Image Slider

Empat Jam di Blitar, Jalan-jalan di Sekitar Stasiun Kereta

December 24, 2018
Ohoi saya belum kasih lihat catatan perjalanan saya dan Nabilkubil di Blitar ya. Udah sih, tapi tulisan yang ini: Blitar dan Wajah Asing Soekarno, adalah catatan yang rada serius. Hahaha. Kerasa serius gak sih? :P

Jadi, saya mau nulis tentang jalan-jalan di kota Blitar edisi santai aja.

Di Malang saya udah bertekad gak akan langsung balik ke Bandung. Jadi browsinglah saya mencari kota tetangganya Malang apa aja nih. (Btw, tulisan tentang jalan-jalan di Malang baca di sini: Hampa di Malang

Membuka peta Jawa Timur, saya menemukan lebih dari lima kota dekat Malang. Pilih-pilih lagi, mengerucut ke Kediri, Pasuruan dan Blitar.

Terus tinggal dicocokan dengan jadwal kereta api ke Bandung. Nah, ketemulah kota Blitar!

Kalo bahas Blitar, saya gak tahu banyak kecuali tentang tiga orang ini: Soekarno, Dodit Mulyanto, dan Fokker. 


gerbang ke Makam Soekarno

Ke Blitar dan Bertemu Pandu

Keyword yang saya cari tentang Blitar gampang aja sih: tempat wisata sekitar stasiun kereta api Blitar.

Ketemulah saya dengan beberapa artikel wisata yang gaya menulisnya seperti tahu banyak padahal belum tentu. Hahaha. Palingan penulisnya baca tulisan orang terus disadur ulang :P

Nah saya ketemu blognya Pandu. Tulisan dia nih terasa lokalitasnya. Ini nih yang saya cari, gitu dalem hati saya bilang. Cari tahu profilnya, lah ternyata orangnya emang tinggal di Blitar. 

Merasa klop dengan artikelnya yang bahas tempat-tempat menarik sekitar stasiun kereta api Blitar, saya cari-cari ikon instagram di blognya. Ketemu. Saya follow dan saya kontak via dm. Untunglah dia balas cepat :D

Kenalan. Ngobrol bentar gak pake ribet. Diseling satu hari, ia menjemput saya dan Nabil di depan stasiun kereta api Blitar.

Oh terima kasih, wahai teknologi!

Pandu sudah tahu saya cuma punya waktu empat jam. Siang sampai di Blitar, sore setengah enam harus naik kereta api ke Bandung.

Ketemu Pandu gak pake ribet, ngobrol gak ribet, pokoknya sama Pandu ini antiribet. Udah gitu baik banget pula, saya minta berhenti buat moto rumah-rumah tua eh dia mau aja. Mantan-mantannya pasti nyesel melewatkan cowok baik yang gak ribet kayak gini. Hahahaha :D

Aniweeei, sejak keluar stasiun dan meluncur ke jalanan Kota Blitar, feeling saya bilang ini akan jadi perjalanan pendek yang menyenangkan! ke mana aja nih di Blitarnya?


Di Blitar Ngapain?

  • Makan Soto yang Rasanya Manis

Sebab di Bandung mah sotonya gurih bukan manis. Di sini kuah sotonya warna hitam karena campur kecap sejak dari kuali. Dagingnya kelas hardcore: babat dan jeroan. Wkwkwk. Bukan jenis makanan yang saya suka tapi gak tega ngomong ke Pandu. Jadi saya telan aja semua. Makan gak pantangan. Sayurnya ada tauge dan potongan daun kucai. Kalo Indra ada di sini, pasti dia nambah dua porsi hahaha. 

Menu makan kami siang itu adalah soto Bok Ireng. Kata Pandu  ini soto terhits di Blitar. Harganya juga termasuk mahal (SEMBILAN RIBU AJA UDAH SAMA NASI, BTW!). Saya tertawa waktu dia bilang sotonya mahal. Lha standar saya kota Bandung yang harga sotonya 15.000.

Pandu bilang soto ini sudah dijual sejak pagi. Selain pecel, soto macam begini jadi menu sarapannya orang Blitar. 

Soto tandas masuk perut. Beserta tiga gelas es teh manis. Diminum saya semua :D Emang gak ada minuman ternikmat di daerah berhawa panas begini selain es teh manis!


Soto Bok Ireng, dimasak 8 jam di kuali
  • Museum Soekarno
Kedatangan kami berbarengan dengan rombongan peziarah. Beberapa pengunjung memakai sarung dan kopiah.

Di museum ini saya melihat ada banyak foto Soekarno di Bandung. Foto yang sama pernah saya lihat di Museum Konperensi Asia Afrika di Bandung. Bersama foto, saya juga menyaksikan banyak lukisan Soekarno.

Sedikit artefak Soekarno. Banyaknya sih buku dan dokumen (selain foto dan lukisan).

Museum Soekarno dirancang oleh Tim arsitek Baskoro Tedjo, dosennya Indra di ITB dulu. Indra bilang “perhatiin museumnya ya, dirancang Pak Baskoro. Pasti bagus.” Tapi selama saya berada di museumnya seperti gak dirancang arsitek. Heuheu.  

Penyebabnya spanduk-spanduk yang dipasang di kolom dan dinding. Ditambah deretan pedagang suvenir. Visualisasi museumnya terkesan bising daripada khidmat.

Nah baru tuh masuk ke area makam, lebih nyaman terasa. Orang-orang ngobrol berbisik. Lebih banyak diam. Hawanya sejuk. Dan iya lebih syahdu. Namanya juga pemakaman kali ya.

Saya gak mendekat ke makam Soekarno. Sebab pendopo makam penuh oleh peziarah. Kalo saya ikut duduk di sana, bingung juga ngapain ya. Belakangan saya menyesal karena melewatkan pengalaman duduk bersama orang-orang yang (anggap aja) mengkultuskan Soekarno. Harusnya saya duduk bersimpuh di sana. Baca Al Fatihah saja apa susahnya sih saya tuh…

Kalau saat itu saya bersama Michael Palin, Simon Reeve, atau Kate Humble, saya udah dipecat dari BBC. Hahaha. Mereka gak hanya akan duduk bareng peziarah. Tapi juga ngobrol dengannya.

Di kios-kios suvenir lebih aneh lagi. Nabil pengen beli miniatur gamelan. Terus saya belikan. Di dalam kereta api ke Bandung, saya baru mikir. Ngapain saya beliin itu barang ya ahahahaha. Kenapa gak beli tshirt aja buat Nabil dan buat saya. Buat Indra sekalian. T-shirt yang ada tulisan Blitar begitu. Lebih berguna.
  • Es Plered Kebon Rojo
Minum Es Plered di depan Kebon Rojo. Rekomendasi Pandu sih Es Plered di Alun-alun. Tapi berhubung mau ada penilaian Adipura, PKL-PKL di Alun-alun Blitar gak dagang dulu. Semacam ‘pemutihan’. Hehehe.

Menghabiskan es plered, saya gak bisa gak merhatiin Kebon Rojo. Kalo diperhatikan, dia mirip Balaikota. Semacam taman kota yang rindang. Bila saja ada waktu lebih lama, saya mau berkunjung ke Kebon Rojo dan berjalan kaki mengelilinginya.
  • Jam 4 sore. Istana Gebang here we come!
Bagi saya, situs ini adalah ‘museum’ ke dua Soekarno. Lebih banyak tentang Istana Gebang sudah saya tulis di tulisan pertama tentang Blitar yang tentang Soekarno itu.

Ada dua hal yang saya sukai dari kunjungan ke Istana Gebang.


Pandu, Kubil dan saya melihat yang latihan menari
Pertama: ada kelas tari di bangunan sebelah rumah utama, di Balai Kesenian. Suara gendingnya itu lho, terdengar indah sekali. Gabungan rumah antik, suara anak-anak yang ceriwis, dan suara gending, wah terasa tradisional dan berbudaya. Kedua, angin  sepoi-sepoi meniup gorden putih di kamar-kamar rumah utama. Matahari pukul empat sore jatuh di sela-sela daun jendela.

Perasaan ini terasa sejuk. Hangat. Damai. Tenang. 
  • Sekilas Alun-alun Blitar
Sebentar saja di sini. Alun-alunnya rapi banget dan lebih luas dari Alun-alun di Malang dan Bandung. Kenapa ya bisa luas banget begitu. Seperti lapangan sepakbola. Memangnya di masa lalu, Blitar ini kota sepenting apa? saya belum cari tahu di buku atau google. 

Di sekeliling Alun-alun, ada pohon besar-besar. Saya hitung Pohon Beringinnya. Satu...dua...tiga...empat..lima...enam....! Buset ada berapa Pohon Beringin di sini? Gila sepuluh mah ada! Edan euy!  

Sewaktu di sana, kata Pandu sih Alun-alunnya tumben rapi. Ya gara-gara persiapan Adipura itu. 

Ada bangunan pendopo dan pagar penutup batang pohon. Dominan meras warnanya. Kota Blitar ini memang gak bisa lepas dari partainya Megawati sih. Pandu bilang, pemilih di kota Blitar 95% suaranya untuk PDIP.

Sudah beres, kembali ke stasiun, saya bertanya di manakah pasarnya Blitar. Biasanya di dekat pasar, pasti ada komunitas Pecinan. Di sana pula ada bangunan-bangunan ala Tionghoa.

Nah Pandu bawa saya dan Nabil melewati Pasar Legi, sambil balik ke stasiun. Saya moto-moto beberapa rumah tua di sana. Juga di sekitar pasarnya.

Sebenernya gak langsung ke stasiun juga sih. Pandu bawa kami berkeliling kota sebentar menumpang motornya. Malah sampe lewatin rumah bibinya dan ngajak mampir. Rumah bibinya Pandu bagus banget, tipe-tipe rumah antik yang jendelanya banyak. Waduh mau banget mampir tapi takut ketinggalan kereta api. Heuheu.

Hampir Empat Jam di Blitar

Memang cuma empat jam di kota Blitar, rasanya sudah senang. Kotanya kecil dan sepi. Jalanan bagus mulus. Ada ruas jalan banyak pohonnya. Ada juga yang kering kerontang.


Saya bertanya kepada Pandu, orang-orang di kota Blitar ini apa pekerjaannya? Kebanyakan pegawai negeri sipil dan guru. Sisanya wiraswasta. Bikin kerajinan perak.

Senasib dengan kota kecil kebanyakan, anak mudanya merantau ke kota besar. “Ke Surabaya sih biasanya,” kata Pandu.

Pandu sebaliknya. Dia balik ke Blitar setelah kuliah dan bekerja di Surabaya. “Kenapa balik lagi kota kecil begini, Du? Betah memangnya?” tanya saya. 

“Tinggal di kota (besar) pusing, Mba,” kami tertawa. Saya menertawakan diri sendiri. Pandu entah ngetawain apa. Hahaha.

Di sekitar Kebon Rojo, saya memandang anak-anak SMP bersepeda, waduh nikmat sekali melihat pemandangan seperti itu. Tiba-tiba kenangan pulang pergi ke madrasah dulu naik sepeda bermunculan.

Angkutan umum hanya ada becak dan bemo. Kalau memperhatikan rute jalan-jalan saya bersama Pandu, bisa ditempuh dengan becak. Atau sewa bemo. Bila dalam kondisi santai tidak dikejar jadwal kereta api sore nanti, saya mau coba itu becak dan bemo ala kota Blitar. 

Lingkungan di sini terasa nyaman. Rileks. Tapi itu kesan pertama. Gak tahulah kesan berikutnya bila saya menghabiskan barhari-hari di kota ini.

Tapi aslinya, pengen juga sih pindah ke kota-kota kecil seperti Blitar. PENGEN BANGET (aminkan!). Kota yang selow. Kota yang gak buru-buru.

Rumah tuanya pun unik, gak ada di Bandung. Makin jauh dari kota-kota metropolis, rumah-rumah kuno begini bentuknya cantik-cantik. Juga ada banyak. 

Di Stasiun Blitar

Kira-kira pukul 5 sore kami sudah mendarat di stasiun. Kereta api datang 15 menit kemudian. Berpisah dengan Pandu, berpisah dengan Blitar.

Pukul 17.40 sore itu, lembayung yang saya saksikan dari bangku stasiun Blitar indah sekali. Serasa saya sedang disalami satu-satu oleh Soekarno, Dodit Mulyanto, dan Fokker. Hahaha.

Kalau kamu sedang jalan-jalan ke kota lain (atau negara lain) dan tiba waktunya pulang, muncul perasaan sentimentil yang aneh gak? Sebab saya iya.

Perasaan seperti ini saya rasakan saat pulang sehabis mendaki Gunung Lawu, perjalanan kembali ke Bandung setelah pemakaman ayah saya di Karangampel, dan di Blitar ini. Ketiganya punya sensasi perpisahan yang mirip. Ada sedihnya, ada juga bahagianya, dan ada haru di sana. 

Di dalam kereta api menuju Bandung, saya gak berhenti membagi foto dan cerita ke Indra di Bandung. Via whatsapp. Sampai di rumah saya nyerocos terus ceritain detail-detail perjalanan pada suami saya itu. Dia gak bosen sih dengernya, ngantuk palingan :D Memang benar kata Christopher McCandless: happiness only real when shared. 

Sekian.




makam Soekarno
masuk Istana Gebang gratis, di sini -ruang tamu Istana gebang- nulis nama di buku tamu





alun-alun Blitar
pohon Beringin terbanyak yang pernah saya lihat ya di sini
kenapa catnya warna merah jambu ya
gereja Santo Yusuf, di seberang Kebon Rojo

Es Plered, mirip cendol kalo di Bandung. Di sini 4ribu saja segelas!
di sekitar Pasar Legi



difoto Pandu. Terima kasih, Pandu!






Foto: Ulu
Teks: Ulu

Jalan-jalan Melihat Pabrik Kina, Pabrik Berusia 122 Tahun

December 22, 2018
Hindia Belanda pernah jadi penyuplai terbesar kebutuhan kina dunia. 90% suplier kina di bumi adalah kita, dari Bandung. Dari Indonesia yang waktu itu belum merdeka.

Pabrik tertua di Bandung ya Pabrik Kina ini. Terdiri dari bangunan-bangunan berlokasi di tiga sudut jalan. Di antara pertemuan Jalan Pajajaran, Jalan Cihampelas, dan Jalan Cicendo. Pabrik Kina, begitu kami warga Bandung mengenalnya. Padahal nama resminya sejak 1971 adalah Kimia Farma.

Teman-teman, tahu kan kina untuk apa? Di masa lalu, bangsa Eropa mencari dunia baru, mendaratlah mereka di negara-negara tropis kayak kita ini.

Tentu saja sakit-sakit mereka tuh. Udara berbeda, hawa kontras, makanan gak cocok. Digigit nyamuk pun penyakitnya ganas macam Malaria. Kina jawaban atas wabah Malaria saat itu.

Belanda melihat pundi-pundi emas di sini. Demi kina, penelitian dan budidaya segera digalakkan. Makan waktu lama memang, hampir 50 tahun merintis bisnis kina. Belanda dan risetnya yang gak pernah main-main.



Pabriknya memang bersejarah, namun hari jumat tengah Desember itu (14/12/2018) yang jadi sejarah buat saya, Indra dan Nabil. Pertama kalinya kami menabur jejak di dalam Pabrik Kina, kompleks bangunan antik nan legendaris di Bandung. 

Terima kasih kepada Dewi yang ajak saya ikut tur pendek ini. Ia dan teman-teman dari komunitas Heritage Lovers yang mengatur kunjungan ke Pabrik Kina.

Kami gak secara rinci melongok pabriknya. Ada banyak bagian pabrik yang tak boleh dilihat warga umum seperti saya. Gak apa-apa, sangat dimengerti.

Pak Kasdi, pegawai Kimia Farma yang bertugas di bagian teknik pemeliharaan memandu kami keliling Pabrik Kina. Ia tahu banyak perjalanan pabrik ini. "Saya kerja di pabrik dari tahun 1985," katanya.

Kami berjalan keluar pabrik yang luas totalnya kira-kira 5000m ini, dari gedung di Jalan Cicendo, ke gedung di Jalan Pajajaran. Masih gerimis. Sebagian dari kami berjalan seperti berlari.

Pabrik ini akan dikosongkan. "Pindah ke Banjaran, gedungnya di sana sudah siap!" ucap Pak Kasdi. Kabar Pabrik Kina akan pindah bergulir sejak tahun 2016 kalau tidak salah. Saya konfirmasi ke Pak Kasdi. Ia melanjutkan "produksi di sini kapasitasnya sudah gak cukup, harus pindah ke pabrik yang lebih besar."

Oh. Saya pikir karena lokasi pabrik ada di pusat kota makanya dipindahkan.

Dahulu ketika zaman kolonial, lokasi Pabrik Kina berada sekarang dianggap sisi luar kota. Sekarang mah kebalikannya. Manusia tambah banyak, pemukiman merajalela, jalanan digilas kendaraan mesin gak habis-habis.

Pabrik Kina dan Stasiun Kereta Api Bandung, lokasinya berdekatan. Tidak heran. Rel kereta jadi jantung transportasi angkutan kina. Baik dari perkebunan maupun pengiriman ke Batavia.

Terowongan Bawah Tanah Pabrik Kina

Pabrik ini unik juga. Sebab bukannya dirancang dalam satu kompleks yang sama, Gmeling Meyling -arsitek Pabrik Kina- merancang tiga titik bangunan yang lokasinya bersebrangan. Dahulu bila lori-lori yang bawa kina datang, melintas jalan ya biasa saja gak bikin macet atau membahayakan. Kirim antar bangunan pabrik pun gak masalah.

saya dan kubil

Namun saat jalanan berjejalan manusia dan kendaraan, dibangunlah terowongan bawah tanah untuk menghubungkan ketiga bangunan tersebut.

Ada terowongan untuk jalan manusia. Ada terowongan khusus kina.

Nah kami masuk ke satu terowongan itu. Langit abu-abu. Hujan rintik-rintik. Bila sebelumnya suasana terasa romantis dibungkus aroma tempo dulu, sekarang rada mencekam. Horor mengekor.

Sambutan sebelum masuk lorong bawah tanah bikin bulu kuduk meremang. Pak Kasdi bilang jangan melamun, jangan sompral, sampai dengan melarang orang yang pernah kesurupan masuk ke terowongan. Waduh. Tegang nian!

"Teh Ulu, itu anaknya dipegang terus ya," makin deg-degan hahaha. Anak kecil dianggap peka terhadap kehadiran makhluk halus. Saya sudah bawa Nabil bepergian ke banyak tempat, dari yang kotor sampai yang kinclong, dari yang busuk sampai yang mewah, dari yang bau sampai yang wangi termasuk dari yang antik-antik sampai dengan modern.

Ini anak gak pernah menunjukkan bahwa dia terganggu kehadiran mereka. Jadi saya pun santai saja. Tapi memang dia harus saya gandeng terus tangannya, takutnya nyangkut ke pipa atau jatuh.

Sepanjang lorong itu saya berjalan cepat sekali. Komat-kamit baca Al Falaq. Takut, Ceu :D

Panjang terowongan/lorong kira-kira 20m. Tangga menuju terowongannya curam. Suasana gelap dan terdengar suara air menetes-netes. Gak kebayang bila malam hari masuk terowongan itu. Becek pula. Belum lagi ada suara keras -yang sepertinya sensor- berbunyi 'bletuk!" setelah kita melewatinya. 'Nya' di sini entah apa, sebuah palang di atas kepala kami mungkin.

Keluar lorong, kami masuk ke area kuno. Sebuah bekas lokasi pengolahan kina, untuk diambil ekstraknya. Ada banyak besi berkarat. "Mesin-mesin di sini asalnya dari Belanda," terang Pak Kasdi. Ada menara seperti sutet atau pemancar. Entah masih berfungsi atau tidak, dari bentuknya seperti sudah mati.

Ada kolam beberapa buah. Di atas kolam ada lantai yang terdiri dari mesin-mesin berat. Di lantai itu kina diambil sari-sarinya, air hasil ekstraknya masuk ke kolam. Banyak yang berfoto di sini.

Bagi saya suasana di sini terasa seram. Tidak sehoror di terowongan, tapi sama saja auranya bikin ingin lekas beranjak dari sana.

Kalau saya pegawai Pabrik Kina, terowongan dan area bekas pengolahan itu akan jadi mimpi buruk saya. Heuheu.

Diorama Pabrik Kina 

Di seberang lokasi pengolahan ini, ada bangunan kuno. Ruang produksi liquid namanya. Wah ini bangunannya menarik. Fasadnya seperti menara. Koridor di sayap kanan dan kirinya manis sekali. Dengan kolom yang bentuknya persegi.

Kami menyaksikan pintu ke ruangan arsip, kecil bangunannya namun kokoh. Kuat pula. Pak Kasdi bilang gedungnya dibuat antiapi.

Saya sudah sebut kami gak lihat banyak di Pabrik Kina bukan? Nah tibalah kami di gedung terakhir yang kami boleh masuki. Ruangan rapat.

Pak Kasdi bawa kami kemari karena diorama. Bapak-bapak yang asalnya dari Cilacap ini cerita kalau diorama di dalam ruang rapat itu sudah ada sejak zaman Belanda. "Tahunnya berapa saya kurang tahu," ucapnya lagi.

Pak Kasdi dan Diorama Pabrik Kina.
Huruf BK dalam diorama inisial dari Bandoengsche Kinine, nama kolonial pabriknya. 

Masuk ke ruang rapat ini pun lumayan menyenangkan. Sebab bangunannya ala-ala kolonial. Dari lantai, kolom, pintu, dan jendela. Terlihat ada kanopi tambahan di sana-sini. Termasuk ruang-ruang yang sepertinya baru.

Dioramanya bagaimana?

Wah bagus sekali! Kelihatannya memang bergaya tempo dulu. Gaya-gayanya mengingatkan saya pada garis-garis arsitektur Artdeco. Diorama tesebut memperlihatkan kina sejak bentuk tanaman, pengolahan, sampai dengan kina siap pakai.

Menurut Pak Kasdi, bila Pabrik Kina pindah ke Banjaran, diorama gak akan dibongkar. Ia akan 'dimuseumkan'. Wacananya kan bila Kimia Farma resmi pindah ke pabrik baru di Banjaran, kompleks Pabrik Kina bakal dirancang sebagai tempat nongkrong: coworking space, museum, kafe, dan sejenisnya.

Si Heong, Sirene Pabrik Kina si Penanda Waktu

Ciri khas Pabrik Kina ada dua: menara seperti cerobong warna biru oranye yang kusam dan suara sirene.

Sirene berbunyi sebagai penanda waktu bagi karyawannya. Penanda waktu masuk, istirahat, dan pulang.

Oleh warga sekitar pabrik, suara sirene yang oleh mereka disebut Si Heong (karena bunyinya yang 'ngaheong') dijadikan patokan waktu juga.

Dahulu sirene berbunyi tiap jam 6.30, 12.00, dan 15.00. Tiga kali saja. Sekarang sirenenya ngaheong empat kali dan di waktu yang sedikit beda dengan yang dulu.

Jangkauan suara sirine tidak seluas dulu. Bandungnya sudah bising dan ada beberapa bangunan tinggi di dekat pabrik. Seperti mall BEC, Rumah Sakit Cicendo, dan hotel-hotel.

Asal suara ini dari ketel uap buatan abad 19 merek Babcock & Wilcox (B&W). Tapi itu dulu. Dianggap tidak ramah lingkungan, tahun 1995 sirenenya diganti dengan alat yang lebih modern.

Sejarah Kina di Bandung

Pernah ada pohon kina di Pangalengan. Jejaknya sudah putus. Habis. Hilang. Padahal tercatat ada lima pohon kina yang disebut-sebut 'akina kina' alias kakeknya kina alias leluhurnya pohon kina di Indonesia. Tentang pohon kina ini saya baca kisahnya di buku Kisah Para Preanger Planters.

Frans Wilhelm Junghuhn -yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Budidaya Tanaman Kina di Jawa- merintis perkebunan kina, 32 tahun sebelum Pabrik Kina berdiri.

Kina berasal dari Peru. Saat Junghuhn meneliti kina, didapatilah fakta bahwa kina yang ia semai dan budidayanya mencapai angka 1,1 juta pohon, mutunya buruk. Jelek. Kinanya jelas tidak terpakai. Jabatannya dicopot. Junghuhn kecewa.

Dari buku yang saya baca - masih dari Kisah Para Preanger Planters, tulisan Her Suganda- kina yang diproduksi besar-besaran adalah kina yang pemerintah Hindia Belanda beli benihnya asal Bolivia. Tahun 1865 waktu itu. Van Gorkom adalah orang di balik kina yang diproduksi besar-besaran ini.

Terbukti kinanya bermutu bagus, tahun 1896, pemerintah kolonial mendirikan Pabrik Kina atau yang dahulu bernama Bandoengsche Kinine Fabriek di bekas lahan perkebunan karet. Kejayaan pabrik ini kira-kira begini: pernah produksi 1000 ton kina.

Seribu ton, cooyyyyyy! Ke mana itu uangnya pergi yak hahahaha ke negeri Belanda nih jangan-jangan, jadi DAM, jadi trotoar, jadi perpustakaan, jadi kincir angin, atau buat reklamasi. Khekhekhe :D













Apakah kalian ingin melihat foto terowongannya? :D 

Dari Stasiun Kiaracondong ke Lembang, Enaknya Naik Apa Nih?

December 20, 2018
Angkot ke Lembang hanya ada satu macam. Kalo kamu tipenya bekpekeran, angkot ini udah paling cocok. Murah soalnya. Tapi lama di jalan durasinya. Sebab Bandung macet :D 

Ada budget ekstra, pesan ojeg online ajalah. Lebih gampang. Tapi berhubung saya mau ngasih informasi tanpa memandang kekayaan (naon ateuh :D), maka ini dia bantuan info transportasi umum dari Stasiun Kiaracondong ke Lembang! 

Perlu diketahui bagi turis-turis yang pake transportasi kereta api, lokasi stasiun kamu turun di kota Bandung ada dua: Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong. Biasanya geng backpackeran turunnya stasiun Kircon ini sih. 

Dan transportasi umum di di Bandung ada banyak pilihannya. Paling sering dipake warga adalah angkot dan ojeg online. Ada sih bis juga, tapi saya gak terlalu hapal nih rute bisnya :D

Baca juga: Petunjuk Arah Menumpang Angkot ke Lembang


Btw, saya singkat Kiaracondong dari Kircon ya. Sebab begitu emang orang Bandung nyebutnya. Kircon. 

Gini:
  1. Keluarlah dari Stasiun Kircon, berjalan ke arah jalan raya. Nanti kamu ketemu Jalan Kiaracondong. 
  2. Sebrangi jalannya. 
  3. Cari tempat teraman, yang tidak ganggu pengendara lainnya, untuk nunggu angkot. 
  4. Cari angkot warnanya biru, jurusan Margahayu - Ledeng. Naik angkot itu. Turun di Terminal Ledeng. Ongkosnya Rp10.000 kali ya sekarang mah. 
  5. Di Terminal Ledeng, sebrang jalan Setiabudi. 
  6. Cari angkot warna krem, jurusan Lembang - ST. Hall. Ongkos ke Lembang Rp5.000
  7. Ingat, selalu bayar dengan uang pas. Kalo kurang, sopir angkotnya pasti minta. Tapi jangan kasih uang nominal besar, ntar sopirnya tahu kamu bukan orang lokal, kembaliannya dikasih dikit :D heuheu. Pengalaman ya ini, gak fitnah :D jaga-jaga ajalah begitu. 
Angkotnya kayak gini nih. Kalo bisa mah duduk di depan aja, viewnya lebih bagus wkwkwk. Eh seriusan lho ini. Pasti mau lihat-lihat kan Bandung kayak apa. Nah duduklah di samping Pak Sopir. Gak apa-apa ketiduran :D sebab kamu memang akan turun di pemberhentian terakhir kok. Pasti dibangunin Pak Sopir. Hehehe. 

foto saya 'pinjam' dari angkotstory.blogspot.co.id
Kalo naik ojeg/taksi online lebih gampang sih. Cuma janjian aja pickup di mananya, sebab setahu saya mah mereka belum seleluasa itu jemput penumpang di stasiun kereta api. Lha wong saya saja mesti jalan keluar stasiun dulu kalau pesen Grab di Stasiun Bandung. Heuheu. 

Murah mana nih naik angkot atau taksi online? Angkot! 
Murah mana angkot atau ojeg online? masih angkot! 
Tapi bila mencari kecepatan, ojeg online paling cocok. 

Apalagi yang teman-teman pengen tahu perihal transportasi dari Stasiun Kircon ini? udah jelasih harusnya angkot dari Stasiun Kiaracondong ke Lembang apa. Kalu belum, tanya aja di komen. 



Petunjuk Arah ke Museum Kota Bandung

December 18, 2018
Petunjuk arah ke Museum Kota Bandung ini saya buat untuk teman-teman yang kirim DM di Instagram dan email. Jadi saya tinggal copylink aja, gak usah ngetik ulang mulu :D 

Fyi, museum ini masih baru. Kontennya pun belum banyak, baru grafis saja. Namun lokasinya ada di jantung kota Bandung. Dikelilingi mall-mall kenamaan, taman-taman hits, dan banyak tempat makan. Oh hotel juga ding, dari yang murah sampai dengan yang kelas mewah!

Jadi yah kalo buat turis-turis mah, museumnya rekomended lah. Juga buat kamu warga Bandung yang gak bisa liburan ke luar kota :D Sok atuh jalan-jalan di kota sendiri dulu weh. Eksplorrrrr Banduuung! 

Baca juga: Forest Walk di Bandung, Seruuuu! 


Museum buka setiap hari kecuali hari senin. 
Buka jam 10.00.
Tutup jam 17.00.




Gratis gak? grateeesssss! Lebih rinci tentang museum, baca di postingan Berkunjung ke Museum Kota Bandung

Cara Menuju Museum Kota Bandung

  1. Pesen ojek online lebih mudah sih. Taksi online juga oke, tapi taksi online mah ntar susah turunnya sih karena jalannya segitu-gitunya aja. Taksi gak bisa menepi ke mana-mana, nurunin penumpang mestilah di jalanan. Heuheu. 
  2. Museum ada di Jalan Aceh. Jadi masukin nama tersebut ke peta lokasi. Di seberang museum ada Taman Sejarah dan Balaikota. Ada juga Bandung Planning Gallery, cetak biru pembangunan kota Bandung beberapa tahun mendatang (yang dibuat di rezim Ridwan Kamil). 
  3. Nah sekarang kalo naik kendaraan pribadi. Jika menggunakan kendaraan pribadi ke museumnya, kamu bisa parkir di:
  • Mall: BIP dan BEC. Abis itu jalan kaki ke arah Balaikota, susuri Jalan Aceh, Museum Kota Bandung ada di seberang Balaikota
  • Parkir di lahan depan museumnya sih kalau gak penuh mah
  • Parkir di Balaikota
4. Bila mau menumpang angkutan umum ke Museum Kota Bandung, ini panduan angkotnya:
  • Kalapa- Ledeng jurusan arah ke Kalapa
  • Antapani - Ciroyom jurusan ke Antapani
  • Margahayu - Ledeng
  • Kalapa Ledeng jurusan arah Ledeng
  • Kalapa - Dago arah ke Kalapa
  • Dago - Stasiun arah Stasiun
  • Tegalega - Cisitu arah ke Cisitu




Patradissa: Hotel (Murah!) di Seberang Balaikota Bandung

December 16, 2018
Saya nih, kalau lihat hotel-hotel lama kayak Patradissa ini bawaannya gemes. Sebab hotel lama lokasinya strategis. Udah gitu harganya terjangkau banget. Tapi hotelnya ya interiornya begitu-begitu aja sejak dulu.

Waktu saya menginap, tarifnya 250ribu. Bayangin lokasinya di jantung kota Bandung. Di seberang Balaikota. Di tepi jalan Wastukencana.


Arsitektur bangunannya agak aneh. Sofa-sofanya ala rumah zaman 80an. Pegawainya kebanyakan bapak-bapak. Mas-mas gitu. Resepsionisnya pun bergaya tempo dulu. Hotel-hotel yang suka kita lihat di film Warkop DKI lah kira-kira.

Saya ambil kamar termurah. Butuh buat tidur aja emang. Ngapain orang Bandung nginep di hotel di Bandung juga :D

Bukan staycation. Kami menginap dalam rangka mau nonton Karnaval Kemerdekaan. Acaranya dari siang sampai sore. Ditambah malamnya, ada meeting, janjian dengan seorang teman.

Mana malam sebelumnya abis begadang. Hadoh capek bolak-balik ke rumah yang jaraknya 28km dari kota. Akhirnya memutuskan booking aja yang murah tapi bersih. Murah tapi deket ke mana-mana.

Musim liburan waktu itu. Akhirnya dengan budget terbatas, Hotel Patradissa lah jawabannya. Ayok mulai review dari kamarnya.


ROOM

Masuk ke kamar, yang saya perhatikan pertama kali ada cat dindingnnya yang waduh-cat-warna-apa-ini! Paduan dua warna, kalau tidak salah sedikit oranye namun tidak mencolok dan hijau. Lantai keramik warna cokelat.

Begitu juga di kamar mandi. Astaga warna catnya hijau. Tidakkah mereka mengenal warna cat putih atau krem :D 

Ranjangnya lupa bagaimana :D nyaman-nyaman saja gak ada komplen. Televisinya ada di atas banget, dirancang buat nonton tapi sambil tidur. Namun ketinggian deket langit-langit. Wkwkwkwk.

Etapi mereka ada channel Natgeo walo gambarnya rada rumek :D

Di dalam kamar ada kursi dua buah. Lemari menyimpan barang. AC okelah. WIFI waktu itu sih buruk. Gak tahu nih sekarang.

Di depan kamar ada bangku dan meja teras. (Jendela) Kamar kami menghadap ke sebuah taman.

Kamar mandinya (selain warna dinding) masih oke. Bersih. Ada shower, toilet, dan wastafel. Amenities standar: handuk, sabun, shampoo, dan sikat gigi + pastanya.


FOOD

Ini nih jagonya hotel lama: makanannya enak-enak!  Sarapan pagi standar banget cuma nasi goreng dan telor ceplok. Kami makan di kamar aja. Fyi, rasa makanannya enak banget.

Saya pesen lagi satu porsi. Sebab saya pikir porsi saya dan Kubil bisa barengan. Enggak ternyata wkwkwk. Saya rakus, Kubil apalagi. Wah empat jempol buat chefnya nih.

Selain menu sarapan, saya gak pesan apa-apa lagi. Kayaknya mereka gak jualan makanan juga deh. Cmiiw.



LOCATION

Ow ini mah strategis banget. Di Jalan Wastukencana gitu lho. Ke Balaikota tinggal loncat :D

Kalo buat saya yang waktu itu mau nonton parade di sekitar Jalan Merdeka, ini hotel udah paling cocok. Tapi buat para turis, ya gak tahu juga sih. Biasanya kalian ke Lembang kan ya? Atau ke Ciwidey? Terus ke area Asia Afrika dan Alun-alun? Ke Braga?

Jika iya, menurut saya hotel ini masih okelah buat diinapi. Emang jauh sih ke Ciwidey mah. Ke Lembang, lebih deket kalo kamu nginep di hotel-hotel di sana atau area Setiabudi. Di Asia Afrika juga masih kagoklah, tapi bisa deket kok kalo kamu tipe traveler doyan jalan kaki.

Terus apalagi ya.  Oh service!


SERVICE

Standar. Baik banget enggak. Cuek banget juga enggak. Tapi gak ada yang berkesan sih. Biasa aja semuanya :D

Oh saya mau makasih sih ke petugas resepsionisnya. Sebab saya boleh titip tas karena waktu check in masih lama namuna saya ada urusan di sekitar Jalan ABC.

Kami bertiga jalan kaki aja sampai Alkateri. Beres, balik lagi ke hotel pun jalan kaki.


PRICE

250ribu/malam. Termasuk breakfast. Kamar superior.

Jadi, kawan-kawan, bila kamu mencari penginapan yang adanya di pusat kota Bandung, di tepi jalan utama, gak masalah dengan interior, gak peduli dengan desain, dan menginap patungan bersama teman, ya bolehlah di Patradissa ini.

Hotel Patradissa
Jalan Wastukencana no. 7A
Di seberang pintu masuk Balaikota 





PS: maapkan foto yang gak proper :D 

Tiga Malam di Hotel Sidodadi Cirebon

December 13, 2018
Aslinya sih rencana kami menginap di Hotel Sidodadi hanya semalam. Ternyata ada urusan kerjaan di Cirebon yang gak beres dalam sehari. Ditambah hotelnya oke juga. Jadilah kami perpanjang tidurnya dua malam, gak mau pindah hotel. 

Tulisan jalan-jalan di Cirebonnya sendiri ada di artikel yang lain. Cek ke kategori Outside Bandung ya. 

Bila cari kota buat dijelajahi di musim liburan besok, pergi ke Cirebon aja. Bandung pasti macet berat :D Lagipula menurut saya mah kota udang ini seru buat dieksplor, dia teh termasuk kawasan wisata Indonesia yang unik. Cocok buat orang-orang metropolis yang garing kayak kita. Wkwkwk apeu atuh metropolis :D

Seriusan deh ini. Kalau teman-teman ada kesempatan jalan-jalan di Cirebon, menginaplah di Hotel Sidodadi. Gak ada kolam renang sih. Juga ini hotel lama. Tapi ini nih yang saya sering temukan di hotel lama: ruangan kamarnya luas, makanannya enak-enak ala rumahan, dan pegawainya baik-baik amat! Bersih mah ya sudah pasti atuh. 



review Hotel Sidodadi


Urusan check in cepat dan praktis. Standar lah cuma cek KTP doang. Deposit gak ada. Jadi kita mulai dari mana nih bahas hotelnya? Kayak biasa aja ya dari kamar tidur. Let's go!

ROOM

Kalau gak salah ingat, saya pesan kamar termurah. Kamar superior. Bednya twin. Karena itu yang ada pas saya pesan di Pegipegi. Masalahnya harga termurah ada di aplikasi itu. 

Dan kamarnya luas banget! pake ada kursi ala teras segala. Satu meja dua kursi gitu. Kalau kamar itu dikontrakin mah cocok buat yang baru menikah atau punya anak satu :D  

Ranjangnya okelah, gak empuk banget tapi juga gak keras. Disediakan bantal aja dua biji. Ada saluran tivi kabel, ada AC (wajib ini kalau ke Cirebon, carilah kamar yang ada ACnya), lantai marmer. Nyamanlah. 

Penerangan aja yang rada gimana gitu menurut saya. Warnanya kuning, setelannya untuk tidur enak. Bukan untuk membaca. Wifi gimana? Ada tapi kurang kenceng.

Ada jendela gak? Ada banget!



review Hotel Sidodadi

review Hotel Sidodadi


Terus ke kamar mandi. Lumayan bersih kamar mandinya. Agak usang sih karena hotel senior. Tapi masih okelah. No complaint. Air hangatnya lancar, amenitiesnya standar. 

Overall kamar tidur dan kamar mandi memuaskan. 


LOCATION

Di jantung kota Cirebon. Di Jalan Siliwangi. Dari stasiun kereta api mah tinggal jalan aja dikit. Langsung deh ketemu hotelnya. Kalau dari terminal bis mah iya jauh. 

Angkot yang seliweran di depan hotel pun ada banyak. Tinggal pilih mau ke mana. Sekarang di Cirebon sudah ada ojek online. 

Jika mencari tempat makan, nah ini agak jalan dulu. Naik angkot aja ding. Pergilah ke Jalan Siliwangi arah Pasar Pagi. Atau ke Jalan Kartini cari mall. Sebenernya di sebelah hotel ada restoran sih. Ada warteg sih. Menurut saya mah makanannya oke juga. Kami makan dua kali di sana soalnya, di warteg itu khekhekhekhe :D 

Hotel Sidodadi gak jauh dari tempat wisata. Ke keraton dekat, ke mall-mall andalan Cirebon pun 'tinggal loncat'. Hehe. Hotelnya juga sepelemparan batu dari Alun-alun Kejaksan, bila malam hari banyak yang jualan makanan di sana. 


FOOD

Wah ini mah enak euy! Sarapannya oke-oke banget rasanya. Kesannya yang masak adalah bibi atau paman kita yang jago masak. Menunya pun tradisional. Bukan yang canggih-canggih.

Menu terdiri dari menu prasmanan, roti-rotian, buah-buahan, dan dessert berupa puding. Minumnya standar sih kayak teh, kopi, dan ada jus jeruk. 


review Hotel Sidodadi

review Hotel Sidodadi


Terus restorannya guede banget. Luas dengan jendela besar-besar. Cermin raksasa. Meja makan bulat dengan taplak motif Mega Mendung dan kursi makan yang tipenya kayak kursi santai-santai di balkon. Wah rasanya seperti ada di tahun 80-90an. Jadul dibungkus kemewahan! 

Pada masanya Hotel Sidodadi ini hotel termahal kali ya ahahahaha :D 


SERVICE

Kebanyakan pegawai yang saya temui bapak-bapak. Seragamnya batik. Ada juga perempuannya tapi gak lihat ada banyak. Semuanya baik banget. Baik karena emang alaminya begitu ya bukan baik karena disuruh bosnya :D 

Kenapa ya hotel-hotel lama begini tuh punya sentuhan berbeda dengan hotel masa kini. Gak cuma dari penampakan bangunan dan namanya (Sidodadi, bagus banget namanya!), tapi juga resepsionisnya, orang-orangnya, perabotannya, suasananya. Semuanya terkesan selow banget. Kalem gitu. 

Saya sih suka, gak ada tuh efek horor atau sendu-sendu gimana gitu. Yang ada malah kebawa tenang.  Seneng banget! Kayak menginap di rumah paman. Tapi berbayar :D 

Di dalam hotel banyak pohon. Dia kan hotelnya bukan satu bangunan menclok, tapi ada taman besar di bagian tengah. Sekalian tempat parkir mobil sih. Tiap kamar menghadap ke arah taman tersebut. Ada banyak pohon di tepi-tepi taman. Ada juga perosotan dan ayunan. Sederhana aja sih sebenernya mah. Tapi ya itu, karena sederhana rasanya jadi kayak selow abis. 


review Hotel Sidodadi


HARGA

Waks udah lupa lagi berapa detailnya. Yang pasti mah 250ribuan/malam. Waktu saya pesan di aplikasi Pegipegi, emang yang termurah di sana. Ada diskonan :D 

Beberapa kali saya booking hotel via Pegipegi emang oke. Perhatiin program Promonya untuk dapetin harga termurah. Cek promo tuh buat saya udah default tiap buka Pegipegi. Hahaha. 

Tapi ada juga beberapa alasan lain bikin saya pesan kamar hotel mulu di Pegipegi. Apa aja? 



review pegipegi



Pepepoin Bila Memesan Kamar Hotel


Setiap booking kamar hotel di Pegipegi, kita dapat poin. Bisa dikumpulin tuh buat dituker sama diskonan hotel. Anggep aja kayak tabungan. Tapi Pepepoin gak akan kamu dapetin kalau kamu booking pake kode promo. 

Pepepoin akan masuk ke akun kita bila sudah lewat tujuh haris sejak kita check out dari hotelnya. 1 pepepoin = Rp25

Proses Pemesanan yang Gak Ribet

Wah ini mah penting banget. Gak pake ribet! Ntar buka aplikasi Pegipegi. Pilih Hotel. Abis itu masukin tanggal mau nginep dan checkoutnya, masukin jumlah orang, jumlah kamar. Search!

Udah deh tinggal pilih yang tercocok untuk kalian. Sssst...jangan lupa cek dulu ada promo hotel apaan, lumayan kalau dapat diskonan hahaha. Etapi ingat ya, kode promo dipake, kalian gak dapat pepepoin.

Proses pembayaran di Pegipegi pun mudah banget! Sok mau bayar pake apa ada semua fiturnya. Mbanking, bayar di minimarket, transfer. Ada semua.

Terus ceritanya gak jadi nginep nih. Mau refund. Susah gak? kagaaaakkk :)

Refund di Pegipegi

Untuk refund ntar teman-teman cek di email konfirmasi pemesanan kamar hotel. Kalian juga bisa lihat di metode pembayaran. Di sana tercantum informasi mengenai peraturan Refund dan besaran biaya pembatalan. Kan suka ada hotel yang ngecharge biaya pembatalan. Ntar cek di bagian kanan bawah, khusus di bagian 'syarat dan ketentuan pemesanan'.

Nanti pemberitahuan cancelation masuk ke email kita. Butuh waktu sekitar 14 hari untuk refundnya, gak bisa langsung ateuh :D Kecuali kalian booking pake kartu kredit sih, biasanya ada ketentuan khususnya kalo berkenaan dengan kartu kredit.


Rekomendasi jalan-jalan ke Cirebon, bisa teman-teman baca di sini. Selamat liburan, selamat jalan-jalan :)