Social Media

Cerita dari Asrama Providentia

May 06, 2017
Berkunjung ke Providentia ini saya pergi bersama komunitas Heritage Lover. Acaranya dimulai sedari pukul 9 pagi - 1 siang. 



Asrama Providentia, Asrama Perempuan

Providentia adalah asrama perempuan. Gedung yang termasuk cagar budaya ini dibangun tahun 1932 dan bagian dari kompleks Biara Ursulin. Gedungnya masih satu kompleks dengan SMP Santa Ursula dan terdiri dari dua lantai. 

Pintu Providentia menghadap ke Jalan Supratman, pintu Santa Ursula berdiri menghadap Jalan Anggrek (Taman Superhero). Usia bangunan SMP Santa Ursula lebih tua dibanding Providentia, dibangun tahun 1928.

Pada mulanya misi menyebarkan agama katolik oleh para suster menjadi dasar keberadaan gedung ini. Mereka memulainya dengan membuat penampungan yatim piatu. Tempat tersebut berevolusi jadi asrama perempuan dan lembaga pendidikan.

Sejarah kelam pernah jadi cerita pilu Providentia. Kala Jepang datang dan menduduki Indonesia, gedung ini jadi kamp tawanan orang-orang belanda. Kompleks Providentia ini bagian dari kamp Cihapit, kamp tawanan terbesar buatan Jepang.

Bersama teman-teman, saya masuk ke dalam kompleks Prova. Tidak semua sudut kami boleh tengok. Hanya beberapa tempat saja.

Seperti ruang utama (untuk tamu). Jika pernah membaca serial cerita Malory Towers yang ditulis Enid Blyton, nah hawa ceritanya kurasakan saat berada di ruang tamu Prova. 

Ruang tamunya luas. Beberapa set meja kursi ada di sana berjarak, orang tua yang hendak menengok anaknya leluasa duduk. Perpaduan jendela, tinggi ruangan, bangku, dan meja terasa hangat, tapi entah kalau malam. 

Seorang suster memandu kami tur ruangan. Naik ke lantai dua saya berjalan paling belakang. Wah tangganya saja cantik sekali. Bagaimana menjelaskannya ya, art deco banget gayanya begitu? Coba dilihat saja fotonya di bawah artikel ini. 

Sebelum masuk area kamar, saya masuk ke perpustakaan mungil. Kudapati ada banyak novelnya Agatha Christie di sana. Meja luas ditaro di tengah ruangan. Bangku-bangku mengelilinginya. Apakah ini tempat belajar anak asrama? 

Perpus ini mengarah ke balkon Prova yang ikonik. Balkon yang fotonya kujadikan foto pertama artikel. 

Kami berjalan ke kamar asrama.  Menyadari inilah ruang privasi saya gak berfoto banyak. 

Lalu ada dapur dan ruang piano. Terakhir ada kamar mandi. 

Dari ruang tamu hingga kamar mandi saya perhatikan satu hal: tidak ada debu, tidak ada yang kotor, tidak ada barang bertumpuk. Rapi banget, apik sekali! 


Terus apalagi ya…

Oh iya, saya juga merasakan suasana tamannya yang asri di halaman belakang asrama. Sungguh tempat yang baik untuk merenung dan berdoa. Di bawah pohon yang meneduhkan, cuaca sejuk, suasana hening. Tempat yang cocok untuk bicara dengan diri sendiri. Atau dengan Tuhan. 

Saat saya pikir taman itu area terakhir, wah salah. Area Prova masih luas. Bahkan ada kompleks pemakaman di sana. 

Saking luasnya, pulang ke rumah saya cek di goggle map buat lihat skala Providentia. 

Di areal taman ada sebuah kapel mungil yang indah, nampak seperti rumah-rumah tepi hutan dalam dongeng-dongeng eropa. Rumah Doa namanya. Cantik sekali bangunannya.

Walau tempat yang saya sedang lihat saat itu bukan tempat-tempat untuk penganut islam kayak saya, terus saya ternyata bisa ada di situ, harus saya akui ada perasaan asing di dalam hati. Perasaan aneh yang gak lazim.

Rumah Doa


Namun tak bisa saya sangkal juga ada rasa sejuk dan damai melihat betapa damainya semua kondisi di taman ini. Pepohonan yang permai, lingkungan yang bersih, dan bangunan kuno yang aduhai menawan sekali bentuknya.

Idealnya memang begini tempat ibadah. Membuat kita merasa damai meski baru melangkah satu jejak di dalamnya. 

Namun ibadah di ruang-ruang 'nyaman' kayak gini buat saya hanya pondasi saja, pondasi yang kita gunakan saat berada di lokasi yang lebih kacau dan bersinggungan dengan perbedaan. 

Ngomong-ngomong masih di kompleks yang sama, terdapat kapel yang letaknya di ujung taman. Kapel ini bernama Mater Boni Consili, memiliki lonceng yang masih berbunyi di jam tertentu, jam 05.00, jam 12.00 dan jam 18.00.

Kami hanya melihatnya dari jauh. Tak boleh kami pandang dari dekat apalagi masuk ke dalamnya. Ya gak apa-apa. Namanya juga tamu, kami mengikuti gimana nyamannya pemilik bangunannya saja. Gak boleh motret pun saya nurut dengan senang hati. Hehehe.

Kembali ke asrama Providentia, kami berpamitan kepada Suster Pauline yang menemani kami tur Prova. Beliau berbincang banyak dengan Malia. Saya hanya mendengar saja. 

Sebelum pulang, kami sekalian aja mampir ke SMP Santa Ursula! Mumpung satu kompleks dan salah satu peserta tur adalah alumninya. 


Sebelum Pulang, Jelajah SMP Santa Ursula 

Hernadi Tanzil nama alumninya. Beliau bilang mau napak tilas. Ah ya kami ikut saja lah membuntuti Pak Tan, ceritanya sambil menyelam dapat ikan. Hehe.

Dahulu sekolah ini khusus sekolah perempuan. Sekolah Maria namanya. Bahasa pengantarnya bahasa belanda. 

Pada bagian gedung yang lama terdiri satu lantai saja. Di bagian belakang ada bangunan baru, nah itulah yang berlantai dua. 

Sekolah ini arealnya melingkar, lapangan ada di tengahnya. Nampak ada dua pepohonan besar yang dipangkas di sisi kiri dan kanan kantor guru. 

Di bangunan lama kita bisa lihat kolom-kolom artdeco. Cantik sekali. Di dinding juga menempel ukiran. FYI ukiran ini bukan hiasan ditaplok ke dinding, melainkan mengukir di dindingnya. 

Bayangin mencongkel-congkel tembok hingga membentuk pola berulang-ulang. Aheeuuu kebayang ya craftmanship tukang-tukang bangunan tempo dulu. Andai kemampuan tersebut sanggup dipertahankan, mungkin sekarang ada sekolah khususnya kali ya. Fakultas seni, jurusan mengukir dinding. 




Seperti Prova, sekolah ini bersih sekali.  Pulang ke rumah saya cerita ke Indra, spontan aja saya bilang ‘apa kita sekolahin nabil di smp  santa ursula aja ya?’ hahahaha gak mungkin, walo kami sangat sekasual itu, tapi ibu saya bakal bikin pagar betis deh kayaknya😁 

Berkat Pak Tan kami bisa masuk ke ruangan paling tua di SMP Santa Ursula.  Ruangan ini terdiri dari banyak kursi sepaket dengan mejanya. 

Keliling SMP Santa Ursulanya gak lama nih.  Berikut ini foto-foto Prova dari canon saya. 






Ibu Sita, alumni asrama Providentia yang membantu perizinan masuk gedung Providentia


Malia, koordinator Heritage Lover dan Lembang Heritage


Suster Pauline, pengurus asrama Providentia









SMP Santa Ursula



Belum selesai 😁
Karena keterbatasan kamera saya yang lensanya cuma 50mm, saya juga moto pake hape. Sori kalau kebanyakan foto hohohoho. Saya bermaksud memperlihatkan detail-detailnya, karena emang banyak detailnya hohoho. Siapa tau membantu teman-teman yang pengen masuk gedung-gedung ini tapi belum ada kesempatannya. Tapi kalo males lihat fotonya, tulisannya aja dibaca di bagian atas yak. Hehehehe.

Berikut ini foto-fotonya.


ruang tamu asrama Providentia






ruang baca asrama


ruang piano




SMP Santa Ursula


ruang menerima tamu, ruang tertua di SMP Santa Ursula






Teks : Ulu
Foto : Ulu
15 comments on "Cerita dari Asrama Providentia"
  1. wowowwww...puas lihat foto2 dan baca ceritanya, ngebayangin dulu disini gimana orang lalau lalang

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini kayaknya postingan dengan jumlah foto terbanyak hohohohoho :D

      Delete
  2. Wah masih terawat dengan baik meski sudah berumur puluhan tahun.
    Bener sih memang bangunan2 tua gitu kalo cuma diliat dr luar kayaknya ada yg kurang hehe
    Paling tidak, ada cerita2 mesku sedikit biar bangunan tsb keliatan hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih terawat karena emang dirawat. di bawah yayasan gitu & rapi organisasinya jadi secara finansial bangunan ini tersokong dengan baik :)

      Delete
  3. wouw..seruuuuu
    kalo mau tahu info soal tur heritage di Bandung kayak gini, lewat mana ya mbak? :-?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya lewat komunitas, mba. di instagram komunitas sejarah udah ada akunnya. mbanya tinggal di mana? bisa dibrowsing. kalo di bandung ada komunitas: Aleut, Lembang Heritage, Heritage Lover, Ulin Jarambah, dll. Instagramnya ada, Facebook Fanpagenya juga ada. Mereka selalu share info acara di akun-akun media sosialnya.

      Delete
  4. wah senang sekali membaca cerita dan melihat foto-fotonya, membuat saya alumni SMP Providentia dulu (SMP Santa Ursula sekarang )bernostalgia lagi di SMP dan Biara yang tidak akan saya lupakan ke asriannya... trimakasih telah mengunggahnya.. mengobati kekangenan masa dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sama-sama :) Terima kasih sudah memberi apresiasinya terhadap tulisan dan foto-foto saya :)

      Delete
  5. Maria irawati,BandungJune 17, 2017 at 3:01 PM

    Waktu tk dan sd saya sekolah disitu juga.Dahulu tk nya bwrnama santo yohanes,SD nya Santa Maria (kelas b) dan Santo yusuf ( kelas b).Dahulu smp santa ursula terkenalnya smp prova.waktu sekolah sd,setiap kelas punya wc sendiri- sendiri tidak campur.jadinya kebersihan selalu terjaga.Waktu tk kami sering di ajak jalan oleh ibu guru (murid dan guru semuanya perempuan),ke taman,dan di dekat makam itu ada lorong yang panjang yang pemandanganya ke jln.Supratman.Sejak tk kami di ajarkan kebersihan yang sampai sekarangpun kebiasaan bersih tetap terbawa.Dahulu sekolah sd lain belum ada pelajaran bahasa inggris,tapi kami di kelas 3 sd sudah mldi ajarkan.Setiap hari kami selalu di beri minum susu murni.Dan anak - anak yang sekolah disitu semuanya taat pada disiplin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bagus ya sekolahnya visioner. Ngajarin kebersihan dari kecil, emang kerasa & terlihat banget bersihnya dari ujung ke ujung. Mantap!

      Delete
  6. Terima kasih sudah memposting gedung ini, membuat saya mengingat kembali masa2 tinggal di asrama providentia, awalnya memang sangat menyeramkan tinggal disana, namun setelah lama sangat nyaman tinggal disana. Tempat yang sangat dirindukan :). Kalau dilihat lebih detail lagi taman belakang di asrama tersebut memiliki pintu untuk ke SMP Santa Ursula, SMA Santa Maria 1, dan SD Santa Ursula.
    Untuk info tambahan, hampir setiap ruangan asrama providentia punya nama tersendiri seperti ruang piano bernama ruang goreti, lorong kamar dekat perpustakaan bernama lorong Maria, ruang antara 2 lorong kamar adalah ruang saraswati, lorong kamar berikutnya adalah lorong Angela, tempat cuci yg kami sebut wasre dan masih banyak lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih sudah berkunjung ke blog ini :) Terima kasih juga untuk tambahan informasinya :) Saya berkunjung ke taman belakangnya dan sempat nongkrong di SMP Santa Ursula dan melihat pintunya. Hatur nuhun ya :)

      Delete
  7. saya menyesal dulu ga sekolah disana, padahal ditawari bapak, akhirnya saya pilih SMP Negeri, dulu saya khawatir saya yang hindu sulit diterima kawan yang katholik ah ternyata pikiran saya pendek sekali, sekarang saya menebus kesalahan itu dengan menyekolahkan anak anak saya di sekolah katholik ^-^

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah,,, rasa penasaran saya terobati setelah baca+lihat foto2 di blog ini, sama seperti cerita diatas,, sebelumnya saya sll penasaran tiap lewat jl. Supratman, Sy pikir itu gereja, tp ko sepi,, kesannya angker (mungkin karena bangunan tua) hmpir g pernah Sy liat kegiatan di area luar gedung selain security yg jaga,,, haah,, jd pengen masuk kesanaπŸ˜„

    ReplyDelete
  9. Asrama prova ❤️❤️ 2001-2003 sempat tinggal disana. Begitu banyak cerita. Seruuu bgt, saya muslim tp sangat di perlakukan baik oleh suster2 disana. Seperti contoh bulan puasa.. dpt jatah takjil dr Suster dan makanan sahur nya lebih mewah 😍.. blm lg acara ospek angkatan πŸ˜‚πŸ˜‚ bikin kita jd kreatif. Belajar ber organisasi jg diperkenalkan disini.
    Blm lagi kadang suka nakal melanggar aturan.. pulang telat ( karna ada jam malam ) jd alhasil sebagai hukuman di suruh jadi operator ( jaga telpon ) yg nyambung2in ke cluster masing2 ruang klo ada yg tlp. πŸ˜‚πŸ˜‚ terimakasih prova utk semua pengalaman berharga ini πŸ™πŸ»

    ReplyDelete