Rumah Turi adalah sebuah hotel. Butik hotel pertama dan ramah lingkungan di Solo, begitu klaimnya. Sejak pertama kali mengetahui ada hotel tersebut (lupa deh kapan tuh tahunya), saya mah udah komat-kamit dalam hati kalau ke Solo nginepnya pengen di Rumah Turi.
Sayangnya kami hanya menginap semalam. Rasanya kuraaaaang banget. Kami kebanyakan main di Yogyakarta, di Solo hanya 1x24 jam ajah. Hughhhgghhhh.
Pengalaman kami menginap di sini sangat berkesan. Pertama, karena kami lagi capek-capeknya waktu itu. Sampai di Solo jam 6 sore. Sampai di hotelnya 15 menit kemudian. Begitu masuk pelataran hotelnya yah, waduh rasanya udah sejuk aja. Ada suara gemericik air dan dedaunan. Kayak lagi hujan padahal enggak.
Ornamen kayu yang samar-samar kelihatan karena langit udah gelap dan lampu temaram menambah suasana yang 'hwuidih solo banget' 😃
Begitu masuk kamarnya, wuaaahhh pengen banting badan ke kasur. Dan emang kami bertiga langsung naik ke ranjang. Abis itu baru melihat kamar secara penuh. Diperhatiin, kamarnya gak mewah kok. Saya booking via Agoda, kamarnya ambil yang termurah termasuk sarapan. Sekitar 350+++ harga kamarnya.
Saya bahas satu per satu yah, gak rinci sih. Udah rada lupa juga rincian yang saya lihat. Kira-kira mah begini.
ROOM
Luas kamarnya 4x5m lah kira-kira. Ornamen kayu mendominasi. Warna cat dinding putih. Lantainya parkit. Tersedia lemari untuk naro pakaian. Juga meja sebagai alas televisi dan barang-barang kita.
Televisinya masih tabung. Channel televisi gak saya perhatiin karena saya sibuk pake wifi aja. Wifinya mantap jiwa wuuuzzzz wuuuuzzzzzz!
Ranjangnya mantaaaaap. Empuk tenan. Bersih pula. Bantalnya oke banget. Pokoknya kami suka semua-semua dari kamar Rumah Turi ini. Memang kelihatan sudah berumur kamarnya sih, gak kelihatan 'muda'. Tapi kami gak mempermasalahkannya.
AC juga mantap anginnya, hanya saja berisik suaranya. Bgggrrrrrrrrr gitu suaranya sepanjang malam. Kamar kami gak berjendela tapi ada ventilasi udara yang bentuknya berkaca nako di atas pintu masuk dan di dekat ranjang tidur. Lucu deh bentuk kacanya. Ini kalo mau pake udara alami sebagai pendingin, tinggal buka kaca-kaca nakonya.
Kamar mandinya gak kalah menarik dari kamar tidurnya. Ornamen kayu masih bisa ditemui di sini. Di bagian lemari sih khususnya. Minim warna lah kamarnya, perpaduan warna-warna tanah aja sih. Saya dan Indra menyukai kamar tidur dan kamar mandi Rumah Turi. Kayak apa yah, kayak begini nih kalo kami punya rumah pengennya kamar tidur dan kamar mandinya begitu.
Fyi, air hangatnya juga mantap lah. Kalo saya baca review di banyak blog, disebut kalo Rumah Turi ini memanfaatkan air hujan untuk air di toiletnya. Saya belum cari tahu ramah lingkungannya hotel ini di bagian apa lagi selain pengolahan limbah air dan jendela nako di kamar. Ohiya juga restorannya yang dibuat terbuka.
Penerangan kamar sih menurut saya agak temaram. Disetel untuk istirahat. Pas mau baca buku, mesti pake lampu tidur aja. Tapi saya udah males baca buku. Pengennya tidur. Zzzzzzzzz......
Datang di malam hari, agak susah melihat sekeliling yang mana udah gelap. Tapi ya, dari kamar tidur dan kamar mandinya aja, Indra udah tahu kalo Rumah Turi dirancang oleh arsitek. Dia sampe browsing siapa arsiteknya. Saya gak pengen tahu, tapi sesama arsitek -apalagi kalo rancangannya dirasa enakeun- pasti kepo (halah).
FOOD
Lupa kami memesan apa waktu sarapan. Di sini gak prasmanan/buffet sarapannya. Kita diminta milih mau menu apa. Kalo gak salah kami berdua milih Soto. Rasanya? hwuaduh lezatnya minta ampun. Ada juga pendamping makanan berupa buah-buahan.
Makannya di restoran. Fyi, selain hotel, Rumah Turi ini kafe juga. Si kafe ini dipake untuk tamunya sarapan. Kafenya gak kalah seru dari kamarnya. Masih dominan perkayuan. Lebih unik lagi, meja dan kursinya beda-beda.
Ruangannya pun terbuka lebar-lebar. Angin dari taman di tengah bisa masuk deh jadi gak kepanasan. Jendelanya juga dibuka semua. Menyenangkan sih ada di sini.
Di satu dinding memanjang isinya buku semua. Ada majalah juga. Sampai kami bingung ini mau baca apa dulu hahaha.
Terus saking baiknya, petugas yang bekerja memindahkan channel televisi ke kartun Disney Junior deh kalo gak salah. Alamak, Nabil mah kalo makan disambi nonton bakal lama kelarnya hahaha. Jadi saya minta matiin aja tivinya 😁 Pagi itu sepi juga, kami satu-satunya yang sarapan. Ada juga rombongan turis dari Eropa, satu keluarga. Mereka sarapannya di teras restoran.
SERVICE
Bagus no komplen. Ramah-ramah pegawainya. Mereka nyapa duluan. Nanya duluan. Adem lah rasanya.
Sepertinya pemilik hotel juga tinggal di Rumah Turi ya? kami sempat mengobrol dengan seorang bapak-bapak tua yang asyik melihat kolam. Emang sih cuma pake tshirt belel dan celana oblong, tapi dari kewibawaannya yang sederhana itu sih kayak yang punya hotelnya gituh 😅 Setelah ngobrol sama kami, dia menghampiri turis-turis Eropa di teras.
Ada banyak tanaman di RUmah Turi. Untuk mengusir nyamuk, mereka membakar wangi-wangian herbal di jam tertentu. Waktu kami sarapan, Nabil asyik menemani petugas yang sedang bakar wangi herbal itu. Duh saya lupa deh apa yang dibakar, serai bukan yah... wanginya enak kok seger-seger sejuk gimana gitu.
LOCATION
Bagus banget! Ada di jantung kota Solo. Ini saya perhatiin pas keesokan harinya yah, kan kami bolak-balik 2x ke hotel. Ternyata hotelnya dekat dengan Mall Paragon, di sana kami menyantap makan siang.
Terus gak jauh dari hotel, ada tempat makan namanya Wedhangan Pendhopo. Setelah check in, kami bergegas keluar hotel lagi untuk makan malam. Nanya-nanya ke resepsionis, ia menjawab "waaa kebetulan sekali saya abis dari sana, Mba. Wedangan Pendhopo namanya. Mbaknya nanti keluar hotel belok kiri, jalan kaki sebentar tempatnya ada di sebelah kanan," masnya menjawab tentu aja sambil senyum.
"Murah gak, Mas?" saya bertanya. Penting.
"Murah kok, Mba," ia mengacungkan jempol.
Ternyata memang murah, hanya saja saya, Indra, dan Nabil mengambil terlalu banyak makanan sehingga terasa agak mahal juga hahahaha.
Beneran deh malam di Solo waktu itu gak akan terlupakan. Penginapannya adem cesss bikin damai di hati. Udah gitu pas masuk Wedangan Pendhopo rasanya lebih ceeeewwwwwssssssss! teduhnya. Disambut musik-musik ala wong jowo yang gemulai, lampu temaram bener-bener temaram. Ada mbok-mbok di belakang meja melayani pembeli. Kami ambil makanan sendiri terus rikwes mau dibakar atau digoreng. Saya pilih bakar aja.
Waktu kami datang, pengunjung masih sedikit. Syahdu sekali suasananya. Pas kami asyik makan, wedew ramainya luar biasa. Terus saya baru ingat, malam minggu waktu itu. Rupanya tempat yang kami datangi itu populer di kalangan anak muda dan warga Solo pada umumnya. Ditambah keistimewaan tempatnya yang konon tempat jajan favoritnya Jokowi. Kami baru menyadari itu setelah melihat foto-foto artis dan pejabat di dinding restoran. Wah ngetop juga nih restoran, baru tahu 😅
Esok harinya kami mau balik lagi ke sana, tapi ia buka pukul 5 sore saja. Sementara kami mau ke Laweyan dan langsung pulang ke Bandung menumpang kereta api jam 7 malam.
Kembali ke Rumah Turi, lokasi Rumah Turi ini bagus banget. Memang gak persis pinggir jalan besar. Justru karena itu suasananya terasa begitu hening.
Kalau diminta skor, bila angka 10 adalah skor tertinggi, saya kasih 10 buat Rumah Turi Eco Boutique Hotel. Well-designed buat saya mah. Jatuh cinta lah pokoknya sama Rumah Turi. Bila kembali ke Solo, sudah pasti kami menginap di sini lagi.
Rumah Turi Eco Boutique Hotel
Jl. Srigading II no. 12 Solo
Teks: Ulu
Foto: Indra





























