Sore-sore di Istana Pakuwon

July 10, 2019
Gedung Pakuan maksudnya. Kalo bukan karena acara reuni SMA 3 Bandung, manalah mungkin saya bisa masuk ke areal rumah dinasnya gubernur Jawa Barat ini.

Bukan Ridwan Kamilnya yang mau saya temui. Tapi gedungnya yang klasik banget. Biasanya cuma bisa memandang dari luar pagar. Sekarang bisa masuk ke terasnya. Segitu juga udah lumayan. Khekhekhe.




Temen bilang sih di sini suka ada pengajian. Terbuka untuk umum atawa komunitas pengajian. Wah saya belum tertarik, karena kalo acara kayak gitu suka dipasang panggung dan dekorasi yang nutupin keindahan gedungnya :D

Nah pas banget nih si Indra reunian, saya ikut ngintilin. Lalu berfotolah sepuasnya di sana. Rupanya saya gak sendiri. Emang banyak yang mau foto-foto di sana hehe.

Gedung Pakuan usia bangunannya udah tuaaaa banget. Sejak tahun 1866. Dia bahkan udah ada sejak rel kereta api belum dibuat di Bandung. Oleh karenanya, ini gedung yang jadi saksi sejarah Bandung yang tadinya kampung pedalaman menjelma jadi kota metropolis.

Bergaya Indische Empire, gedungnya emang kelihatan 'menindas' banget. Mewah. Pilar-pilarnya besar ala kerajaan romawi. Gedung yang sama pernah saya lihat di Gedung Negara di Cirebon. ya mirip-mirip begitu. Halaman depan yang ekstra luas, teras yang lebar dan besar, kolom-kolom yang ala istana, dan pintu depan ada beberapa biji dan berbuku-buku.

Ini bangunan termewah pada zamannya kali ya.

Coba perhatiin kantor Polwiltabes Bandung, seberangnya Bank Indonesia itu lho di Jalan Jawa. Nah arsitek Gedung Pakuan dan Polwiltabes orang yang sama. Polwiltabes ini dulunya Sakola Raja. Sekolah buat kaum priyayi. Ndak heran gaya-gaya rancangannya mirip yhaaa.

Nama Pakuan sendiri diambil dari nama kerajaan sunda pajajaran di Bogor.





Dulu waktu wilayah di Hindia Belanda masih dibagi dengan nama karesidenan, nah inilah rumahnya residen Priangan. Status bangunannya sepenting itu. Ibukota Karesidenan Priangan tadinya di Cianjur sih, tapi emang mau dipindahin ke Bandung. Kenapa ya?

Berhubung Gunung Gede meletus, cepet-cepet lah dipindahinlah ke Bandungnya. Nah itulah mulainya titik mula Bandung dilirik sama orang Belanda jadi tempat yang 'boleh juga nih!'

Sebab setelah itu, Daendels yang memimpin Hindia Belanda dan mindahin pusat kota yang tadinya di selatan (Dayeuh Kolot) ke utara di kawasan Jalan Asia Afrika sekarang. Udah deh abis itu merem aja. Bandung melesat pertumbuhannya. Jalan pos dibangun. Jalur rel kereta api dibuka. Moncer pokoknya cuan-cuan lancar masuk keluar Bandung.

Gedung Pakuan ini pernah direstorasi satu kali. Biayanya banyak, hampir satu milyar. Begitu kata artikel-artikel yang saya baca online.

Sejarahnya panjang. Bukan cuma ini gedung jadi pemukiman gubernur, pernah juga bangunannya diinapi kontingen Konferensi Asia Afrika. Kelihatannya sih ya dulu zaman hotel belum banyak dan ada event-event sekelas dunia, Gedung Pakuan dimanfaatkan untuk menjamu tamu. Termasuk kalo ada artis-artis sekelas internasional pada datang ke Bandung. Kayak Raja Siam, Charlie Chaplin, Perdana Menteri Prancis di tahun 1921, dll, dst, dkk. Gitu cenah kata Wikipedia.

Walo gak bisa masuk ke dalam bangunan, bisa melihat lebih dekat kayak gini aja saya seneng sih. Ini lahan luas banget ya. RK cuma berempat kalo dengan istri anak. Lantas asistennya berapa. Ajudannya berapa. Sopirnya berapa. Wow...memang zaman dulu tuh pejabat diperlakukan bak raja. Tapi sekarang gak mungkin petantang-petenteng kayak dulu lagi sih kan zamannya udah beda :D

Atau masih?








Foto: Ulu
Post Comment
Post a Comment