Social Media

Image Slider

Nongkrong di Nien's Corner Jalan Natuna 16 Bandung

27/10/14
Hola!

Sabtu menjelang sore, Bandung Diary jalan-jalan ke pusat kota Bandung. Masih di jantung kotanya, kami berkunjung ke tempat mungil yang menyempil di antara pepohonan Angsana. Namanya Nien's Corner. Masih satu kesatuan dengan bangunan hotel Latief Inn di Jl. Natuna 16 Bandung. 

Keuken #5: Reclaim The Street, Eat!

22/10/14
Akhirnya berjumpa lagi dengan Keuken #5. Ini festival kuliner yang saya tunggu-tunggu. Rutin diadakan per enam bulan sekali, Keuken sekarang katanya mau dibuat setahun sekali saja. Keuken 1 s/d 3 saya gak datang. Tapi Keuken #4 mah hadir dong :D 

Keukeun #5 ini acaranya di Balaikota. Temanya City Hall Playground. 

Keuken #5 ini wajib nongol juga karena saya sudah jatuh cinta dengan konsepnya. Ditambah pula ada kampanye #goodfestival. Apa aja kampanye #goodfestival teh?

  1. Pengunjung yang bersepeda dan bawa wadah makanan sendiri dapat diskon dari tenan
  2. Turis-turis yang menggunakan transportasi umum juga mendapatkan diskon dengan syarat memperlihatkan struk pembayaran ongkosnya. 
  3. Kenyamanan pengunjung jadi tolak ukur keberhasilan Keuken. Bangku dan meja disediakan. Memang gak cukup untuk menampung semua pengunjung bangku mejanya. Tapi di sekitar balaikota banyak tempat buat duduk kok :) Enak. Makan gak keseruduk, duduk gak diinjak-injak :D
  4. Bisa bebas jalan kakiiiii! Wihiwwihiw. Bisa bawa kakek nenek kalau ke acara Keuken mah. Ajaknya pagi-pagi. Suasananya masih segar dan lebih leluasa menikmati acaranya. 
  5. Keuken bekerja sama dengan Bandung Clean Action (BCA). Relawan-relawan BCA ini bergerak keliling Keuken memantau perkembangan sampah. BCA ada tenannya juga, pengunjung dihimbau buat nuker sampahnya dengan hadiah loh :)

Restoran dan Kafe Djoeroe Masak yang Fotogenik Banget!

21/10/14
Gak bisa berhenti motret di restoran dan kafe Djoeroe Masak. Sayang aja sih kamera kami berjamur, agak susah ngedit fotonya hihihi. Ditambah waktu berkunjung ke restoran yang terletak di jalan Veteran ini adalah malam hari. Kalau siang kayaknya warna fotonya lebih sejuk. Anyway ini dia ya, interior Djoeroe Masak yang oke sekali!

Santapan Ala Hotel Bintang Lima di Restoran Djoeroe Masak di Jalan Veteran Bandung

20/10/14
Halow! 

Dua minggu lalu saya dan Gele berkunjung ke restoran sekaligus kafe di Jl. Veteran Bandung. Namanya Djoeroe Masak. Kami singkat jadi DJ aja yak :) 

Jalan-jalan Pagi di Kampus ITB

15/10/14
Wah ini tempat di tengah kota yang udah paling pol deh segernya kalau pagi. Kampus ITB.

Taman Film Bandung

14/10/14
Telat dari dua bulan setelah peluncurannya, reportase Taman Film baru muncul di blog ini. 


The LUXTON, Hotel di Jantung Kota Bandung

12/10/14
Bulan lalu dapat kesempatan menginap di salah satu hotel yang letaknya strategis banget. Pas sekali menclok di tengah kota Bandung. Berlokasi di jalan Dago, ini dia hotel bintang empat: LUXTON. 

Check in jam 2 siang, kami mesti nunggu kamar non-smoking yang kata mba resepsionisnya sedang disiapkan dulu. Sekitar setengah jam sih nunggunya. Lama juga ya :D kami dikasih welcome drink. Sambil nunggu kamarnya disiapin, saya duduk aja di lobi hotel. Lobi hotelnya guede. Sofanya empuk. Kalau siang, lobi hotelnya gak ada yang istimewa sih. Tapi kalau malam lebih warna warni.

Tentang Bandung Purba, Tentang Wajahnya Cinta

03/10/14
Pengabaian tampaknya semakin menjadi sebuah kelaziman. Tak peduli bahwa hal itu akan mengarahkan pada ketidakpahaman-ketidakpahaman, manusia melaju hidup tanpa mau memikirkan bahwa segala sesuatu yang ada di Semesta ini saling berkaitan. Masa datang bahkan menjadi terlalu transparan hanya akan dipenuhi penyesalan yang disandingkan dengan kesedihan karena yang singgah dan berkehidupan terus semakin tak acuh pada keadaan.

Bandung dalam perkembangannya adalah contoh nyata dari pengabaian berkepanjangan. Sangat terlihat bagaimana kebutuhan mewajahkan modernitas telah mematikan kepedulian bahkan untuk sekadar mengenali sosok sebenarnya dari kawasan tersebut. Ketidakpahaman mengakibatkan Bandung diperlakukan tidak tepat sehingga mengancamnya untuk terus tersudut semakin jauh dari kondisi nyaman.

Taman Balaikota Bandung

29/09/14
Belanda menyukai Bandung. Mereka menunjuk kota ini sebagai tempat peristirahatan. Segenap usaha mereka lakukan agar Bandung menjelma sebagai The New Holland. Atau The New Paris sih. Katanya kan Bandung itu Parijs Van Java. Buat saya Bandung masih Parit Van Java euy. Anyhow, Belanda mengecat gedung-gedungnya warna putih dan taman kota diperbanyak. Bandung yang seratus tahun lalu masih kosong menjadi wahana 'bermainnya' pelaku tata ruang dan arsitek Belanda. Peninggalan mereka masih banyak. Salah satunya taman kota. 

Taman kota dan bangunan tua yang masih apik terjaga adalah area Balaikota. Tentu saja bangunannya masih awet, itu kan markas besar pemerintah kota Bandung. Pemkot Bandung bisa dikeplak persatuan arsitek indonesia kalau macam-macam dengan gedungnya yang bersejarah itu :D 

Jawadah Tutung Biritna, Sacarana Sacarana - Beda Tempat Beda Adat

27/09/14
“Ngopi yuk”
“Euu anu, saya gak minum kopi euy”
“Ih bukan. Maksud saya nongkrong, gak mesti minum kopi”
“Oh! Tapi tadi katanya ngopi?”
“Iya gak mesti minum kopi atuh, Lu”
“Oh gitu, terus ngopi di mana kita?”
“Berhubung akhir bulan & duit saya tinggal selembar 20 ribu ini saja, saya traktir kamu ngopi di Warung Mang Eboy saja, ya. Makan gorengan atau minum air putih juga itu namanya Ngopi, Lu”.
“Ohhhh jadi yang penting ngemil ya?”
“Ngopi itu artinya ngemil sambil ngobrol alias nongkrong!”

Ngopi merupakan satu dari sekian banyak istilah dan kebiasaan di Bandung yang saya pelajari dari teman kuliah.

17 tahun saya tinggal di Indramayu dan Cirebon, tak satu pun kerabat dan teman yang ngajak nongkrong dengan istilah Ngopi. Kalau di sana namanya Midang dan Jabur. Midang artinya nongkrong di teras depan rumah, Jabur artinya ngemil makan kue. Semua istilah tersebut artinya sesuai.

Sementara itu di Bandung, Ngopi artinya nongkrong di mana saja sambil ngemil dan minum kopi, teh, atau air putih. Tidak hanya nenek saya, teman kuliah pun sering mengajak saya nongkrong dengan kata kunci : Ngopi. Di teras rumah, di meja makan setelah bangun tidur, sampai di depan pintu kelas di kampus. 

Budaya Ngopi yang belakangan baru saya ketahui ini mempertegas budaya kuliner di Bandung yang kuat sekali. Orang Bandung senang berkumpul, kapan pun ketika senggang. Di warung, di kafe, di restoran, bahkan di lantai teras perpustakaan. Budaya berkumpul ini melahirkan budaya makan cemilan. Namanya orang ngobrol kan lebih seru kalau ada sesuatu yang bisa dicemil. Garing amat kalau ngobrol melulu. Lapar euy :D

Saya sih yakin budaya Ngopi ini lahir karena cuaca Bandung yang adem dan sejuk. Karena jarang keluar keringat saking ademnya, orang Bandung lebih cenderung tenang dan kalem. Berbeda dengan orang-orang yang pernah mengisi hidup saya di zaman SD sampai SMA di pesisir jawa bagian utara. Saya dan mereka saat itu keluar keringat lebih banyak karena cuaca yang panas. Tidak heran orang yang tinggal di dataran rendah tropis lebih terlihat gelisah dan bergerak lebih cepat.

Orang Bandung di mata saya yang baru mahasiswi waktu itu adalah orang-orang yang lamban. Lebih banyak tertawa dan lebih banyak bermain kata jika ingin mengungkapkan sesuatu, entah itu marah, kecewa, atau senang. Rasanya sampai saat ini pun, setelah menjadi penduduk Bandung selama 12 tahun, saya masih selugas orang Pantura dan membuat beberapa orang tersinggung karena sikap saya yang terlalu berterus terang. Padahal sesungguhnya saya hanya sedang secara refleks menampilkan budaya ekspresif dan terbuka ala orang pantai. 

Kalau ada yang berhutang, saya pasti tagih langsung di muka orangnya.
Kalau ada yang sikap yang saya tak suka, saya pasti tegur orang yang bersangkutan.
Kalau saya tak puas, saya protes langsung di hadapan orang itu.
Kalau saya marah, tampak muka saya manyun menahan geram dan memperlihatkannya langsung ke subjek yang membuat saya marah.

Sikap yang ekspresif ini saya peroleh dari hasil tumbuh kembang di Indramayu dan Cirebon. Di dua kota tersebut, saya belajar untuk menyampaikan maksud langsung ke tujuan, langsung kemukakan maunya apa disertai intonasi suara yang tinggi, tentu saja. Bukan karena marah, hanya saja memang seperti itu kalau di Pantura. Orang berbicara seperti sedang berteriak. Berbeda ketika saya di Bandung. Segala sesuatunya berjalan perlahan dan berputar-putar. Orang-orangnya berbicara seperti sedang bernyanyi. Merdu dan lembut.

Di penghujung umur 20, saya adalah setengah Laut dan setengah Gunung. Dahulu saya lugas dan tegas, sekarang saya sudah (sedikit) lebih lembut. Sekarang sudah mulai bisa mengatur volume suara paling enggak lah, tergantung siapa yang saya ajak bicara.

Kontur dataran yang berbeda dan cuaca yang kontradiktif berpengaruh besar dalam budaya. Lucu juga saya sanggup bertahan di dua kutub yang berbeda, bahkan menikahi salah satunya.

Dalam bahasa Sunda, kesimpulan dari yang saya alami ini namanya Jawadah tutung biritna, sacarana-sacarana. Artinya adat istiadat dan kebiasaan di tiap daerah berbeda-beda, masing-masing punya kebiasaan sendiri. Namun saya yakin tidak ada diantara keduanya yang lebih baik. Semua adat dan kebiasaan di tiap daerah sama baiknya. Sudah diatur oleh Tuhan sesuai dengan cuaca dan kontur datarannya, bukan? 

Shock-culture alias gegar budaya karena perbedaan itu hal yang wajar, yang penting pegang kata kunci ini baik-baik kalau sedang berada di daerah lain, supaya kita bisa membawa diri bukannya tidak tahu diri: jawadah tutung biritna, sacarana sacarana. Beda tempat, beda adat. Sesuaikan perilakumu dengan tempat kamu berada. 

Hidup Gunung!
Hidup Laut!