Social Media

Image Slider

Review: Makan-makan di Warung Sangrai, Menu Favoritnya Puyuh Rawit

31/03/14
Bandung surganya belanja. Tujuan pariwisata. Kalau turis-turis biasanya memenuhi badan jalan tertentu di kota kembang ini pada hari sabtu dan minggu. Jalan Dago, Jalan Setiabudhi, dan terakhir di Jalan Riau. Karena di ruas jalan-jalan inilah lokasi Factory Outlet (FO) berada. FO = tempat belanja.


Ini FO yang paling saya hapal namanya: Heritage. Bukan karena saya sering ke tempat ini buat belanja. Tapi gedung Heritage ini merupakan bangunan megah yang gaya arsitekturnya tua banget, ala-ala Belanda. Pilar-pilar besarnya memperlihatkan sejarah. Arsitektur terbaik pada masanya. Saya suka gedung-gedung tua begini. Makanya ingat. Fungsinya sekarang sebagai tempat belanja. FO. 

Heritage lokasinya dekat sekali dengan tempat yang saya suka singgahi. Jonas Photo Studio. Lucu banget ternyata di antara dua tempat yang saya suka perhatikan dan datangi, menyempil tempat makan enak. Warung Sangrai namanya.

Langit Bandung Selatan

27/03/14
Foto-foto ini dijepret beberapa tahun lalu. Waktu itu saya dan Gele bertemu dengan Saleh Sudrajat. Bapak ini orang pertama dan satu-satunya yang terbang mengemudikan pesawat Trike, dari Sabang - Merauke. 

Gak nyangka waktu acara udah beres, beliau mengajak kami terbang menumpang pesawat Trike-nya. Saya dengan halus menolak karena takut ketinggian. Hihihi resiko pingsan. Sementara Gele, yang moto, mukanya mupeng banget pengen naik pesawat mungil ini. 

Terbanglah mereka ke udara. Entah di ketinggian berapa. Saya duduk di hanggar nungguin. Ngecengin pilot-pilot yang lagi oprek pesawatnya. Hihihi :D 

Fotonya gak banyak, tapi memberi saya pemandangan baru melihat penampakan Bandung Selatan. Here goes. 



Review: Happy Customer di Happy Cow Steak Bandung

26/03/14
Minggu sore pukul lima, saya dan empat orang teman berkesempatan singgah di suatu tempat di kawasan Dago. Tempatnya tidak terlalu besar, semi outdoor karena menempati teras beratap sebuah rumah, dan dominan dengan meja kursi kayu yang manis berwarna coklat. Sebuah pohon besar terletak di tengah tempat ini. Sambil reuni, sambi makan-makan, Happy Cow Steak nama tempatnya. 




Ini kali kedua saya datang ke Happy Cow Steak. Pertama kalinya berbulan-bulan yang lalu. Restoran ini ada dua tempat: satu di Palasari dekat Lodaya dan satunya lagi di Dago Atas depan Borma. 

BLA: Keluar Semua Dari Bandung Atau Kami Bom! (5)

24/03/14
Stilasi 3: Jiwasraya



Nah ini adalah markas resminya Jendral Nasution dkk. Keputusan membakar Bandung juga resmi disepakati di tempat ini. Saya udah cerita tentang Ultimatum I. 

Karena banyak yang tidak mengacuhkan Ultimatum I, Belanda marah. Dikeluarkanlah Ultimatum II. Isinya: para tentara dan pejuang harus meninggalkan Bandung dan melucuti senjatanya sendiri. Bandung harus dikosongkan. Keluar semua dari Bandung. Keluar! 

Eh enak aja lu, kata pejuang kita. 

Ultimatum II ini keluar dari mulutnya jendral Mcdonald kepada PM Sutan Syahrir. Dia mengancam Bandung bakal dibombardir oleh tentara sekutu dari udara kalau kita tidak mematuhi ultimatumnya. Pokoknya bakal ada serangan udara besar-besaran kalo kita-kita gak nurut.

Di depan Gedung Jiwasraya, lagi liat Stilasi Bandung Lautan Api
Akhirnya keputusan meninggalkan Bandung dengan berat hati kita patuhi, tapi dengan catatan. Pejuang dan penduduk tidak mau menyisakan kebaikan buat Belanda. Bandung dibumihanguskan. 

Ternyata banyak juga tentara sekutu yang membelot jadi berpihak ke pejuang. Tentara Inggris kan isinya gak semua bule, mereka juga bertentara orang-orang Gurkha. Orang India-Nepal sewaan Inggris ini kecil-kecil lincah dan kadang-kadang sadis. Nah, seorang kapten bernama Mirza membelot, balik berpihak kepada nasib pribumi. Dia ngajakin anak buahnya. Inggris bete dong, apalagi Belanda.


Stilasi 2: Bank Jabar
Di lokasi ini terjadi aksi perampasan senjata tentara Jepang oleh pejuang (sebelum terjadi BLA). 

Penyobekan bendera Belanda yang dramatis tidak hanya terjadi di Surabaya, pada awal Oktober '45, dua orang pejuang bernama Endang Karmas dan Mulyono menerobos masuk ke Gedung DENIS (sekarang bank Jabar) untuk menyobek bagian bendera Belanda yang berwarna biru. Dari puncak hotel Homan, penembak jitu tentara sekutu menembaki mereka. Untunglah keduanya selamat.


Stilasi 1: Gedung Drikleur (sekarang BTPN)
Terletak di antara Jl. Juanda-Jl. Sultan Agung, gedung kantor BTPN ini dulunya merupakan kantor surat kabar Domei. Untuk pertama kalinya rakyat Bandung membaca isi naskah proklamasi kemerdekaan di tempat ini.



***


Demikianlah ceritanya. Singkat aja sih, lebih seru kalau baca bukunya.

Untuk yang mau lihat foto-foto BLA tahun '46 bisa dilihat di situsnya Bandung Heritage. Sekalian barangkali mau tahu lebih lengkap cerita BLA, bisa beli bukunya juga. Beli bukunya di mana saya kurang tahu euy, coba aja dulu googling. Judulnya Saya Pilih Mengungsi.

Menyusuri Stilasi Bandung Lautan Api ini bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Capek emang, tapi sesekali kan gak apa-apa.

Rasanya pengen lihat langsung kejadian 68 tahun seperti apa, bukan hanya baca di buku. Tapi kalau mengalami langsung juga saya gak mau. Takut... Beruntung kita hidup di zaman sekarang. Perang yang kita hadapi sekarang bukan melawan penjajah. Ada sih penjajah, tapi dalam bentuk yang lain. Ya gitu deh tahu sendiri meureun :D

BLA: Kita Bobolin Terowongan Rajamandala, Biar Bandung Jadi Lautan Api (4)

23/03/14
Stilasi 6: Jalan Dewi Sartika/eks rumah Nasution

Inilah lokasi rumah jenderal pertama pasukan Siliwangi, A.H Nasution. Sekarang rumahnya tidak berbekas. Keterlaluan pemkot Bandung ya, gak bisa melestarikan sejarahnya sendiri. Huh kesel. Banyak sekali titik sejarah Bandung Lautan Api yang hilang jadi ruko, lenyap jadi perumahan, dan habis gak ada sisa. Moga-moga ini pemkot yang baru bisa mempertahankan yang ada dan menjadikannya lebih baik dan terawat lagi. 

Waktu peledakan pertama BLA, lokasinya di titik yang sekarang jadi BRI Tower, Jalan Asia Afrika dekat dengan Aliun-alun kota. Peledakan yang seharusnya dimulai jam 22.00, malah meledak jam 8  malam karena kesalahan teknis. 

Parahnya lagi, para pejuang tidak disiplin dengan waktu menit hingga detik yang seharusnya digunakan sebagai patokan untuk meledakkan bom. Mereka malah berpatok pada suara ledakan pertama untuk ngeledakin bom berikutnya. 

Jadinya awal-awal BLA itu strateginya kacau berantakan. Untungnya tidak terlalu jadi masalah. Bandung tetap terbakar, kebanyakan dibakarnya sama bom-bom molotov rakitan mahasiswa ITB. Beberapa bom menggunakan bahan bakar bensin dan minyak tanah.


Stilasi 5: Sekolah ibu Dewi Sartika


Stilasi Bandung Lautan Api di depan sekolah Ibu Dewi Sartika

Bahkan ibu Dewi Sartika, pendiri sekolah perempuan pertama di Bandung, ikut mengungsi sampai ke Tasikmalaya. Kalau yang saya baca dari bukunya, tertulis kalau beliau sedih sekali karena harus meninggalkan sekolah dan murid-muridnya. Beliau gak pernah balik lagi ke Bandung. Sampai akhirnya wafat. Makamnya berada di kawasan Astana Anyar, dekat Alun-alun Bandung.


Stilasi 4: Rumah jalan Simpang no. 7

Inilah salah satu markas sekaligus tempat para pejuang menggelar rapat, terutama dalam mengambil keputusan membakar Bandung. Soalnya kalo rapat di kantor-kantor militer pasti udah dicurigain duluan, gak bebas. Sementara yang ikut rapat kan gak cuma jendral-jendral, tapi juga pejuang yang ruang geraknya gerilya. 

Lokasi rumahnya da didepan, stilasi ditempatkan disitu soalnya gak ada lahan lagi. Ini satu-satunya stilasi yang gak pada tempatnya. Biasanya stilasi kan  berdiri didepan lokasi, tapi ini mah agak nyungsep. 

Ngomong-ngomong ya, ada dua versi sejarah terbentuknya jargon lautan api. 

Cerita pertama begini. Selama berlangsung rapat, saking semangatnya pengen membakar Bandung daripada 'dikasih cuma-cuma' & dihuni Belanda, salah seorang jendral dengan berapi-api ngomong gini: "kita bobolin Terowongan Rajamandala, biar Bandung jadi lautan api" (harusnya air tapi saking marahnya, jadi yang keluar api). 

Versi kedua, seorang wartawan yang menulis artikel dengan judul Bandung Jadi Lautan Api. Koran Suara Merdeka, nama wartawannya adalah Atje Bastaman. Pak Bastaman ini melihat pemandangan Bandung dari kejauhan, tepatnya dari Garut. Latar belakang pemandangan yang dia lihat ini dia jadikan judul tulisannya.



Baca juga:

BLA, Bandung Lautan Api (1)

BLA: Ultimatum Number One (3)

22/03/14


Stilasi 8: Lengkong

Berdasarkan buku yang saya baca, ada beberapa hal yang memicu terjadinya BLA, di antaranya adalah banjir besar yang terjadi pada 25 November '45. Sungai Cikapundung meluap parah. Banyak penduduk hanyut terbawa arus. Warga mengira orang Belanda yang membobol pintu air di daerah Dago Bandung Utara sana, padahal enggak.

Situasi darurat ini membuat para penduduk mukul-mukul kentungan sebagai tanda bahaya banjir. Bule Belanda mengira itu tanda serangan.  Bukannya menolong orang-orang yang menyelamatkan diri dari banjir, mereka malah nembakin para pribumi.Kebanyakan tentara Inggris dan anteknya malah nontonin orang-orang yang hanyut.

Nah, pasca kejadian ini, orang-orang kita semakin benci & dendam kesumat sama tentara Inggris dan Belanda. Gak bisa ngeliat bule dikit aja, langsung dibunuh. Malah sampe dicari-cari segala. Jadilah situasi kecam muram. Langsung curiga, langsung tangkap dan terkadang langsung bunuh.

Karenanya, keluarlah Ultimatum I dari pihak Belanda, Isinya: penduduk di daerah utara harus pindah ke Bandung selatan dengan rel kereta api sebagai batas pemisahnya. Jadi semua bule ditarik ke utara, pribumi di selatan, biar gak ada bunuh-bunuhan dan situasi aman terkendali. Sayangnya, gak semua orang mematuhi ultimatum tersebut.


Stilasi 7: Kompleks Lengkong

Dulu di kawasan ini banyak orang Belanda yang ditahan Jepang. Tentara sekutu berusaha untuk membebaskan interniran yang ditawan disini. Namun pejuang kita menghadang kedatangan tentara sekutu. Makanya terjadi pertempuran Lengkong  pada 2 Desember 45, pukul 10 pagi. Pertempuran ini nyambung ke serangan Inggris di Tegalega. Kecamuk perang mereda setelah tentara inggris berhasil membebaskan para interniran di sore harinya.



Baca juga:

BLA, Bandung Lautan Api (1)


BLA: Jepang Kalah, Kita Merdeka, Belanda Datang Lagi (2)

21/03/14
Stilasi 10: Tegalega

Stilasi di jl. Mohammad Toha ini berdiri tepat di depan sebuah Gereja Gloria. Tahun 1945 gereja ini bangunan radio NIROM. Radio inilah yang menyebarluaskan berita proklamasi sampai ke luar negeri. Di saat yang sama, Jepang lagi menduduki bumi pertiwi kita ini.  

Di waktu yang berdekatan pula, Jepang kalah dari Sekutu di Perang dunia II. Maka posisi Jepang di Bandung juga ikut terancam. Penduduk mendengar berita kekalahan Jepang dari koran bernama Surat kabar Tjahaya. 

Kekalahan Jepang di Perang Dunia II membuat tentara sekutu datang ke Indonesia. Mereka melucuti tentara Jepang & membebaskan para interniran (tahanan) Belanda yang ditawan jepang, termasuk di Bandung.

Nah ternyata kedatangan tentara sekutu (Inggris) ini diboncengi Belanda yang ingin menjajah Bandung/Indonesia lagi. Orang Bandung gak mau dong dijajah Belanda lagi, kita udah merdeka. Makanya kedatangan tentara Inggris untuk ngebebasin para interniran ini juga banyak dihadang-hadang sama para pejuang. Jadilah perang lagi dan lagi. 

Btw, lokasi penjara interniran itu tersebar di beberapa tempat, di antaranya Lengkong, Tegalega, Cihapit, Banceuy, dll. Saya sering datang ke beberapa lokasi ini buat jalan-jalan atau sekedar numpang lewat. Gak nyangka tempat yang saya lewatin ternyata nuansa sejarahnya kental. Kadang-kadang saya suka pengen meremin mata sambil ngebayangin apa aja yang udah terjadi di tempat saya berdiri, puluhan tahun yang lalu. 

Eniwei balik lagi. Tentara Inggris gemes sama pejuang yang keukeuh ngelawan terus. Jadilah kawasan Tegalega ini salah satu yang dibombardir tentara Inggris (plus Belanda) pada 20 Maret 46. Sewaktu kejadian Bandung Lautan Api, kawasan yang kobaran apinya paling besar adalah di kawasan Tegalega dan Cicadas.




Stilasi 9: SD ASMI

SD negeri ini pernah menjadi lokasi 'rumah sakit' untuk menampung korban luka perang. Pernah juga menjadi markas para pejuang dalam menyusun aksinya. Semacam pitstop pejuang lah fungsinya. 

Pada waktu kejadian BLA, penduduk Bandung diharuskan meninggalkan Bandung tanggal 24 Maret sebelum pukul 24.00. Arus pengungsi mulai rame jam 3 sore. Ternyata gak semua penduduk tahu karena sosialisasi jam mengungsi ini kurang tersebar. 

Jadilah arus pengungsi mulai hiruk pikuk pada pukul 5 sore hari. Penduduk berbondong-bondong berangkat menuju ke selatan. Ke arah Ciwidey, Pangalengan, Garut, dan Tasik, sampai ke Jokjakarta pun ada.



Baca juga:

BLA, Bandung Lautan Api (1)




BLA, Bandung Lautan Api (1)

Pada masa perjuangan kemerdekaan, setiap daerah di Indonesia memiliki nilai dan sejarah perjuangan masing-masing. Di Bandung, satu yang paling terkenal adalah perjuangan Bandung Lautan Api. 

Kalau pernah ke lapangan Tegalega di jalan Otto Iskandar Dinata, di tengah lapangan itu pemerintah membangun monumen Bandung Lautan Api. Monumen ini merupakan simbol perjuangan dan kerelaan para penduduk yang mengungsi keluar Bandung pada 24 Maret 1946.



Sayangnya gak semua orang Bandung yang tahu bahwa jejak peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) bisa kita susuri dalam 10 stilasi yang tersebar di 10 lokasi. Jejak peristiwa bersejarah terangkum melalui stilasi ini. 

Stilasi ini berupa monumen mini. Ukuran tinggi sekitar 1,5m. Stilasi yang didesain oleh seniman bernama Sunaryo (pemilik dan perancang Selasar Sunaryo) dan dibangun tahun 1997 ini memiliki tiga plakat di tiap sisinya. 

Pada stilasi tersebut tercantum tiga informasi mengani peristiwa yang terjadi dilokasi berdirinya stilasi tersebut. Tiga info tersebut adalah keterangan Pembuat Stilasi (Bandung Heritage dan AMEX Bank Fondation), Teks Lagu Halo-Halo Bandung, serta Peta Bandung Lautan Api Heritage Trail. Di bagian atas stilasi dibuat replika bunga yang jadi ikonnya flora kota Bandung, Patrakomala.

Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan suatu rangkaian peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah dan harta benda. Mereka meninggalkan Bandung menuju pegunungan di selatan kota Bandung. 

Kesepuluh lokasi stilasi Bandung Lautan Api tersebut adalah:
1. Gedung BTPN Jl. Dago
2. Bank Jabar Jl. Braga
3. Gedung Jiwasraya Jl. Asia Afrika
4. Rumah Jl. Simpang
5. SD Dewi Sartika Jl. Kautamaan Istri
6. Rumah Nasution (rumahnya udah gak ada lagi) Jl. Dewi Sartika
7. Kompleks Lengkong
8. Jembatan Jl. Lengkong
9. SD Asmi
10.Tegalega


Berikut adalah kisah per stilasi, ceritanya saya sarikan dari buku Saya Pilih Pengungsi. Stilasinya saya hitung mundur ya. Saya mulai dari stilasi 10. 



***



ps: kalau mau lihat Monumen Bandung Lautan Api, temen-temen bisa datang ke Lapangan Tegalega. Ini petunjuk arahnya, kalau bingung tanya saja aja :D

1. Angkot yang lewat Lapangan Tegalega:
  • Kalapa - Dayeuh Kolot
  • Ciwastra - Cijerah
  • Cibaduyut - Karangsetra
  • Cikudapateuh - Ciroyom
  • Semua angkot yang tercantum jurusannya Terminal Tegalega, misalnya: Cisitu - Tegalega, dan masih banyak lagi. 

2. Lapangan Tegalega ini terletak di bagian selatan Bandung. Beberapa tempat yang ada di sekitarnya adalah Terminal Tegalega, Pasar Loak Astana Anyar dan Museum Sri Baduga.





Baca juga:

BLA: Jepang Kalah, Kita Merdeka, Belanda Datang Lagi (2) 



Cibadak Culinary Night, Ada Rasa Pecinannya

17/03/14
Sewaktu mendengar kabar kalau Pemkot Bandung mengadakan Culinary Night di Cibadak, wuw saya senaaaaaaang sekaliiiiii! Cibadak ini kawasan favorit saya. Selain tempat belanja barang-barang grosiran atau makan bubur paling enak se-Bandung, Cibadak itu punya magnet yang gak bisa saya jelasin sensasinya. Bangunan-bangunan tuanya itu loh...


Sabtu tanggal 15 Maret 2014, lampion cantik kecil-kecil bergelantungan di langit Cibadak. Jalanan yang lebarnya lk. 15 meter mulai berisi stand-stand makanan, cemilan, dan minuman. Penduduk ramai memenuhi badan jalan. Hilir mudik orang-orang kesenangan. Tukang parkir mulai sibuk meniup peluit. Mengatur laju kendaraan dan motor yang parkir. Termasuk motor yang saya tumpangi.


Jalan-jalan Nonton Kontes Ayam Pelung

16/03/14
Pada tahu tidak sama yang namanya kontes Ayam Pelung? Kejuaraan tingkat nasional kontes ayam ini diadakan di Bandung. Serunya, bukan di jantung kota Bandung, tapi di kabupaten Bandung yang letaknya 25 km dari pusat kota Bandung: Soreang. 


Kesanalah saya menuju di hari minggu. Mau nonton Kontes Ayam Pelung. Ibaratnya kontes kecantikan, ini si ayam-ayam gagah dinilai dari beberapa kategori. Suara, bobot badan, dan penampilan.