Social Media

Image Slider

Showing posts with label Cilacap. Show all posts
Showing posts with label Cilacap. Show all posts

Luntang-Lantung di Kroya

06/12/22

Tepatnya sih terluntang-lantung di sekitar stasiun kereta api Kroya. Saya, Indra, dan Kubil transit di sini sekitar empat jam sampai kereta api yang membawa kami ke Bandung tiba. 

 



Jadi kalo mau pergi ke atau dari Cilacap menuju Bandung menumpang kereta api mau gak mau akan transit di Stasiun Kroya. Habis itu lanjut naik mobil (sewa/online) ataukah menunggu kereta yang berangkat ke Cilacap. Saya sih nunggu kereta aja.

Kupikir daripada bengong dan ngecekin hape melulu bagaimana kalo lihat suasana sekitar stasiun. Dan pergilah kami berjalan kaki tanpa arah dan tujuan.

Hasilnya adalah kepanasan dan tertawa bareng-bareng. Sebab bingung sendiri ini kita ngapain ya di sini. Hehe.

Tentu saja kami browsing dulu dan cari tahu ada apa sih yang menarik di Kroya. Hampir semua artikel merekomendasikan wilayah pantai. Sayang terlalu jauh. Ya sudah kami berpegangan pada googlemap saja.

Alun-Alun Kroya jadi tujuan, menurut saya bisa jadi ada generator aktivitas warga di sana. Memang ada: kantor kecamatan dan kantor samsat. Wkwkwkwk.

Lain-lainnya begitu saja, seperti sedang berada di Majalaya sih rasanya. Tidak banyak yang bisa dilihat selain pertokoan usang dan pasar yang hangus karena kebakaran tahun 2021.

Karena kepanasan kami ngadem di toko roti O. Lalu masuk angin karena kena kipas angin terlalu lama wkwkwkwk parah.

Ya sudah kami menyerah dan memutuskan kembali ke stasiun. Di warteg saya beli makan siang dulu, lumayan ngirit daripada beli di kereta api harganya mahal banget deh. 

 

 

 


 

Kami berjalan kaki menuju stasiun, seorang tukang becak gigih menawari kami jasanya. Kutolak berkali-kali dan ia pun berhenti menawarkan becaknya setelah berkata pada kami “oh mau olahraga ya,” wajahnya kecewa dan kalimatnya bernada sarkas. Kami hanya tertawa saja setelah mamang becak menjauh. Sesungguhnya yang terjadi adalah benar, kami memang seperti sedang berolahraga jalan kaki!

Ohiya kami menitipkan tas di toko sebelah stasiun. Rupanya ada tempat penitipan motor di sana, mungkin yang nitip motor adalah warga lokal yang kerjanya di kota sebelah ya. Saat kami mengambil tas dan hendak membayar, pemilik toko menolak. “Gak usah,” katanya dengan muka datar.

Ya sudah saya beli makanan saja di toko tersebut. Itung-itung ucapan terima kasih. Lumayan kan nitipin tiga ransel. Saya harap saya kembali lagi transit ke Kroya, karena saya harap saya kembali lagi ke Cilacap. Aminkan, Wankawan!

Tidak Ada Macet di Cilacap

02/12/22

Dari Yogyakarta saya tidak langsung kembali ke Bandung. Namun bersambang ke kota kecil yang jaraknya tiga jam dari kota Jogja, menumpang kereta api Joglosemar. Ongkosnya Rp75.000. Di kota kecil itulah terdapat kilang minyak Pertamina terbesar se-Indonesia, di Cilacap. 

 

jalan-jalan ke cilacap


Indra dan Kubil sudah duluan berada di sana. Sore-sore kereta api sampai di Stasiun Cilacap, Indra menjemputku dan langsung mengajakku keliling Alun-Alun. “Kotanya sepi banget, jalannya lebar-lebar, mulus, dan kosong!” katanya semangat.

Begitulah memang warga metropolis di kota kecil, kami memperhatikan kondisi jalanan. Bagaimana lagi sehari-hari yang kami lihat adalah kemacetan jahanam, trafik yang ruwet di Bandung. Di Cilacap semuanya terasa leluasa dan lega. Rasa-rasanya damai. Tidak ada cerita jemput anak pulang sekolah berangkatnya satu jam lebih awal supaya tidak kena macet. Tidak ada kemacetan di Cilacap.

Tiga hari dua malam di sini gak terlalu banyak kegiatan jalan-jalan yang kami lakukan. Makan dan bermotor keliling kota saja. Santai sesantai-santainya.

Highlight dari jalan-jalannya adalah menyusuri jalanan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Wah kulihat ombaknya bergulung-gulung besar. Berbeda dengan ombak kalem nan tenang yang kulihat di pantai Tirtamaya, Indramayu. 

 

makan ikan bakar di teluk penyu


Kami menyambangi pantai sebanyak dua kali. Hari pertama ke Pantai Teluk Penyu. Di sana kami lihat pantai sebentar dan makan siang. Menunya ikan bakar, kupilih bawal hitam saja.

Rasa makanannya enak-enak. Namun hintnya ada pada rasa kecap, lezat sekali kecapnya! ada rasa manis dan gurih sekaligus, manisnya lebih kuat. Kutanya ibu pemilik warung makan, apa nama kecapnya. “Kecap Cap Kuntul,” jawabnya.

Sewaktu saya menyantap mie ayam di malam hari, di warung mie ayam yang kami pilih acak saja, kecap cap kuntul ada juga di sana.

Keesokan harinya kami meluncur lagi menyusuri jalanan tepi pantai. Kira-kira tiga jam saja bermotor mengelilingi kota dan pantai yang menjadi batas jawa tengah dan jawa barat ini.

 

jalan-jalan di cilacap


Bahkan gak sengaja saya lihat layang-layang naga. Ada sekitar tujuh orang yang memegang tali. Layang-layang dilempar ke udara dan wuzzzz terbawa angin kencang ala samudera. Ketujuh pria memegang tali kuat-kuat dan mengikatnya ke batang pohon.

Kami gak merencanakan kegiatan khusus di sini. Acak saja, kebanyakan tempat kami datangi karena ingin makan saja. Seperti yang terjadi di hari minggu pagi. Niatnya mau berjalan kaki ke arah Alun-Alun. Tahunya ada pasar kaget meriah di depan hotel kami menginap.

Ya sudah! Kami jajan saja di pasar kagetnya. Kami bertiga jajan makanan: cumi bakar, martabak ayam (enak banget), mencoba bakery buatan warga Cilacap (yang lezat!), menyantap kembang tahu bertopping bubur kacang tanah (unik yha!).

Sekilas dalam tiga hari melihat Cilacap memanglah gak cukup. Sebagai turis boleh kusebut kota ini menenangkan. Meskipun kotanya kota industri -ada Pertamina, Antam, PLTU, dan Semen Cibinong- tapi entah mengapa sepi-sepi saja.  

 

jalan-jalan di cilacap

 bangunan tua cilacap

 

Hawanya saja yang panas khas kota tepi laut. Lumayan membuat senewen buat orang Bandung yang terbiasa hawanya sejuk. Meski begitu saya gak akan menolak bila ada kesempatan kembali lagi ke Cilacap.

Oh ya kami menginap di hotel NS, dekat sekali dengan Alun-Alun dan bersebelahan dengan toko kue legendaris, Gayawati. Ada deh kayaknya saya jajan ke toko Gayawati empat kali. Hehe. Di malam hari di toko tersebut ada wedang ronde. Semangkok Rp15.000, harganya mirip harga-harga di Bandung.

Dari penginapan kami berjalan kaki sampai stasiun kereta api. Dekat banget! Kota yang menyenangkan. Kuharap kita bertemu lagi, Cilacap.