Social Media

Image Slider

Bandung Diary Shop INFO DETAIL

04/10/16
Beberapa waktu lalu saya cerita sedikit tentang Bandung Diary Shop. Nah sekarang saya mau cerita detailnya. 

FYI untuk teman-teman yang sudah tahu, Bandung Diary sudah memiliki produk sejak dua tahun lalu. Yaitu voucher hotel Agoda (include discount) dan tiket wisata di Singapura. Keterangannya dapat teman-teman baca di tulisan ini: 

Sekarang saya ingin menambah produk Bandung Diary Shop. Namun kali ini konsepnya titip-belanja. Artinya saya menjual produk-produk dari toko yang sudah ada di Bandung, bukan toko saya sendiri. Saya yang membelikan dan mengirimkannya untuk kamu. 

Toko-toko ini saya seleksi sendiri. Seleksinya saya buat berdasarkan konten. Ada rasa dan ada sejarahnya.  Jadi pada dasarnya saya menjual produk milik orang Bandung lainnya. Makanya saya sebut titip-belanja :D 

Saya menjual produk-produk Bandung Diary Shop ini dengan harga yang lebih tinggi ketimbang jika teman-teman membeli sendiri di tokonya langsung. Apabila kamu orang Bandung dan melihat produk Bandung Diary Shop dan komen 'mahal ih', wah salah alamat :D saya sudah memberi tahu informasi ini sedari awal. 

Untung dari penjualan saya gunakan to keep this blog running. Dan juga setiap Rp1.000 dari penjualan saya tabung dan saya sumbangkan satu bulan sekali ke Rumah Zakat (atau organisasi lainnya yang kompeten menyalurkan bantuan). 

Pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening saya di Mandiri. Komunikasi dilakukan via email atau jalur WA. 

Pengiriman dilakukan 1x24 jam sejak pemesanan. Kecuali jika pesanan dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu, saya butuh 2x24 jam untuk pengiriman karena hari sabtu terlalu mepet ke hari minggu sementara hari minggu mah toko-toko tutup euy. 

Untuk pertanyaan, kirim ke email bandungdiary@gmail.com. 

So yeah, let's start! :D 






Melacak Jejak Kampung Dobi Bersama Aleut dan Ingatan Tentang Mata Air di Cipaku

03/10/16
Dobi yang saya tahu adalah peri di film Harry Potter. Kalau Dobi di Bandung apa artinya?

Karena Penasaran saya daftar jadi peserta Ngaleut pada hari minggu 2 Oktober 2016. Judul acara jalan-jalan Komunitas Aleut hari itu adalah melacak jejak Kampung Dobi di Bandung. 

Kampung Dobi merupakan salah satu yang tertua. Dobinya sudah tidak ada. Jadi cuma bisa lihat bekas-bekasnya doang. 

Stasiun kereta api Bandung jadi titik pertama kami berkumpul. Jam 8 pagi di bawah langit yang kelabu, kami beranjak menuju jalan-jalan kecil di depan stasiun. Ada Jalan H. Akbar dan Jalan Mesri. Nama jalan lainnya saya gak ingat (dan gak cari tahu di peta :D).


Kolam mata air Ciguriang


Jadi apa itu Dobi?

Dobi adalah laundry. Pencuci pakaian, maksudnya. Dobi itu artinya orang yang punya skill mencuci pakaian, sampai-sampai jadi profesi yang termashyur. Kampung Dobi gak cuma ada di Bandung, tapi terdapat di sepanjang Sumatera hingga Jawa. Dobi bisa jadi berasal dari Bahasa India, karena di India sana juga ada Dobi yang artinya sama. 

Kalau orang zaman sekarang gak mau cuci pakaian sendiri, perginya ke Laundry. Nah orang zaman dulu perginya ke Kampung Dobi. Mereka yang minta pakaiannya dicucikan ini termasuk orang-orang Belanda. 

Tiap hari Dobi-dobi mencuci, selalu pada malam hari. Nyuci bajunya di samping mata air Ciguriang. Pakaian dibanting-banting, digosok-gosok dengan sabun batangan. Sabun ini mereka gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan juga. Satu sabun, untuk semua kegunaan :D 

Karena nyucinya malam hari, geng Dobi ini sambil nyuci sambil nyanyi. Bertalu-talu dengan pakaian yang mereka banting-banting ke batu (papan) penggilasan. Sebenarnya tujuannya supaya semangat aja sih, karena kalau gak nyanyi mungkin suasananya sepi dan bikin ngantuk kali ya :D 

Kampung Dobi di Bandung terletak di belakang Jalan Mesri. Tepat di belakang GOR Pajajaran. 

Kata bapak-bapak tua yang merupakan warga setempat dan mendadak jadi narasumber kami, dahulu pohon di Kampung Dobi lebih banyak lagi. Ada pohon Aren (Kawung) makanya di situ disebut Kebon Kawung. Juga dua pohon Kiara yang menaungi kolam mata air Ciguriang. 

Saya lihat ada satu Pohon Aren sih, kurus dan menjulang tinggi dengan dahan-dahannya yang kering. Apa itu satu-satunya sisa pohon dari masa lampau? Ternyata bukan. Baru ditanam sih, ya sekitar puluhan tahun namun bukan dari tahun 1900an. 

Melihat ada satu Pohon Aren aja di situ saya kok rasanya agak sedih ya. Memperhatikan Pohon Aren dan memendarkan pandangan menyaksikan pemukiman, kolam mata air yang jernih dan di sisinya ada sampah, juga menatap sisa tempat para Dobi mencuci. Diselingi bau pesing yang menyeruak dan angin yang sejuk karena kami berdiri di bawah pepohonan rindang.

Dahulu seperti apa ya pemandangannya. Mencuci pakaian di tengah kebon kawung. Terus kan airnya dingin banget. Bagaimana cara mereka menghangatkan diri? Kayaknya bersiduru kali ya, di sekitar situ ada kompor kayu mungkin. Kan mereka harus minum atau mengemil sesuatu supaya tubuh tetap hangat. Berarti harus ada yang mengirim air minum dan makanan kan. Eh gimana sih hehehe rasa penasaran makin menjadi-jadi. 

Sayang sekali orang yang berprofesi sebagai Dobi sudah meninggal. Gak ada jejak hidup yang dapat kami ulik sejarahnya. Padahal ingin sekali bertanya pada mereka. 

Berapa pakaian yang mereka cuci dalam waktu semalam? 
Berapa upahnya?
Nyucinya tiap hari?
Gimana rasanya mencuci pakaian pada malam hari hingga fajar menyingsing di bawah naungan pepohonan rindang? Serem gak? :D Ada pengalaman horor gak? (halah)
Siapa kliennya? Ada orang terkenal gak?
Setelah dicuci, pakaiannya disetrika gak?
Kampung Dobi ini asli orang Bandung semua atau ada pendatang?

Arya cerita sewaktu Komunitas Aleut ke Kampung Dobi di tahun 2011, masih ada yang mencuci di tempat pencuciannya ini. Mereka lihat sendiri. Sementara si bapak tua itu bilang terakhir kali Dobi-dobi mencuci adalah di tahun 80an. Mungkin yang Aleut lihat waktu itu warga yang sedang mencuci pakaiannya sendiri ya. Bukan Dobi. Ah entahlah. 

Di sekitar Kampung Dobi ini banyak mata airnya. Bersama Aleut saya lihat satu mata air lain selain Ciguriang. Namanya Susi, Sumur Siuk. Mata air ini kondisinya jauh lebih bersih dan terjaga. Di sisi mata air ada bangunan yang terdiri dari kamar mandi. Warga setempat masih mencuci dan mandi di situ. Ambil airnya gampang banget, tinggal disiuk alias tinggal diambil dengan cibuk dan byur byurrr tumpahkan ke tubuh sendiri. 

Sumur Siuk ini dangkal. Sekitar 3 meter kali ya. Bentuknya melebar seperti kolam. Tiap sisi dibangun dinding setinggi 3 meter dan atapnya terbuka. Saya gak tahu sih di belakang dinding itu ada apa. Semoga gak ada yang bawa tangga dan ngintip orang mandi karena kamar mandinya terhubung langsung ke Sumur Siuk ini. Kamar mandi mah beratap. Mata airnya yang enggak. 

Air di Sumur Siuk ini jernih sekali. Saya bisa lihat dasarnya. Rasanya aneh lihat ada mata air yang sanggup bertahan di antara kepungan pemukiman. Alhamdulillah. 

Dari Sumur Siuk, Aleut berjalan lagi. Kami balik arah karena ada urusan lain jadi gak ikut Ngaleut hingga acara selesai. Kalau lihat foto-foto acaranya, mereka mengunjungi mata air lainnya. 

Bandung memang terdiri dari banyak mata air. Namanya juga pegunungan. Di tempat saya tinggal sekarang, Ledeng, juga pernah ada banyak mata air (banyak bangetngetgetnget). Sayang sekali mata airnya sudah pada kering. Satu mata air terdekat dari rumah ada di tebing, di Cipaku. Menuju ke sana kami harus turun tangga yang curam-curam ukuran tangganya. 

Karena kakek saya yang memperbagus kondisi mata airnya dan beliau juga yang membangun akses berupa tangga, termasuk kakek saya juga yang membangun tempat pencucian, maka Pak Aki -panggilan saya untuk kakek- yang memberi nama untuk mata air tersebut. 

Beliau menamakan mata airnya Ci Iim. Ci = air. Iim = nama anak kesayangannya (Siti Fatimah, nick namenya Iim). 

Ci Iim dan mata air lainnya yang ada di dataran lebih tinggi mengairi pesawahan di Cipaku. Yes, Cipaku itu dulunya lembah yang bisa jadi tadinya hutan sih. Cuma saya ingatnya Cipaku itu sawah luaaaaas sekali. Hijau membentang dan di sisi sawahnya ada pemukiman penduduk dan hutan. Sawah-sawah itu milik kakek saya. Dulu keluarga besar saya sering botram (piknik makan-makan) di saung di sawah Cipaku. Sekarang sawahnya sudah tidak ada, sudah jadi perumahan. 

Jejak mata airnya masih ada, tapi ya tinggal puing-puing. Mata airnya sudah tinggal kenangan. Sudah mati. Kakek saya pun sudah meninggal di tahun 2008. 

Ya begitulah cerita Ngaleut hari minggu kemarin. Ngaleut yang menyenangkan sekaligus membuat saya agak sedih sih karena ingat Pak Aki, Ci Iim, dan kenangan indah akan pemandangan sawah-sawah di Cipaku. 


berkumpul di depan Stasiun Bandung

Arya, pemandu dari Komunitas Aleut

Rumah Haryoto Kunto, penulis buku-buku Bandung tempo dulu
Menatap rumah Pak Kunto dan mendengar Arya cerita

Pohon Aren (Kawung)
Bekas 'papan' penggilasan pakaian



Di komplek pemakaman keluarga Mesri
Di jalan gang yang sempit, di Sumur Siuk
Sumur Siuk, difoto pake ponsel

Foto : Nurul Ulu, Indra Yudha



Foto-foto lebih banyak ada di fanpage Bandung Diary.


BANDUNG DIARY SHOP

30/09/16
Ini mimpi saya sejak dua tahun lalu. Tertunda-tunda karena banyak keraguan. 
Takut salah.
Takut diketawain. 
Takut gagal. 
Lebih khawatir lagi kalau Bandung Diary dianggap online-shop :D 

Tapi saya udah kelamaan ada di zona nyaman blog ini. Saya mau bawa Bandung Diary ke level berikutnya. 

So yeah i'm excited. Dalam beberapa hari ke depan saya post beberapa produk di kategori #BandungDiaryShop. Konsep tokonya titip-belanja. Seperti apa itu teh? You'll see :D 




#photographytalk 2: Everything Is New, Everything Is Interesting

29/09/16
Helow. Mencoba konsisten dengan rubrik #photographytalk, dengan ini saya persembahkan tulisan kedua. 

Sekarang saya mau bahas tentang mantra kedua -setelah 'pegang kamera adalah kunci'- sewaktu saya belajar motret: Everything Is New, Everything Is Interesting. 

Indra yang ngasihtahu saya tentang kutipan tersebut, namun ia juga lupa ceunah siapa yang ngomong. Fotografer sih yang bilang kalimat tersebut, cuma lupa lagi namanya. So kalau ada yang membaca ini dan kamu ingat siapa fotografer yang menyebutkan kalimat sakti tersebut, feel free untuk memberitahu saya.

Jadi maksudnya gimana itu Everything Is New, Everything Is Interesting?

Tema yang saya dan Indra foto untuk Bandung Diary kebanyakan temanya travel. Bicara tentang travel, cakupannya luas. Ada kuliner, tempat wisata, budaya, dan orang-orang kami temui. Kebanyakan foto yang kami potret adalah foto bercerita. 

Bayangkan kamu sekarang sudah pegang kamera dan kamu mulai memotret. Mau foto apa yah? Random aja jepret yang kamu lihat atau bagaimana?

Satu hal yang saya pelajari selama memotret adalah apapun yang saya foto, saya melihat benda/orang itu sebagai objek yang menarik. Kalau menarik, saya foto. Jika saya tidak menganggapnya menarik ya buat apa difoto. Tapi saya belajar untuk gak resisten. Saya belajar untuk melihat semuanya menarik sih :D 

Contohnya saya kasih lihat yang foto-foto di Cibadak ya. Habis dari sana sih jadi kepikirannya Cibadak melulu hehehe. 

FYI, Cibadak ini kawasan belanja grosiran di Bandung. Dihuni oleh orang-orang keturunan tionghoa dan hampir semua jenis barang, kecuali konveksi, ada di Cibadak. Kalau terang hari kawasannya sibuk dengan akvitias jual beli barang grosir. Begitu malam tiba, sepanjang jalan Cibadak ini tempat makan semua. Ramainya tiada tara. 

Saya foto tukang roti bersepeda di Cibadak. 
Pernah juga moto bangunannya sewaktu mau pulang dari Cibadak tapi hujan turun. Jadi kami tertahan di sana, ngobrol sambil jajan gorengan sambil menatap jalan Cibadak yang lengang dari pejalan kaki. 
Suatu kali jajan di Cibadak dan foto kulinernya. 
Dan masih ada beberapa lainnya.

Semua foto ini saya jepret dengan kamera ponsel.







Satu tempat, banyak ceritanya. Satu objek, banyak sudut pandangnya. Tapi semua itu (cerita dan sudut pandang) akan terlihat kalau kita mengganggap mereka menarik. Satu hal yang saya rasakan sewaktu belajar motret adalah kepekaan saya terlatih. 

Saya ke Cibadak udah sering banget. Tapi saya gak merasa bosan. Mungkin gara-gara itu saya bisa memandang hal-hal yang biasa jadi terlihat menarik. Meski terbiasa dengan suasana Cibadak, saya gak take it for granted.  Saya menganggap Cibadak baru dan tetap atraktif meski sudah ke sana untuk yang ke 2356-kalinya.

Jadi buat saya sewaktu saya moto, everything is new, everything is interesting. 

Ujung-ujungnya fotografi untuk saya adalah belajar menajamkan rasa. Gimana caranya? saya motret terus dan menanam rasa antusiasme pada benda-benda dalam keseharian saya. Antusias ini yang jadi bekal saya untuk semangat. Semangat ini yang memberi saya kepekaan. Kepekaan ini yang melahirkan rasa ingin tahu dan sudut pandang. 

Sewaktu hunting foto dengan Indra dan beberapa teman, kami suka saling cerita hasil foto dan berbagi sudut pandang. Saya sebagai yang paling amatir kalau lihat hasil foto mereka sering komen: HAH KOK BISA GITU YA FOTONYA,
EH IYAYA,
EH KOK GAK KEPIKIRAN YA MOTO KAYAK GITU.
LHO EMANG PINTUNYA BISA DIFOTO GITU TOH.
OH BISA YA ORANG LAGI JONGKOK DIFOTO TETEP BAGUS.

Dan banyak ungkapan 'baru-tahu' dan 'baru-sadar' lainnya. Hihihi :D 

Jumpalitan belajar teknik fotografi dan berburu kamera yang oke, yang saya butuhkan ternyata hanya kepekaan. Kepekaan melihat momen, kepekaan dalam menangkap momennya, dan kepekaan dalam mengungkapkan ceritanya. 

Segampang itu, namun sayangnya sesusah itu juga.

Jika saya pikir sebuah benda terlihat menawan kalau difoto dari jauh, ternyata ada yang anggap lebih kuat aura bendanya kalau difoto dari dekat. Sewaktu kita pikir memotret dengan eye-bird-view sudah paling kece, ternyata motret makro jauh lebih menarik.

Momen-momen yang bikin saya belajar itu saya dapat kalau saya keluar dan foto-foto. Kalau cuma diam dan sibuk mengoprek kamera, browsing fitur kamera, milih merek kamera dan tanpa praktek, ya garing sih jadinya. 

Jadi sampai sekarang prinsip saya belajar foto masih sama. Pegang kameranya, amati sekitar, jangan resisten, semuanya terlihat menarik, jepret. Lihat hasil fotonya. Bandingkan dengan hasil foto orang lain. Belajar. Dan ulangi terus-menerus.

Anyway orang lain yang saya maksud adalah fotografer pro ya. 

Pasti pada protes, ya masa foto kita yang amatiran dibandingin dengan foto hasil fotograer pro. Yaelah, ngapain foto dibandingin buat menang-menangan. Bukan gitu maksudnya. 

Maksud saya perhatiin foto mereka, pelajari dan curi anglenya. Teknik ATM lah, amati, tiru, dan modifikasi. Ngomongin orisinalitas dalam fotografi, nanti bahasnya. Masih jauh :D 

Perhatikan jika dengan benda yang sama, orang lain motretnya bagaimana. Kalau kamu kenal fotografernya, tanya-tanya aja sekalian. Biasanya fotografer yang udah jagoan pasti senang deh berbagi angle dan teknik foto. 

Saya sering-sering lihat foto orang lain untuk mengukur bagus enggaknya foto jepretan saya. Kebanyakan hasilnya gak bagus, ada kalanya saya sering pasrah gak upload foto karena tahu fotonya jelek. Tapi sering juga saya paksa upload ke media sosial. Terkadang saya gak hapus foto-foto lama. Menurut saya sih  foto-foto yang gak bagus bisa jadi feedback untuk saya nantinya. 

Emang sih nanti muncul ungkapan : foto saya terserah saya lah mau motretnya gimana. Mau bagus kek mau jelek kek. Yang penting saya suka karya saya sendiri dan saya happy.

Benar sekali. Yang penting kamu happy. Namun tidak dapat kita pungkiri, foto adalah sebuah karya, maka itu melibatkan mata orang lain untuk menilainya. You cannot get away with bad pictures and say it's art (kutipan, entah siapa yang bilang saya lupa lagi). 

Di Instagram kan sekarang bertebaran karya fotografer-fotografer pro. Bisa dilihat-lihat. 
Follow Michael Yamashita kalau kamu motret sebuah budaya. 
Follow Steve McCurry kalau kamu motret human interest.
Follow Tim Laman kalau mau motret wildlife.
Follow National Geographic dan perhatiin fotografer yang mereka tayangkan fotonya. Biasanya di Natgeo, tiap fotografer punya bidang foto yang berbeda-beda.  
Follow akun yang menampilkan karya foto jurnalistik kayak Reuteurs, Worldpressphoto, Photo Society, dan Magnum Photo. 

Sebenarnya sih fotografer bagus di Instagram berceceran. Dipilih-dipilih hehehehe. 

Fotografer dari Indonesia juga banyak banget. Davy Linggar untuk foto-foto yang absurd dan unik, kebanyakan food instagramers yang saya tahu juga indah-indah fotonya (The Food Xplorer dan Dapur Hangus, misalnya), Dudi Sugandi, Living Loving, daaaan masih banyak lagi.

Jadi ya begitu lah. Saya pegang kameranya, mulai memotret, dan saya terapkan prinsip semuanya terlihat baru dan semuanya terlihat menarik. Jepret!jepret! :D

Thank you for reading this rambling. Please do leave your comment and i'd really want to read your thought about this #photographytalk.

Cheers! 




Menghadiri Peluncuran NESCAFE Dolce Gusto di Bandung

27/09/16
Hello there! 

Sehat-sehat semuanya? Hari ini terasa menyenangkan and i hope you feel the same way too. Mendung masih merundung Bandung dan hujan mengguyur kota ini tadi sore. Tentu saja cuaca di sini makin dingin. Dan kamu pasti tahu pertanyaan klise yang muncul dengan cuaca seperti ini. Mendung-mendung enaknya ngapain? 

Ayo dijawab semuanya: NGOPI! (atau tidur, atau menamatkan serial terbarunya Empire dan Billions, atau menyantap seporsi bakso, dan atau-atau lainnya :D)

Here's why i typed hari-ini-terasa-menyenangkan. Saya bertemu dengan teman-teman sesama blogger untuk special occasion. 

Jadi kami berkumpul di Vanilla Kitchen and Wine (27/9/2016) dan mencoba kecanggihan NESCAFE Dolce Gusto!  Iya betul, NESCAFE Dolce Gusto mengajak rekan-rekan media dan partner bisnisnya untuk melihat peluncuran DROP, produk terbaru dari seri NESCAFE Dolce Gusto. DROP gak sendirian, karena ada tiga coffe machine maker lainnya: GENIO, MINI ME, dan OBLO. 


This is Genio

FYI, NESCAFE Dolce Gusto merupakan pembuat minuman panas dan dingin menggunakan mesin dan kapsul pintar. Semacam mesin pengganti barista berwujud manusia. Ukurannya mungil dan stylish. Jika sebuah mesin pengolahan minuman (khususnya kopi) yang kamu lihat di kafe ukurannya tidak kecil dan memakan ruang, NESCAFE Dolce Gusto sebaliknya. Bendanya tidak lebih dari 4 kg. Paling imut sekitar 2kg. Bentuknya lucu sekali. Buat saya sih mirip baby alien versi unyu-unyu. 

Dua tahun belakangan ini kopi dan teh sedang seksi-seksinya. Terutama kopi. Kedai kopi menjamur hingga jumlahnya ratusan di Bandung. Tapi saya gak tahu sih ini sekadar tren semata dan nanti meredup hypenya. 

Kalau diperhatikan, kopi untuk banyak orang itu bagaikan agama. Harusnya sih tren kopi ini gak meredup ya. Sebab bagi pecinta kopi, ada jiwanya di secangkir kopi. Gak mungkin kan orang pengen jiwanya hilang :D 

Saya juga terbawa arus kopi ini sih. Jadi sering nongkrong di warung kopi, kedai kopi, kafe kopi. Bertemu dengan barista-barista muda yang lihai menceritakan kopi racikannya. Meracik kopi kalau diperhatikan bukan hal yang mudah. Mengukur suhu air, menakar sendok kopi, menunggu tetes demi tetes. Lihat barista menyeduh kopi terasa sangat sophicticated sekali. Rumit, cerdas, dan berbudaya. 

Dan hari ini NESCAFE Dolce Gusto mengajak saya mencicipi rasanya jadi barista. Meski versi sederhana tapi menyenangkan juga. Hihihi. 

Menyeduh kopi dengan NESCAFE Dolce Gusto mudah sekali caranya. Lihat petunjuk penggunaan. Kopinya sudah disediakan. Jika menyeduh kopi ala barista di kafe-kafe kopi terlihat sangat rumit, maka NESCAFE Dolce Gusto membuat proses tersebut jauh lebih ringkas. 

Jika menyeduh kopi dengan mesin-mesin kopi besar bagaikan menempuh Jakarta - Bandung dengan naik kereta kuda kencana: perlahan, elegan, dan gemulai…maka…menyeduh kopi dengan NESCAFE Dolce Gusto bagaikan mencapai jarak Jakarta - Bandung dengan kereta Shinkansen: cepat, classy, dan canggih. 

So yeah ini masalah pilihan aja sih. Memajang dan menggunakan NESCAFE Dolce Gusto oke juga. Pertama, bentuknya mirip benda seni. Orang gak akan nyangka itu mesin kopi. Kedua, kamu bisa menyuguhkan tamu-tamu di rumah/kantor dengan minuman yang terlihat rumit ala kafe. Ketiga, NESCAFE Dolce Gusto gak cuma nyeduh kopi tapi juga teh dan minuman coklat. Aha! 

Dengan NESCAFE Dolce Gusto kamu bisa bikin black coffee. Jika itu terdengar biasa maka cobalah membuat racikan Mocha Coffe, Cappucino Latte, Mocha Tea, Peach Tea, Chocolate Espresso, dan lain-lain. Tambahkan bahan-bahan lainnya seperti karamel, buah-buahan dan es batu dan berkreasi sendiri ciptakan Affogato, Iced Caramel Jelly Latte, Strawberry Mocha. Cool, huh! 

The thing is, sumber kopinya harus dari NESCAFE Dolce Gusto itu sendiri. Untuk pembelian produk NESCAFE Dolce Gusto, kamu juga beli kapsul kopi, teh, dan coklat. Ada 11 varian, tiap varian (box) terdiri dari 16 kapsul. Kalau dihitung-hitung, per kapsul harganya RP7.000. So yeah terbilang murah juga dibanding jika harus ngafe minum kopi tiap hari mah.


Kapsul NESCAFE Dolce Gusto
Cara pemakaiannya juga gampang. Baca petunjuknya, masukin kapsulnya, dan masukan air matang ke wadah yang sudah ada di NESCAFE Dolce Gusto. Siapkan gelas di tempat yang sudah disediakan. Pencet-pencet/sentuh-sentuh tombolnya, tunggu, done!

Intinya sih cuma pop, lock, switch, brew. Air panas dan air dingin bisa diatur. Kalau saya tulis memang sudah bayanginnya sih, cari saja videonya di Youtube deh. Saya saja setelah praktek baru terbayang betapa gampangnya seduh-menyeduh kopi ala kafe ini. Hohohoho.

Gak perlu takut listriknya hambur. Karena Eco Mode System, Dolce Gusto yang satu ini hemat listrik Jika mesin tidak digunakan dalam 5 menit, otomatis mesinnya mati. Entah bagaimana cara penghematannya, karena untuk memanaskan air saya hanya butuh waktu 30 detik. Cepat sekali!


Di mana beli NESCAFE Dolce Gusto di Bandung


Anyway, NESCAFE Dolce Gusto dapat dibeli di Lazada dan Blibli. Untuk di Bandung, kamu bisa mendapatkannya di Sogo PVJ, Trans Studio Mall (Metro), Log In Store, Setiabudhi Supermarket, Best Denki, dan Yogya Riau Junction. 

Dan ini dia foto-foto dari peluncuran NESCAFE Dolce Gusto di Bandung hari ini. Sejujurnya agak susah motret hari acara ini. 

Pertama lighting acaranya gak jelas hohoho. Lightingnya macam panggung konser: biru, merah, kuning. Backdrop untuk tiap NESCAFE Dolce Gusto di tiap meja warna-warni, gak enak banget jadi latar foto NESCAFE Dolce Gusto. Padahal kalau putih dan bersih pasti produknya jadi lebih menonjol dan instagramable untuk difoto. 

Ketiga, tidak banyak ruang untuk berfoto/selfie karena sebagian ruangan cahayanya kurang banget, sebagian lagi terang. Gak banyak momen dan spot untuk berfoto saking sempit dan hiruk pikuknya berbagai peralatan. Sayang banget nih, entahlah, skill moto saya juga banyak harus ditingkatkan sih heuheuheu. 

Terakhir, acara bincang-bincang bersama tiga narasumbernya juga gak jelas. Kayaknya harus ada konten lain selain promo NESCAFE Dolce Gusto saja. Bukan hardselling aja membicarakan NESCAFE Dolce Gusto. 

Overall, thank you NESCAFE Dolce Gusto! Hari ini saya nyobain bikin beberapa varian kopi sekaligus meminumnya tanpa ampun. Malam ini mata saya terjaga sepenuhnya mengerjakan semua deadline hahaha. 

















Teks dan foto: Nurul ulu

Makan Siang di Kacarita di Soreang

25/09/16
Jarang-jarang saya bahas tempat di daerah Bandung Selatan. Bukan gak mau sih, kebanyakan waktu saya habiskan di daerah Bandung Utara euy. Heuheuheu. 

Nah sekarang saya mau bahas tempat makan di selatan Bandung. Yipiiiw! Kebetulan sih hari itu sedang berkeliaran di Soreang. Pas lapar, pas cari makan, eh lihat ada tempat yang lumayan oke euy. Cobain ah masuk ke dalamnya. 

Kacarita nama rumah makannya. Tempatnya sederhana tapi homey deh. Kayak datang ke rumah nenek di kampung. Bah alasan ini klise amat ya, khas anak kota :D 




Anyway, latar belakang rumah makannya adalah sebuah bukit. Di sampingnya ada sawah. Letak rumah makannya di pinggir jalan, tapi kawasannya masih sepi rumah. Masih banyak sawah. Seru banget lah cuacanya. Pas siang mah adem. Eh begitu masuk malam hari dinginnya ampun deh. Angin gunung mulai turun. 

Menu andalan Kacarita adalah Pindang Ikan Mas. Maka saya memesannya. Ternyata bener rasanya enak. Menu lain ada tempe tahu, karedok, sayur asam, dan aneka makanan khas sunda lainnya. Ayam goreng dan bakar juga ada. Tapi...

Satu-satunya menu yang enak cuma pindang ikan mas. Lainnya enggak. Makanannya mengenyangkan namun tidak memuaskan. Pindang ikan masnya juara, saya sampai beli lagi, bungkus, dan bawa pulang. 

Saya baru lihat sih ada tempat nyeni di Soreang. Cantik seperti di kota-kota dan sentuhan dekorasinya ala di kampung. Ada saung untuk makan lesehan. Ada juga bangku-bangku tua untuk yang mau makannya duduk ala bule. Eh iya da kita mah aslinya teh makan sambil lesehan, kompeni aja pada masuk ke Hindia Belanda, orang-orang Tionghoa juga. Budaya mereka makan sambil duduk di bangku/kursi. Kita budayanya makan sambil lesehan. 

Di bagian belakang rumah makannya ada taman dong. Lucu banget. Emang banyak pohonnya nih Kacarita. Cuma itu, tanaman di bagian pintu masuk yang di kolam, tanaman Lotus, saya lihat bolong-bolong bakal bunganya bikin merinding. Ah ngetik ini aja saya merinding aheuheuheuheu linu lihatnya adududuhhhhh :D 

Pas saya ke sana, rumah makannya sepi pengunjung. Padahal akhir minggu. Ada sih satu keluarga sedang menyantap makanan di saung. Habis itu gak banyak yang datang. Wah sayang banget, tempatnya bagus ih padahal. Cocok buat yang mau ngisi galeri instagram. 

Abis sholat magrib, baru saya pulang. Tahu gak di dekat mushola ada apa? KUNANG-KUNANG! Oh so sweet :D Nabil seneng banget lihat kunang-kunang. Saya juga sih. Katanya kalau ada kunang-kunang pertanda udara di situ masih bagus. Emang kerasa sih masih segar dan sejuk. Soreang kan setahu saya daerah berhawa panas. Eh di Kacarita mah enggak panas tuh. 

Kacarita berada di sisi jalan yang bukan jalan utama sih. Yang mau ke Ciwidey gak lewat jalan raya Sadu Soreang ini. Kalau gak salah sih tol baru nanti, Seroja, bakal dibuka di dekat jalan Sadu. Begitu tol sudah dibuka, jalan raya sadu soreang bakal jadi jalan utama. Wah Kacarita mendingan siap-siap menghadapi keramaian itu. Emang sih proyeknya molor tapi ya kan pastinya bakal jadi. So ya it's about time aja untuk restoran cantik ini ramai pengunjung. Amin. Cuma anu, menu-menu lainnya kalau bisa mah rasanya perbaiki dulu. Pindang ikannya oke, yang lainnya enggak :D 














Teks & Foto : Ulu
Difoto dengan Lenovo A6000, diedit dengan aplikasi VSCO. Kok penampilan foto di smartphone dengan di laptop beda yak heuheuheuheu. Di hape mah keren, di layar laptop nampak kumuh :D apanya yang salah heuheuheuheu....

Ayam Semar Pandawa, Edan Enak Pisan!

23/09/16
Ceritanya kami bertiga nginep semalam di Summerbird. Seperti biasa lah malam hari berburu hunting kuliner di sekitar hotel. Sering sih merasakan momen di mana kamu gak yakin dengan tempat makanan yang kamu lihat? Pas lihat restorannya, feeling kamu bilang itu bukan tempat yang kamu cari. Waktu lewat warung sate, kamu cium asap bakar satenya tapi lubuk hati kamu berbisik kamu harus berjalan lagi. Nah itu teh saya banget hohohoho. 

Gak rese cari makan sih, cuma kebetulan aja lagi nyantai so ya agak selektif gak ada salahnya. Nah sama kasusnya dengan pertemuan Ayam Semar Pandawa. 

Dari Summerbird, kami berjalan melewati lapak ayam bakar (khusus ayam kampung pula), warung pernasigorengan, perpecel-lelean, kwetiaw dan sejenisnya, sate ayam dan sapi. Baru deh pas lihat Ayam Semar Pandawa, saya dan Indra saling melirik dan berkata tanpa bicara: INI TEMPATNYA! 

Hahahaha :D 

Well terbukti ayam bakarnya enak parah parah parah! Ukuran ayamnya kecil sih, dibakar pake bumbu manis. Dan pastinya di ayam sudah direndam di bumbu dulu deh. Mungkin bumbu koneng (kunyit). Lalu entah apa itu bumbu kok manisnya sangat paripurna ya. Gak ada cela sama sekali. 




Makanan ini nih tipikal yang harus kamu makan dengan jari tangan, bukan sendok. Terus begitu makanan sudah habis, kamu jilat-jilatin jari jemari kamu saking enaknya itu ayam. 

Kekurangan ayam ini adalah porsinya yang terlalu sedikit dan harganya yang lebih dari kedai sejenis. Yah ada harga ada rupa kali ya. Saya sih jelas akan kembali ke Ayam Semar Pandawa. Gila aja enak gitu masa dicuekin :D 

Btw, teh manisnya juga nikmat. Tipikal es teh manis dari tanah jawa (non-priangan). Kayak es teh manis di Cirebon, Yogyakarta gitu deh. Enak, pake gula batu apa ya? Ah entahlah. Recommended sih teh manisnya. Sebenarnya ada free drink teh anget tawar. Tapi ya pesan juga lah es teh manis/teh manis anget. Pasti suka. Pasti bertanya-tanya, apa istimewanya teh manis? hohoho ada atuh. Cobain aja tinggal di daerah pesisir kayak saya, terus pindah ke Bandung. Niscaya benda seremeh teh manis itu ada bedanya :D 

Ayam Bakar 18K
Nasi Putih 3K
Nasi Merah 5K
Es teh manis 5K


Cara Menuju Ayam Semar Pandawa

1. Arahkan kendaraan ke Pasir Kaliki bagian bawah alias yang jalannya satu arah menuju ke atas (Sukajadi).

2. Ada belokan kedua setelah pertigaan Stasiun - Pasir Kaliki. Sebelah kiri jalan, sebelahnya Alfamart. Nah masuk ke situ yak. Ayam Semar Pandawa ada di ujung jalan Pandawanya. 

Udah gitu aja, gampang ya hohoho :D 


#photographytalk 1 : Pegang-Kamera Adalah Kunci

20/09/16
Baca tulisan sebelumnya: #photographytalk

Memotret adalah hobi yang lahir sejak saya mengenal kamera digital versi pocket. Saat pertama kali benda itu saya lihat di kampus dulu, kamera digital merupakan benda yang tidak terjangkau untuk saya. Lalu saya kenalan dengan kamera DSLR dan menganggap benda ini istimewa banget. Mau fotonya bagus ya pake DSLR. 

Di tahun 2009 saya mengenal cewek bernama Kuke. Di saat hobi saya baru sampai di senang-lihat-kamera, Kuke sudah menjalani hobi fotografinya dengan serius. Kameranya pocket aja kok. Di setiap pertemuan saya dengan Kuke, dia gak berhenti memotret. Dia rajin unggah ke media sosial dan jadilah album-album foto cerita, tiap foto di albumnya tersusun secara kronologis dan diberi judul. Foto-fotonya juga rapi, bukan habis motret lalu langsung diunggah. Terlihat dari foto-fotonya kalau dia pilih foto-foto terbaik dan dirapikan. Jadi kalau kamu lihat album foto saya dan tiap foto terjalin secara berurutan dan sudah rapi, nah saya contek itu dari Kuke :D 

Kuke adalah orang yang mematahkan mantra saya: kalau fotonya mau bagus motretnya pake DSLR. Salah besar. Kamera pocket juga bisa bagus kok.




Di waktu yang sama saya bertemu Indra. Orang yang gak pernah upload foto-fotonya ke media sosial. Sama kayak Kuke, Indra juga gak pernah berhenti motret. Bedanya, kamera Indra adalah DSLR. Bukan buat gaya tapi buat kerja. Perbedaan lainnya, Indra sangat jarang mengunggah karya fotonya ke media sosial. Dia simpan saja di harddisknya. Baginya photography is like fishing. Catching the fish is more exciting than eating it. Indra dan fotonya adalah dunia yang sunyi. Kecuali kamu kenal dia dan minta difotoin, kamu gak akan tahu kalau Indra bisa memotret :D 

Waktu kami putuskan berkolaborasi tugas saya dulu memberi kata pengantar untuk foto-foto yang Indra yang potret. 

Terus suatu hari saya bilang sama Indra kalau saya mau belajar moto. Dia gak melarang atau bilang saya gak bisa. Dia ngajarin saya motret, sabar banget ngajarinnya. Tapi di satu sisi juga kejam banget :D 

Hasil foto jepretan saya di era sebelum tahun 2015 itu jelek luar biasa. Komposisi kacrut, ketajaman kendor, dan yang paling utama adalah gak ada cerita dalam foto saya. Saya pengen gaya foto saya terlihat artsy, tapi hasilnya norak. Namun Indra gak nyuruh saya berhenti motret. Sebaliknya dia malah menyarankan saya motret terus, do not stop, katanya. Kuncinya cuma satu yang saya lakukan waktu itu: gunakan kamera yang sama terus-terusan. 

Suatu kali dia ngajarin saya teknis kamera karena saya daftar jadi relawan foto di Kelas Inspirasi. Ceritanya belajar motret tapi ngebut gitu lah hahaha. Belajar shutter lah, diafragma lah, apperture lah, ISO lah, noise lah, dan sejenisnya. Otak saya menggendut dan menyadari bahwa hasil foto saya esok hari akan lebih berbobot dengan ilmu yang saya dapat itu. Well, besoknya saya lupa lagi itu semua hahahaha. Otak saya mengempis dan foto saya sama aja hasilnya. Kacrut. 

Terus Indra nyuruh saya baca buku dan majalah fotografi. So i did. Hasilnya? Saya putuskan gak belajar teknis kamera. Saya memilh mempertajam rasa. Saya juga tonton video tutorial di yutub dan tentu saja mengamati foto-foto di Instagram. Abis itu sering-sering moto dan saya minta Indra kasih tahu saya apa yang salah dengan fotonya.

Memang Leica gak pernah failed. Hasselblad juga gak pernah jelek hasil fotonya tuh. Kamera seharga 50 juta gak pernah gagal. Tapi kebanyakan dari kita ini apa punya uang untuk membeli kamera semahal itu? 

Ada harga memang ada rupa. Ada kamera produksi, ada kamera konsumsi. Kamu mau motret untuk produksi, wajib cari kamera termahal yang bisa kamu beli. Ada klien yang harus kamu puaskan. Kamu motret sebatas untuk konsumsi, kamera terbaik adalah kamera yang kamu punya saat ini. 

Kuke pernah menyarankan kalau punya kamera, baca juga buku manualnya. Kenali semua fitur-fiturnya. Baca dulu sebelum praktek itu sangat amat penting baginya. Dulu waktu dia masih motret dengan kamera pocket, banyak yang gak ngeuh kalau foto-fotonya dihasilkan dari kamera pocket saja. Termasuk saya. Bukankah memang demikian adanya, kita mengira foto yang bagus dihasilkan dari kamera yang bagus. Dan kamera bagus itu kita pikir adalah DSLR (dan mirrorless). Ternyata enggak.  

Ada banyak cara menyiasati kualitas sebuah foto dengan kamera yang kita punya. Mahal atau kamera sekelas entry level sekalipun, do not stop taking pictures, belajar, dan hilangkan label-label pengen artsy. Lakukan karena kamu suka, bukan ingin terlihat keren. Sepengamatan saya, belajar merendahkan hati saat memotret menghasilkan foto yang lebih enak dilihat. Lebih sejuk dipandang. Kalau istilah teman saya Kuke bilang sih, 'gak meninggikan dinding'. 




Dan ini tahun 2016 bulan ke sembilan. Foto saya sekarang dibanding foto jepretan di dua tahun ke belakang jauh mendingan. Ada lah peningkatan. Masih jelek ya pasti, tapi lebih rapi mah iya. Satu hal yang saya rasakan sih sekarang foto saya lebih puguh hasilnya. Puguh dalam bahasa Indonesia artinya lebih jelas, lebih terarah, lebih rapi.

Sekarang saya sadar kalau dalam belajar memotret, kamera bukan kunci. Memegang kamera adalah kuncinya. Membiasakan diri memegang kamera, memotret terus-terusan, adalah kunci. Ala karena biasa. 

Foto lagi, foto lagi, foto lagi dan foto lagi. Henri Cartier-Bresson, rajanya Street Photography pernah mengatakan: your first 10.000 photography are your worst. 

Jangan berhenti karena kamera kamu murahan. Jangan menunda karena kamera kamu butut. Pegang kameranya dan mulailah memotret.




Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha

Pertigaan Map, Peta Jalan Kaki di Surabaya

18/09/16
Helow! Kumaha damang? Saya mau cerita tentang Pertigaan Map nih. Peta jalan kaki di Surabaya. Eh, sebentar dulu. Kok Surabaya? Ini kan Bandung Diary, ngapain bahas Surabaya?

Wah ketinggalan banyak ya, Bos :D Blog ini puya kategori Outside Bandung. Artinya perjalanan saya, Indra, dan Nabil di luar Bandung kami muat di sini. It's personal blog about food and travel, bukan portal tentang wisata Bandung saja. Yeah that's different :D

Well anyway, kembali ke Pertigaan Map.

Dua minggu lalu saya hadir di Spasial, Gudang Selatan, lokasi di mana kreator peta jalan kaki ini presentasi. Rupanya Anita Silvia dan Celcea Tifani roadshow presentasi tentang Pertigaan Map di beberapa kota. Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta adalah kota yang mereka datangi.




Peta jalan kaki yang mereka buat ada tiga macam. Terbagi dalam tiga kawasan yang kental aroma sejarahnya, Pertigaan Map adalah peta jalan kaki di: kawasan pecinan, kawasan eropa, dan kawasan arab.

Saya cerita dulu sedikit. Setahun lalu saya ke Surabaya, tulisannya bisa dibaca dalam judul A Quick Trip to Surabaya. Saya udah niat banget mau jalan kaki di tempat-tempat bersejarahnya. Termasuk foto-foto dan lihat rumah tuanya. Saya searching di internet peta jalan kaki dan rutenya, termasuk itinerary. Sampai saya baca sejarah kota Surabaya segala. Hasilnya saya berlabuh di situs bernama C2Olibrary. Masalahnya saya butuh rute nama jalan juga, bukan cuma itinerary dari ke A lalu ke B. Saya butuh petunjuk arah, bukan cuma susunan kunjungan. 

Karena saya punya buku Jelajah Kota Pusaka karya Emile Leeshuis, saya pake peta dari buku ini untuk berjalan kaki menyusuri bangunan tua di Surabaya. Yes, 1 dari 9 kota yang ia bahas di bukunya adalah Surabaya. Peta jalan kakinya sangat detail dan runut. Sayang sekali bukunya gak praktis untuk saya tenteng selama perjalanan di Surabaya. Jadi saya fotokopi petanya dan bawa ke Surabaya sebagai panduan perjalanan. Hal yang sama saya lakukan juga waktu ke Yogyakarta. Tulisannya bisa dibaca di judul Kotagede

Berbekal informasi yang saya baca di situs CO2library dan peta dari bukunya Emile Lesshuis, saya-Indra-Nabil melenggang di kawasan bersejarah zaman kolonial di Surabaya. Sayang waktu berkunjung di Surabaya cuma 4 hari, itu juga kepotong harus lihat pameran dalam rangka kerjaan di sebuah gedung yang saya lupa namanya. 

Makanya saya pengen balik lagi ke Surabaya nih. Belum banyak rumah kuno yang saya lihat. Setelah tahu tentang peta jalan kaki buatan Peta Pertigaan Map ini, ya makin pengen saya ke Surabaya. Sudah jelas terbagi per kawasan pula petanya.

Menariknya lagi, Anita dan Celcea membagi rute ke dalam tiga tipe: short, medium, dan long. Berikut pilihan estimasi durasi dan itinerarynya. Wuah! Ini kok bagus banget sih heuheuheuheu....




Penjelasan sejarah per kawasan tercantum dalam peta, namun secara umum saja. Keterangan perbangunannya ada juga kok di daftar tempat. Sebenarnya kalau mau lihat dan memotret bangunan kuno aja sih gak masalah gak tahu latar cerita bangunannya apa. Saya juga sering begitu, sampai di rumah saya lihat lagi fotonya dan browsing tentang sejarahnya. Namun tahu nama gedungnya apa dan berdiri tahun berapa merupakan informasi perkenalan yang bagus juga sih. Paling enggak kebayang itu teh gedung apa dan setua apa.  

Dalam peta tercantum sapaan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Saya malah pengen banget ada bahasa lokal surabaya di situ, pasti kepake kalau saya mau jajan atau nanya arah dan minta izin foto kan. Ucapan terima kasih, permisi, mau nanya, dan sejenisnya itu. Karena emang kerasa banget sih kalau sedang berkunjung ke kota lain yang bukan berbahasa sunda, saya agak canggung kalau mau nanya-nanya dan kesannya orang kota banget. Kesannya songong gimana gitu :D so yeah, belajar berbahasa lokal sedikit sebelum bertandang ke kotanya menurut saya mah perlu.

Lebih nyaman lagi kalau ada penduduk lokal yang mau menemani saya jalan-jalan sih :D 

Satu hal lain yang saya suka di peta ini adalah bagian kovernya. Kovernya bergambar teralis dan pagar dari rumah-rumah tiap kawasan. Saya baru ngeuh, di tiap kawasan, pagar dan teralisnya berbeda. Pecinan dengan gayanya sendiri, Arab juga, Eropa apalagi. Masing-masing kawasan ada signature style dan kita bisa lihat dari bentuk pagar dan teralis rumahnya. Yang lucu cover kawasan Pecinan gak persisi, miring-miring gitu dan beda ukuran. Ternyata emang begitu aslinya, kata Celcea, desainer peta ini.

Warna tiap peta juga beda-beda. Celcea cerita tiap warna di kover adalah ciri khas yang mereka tangkap dari tiap kawasan. Pecinan dengan warna merah, Eropa warna Oranye, dan Arab dengan warna hijaunya.

Dari desainnya, peta ini terlihat matang sih. Saya baru lihat peta jalan kaki yang se-hip ini. Covernya dipikirkan segitu matang. Isi petanya ringkas sih, gak terlalu detail, tapi ya cukup untuk bekal berjalan kaki. Peta dan daftar tempat ada di halaman yang sama, jadi gak ribet bolak-balik. Penggunaan petanya juga cukup efisien. Masuk ke kantong saku celana bagian belakang.

Oya satu lagi, Pertigaan Map mencantumkan informasi yang masa kini banget sih: SPOT WIFI. Gak itu aja, ada informasi rumah makan yang menyediakan makanan berdaging babi, dan toilet. Oya satu lagi yang menurut saya sebagai orang gunung nih perlu banget, informasi tempat yang ber-AC! Hihihih terus terang aja, Surabaya adalah tempat yang buat saya tuh kayaknya mataharinya ada sepuluh. Panas banget. Waktu di Surabaya, kami sering ngadem ke tempat-tempat minimarket demi nyari AC. Fasilitas sedetail ini ternyata ada di peta Pertigaan Map. Gak nyangka hohoho.




Anita dan Celcea juga naro ikon jari berbentuk huruf dua yang artinya 2-minutes-walking-distance. Saya masih belum ngerti cara menerapkan jari berangka dua saya ke dalam peta ini sih. Masih bingung :D hehehe.

Begitulah peta jalan kaki di Surabaya dari Pertigaan Map. Saya belum tahu kekurangannya apa hahaha harus praktek kali ya. Cuma saya gak tahu kapan ke Surabaya lagi. Semoga dalam waktu dekat ya :D

Masih lama adan sebentar lagi ke Surabayanya gak masalah. Mengetahui bahwa ada peta kayak gini aja saya sih udah senang. Kota-kota lain juga semestinya bikin juga peta jalan kaki kayak gini. Emang sih gak banyak wisatawan yang mau strolling di pinggir jalan dan keluar masuk gang. Eh tapi ada kok. Saya, Indra, Nabil pasti jadi deretan orang yang pertama beli peta jalan kaki di kota mana pun di Indonesia.

Kesadaran mau berjalan kaki saat berwisata menurut saya sih perlu juga. Kalau sepengalaman saya, mesti meluangkan paling enggak satu hari untuk eksplorasi kota dengan berjalan kaki. Memang merepotkan dibanding tinggal naik kendaraan dan berkunjung ke satu-dua tempat sekaligus.

Tapi entahlah, saya dan Indra suka bangunan tua. Kami suka melihat hal-hal kecil dan detail sewaktu berjalan kaki. Motret enak, ngobrol enak, lihatnya juga enak. Gak semua orang suka wisata sejarah yang ditempuh dengan berjalan kaki, tapi bukan berarti gak ada. Dan menurut saya sih jumlah turis yang segmented kayak gini makin bertambah saja. 

Seru ah. Kreatif nih wong suroboyo. Senangnya lagi mereka datang ke Bandung jadi saya bisa beli petanya langsung. Oiya, satu paket isi 3 peta, harganya Rp 50.000. Cek ke Instagram @pertigaanmap atau email ke pertigaanmap@gmail.com untuk pembelian petanya ya.




Teks dan foto : Ulu