Social Media

Image Slider

Matahari di Punggung Asia Afrika

28/10/15
Berjalan kaki di Bandung pasti ke kawasan Asia Afrika melulu deh tujuannya. Kayak gak ada lagi tempat lain di Bandung. Ada kok. Tapi pagi itu tujuannya pengen ke daerah Braga aja. 

Pagi pukul tujuh, kami bertiga sudah mendarat di jalan Asia Afrika. Matahari paginya hangat memijat punggung saya. Karena jalan Asia Afrika ini memanjang dari Timur ke Barat, jadi sinar mataharinya pas banget menyorot jalan yang dirintis oleh Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini. 

Berjalan kaki melewati KM 0 dan berhenti sejenak untuk memotret Hotel Savoy Homann. Emang gak pernah bosan melihat bangunan hotel Homann ini. Katanya sih arsitektur bangunan ini dibuat berdasarkan bentuk kapal penumpang yang mengangkut orang-orang Eropa ke Hindia Belanda. Gedungnya cantik sekali. Melengkung-lengkung gitu. Padahal gak tinggi-tinggi amat tapi berdiri di depan Hotel Homann ini saya suka pengen nyebut tukang-tukang bangunan dan arsiteknya sebagai orang gila. Heuheuheuheu. Karyanya bener-bener glorious! 

Di tahun 1939, hotel ini menyebut dirinya sendiri sebagai The Modernest Hotel in The Netherland Indies. Saking pesaingnya dikit kali ya. Saat itu hotel yang sekelas bintang lima di Bandung palingan cuma Preanger, tetangganya Homann.

Semoga ada kesempatan saya menginap di hotel Savoy Homann. Masuknya sih sudah beberapa kali. Tapi nginep? Belum pernah. 

Lapar euy mau jajan. Kata saya kepada Gele. 
Langsung deh cuss ke Braga. 

Eh tapi berhenti dulu di depan gedung Majestic. Gak tahu siapa yang membuat font tulisan gedung ini, saya suka bentuknya. Dibangun tahun 1922 dan disebut sebagai bangunan Kaleng Kue. Hahaha. 

Emang bentuknya kayak toples sih kalau diperhatiin. Dulu banget Majestic itu bioskop. Pada waktu saya masih kuliah, beberapa kali menghadiri pemutaran film di gedung Majestic ini. Akustik bangunannya bagus. Untuk ukuran gedung yang pernah jadi bioskop, interiornya gak luas-luas amat. Semacam nonton kelas eksekutif kali ya. Mungil tapi mewah. 

Nah sekarang bergegas ke restoran kesayangan: Sumber Hidangan. Habis itu baru ingat, kepagian buat makan di restoran yang sudah ada sejak tahun 1929 di Bandung ini. Setelah ditunggu-ditunggu pun ternyata restorannya tidak buka. Yah. 

Gak sedikit toko-toko tua di Bandung yang masih pake cara lama jualannya. Gak terlalu peduli dengan sistem marketing dan mementingkan konsumen kayak teori-teori jualan kayak sekarang. 

Kopi Aroma dan Sumber Hidangan ini dua toko di Bandung yang cuek dengan akhir pekan. Usaha lain pada heboh buka di hari sabtu dan minggu, jam bukanya diperpanjang pula. Mereka? hari minggu tutup. Stok roti di Sumber Hidangan juga segitu-segitu aja. Pesen mendadak gak bisa, harus beli stok yang ada. Pelayannya bukan jenis yang ayu-ayu muda menggemaskan. Semuanya nenek-nenek :D 

Tapi tetep aja laku barang dagangannya. Aneh :D

Well anyway nongkrong di jalan Braga sekarang lebih nyaman karena banyak bangku taman. Peninggalan dari acara peringatan Konperensi Asia Afrika bulan April kemarin. Biasanya sih banyak yang nongkrong di Braga. Mungkin pada datangnya siang ke sore ya. Pagi-pagi mereka masih pada sekolah atau tidur. Jadi kalau mau nyaman datang ke kawasan Braga, bagusnya di hari kerja dengan rentang waktu jam 6 - 10 pagi. Gak banyak alay, gak banyak yang foto pre-wed, gak banyak yang seliweran. Nyaman pokoknya!


Bermekaran Bunga di Jalan Braga

14/10/15
Tanggal merah di hari rabu. Pertanda tanggal pertama di tahun baru Islam. Pagi-pagi sekali saya, Gele, dan Nabil sudah berada di dalam angkot warna hijau. Dia membawa kami ke jalan Braga. Pagi yang hening di Bandung. Tidak ada macet, tidak ada motor-motor seliweran. 

Bandung di hari libur pasti ramainya bukan main. Seperti bunga yang dikerubungi kumbang-kumbang. Perkiraan kami pun tempat yang dituju sepertinya bakal ramai. 

Ternyata tidak. SENANG! Bandung jadi milik kami bertiga. Hahaha! 

Menyusuri Jalan Asia Afrika yang lengang seperti paling tidak seperti empat tahun lalu jadi momen yang istimewa. Tidak banyak kamera dan orang-orang yang berselfie dengan kamera henponnya. Pagi itu di jalan Asia Afrika, rasanya damai sekali. 

Gele memotret dengan kameranya. Saya menjepret dengan kamera henpon. Sementara itu Nabil murung karena sepertinya dia lapar.

Tidak sesulit biasanya, pagi itu memotret kawasan bersejarah di Bandung ini mudah saja karena gak ada photobomb. Yang seliweran dikit kok orangnya.

Braga yang tenang. Braga yang sepi. 

Menuju ke Jalan Braga bukan karena tidak direncanakan. Ada pekerjaan menanti di sana dan ya saya sekalianin aja jalan-jalan pagi. 

Ternyata, Braga di bulan Oktober ini sangat-sangat indah. Karena banyak bunga bermekaran di sana. Pepohonan yang tanam di tepi jalan Braga mulai mengeluarkan kharismanya. Tabebuya namanya.

Bunga berwarna kuning yang menawan. Dengan melihatnya saja saya merasa lebih cantik dari biasanya.


“The earth laughs in flowers.” 
― Ralph Waldo Emerson







Minum Kopi Jangan Sambil Berlari, Kata Warkop Udin Wati

11/10/15
Pukul 10 malam. Mata saya sudah terasa begitu berat tapi mood menulis malah memuncak. Saya mau cerita. Seharusnya ini saya tulis beberapa hari kemarin setelah tanggal 7 Oktober. Tapi well yah...mood nulis.. halo? toktok! Yak baru munculnya sekarang :D 

Di hari Rabu tanggal 7 Oktober, saya mengundang dua teman baik saya, Faisal Nurdin (Iso) dan Dian Irawati (Dian). Keduanya adalah pemilik sebuah warung kopi di daerah Cimahi. Karena tema kopi sedang seksi, saya minta mereka bercerita tentang kopi dan usaha membangun warungnya kopinya tersebut.

Rencana Seru

10/10/15
Things are going rough lately. Saya kangen berjalan kaki tanpa tekanan harus terburu-buru. Dengan Gele yang menenteng kamera DSLRnya dan saya yang memotret dengan kamera hape, saya pengen jalan-jalan santai lagi. 

Bulan ini banyak rencana. Tapi kami bertiga, saya gele dan nabil, diserang virus inlfuenza serempak. Rencananya seru-seru deh padahal. Hiks...

Pasar Kutu udahan. Saatnya beranjak ke pekerjaan sehari-hari lagi. Daily basis. Fish Express, Happy Cow Steak, CKS, dan Greeners. Banyak beut. Kadang-kadang saya heran sendiri gimana cara bisa ngerjain empat pekerjaan sekaligus ya. Minta asisten please :D 

Anyway, bakalan nambah pekerjaan berikutnya. Rencana seru itu harus segera dilaksanakan. Keburu dikerjakan orang lain terus saya menyesal. No way. 

In the meanwhile, semoga gele lekas sembuh. Semoga nabil juga cepet pulih. Obat stres emang jalan-jalan. Yang paling gampang adalah jalan kaki dan foto-foto. Juga makan-makan. Talk about creativity, butuh penyaluran untuk membuatnya tetap segar dan baru. Jalan-jalan jawabannya! 


Pasar Kutu di Bandung

08/10/15
Pasar Kutu adalah garage sale. Gimana, ring a bell? :D 


Saya rutin bikin garage sale di depan rumah setiap satu tahun sekali. Pengennya sih sebulan sekali. Tapi tenaganya gak memadai. Capek lho angkat-angkat barang dari dalam rumah ke halaman di depan rumah. Angkat baju, sepatu, buku, aksesori, tas, kaca, setumpuk film korea, dan lain-lain. Sehari dua kali pula hahaha :D

Tahun ini Pasar Kutu diadakan selama empat hari. Pada saat saya mengetik ini, Pasar Kutu masuk ke hari ke-4. Harusnya ini hari terakhir, tapi penjualan belum mencapai target. Jadi kayaknya saya bakal perpanjang sampai hari minggu 13 Oktober aja deh. 

Saya gak buka titip jual dari kalangan umum untuk berjualan di Pasar Kutu ini. Secara saya berasal dari keluarga besar, jadi saya minta sepupu dan para bibi bongkar lemari dan rumahnya dan boleh titip jual di Pasar Kutu. 


Khusus untuk tahun ini saya melibatkan beberapa teman untuk mengisi acara. Workshop Warung Kopi dan bernyanyi akustikan. Acaranya berlangsung kemarin, nanti deh nyusul ceritanya. Pas acaranya eh pas hujan. Hahaha. Mau kecewa tapi kan lagi butuh hujan. Mau sedih tapi kan acaranya masih bisa berlangsung, pindah ke dalam rumah. Hiks. Ya gak apa-apa deh. Acaranya masih seru walo ngefek ke penjualannya kecil. Hahahaha dueng! 

Btw ini Pasar Kutu ke tiga yang saya selenggarakan. Tiap tahun kerasa sih bedanya. Tahun ini sepi banget deh pengunjungnya. Kayaknya krisis ekonomi itu benar adanya. Hahaha apa sih :D 

Ini cuma sedang mood nulis dan sayang kalau dilewatin. I'll catch you up with another story of Pasar Kutu ya. 





Cerita tentang Pasar Kutu di tahun sebelumnya bisa dibaca di sini.

Naik Kereta Api Bandung - Cirebon

05/10/15
Ini saya aja yang ngerasain atau kalian juga? Naik kereta api tuh rasanya kayak naik mesin waktu. Penuh kenangan. Ah ya mungkin saya aja sih. Istilah yang sekarang sedang hits: baper. Nah saya suka baper kalo naik kereta api tuh. Uhuks. 

Saya suka hawa stasiun kereta api. Yang sekarang ya, kalau yang dulu gak doyan banget. Males. Tapi sejak Jonan ngeberesin performa layanan dan rebranding, saya naik kereta api lagi dan lagi. Kayak kecanduan hahaha. Untungnya pas kecanduan pas emang butuh ya. Kan gawat kalo kebutuhan gak ada tapi keinginan dipenuhi. 

3 Oktober naik kereta api Ciremai Express di gerbong 4. Pertama kalinya juga saya beli tiket kereta langsung di loket, biasanya beli via aplikasi Padi Train di hp. "Tempat duduknya di gerbong paling sepi dengan kursi yang paling sepi juga, mba," pesan saya ke mba-mba loket buat pilihin seat. 

Ternyata bener aja dikasih yang paling sepi. Satu gerbong isinya cuma 4 orang termasuk saya. Hwuidih asik banget! 

Perjalanan gak ada delay bahkan gak telat. Tepat waktu. Setelah perjalanan ke Yogyakarta dan Surabaya, semoga ada kesempatan lagi untuk berkendara naik kereta api jarak jauh selain ke Cirebon. 






Warna-warni di Salian Art Space

16/09/15
Ehm. Saya harus nyalain si capslock dulu nih. ADA GALERI SENI DI DEKAT RUMAH! WOOOHOOOOO! Saya sok berbudaya banget yah ada galeri seni dekat rumah aja seneng-seneng nyebelin gini hahaha. 

Anyway, sebenarnya udah bosen aja sih dengan hotel-hotel dan tempat rekreasi. Saatnya Bandung Utara menuju Lembang diisi dengan aktivitas yang menghargai keindahan yang maknanya dalem. Bukan sekedar pengisi liburan dan hahahihi doang gitu. 

Dari rumah tinggal nyebrang jalan ada Galeri Seni Popo Iskandar. Dari rumah naik ojek lima menit sampai di Salian Art Space. Yup, ada dua galeri yang jaraknya sepelemparan batu dari tempat saya tinggal. Hore! 

Saya mulai cerita dari Salian Art Space dulu ya. Pameran yang sedang berlangsung judulnya Beatscape. Senimannya bernama Adi Dharma. Saya dan Nabil gak nyesel deh datang ke hari terakhir pameran Beatscape itu. Abis karyanya lucu-lucu! Orang Sunda kalau ngomong 'lucu' maksudnya keren yah. Hehehe :D bukan lucu yang bikin ketawa. 

Baru nih lihat karya seni yang warna karyanya mencolok tapi gak bikin jereng mata. Baca sih keterangan pamerannya. Kalau gak salah ada hubungannya dengan musik, funk atau hiphop gitu. 

Komposisi warnanya tetap enak dilihat. Merah ditimpa biru muda. Merah jambu beriringan dengan warna kuning. Wow! Tabrak warna tapi gak kampungan. 

Karyanya gak cuma lukisan, ada juga patung dan instalasi yang terdiri dari barang-barang bekas. Oleh senimannya barang bekas tersebut disusun, dipajang, dicat, dan kelihatan sangat artistik. 

Nabil seneng karena pameran seninya buat dia terlihat seperti mainan. Warna-warni semuanya. Saya juga gak kalah antusiasnya karena semua sudut bagus buat foto-foto. Koleksi Instagram saya nambah! Hahaha :D

Salian Art Space gak hanya galeri. Ada kafenya juga di sana. Belum pernah jajan di Salian jadi gak tahu makanannya enak-enak gak. Suasana makannya sih asyik, outdoor dan semi outdoor. Karena berlokasi di daerah perbukitan, Salian Art Space didesainnya seru. Kayaknya dia nyewa arsitek deh buat merancang bangunan dan area lainnya. Pintu masuknya aja unik karena dilihat dari macem-maem sudut perspektif, bentuknya berubah-ubah.

"Blogger Bukan Omong Kosong," Ani Berta di Fun Blogging 6

08/09/15
Di dunia yang serba online seperti sekarang, muncul banyak profesi baru yang menggiurkan.  Duduk bermalas-malasan dari tempat tidur dan terhubung ke internet, uang mengalir ke rekening bank kita seperti tanpa usaha. Internet menyediakan lapak bagi kita yang mencari pendapatan darinya. Ada Google Ads, toko online, semua media sosial, termasuk blog.

Platform blog tumbuh kembang di antara gempuran banyak media sosial, bertahan bagaikan pohon kelapa yang kokoh berdiri meski angin badai berulang kali menerjang. Mengingat kembali beberapa tahun lalu Roy Suryo pernah mengatakan bahwa blog akan mati, digilas perkembangan media sosial yang menggila. Mengamati perkembangan blog saat ini, satu kalimat untuk pakar informatika berkumis itu: ANDA SALAH, ROY SURYO! 

Friendster, Multiply, Facebook, Twitter, Path, sampai sekarang muncul Instagram, yang namanya media blog masih laku di pasaran. Memang ada masanya dunia blog pernah sunyi akibat keramaian platform media sosial. Tapi blog masih ada. Ditulis oleh mereka yang konsisten dengan curhatannya, pemikirannya, dan foto-foto terbaik yang tak terpajang di media besar. Blog memuat segalanya. 

Menurut saya sih blog-user berkembang lebih jauh daripada platformnya itu sendiri. Dasar manusia, peluang mana sih yang gak dilihat sama spesies kayak kita. Berawal dari hobi menulis di blog, kini beralih menjadi profesi. Yes, blogger sekarang menjadi profesi banyak orang. 

Semua yang terhubung dengan internet, kini berpengaruh besar dalam perekonomian kita. Unit terkecilnya ya ekonomi keluarga. Dari blogging dapat pemasukan. Pasang iklan, dibayar dollar. Diundang brand besar, mereka menjamu kita bak jurnalis surat kabar. 

Untuk mereka yang ingin mendapatkan pendapatan dari blog, ada caranya. Untuk itu saya datang ke Fun Blogging ke 6 di Bandung. Berlokasi di Dago yang pagi itu bersuhu 22 derajat celcius, saya datang tepat waktu. Acara yang berlangsung pada 06/09/2015 tersebut dijadwalkan mulai pada pukul 09.00 dan selesai di jam 16.00. Tema acaranya Dari Hobi Jadi Profesi. 

Duduk di kursi paling depan, saya menyaksikan tiga perempuan bergiliran memberi materi tentang blogging. Mereka adalah Haya Aliya Zaki, Shintaries, dan Ani Berta.

Ketiganya merupakan blogger yang mendapatkan pendapatan dari blog. Bukan hanya profit, tapi juga benefit. Jika orang lain baru akan mencari job review, mereka bertiga sudah mencari blogger lain untuk mengerjakan job review. Jutaan rupiah dan dollar sudah mereka raih.

Jadi saya duduk mendengar materi dari orang yang sudah berpengalaman. Gak salah. Oiya, ada tiga tema besar dalam Fun Blogging 6. 

Konten.
Mesin blog.
Uang.


(Start with) Content
Pada materi pertama Haya Aliya Zaki maju sebagai pembicara. Saya sering membaca namanya di berbagai media cetak, terutama koran Pikiran Rakyat. Dalam artikel pariwisata atau resensi buku, sering sekali nama Ibu tiga anak ini yang muncul. 

Lulus sebagai sarjana farmasi, Haya menyukai dunia tulis menulis dibanding meracik obat-obatan. Gak hanya mengirimkan artikelnya di media cetak dan online, Haya juga penulis buku. Tidak berhenti di situ, Haya juga konsisten memelihara dan memperbarui blognya dengan postingan baru.

Mengelilingi Cikal Bakal Bendungan Jatigede

12/08/15
Wahai warga Cirebon, Indramayu, Karawang, dan sekitarnya. Ketahuilah bahwa kelak sawah-sawah di kawasan kalian akan mendapatkan sumber air yang berasal dari sebuah bendungan raksasa. Bendungan ini menampung air sebanyak satu milyar kubik. 

Ulangi. SATU MILYAR KUBIK AIR. 

Kawasan Jatigede yang terletak di Sumedang, dipilih menjadi tempat menampung satu milyar kubik air itu. Ekspektasi saya melihat bendungan Jatigede tinggiiiiiiii sekali. Saya mau lihat bangunan yang kokoh, raksasa, canggih, dan megah. Seperti apa bangunan yang dibuat untuk menahan beban air sebanyak satu milyar kubik beserta lumpur-lumpurnya itu?

Berangkat pagi dari desa Cipaku, perjalanannya gak sederhana. Memakan waktu sekitar hampir dua jam, jalanan berbalut bebatuan dan tanah. Seperti naik rollercoster berkecepatan 5 km/jam. Bukan perjalanan yang membosankan, justru sebaliknya. Pemandanganya sangat mengagumkan.

Jalanan Bandung - Sumedang sudah gak terhitung berapa kali saya lintasi dalam rangka ke Cirebon. Gak kebayang ternyata dibalik jalan utamanya tersebut, Sumedang adalah negeri yang indah. Areal sawahnya luas seperti tak ada ujung. Sejauh mata memandang, isinya pucuk-pucuk tanaman padi. Perbukitannya juga tak kalah molek.

Mendekati ujung perjalanan ke bangunan Bendungan Jatigede, pemandangan mulai gak enak dilihat. Truk-truk besar pengangkut batu, jalanan yang diperkeras demi lancarnya pengangkutan bahan-bahan bangunan, tandus dan debu-debu bertebaran seperti mentertawakan kami yang datang dari Cipaku.

Semakin dekat dengan bangunan bendungan, semakin jelas rupanya. Tidak semegah yang saya pikirkan. Entahlah, ada satu milyar kubik air yang mau dibendung. Jangan lupakan lumpurnya juga. Sedimentasi sungai Cimanuk termasuk tinggi. Lihat saja warna air sungainya yang coklat, dikata itu apa kalau bukan pasir, batu, dan lumpur.

Berapa lapis bata dan semennya yang dibangun perusahaan Cina yang mendapat tender membangun bendungan Jatigede ya? Buat mata saya yang awam, bangunan bendungan Jatigede terlihat setipis kertas.

Proyek Bendungan Jatigede adalah proyek terlama di dunia. Bayangkan dari tahun 1982 baru di tahun 2015 ini proyeknya bakal rampung. Berkali-kali penggenangan air ditunda, katanya akhir Agustus Jatigede baru akan digenangi.

38.000 jiwa pindah rumah. Koreksi, pindah kampung halaman. Kenapa Jatigede yang dipilih jadi bendungan ya? Bendungan besar sampai-sampai di bakal jadi bendungan terbesar ke dua di Indonesia. Padahal Jatigede tercatat menghasilkan 36.000 TON PADI PER TAHUN. Wilayahnya yang dikepung hutan juga menjadi rumah untuk banyak populasi hewan dan tumbuhan. Sayang kalau harus ditenggelamkan.

Sejujurnya, perasaan saya gak enak melihat bendungan Jatigede. Keluarga saya banyak yang tinggal di Cirebon dan Indramayu, dua tempat yang bakal mendapat banyak manfaat dari bendungan Jatigede. Tapi...begitu canggihnya teknologi di zaman 2015 ini, apa tidak ada jalan lain untuk mengairi daerah utara Jawa barat selain menenggelamkan Jatigede?

A Quick Trip to Surabaya

01/08/15
Satu hal tentang Surabaya yang sangat kuat melekat dalam ingatan setelah kunjungan kami ke sana adalah: kotanya bersih. Karena walikota saya dan gele kan the famous Ridwan Kamil. Ya tentu saja beliau kami jadikan standar pemimpin yang baik sebuah kota dan jadi standar menilai-nilai pemimpin di kota lain (di negeri sendiri).


Lalu setelah melihat Surabaya secara langsung, bagaimana dengan Bu Risma?

Tiba-tiba standar RK yang kami buat sendiri rontok berantakan hahahaha. Surabaya jauh melampaui Bandung dalam hal pertamanan dan penghijauan. Bandung masih jauh, banyak yang harus dikerjakan. Ya Surabaya memang lebih dulu dipimpin Bu Risma sih, sementara RK kan baru mau dua tahun. 

Keteguhan Bu Risma yang biasa saya tonton di televisi, terasa auranya selama saya di Surabaya. Meski secuil Surabaya yang kami jelajahi, tapi boleh lah menyimpulkan. Blog sendiri, pendapat sendiri XD 

Secara lima kali naik taksi, semuanya bercerita bangga tentang Surabaya dan Bu Risma. Wah jarang-jarang nih ada pemimpin yang dianggap berhasil membawa kotanya jadi maju. Perempuan pula pemimpinnya. Pro kontra pasti ada lah, tapi saya gak nyangka semua sopir taksi yang saya ajak ngobrol, semuanya pro Bu Risma. 

Saya menyukai Surabaya. Begitu juga Gele, ya apalagi dia sih sekalian nostalgia aja trip ke Surabaya kemarin. Motret lagi bangunan-bangunan proyeknya dulu. 

Ohiya, panasnya Surabaya yang konon menyengat gak terlalu mengganggu tuh. Thanks to Cirebon dan Indramayu yang sering saya kunjungi. Berbeda dengan panas Jakarta yang...sorry to say: kotor dan pengap. Surabaya cukup menyenangkan. Di tiap ruas jalan ada pohonnya, paling gak ya 3-5 pohon.

Sebenarnya emang panas sih Surabayanya, di jam-jam terpanasnya emang lebih enak di dalem ruangan aja. Sisanya ya no problemo. Cuma tiap hari dikasih cuaca sepanas itu kami bakal megap-megap, cuaca di Bandung udah cocok lahir batin sih :D

Dua hari di Surabaya, kami bertiga hanya berkunjung ke beberapa tempat wisata saja. Mengingat trip ini satu paket dengan pekerjaan kami di Fish Express, jadi yah jalan-jalannya mengalah dulu. 

Monumen Kapal Selam saya datangi karena ingin menyenangkan Nabil yang doyan perahu, pesawat terbang, dan sejenisnya. Tentu saja dia senang berat melihat perahu raksasa macam monumen kapal selam itu. Sampai gak mau turun dan keukeuh minta foto-foto melulu. Sepanjang menyelami kapal selamnya, gak ada pemandu yang mendampingi. Jadi bingung itu barang-barang dan mesin di dalam kapal selam namanya apa dan buat apa :D

House of Sampoerna tentu saja masuk ke daftar kunjungan. Semacam legendanya Jawa Timur sekaligus Indonesia lah. Sebagai yang pernah merajai industri rokok kretek di nusantara sekaligus dunia gitu loh. Lagipula, rokok kretek kan cuma ada di negara kita. Kretek : tembakau + cengkeh. 

Naik bis wisatanya yang hits banget itu dan seruuuu! Bandung harus punya yang seperti ini. Eh ada sih Bandros, bandung Tour On The Bus. Tapi saya belum pernah menumpang Bandros jadi belum bisa membandingkan. Palingan ya ribet aja sih katanya kalau naik Bandros. Bayar pula :D Nanti deh saya coba dulu Bandros baru dibahas di sini. Cuma yang saya rasain pas naik Heritage Track Busnya Sampoerna, rasanya kok seneng yah Surabaya punya ginian. 

Saya cobain turun jalan kaki setelah beres keliling dengan bis wisata tersebut. Ternyata apa yang saya lihat dari dalam bis dengan yang saya rasakan pas jalan kaki beda jauh sensasinya. Begitu menyusuri dengan berjalan kaki di sekitar House of Sampoerna, Surabaya entah kenapa terlihat lebih...kusam. Gak sekinclong pas tadi di dalam bisnya. 

Sebentar saja keliling area pecinannya Surabaya, sayang kesorean dan kami gak berbekal peta yang memadai. Kawan dari Surabaya tidak menemani. Ditambah pas jalan-jalan keliling waktunya kesorean dan kok tempatnya agak-agak bronx gimana gitu.



Padahal mau menjelajah kawasan Pecinan Surabaya lebih lama, lebih dekat. Kayaknya harus bawa teman arek Suroboyo supaya lebih luwes bergaul dengan orang lokal. Lain kali ke Surabaya lagi saya kontak temen ah di sana, temenin jalan-jalan :D Bangunan tua yang kuno dan apik bentuknya di sana banyak sekali euy, sayang kalau dilewatin. 

Agak was-was kami ngeluarin hape dan motret. Jadi yah hanya strolling down the road sambil lihat bangunan tua di kanan dan kiri. Di dekat masjid Ampel kami menyetop taksi, kembali pulang ke hotel. Kecapekan hehehe.

Yah memang gak pernah cukup yang namanya jalan-jalan. Selalu pengen nambah hari berliburnya meski hanya satu hari. Tapi...uang tidak bertambah semudah populasi penduduk di negeri ini :D Kami harus mengepak barang-barang dan kembali ke Bandung.