Laweyan, Bukan Tentang Batiknya

October 01, 2017
Ceritanya dari Jogja, kami mampir ke Solo, niatnya mau ke Laweyan. Bukan mau belanja batik, kami gak nyiapin dana perjalanan utk beli batik di Laweyan. Kami datang karena cerita tempatnya. 


Ke Laweyan di hari minggu, ternyata kampungnya sepi aja. Sepi mah terlalu biasa. Lebih cocok pake istilah ini nih : senyap & misterius.



Jalanan kosong kayak kampung tanpa penghuni. Banyak dinding rumah tinggi-tinggi banget. 



Kalo ditilikitili, rumahnya gede-gede seperti istana. Rumah-rumah yg tampak frontal pintu dan jendelanya emang kuno sih gayanya, tapi gak seantik yang saya bayangin. Lha ya kan jadi penasaran banget bentuk rumah yg tertutup rapat dinding & pintu tinggi itu kayak gimana bentuknya. 



Membaca artikel ini : baca di https://alfianwidi.com/2016/04/laweyan/, jadi tahu kenapa gerangan tembok rumahnya tinggi-tinggi. Juga sejarah lainnya, termasuk tentang kenapa ada pintu kecil dan pintu besar kayak pintu yang saya foto ini nih. Teman-teman bisa baca lebih detail tentang sejarah Laweyan pada link tersebut. 



Menarik sekali ya Laweyan ini. Bahkan ada hubungannya dgn feodalisme keraton surakarta. 



Walo saya gak dapat impresi pertama yang menyenangkan dari Laweyan, saya mau balik lagi ke sana. Mengutip perkataan teman saya: Laweyan itu mesti lebih sabar dihadapinya, ketimbang sudut-sudut tua Jogja.



Entah kapan saya bakal nulis lebih panjang tentang Laweyan. Ini aja tulisannya saya salin dari status saya di Facebook bulan Agustus lalu. Heuheu. 





5 comments on "Laweyan, Bukan Tentang Batiknya"
  1. ingin ke solo, belum kesampaian juga

    ReplyDelete
  2. Aku Belom pernah ke Solo. Ke Jogja seringnya. Huhu... Pengen main ke Solo...

    ReplyDelete
  3. ya saya sering denger kata batik laweyan. Jadi kalau ingat Laweyan, langsung ke batik. Padahal sepertinya banyak yang bisa diulik, ya

    ReplyDelete