Membaca Na Willa

February 09, 2020
Saya beli buku ini di bulan September 2019. Di bazarnya Bandung Readers Festival yang berlokasi di Gedung Sate. 

Baru ku tamat membacanya di bulan Januari 2020. Bukan maksudku menumpuk-numpuk buku, tapi tiap buku ada takdirnya untuk dibaca, bukan? :D 


Dalam buku diceritakan anak kecil namanya Na Willa. Tokoh utamanya ini umurnya 5 tahun. Ibunya ia panggil Mak. Ayahnya Pak. Rumahnya di dalam gang. Sesuai umurnya, dia senang bermain. Willa ini bocah riang yang berani dan lucu! Khas anak-anak tingkahnya polos. 

Mak sama aja kayak ibu-ibu lainnya, bawel dan marah-marah mulu wkwkwk. Akan tetapi, Mak ini pinter jawab kalo Na Willa bertanya. Tahu sendiri kan anak-anak bagaimana pertanyaannya. Kurasa keterbukaan dan kedekatan Na Willa dengan ibunya menjadikan dia anak yang penuh kasih sayang dan berani mengemukakan opininya. Ya opini anak umur lima tahun yang suka dibacain buku sama ibunya sebelum tidur, kebayang gak? :D 

Na Willa punya teman-teman. Temannya adalah tetangga-tetangganya. Ada teman yang baik, ada juga yang suka ngece-ngece. Fyi, Willa ini minoritas. Dia kristen dan keturunan tionghoa.

Ada anak yang berteriak menyebutnya Asu Cino, Willa balas itu anak, menarik kakinya sampai dia terguling, tangannya Willa injak. Lantas Mak balik memarahi Willa: kamu memang cino, bapakmu cinooo! (Cerita ini cuma sepotong, kamu harus baca cerita utuhnya agar tahu gimana menyikapi cerita asu cino ini).

Willa emang berani banget anaknya! Saya sungguh menyukainya, sebab dia gak jahat sama orang lain, tapi dia nih kecil-kecil udah punya sikap aja gitu hahahaha.

Ada kelas ngaji di rumah Farida, tetangga Na Willa. Terus Willa pengen ikutan nimbrung. Dibolehkan oleh ayah ibunya, juga Maknya. Orang lain pada pake hijab, Na Willa pake...sprei buat nutup rambutnya, terus maknya ngambek, sebab spreinya baru aja kering dan bersih sih.

Hadah Willa...Willa...hahahaha!

Emang cerita di bukunya lucu-lucu. Akan tetapi makin nambah halamannya, bobot cerita makin 'berat'. Karena perspektifnya anak-anak aja jadi kelihatan ringan. Dan justru dari mata Na Willa, kesedihannya tambah berat.

Seperti, waktu Mbak Tin tetangganya dinikahkan paksa sama bapak-bapak (dari cerita, Mbak Tin kayaknya masih muda banget). Terus bagian Dul teman mainnya, kakinya kelindes kereta api. Terus tentang guru TK yang galak dan teman-temannya yang rasis.

Bukunya gak berceramah. Kekecewaan diperlihatkan. Kesedihan ditampakan. Namun penyampaiannya implisit, halus aja gitu. Kurasa disitulah menariknya. Ketawa tapi sedih. Hhhh hidup ini memang...

Baca deh Na Willa karya Reda Gaudiamo ini. Menghibur sekali, kumerasa diceramahi pula walo gak ada ceramah-ceramahnya ini buku. Reda menulis tiga buku. Saya sudah membaca dua bukunya. Aku, Meps, dan Beps. Dan Na Willa. Buku berikutnya akan kubaca juga, entah kapan. Tapi pasti ;) 





Post Comment
Post a Comment