Social Media

Image Slider

Showing posts with label Solo. Show all posts
Showing posts with label Solo. Show all posts

Waktu Menginap di Solo, Kami Tidur di Rumah Turi

22/12/17
Rumah Turi adalah sebuah hotel. Butik hotel pertama dan ramah lingkungan di Solo, begitu klaimnya. Sejak pertama kali mengetahui ada hotel tersebut (lupa deh kapan tuh tahunya), saya mah udah komat-kamit dalam hati kalau ke Solo nginepnya pengen di Rumah Turi. 

Sayangnya kami hanya menginap semalam. Rasanya kuraaaaang banget. Kami kebanyakan main di Yogyakarta, di Solo hanya 1x24 jam ajah. Hughhhgghhhh. 

Pengalaman kami menginap di sini sangat berkesan. Pertama, karena kami lagi capek-capeknya waktu itu. Sampai di Solo jam 6 sore. Sampai di hotelnya 15 menit kemudian. Begitu masuk pelataran hotelnya yah, waduh rasanya udah sejuk aja. Ada suara gemericik air dan dedaunan. Kayak lagi hujan padahal enggak.



Ornamen kayu yang samar-samar kelihatan karena langit udah gelap dan lampu temaram menambah suasana yang 'hwuidih solo banget' 😃

Begitu masuk kamarnya, wuaaahhh pengen banting badan ke kasur. Dan emang kami bertiga langsung naik ke ranjang. Abis itu baru melihat kamar secara penuh. Diperhatiin, kamarnya gak mewah kok. Saya booking via Agoda, kamarnya ambil yang termurah termasuk sarapan. Sekitar 350+++ harga kamarnya. 

Saya bahas satu per satu yah, gak rinci sih. Udah rada lupa juga rincian yang saya lihat. Kira-kira mah begini. 


ROOM


Luas kamarnya 4x5m lah kira-kira. Ornamen kayu mendominasi. Warna cat dinding putih. Lantainya parkit. Tersedia lemari untuk naro pakaian. Juga meja sebagai alas televisi dan barang-barang kita. 

Televisinya masih tabung. Channel televisi gak saya perhatiin karena saya sibuk pake wifi aja. Wifinya mantap jiwa wuuuzzzz wuuuuzzzzzz! 

Ranjangnya mantaaaaap. Empuk tenan. Bersih pula. Bantalnya oke banget. Pokoknya kami suka semua-semua dari kamar Rumah Turi ini. Memang kelihatan sudah berumur kamarnya sih, gak kelihatan 'muda'. Tapi kami gak mempermasalahkannya.



AC juga mantap anginnya, hanya saja berisik suaranya. Bgggrrrrrrrrr gitu suaranya sepanjang malam. Kamar kami gak berjendela tapi ada ventilasi udara yang bentuknya berkaca nako di atas pintu masuk dan di dekat ranjang tidur. Lucu deh bentuk kacanya. Ini kalo mau pake udara alami sebagai pendingin, tinggal buka kaca-kaca nakonya. 

Kamar mandinya gak kalah menarik dari kamar tidurnya. Ornamen kayu masih bisa ditemui di sini. Di bagian lemari sih khususnya. Minim warna lah kamarnya, perpaduan warna-warna tanah aja sih. Saya dan Indra menyukai kamar tidur dan kamar mandi Rumah Turi. Kayak apa yah, kayak begini nih kalo kami punya rumah pengennya kamar tidur dan kamar mandinya begitu. 

Fyi, air hangatnya juga mantap lah. Kalo saya baca review di banyak blog, disebut kalo Rumah Turi ini memanfaatkan air hujan untuk air di toiletnya. Saya belum cari tahu ramah lingkungannya hotel ini di bagian apa lagi selain pengolahan limbah air dan jendela nako di kamar. Ohiya juga restorannya yang dibuat terbuka.



Penerangan kamar sih menurut saya agak temaram. Disetel untuk istirahat. Pas mau baca buku, mesti pake lampu tidur aja. Tapi saya udah males baca buku. Pengennya tidur. Zzzzzzzzz......

Datang di malam hari, agak susah melihat sekeliling yang mana udah gelap. Tapi ya, dari kamar tidur dan kamar mandinya aja, Indra udah tahu kalo Rumah Turi dirancang oleh arsitek. Dia sampe browsing siapa arsiteknya. Saya gak pengen tahu, tapi sesama arsitek -apalagi kalo rancangannya dirasa enakeun- pasti kepo (halah). 

FOOD


Lupa kami memesan apa waktu sarapan. Di sini gak prasmanan/buffet sarapannya. Kita diminta milih mau menu apa. Kalo gak salah kami berdua milih Soto. Rasanya? hwuaduh lezatnya minta ampun. Ada juga pendamping makanan berupa buah-buahan. 

Makannya di restoran. Fyi, selain hotel, Rumah Turi ini kafe juga. Si kafe ini dipake untuk tamunya sarapan. Kafenya gak kalah seru dari kamarnya. Masih dominan perkayuan. Lebih unik lagi, meja dan kursinya beda-beda.




Ruangannya pun terbuka lebar-lebar. Angin dari taman di tengah bisa masuk deh jadi gak kepanasan. Jendelanya juga dibuka semua. Menyenangkan sih ada di sini. 

Di satu dinding memanjang isinya buku semua. Ada majalah juga. Sampai kami bingung ini mau baca apa dulu hahaha. 

Terus saking baiknya, petugas yang bekerja memindahkan channel televisi ke kartun Disney Junior deh kalo gak salah. Alamak, Nabil mah kalo makan disambi nonton bakal lama kelarnya hahaha. Jadi saya minta matiin aja tivinya 😁  Pagi itu sepi juga, kami satu-satunya yang sarapan. Ada juga rombongan turis dari Eropa, satu keluarga. Mereka sarapannya di teras restoran. 

SERVICE


Bagus no komplen. Ramah-ramah pegawainya. Mereka nyapa duluan. Nanya duluan. Adem lah rasanya. 

Sepertinya pemilik hotel juga tinggal di Rumah Turi ya? kami sempat mengobrol dengan seorang bapak-bapak tua yang asyik melihat kolam. Emang sih cuma pake tshirt belel dan celana oblong, tapi dari kewibawaannya yang sederhana itu sih kayak yang punya hotelnya gituh 😅 Setelah ngobrol sama kami, dia menghampiri turis-turis Eropa di teras. 

Ada banyak tanaman di RUmah Turi. Untuk mengusir nyamuk, mereka membakar wangi-wangian herbal di jam tertentu. Waktu kami sarapan, Nabil asyik menemani petugas yang sedang bakar wangi herbal itu. Duh saya lupa deh apa yang dibakar, serai bukan yah... wanginya enak kok seger-seger sejuk gimana gitu. 

LOCATION


Bagus banget! Ada di jantung kota Solo. Ini saya perhatiin pas keesokan harinya yah, kan kami bolak-balik 2x ke hotel. Ternyata hotelnya dekat dengan Mall Paragon, di sana kami menyantap makan siang. 

Terus gak jauh dari hotel, ada tempat makan namanya Wedhangan Pendhopo. Setelah check in, kami bergegas keluar hotel lagi untuk makan malam. Nanya-nanya ke resepsionis, ia menjawab "waaa kebetulan sekali saya abis dari sana, Mba. Wedangan Pendhopo namanya. Mbaknya nanti keluar hotel belok kiri, jalan kaki sebentar tempatnya ada di sebelah kanan," masnya menjawab tentu aja sambil senyum.



"Murah gak, Mas?" saya bertanya. Penting. 
"Murah kok, Mba," ia mengacungkan jempol. 

Ternyata memang murah, hanya saja saya, Indra, dan Nabil mengambil terlalu banyak makanan sehingga terasa agak mahal juga hahahaha. 

Beneran deh malam di Solo waktu itu gak akan terlupakan. Penginapannya adem cesss bikin damai di hati. Udah gitu pas masuk Wedangan Pendhopo rasanya lebih ceeeewwwwwssssssss! teduhnya. Disambut musik-musik ala wong jowo yang gemulai, lampu temaram bener-bener temaram. Ada mbok-mbok di belakang meja melayani pembeli. Kami ambil makanan sendiri terus rikwes mau dibakar atau digoreng. Saya pilih bakar aja. 

Waktu kami datang, pengunjung masih sedikit. Syahdu sekali suasananya. Pas kami asyik makan, wedew ramainya luar biasa. Terus saya baru ingat, malam minggu waktu itu. Rupanya tempat yang kami datangi itu populer di kalangan anak muda dan warga Solo pada umumnya. Ditambah keistimewaan tempatnya yang konon tempat jajan favoritnya Jokowi. Kami baru menyadari itu setelah melihat foto-foto artis dan pejabat di dinding restoran. Wah ngetop juga nih restoran, baru tahu 😅

Esok harinya kami mau balik lagi ke sana, tapi ia buka pukul 5 sore saja. Sementara kami mau ke Laweyan dan langsung pulang ke Bandung menumpang kereta api jam 7 malam. 

Kembali ke Rumah Turi, lokasi Rumah Turi ini bagus banget. Memang gak persis pinggir jalan besar. Justru karena itu suasananya terasa begitu hening. 

Kalau diminta skor, bila angka 10 adalah skor tertinggi, saya kasih 10 buat Rumah Turi Eco Boutique Hotel. Well-designed buat saya mah. Jatuh cinta lah pokoknya sama Rumah Turi. Bila kembali ke Solo, sudah pasti kami menginap di sini lagi. 


Rumah Turi Eco Boutique Hotel
Jl. Srigading II no. 12 Solo




Teks: Ulu
Foto: Indra

Laweyan, Bukan Tentang Batiknya

01/10/17
Ceritanya dari Jogja, kami mampir ke Solo, niatnya mau ke Laweyan. Bukan mau belanja batik, kami gak nyiapin dana perjalanan utk beli batik di Laweyan. Kami datang karena cerita tempatnya. 


Ke Laweyan di hari minggu, ternyata kampungnya sepi aja. Sepi mah terlalu biasa. Lebih cocok pake istilah ini nih : senyap & misterius.



Jalanan kosong kayak kampung tanpa penghuni. Banyak dinding rumah tinggi-tinggi banget. 



Kalo ditilikitili, rumahnya gede-gede seperti istana. Rumah-rumah yg tampak frontal pintu dan jendelanya emang kuno sih gayanya, tapi gak seantik yang saya bayangin. Lha ya kan jadi penasaran banget bentuk rumah yg tertutup rapat dinding & pintu tinggi itu kayak gimana bentuknya. 



Membaca artikel ini : baca di http://alfianwidi.com/2016/04/laweyan/ jadi tahu kenapa gerangan tembok rumahnya tinggi-tinggi. Juga sejarah lainnya, termasuk tentang kenapa ada pintu kecil dan pintu besar kayak pintu yang saya foto ini nih. Teman-teman bisa baca lebih detail tentang sejarah Laweyan pada link tersebut. 



Menarik sekali ya Laweyan ini. Bahkan ada hubungannya dgn feodalisme keraton surakarta. 



Walo saya gak dapat impresi pertama yang menyenangkan dari Laweyan, saya mau balik lagi ke sana. Mengutip perkataan teman saya: Laweyan itu mesti lebih sabar dihadapinya, ketimbang sudut-sudut tua Jogja.



Entah kapan saya bakal nulis lebih panjang tentang Laweyan. Ini aja tulisannya saya salin dari status saya di Facebook bulan Agustus lalu. Heuheu. 





Trip to Yogyakarta (Again!) and Surakarta

09/08/17
Kami baru saja kembali dari perjalanan satu minggu di Yogyakarta dan Solo. Senang rasanya bisa kembali ke Kota Pelajar dan menjelajahinya sesuai keinginan kami. Belum lagi ada bonus ke Solo sebelum balik lagi ke Bandung. 

Perjalanan ini bukan murni jalan-jalan. Indra ada urusan kerja di sana selama empat hari dan dia mengajak saya ikut serta. Kami menginap di hotel yang berbeda. Saya dan Nabil jalan-jalan berdua saja (plus seorang teman yang saya minta jadi pemandu) berkeliling tempat seru di Jogja. Indra baru gabung dengan kami selepas jam 2 siang. 

Kayak biasanya saya udah nyiapin daftar mau ke mana aja selama di Jogja dan Solo. Yah gak jauh-jauh dari historical places wkwkwk. Mulai terbaca membosankan belum? :D


Highlight perjalanan ini adalah BOROBUDUR! Karena ini pertama kalinya saya melihat mahakarya satu dari tujuh keajaiban dunia ituh.

Saya beruntung banget selama perjalanan di Yogyakarta, seorang teman menemani kami. Alfian Widi adalah fotografer dan penulis lepas yang jadi pemandu saya selama di Jogja. Kamu bisa baca dan lihat karyanya di blog www.alfianwidi.com

Dengan waktu yang Alfian punya nemenin kami selama dua hari aja, itu pun kepotong hal darurat yang mendadak terjadinya, kami benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sepenuh hati *halah :P*. 

Alfian mengajak saya ke Kota Baru (lihat rumah kuno), ke Museum Sandi, dan mengunjungi beberapa situs kereta api. Termasuk rumahnya yang ternyata antik banget. Pada hari ke dua, saya rikwes jelajah ke daerah Kauman dan dua masjid kuno. Dalam setengah hari saja misi tercapai. 

Namanya traveling bersama anak kecil, kasihan juga kalau hanya ibu dan ayahnya yang senang-senang :D oleh karena itu saya bawa Nabil ke Gembira Loka dan dia senang banget ahahahahahah. Niatnya sih habis itu mau balik ke hotel, tapi Indra mengajak kami ikut rombongannya ke Imogiri untuk makan Sate Klathak. Nyampe hotel jam 9 malam dan ini badan terasanya capek banget. 

Di hari ke tiga, Alfian harus pergi ke Pekalongan, saya dan Nabil istirahat saja di penginapan. Begitu juga Indra yang udah bebas dari kerjanya. Apa yang kami lakukan: tidur seharian. Capek :D Stamina kami jelek amat ya heuheuheu. Sorenya sih ke toko jamu, tapi itu juga saya doang yang pergi. Indra dan Nabil tidur mulu. 

Baru deh besoknya tancap gas ke Borobudur. Siang hari berkeliaran di Malioboro itung-itung nunggu jadwal kereta ke Solo karena dapet tiket yang sore. Saya pengen ceritain satu-satu sih gimana kesan-kesan selama berkunjung.

(Lha yang mengunjungi masjid-masjid kuno di Cirebon aja belum saya tulis di blog. Ahuhuhuhuh)


Sementara itu, berikut ini cuplikan foto dari tempat-tempat yang sekarang jadi bagian dari kenangan kami :) Tulisan dan foto lebih banyak menyusul ya hehehe.

istirahat di stasiun yang hawa di sekitarnya segar dan sejuk
 Berkunjung ke Masjid Syuhada
Dan berjalan kaki menuju Museum Sandi 

Melongok sedikit rumah-rumah tua di kawasan Kota Baru
Mengekor Alfian merunut jejak kereta api di masa lalu
Lalu mampir ke rumahnya (yang antik!)


Di Masjid Gede Kauman
Dan menjelajahi kawasan kampung kuno Kauman
Sholat Dhuhur di Masjid Margo Yuwono yang cantik
Dan sejenak menjadi anak gaul Jokteng -Pojok Benteng-
Menghabiskan sisa siang hari di kebun binatang
Mencicipi es jamu beras kencur di kedai jamu yang ada sejak tahun 1950
Esok harinya ke Borobudur
Dan jarang-jarang membuat foto keluarga ini :D 
Lalu menuju ke Surakarta a.k.a Solo!
Rumah Turi, salah satu penginapan terbaik yang pernah kami singgahi
Menyaksikan jejak keraton Raja Surakarta
Dan menuju Pasar Gedhe mencari kuliner-kuliner terbaiknya Solo
Terakhir: singgah ke Laweyan






Teks : Ulu
Foto : Indra, Ulu, & Alfian