Social Media

Image Slider

Kemping di Bangbayang, Trekking ke Curug Cikidang

23 March 2019
Malam itu yang saya khawatirkan adalah asap rokok. Bukan hanya kami berenam yang tidur di dalam tenda. Ada dua tenda lainnya, diisi remaja-remaja desa yang mencari hiburan, di malam minggu.

Kami bertiga piknik ke desa di puncak bukit. Hampir 100 km dari kota Bandung. Letaknya di Desa Bangbayang Situraja, Kabupaten Sumedang. Dari jalan utama saja, jarak ke desa itu kira-kira 10 km.


Menuju ke sana melewati perbukitan. Jalannya horor. Bukan ada kuntilanak dan pocong, tapi tanjakan dan tikungannya itu lho.. Tanjakan panjang, abis itu jalannya nikung sambil nanjak pula!

Kalo kamu pernah ke Bromo, nah menuju Bangbayang mirip di sana kontur jalannya.

Kami bertiga, Kang Ichsan, dan Teh Mima, tidur di tenda yang berbeda. Nuhun buat Kang Ichsan yang minjemin tendanya pada kami :)

Malam di Bangbayang dan Makan Pohpohan

Jadi, teman kuliah Indra berkebun tanaman kopi di Bangbayang. Melihat potensi alam desanya, ia mengajak teman-temannya datang ke kampung itu. Gak mau maju sendiri, ia ingin melibatkan warga desa mengolah wisata Bangbayang.

Kang Asep nama temannya Indra itu. Waktu ke Jatigede, saya ikut tur buatan Kang Asep juga. Sok dibaca tulisan saya tentang jatigede di sini.

Kesan pertama mendapati pemandangan Bangbayang, indah sekali memang. Sejauh mata memandang hanya ada pucuk-pucuk bukit. Entah saya berada di ketinggian berapa. Di google map katanya 700anmdpl. Sama kayak Bandung.

Tapi sore itu hangat aja hawanya. Baru terasa dingin di atas jam 10 malam. 

Jam 6 sore kabut berdatangan. Udara mulai sejuk. Teh Mima mengenakan jaket. Tenda kami sudah berdiri. Alat pembakaran stand by, di atasnya ada ubi, jagung, ikan tenggiri, dan segelas kopi milik Kang Ichsan.

Kami juga ngemil jajanan Bangbayang. Kang Asep nampaknya mengundang warga untuk jualan di tepi lapangan. Ada cimol segala.

Highlight dari camilan di Bangbayang adalah keripik pisang. Terbuat dari Pisang Ro’ib. Rasanya manis banget, padahal gak pake gula sama sekali. Enak! 

Ada lagi namanya Sate Iwung, terbuat dari rebung. Pas dimakan, teksturnya seperti kol. Rasanya gimana? wuenak! Sate rebungnya dibumbuin sambal kacang. Pedasnya aja yang bikin gak kuat :D

Juga ada kopi Bangbayang. Biji kopi dari perkebunan setempat. Robusta kalo gak salah. Kami gak minum kopinya, Teh Mima dan Kang Ichsan yang minum. Rasanya gak tahu gimana, saya lupa nanya. Heuheu. 

Bila ada hal yang saya sayangkan di sini, itu adalah plastik sebagai kemasan. Dengan suplai berbahan alami di sekitar mereka, menggunakan kemasan daun (atau sejenisnya) pasti lebih bagus. Baik itu nilai jualnya, maupun dampak ekologinya.

Malam itu, Kang Asep menyuguhkan kami makanan besar berupa Nasi Liwet, Pepes Ikan, Asin, Sambal, daun singkong rebus, dan Pohpohan. Tapi itu terjadi jam setengah sepuluh malam.

Kami sudah isi perut duluan sehabis Magrib. Whehehehe. Dan tetap ikut makan besar juga hehehehe. Nikmatnya haduh jangan ditanya. Juaranya kombinasi ikan asin, sambal, dan pohpohan yang terasa begitu segar!

Malam itu kami adalah manusia blasteran kambing, makan nasi berkali-kali, makan daun lebih banyak lagi. Whehehe.

Rupanya bukan isu perngududan yang harus saya cemaskan. Gak ada bau asap rokok malahan. Tapi abg-abg tetangga kemping bernyanyi semalaman, memetik gitar. Berisiknya membuat susah tidur. Tenda mereka persis di sebelah kami.

Kubil tertidur pulas sejak ia masuk ke sleeping bag. Sementara saya dan Indra, susah payah biar merem. Wekekekek. Niat hati mau tidur diiringi suara alam. Daun yang bergesekan, tonggeret yang bernyanyi, hening yang syahdu. Boro-boro. Hahaha. Malah denger lagunya Armada dkk.

Tapi saya ingat saya sanggup tidur kok. Gak nyenyak tapi cukup enak dan bangun dengan perasaan senang. Karena pas buka tenda, di depan saya bukan pemandangan sehari-sehari kalo saya bangun tidur.

Ada tebing dan hutannya, lapangan bola (ya kali wekekekek), dan bekas api unggun. Kabut tipis mengudara. Udara segar berkuasa. 

Pagi di Bangbayang,  Trekking Melihat Puncak Tampomas

Kang Asep mengajak kami trekking. Lihat puncak Gunung Tampomas, katanya. Kami berpapasan dengan petani penyadap getah pohon pinus, terlihat bahan baku tersebut jadi tulang punggung warga selain gula aren dan sapu ijuk/uyun. 

Di sini nih permainan baru dimulai. Permainan yang menyadarkan saya dan Indra, bahwa kami kelamaan di kota, gak pernah olahraga, dan bobot badan udah kelebihan. Aheuheheu. 

Sebuah permainan yang 'menukar' kaki-kaki pegal kami dengan panorama alam pegunungan yang memukau.


Kubil ikut trekking enggak? Ikut dong :D 

Berbeda dengan kami yang kepayahan trekking, anak cerewet itu malah kayak kijang. Gak ada capek. Gak ada bete. Salut juga saya sama dia. Menerjang trek-trek terjal dan ekstrim gak ada keraguan sama sekali. Emang saya dan Indra bikin dia senang terus sih, kalo enggak wadoohhhh gawat hahahaha.

Di balik anak yang senang jalan kaki di galengan sawah dengan jurang di sisi kirinya, ada orang tuanya kepayahan hahahaha. Capeknya tiga kali lipat memang kalo hiking dengan anak kecil.

Gak apa-apa. Kami berdua senang sekali bisa kasih Kubil pengalaman baru. Mudah-mudahan kamu inget pengalaman kita hiking di Bangbayang sampai tua nanti, Bil.

Dua kali melewati sungai berbatu-batu kali, Kubil juga main air melulu. Terus terang aja, ketemu air kayak gini membuat kondisi saya segar lagi. Capek dan lesunya berkurang. Bukan cuma kaki dicelup ke sungainya, saya juga cuci muka. Hahaha. Gak ada orang mah saya mandi juga nih.

Airnya itu lho, bening, mengalir jernih, dan merontokkan perasaan-perasaan negatif. Pantes ya orang zaman dahulu terlihat damai, kalem, tenang, pasrah. Sehari-hari bersentuhan dengan air kayak gitu.

Menuju Curug Cikidang

Di sinilah saya ketemu pemukiman, Desa Bangbayang. Rumah yang dikepung perbukitan. Terpencil, jauh dari mana-mana. 

Rumah-rumah di sini kombinasi tradisional dan modern. Terlihat banyak bekas rumah panggung. Lantai kayu berganti keramik. Kayu bakar menumpuk di sisi rumah. Sepertinya saya harus menginap lagi di Bangbayang, menginap di rumah warga.

Untuk apa kayu-kayu itu, untuk masak kali ya? Jadi ingin lihat dapur rumahnya. Di kampung kayak gini mah masih bisa siduru kali ya.


Di belakang kampung mungil padat rumah itu, ada sungai besar. Lebar sekali. Di sungai ke-dua itulah kami main air lagi. Halaman belakang yang mengasyikkan. Sungai yang airnya jernih, perbukitan, pepohonan. Apa dulu Citarum kayak gini bentuknya? Bagaimana dengan sungai di Bandung itu, Cikapundung?

Sungai diterjang, kami pergi menuju Curug Cikidang.

Woh meski gak besar, air terjunnya eksotis! Bener-bener kayak mandi dibanjur shower. Shower raksasa. Saya juga ikutan dong kena airnya tipis-tipis. Kubil mah jangan ditanya, basah sebadan-badan! 

Di sini terasa bukan cuma perasaan buruk dalam hati yang terhempas air. Tapi dosa-dosa juga rasanya ikut hanyut. Segar airnya tuh masuk ke relung hati. Terasa damai.

Apa begini rasanya jadi pertapa? Mandi membersihkan diri dari dosa, dari rumitnya perkara dunia.

Saat kembali ke tenda, saya copot baju kubil dan menggantinya dengan raincoat, karena cuma itu yang ada di tas.  Heuheu. Sungguh pengalaman trekking yang menguji mental. Mental sebagai orang tua, tentu saja. Lain-lainnya sih gak ada masalah.

Sebelum pulang, kami makan lagi. Kali ini disuguhkan belalang goreng. Simeut nama makanannya. Renyah dan gurih, seperti makan udang goreng. Daun Pohpohan gak ada. Adanya daun singkong rebus.

Pulang ke Bandung, kami membawa setumpuk pakaian kotor dan otot-otot yang siap tegang esok hari. Benar saja, bangun tidur, sebadan-badan sakit semua. Kata Indra jangan diam aja. Justru badan harus tetap bergerak supaya ototnya mengendur dan sakitnya hilang. Alamak!

Wisata ke Bangbayang, Daftarnya ke Mana? 

Lebih tepatnya ke siapa. Ke Kang Asep aja. Nih nomor kontaknya: 0812.939.7391. Ini websitenya: Kampung Bangbayang.

Kalo diperhatikan lagi, trek di Bangbayang ramah buat keluarga. Tinggal atur-atur ambil jalurnya ke mana. 

Nah kalo kamu adventure junkie, bhahahahak di sana cocok banget! Seneng bersepeda di tanjakan dan turunan, ada semua di Bangbayang. Minta aja jalur-jalur ekstrim, pasti dikasih. Pemandangan mah jangan ditanya, indah sekali :)

Kalo mau kemping, toiletnya bagaimana? Ada dong. Bukan yang ideal seperti di rumah kita, tapi masih okelah. Gak ada komplen kalo saya mah. 




Kubil dan Kang Ichsan

Teh Mima dan saya :D
Dipoto Kang Ichsan



Dipotoin Kang Ichsan



Ajak Anak Traveling Biar Apa?

19 March 2019
Biar dia tahu kalo dunia ini kejam. Apalagi tinggal di negara berkembang kayak Indonesia.

Di rumah diajari, "nanti jalan kaki di trotoar ya," eh trotoarnya ga ada. Atau ditempati gerobak kaki lima. Atau dipake jadi parkiran mobil motor.

Dikasihtahu etika antre, eh pas ante diserobot bapak-bapak. Di Alfamart. "Bapak duluan ya. Cuma satu kok belinya," Wuasuuuu!

Di rumah diberi bekal ilmu dasar tentang buang sampah di mana dan bagaimana. Pas jalan-jalan, lihat tumpukan sampah. Sungai yang kotor. Orang yang buat sampah gitu aja.

Di rumah juga saya ceritakan tentang Zebra Cross. Eh pas jalan-jalan, mau nyebrang di zebra cross, gak ada motor yang mau selow.

Ajak naik angkot. Si angkot ngetemnya lama. Ada penumpang masuk angkot, eh dia merokok. Duduknya di depan, samping sopir. Asapnya ke belakang. Pura-pura batuk, ngasih kode yang merokok. Si perokok pura-pura tuli.

Ya pada dasarnya, jalan-jalan bawa anak dalam rangka ngasitahu ke dia bahwa banyak orang dewasa punya mata dan telinga yang normal. Tapi gak benar-benar mereka gunakan. Begitupun otaknya.

Tapi gak semua, Bil. Begitu saya bilang padanya.

Banyak juga kok yang anti plastik. Ada kok yang disiplin antre. Juga masih banyak yang nyebrang jalan di zebra cross.

Keburukan di dunia luar ada banyak, kebaikan apalagi. Nilai-nilai yang diajarkan di rumah, berbenturan dengan sifat dan sikap orang lain. Terbentur, terbentur, terbentuk. Begitu kata Chairil Anwar, penyair sableng nan idealis.


Lima Hari Jelajah Jalan Raya Pos di Jawa Tengah

10 March 2019
Lima hari. Terlampau singkat untuk menjelajahi sebuah jalan legendaris seribu kilometer itu. Ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan lama-lama euy. Lima hari sepertinya waktu kompromis berkunjung ke kota-kota kecil di jalur bersejarah pulau Jawa ini: Jalan Pos, Jalan Daendels.

Terbatas waktu, edisi jelajahnya di Jawa Tengah dulu. Gak apa-apa, dicicil sedikit demi sedikit sebelum sampai ke Panarukan. Sepanjang tahun 2019, tujuan traveling saya demi satu hal saja. Jalan Pos. 

Saya bermukim di Bandung. Jalan Raya Pos melintas di kota ini. Bila teman-teman bertandang ke Jalan Asia Afrika, itulah highlight titik Jalan Raya Pos di Kota Kembang. Dari tadi nyebut Jalan Pos. Apaan sih itu?


Gara-gara buku yang saya baca, cita-cita menyusuri Jalan Pos ini lahir. Lagipula, sekalian saya mau hunting bangunan klasik tempo dulu dan memotretnya untuk koleksi pribadi. 

Jalan Pos adalah jalan yang membentang 1.000 km dari Anyer di barat Pulau Jawa, hingga ke Panarukan, Jawa Timur. Ini jalan dibangun di sepanjang utara dan jadi tulang punggung perekonomian Nusantara sejak tahun 1909.

Ada beberapa sumber literasi yang bahas Jalan Pos Daendels, tapi yang saya ingat sih ada dua: Pramoedya Ananta Toer ‘Jalan Raya Pos Jalan Daendels’ dan buku seri sejarah keluaran penerbit KPG, Jalan Pos Daendels.

Daendels adalah gubernur Hindia Belanda yang terkenal bengis. Juga ambisius. Karenanya, hanya tiga tahun saja pembangunan Jalan Raya Pos berlangsung. Sukses sih meski cerita pahit di belakang layarnya banyak. Korban berjatuhan. Pajak tinggi. Bahkan 40 tahun pertama, Jalan Pos tidak boleh dilalui pribumi. Dahulu kita jalannya di jalan setapak yang paralel dengan Jalan Pos.

Namun di sisi lain, Jalan Pos ini jadi sumber lahirnya keramaian kota-kota  di Jawa. Berhasil menyambungkan akses dari satu kota ke kota lain.

Where To Go

Nah bila saya memulai jelajah Jalan Pos dari Bandung, maka kota pertama yang ingin saya datangi adalah:

PEKALONGAN

Harusnya ke Cirebon dulu, namun saya sudah tiga kali ke sana. Jadi Pekalongan adalah titik mula jelajah saya. Ini kota identik dengan batik. Namun bukan batiknya yang ingin saya ketahui. Tapi Limun Orientalnya.

Ya, saya mau lihat pabrik antik yang memproduksi Limun Oriental Cap Nyonya yang masih handmade itu! Diwarisi oleh generasi kelima, limun klasik yang ada sejak 1920 ini masih bertahan di Pekalongan. Satu-satunya.

Di Bandung bahkan gak ada. Sewaktu kecil, saya sering jajan air soda lokal ini. Pasti menyenangkan sekali bisa minum limun yang serupa.

photo courtesy: blog teman saya, Alfian Widi

SEMARANG

Semarang adalah kota metropolisnya Jawa Tengah. Di Kota Lumpia ini saya bikin daftar kunjungan agak banyak :D 
Inginnya ke mana saja?
  1. Area Kota Lama. Keliling bangunan tua era kolonial. Hunting banyak foto jendela dan pintu tempo dulu.
  2. Kauman. Melihat rumah kuno di sana, dari masjid sampai kawasan santrinya.
  3. Menjelajah Stasiun Tawang dan sedikit area kereta api di sekitarnya. Di sinilah lahir rel pertama dan stasiun pertama di Hindia Belanda.
  4. Ke rumah Radja Goela. Sebagai salah satu sentra pabrik gulanya Hindia Belanda, Semarang ini punya banyak pabrik gula, terbengkalai sudah pasti. Radja Goela merupakan salah satu peninggalan era keemasan gula di Hindia Belanda dan Indonesia. Legenda kelas berat.
  5. Menyusuri rute Pecinannya Semarang.
  6. Menyantap Lumpia! Tentu saja :D 
photo courtesy: blog.reddoorz.com

Alamak. Dengan daftar sebanyak itu, satu hari di Semarang mana cukup! Di kota ini saya akan menginap juga. Sepanjang misi jelajah jalan raya pos, urusan inap menginap saya serahkan pada aplikasi RedDoorz saja.

Meski tipe traveling yang saya jalani bukan ala backpacker, tapi urusan berhemat ada dalam top prioritas. Mau irit, tapi gak mau sekarat juga :D

Dengan demikian, urusan tidur juga mesti selektif. Penginapan yang ongkos tidurnya terjangkau memang penting. Tapi fasilitas di dalamnya juga mesti diperhatikan.

Makanya saya cari penginapan via aplikasi RedDoorz.

RedDoorz merupakan jaringan penginapan online. Artinya, mereka kerja sama dengan properti penginapan dan menjual kamar secara online.

Makanya nama penginapan di RedDoorz pake nama RedDoorz-@-nama tempat atau RedDoorz-near-nama wilayah. Misal nih kalo di Bandung namanya RedDoorz @Asia Afrika atau RedDoorz near Bandung Indah Plaza.

Memang kesan namanya random banget. Sebab ‘near Asia Afrika’ kan ada banyak. Sebelah mananya Jalan Asia Afrika nih maksudnya?

Mulanya saya pikir juga begitu. Tapi saya pernah menginap di RedDoorz @Sukamulya Pasteur. Dalam pilihan penginapannya, mereka masukin kategori penginapan ke perwilayah. Kalo kamu cari penginapan di Bandung, misalnya nih, cari tahu wilayah yang kamu pengen inepin di mana. Dago misalnya, klik tab Dago. Nanti muncul daftar penginapan berlokasi di Dago aja.

Kayak gini, kamu masukin keyword Dago, nanti muncul distrik yang ada di Dago.
Cocokin dengan lokasi atau nama tempat yang kamu hendak kunjungi di Bandung.

Namun, turis kalo traveling kadang belon riset dan gak paham nama lokasi. Gampang, browsing aja dulu penginapannya di RedDoorz. Terus cocokin namanya dengan tempat-tempat yang kamu ingin kunjungi. 

RedDoorz mencantumkan alamat penginapan secara rinci. Ditambah setelah booking, mereka akan mengirim ulang alamat sebagai konfirmasi tambahan. So, harusnya kita gak nyasar sih. Tinggal aktifin googlemap aja sebagai pemandu arah. Sesuai aplikasi :D 

Di app ada tab Direction dan Call kalo butuh bantuan. Juga tersedia foto penginapan. Bisa pake ilmu cocokologi foto dan bertanya ke resepsionisnya sih :D

Dan ini sih yang selalu saya perhatiin tiap kali booking online: selalu baca review/testimoni. Cek aja ke bagian review di tiap penginapan, di aplikasi ada kok tinggal baca-baca.




RedDoorz menyediakan kamar dengan harga terjangkau dan fasilitas kamar yang baik. Mereka bahkan kasih jaminan: linennya bersih, kamar mandi bersih, ada perlengkapan kamar mandi, dan wi-fi gratis! Tidak ketinggalan televisi dan air mineral.

Menginap dua malam di Semarang, saya mau lanjutkan perjalanan ke kota berikutnya yang terletak 32 km ke arah timur.

DEMAK

Di kotanya Sunan Kalijaga ini saya hendak mampir sebentar. Mau lihat Masjid Agung Demak. Peninggalan Kerajaan Islam pertama di Jawa. 

Sejak 2017 masjid kuno masuk ke daftar tujuan traveling saya. Nah di Demak ada satu masjid tua –salah satu yang tertua malahan- di Indonesia. Bagian atapnya berbentuk limas. Serambinya disangga delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Konon Raden Patah, keturunan Raja Majapahit terakhir 

Tak lupa saya mau menyantap hidangan serba kerbau di Kedai Bu Saki. Di Demak ini, kerbau dihidangkan dalam banyak bentuk. Ada soto, sup, sate, baso, hingga pindang! Saya mau makan sotonya saja :D

Pokoknya tiap kota, mesti makan kuliner khasnya. Nyam! 

KUDUS

Bersih, suci, murni. Begitulah arti kata Kudus, diambil dari bahasa Arab. Masjid Kudus tentulah tujuan saya. Menyaksikan masjid-masjid nusantara ini bukan lagi saya kategorikan sebagai hobi, tapi kewajiban. Bukan karena saya sholehah lho ya. Wekekeke. Tapi pengen memandang langsung peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara. Lagipula masjidnya memang unik dan sejarahnya panjang.

Bayangkan bisa menyentuh artefak yang umurnya 470 tahun kayak Masjid Kudus. Membuat saya serasa istimewa. Ibarat kamu fans K-drama garis keras dan bersalaman dengan Gong Yoo, nah seperti itu perasaan saya bila bersentuhan dengan bangunan klasik :D

Di Masjid Kudus, menaranya masih bercorak dari tradisi Jawa-Hindu. Bukan hanya menaranya sih, tapi juga candi bentar dan gerbang paduraksa ada di sini.

Umumnya masjid-masjid kuno yang pernah saya lihat, arsitekturnya menyatu dengan tradisi lokal. Sedap sekali memandang arsitektur masjid yang datangnya dari masa lalu ini. Terselip rasa bangga juga kadang-kadang. Betapa tingginya craftmanship orang-orang zaman dahulu! Ke mana perginya skill itu sekarang ya...

Selain menara Masjid Kudus, pasti pada tahu kan Kudus identik dengan apa? Rokok kretek! Sebab itu mereka punya museum khusus Kretek. Juga monumennya.

Makan Soto Kudus tak boleh dilewatkan. Pasti beda ya rasanya makan Soto Kudus di Kudus! 

Demak dan Kudus, dua kota berturut-turut. saya menginap saja di Kota Kretek ini sebelum ke kota berikutnya. Tapi belum bisa booking via RedDoorz, sebab RedDoorz jaringannya di kota-kota besar se-Indonesia. Belum masuk ke kota-kota kecil.

LASEM

Kota terakhir sebelum balik ke Bandung.  Disebut-sebut Tiongkok kecilnya Indonesia, ada beberapa rumah kuno bergaya pecinan di sini. Foto-foto rumah kuno di Lasem sering saya saksikan di timeline instagram. Juga youtube. Tapi yang pertama kali mengenalkan saya dengan Lasem adalah film Ca Bau Kan, seting filmnya berlokasi di Lasem.

Makin sering dilihat, makin besar keinginan berkunjung ke kota di pesisir pantai utara ini.

Photo courtesy: @kesengsemlasem

Lasem juga surganya batik-batik mewah nan klasik. Dibuat handmade, batik Lasem terkenal istimewa. Agak sangsi saya akan belanja batik di sana. Makanan membuat saya semangat, tapi urusan sandang gak terlalu menyukainya. Walo begitu saya mengapresiasi banget karya-karya tradisi seperti batik.  Utamanya yang tulis dan butuh waktu berminggu-minggu membuatnya.

Kota-kota kecil ini menarik amat ya. Tiap kota, denyut nadinya berbeda. Padahal masih satu pulau, tapi tradisinya berbeda, bahasanya rupa-rupa. Seolah-olah, tiap kota ada harta karunnya sendiri. Dan semua didapat dengan lima hari saja. Insyaallah. Kan baru rencana nih. Doain ya semoga terwujud! Hehe.

How To Go

Mulanya terpikir menumpang kereta api. Tapi urung. Bawa mobil sendiri saja. Transportasinya lebih efisien dan murah. Ongkos kami bertiga bisa dialokasikan untuk bensin. Saya hitung pun lebih irit. Tinggal banyakin olahraga dan atur pola makan agar stamina bagus. 

Perjalanan pergi via jalan pantura. Pulang ke Bandung baru ambil jalan tol. 

Lima hari di jalan (plus nginep-nginepnya), di Bandung istirahat dulu sebelum gas kerja jalan lagi :D 

Where To Sleep

Di kota besar saya mengandalkan RedDoorz. Di kota-kota kecil, saya gak mengandalkan apa-apa, senemunya hotel aja. Jika dilihat dari rencana perjalanan, menginap hanya di Semarang dan Kudus saja. 

Kalo mau nanya-nanya tentang RedDoorz, komen aja nanti saya bantu jawab. Simpel aja booking di RedDoorz cuma pilih penginapan, isi data nginep, book, bayar transfer aja. E-ticket dikirim ke email dan di app. Jangan lupa cek promo, siapa tahu ada kode promo atau tanggal-tanggal diskonan :D

Photo Courtesy: @reddoorzid

Jika resolusi traveling 2019 temen-temen adalah traveling ke Filipina, Vietnam, Singapura, bisa nih riset dulu penginapan di RedDoorz. Karena ada juga RedDoorz di sana.

How Much

Yes, berapa banyak uang yang dianggarkan untuk perjalanan lima hari tersebut? Cant' tell. Ada sih jumlah minimalnya, tapi ini baru bisa saya kasih tahu bila perjalanannya sudah terjadi :D 

 When

TAHUN 2019 INI DONG DOAKAN YAAAAA! PINTU-PINTU KLASIK SEPANJANG PANTURA, JENDELA-JENDELA KUNO, TEGEL ARTDECO, MUSEUM-MUSEUM, MASJID-MASJID NUSANTARA, GEREJA TUA... TUNGGU SAYA DATANG! 

Agak lebay tapi yah namanya juga usaha (yang tertunda-tunda mulu dari kapan dan bersaing ketat dengan anggaran biaya daftar anak sekolah :D). Kalo teman-teman, tahun 2019 pada mau traveling ke mana nih? 

Toko Oleh-oleh di Cirebon: Toko Monas, Super Duper Highly Recommended!

26 February 2019
Oleh-oleh Cirebon apa aja sih? Ini kita lagi ngobrolin makanan aja ya. Kalo pakaian mah ke Trusmi udah paling bener. Kainnya bagus-bagus dari yang kelas murah sampai batik tulis.

Tapi kalo toko oleh-oleh khusus makanan di Cirebon, di mana belinya?




Ke TOKO MONAS aja.

Percaya deh, sebagai lulusan sekolah negeri di Cirebon (apa hubungannya wkwkwk), saya amat sangat merekomendasikan Toko Monas.

Ibu mertua saya jago banget masaknya. Dia asli orang Bandung dan cinta banget sama Toko Monas. Kalo ke Cirebon, pasti belanja di sana. Gak mau dia belanja di tempat lain.

Apa yang bikin tokonya rekomended? Barangnya lengkap, bagus, dan murah!

Wait. Coba aja bandingin sama toko sejenis, saya udah dan Toko Monas ini emang harganya paling okeeee :D

Terus, belinya apa di Toko Monas?

Beli Apa di Toko Monas

  1. Terasi, ada banget. Pilih aja mau yang mana. Bilang ke cicinya, pilihin terasi yang bagus yang mana. 
  2. Emping dong pastinya. Emping gurih dan Emping manis. Ada semua! 
  3. Kecap. Kecap mana aja asal produksi Jatiwangi, Majalengka, dan Indramayu enak semua. Coba pilih Cap Matahari. 
  4. Jambal Roti gak boleh ketinggalan. Pilih yang paling mahal. Hahaha.
  5. Bekasem ya tolong ini aduhhhhh gak ada Bekasem seenak itu yang made in Cirebon! Pilih Bekasem Japuh dan Bekasem Jambal. Saya sendiri doyan banget sama Bekasem Japuh. 
  6. Kerupuk udang! Pilih kerupuk yang bentuknya stik. Sebab gak ada di mana pun selain di Cirebon. Merek mah apa aja, bagus semua kok. Saya biasa pake merek Indrasari. 
  7. Ebi. PARAH DI SINI EBINYA TERBAIIIKKKKK! Kalo kamu doyan masak, pasti ngerti maksudnya. Ebinya pilih yang paling mahal. Seons 45ribu. Gak tahu nih sekarang berapa. Satu ons tuh udah banyak banget.
  8. Bumbu instan Empal Gentong. Pernah nyobain dan masih enak buatan tetangga saya hahahaha. Tapi buat pilihan kepepet, bisa kok beli di sini. Ntar di rumah, kamu tambahahin lagi bumbu-bumbunya biar mantap rasanya. 
  9. Udah nih, bebas milih mau apalagi. Sirop? ada di sini. Tapi saya saranin beli di Kopyor 4848 aja di Jl. Karanggetas. 
Saya biasa belanja 8 produk di atas dan boyong ke Bandung sebagai stok makanan.

maapkan ini warna Jambal Roti setelah saya edit kok jadi gini ya :D aslinya mah gak gini da heuheu

Sebagai informasi tambahan, kalo kamu belanja pagi-pagi, di depan Toko Monas ada mbok-mbok udah tuaaaa banget. Beliau jualan asam jawa. Unik banget karena asem jawanya macem-macem. 

Ada asem jawa yang masih nempel ke tangkai, asem muda, asem tua, asem jawa yang gak berbiji, dan asem jawa yang berbiji. Sama satu lagi, saya lupa asem jawanya gimana tuh bentuknya :D Saya pernah ke sana jam 10, si mbok udah gak ada. 

Dan informasi bonus nih, Toko Monas memproduksi mie. Ho oh bikin mie sendiri. Saya pernah beli dan saya lupa saya pernah beli, pas buka kulkas, mienya udah basi. Udah lebih dari dua minggu. LOL. Sayang banget! Lain kali ke Toko Monas, saya bakal beli mienya lagi. 

Pasar Kanoman ini memang gudangnya bahan pangan terbaik. Bahkan ulekannya aja bagus-bagus lho kalo beli di sini. Murah pula. Pake batu kali bukan batu semen. 

Di mana Toko Monas

Persis di sebelah Pasar Kanoman. Pake googlemap ajalah biar gampang. Posisinya tuh pas banget bangunan terakhir sebelon masuk ke pasar inti Kanomannya. 

Kalo kamu berdiri menghadap gerbang ke jalan Keraton Kanoman, nah Toko Monas ada di sebelah kanan. 

Buka gak tahu jam berapa, mestinya jam 6 udah buka sih :D Kayaknya jam 7 pagi deh bukanya. Tutup jam 5 sore. 

Buka setiap hari. 

Gimana, cukup gak infonya nih? Cukup ya. Saya sering buka jastip kalo mudik nih, beli banyak buat dijual lagi di Bandung. Belinya di mana? Di Toko Monas dong :) 


Serunya Workshop Colour to Life Bersama Faber-Castell di Bandung

24 February 2019
Minggu lalu saya ajak Nabil ikutan workshop mewarnai. Faber-Castell yang membuat workshopnya. Acaranya gak lama, kira-kira jam 11-13 PM. Sekalian makan siang, kita santai-santai mewarnai.




Saya datang terlambat karena salah dateng ke lokasi :D Ketuker. Tapi pas nyampe, acaranya baru mau mulai juga. Syukurlah! Udah deg-degan aja kalo telat tuh.

Sebelum masuk ruangan, kami dibekali sebuah buku dan satu set connector pen Faber-Castell. Kami pernah punya tools untuk mewarnai Colour to Life ini. Emang favorit keluarga Faber-Castell tuh. Zaman kuliah, ayahnya Nabil pengguna Faber-Castell buat ngerjain tugas arsitekturnya. Pinsil warna Faber-Castell empuk katanya.

Nah khusus workshop Colour to Life ini, saya pengen banget dateng. Berhubung acaranya menjanjikan mau ngajarin teknik mewarnai dan menurut saya itu hal yang baru bagi saya dan Nabil yang gak tahu bahwa mewarnai ada tekniknya, maka itu saya anggap penting. Banget!

Tapi sebelum masuk ke cerita tentang workshopnya, bahas dulu sebentar tentang Faber-Castell apaan sih?

Faber-Castell, What Are You?

Merek ini udah terkenal sebagai produk alat tulis. Gak hanya untuk anak-anak, Faber-Castell juga menyediakan produk untuk orang dewasa hingga manula.

Perusahan asal Jerman milik keluarga yang umurnya 2,5 abad ini udah diurus oleh keturunan ketujuh dari pendiri pertamanya. Kini pabriknya ada empat di Indonesia.

Departemen kreatif Faber-Castell merancang sebuah program bernama #Art4All. Bagi mereka, kreativitas dalam berpikir, bertindak, dan menghadapi hidup ini tuh bisa dibangun dari kesenian. Dari mewarnai, menggambar, menulis, sketsa, melukis, dan sejenisnya.

Kampanye #Art4All ini bermaksud mengajak kita-kita buat menumpahkan ekspresi lewat seni. Toolsnya dari Faber-Castell dong.


Bersinggungan langsung dengan dunia seni -kamu sadari atau enggak- banyak manfaatnya buat kita. Membuat anak percaya diri dan fungsi motorik otaknya terlatih, mencegah demensia bagi yang uzur usianya, otak terasa rileks bagi kamu yang banyak stresnya.

Gak hanya untuk anak-anak, penyebarluasan program tersebut ditujukan untuk dewasa dan manula. Misal nih, Faber-Castell bikin pelatihan pengajar khusus skill yang ada hubungannya dengan art. Pernah juga Faber-Castell menyelenggarakan lomba menggambar untuk anak-anak dan memboyong pemenangnya ke Jerman. Lantas untuk usia remaja, ada juga lomba art & graphic. Bagi kakek-nenek kita ada program coloring for relaxation.

Sudah lomba aja nih? Hahaha jangan salah. Tiap-tiap pemenang dikompilasikan karyanya dan dijadikan buku!

Dan kalo kamu pikir kerjaan Faber-Castell cuma gambar-gambar aja, salah besar. Mereka juga membuat workshop menulis kreatif.

Nah sekarang nih Faber-Castell merambah ke dunia digital. Dunia kita semua :D

Colour to Life namanya. 


Workshop Colour to Life, Gimana Ceritanya

Satu buku dan connector pen, cukup untuk Nabil aja mengikuti workshop Colour to Life. Saya ikut menemani mewarnai. Gini, saya ceritain dulu apa maksud workshop Colour to Life ini.

Colour to Life (CTL) adalah aplikasi buatan Faber-Castell. Yap, betul. Bisa didownload di app store. Untuk menggunakan aplikasi CTL, kamu harus punya toolsnya, yaitu buku gambar (colouring book) dan connector pen dari Faber-Castell.

Nantinya hasil mewarnai kita, discan oleh aplikasi CTL. Nah interaksi antara kita dengan gambarnya jadi lebih banyak setelah gambarnya kita 'hidupkan' di aplikasi tersebut.

Colouring book ada 15 halaman. Sudah ada gambarnya, kita tinggal mewarnai saja pake connector pen. Di sinilah teknik mewarnai berperan agar kertasnya gak ketipisan digerus connector pen yang tebel tintanya, mirip spidol.

Oke. Colouring book dan connector pen sudah di tangan. Teknik mewarnai gimana nih?




Bikin pola mewarnai seperti: bulet-bulet spiral. Nanti bagian yang kosong tinggal diisi dengan membubuhi titik-titik aja.

Prinsip mewarnai kan bebasin aja, nah sekarang coba pola segitiga kecil-kecil.

Lantas, bisa juga bikin garis-garis mengikuti rangka gambar.

Sesederhana itu aja tekniknya. Kita tinggal warnai tipis-tipis di ruang kosong pola tersebut.

Nabil seneng, saya seneng. Kalo bepergian, buku gambar dan pinsil warna selalu ada di tas (termasuk komik Sentaro dan beberapa mainan). Dia cuma pake smartphone di hari Minggu. Bahkan mau download game juga saya batasi. Hasilnya, dia lebih banyak menggambar sih dibanding megang hp.



Etapi aplikasi Colour to Life ini kan berbasis smartphone. Ikuti instruksi di petunjuk aplikasi. Nanti begitu gambarnya hidup, kita bisa jadiin gambar kita sebagai properti foto atau jadi game! Coba diperhatiin di video di atas, cara pake app Colour to Life gimana.


Beli Colour to Life di Mana?

Di Gramedia
Di Shopee
Di Tokopedia

Harga Colour to Life Berapa?

Macam-macam. Ada yang jual 80ribuan hingga 120ribuan. Browsing aja untuk mendapatkan harga tercocok. 

Selamat menggunakan Colour to Life ya, temani anak pas dia mewarnai. Scan barengan pas pake aplikasinya. Produk ini bagus banget untuk main barengan orang tua dan anak. Highly recommended. 

Edan Euy Jatim Park 2 Seru Banget!

14 February 2019
Saya belon cerita kesan-kesan main ke Jatim Park 2. Kalo dijabarkan dalam satu kalimat kita-kira bunyinya gini: PARAH GILA KAMU KUDU KE SANA WAHANANYA GAK ABIS-ABIS SERU AAARRGGHHHHHHHH!

Satu hari di Malang kami persembahkan khusus untuk senang-senang di Jatim Park 2. Enggak deng. Pagi-pagi nyari kebon apel dulu, Farah dan anak-anaknya mau metik apel. Nah jam 10 kami cabut ke Jatim Park 2.

Lihat jam tangan, belon jam 11 sih. Kami udah masuk ke Jatim Park 2. Saya belon browsing ini tempat kayak gimana. Farah bilang seru. Ya udah ngikut ajalah. Kami beli tiket masing-masing seingat saya 120ribu/orang untuk masuk kebon binatang, wahana fantasi, dan museum jatim park.

Dalam hati sih ya berguman buset mahal juga ini emang ada apaan dalemnya.

Terus masuk ke kebon binatang dulu. HWUDIIWWWWW! satwanya gak cuma sehat tapi juga unik-unik! Niat banget ngumpulin hewan-hewan cantik dari sudut dunia dan bawa ke Malang. Saya gak tahu sih mereka langka atau enggak. Tapi ya udahlah jangan mikir banyak kayak biasa, dinikmati aja dulu. Heuheu.

Kebon binatang di sini membuat kebon binatang di Bandung kelihatan sangat buruk.

Nah abis itu barulah masuk ke wahana favorit saya dan Farah dan anak-anak. Wahana Fantasi. Benerin kalo salah nama :D

OMG di sini gak bisa berhenti main. Gak hanya anak-anak, saya dan Farah juga naikin hampir semua permainannya kayak orang gila. Gak berhenti wkwkwkwk. Tapi khusus yang boleh ditumpangi orang dewasa lho ya. Sebab ada tuh permainan yang buat anak kecil doang.

Kalo diperhatiin, di sini permainannya sederhana. Gak fancy dan gak bombastis kayak -kalo kamu pernah lihat atau ke sana- Universal Studio (USS) dan Dufan. Farah yang warga lokal Singapura dan bolak-balik ke USS dan Legoland aja muji-muji Jatim Park 2 ini. Sangat memuaskan, katanya.

Kata Farah, di jatim park enak antrinya gak lama. Mainan mah mirip sih, kemasan doang yang beda, di Singapur mah lebih mewah, kata dia. Tapi antrinya panjang, malesin. Lanjutnya lagi.




Saya naikin banyak wahana tapi ada tiga yang saya ingat banget. Tsunami, kayak tornado kalo di Dufan. Bombomcar saya naikin bolak-balik 10x, dan rollercoaster versi kampung wkwkwkwwk.

Aduh gila seru banget. Tahu-tahu udah jam 5 sore dan kami belon ke museum! buru-buru deh tuh ke museum, karena di wahana fantasi udah pada tutup.

Museumnya gimana? PARAH NIAT AMAT YANG BIKIN JATIM PARK!

Koleksi museum bagus-bagus. Tiap koleksi ada scanbarcode, jadi kamu bisa baca keterangan lebih banyak via smartphone. Display juga kayak diperhatiin beneran. Kayak misalnya koleksi satwa di Afrika, dikasih miniatur padang Afrika. Terus beruang di Antartika, ada tuh 3D bentuk gunung es dan beruangnya. Apalagi sok? display kebakaran di hutan juga ada! Bukan foto lho ya tapi 3D.

Megah. Mewah. Canggih. Detail.

Aduh saya kehabisan kata mau ceritain gimana lagi ahahaha. Nya kitu pokonamah kudu kaditu barudak pasti reusepeun! kitu oge ibuna bapana.

Bila mencari kota untuk berlibur dengan anak-anak, Malang pilihan yang oke. Selain kota-kota kayak Bali dan Jogjakarta, juga Bandung itu sendiri. Tapi menurut saya mah Malang -di Batu khususnya- ngasi level liburan yang berbeda.

Walo senang, bagian prihatin juga ada. Pulang dari Jatim Park 2 kami order Gocar. Di jalan saya bertanya padanya tentang Malang yang jadi idola turis.

Malang tambah macet, katanya.
Kalo wiken jangan ke Batu, katanya.
Jatim Park gak cuma ada satu, tapi ada 3, katanya.

Saya ngerti banget. Secara rumah saya di Setiabudi. Mau nonton ke CiWalk aja mendingan saya ambil jam malem banget. Mau ke mana-mana mending naik gojek karena angkot kena macet. Lembang jadi primadona, tapi bagi kami warga lokal, Lembang adalah tempat yang kami hindari bila musim libur tiba.

Sama aja di mana-mana. Pertumbuhan ekonomi diikuti masalah-masalah sosial yang menimpa warga lokalnya. Emang gak ada solusi untuk ini ya?

Ada perasaan gak enak nyelip sewaktu denger curhatan sopir gocar. Namun di satu sisi saya lagi seneng dan terkesan dengan Jatim Park 2 ini. Serba salah heuheuheu.

Oiya, sori foto gak banyak. Satu dulu. Gak banyak foto-foto di sana juga sih lagian. Saking sibuknya main khekhekehkhe :D

Ke Tasikmalaya, Lihat Masjid Manonjaya

12 February 2019
Di tengah badai kesibukan kerja, kami ikut meramaikan tiket promo Kereta Api Indonesia jurusan Bandung-Tasikmalaya. Gratis soalnya. 

So, gimana perjalanannya? Adem ayem. 



Di dalem kereta api, adem banget. Sepi soalnya. Satu gerbong gak nyampe 10 orang. 

Kami duduk berdekatan dengan suami istri usia pensiunan yang hendak tamasya di Tasikmalaya. Sama seperti kami, mereka penasaran dengan tiket gratisan. "Udah pensiunan mah gini weh banyakin jalan-jalan," kata si Bapak, si Ibu mengiyakan.

Di Tasikmalaya juga sama ademnya kayak gerbong KA Pangandaran. Suasana pusat kotanya selow dan hening. 

Tujuan wisata kami di sana hanya satu: Masjid Manonjaya. Lain-lainnya gimana ketemu di jalan aja.

Terbiasa melihat dan mengalami macet di Bandung, keluar stasiun kereta api di Tasikmalaya rasanya kayak plong. Jalanan kosong.

Dari stasiun ke hotel, kami berjalan kaki saja. Di tengah-tengahnya, kami menyantap Baso Loma dan nongkrong sebentar di depan Masjid Agung Tasikmalaya.

Dibilang jalanannya sepi, enggak juga sih. Disebut ramai, tidak. Enteng aja gitu rasanya jalan kaki di sana. Trotoar gak bagus-bagus amat tapi kepake. Gak kepake-pake amat sih tapi buat tempo jalan kaki kerasanya enak banget. 

Cuacanya bersahabat karena waktu itu sedang mendung dan udah sore. 

Tasikmalaya sama kayak Purwakarta, keduanya ada di level 300an meter di atas permukaan laut. Akan tetapi, kalo kamu pernah ke Purwakarta pasti tahu beeeuuh panas di sana tuh. Sebaliknya di Tasikmalaya nih, panas enggak, sejuk enggak. Ataukah saya beruntung aja ya kena cuaca adem? 

Di Tasik, Nginep di Mana

Kami menginap di Hotel City. Hotel baru yang dindingnya retak-retak dan keset kamar mandinya berbahan karet! hadooohh lieur sugan. 

Semua yang ada di hotel ini rada-rada gak nyaman kecuali kasur dan makanannya. Makanan adalah highlight hotelnya banget sebab murah dan lezat!

Terus ada kolam renangnya. Secara saya bawa anak kecil, senenglah dia diceburin ke kolam renang. Baginya piknik ke mana aja ayo, yang penting ada gamemaster, kolam renang, dan taman bermain :D atur-atur aja sebagai orangtua, tempat mana yang bisa menyalurkan hasrat semangat-monyet si anak.

Oiya, kalo cari penginapan yang murah, Hotel City okelah. 250ribu sudah include sarapan. Tapi kalo kamu mau yang fancy, pilih Santika, Fave Hotel, dan Horison. Semua hotel tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari stasiun kereta api.

Masjid Manonjaya, Masjid Dua Abad

Umurnya baru mau hampir dua abad kok. Sekitar 180 tahunan. Sejak serius mengunjungi masjid-masjid tua di Cirebon dan Yogyakarta, saya agak terobsesi dengan masjid kuno nih.

Rasa-rasanya, kalo punya obsesi, jalan-jalannya jadi puguh. Dahulu tujuan utama traveling menyusuri rute-rute kota tua. Sekarang nambah: pengen lihat masjid-masjid klasik.

Makanya waktu tiket promo ke Tasikmalaya ini nongol, saya cuma pengen ke Masjid Manonjaya. Gak kepikiran tempat yang lain. 

Manonjaya letaknya jauh dari pusat kota Tasikmalaya. 12 km jarak tempuhnya. Ke sana kami menumpang Grab Car. 30 menit waktu tempuhnya.




Kesan pertama menyaksikan Masjid Manonjaya, sungguh mengagumkan. Masjid seperti istana dengan arsitektur rada-rada kolonial dan jawa. 

Ada menara di kedua sisi masjid, jendela besar-besar, kolom bangunan di teras gede-gede. Kalo gak salah, tiga hal tersebut mencerminkan ciri khas bangunan Belanda. 

Nah mustaka di puncak masjid dan kolam air untuk membasuh najis di kaki yang letaknya sebelum pintu masuk, itu datangnya dari Jawa Mataram. Begitu kata artikel yang pernah kubaca. 

Masuk ke masjid barulah terasa masjidnya gak sekuno penampakan dari luar. Ada kesan 'penuh' karena kolom-kolom tambahan. Lantainya marmer. Pintu ke ruang utama masjid bentuknya modern. 

Begitu juga kondisi di dalam ruang utama. Langit-langitnya sama kayak masjid kebanyakan. Kirain nyungcung. Kerucut ke atas. Tapi gak tuh.

Teu puguh kelihatnya. 

Ada kolom lebih gede lagi di sana. Saka tunggal atau saka guru istilahnya. Namun saya baca-baca, kolom di ruang itu bukan asli yang dulu. Tahun 2009, Tasikmalaya digucang gempa, ini masjid ikut ambruk kecuali kolom-kolom di teras.

Jadi pada dasarnya, sedikit banget porsi keaslian masjidnya. Sisanya hasil renovasi yang dibuat mirip kayak bentuk asli.

Kenapa bisa Manonjaya punya masjid sebesar ini, kemegahan masjid ini simbol dari apa? Kabupaten Tasikmalaya umurnya tua banget sih, Manonjaya ibukotanya. Kota Tasikmalaya baru ada tahun 76.

Bagian masjid yang jadi favorit saya adalah dinding pagar di teras. Semacam dinging setinggi perut. Kayaknya itu masih asli deh. Kalo pernah lihat bangunan lama masjid-masjid di foto antik, nah dinding itulah yang kulihat. 

Di depan Alun-alun ada satu pohon besar. Beringin. Eh bukan, Pohon Karet Munding kayaknya. Kira-kira lima menit kemudian kami nongkrong di bawah pohon itu. Makan bubur, ngemil kacang rebus, dan minum es kelapa muda bareng warga Manonjaya.

Bubur di sini bertabur potongan timun. Kerupuknya diremek-remekin dan ditaro di atas bubur. 

Alun-alun sebagai jantung kegiatan, biasanya dikelilingi sekolah, pasar, kantor pemerintah, dan penjara. Di sini ada semua kecuali penjara. Cmiiw.

Merasa cukup dan puas, kami kembali ke kota Tasikmalaya. Makan Mie Golosor. Jalan kaki lagi ke stasiun kereta api dan pulang ke Bandung.

Kesan Tentang Kota Tasikmalaya

Bila ada satu hal lain yang kami sukai di kota Tasik, itu adalah sungai-sungai yang airnya bersih.

Keuntungan jalan kaki sih, bisa merhatiin sungainya. Sampah mah ada aja, tapi airnya jernih. Ada yang keruh, tapi masih bisa saya lihat dasar sungainya. Ini kenapa bisa airnya jernih-jernih begini ya di Tasik...

Selokan di depan Masjid Manonjaya pun airnya bening banget!

Gak heran ikan-ikan hasil olahan dari Tasikmalaya lezatnya parah luar biasa. Olahan menu ikan ala Tasikmalaya merusak standar kenikmatan masakan ikan di kota lain.

Kalo kamu ke Tasik, selain warung-warung baso, mampir juga ke restoran yang menunya ada ikan. Ikan mas, ikan nila, ikan-ikan sungai gitulah. Airnya bagus gitu, pasti ikan-ikannya juga enak! Pantesan ya Ikan Beunteur ada banyak di Tasik (dan Ciamis).

Tahu Ikan Beunteur kan? ikan-ikan kecil yang cuma bisa hidup di air sungai (dan danau) bersih jernih. 

Tasikmalaya jauh dari Jakarta, jauh dari Bandung. Bisa jadi areal industri di sana gak banyak kayak di Purwakarta ya? karena itu tempo kotanya masih rada selow dan air sungainya jernih. Mungkin ini mah, cmiiw. Industri apa yang banyak di Tasik? peternakan ayam setahu saya mah. Kolam-kolam budidaya ikan juga kalo kata Indra.

Tapi ngomongin Tasik ingatnya industri bordir yang kesohor. Kalo kamu beli tikar di pasar babadan, tas-tas belanja dari rotan, bisa jadi datangnya dari Tasik tuh. Skill craftynya orang-orang Tasik kelas advanced banget cenah.

Demikian celoteh sok tahu saya tentang Tasikmalaya. Haha. Pernah ke Tasik gak? atau jangan-jangan kamu orang Tasik? Punya cerita tentang Kota Tasik, sok komen di bawah :)

Februari ini masih ada kereta api gratis dari Bandung ke Tasikmalaya. Ayo dimanfaatin fasilitasnya. Sayang nih dilewatin. Coba digoogle aja kuliner-kuliner seru di Tasik. Atau jelajahi kawasan wisatanya yang hits, sebab contek jalan-jalan ala saya mah kelihatannya bosenin :))))) kata ibu saya sih gitu ahahahh :)))))

Saya perhatiin nih, pemkot Tasik dingin-dingin aja ngadepin tiket promo gratis ini, padahal momen bagus buat menjamu orang-orang metropolis mau buang uang di Tasik. Gubernur Ridwan Kamil dan PT. KAI aja yang antusias promosiin jalur Gambir - Tasikmalaya. Tasikmalayanya cuek. WHYYYY, Pak Bupati Tasik?!


KA Pangandaran Gambir - Banjar. Transit di Bandung jam 11.40
Nyampe di Tasik jam 15.30
gak banyak bangunan antik di Tasik
gak pake kata 'laundry'
Mie Golosor, nyoba dua tempat mamam baso dan menurut saya biasa aja sama kayak di Bandung
sebelon checkout, rate buat hotelnya 6/10
bubur di Alun-alun Manonjaya
Masjid Manonjaya





teks: ulu
foto: ulu, indra

Jalan Kaki Tujuh Kilometer (Bromo Trip Story 3)

10 February 2019
Gini ya, kalo umur kamu kepala tiga dan gak pernah (ulangi: GAK PERNAH) olahraga, doyan makan indomie, gak bisa hidup tanpa nasi, maka ini tips terbaik bila ingin menggapai puncak Bromo: sewa kuda.

Hanya 3,5 km jarak dari parkiran jeep ke Puncak Bromo. Tapi jalannya gak santai. Bukan hanya debu dan tahi kering kuda beterbangan, namanya jalan ke puncak pasti nanjak. Sebuah fakta yang saya abaikan. Wk.

Puncak Bromo adalah tujuan terakhir dalam susunan perjalanan kami di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.



Farah dan saya berunding cepat. Keputusan kami begini. anak-anak ikut jalan kaki bentar sampe tanjakan yang nyusahin. Lantas kami sewa kuda. Anak-anak naik kuda. Kami berdua jalan kaki.

Beneran nih jalan kaki aja? bisik saya dalam hati pada diri sendiri. Orang yang jalan kaki ada banyak gak hanya kami. Kalau mereka bisa, kami juga dong.

Begitulah prinsip bego kami. Wkwkwkwkwk.

Jadilah itu 3,5 kilometer terpanjang dalam hidup saya! Setelah pendakian ke Gunung Lawu dan tersesat di Jayagiri, mencapai Puncak Bromo adalah pencapaian membanggakan yang terjadi dalam sejarah hidup saya nih hahahaha.

Saya dan Farah tadinya jalan beriringan. Pas di bagian nanjak-nanjak mah kami terpisah jauuuhhh sekali hahaha. Ada kali 500 m. Saya di depan, Farah terseok-seok di belakang.

Namun benar kalo ada yang bilang, jalan kaki membuat kita melihat lebih dekat. Benar sekali.

Jalan yang tadinya datar, pelan-pelan menanjak konturnya. Sepertinya saya menaiki bongkahan bekas lava. Sulur-sulur bekas lavanya terlihat jelas sekali. Eksotis luar biasa.

Makin tinggi dataran, saya berbalik dan menyaksikan panorama di bawah sana. Mata menyapu semua lanskap taman nasional ini. Pemandangan makin indah. Luar biasa fantastis. Eksotis. Saturasi warna langit yang biru sempurna, hitam abu-abu dari pasir Bromo, hijau-hijau pepohonan di atas tebing, dan Pura Luhur Poten yang menambah aroma sakral.



Duh Ya Allah makasih udah bawa saya ke sini.

Namun di Puncak Bromo, saya kecewa di sana. Segala daya dikerahkan meniti tanjakan dan ratusan tangga, begitu sampai di bibir kawah ada banyak sampah di tebingnya. Pagar pembatas rusak.

Sudah begini saja? dalam hati saya bilang. Untuk semua keagungan yang saya saksikan selama perjalanan ini, begini saja akhirnya?

Di puncak itu saya bertiga dengan Nabil dan Byan. Keduanya masih kecil-kecil dan tenaga masih penuh. Saya ajak mereka turun saja. Loncat-loncat mereka, bisa terjun bebas ke kawah Bromo. Duh ngilu-ngilu kaki ini. Bila pagar pembatas utuh, kayaknya saya gak akan separno itu sih.

Saya yang berlebihan atau wajar kalo kecewa gak sih?

Mulai dari bau pesing di mulut tangga, tangga yang gak kerawat, lantas pagar pembatas yang putus-putus, sampah bertebaran di tebing kawah.

Perjalanan yang antiklimaks. Masih menyenangkan memang.

Seperti biasa kalo dalam perjalanan pulang, ada perasaan sentimentil yang bermunculan. Ya senang, ya sedih, ya kecewa, juga ada perasaan asing di antara itu semua. Tidak sampai 24 jam saya ada di taman nasional ini dan karenanya rasanya asing aja gitu.

Di dalam jeep, saya melihat Bromo dari jendela belakang. Pertunjukan wisata alam selesai. Kami berpamitan dalam hati.

Selesai.

Membuat Kartu Nama di Uprint

05 February 2019
Membuat kartu nama di Uprint gak seribet yang saya kira. Pesannya online saja, gak perlu datengin kantornya dan gak perlu antri bikinnya.

Kartu nama terasa pentingnya setelah saya masuk dunia kerja. Meski sekarang jadi buruh untuk diri sendiri, kartu nama masih jadi alat tempur kok (selain seperangkat gawai tentu saja).

Pastikan kamu punya kartu nama ya. Walo sekarang bisa bebas catat no kontak, tapi kartu nama memuat informasi banyak sekaligus. Nama, no hp, website, sampai dengan nama sosial media kita.

Rezeki mana tahu datangnya dari mana kan. Hitung-hitung usaha jemput bola nih kasih kartu nama ke orang lain tuh. Orang lain juga gak punya banyak waktu untuk catat no hp kita kan :D Tinggal kasih kartu nama, beres sudah.

Saya bikin kartu nama dua macam. Untuk blog ini, Bandung Diary. Satu lagi untuk lini usaha saya, Fish Express.

Nah sekarang saya share rekomendasi bikin kartu nama dan perangkat percetakan lainnya.

Cetak Kartu Nama di Uprint

Gimana prosesnya bikin kartu nama di Uprint? Begini, Teman-teman.

  1. Buka websitenya: www.uprint.id. 
  2. Pilih fitur layanan Uprint, klik bagian kiri atas, ntar nongol banyak pilihan. Apa aja? dari kartu sampai dengan suvenir ada semua. Pilih aja yang kamu butuh apa. 

Mereka bahkan punya satu fitur khusus bernama Business. Kamu klik buttonnya, nanti muncul pilihan perangkat kerja cetak yang dibutuhkan bisnis saya dan kamu ada di sini semua. Ada salon, online shop, bahkan kampanye pemilu :)



Oke misalkan kita bikin hmm  apa ya, kartu nama mah gampang ya. Cek ke bagian stationaries. 

Ukuran kartu nama berbeda-beda. Siapin penggaris untuk tahu dimensi dari ukuran yang kamu lihat di webnya. Ukuran aquare ada, ukuran kartu nama standar kayak kebanyakan yang kita lihat juga ada. 




Desain kartu nama sih idealnya kita aja yang buat. Tapi kalo gak punya desain kartu nama sendiri, Uprint menyediakan template desain kartu nama kok. Banyak pula. Pilih aja yang paling menarik buat kita dan mencerminkan profil atau bisnis kita. 

Kartu nama udah. Kayaknya mau cetak media lain nih. Apa ya kira-kira?

Gimana kalo kita cek Tripod Banner

Cetak Tripod Banner di Uprint

Untuk mencetak produk yang satu ini, kisa klik ke bagian Promotion. Tripod Banner ini banner yang pake tripod. Hahaha jelasin apa sih saya teh :D 

Kita biasa kenal X-Banner, nah ini mirip kok. Bedanya di kerangka penahan banner saja. 

Memesan Tripod Banner di Uprint bisa kita bikin simulasinya dulu. Sok nih dijelajahi websitenya Uprint. Mau cetak berapa sisi. Ukurannya berapa. Bahannya apa. Sampai dengan harga nanti muncul semua. 

Lantas untuk kirim desainnya bagaimana?




Uprint menyediakan beberapa pilihan untuk kita mengirim desain. Ke mana aja?
  1. Email, menurut saya ini paling gampang. 
  2. Dropbox
  3. WeTransfer
  4. Google Drive

Pastikan kamu membaca tata pengiriman data desainnya ya. Seperti judul data dan kapasitas memori data tersebut. Supaya gak bolak-balik kirim desain aja sih :D 

Misal nih, udah beres pemesanannya. Masukan keranjang dan checkout. Nanti kita isi data-data pengiriman dan pembayaran. 

Untuk lokasi Jakarta, pengiriman tersedia pilihan menggunakan ojeg/taksi online. Kalo di luar Jakarta mah sudah pasti kirim via ekspedisi. 

Pembayarannya bagaimana? via transfer. Saat ini Uprint baru bisa menerima transfer ke BCA. 

Kenapa Pilih Uprint?

  • Karena gak usah antri :D Menurut saya ini enaknya kita urus segala macam secara digital. Ada waktu yang terpakai secara efisien. Hemat waktu. 
  • Harga bersaing, bahkan dengan yang di Bandung sekalipun, kota saya bermukim
  • Fyi, Uprint adalah produsen percetakan. Alatnya punya dia, tokonya punya dia. Gak khawatir pesanan kita tertunda karena dioper-oper antar vendor :D 
  • Costumer Service by whatsapp, aplikasi chat sejuta umat

Oh mau lihat gak kartu nama saya kayak gimana hasilnya? Ini dia! Kayaknya saya mau ubah tata letak logo dan teksnya sih :D 

Nah sekarang nambah referensi mau cetak kartu nama ke mana ya, ke Uprint saja :)