sudah berlalu. Hari-hari kemarin kurindukan, hari-hari besok...entahlah bagaimana. Dihadapi saja.

Oiya saya juga suka membaca postingan teman-teman yang mengikuti program serupa. Dibanding mereka yang saya gak kenal, saya lebih menyukai cerita teman sendiri. Ada juga memang yang gak kenal di dunia nyata. Karena saya follow mereka, jadi berasa dekat aja. Hahaha. Ya begitulah.



Sore itu di Hadapan Ayam Suniaratu

11/02/20
Kamu pernah gak melihat foto atau lukisan terus di dalam hati kok rasanya seneng gitu lihatnya. Kayak ada bunga-bunga mekar di dalam kepalamu dan hal-hal kayak itu membangkitkan perasaan romantis, sentimentil, dan jatuh cinta. Agak suram, tapi ya...seneng.⁣⁣


⁣⁣Itulah yang kulihat dan kurasakan saat berdiri sehabis hujan. Jam tujuh malam di pojok Suniaraja. Dan itu bukan foto atau lukisan.⁣⁣
⁣⁣
Cuma perkara mau beli ayam goreng Suniaratu, menuju ke sana jalan kaki sedikit, lantas mengapa perasaan saya sudah terhibur. Makan aja belum. ⁣⁣
⁣⁣
Jalanan basah. Hujan murupuy. Kuhindari genangan air, berjalan pelan takut tiseureuleu. Kuperhatikan genangan air berkilauan. Diam dan kotor. ⁣⁣
⁣⁣
Jalan Pecinan Lama hening. Beberapa toko bangunan tutup. Yang masih buka adalah warung-warung makan yang sepi. Suram. ⁣⁣
⁣⁣
Di depan warung nasi padang, mobil ekspedisi parkir. Suara sayup-sayup musik dangdut berasal darinya. Kabel-kabel listrik semrawut. Bangunan tua compang-camping dindingnya. Ayam Suniaratu gemerlapan.

Saya berdiri menghadap Jalan Suniaraja, abis beli kerupuk terasi. Sewaktu siap-siap nyebrang menuju lapak Suniaratu itulah saya bengong sebentar. Memandang...ya itulah, panorama yang sebut di paragraf-paragraf atas. ⁣⁣
⁣⁣
Waduh cakep banget pemandangannya. Gitu dalam hati ini bilang. Kamu mungkin gak setuju. Gak apa-apa, sebab menengok dari foto begini yang kelihatan cuma poek, pedagang kaki lima, becek, truk, gedung-gedung gak jelas. Suram emang. ⁣⁣
⁣⁣
Coba kalo kita jalan bareng kemarin. Ada di sana sama-sama. Kena gerimis sama-sama. Kena becek sama-sama. Kita ngobrol. Mungkin apa yang kurasakan itu, kamu alami juga. Tapi kemarin ku jalan sendiri. Bengong sendiri. Senyum-senyum sendiri.⁣⁣





Melihat Gedung Eks Interlink Lebih Dekat

07/08/19
Pernah melintas Jalan Wastukencana dan membaca signage di atas sebuah gedung antik berbunyi: Interlink?

Warga Bandung sih pasti pernah. Siganagenya gede gitu lho. Pasti terbaca mudah.

interlink

Interlink ini kantor agen wisata. Rasa-rasanya sih belum lama saya lihat signagenya dicopot. Entah ke mana kantor Interlink pindah. Kini gedung berasitektur ala kolonial itu tak lagi bertuan. Kosong.

Dewi dan Isma dari komunitas Heritage Lover merancang kegiatan berkunjung ke Eks Interlink. Tentu saja saya gak mau melewatkannya. Hari minggu waktu itu (14/7/2019).

Gedung eks-interlink adanya di Jalan Wastukencana no. 5. Gak jauh dari Gereja Bethel. Di seberangnya Balaikota.

Bisa masuk ke dalamnya, saya semangat banget! Senang! Gak tahu nih gimana harus berterima kasih pada Dewi dan Isma :)

Bagian paling mencolok dari gedung ini adalah tegelnya. Di satu bangunan ini ada lima motif tegel! Gokil banyak ya. Sekaya apa ini orang yang punya gedung hahaha.

Di dalam gedung gak ada perabotan. Kosong blas. Hanya ada seperangkat alat tidur dan berjaga. Itu pun di ruang depan saja. Sisanya hampa. Langit-langit tinggi dan pintu ukuran besar.

Ada dua kamar utama. Terlalu sedikit ya jumlah kamarnya buat rumah sebesar itu. Tapi ini gedung memang bukan rumah. Melainkan kantor, perusahaan.

Berdasarkan tulisan Kodar Solihat yang saya baca di web Jabar Agro, gedung ini dahulu bekas perusahannya Pirelli. Pirelli memiliki perkebunan karet di Bunisari - Lendra di Garut.

Ya, Pirelli yang dimaksud adalah sponsor yang namanya nempel terus di seragamnya Intermilan! Siapa sangka nama yang sering penggemar sepakbola liga italia lihat ini ada hubungannya dengan Bandung, Garut, Indonesia!

Gimana cerita Pak Kodar tahu kalau gedungnya pernah jadi kantor perusahaan Pirelli? Baca ada di websitenya. Saya rasa gak sopan juga kalau saya salin semua informasinya di sini.

Di sini mah saya pajang foto-foto aja ya. Sejarah lengkap bacanya di sini: Perkebunan Bunisari-Lendra Dulunya Milik Industri Ban Pirelli.

interlink

Dari risetnya, Dewi membaca kalau di buku telpon tahun 1941 tercatat ada enam orang yang alamatnya di jalan yang sama: Logeweg no 5. Alias jalan wastukencana.

Ke enam orang ini punya nama belakang yang berbeda. Artinya, bukan kerabat dong. Mereka bekerja di alamat yang berbeda-beda. Ada yang kerjanya di apotek, PLN (dulu Gebeo namanya), juga ada yang kerjanya di sekolah (di St Augustinus). Lantas mengapa di buku telpon alamat mereka sama. Apa mereka ngontrak di Logeweg 5?

Di era kemerdekaan, bangunan ini jadi kantor Departemen Perdagangan Jawa Barat. Setelah itu entah dimiliki siapa dan disewakan pada Interlink. Sekarang pun gedungnya terbuka untuk disewa dan dijual.

Siapa sangka ya. Di sudut kota pegunungan ini ada asetnya produsen ban salah satu yang terbesar di dunia.

Ruang depan
Masih di ruang paling depan
Di ruang tengah
Di ruangan belakang, kamar
Di kamar satunya lagi








Teks & foto: Ulu