Social Media

Jajan Gemblong Terenak di Pekalongan

12/10/25

Kuliner yang luar biasa ini bernama Gemblong Pekalongan. Dari tiga hari tiga malam berada di pekalongan, dua malam berturut-turut kami absensi rutin di sini di jalan hasanudin. 



Gemblong jl hasanudin nama resminya adalah Gemblong Mba Ismi. Mba ismi yang menyiapkan dan menghidangkan gemblong, suaminya yang jadi kasir. Mereka adalah generasi ke-4 penerus usaha buyutnya. 


"Kalau dulu ibu saya dagangnya jalan kaki keliling, sekarang saya dagangnya di sini aja diem, mbak," tutur mba ismi. 


Pedagang gemblong di pekalongan dahulu berjualan menjajakan dagangan berjalan kaki sambil melolong "mblong gemblooooong!"


Kini mba ismi dan suaminya berdagang tanpa bergerak alias menetap di jalan hasanudin. Dari rumah mereka berkendara motor. Mba ismi naik vario. Suaminya menyetir supra dan membawa semua barang dagangan dari rumah ke tempat dagang. Tidak lagi memanggil orang-orang karena pelanggannya datang sendiri ke jalan hasanudin. 


Mba ismi juga menyediakan nomor wa dan menerima pemesanan online. "Biar gak usah antre, mbak. Tinggal wa aja mau pesan berapa," jelasnya. 


Memanglah betul di sini jajannya antre lumayan. Banyak yang beli bungkus, ada juga yang makan di tempat. Mba ismi menyediakan kursi plastik pendek (bahasa sundanya Jojodog atau Dingklik dalam bahasa jawa) buat pengunjung. Ada lebih banyak pembeli daripada kursinya. 


Lapak dibuka mulai sore hari sampai malam. Saat kami berkunjung waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. 


Dalam satu pincuk gemblong seharga Rp6.000, berisikan irisan gemblong, kelepon, dan ketan putih. Ketan putih dicelup ke santan. Lantas satu pincuk gemblong tersebut dibanjur santan lagi dan ditaburi serundeng. Serundeng yang dimaksud adalah kepala parut yang sudah dicampur gula aren. 


Rasa santannya luar biasa hebat sekali. Kental dan gurih. Gulanya mantap manisnya nikmat. Terlebih lagi semua adonan ketan terasa pulen dan lezat.



Saya tanyakan pada suami mba ismi, beras ketan yang digunakan berasal dari mana. "Impor, mba" jawabnya. "Beras ketan sekarang banyak yang kurang (bagus), beli yang impor aja sekalian ketan thailand bagus-bagus," katanya lagi. 


Ketan lokal gak ada yang bagus sama sekali, Pak? tanya saya yang kepingin tahu banget.

 

"Ketan subang paling okelah kalau yang lokal," jawabnya. 


Proses menyiapkan gemblong ibarat upacara kuliner. Seremonial gemblong, kita sebut aja demikian. Tangan mba ismi bergerak seperti mesin-mesin pabrik yang bersih, tertib, dan teratur. Menontonnya seperti terapi. 


Beruntung sekali saya bisa terapi kuliner di sini. Dunia menyakiti, gemblong pekalongan mengobati. 



Photo Courtesy: Retna

Post Comment
Post a Comment