Social Media

Image Slider

#photographytalk

15/09/16
Saya memutuskan menulis tentang fotografi di blog ini di bawah label #photographytalk. Dua tahun lamanya saya pengen banget ada tulisan bertema fotografi di blog ini, tapi saya tunda-tunda. Lagian siapa saya berani amat membedah dunia fotografi. Fotografer juga bukan :D

Jadi saya minta Indra, pasangan saya, untuk menulis tema fotografi untuk blog ini. Terlepas dari fokusnya saat ini di dunia non-fotografi, pada dasarnya dia adalah fotografer. Dia kuncen kamar gelap waktu masih kuliah. Dia mengetuai sebuah unit fotografi. Karya fotonya terdapat dalam beberapa buku. Kamera analog dan kamera digital, ia menggunakan keduanya. Indra juga banyak membaca buku dan majalah fotografi yang saya gak baca. Belum lagi tumpukan koleksi DVD dokumenter fotografi yang ia tonton. Jadi menurut saya ia punya kedalaman makna terhadap benda bernama kamera yang saya belum miliki. 

Terus apa jawab dia waktu saya ajukan ide ini. "Gak bisa nulis," katanya. Bah! Pada akhirnya tema yang saya tulis dalam label #photographytalk ini hasil diskusi kami berdua. Heuheuheuheu.




Artikel #photographytalk bakal gak terbit secara berkala di hari tertentu sih. Kalau saya kepikiran temanya aja deh baru saya nulis :D 

Sebenarnya udah kebayang sih akan lebih bagus kalau teman-teman fotografer menulis dan dimuat di blog ini. Namun saat ini saya dalam kondisi gak punya kompensasi untuk 'membayar' tulisannya. We'll see lah. 

Saya mengenal beberapa orang yang punya ketajaman rasa dalam fotografi dan kerendahan hati saat memegang kamera yang sophisticated (dan tentu saja mahal :D). Di dunia masa kini di mana banyak orang yang berpikir bahwa kamera adalah kunci, saya adalah golongan yang percaya bahwa manusia yang megang kameranya adalah kunci.

Man behind the gun adalah kunci. Kamera cuma alat. Kualitas kamera sangat membantu tapi mari berpegang teguh pada kalimat dari Arbain Rambey yang saya kutip berikut ini: kamera terbaik adalah kamera yang kita punya. Baru saja kemarin saya membaca akun IG Amrazing yang berbunyi, kamera terbaik adalah kamera termahal yang mampu kita beli. Kamera seharga 200 juta atau 2 juta, kamera ponsel atau kamera DSLR, itu kamera terbaik yang kita punya. 

So let's start. I'm so excited, how about you? :D 






Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha Andriawan

'Ngopi' Menurut Definisi Orang Bandung

12/09/16
Orang Bandung yang saya banyak kenal adalah mereka yang gak makan nasi sebagai menu sarapannya.

Mereka mah pagi-pagi ngemil gorengan, kue-kue kecil, surabi, dan makanan jajanan pasar lainnya. Tidak ketinggalan segelas teh hangat dan kopinya. 

Istilah ngemil itu mereka namakan Ngopi. Yes, berasal dari kata 'kopi'.

Kalau orang Bandung ngomong 'ngopi', saya kira mereka mau minum kopi.  Emang minum kopi sih, tapi ada juga yang gak minum kopi, melainkan minum air teh. 


ngopi = nama kegiatannya
opieun = makanan yang dimakan


Suatu kali saya ikutan tur geotrek yang dipandu geolog T Bachtiar. Beliau bercerita dahulu ketika zaman kolonial, kawasan Priangan termasuk Bandung adalah salah satu penghasil kopi. Belanda menjadikan tanah di Priangan sebagai lahan untuk mendulang banyak uang.

Hasil tehnya bagus, hasil kopinya juga unggul. Pegawainya ya para pribumi. Gak cuma ngurusin tanaman kopi dan teh di perkebunan, mereka juga diperintah menanam satu tanaman kopi di halaman depan atau belakang rumahnya. 

Dahulu biji kopi dikeringkan di halaman rumah. Pagi hari sebelum buruh perkebunan berangkat kerja, mereka nunggu teman-temannya datang. Maksudnya biar pergi ke kebon barengan gitu. Sambil nunggu, mereka itu suka cemilin biji kopi yang berada di dekatnya.

Secara biji kopi tuh emang berserakan. Ada di mana-mana di sekitar mereka. 

Mereka juga melakukan hal tersebut saat sedang di rumahnya. Menggigit dan mengunyah biji kopi ini mereka lakukan sambil juga makan makanan yang lain.

Lama-kelamaan kebiasaan ini secara tak sengaja mereka sebut Ngopi.

Seiring waktu berjalan nih, istilah 'ngopi' gak melulu tentang gigit biji kopi. Lha zamannya berubah. Objek makanannya bergeser pula. Kebiasaannya yang enggak.

Seru ya. Kebiasaan yang berevolusi. Hehe.

Begitulah, butuh bukti literasi dan opini berbagai ahli sih untuk mensahkan cerita tersebut. Atau mungkin ada yang pernah mencatat dan menuliskan budaya ngopi ini secara resmi begitu? 

Kalo dulu ngopinya gigit kopi. Sekarang, ngopinya makan apa aja ditandemi dengan minum segelas air. 

Emang iya beneran. Ngopi di Bandung artinya bukan minum kopi, tapi ngemil-ngemil dan minum. Kopi cuma satu menu aja.

Kalo kamu ngemilin surabi dan teh manis, di Bandung kegiatan itu namanya 'ngopi'.

Dahulu Ngopi biasanya dilakukan pada pagi hari (subuh-subuh) atau sore dan malam hari. Sesuai jam istirahatnya para pegawai perkebunan. 

Sekarang kegiatan Ngopi mah random bisa jam berapapun. Selama makannya gak dilakukan bersamaan dengan makan nasi, maka disebutnya Ngopi. 

Dan orang Sunda kalau belum makan nasi namanya belum makan. Padahal menu ngopinya sudah beragam macam. Hahaha edan emang.

So next time kamu ke Bandung dan kami bilang 'ngopi dulu yuk' itu artinya 'hayuk ah nongkrong dulu, ngobrol-ngobrol sambil makan minum apaaa gitu'.

Sekali lagi nih, kalo orang Bandung bilang 'ngopi' itu artinya gak selalu 'minum kopi'. Kebayang kan ya? 







Teks : Ulu
Foto : Ulu, taken by Lenovo A6000 somewhere in Jalan Otista at 6.30 am

Kuotie di Kedai Kopi Bara di Cibadak, Enak Banget!

10/09/16
Cibadak ini buat saya udah kayak rumah kedua :D

Tempat belanja barang-barang dari usaha yang saya dan Indra rintis, ya di Cibadak. Makan bubur langganan, di Cibadak juga. Mau foto bangunan tua, deket Cibadak. Jadi ya waktu ketemu dengan kedai kopi yang oke di Cibadak, saya cuma merasa ini masalah waktu saja. Kami memang sudah berjodoh. Hahaha naon sih :D




Tampak luar, bangunan yang ditempati kedai kopi ini terlihat tua. Kuno. Klasik. Kopi bukan favorit saya, rumah kunonya lah yang memanggil saya. Berkali-kali hanya lewat saja, akhirnya hari itu datang juga. Saya masuk ke Kedai Kopi Bara.

Hari Jumat dan masih pukul 10 pagi. Saya satu-satunya pengunjung yang berada di Kedai Kopi Bara. Tempatnya tidak sekuno yang saya bayangkan sih, tapi masih okelah. Lagipula interior kedai kopinya juga menarik. Tipikal kedai kopi masa kini.

Seperti biasa saya keluarkan kamera. Kamera ponsel, maksudnya :D Gak bawa kamera DSLR yang biasa.

Supaya gak kelihatan cuma pengen lihat bagian dalamnya bangunan tersebut, saya pesan makanan dan minuman. Kuotie Goreng dan Moccha Frapucino dan Es Teh Manis. Totalnya 73K.

Saya dan Nabil memilih duduk di kursi bar, langsung berhadapan dengan baristanya Kedai Kopi Bara. Saya tertolong mainan yang tersedia di sini, Nabil anak saya kan sama dengan anak kecil lainnya. Gampang bosan. Supaya dia anteng, saya sodorin mainan Ular Tangga lah, Ludo, dan beberapa mainan macam bongkar pasang itu lah. Saya lupa namanya. Lumayan Nabil sibuk main selama...dua jam lebih :D

Karena saya gak suka kopi hitam biasa, saya pilih kopi versi kafe. Kopi rasa moka dikasih karamel dan susu dan es batu. Rasanya ya standar sih, sudah pasti enak. Manisnya gak bikin giung (giung = puyeng saking manisnya). Es teh manis juga standar.

Kuotie-nya nih yang enak, recommended kalau kamu ke Kedai Kopi Bara. Tenang buat kamu yang muslim, Kuotienya halal kok. Bentuknya kayak siomay goreng gitu, isinya bihun dan udang. Makannya dicocol ke saus warna hitam yang rasanya asin dan gurih. Enak banget! Cuma kurang nasi hehehe :D

Di Kedai Kopi Bara ini saya sekalian janjian dengan Indra. So sambil nunggu dia datang, saya baca-baca buku tentang kopi dan sejarahnya. Contoh bagus membunuh waktu hahaha. Saya gak main medsos, gak buka blog, gak update status. Saya baca buku :D

Well anyway, main-main lah ke Kedai Kopi Bara. Ada wifi, ada AC, dan berfoto-foto lah kalian di sana. Lucu banget tempatnya. Jangan lupa dibeli Kuotienya :)











Kedai Kopi Bara
Jalan Cibadak no 237 Bandung





Foto: Nurul Ulu, diambil dengan smartphone Lenovo A6000
Teks : Ulu

Menginap di Summerbird Bed and Brasserie

08/09/16
Hotel-hotel Instagram ini sedang menjamur di Bandung. Hotel yang instagramable biasanya hotel-hotel yang kamarnya customize alias tiap kamar beda interiornya. Jumlah kamar pun tidak yang sampai puluhan. Apalagi ratusan. 9 kamar cukup. 15 kamar cukup. 20 kamar cukup :D

Small and unique lah.

Ada satu hotel yang instagram banget dan saya pengen banget review. Summerbird Bed and Brasserie namanya. 

Saya belum banyak mereview hotel ala-ala Instagram sih di Bandung. Baru Cottonwood saja. Dan emang ya waktu saya masuk ke Summerbird, feelingnya sama kayak waktu saya di masuk ke Cottonwood. Tempatnya bagus banget, bukan fancy yang glamor sih. Ini lebih ke lucu-lucu gitu dari lantai yang saya pijak sampai langit-langit yang saya lihat. 

Cuma waktu di Summerbird, saya langsung ingatnya ke Hotel Adhisthana di Yogyakarta. Mirip sih auranya. 




Dan Summerbird tidak mengecewakan. Semuanya baguuuus! oke kita mulai aja resensinya yak.


LOCATION

Ada di sekitar Jalan Pasir Kaliki, tepatnya Jalan Kesatriaan. Menurut saya sih ini masih di pusat kota. Dekat dengan bandara, lebih dekat lagi malah dengan stasiun kereta api Bandung. 

Mall terdekat adalah Istana Plaza (IP). Mau jajan juga gampang, keluar hotel jalan dikit ketemu lapak Ayam Kampung Bakar/Goreng, Ceker Pedas, Cilok Daging, dan masih ada beberapa lainnya. Kalau mau jalan sampai ke Jalan Pasir Kaliki malah lebih banyak pilihan.

Kalau saran saya sih makan deh di Ayam Semar Pandawa di jalan Semar Buntu (Pandawa). Edan itu enak banget daging ayam bakarnya, sangat amat saya rekomendasikan. Teh manisnya juga enak, ala-ala teh manis di Yogyakarta gitu. 

Minimarket terdekat jaraknya 500 meteran lah, di Jalan Pasir Kaliki, dekat si Ayam Semar Pandawa itu sih. Kalau mau ke Pasar Baru ya masih relatif dekat. Ke Jalan Riau atau Dago juga gak jauh-jauh amat kok. kalau lama di jalan masalahnya palingan cuma di macet aja. 


ROOM

Gileeeh room oke banget! Saya sangat suka! Ini hotel pake jasa arsitek siapa ya, interiornya juga siapa ya. Bagus semua dari ujung ke ujung. Gak cuma bagus untuk mata, tapi juga sangat nyaman untuk saya bergerak di kamar, di lobi, di koridor, di lift, di tangga, di restoran, duh semuanya deh. 

Summerbird terdiri dari tiga lantai dan 28 kamar. 

Lobinya cantik banget. Pokoknya begitu masuk Summerbird pasti deh pengen langsung foto-foto. Meja resepsionisnya aja unik gitu. Masuk ke kamar, saya menginap di kamar Superior Rustic dan OMG senang banget ada di kamar ini. Seperti masuk ke kamar impian hihihihi :D 

Kamarnya gak luas-luas amat kok. Malah cenderung kecil, tapi pemanfaatan ruangnya keren deh. Penempatan meja, ranjang, lampu tidur, sampai jendela, semuanya enak dipandang. Juga tidak menyulitkan saya untuk bergerak. Bahkan pengaturan penerangannya juga oke banget. Gak terang-terang amat, cukup lah. Mau kerja bisa, mau tidur juga apalagi. 

Bednya gak terlalu empuk. Standar. Kalau bantal mah ugh enak banget saya suka. AC kamar juga oke, gak ada keluhan. WIFI mantap meski kadang naik turun sih, tapi gak lama turunnya. 

Kamar mandi, ugh lucu banget. Bentuknya memanjang dan disekat kaca dengan kamar tidurnya. Kacanya dong, tembus pandang hahaha :D Tapi ada tirainya kok kalau gak mau kelihatan ngapa-ngapain di kamar mandi dengan teman tidur kita :D Tapi kaca ini juga bagusnya memberi suasana lebih lapang ke kamar yang kecil itu. Gak berasa sempit. bahkan saat tirai kamar mandi diturunkan. Amenities lengkap tapi standar lah. Tisu, shampoo, sabun dua macam, sikat gigi dan pasta gigi, handuk dua, dan handuk keset. Air panasnya juga mantap banget. 

Masalahnya adalah kegiatan di kamar mandi terdengar sangat jelas ke kamar tidur. Pertama, kaca itu sih ngaruh kali ya, gak terlalu tebal kacaya. Kedua, pintu kamar mandi terbuat dari kayu berbuku-buku. Jadi suara dari kamar mandi tembus langsung ke kamar tidur hahahaha :D Adooooh ini kalau nginep dengan pasanganyang baru nikah agak-agak gimana gitu, juga kalau menginap dengan teman sih. Hehehe.

Anyway karena hotelnya instagram banget, so ya mereka punya paket foto prewedd.   


FOOD

Menu sarapan ada tiga macam: British, Continental, dan Traditional. Saya pilih British, Indra pilih Continental. Kalau nasi goreng dan mie goreng mah sudah terbayang ya rasanya kayak gimana :D 

Menu sarapan ini ala carte. Nanti pas check in ditanyakan mau menu sarapan apa, termasuk minumnya (teh dan kopi). Saya gak nyoba menu di restoran selain sarapan sih.

FYI, Summerbird ini selain hotel, dia berfungsi sebagai kafe juga. Restorannya ada dua, di lantai satu (dasar) dan dua. Kalau di lantai dasar penuh orang, baru restoran lantai dua dibuka. Nampaknya sih makanan di sini enak-enak. Ah ini baru asumsi, lain kali saya akan kembali lagi deh ke sini khusus buat makan doang. Kalau merhatiin rasa sarapannya sih, enak-enak. Harusnya makanan lain ya enak juga :D 

Kebanyakan di sini menunya western sih. Dari main course sampai dessert. Makanan di kafe bisa dipesan diantar ke kamar. 


SERVICE

Standar aja, resepsionis ramah seperti kebanyakan resepsionis hotel lainnya. Kinerjanya oke gerak cepat, check in gak makan waktu lama. 


BE CAREFUL WITH….

Kalau di hotel yang kamar-kamarnya custom begini harus hati-hati karena barang-barangnya tiap kamar berbeda. Dan itu kalau rusak, dendanya lumayan: Satu juta! 

So yeah saya perhatiin juga sih ini penginapan gak terlalu cocok untuk orang tua dengan anak kecil yang anaknya pecicilan banget :D Khawatir nyenggol gelas dan lampu meja sih :D 

Saya menginap di sini bawa Nabil sih dan masih baik-baik aja. Tapi ada kekhawatiran dia menyenggol sesuatu sih :D terutama waktu kami sarapan di restoran. Saya aja sih mungkin yang parno padahal gak akan kenapa-kenapa juga. Tapi kalau kamu pasangan baru tanpa anak dan menyukai desain yang modern dan urban, ya cocok ada di Summerbird. 

Kamar Superior yang saya inapi per malam ratenya 400ribuan, termasuk sarapan. Ada tipe Deluxe dan tipe Suite. Tiap kamar desainnya beda-beda. Untuk Superior ada Superior Vintage, Superior Rustic, dan Superior French. 



Summerbird Bed and Brasserie
Jalan Kesatriaan 11


Cara menuju Summerbird:


1. Kalau dari Tol Pasteur, arahkan kendaraan ke Jalan Pasir Kaliki. Dari Pintu Tol itu lurus saja. Nanti di perempatan pertama belok ke kanan (jalan pasir kaliki). 

Belok ke Jalan Pajajaran (kiri) - Jalan Cicendo (kanan) - jalan Kebon Kawung (kanan) - masuk lagi ke Jalan Pasir Kaliki (kanan) dan bersiap belok ke kiri sebelum SMA 6 Bandung. 

2. Kalau dari Stasiun kereta Bandung: Keluar di pintu utara (jalan Kebon Kawung) - belok ke kanan ke Jalan Pasir Kaliki - Belok ke kiri Jalan Ksatriaan. 

3. Kalau dari Bandara Husein : Lurus ke Jalan Pajajaran - Jalan Cicendo (kanan) - jalan Kebon Kawung (kanan) - masuk lagi ke Jalan Pasir Kaliki (kanan) dan bersiap belok ke kiri sebelum SMA 6 Bandung.















Foto : Indra Yudha
Teks: Nurul Ulu

Hari Minggu di Klenteng Satya Budhi

05/09/16
Pada waktu memotret, kampung adat dan tempat ibadah (selain masjid) adalah kawasan yang selalu membuat saya segan dan kikuk. Saya khawatir orang-orang yang tinggal di desa adat dan umat yang sedang beribadah menganggap saya sedang menonton mereka.

Faktanya adalah mereka bukan tontonan. Bagi saya mereka itu, euumm apa ya, berbeda saja. Berbeda dan unik.

Saking uniknya, saya pengen tahu lebih banyak tentang keseharian mereka. Mencari tahu kesamaannya dengan saya, melihat perbedaannya. Bukan buat dibanding-bandingin sih, tapi ya untuk sekadar tahu saja. Saya pengen 'melihat lebih dekat'.

Khusus di tempat peribadatan, jika berhadapan frontal dengan yang sedang bersembahyang saya memotretnya dari jauh. Jika mereka membelakangi saya, baru saya berani motret dalam jarak dekat. Saya teh selalu merasa serba salah kalau motret orang yang sedang beribadah.

Duh! Ini perasaan yang salah atau memang sudah seharusnya begini sih? Heuheuheuheu...

Perasaan yang sama saya rasakan saat datang ke sebuah vihara bersejarah di Jalan Kelenteng.

Komunitas bernama Gamboeng Vooruit mengadakan acara bertajuk Nganjang ke Klenteng (Berkunjung ke Klenteng). Klenteng yang kami datangi pada hari Minggu 4 September 2016 itu namanya Vihara Satya Budhi. Vihara pertama di Bandung.

Klenteng ini telah ada di kota ini kira-kira saat generasi ke lima di atas saya masih hidup, 130 tahun yang lalu. 




Klenteng buat saya adalah bangunan yang indah. Warna-warni dinding bertumpuk dan dekorasinya tabrak warna. Juga mencolok namun anehnya serasi dan memukau.

Diterpa sinar matahari, bangunannya tambah cantik. Berlatar mendung, bangunannya masih saja menawan. Ditimpa air hujan makin keluar aura misteri dan sakralnya.

Ukiran dan pahatan di klenteng juga edan bagus sekali. Kalau kata Indra, craftmanship orang Tionghoa ini emang ngeri. Kamu pernah ke Cina gak? Atau pernah lihat Klenteng lain selain Satya Budhi? Ukirannya sangat detail dan amat rumit. Tapi indah sekali.

Vihara Satya Budhi merupakan tempat ibadah umat Budha, Tao, dan Konghucu. Nama dalam bahasa cinanya adalah Hiap Thian Khiong. Istana Para Dewa, begitu artinya. 

Pendiri Klenteng Satya Budhi adalah seseorang bernama Tan Hay Hap.

Sewaktu saya tahu kalau di acara tersebut ada diskusi kecil bersama dua orang bapak-bapak yang keturunan Tan Hay Hap, saya gak mikir lama untuk daftar jadi peserta. Bapak-bapak itu : Pak Sukandi merupakan generasi ke empat dan Pak Jimmy adalah generasi ke lima. 

FYI, Tan Hay Hap adalah 1 dari 6 orang Tionghoa yang pertama tinggal di Bandung.

Kebayang gak sih betapa bangganya kamu kalau jadi Pak Sukandi atau Pak Jimmy? leluhurnya adalah pendiri klenteng pertama di Bandung. Udah gitu saudagar ngehits dan orang Tionghoa pertama pula yang tinggal di Bandung. Wow…sejarah kelas berat ada di pundak-pundak anggota keluarga Tan Hay Hap. 

Kepada kami, Pak Sukandi dan Pak Jimmy berbagi silsilah keluarga. Juga sedikit cerita tentang riwayat pembangunan klenteng.

Di sesi tanya jawab, saya diam saja. Hanya mendengar lalu lalang pertanyaan dari peserta lain.

Terus terang aja sih sesampainya di rumah saya menyesal bukan main. Saya punya pertanyaan untuk mereka berdua, tak sempat saya tanyakan. Karena pertanyaannya baru kepikiran waktu saya sudah duduk di bangku bis kota dalam perjalanan pulang ke rumah aheuheuheuheuheu…

Apa pernah ada yang cerita alasan Tan Hay Hap pindah ke Hindia Belanda?

Apa mereka menyimpan koleksi foto Tan Hay Hap?

Legacy apa yang mereka peroleh dari leluhurnya tersebut?

Apa ada ritual khusus dalam keluarga dan klenteng terhadap Tan Hay Hap?

Apa kisah hidup yang nenek kakeknya ceritakan tentang Tan Hay Hap?

Keistimewaan apa yang mereka dapatkan karena status keturunan Tan Hay Hap?

Bagaimana cara keluarga meneruskan kebanggaan pada generasi termuda dalam keluarga terhadap jasa Tan Hay Hap?

Pertanyaan-pertanyaan ini cuma menggantung di langit-langit bis kota yang saya tumpangi :D Entah kapan akan bertemu lagi dengan Pak Sukandi dan Pak Jimmy. 

Di antara perasaan saya yang segan dan kikuk, tak saya sangka sambutan dari para punggawa Klenteng itu sangat amat santun dan menghangatkan. Bagai berkunjung ke rumah saudara saja rasanya.

Kedua bapak itu bercerita seperti tanpa koma dan titik. Meluncur terus ceritanya mulai dari jabatan kapitan, makam di Cikadut, kebon jati, kontraktor Bun, hingga pada hal detail-detail di dalam klenteng.

Tur di dalam klenteng tidak saya ikuti karena di acara ini saya mengajak bocah cilik yang pecicilan. Pelajaran hari itu adalah anak saya masih terlalu kecil untuk dibawa ke tempat-tempat serupa Klenteng. Heuheuheu :D


Pak Sukandi, generasi ke lima Tan Hay Hap

Konon nama Klenteng muncul begitu saja, terbentuk secara fonetik kali ya. 

Tiap hari, tiap sore pukul enam, dari dalam vihara terdengar bunyi dari alat bernama Genta. Bunyinya 'teng! teng! teng!'. Bunyi ini merupakan pertanda vihara tutup. Umat yang beribadah dipersilakan keluar Vihara.

Bagi yang mau ke Vihara pun sudah tak bisa. Saking masih sepinya Bandung waktu itu, warga Bandung di luar Klenteng bisa dengar suaranya. Terbiasa dengan suara Genta, secara tak sengaja mereka menyebut nama vihara tersebut dengan panggilan Klenteng.

Klenteng Satya Budhi terdiri dari tiga bangunan. Bangunan utama yang legendaris ada di bagian tengah. Menurut salah seorang narasumber pemerhati sejarah Tionghoa, Sugiri Kustedja, Klenteng Satya Budhi termasuk bangunan cagar budaya klasifikasi A. Artinya bangunan ini dilarang diubah. Bangunan legendaris yang wajib dilestarikan dan dilindungi. 

Pak Jimmy bercerita. Pada waktu pembangunannya dulu, Tan Hay Hap bermaksud mendirikan klenteng di daerah Kebon Sirih. Pemerintah Kolonial tidak memberi izin pembangunan karena orang-orang Tionghoa sudah mereka kasih wilayah khusus di Bandung sebelah Barat.

FYI dulu itu pemerintah kolonial emang membagi wilayahnya per etnis deh. Kalau di Bandung, orang Belanda tinggal di kawasan Bandung Utara. Batas wilayahnya rel kereta api stasiun. Kebon Sirih itu masih termasuk kawasan mereka. Orang Tionghoa di daerah barat, pribumi di bagian selatan. 

Akhirnya Tan Hay Hap memilih membangun tempat ibadah di tanahnya di kebon jati. FYI, tanah beliau di kebon jati luasnya 2 hektar.

Pak Sukandi membenarkan kisah bahwa dahulu pada masa leluhurnya masih hidup, kawasan ini merupakan hutan kecil yang terdiri dari pepohonan Jati.

Seiring berdirinya Klenteng, tanah-tanah yang ada disekitarnya dihibahkan untuk kepentingan bersama umat Tionghoa. Di antaranya sekolah. 

Tan Hay Hap terkenal sebagai saudagar tersukses di Bandung. Pertama kali datang ia berlabuh dan tinggal di Cirebon. Namun ia tak menyukai cuaca panas di kota pelabuhan tersebut. Ia pindah ke Bandung dan tinggal di daerah Kosambi. 

Di Tiongkok ia berdagang beras dan punya tempat penggilingan beras. Pindah ke Hindia Belanda, Tan Hay Hap meneruskan bisnisnya tersebut. Dia bahkan mengembangkan bisnisnya lebih luas lagi, membuat pabrik tepung tapioka. Dahulu lokasi toko dan pabrik miliknya ada di Kosambi.

Ngomong-ngomong, kalau kamu lihat gedung tua di Simpang Lima yang sekarang jadi restoran bernama Lekker, itu dahulu adalah toko beras milik keluarga Tan Hay Hap. Gedung Seni Rumentang Siang di Kosambi, itu dahulu rumah keluarga Tan.

Saking laris manis barang dagangan Tan Hay Hap, pemerintah kolonial memberinya izin membangun rel kereta dari Kosambi sampai ke Cikudapateuh agar angkut berasnya mudah dan cepat.


Pak Jimmy, generasi ke empat Tan Hay Hap

Untuk membangun Klenteng Satya Budhi, Tan Hay Hap memboyong kontraktor, ahli pahat, dan tukang kayu dari Cina. Kontraktornya bernama Bun Sun Choi. Anak perempuan terkecilnya ia nikahkan dengan Bun.

Berikutnya keluarga Bun melahirkan keturunan yang jadi kontraktor juga. Mereka membangun gedung-gedung bersejarah di Bandung, di antaranya gedung UNPAR dan UNPAD, renovasi Gedung Merdeka, Vila Mei Ling di Sangkuriang (Siliwangi), dan masih banyak lainnya tapi saya belum tahu apa saja.

Kocek untuk pembangunan klenteng gak dari dana sendiri kok. Ia menghimpun dana dari para donatur di luar Bandung juga. Ada yang dari Cirebon dan Lampung. Pembangunan klenteng ini nampaknya pembangunan swadaya. 

Btw, waktu mendengar cerita keluarga Bun tersebut, Indra ngomong sama saya. Kata dia seharusnya ada satu buku khusus yang membahas tentang kisah Bun dan keturunannya. Arsitek gedung-gedung bersejarah di Bandung kan kebanyakan orang Belanda. Kayaknya kami perlu tahu deh kalau ada kontraktor Tionghoa juga yang memberi warnanya pada gedung-gedung bersejarah di Bandung. 

Berada di Klenteng, kami dilarang memotret di bagian dalam. Hanya boleh moto bagian luarnya saja. Belakangan kata beberapa peserta boleh motret di bagian dalam klenteng, tapi tanpa blitz. Saya coba moto 2-3 frame habis itu gak mau lagi. Perasaan saya makin kikuk gak enak heuheuheueheu. 

Jadi ya begitu lah acara di Klenteng. Bincang-bincang dan memotret. Dari mulai cuaca cerah sampai dengan hujan.

Hari itu adalah semacam hari di mana saya bisa lihat kalau Indonesia terdiri dari saya yang berkulit sawo, mata belo, beragama Islam dan Pak Sukandi yang berkulit putih, bermata sipit, penganut Budha. Dan kami baik-baik saja, berjalan beriringan tanpa saling menunjuk-nunjuk siapa yang paling berhak masuk surga.

Mengutip kalimat dari Pak Jimmy kepada kami semua : saya anggap semuanya saudara di sini. 

Sungguh sebuah pengalaman 'melihat lebih dekat' yang menyenangkan di Klenteng Satya Budhi. 















Foto-foto lebih banyak dapat dilihat di fanpage Bandung Diary. Sekalian difollow juga yah hehehehe. Hatur nuhun!

Komunitas Gamboeng Vooruit bisa diikuti kabarnya di Facebook.

PS: catatan sejarah di atas boleh dikoreksi. Terutama penulisan nama. Saya mencatat cerita Pak Sukandi dan Pak Jimmy, tapi gak kroscek data nama. Ini kalau saya adalah wartawan, saya udah dikepret pemrednya kali ya heuheuheu. So yang mau koreksi langsung komen aja di bawah ya. Terima kasih :D







Teks : Ulu
Foto : Nurul Ulu, Indra Yudha

Makan Siang di Legoh

31/08/16
Kalau kamu orang yang tinggal di Bandung, orang Jakarta yang sering ke Dago, fans berat sebuah band bernama Koil, kamu muslim, sangat concern tentang asal usul makanan dan membaca judul ini, ada kemungkinan kamu akan bertanya: EH LEGOH HALAL GAK SIH?

YES SEKARANG LEGOH HALAL 100%!

Sejak bulan puasa 2016, Legoh mencopot menu-menu berdaging babinya. Jadi kalau kamu muslim dan masih ragu-ragu untuk makan di Legoh, please don't. 




Emang sih sebelumnya ada menu non-halal. Sebenarnya Legoh mengklaim memasak dua jenis masakan tersebut di dapurnya (menu halal dan non-halal) secara terpisah. Harusnya gak usah khawatir lah bagi yang muslim. Faktanya masih banyak yang meragukan, dan lebih banyak yang ketakutan tanpa tahu faktanya. Ah yasudahlah, kadang kala saya merasa bangsa ini terlalu nyaman menjadi mayoritas jadi...ah yasudahlah. 

Well anyway, sekarang kamu yang muslim gak perlu ragu lagi makan di Legoh. Halal semua nih.

Waktu saya meet up dengan teman-teman dan makan siang bareng, kami memutuskan makan siang di Legoh. Menunya sih masih sama ya basednya masakan Manado karena latar asalnya pemiliknya sekaligus chef, Leon Legoh, emang dari ibukota Sulawesi Utara itu. 

Tahu gak, saya gak pernah tahu kalau Legoh ini makanannya khas Manado campur-campur rasa Sunda. Karena saya biasanya selalu pesan kwetiaw. Saya pikir Legoh ini citarasanya oriental :D 




Hari itu saya milih keluar dari zona aman dengan menu makanan Legoh. Saya gak pilih kwetiaw lagi. Kali itu saya mendaratkan beberapa menu:

Cumi Mentega
Nasi Daun Jeruk
Brokoli Jamur
Pisang Aroma
Kwetiaw Hitam (tetep kwetiaw hahaha :D)
Es Alpukat Kerok

Banyak yaaaaak! Yes memang sebanyak itu saya makannya hahahaha. Pokoknya kalau kamu kenal saya secara langsung kamu bakal tertular tagline hidup saya dan Indra: bersama kita pasti gendut (dan bahagia). 

Oke kita beda rasa satu-satu!


Nasi Daun Jeruk - 8K

Oke. Nasinya gak pulen. Tapi kering. Kayak nasi yang kita tinggal semalam terus besoknya kita masak jadi nasi goreng. Nah begitu tekstur nasinya. Gak masalah sih karena mungkin nasi daun jeruk ini memang mirip nasi goreng cara masaknya. Cuma buat saya sih agak keras nasinya hehehe :D Walo tetap saja habis itu nasi seporsi. 



Cumi Mentega - 25K

First thing first, buat saya cuminya (yang tentu saja digoreng tepung dulu) terlalu oily. Rasa kuahnya manis dan asin juga asam. Menurut saya sih asinnya ini kuat banget. Agak mengganggu sih asinnya. Atau jangan-jangan itu asam yang berasal dari cuka ya. Meski agak ganggu, tapi rasanya tertolong oleh daging cuminya yang empuk dan gurih. So ya tandas saja satu porsi Cumi Mentega ini. Hahaha. 


Brokoli Jamur - 20K

Highlight dari semua menu yang saya pesan. Agak subjektif sih karena saya adalah penggemar jamur apapun jamurnya. Mau manis, gurih, asin, pedas, dan hambar sekalipun, saya cinta jamur. Yang penting bukan jamur mentah aheuheuheuheu :D Brokoli dan jamur champignon ini berpadu dalam kuah yang gurih dan hangat dari potongan cabai. 


Kwetiaw Hitam - 23K

Wah ini rasanya paling...apa ya, unik deh. Orisinil. Subjektif juga karena saya gak pernah makan kwetiaw hitam sebelumnya. Warna hitam berasal dari tinta cuminya. Bumbunya ramai rempah-rempah dan lagi-lagi sedikit rasa asin (atau itu asam ya hahahah adoooh lidah saya ini kudu dikepret :D). Saya gak bisa cerita banyak tentang rasa Kwetiaw Hitam ini bukan karena gak enak, justru sebaliknya. Makanan yang porsinya edan ini tidak mengecewakan dan kamu harus coba kalau ke Legoh.





Keju Aroma 10K

Aduduh ini mah jajanan orang Bandung yang entah kapan lahirnya. Entah kenapa juga namanya Aroma. Pokoknya bentuk makanan kayak gini nih, yang di dalamnya berkeju batangan kami namakan Keju Aroma. 




Setelah digempur rasa rempah-rempah dan cuka, makan Keju Aroma ini udah kayak makanan penutup. Bentuknya mungil, cantik meski garing, dan terlihat lentik dibanding makanan sebelumnya yang saya santap. Rasanya sudah pasti enak. Keju buat saya mah never failed. Apalagi di Legoh ini keju di Pisang Aromanya pajang dari ujung ke ujung, bukan cuma keju yang nongol di bagian tengah doang dan seuprit. Ini mah panjaaaaang dan padaaaat. 


Es Alpukat Kerok 23K

Waduh ini juara pisan. Sama seperti Pisang Aroma, makan Alpukat Kerok ini berasa kayak dessert sih. Malah lebih cocok emang jadi dessert ya. Daging alpukat dikerok dan dimasukkan ke gelas. Lalu dicampur dengan serutan gula merah (gula kawung). Terakhir masukan potongan es batu. Olala manis dan agak berat sih karena itu alpukat. But nevermind, saya gak pernah keberatan makan nasi lalu kwetiaw lalu alpukat. 




Cuma pastikan kamu menyediakan air minum macam air mineral. Karena alpukat bikin seret tenggorokan. Manis gula kawung juga bikin haus. Jangan pesan es teh manis, karena bakal tetap haus. Menutup ronde makanan pilihan saya dengan air mineral ini udah paling cocok. 

Legoh siang itu agak lengang sih gak kayak biasanya yang sampai waiting list. Pelanggan-pelanggan yang biasanya menyantap makanan berdaging babi di Legoh pada kecewa kali ya makanan favorit mereka hilang dari menu. 

Semoga ada rezeki lebih banyak untuk Legoh karena sudah memutuskan untuk memuaskan mayoritas umat agama di negeri ini.

Buat saya pribadi sih Legoh ini enak-enak makanannya. Dan porsinya itu lho, porsi cowok-cowok kuli hahahaaha :P Legoh ini ngasih pilihan menunya banyak bangetnget. Nasi Lengko, Sapi Cuka, Mie Yamin, Tahu Pletok, dan masih banyak lainnya. Kalau pertama kali ke Legoh mungkin bakal bingung mau pilih menu yang mana, cari aja yang menunya ditandai bintang. udah recommended jadi seru lah makannya. 

RM Legoh berlokasi di Jalan Sultan Agung no. 9 Bandung. Tegak lurus dengan Jalan Dago.

Saya kasih tahu juga ya kalau Legoh melayani delivery dan katering. Tinggal kontak aja:
Tlp : 022-4268108
WA : 0882-1220-5733
BBM : 55d6fa2a

Buat menunya kamu cek aja di websitenya Legoh dan media sosialnya:
Website : www.rmlegoh.com
Twitter : @rmlegoh






Teks : Ulu
Foto : Ulu

Waktu Sore-sore di Carnival Asia Africa 2016

29/08/16
Niatnya sih mau nonton karnival. Tapi gagal akibat capek dan ketiduran. Bangun tidur sudah lewat jam 16.00 dan parade karnival sudah lewat. Hahaha dua tahun berturut-turut nih saya gagal nonton karnival. Antara sebel dan pasrah saya milih yang kedua, pasrah :D 

Daripada manyun, saya-Indra-Nabil tetap datang ke Asia Afrika. Nonton sisa-sisa acara. Waktu masuk ke Jalan Asia Afrika, buset penuh banget banyak orang! Ah males lah, akhirnya kami melipir ke Cikapundung saja. Toh karnivalnya juga sudah berlalu. Hanya keramaian orang yang saya lihat. 




Di Cikapundung berjejer kios makanan. Kami jajan dan berjalan-jalan saja menunggu malam datang lalu kembali pulang. Gak sengaja bertemu teman, Alfian Widi, fotografer yang bertugas motret Asia Africa Carnival. Dia yang kasih tahu kami kalau ada pameran fotografi. Duh untung ketemu dia, jadi tahu kan ada pameran foto. 

Ah seru nih pameran fotonya, pikir saya. Satu per satu foto yang terpajang saya tekuri. Bagus-bagus fotonya, kebanyakan foto-foto itu dijepret di Asia Africa Carnival tahun 2015. Memandang fotonya saya sambil makan fries hasil jajan, ada banyak kios makanan gitu. 




Arena pameran fotografi di Cikapundung Riverspot tidak seramai kawasan Asia Afrika lainnya. Ada pop-up library di sela pameran tersebut. Wah seru juga nongkrong sebentar, baca buku. Kebanyakan buku-buku fotografi juga. Menyenangkan juga sore itu di Cikapundung. 

Waktu Magrib datang, akhirnya kami pulang. Tidak ada hal yang semegah karnival yang saya lihat, tapi sore itu terasa sangat hangat. Semoga tahun depan gak ketinggalan lagi karnivalnya :D hehehe








Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan kamera ponsel

Review Hotel Harper Purwakarta

27/08/16
Judulnya garing amat ya :D tapi hotelnya gak garing kok.

Di Purwakarta pada kunjungan bulan lalu, saya menginap di Harper Purwakarta. Di kota kecil ini tidak terlalu banyak hotel. Menurut saya sih Harper Purwakarta ini hotel yang paling trendy dan modern di Purwakarta.




Oke kita mulai langsung reviewnya. 


LOCATION

Perhatian kepada yang suka Sate Maranggi Cibungur, lokasi hotel ini dekat sekali dengan surganya makanan khas Purwakarta tersebut. Naik kendaraan sekitar 5 menit sudah sampai. Bisa bolak-balik makan siang dan malam dari hotel ke Cibungur tuh di sana hahaha :D 

Tapi karena letaknya bukan di jantung pusat kota Purwakarta, agak ribet sih kalau mau ke kota. Ya tapi gak seribet di Bandung atau Jakarta. Jadi menurut saya sih milih hotel ini bukan hal yang salah. Lokasinya masih strategis. Cocoknya untuk yang bawa kendaraan pribadi. Kalau kamu tipe yang ke mana-mana naik angkot, mending pilih hotel di sekitar Situ Buleud (Taman Air Mancur Sri Baduga).


ROOM

Kamar saya twin. Tapi teman sekamar saya, Reni, harus cabut malamnya karena pada dini hari harus terbang ke Belitung. So saya tidur sendirian. Bednya saya satukan saja biar tambah lega. Empuknya kasur dan bantal standar lah. Nyaman kok. Tapi gak bikin tergila-gila gitu, biasa aja.




AC kamar oke banget saya suka. Butuh dingin ya dingin, mau dibuat agak panas ya cepet juga perubahan suhunya. Jendela kamar juga lebar. Pemandangan kamar saya dari lantai 5 adalah sawah-sawah :D Selama di Purwakarta sibuk sih masuk ke hotel pas malem doang langsung tidur zzzzzz...

Eh enggak tidur deng. Lewat jam 12 malam baru tidur. Karena apa, karen WIFI KENCENG BANGET! hahaha nonton yutub lah. Download lah. Upgrade app lah :D Oke banget wifinya saya kasih jempol lima!

Kamar mandi standar juga. Amenities lengkap. Kebersihan bagus.  


FOOD

Wah menu sarapan paginya oke-oke. Rasanya gak mengecewakan, tapi enak banget juga enggak. So-so lah, so good. 

Menunya variatif. Prasmanan sudah pasti, aneka pastry dan buah-buahan. Minumnya standar tapi ada menu jus. Dan ada omelet dan persosisan. Cukup festive sarapannya. Pasti senang berlama-lama di restorannya Harper Purwakarta :D 




Dan lagi interiornya bagus. Agak industrial sih desainnya. Kalau saya senang lihat interior yang niat begini. Motretnya enak meski pake kamera ponsel. 

Untuk menu di luar breakfast, harganya standar harga hotel. Lebih dari rata-rata harga pada umumnya. Rasanya gak tahu euy karena saya gak coba. Harusnya sih enak ya, sarapannya aja enak-enak. 

Kalau mau jajan di luar ya palingan ke Sate Maranggi Cibungur itu sih. Di sekitar hotelnya (dalam radius jalan kaki), saya gak merhatiin ada mini market enggak. Rasanya sih gak ada. Euh ini cuma asumsi gak bisa dijadikan jaminan informasi ahuehueheuhue gimana saya teh review hotel gini amat :D heuheuehueheu...


SERVICE

Standar. Pelayanannya bagus tapi standar alias biasa saja alias tidak berkesan. Saya gak ketemu banyak pegawainya juga sih heuehuehuehue cuma resepsionis doang. 


FACILITES

Ada kolam renangnya! Horeeee! Kolam renangnya ada dua pula. Buat anak-anak dan dewasa. Lokasinya dekat dengan restoran hotel di lantai dasar. Kolam renang outdoor. Enakeun kolam renangnya, lumayan gede ukurannya. 




Saya bangun kesiangan, gak berenang dan langsung makan saja. Habis makan menyempatkan jalan-jalan sebentar sekitar kolam renang. Ckckck kata temen yang berenang, pagi tadi sunrisenya bagus banget. Kelihatan langsung dari halaman kolam renang. Ah euy saya masih tidur gak lihat sunrise, gak berenang...i missed a lot. Ya nanti balik lagi ke Harper Purwakarta saya gak mau kelewat sunrisenya lagi ah. 



Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan Lenovo A6000. Edit foto via VSCO