Social Media

Image Slider

Berkunjung ke Wisata Berlian Indo Wisata Permata di Dago

13/08/16
Sebenarnya hari itu acaranya makan siang di Dago. Tapi gak nyangka kalau restoran tempat saya bersantap satu gedung dengan toko sekaligus pusat pembuatan berlian di Indonesia. In fact, se-Asia Tenggara. Lebih tepatnya se-Asia. 

Jadi sehabis makan siang saya dan teman-teman berkunjung ke Indo Wisata Permata (IWP). Biaya kunjungan Rp 50.000. Biaya ini sebenarnya voucher makan di Skylight, restoran tempat saya makan sebelumnya. Aheuheuheu ada alasan untuk kembali ke sini, voucher 50.000 belum terpakai :D 

IWP berada di lantai tiga. Saya membayangkan pembuatan berlian itu rumit dan panjang prosesnya. Di IWP saya melihat prosesnya terlihat mudah saja. 



Keluar dari lift pengunjung kami masuk ruangan kosong, hanya ada flatscreen. Dalam layar tersebut ada film pendek tentang berlian di Indonesia, menceritakan tentang Martapura secara sekilas. Sebuah daerah di Kalimatan yang jadi pusat bongkahan batu berlian. Video ini semacam pengantar sebelum masuk ke ruangan pembuatan berliannya. 

Sudah lama tidak mendengar tentang Martapura. Terakhir kayaknya waktu saya masih duduk di bangku sekolahan. Menyenangkan juga bahwa melalui video tersebut ingatan saya disegarkan kembali tentang tempat yang jadi unggulan sumber dari the ultimate jewelry in the world ini. Martapura. 

Tapi sayang kualitas videonya gak bagus padahal kontennya oke, tentang Martapura. Hari gini gampang cari videografer yang sinematografinya keren-keren. Hunting di youtube atau Instagram. Video yang bagus itu kayak video buatan Tim Embara yang membuat film hits Epic Java dan Indonesia Kirana. 

Anyway, usai pemutaran film selama lk. 5 menit itu kami masuk ke ruangan berikutnya. Pembuatan berlian. Bagian antara koridor pengunjung dan tempat pembuatan terpisah jendela kaca. 

Tahu tidak ternyata tahapan proses pembuatan berlian gak sepanjang yang saya kira. Rumitnya sih iya, tapi dari luar kaca saya memandangnya kayak yang gampang. Ada empat proses sebelum bongkahan batu (material mentahnya) jadi berlian. Dari filter batunya sampai proses memoles berlian. Rentang waktu membuat berlian berkat kecanggihan teknologi di IWP hanya 1-1,5 jam. Mesinnya canggih-canggih, teknologi laser gitu deh. Sumber Daya Manusianya khusus didatangkan dari India yang memang skill mengolah berliannya sudah terkenal. 

Keluar dari ruangan pembuatan berlian, saya masuk ke toko berliannya. Uwooow berkilauan sekali. Perhiasan memang teman baik wanita. Melihat berlian-berlian itu saya seperti sudah mengenalnya lamaaaa sekali. Macam-macam bentuk berliannya. Indah sekali. Harganya sepadan. Tempat ini surga untuk kamu pecandu berlian. Highly recommended karena tempatnya yang private, sejuk, dan luas. Belanja perhiasan di sini nyaman banget sih kayaknya, kemarin saja saya hanya melihat-lihat sudah senang, Apalagi kalau sambil belanja juga.. Pelayanannya oke. Saya sama sekali tidak merasa minder di sini meski hanya melihat-lihat saja.




Ratri teman saya nampaknya langsung hunting beberapa perhiasan. Beberapa kali ia memilih cincin yang ia sukai dan mencobanya lalu memotretnya. Dalam waktu dekat nampaknya Ratri akan kembali ke IWP hehehe :D 

IWP ini satu-satunya di Indonesia. Sekaligus the whole Asia. Biasanya toko perhiasan kan memajang perhiasan saja. Kalau IWP industrinya dari hulu ke hilir. Mereka yang cari bongkahan batu berlian, mereka juga yang memprosesnya jadi perhiasan, mereka juga yang menjualnya. Biasanya juga harga produk dari industri hulu-hilir seperti ini lebih terjangkau dari toko perhiasan pada umumnya. 

Saya sih akan merekomendasikan Indo Wisata Permata pada teman-teman dan kamu tentu saja yang baca blog ini. Bagian yang suka adalah wisata edukasi tentang berliannya. Di IWP ini prosesnya canggih sekali. Dengan cara tradisional proses menggosok berlian ini bisa seharian, teknologi membuatnya lebih cepat dan lebih bagus. Selama ini saingan Indonesia untuk bahan baku berlian di dunia adalah Afrika sih. Sementara itu skill memoles berlian yang dianggap terbaik bertempat di negara-negara Eropa. Ya saatnya Indonesia unjuk gigi nih.






Oiya harga termurah berlian di sini 1,5 juta. Termahal ya bayangkan saja sendiri, sky is the limit :D Murah apalagi mahal, IWP menjamin kualitas berliannya berada di kelas excellent. 

Menurut saya sih ini atraksi baru di Bandung (dan Indonesia) yang sangat potensial. Bahan baku dari negeri sendiri, berkolaborasi dengan tenaga terlatih dari India, disokong teknologi canggih pula. Untuk pecinta perhiasan atau yang sedang hunting perhiasan terbaik utamanya berlian, IWP highly recommended. 


Indo Wisata Permata
Kompleks Citra Green
Blok N no 1-10
Dago Atas

Instagram : @iwp.bdg

Buka setiap hari
09.00 - 17.00

Biaya masuk Rp 50.000


Cara Menuju Indo Wisata Permata




1. Arahkan kendaraan ke Dago
2. Nanti di Terminal Dago bersiap belok ke kiri, menuju kompleks Citra Green. Hati-hati jalannya menukik tajam dan menanjak. 
3. Masuk ke kompleks Citra Green, lurus saja, Indo Wisata Permata ada di sebelah kiri jalan di samping Stanford School. 
4. Kalau naik kendaraan umum: naik Angkot jurusan apa saja yang ke arah Dago, turun di Terminal Dago, lanjut naik Ojek. Tidak disarankan berjalan kaki karena jaraknya cukup jauh dengan kontur turunan dan tanjakan yang lumayan bikin capek. 




Teks : Nurul Ulu
Foto : Nurul Ulu

Catatan dari Acara Bersama Kementrian Pariwisata: More Digital, More Global

07/08/16
Pada hari sabtu (6/8/2016) saya memenuhi undangan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) yang acaranya berlokasi di Green Forest Resort. Tema acara tentang Wisata Halal. Sejujurnya saya datang dengan ekspektasi rendah banget. Acara kementrian kayaknya bakal membosankan & begitu-gitu saja.



Green Forest Resort

Instansi pemerintah yang menurut saya 'katak dalam tempurung' ternyata hari itu memberi saya pandangan yang berbeda. Sebaliknya, saya lah katak dalam tempurung itu karena asumsi yang saya simpan dalam kepala selama ini salah. 

Bicara tentang Wisata Halal, saya banyak apriorinya. 

Pertama: konsep wisata halal buat saya cuma pembeda-beda umat beragama. Buat apa coba, kok kesannya diskriminatif banget. Ribet amat sampai harus nanya sertifikasi halal waktu makan di restoran. Karena untuk saya pribadi sih kalau pengelola sudah bilang 'halal' ya sudah cukup lah gak usah minta sertifikat halal segala aheueuheuhue.

Kedua: muslim sudah terbiasa menyesuaikan dirinya dengan berbagai kondisi. Gak masalah lah jalan-jalannya di mana. Yang penting gak makan daging babi dan minuman beralkohol. Jam ibadah sholat juga browsing saja lah. 

Well, Saudara-saudari, justru di situ peluangnya. Kesulitan mencari tempat makan halal dan tempat beribadah adalah peluang bisnis! Wisata Halal is business opportunity, Wisata Halal is travel-lifestyle. Begitu kata Taufan Rahmadi yang menjadi narasumber dalam acara Kemenpar tersebut. 

Tapi saya ketemu hal lain yang membuat saya apatis. 

Pemerintah adalah tipikal instansi yang cuek dengan perkembangan zaman. Mana mereka paham pentingnya Digital Marketing macam branding di Instagram, Fanpage Facebook, jumlah Likes, jumlah Followers. Jangankan paham sih, Facebok Ads aja pada ngerti gak ya mereka?

Dan asumsi saya itu rontok semua di acara bersama Kemenpar ini. Ahahahaha :D Apriori saya menutup wawasan saya sendiri perihal Wisata Halal. Sepanjang acara waktu Taufan presentasi, saya menunjuk-nunjuk kening sendiri sambil berujar pada diri sendiri, "Ulu! Ke mana saja kamu selama ini!" :D 

Bagaimana cara Taufan mengenalkan Lombok Sumbawa dan Wisata Halal-nya? Saya bahas di bagian berikutnya yak. 




Sosialisasi Wisata Halal Bersama Kementrian Pariwisata di Bandung


Judul acara yang saya hadiri pada hari Sabtu itu adalah Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial. Terdiri dari dua sesi, narasumber sesi I didatangkan langsung dari Lombok, Taufan Rahmadi dan Siti Chotijah. Sementara itu Agus Wibowo yang pernah menjajal Wisata Halal di Jepang, menjadi narasumber di sesi II. 

Taufan adalah Creative Strategic Expert yang memimpin proyek Wisata Halal di Lombok Sumbawa. Dua tahun ia merintisnya, Lombok Sumbawa diganjar The Best Halal Tourism Destination 2015, mengalahkan dua raksasa pedagang Wisata Halal kelas kakap: Turki dan Malaysia. "Waktu nama Lombok Sumbawa diumumkan jadi pemenang di World Halal Tourism Destination Award, yang pertama kali saya lakukan adalah melihat raut wajah menteri pariwisata Malaysia," kata Taufan. Hihihi :D 

Siti Chotijah merupakan team leader dan communication strategy Volunteer Wonderful Lombok Sumbawa. Proyek Wisata Halal Lombok Sumbawa ini mengerahkan beberapa orang sukarelawan untuk bekerja secara offline dan online, menggaungkan wisata Lombok Sumbawa secara umum dan wisata halal di sana secara khusus.



Wisata Halal, Apa Itu?


Cakupan Wisata Halal ini terbilang luas dan berdasarkan pada kebiasaan umat islam. Wisata Halal menjual tempat-tempat wisata yang sama dengan wisata pada umumnya. Tapi ada beberapa hal yang menjadi skala prioritas dalam wisata halal ini:

1. Ketersediaan tempat ibadah yang mudah dijangkau.
2. Ada kamar mandi dan tempat berwudhu yang layak, terpisah antara perempuan dan laki-laki.
3. Penginapan yang menyediakan informasi label makanan halal food dan non halal food. 
4. Penginapan yang di dalam kamarnya ada informasi yang mencantumkan arah kiblat.
5. Pemberitahuan jam dan menyediakan waktu untuk ibadah sholat selama traveling.
6. Melihat dan mengunjungi atraksi yang tidak vulgar.
7. Tempat yang dikunjungi bukan tempat prostitusi dan bukan tempat hiburan seperti club-club yang membebaskan pengunjung laki-laki dan perempuan berbaur.
8. Jaminan 'everything is halal' sepanjang perjalanan sejak naik pesawat (kalau kendaraannya pesawat) sampai mereka kembali pulang ke tempatnya berasal. 

Selebihnya sih Wisata Halal mencakup hal yang sama dengan wisata pada umumnya. Seperti menyiapkan SDM yang tourist-friendly, kebersihan yang terjamin, sarana komunikasi yang bagus, dan infrastruktur yang membuat turis-turis nyaman. 

Jadi pada dasarnya sih kalau yang saya tangkap dari Wisata Halal ini sebenarnya sama saja dengan wisata pada umumnya. Hanya lebih spesifik saja. Membangun wisata halal = membangun wisata kebanyakan kok. Ujung-ujungnya kan daerah itu harus membangun daerahnya biar pengunjung betah. 

Bagian yang menarik adalah negara-negara maju di dunia ini paham kalau wisata halal adalah the next big thing dalam industri wisata. Australia dan Jepang, terutama Jepang sih, adalah negara yang aktif mengkampanyekan wisata halal. 

The Global Muslim Travel Index 2015 mengumumkan bahwa turis yang jenisnya segmented spendingnya mencapai 145 TRILIUN DOLAR AMERIKA. 10% dari pasar yang segmented tersebut adalah Muslim, berarti ada 108 juta turis muslim di dunia. Di tahun 2020 angka ini akan melesat jadi 150 juta muslim travelers. 

Seru juga mengamati Jepang yang niat banget mengedukasi warganya tentang keseharian umat Islam agar ketika turis-turis muslim ini tiba di tempat mereka, orang Jepang tahu bagaimana harus memperlakukannya. Bang Aswi, narasumber di sesi ke II cerita pengalamannya berwisata halal ke Jepang. "Di Karatsu, Fukuoka, waktu saya lagi jalan-jalan di kota dan tiba waktu sholat, saya tidak menemukan masjid terdekat. Yang menarik, warga di sana dengan ramahnya mempersilakan saya sholat di rumahnya, beralaskan Tatami." 

Jadi wisata halal bukan semata-mata tentang agama saja. Bukan tentang 'bagiku agamaku, dan bagimu agamamu'. Tapi tentang memberikan pelayanan yang excellent. Target pasarnya muslim kok, ya kuasai keseharian mereka dalam beribadah supaya mereka senang dan puas. UUD, Ujung-ujungnya Duit. Pelanggan senang, mereka akan kembali lagi dan share ke banyak orang. Pendapatan daerah meningkat, pendapatan negara bertambah. 

Terus saya jadi mikir, saya egois banget ya waktu mikir wisata halal cuma segregasi turis berdasarkan agama. Iya emang wisata halal dibuat mengacu dengan syariat agama Islam sih. Tapi gak sesempit itu juga maknanya. Bukan berarti orang non-muslim gak bisa datang ke tempat yang berkonsep Wisata Halal. 

"Halal Tourism adalah extended services pelayanan wisata, not religion tourism," ujar Taufan. 







Tahun 2014 turis muslim yang datang ke Indonesia dan menjajal wisata halal ada 2 juta orang. Negara sebelah, Thailand, tahu gak berapa jumlah turis muslimnya? 6 juta! Thailand gak main-main menangani wisata halalnya. Dan Thailand bukan negara bermayoritas muslim!  

Kita -yang luas negaranya edan dan penduduk mayoritas muslim ini- masih tertinggal jauh di belakang Thailand, Australia, dan Jepang. Tiap tahun angka pertumbuhan muslim travelers yang mencari gaya liburan ala Wisata Halal akan bertambah. 

Peluang bisnis banget, kan? Dengan mayoritas penduduk mayoritas muslim, tidak sulit untuk Indonesia menembus pasar wisata dunia. Masalahnya mau gak perbaiki infrastrukturnya, mau gak marketing gencar-gencaran di dunia maya?

Saya pernah mendengar cerita teman-teman yang traveling ke Malaysia dan menurut mereka pemandangannya indah tapi lebih memukau panorama di Indonesia. Masalahnya Malaysia rajin banget jualannya. Gesit marketingnya. Satu hal yang menurut saya harus kita tiru dari mereka. Malah harus lebih lagi lah. Iya gak :)



Wisata Halal di Media Sosial


"Waktu saya diminta Pemprov NTB untuk menangani Wisata Halal di Lombok Sumbawa, yang pertama kali saya lakukan adalah pendekatan melalui media, cerita Taufan. 

Taufan secara gencar membenahi fasilitas di Lombok Sumbawa sekaligus melakukan pendekatan ke berbagai media cetak dan media digital.

Pria yang pernah menjadi anak didik Alm. Harry Roesli ini membuat video travel Lombok Sumbawa. Tidak berhenti sampai di situ, Taufan secara intens mendekati pimpinan Garuda Indonesia agar video berdurasi 3 menit tentang Lombok Sumbawa itu tayang pada inflight entertainment maskapainya.

Taufan juga membentuk tim volunteer Wonderful Lombok Sumbawa.

Para relawan ini bekerja di dua lini: offline dan online. Tujuan pertamanya adalah sosialisasi tentang Wisata Halal di Lombok Sumbawa. Berbagai kegiatan dilakukan secara offline, baik mandiri dan dengan bantuan sponsor. Sementara itu tim digital bergerak terus menerus update konten fanpage facebooknya.

Pada intinya para relawan bekerja menyuarakan wisata halal ke masyarakat Indonesia umumnya pada masyarakat muslim dunia pada khususnya. Prinsip Taufan dengan aktifnya tim relawan Wonderful Lombok Sumbawa adalah menguasai media, menguasai digital, memberi respon, dan menembus pasar dunia.

Saat ini relawan Wonderful Lombok Sumbawa sedang mengejar target 1 juta Like di Fanpage Facebooknya. Sekarang baru sampai di angka 102K sih. Masih panjang jalan terentang, ayo dukung mereka dengan like fanpagenya yuk! Nih di Wonderful Lombok Sumbawa.

Lombok Sumbawa tidak berhenti branding sampai di Facebook. Tim volunteer membuat akun Instagram, Twitter, hingga Line dan Youtube. Hashtag #wonderfullomboksumbawa jadi keywordnya. 

Pada World Halal Travel Summit (WHTS) 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Indonesia mengirim Lombok Sumbawa sebagai kontingen perwakilan. WHTS adalah event terbesar yang berhubungan dengan industri pariwisata halal skala dunia. 

Di WHTS tersebut Lombok Sumbawa menjadi cover story dalam majalah Halal Travel Magazine. Menariknya lagi majalah dengan format e-magz ini tersebar di 130ribu jaringan pelaku industri halal seluruh dunia! 

Segala usaha telah dikerahkan, dalam perlombaan World Halal Tourism Award, sistem kemenangan berdasarkan voting. Malaysia sebagai pelanggan the best World Halal Tourism Award di tahun 2015 harus gigit jari. Lombok Sumbawa mendapatkan voting terbanyak, tidak hanya di satu kategori tapi dua kategori: Best world halal tourism destination dan best world halal tourism honeymoon dentination. 



Generasi Pesona Indonesia


Belajar dari formula volunteer Wonderful Lombok Sumbawa, Kemenpar ingin menerapkan hal yang sama di kota-kota lainnya. Membentuk tim sukarelawan yang bekerja secara online dan offline. Mereka ini yang nanti dinamakan Generasi Pesona Indonesia. Disingkat menjadi Gen PI. 

GEN PI inilah yang nantinya bersinergi dengan dinas pariwisata daerah dan kementrian pariwisata di tingkat nasional. Fyi, pekerjaan ini bersifat sukarelawan tak dibayar. Artinya bekerja sebagai GEN PI modal utamanya adalah komitmen. 

Kamu tahu Australia.com gak? Fanpage di Facebooknya aktif banget, Likenya aja mencapai 7 juta! Buset banyak. Pesona Indonesia baru 317K :D Basis krunya Australia.com itu volunteer juga. So kenapa enggak kita menerapkan hal yang sama. 


Nampaknya Kementrian Pariwisata sudah sadar akan pentingnya digital marketing. Makanya tagline kerja mereka sekarang "digital is personal, digital is global, digital is professional'. 

Jadi pada hari itu saya melihat orang-orang dari kementrian membahas jumlah Followers, Likes, Instagram, Fanpage Facebook, Twitter, dan Hashtag. Untuk saya semua itu terdengar revolusinoner di dunia birokrasi yang dalam persepsi saya adalah dunia yang kaku dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman. 

Hari Sabtu yang lalu adalah pengalaman seru dan berbobot yang saya peroleh dari sebuah instansi pemerintah. 

Kalau ingin bergabung di GEN PI kamu bisa kontak Bang Aswi
Like fanpage resmi Pesona Indonesia di Indonesia.Travel






Teks : Nurul Ulu
Foto: Nurul Ulu

Setapak Demi Setapak ke Curug Malela dan Cerita di Dalamnya

02/08/16
Dalam perjalanan jauh ditempuh dengan berjalan kaki, usaha satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah bersabar. Melangkah setapak demi setapak, tak tahunya sudah sampai di tujuan.

Dalam perjalanan model begini biasanya saya memikirkan banyak hal. Kecuali kalau ada teman ngobrol selama di jalan. Ya ujung-ujungnya membicarakan hal-hal yang tidak akan kami bicarakan jika situasinya berbeda. Pembicaraan yang sentimentil.

Dipikir-pikir perjalanan berjalan kaki jarak jauh itu memang melankolis. Seperti perjalanan saya di Curug Malela.

Menuju Curug Malela saya termasuk orang-orang yang mengekor di belakang. Terkadang berjalan sendiri, tapi ada kalanya berbarengan dengan teman-teman yang lain. 




Saya bertemu Pak Harnaka yang wajahnya selalu bahagia ketika melihat kupu-kupu atau capung. Seperti saya, Pak Naka juga memotret dengan kamera ponsel. Saya berbekal Android, ia menggunakan IOS. Kalau kamu pernah bertemu dengan orang-orang yang membuat kamu merasa dunia ini indah dan baik-baik saja, ya kira-kira begitu kesan saya terhadap Bapak yang satu ini dan istrinya. Happy terus bawaannya. 

Juga ada Ayu Kuke yang berjalan tak kalah santainya dengan saya dan membidik banyak hal dengan kameranya. Tak heran jika besok-besok hari saya akan ditag foto-foto keren olehnya di Facebook atau Instagram. Beberapa kali saya meminta bantuannya untuk memotret saya dengan latar pemandangan perbukitan, langit, dan awan.

Jadi begini, tiap kali pergi jalan-jalan biasanya saya sudah menyeleksi orang yang akan saya mintai tolong memotret saya. Males kan kalau fotonya miring atau wajah saya jadi buram hahaha. Kuke adalah orang yang dapat saya andalkan urusan moto memoto (muka saya) :D

Perlu saya sebutkan juga di sini bahwa saya menemukan anak kecil yang melesat ke sana ke mari dengan entengnya lalu ia mogok ketika lapar. Wira namanya, atau Jenderal Wira, begitu Kuke menjulukinya. Anak yang masih kelas 1 SD ini seperti tak ada lelahnya. Membuat saya merasa setua orang berumur 100 tahun saja. Dalam perjalanan dengan kontur menukik, dia masih gesit macam kambing gunung. Sedikit lagi mencapai titik perjalanan pulang saya melihat Wira tergolek kecapekan di punggung ayahnya. Di rumah Abah Karma, pos istirahat kami, Wira beraksi lagi. Macam gawai yang baru dicharge saja. 

Juga ada Ismi. Perempuan pendiam yang jarang terdengar suaranya. Ia berjalan seperti melayang, seperti tidak kecapekan. Terkadang wajahnya tersenyum dan tertawa, juga nampak sedang berpikir entah apa.

Ada pula Kang Budi, yang sepanjang jalan (terutama di dalam truk) tak pernah kehabisan cerita. Energinya selalu sama sejak berangkat hingga pulang.

Di Geotrek Curug Malela, saya bertemu lagi dengan Teh Mima. Kang Budi dan Teh Mima adalah teman perjalanan saya waktu di Jatigede. Wajah Teh Mima masih sama dengan tahun lalu saat saya berkenalan dengannya. Wajah-wajah senyum dan bahagia gitu. Sama kayak Pak Naka. 

Dua orang yang terakhir ini wajib saya sebut.

Pertama. Bapak T. Bachtiar. Kami menyapanya dengan sebutan yang mudah saja, Pak Bach. Beliau adalah orang yang memandu Geotrek ke Curug Malela. Dengan latar belakang ilmunya yang tingginya melebihi gunung-gunung mana pun di di dunia, Pak Bach adalah orang-orang yang diperbolehkan untuk jumawa dan merasa istimewa. Di manapun tempatnya, apapun situasinya. Tapi kakek-kakek muda yang satu ini memang berbeda. Pak Bach lucu banget, sabar banget, rendah hati banget. Perjalanan geotrek itu jadi semacam trip anak TK. Kami anak TK-nya, Pak Bachtiar guru TK-nya :D Guru TK yang menyenangkan!

Kedua. Budi Brahmantyo. Geolog yang rendah hati. Penjelasannya lugas dan sederhana. Orangnya selalu terlihat fit. Tegap dan penuh optimisme. Darinya saya tahu asal usul sebongkah batu dan kisah mula sebuah air terjun terbentuk. 

Lho kenapa saya malah mengabsen orang satu per satu ini hahahaha. Ayo kembali ke Curug Malela. 

Perjalanan ke Curug Malela ini adalah open trip yang terbuka untuk umum. Dilakukan pada hari Sabtu (30/7/2016), tripnya berjudul Geotrek Curug Malela. Diadakan oleh operator bernama Mata Bumi, tema geotrek menjadikannya berbeda dengan trip-trip umum lainnya. 

Jika sebuah perjalanan ditujukan untuk menyegarkan hidup kita yang membosankan, kalau di geotrek tujuannya bukan itu saja. Geotrek memuat penjelajahan dengan konten ilmu pengetahuan.

Dua pemandu Mata Bumi adalah Budi Brahmantyo dan Titi Bachtiar. Pak Budi geolog. Pak Bachtiar merupakan geograf.  Keduanya bagaikan batman dan robin. Nakula dan Sadewa.

Keduanya produktif menulis buku dan artikel di media cetak di tema-tema seputar kebumian. Mereka sangat aktif mengkampanyekan ilmu-ilmu bumi untuk orang umum kayak saya. Kamu browsing saja namanya di Google, pasti banyak bermunculan artikel-artikel karyanya dan berita tentang mereka berdua. 


Geotrek Curug Malela


Geotrek ke Curug Malela ini adalah yang kedua kalinya Mata Bumi adakan. Yang pertama adalah 6 tahun lalu, tahun 2010.

Curug Malela berlokasi di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Dari Bandung kami mencapainya dengan kendaraan tangguh, Truk Tentara, selama 3 jam saja. Setelah itu kami lanjutkan dengan berjalan kaki 1 jam (dan 2 jam ketika pulangnya, nanjak gak putus-putus jadi sedikit jalan banyak istirahatnya :D). 

Bukan perjalanan yang mudah. Terguncang-guncang di dalam truk, kepala saya jadi agak pengar. Turun dari truk seharusnya saya masuk kamar dan tidur cantik. Hahaha. Tapi tidak bisa tentu saja. Segelas teh hangat yang disediakan  di Rumah Abah Karma menghilangkan pengar saya. Juga potongan tempe dan sambalnya yang aduhai itu. 

Makan sudah, streching sudah. Trekking ke Curug Malela dimulai. Berbekal tempe dan ikan nila di dalam perut dan dua botol air minum, dari titik di rumah Abah Karma saya mengarungi perbukitan itu dengan pelan-pelan saja. 


Difoto Pak Bachtiar


Pak Bachtiar mengatakan bahwa Malela berasal dari bahasa Kawi. Artinya Baja.

Baja dalam arti (curug) Malela adalah metafora. Sebuah ekspresi kekaguman yang mengaitkan kemegahan dinding tebing dan kekuatan air terjun dengan Baja. Mengingat baja adalah benda yang kuat, tebal, dan berdaya tangguh. Begitu kesan orang dahulu terhadap air terjun ini makanya mereka menjulukinya Curug Malela. 

Bukan hanya Curug yang bernama Curug Malela. Ada juga Jukut (rumput) Malela untuk menggambarkan ukuran rumput yang tingginya lebih dari rumput biasanya. Lalu ada Keusik (pasir) Malela untuk mengungkapkan hamparan pasir yang berkilauan, bukan pasir standar gitu. Masih ada lagi, Cadas (batu) Malela yang menggambarkan batu yang tebal dan besar.

Kalau Hercules dan Rambo lahir di Tatar Parahyangan, mungkin orang Sunda akan memberi nama Malela untuk mereka. Hercules Malela dan Rambo Malela :D

Bagi saya Curug Malela adalah air terjun termegah yang pernah saya lihat secara langsung. Bukan dari layar televisi, juga bukan foto di majalah penjelajahan.

Saya sampai harus ambil posisi paling strategis untuk duduk diam beberapa menit dan hanya memandangnya, merekamnya kuat-kuat dalam ingatan. Indah sekali. Terpukau saya dibuatnya. Tiba-tiba jadi kangen Indra. Tahu kan credo 'ingin berbagi suka dengan orang yang kita sayang', ya begitu kira-kira perasaan saya waktu lihat Curug Malela :)

Ngomong-ngomong usai puas memandang lekat Curug Malela, saya turun ke sungainya. Seperti biasa kalau bertemu air terjun saya pasti menyapanya dengan mencelupkan kedua tangan terlebih dahulu ke dalam airnya. Semacam ritual berkenalan. Segar sekali airnya. Ingatan saya tentang 4 jam menujunya rontok tak berbekas.

Jika saya adalah pohon, saya ingin jadi pohon di tepi Curug Malela. Biar bisa lihat curugnya setiap hari. Kalau saya jadi manusia saya pasti bosan lihat curug yang sama. Tapi saya adalah pohon. Pohon tidak pernah bosan. Pohon adalah makhluk tersabar dan terbaik di muka bumi ini. 

Perjalanan pulang kembali ke truk tentara adalah perjalanan panjang. Selangkah demi selangkah melalui jalan yang menanjak, seperti tiada akhirnya. Namun persahabatan yang terjalin di antara tanjakan-tanjakan itu membuat saya bahagia.

Mulai dari ngomongin orang (ahahaha), menyemangati Teh Marlina yang semangatnya turun-naik, curhat isu percintaan (Ismi..ehm...), sampe bahas jenis rumput dan fungsinya. 

Bukan hanya pemandangan Curug Malela saja yang memukau, tapi penjelajahan, ilmu pengetahuan, dan persahabatan yang saya peroleh selama menuju ke sana menggenapi sebuah pengalaman trekking yang menyenangkan. 

Terbaca klise, tapi perjalanan menuju ke curug terbayar lunas pemandangannya. Perjalanan pulang dari curug -meski terseok hahaha- juga tertebus suasana yang hangat sesama peserta.

Lagipula ada beberapa orang yang umurnya jauuuh lebih tua dari saya tapi semangatnya masih membara. Jika Tuhan memberi umur saya panjang, saya ingin jadi seperti Pak Budi, Pak Bachtiar dan seorang peserta berumur 65 tahun yang masih sangat Malela itu. Umur lebih tua, berjalan lebih jauh. Dan tak lupa: rendah hati. 

Mata Bumi di Facebook. 
Titi Bachtiar di Facebook. 
Budi Brahmantyo di Facebook.




Leuwi Datar Gunung Halu, 2 jam menuju pintu gerbang Curug Malela. 
Rumah Abah Karma, tempat makan siang dan istirahat sebelum berangkat ke Curug Malela
Pak Budi, sedang menerangkan asal muasal Curug Malela.
Anak berbaju hijau adalah Wira si Kambing Gunung hohoho :D
Sudah makan, baru foto makanan :D


Kru Mata Bumi menyipkan webbing di titik-titik curam
Curug Malela di kejauhan
Pak Bachtiar dan saya berpose Melak Cangkeng
difoto Ayu Kuke






Pelajaran tentang Curug Malela
Lebar 60 m & tinggi 70 m


Walang Sangit. Dahulu digunakan sebagai pewangi dan penambah rasa untuk Sayur Kacang















Difoto oleh : Ulu
Edit foto: VSCO
Semua foto diambil dengan Lenovo A6000, kecuali foto saya dan Pak bachtiar yang dijepret Kuke.

Hari Minggu di Braga

01/08/16
Pada hari minggu (31/7/2016) komunitas Gambung Vooruit mengadakan acara Ngider Bragaweg. Saya daftar dong, mau ikutan. Gak sendiri, kali ini saya ajak Indra dan Si Wewet :D 

Gak nyangka orang yang ikut jelajah Braga ada banyak. Ya bagus lah animo masyarakat umum perihal jalan-jalan bersejarah ini bagus. 

Cuma sayangnya saya gak bisa mengikuti acaranya secara khidmat. Pertama, ada banyak pesertanya. Mendengar 1 orang bercerita di antara banyak orang agak susah. Kecuali saya ada di dekat narasumbernya. Dan itu yang saya lakukan di menit-menit awal, berusaha berdiri di dekat narasumbernya. Sisanya sepanjang acara saya keteteran karena ini si wewet gak bisa diam. Kedua, narasumber bercerita tanpa bantuan alat suara. Gak kedengeran suara narasumbernya kecuali saya ada di dekatnya. Mana jalanan berisik suara kendaraan juga. 

Jadinya ya sudah jalan-jalan kasual saja. Tidak terlalu banyak mendengar kisah tentang Braga yang Malia Albinia dan Pak Sam Askari ceritakan. Kami mengikuti rombongan di bagian ekor dan berulang kali duduk tiap ada bangku taman pinggir jalan yang kosong :D

Garis besar ceritanya adalah Braga merupakan kawasan belanja pada dahulu kala. Seolah-olah seisi mall Paris Van Java atau Trans Studio ada di Braga. Barang-barangnya eksklusif dan mahal. 

Pak Sam yang lahir tahun 1953 itu menceritakan satu per satu nama toko yang beliau ingat semasa kecil dulu. Dari banyak jenis toko yang ia sebutkan, toko buku adalah yang paling banyak. Ada Toko Maskot yang menjual buku-buku bertema 'kiri', Toko Tiara, Toko Djawa, juga Sarinah. "Bandung itu toko bukunya terbanyak", ujar Pak Sam. Entah dengan kota apa ia membandingkan kuantitas toko buku di Bandung ini. 

Malia sebagai penghuni lama Braga membawa kami ke Kampung Apandi. Secara tidak kebetulan, Apandi adalah kakeknya Malia. Sayang sekali rumah kakeknya terbakar, berikut dengan seisi rumahnya. Termasuk album foto dan piringan hitam. 

Dari titik pertama di KM 0 di Jalan Asia Afrika, perjalanan Ngider Bragaweg berakhir di pelataran Landmark di Jalan Braga. Kami bertiga duduk di bangku taman. Saya terkantuk-kantuk akibat perjalanan panjang sehari sebelumnya. Bocah wewet mulai cracky minta jajan (lagi). Dan Indra yang sama ngantuknya dengan saya :D

Saya sebenarnya menantikan acara jalan-jalan kayak gini secara reguler. Keliling Braga seminggu sekali, terjadwal gitu. Bukan sekali bikin lalu esok tiada lagi. Jadi bisa mewadahi orang-orang kayak saya yang ngantuk dan gak bisa menyimak dengan baik hohoho enggak ding becanda.

Maksudnya kalau ada trip jelajah Braga (dan jelajah area lainnya dengan konten sejarah di Bandung) secara reguler artinya bisa memberi kesempatan kepada lebih banyak orang yang berbeda-beda. Mungkin orang yang ikut jalan-jalannya lebih sedikit, 5-6 orang saja atau bahkan bisa jadi 1-2 orang. Tapi kegiatan yang sama jika dilakukan berulang-ulang efeknya akan terasa lebih panjang. Exposure lebih banyak.

Hal ini mengingatkan saya pada seseorang yang pernah berkata, bahwa menciptakan ide itu gampang, mewujudkannya lebih sulit lagi. Namun setelahnya kita akan bertemu hal yang jauh lebih penuh-perjuangan, yaitu ia yang bernama: konsistensi.

Iya tahu, ngomong (atau nulis) doang mah gampang. Ngerjainnya yang susah :P aniwei, foto-fotonya dikit, nampaknya mood hari minggu itu gak terlalu bagus euy. Ngantuk parah ahueheuheueheuheu....












Foto : Indra Yudha