Jejak Mata Pyongyang, Review Pendek

May 18, 2019
Bila ada top 10 buku kategori ‘saya suka banget’ nah ini buku termasuk ke daftarnya.

Judul: Jejak Mata Pyongyang
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Halaman: 156 halaman
Penerbit:  Mizan
Tahun: 2015



Kedatangan Seno Gumira Ajidarma ke Pyongyang bukan untuk jalan-jalan. Namun jadi juri festival film Internasional Pyongyang 2002. Lantas apa menariknya ini buku?

Satu. Penulisnya.
Dua. Seno yang biasanya menulis fiksi kali ini menulis esai. Buku ini menyajikan 10 esai pendek. Kesannya SGA terhadap tempat dan manusia yang ia temui selama 17 hari di sana. Lengkap dengan foto-foto.

Nah, menurut saya mah foto-foto jepretan SGA inilah highlight utama bukunya.

Buku ini ditulis dan terbit 10 tahun usai perjalanan. Menyesal, kata Seno. Sebab ia baru menulis dengan ingatan yang memudar.

Di buku ini esainya pendek-pendek. Fotonya banyak. Seno memotret, awalnya terbuka saja. Setelah ditegur penerjemahnya, ia moto diam-diam. Sebanyak-banyaknya. Dengan kamera analog SLR Nikon FM2. One shot one kill. Fotonya bagus-bagus sekali.

Kata Seno "betapapun, ketika ingatan memudar, dan daya ingat terpengaruh usia, justru foto-foto itulah yang saya harapkan membantu. Artinya, alih-alih foto menjadi ilustrasi cerita, dalam beberapa hal adalah dari foto-foto tersebut saya menyusun kembali ingatan saya."

Esai pertama tentang alasannya ke Pyongyang. Di esai keduanya ia mulai memotret. Karenanya ia diawasi ketat penerjemah sekaligus intel. Sebab ia motret. Dan di sana, waktu itu sih, gak boleh moto sembarangan.

Pindah ke esai ketiga. Seno bertanya pada penerjemahnya: dahulu kala bangsa Korea kan jelas beragama, sejak kapan kepercayaan ditinggalkan?

Penerjemahnya menjawab."Ketika kami dijajah Jepang, kami sangat menderita, dan kami semua berdoa terus menerus, tapi perubahan tak kunjung tiba."

Ia melanjutkan. "Maka pemimpin besar Kim II Sung berkata bahwa perubahan hanya bisa terjadi dengan usaha manusia. Jadi kami lebih percaya kepada manusia."

Ada dua esai yang menyinggung rupa-rupa pakaian yang dikenakan warga Pyongyang. Di sini Seno mulai spesifik menulis tentang potret kehidupan warga Pyongyang.

17 hari di Korea Utara, ia diajak jalan-jalan melihat suasana kota dan daerah pinggiran.

Di esai terakhir, Seno menyajikan kesimpulan. "Memang tidak terlalu keliru bahwa Kim Jong-II telah membangun negeri itu seperti membangun studio film."

Buku bagus. Masuk daftar koleksi. Termasuk kategori buku: gak boleh dipinjemin.

Post Comment
Post a Comment