Social Media

Image Slider

Warna-warni di Salian Art Space

16/09/15
Ehm. Saya harus nyalain si capslock dulu nih. ADA GALERI SENI DI DEKAT RUMAH! WOOOHOOOOO! Saya sok berbudaya banget yah ada galeri seni dekat rumah aja seneng-seneng nyebelin gini hahaha. 

Anyway, sebenarnya udah bosen aja sih dengan hotel-hotel dan tempat rekreasi. Saatnya Bandung Utara menuju Lembang diisi dengan aktivitas yang menghargai keindahan yang maknanya dalem. Bukan sekedar pengisi liburan dan hahahihi doang gitu. 

Dari rumah tinggal nyebrang jalan ada Galeri Seni Popo Iskandar. Dari rumah naik ojek lima menit sampai di Salian Art Space. Yup, ada dua galeri yang jaraknya sepelemparan batu dari tempat saya tinggal. Hore! 

Saya mulai cerita dari Salian Art Space dulu ya. Pameran yang sedang berlangsung judulnya Beatscape. Senimannya bernama Adi Dharma. Saya dan Nabil gak nyesel deh datang ke hari terakhir pameran Beatscape itu. Abis karyanya lucu-lucu! Orang Sunda kalau ngomong 'lucu' maksudnya keren yah. Hehehe :D bukan lucu yang bikin ketawa. 

Baru nih lihat karya seni yang warna karyanya mencolok tapi gak bikin jereng mata. Baca sih keterangan pamerannya. Kalau gak salah ada hubungannya dengan musik, funk atau hiphop gitu. 

Komposisi warnanya tetap enak dilihat. Merah ditimpa biru muda. Merah jambu beriringan dengan warna kuning. Wow! Tabrak warna tapi gak kampungan. 

Karyanya gak cuma lukisan, ada juga patung dan instalasi yang terdiri dari barang-barang bekas. Oleh senimannya barang bekas tersebut disusun, dipajang, dicat, dan kelihatan sangat artistik. 

Nabil seneng karena pameran seninya buat dia terlihat seperti mainan. Warna-warni semuanya. Saya juga gak kalah antusiasnya karena semua sudut bagus buat foto-foto. Koleksi Instagram saya nambah! Hahaha :D

Salian Art Space gak hanya galeri. Ada kafenya juga di sana. Belum pernah jajan di Salian jadi gak tahu makanannya enak-enak gak. Suasana makannya sih asyik, outdoor dan semi outdoor. Karena berlokasi di daerah perbukitan, Salian Art Space didesainnya seru. Kayaknya dia nyewa arsitek deh buat merancang bangunan dan area lainnya. Pintu masuknya aja unik karena dilihat dari macem-maem sudut perspektif, bentuknya berubah-ubah.

"Blogger Bukan Omong Kosong," Ani Berta di Fun Blogging 6

08/09/15
Di dunia yang serba online seperti sekarang, muncul banyak profesi baru yang menggiurkan.  Duduk bermalas-malasan dari tempat tidur dan terhubung ke internet, uang mengalir ke rekening bank kita seperti tanpa usaha. Internet menyediakan lapak bagi kita yang mencari pendapatan darinya. Ada Google Ads, toko online, semua media sosial, termasuk blog.

Platform blog tumbuh kembang di antara gempuran banyak media sosial, bertahan bagaikan pohon kelapa yang kokoh berdiri meski angin badai berulang kali menerjang. Mengingat kembali beberapa tahun lalu Roy Suryo pernah mengatakan bahwa blog akan mati, digilas perkembangan media sosial yang menggila. Mengamati perkembangan blog saat ini, satu kalimat untuk pakar informatika berkumis itu: ANDA SALAH, ROY SURYO! 

Friendster, Multiply, Facebook, Twitter, Path, sampai sekarang muncul Instagram, yang namanya media blog masih laku di pasaran. Memang ada masanya dunia blog pernah sunyi akibat keramaian platform media sosial. Tapi blog masih ada. Ditulis oleh mereka yang konsisten dengan curhatannya, pemikirannya, dan foto-foto terbaik yang tak terpajang di media besar. Blog memuat segalanya. 

Menurut saya sih blog-user berkembang lebih jauh daripada platformnya itu sendiri. Dasar manusia, peluang mana sih yang gak dilihat sama spesies kayak kita. Berawal dari hobi menulis di blog, kini beralih menjadi profesi. Yes, blogger sekarang menjadi profesi banyak orang. 

Semua yang terhubung dengan internet, kini berpengaruh besar dalam perekonomian kita. Unit terkecilnya ya ekonomi keluarga. Dari blogging dapat pemasukan. Pasang iklan, dibayar dollar. Diundang brand besar, mereka menjamu kita bak jurnalis surat kabar. 

Untuk mereka yang ingin mendapatkan pendapatan dari blog, ada caranya. Untuk itu saya datang ke Fun Blogging ke 6 di Bandung. Berlokasi di Dago yang pagi itu bersuhu 22 derajat celcius, saya datang tepat waktu. Acara yang berlangsung pada 06/09/2015 tersebut dijadwalkan mulai pada pukul 09.00 dan selesai di jam 16.00. Tema acaranya Dari Hobi Jadi Profesi. 

Duduk di kursi paling depan, saya menyaksikan tiga perempuan bergiliran memberi materi tentang blogging. Mereka adalah Haya Aliya Zaki, Shintaries, dan Ani Berta.

Ketiganya merupakan blogger yang mendapatkan pendapatan dari blog. Bukan hanya profit, tapi juga benefit. Jika orang lain baru akan mencari job review, mereka bertiga sudah mencari blogger lain untuk mengerjakan job review. Jutaan rupiah dan dollar sudah mereka raih.

Jadi saya duduk mendengar materi dari orang yang sudah berpengalaman. Gak salah. Oiya, ada tiga tema besar dalam Fun Blogging 6. 

Konten.
Mesin blog.
Uang.


(Start with) Content
Pada materi pertama Haya Aliya Zaki maju sebagai pembicara. Saya sering membaca namanya di berbagai media cetak, terutama koran Pikiran Rakyat. Dalam artikel pariwisata atau resensi buku, sering sekali nama Ibu tiga anak ini yang muncul. 

Lulus sebagai sarjana farmasi, Haya menyukai dunia tulis menulis dibanding meracik obat-obatan. Gak hanya mengirimkan artikelnya di media cetak dan online, Haya juga penulis buku. Tidak berhenti di situ, Haya juga konsisten memelihara dan memperbarui blognya dengan postingan baru.

Mengelilingi Cikal Bakal Bendungan Jatigede

12/08/15
Wahai warga Cirebon, Indramayu, Karawang, dan sekitarnya. Ketahuilah bahwa kelak sawah-sawah di kawasan kalian akan mendapatkan sumber air yang berasal dari sebuah bendungan raksasa. Bendungan ini menampung air sebanyak satu milyar kubik. 

Ulangi. SATU MILYAR KUBIK AIR. 

Kawasan Jatigede yang terletak di Sumedang, dipilih menjadi tempat menampung satu milyar kubik air itu. Ekspektasi saya melihat bendungan Jatigede tinggiiiiiiii sekali. Saya mau lihat bangunan yang kokoh, raksasa, canggih, dan megah. Seperti apa bangunan yang dibuat untuk menahan beban air sebanyak satu milyar kubik beserta lumpur-lumpurnya itu?

Berangkat pagi dari desa Cipaku, perjalanannya gak sederhana. Memakan waktu sekitar hampir dua jam, jalanan berbalut bebatuan dan tanah. Seperti naik rollercoster berkecepatan 5 km/jam. Bukan perjalanan yang membosankan, justru sebaliknya. Pemandanganya sangat mengagumkan.

Jalanan Bandung - Sumedang sudah gak terhitung berapa kali saya lintasi dalam rangka ke Cirebon. Gak kebayang ternyata dibalik jalan utamanya tersebut, Sumedang adalah negeri yang indah. Areal sawahnya luas seperti tak ada ujung. Sejauh mata memandang, isinya pucuk-pucuk tanaman padi. Perbukitannya juga tak kalah molek.

Mendekati ujung perjalanan ke bangunan Bendungan Jatigede, pemandangan mulai gak enak dilihat. Truk-truk besar pengangkut batu, jalanan yang diperkeras demi lancarnya pengangkutan bahan-bahan bangunan, tandus dan debu-debu bertebaran seperti mentertawakan kami yang datang dari Cipaku.

Semakin dekat dengan bangunan bendungan, semakin jelas rupanya. Tidak semegah yang saya pikirkan. Entahlah, ada satu milyar kubik air yang mau dibendung. Jangan lupakan lumpurnya juga. Sedimentasi sungai Cimanuk termasuk tinggi. Lihat saja warna air sungainya yang coklat, dikata itu apa kalau bukan pasir, batu, dan lumpur.

Berapa lapis bata dan semennya yang dibangun perusahaan Cina yang mendapat tender membangun bendungan Jatigede ya? Buat mata saya yang awam, bangunan bendungan Jatigede terlihat setipis kertas.

Proyek Bendungan Jatigede adalah proyek terlama di dunia. Bayangkan dari tahun 1982 baru di tahun 2015 ini proyeknya bakal rampung. Berkali-kali penggenangan air ditunda, katanya akhir Agustus Jatigede baru akan digenangi.

38.000 jiwa pindah rumah. Koreksi, pindah kampung halaman. Kenapa Jatigede yang dipilih jadi bendungan ya? Bendungan besar sampai-sampai di bakal jadi bendungan terbesar ke dua di Indonesia. Padahal Jatigede tercatat menghasilkan 36.000 TON PADI PER TAHUN. Wilayahnya yang dikepung hutan juga menjadi rumah untuk banyak populasi hewan dan tumbuhan. Sayang kalau harus ditenggelamkan.

Sejujurnya, perasaan saya gak enak melihat bendungan Jatigede. Keluarga saya banyak yang tinggal di Cirebon dan Indramayu, dua tempat yang bakal mendapat banyak manfaat dari bendungan Jatigede. Tapi...begitu canggihnya teknologi di zaman 2015 ini, apa tidak ada jalan lain untuk mengairi daerah utara Jawa barat selain menenggelamkan Jatigede?

A Quick Trip to Surabaya

01/08/15
Satu hal tentang Surabaya yang sangat kuat melekat dalam ingatan setelah kunjungan kami ke sana adalah: kotanya bersih. Karena walikota saya dan gele kan the famous Ridwan Kamil. Ya tentu saja beliau kami jadikan standar pemimpin yang baik sebuah kota dan jadi standar menilai-nilai pemimpin di kota lain (di negeri sendiri).


Lalu setelah melihat Surabaya secara langsung, bagaimana dengan Bu Risma?

Tiba-tiba standar RK yang kami buat sendiri rontok berantakan hahahaha. Surabaya jauh melampaui Bandung dalam hal pertamanan dan penghijauan. Bandung masih jauh, banyak yang harus dikerjakan. Ya Surabaya memang lebih dulu dipimpin Bu Risma sih, sementara RK kan baru mau dua tahun. 

Keteguhan Bu Risma yang biasa saya tonton di televisi, terasa auranya selama saya di Surabaya. Meski secuil Surabaya yang kami jelajahi, tapi boleh lah menyimpulkan. Blog sendiri, pendapat sendiri XD 

Secara lima kali naik taksi, semuanya bercerita bangga tentang Surabaya dan Bu Risma. Wah jarang-jarang nih ada pemimpin yang dianggap berhasil membawa kotanya jadi maju. Perempuan pula pemimpinnya. Pro kontra pasti ada lah, tapi saya gak nyangka semua sopir taksi yang saya ajak ngobrol, semuanya pro Bu Risma. 

Saya menyukai Surabaya. Begitu juga Gele, ya apalagi dia sih sekalian nostalgia aja trip ke Surabaya kemarin. Motret lagi bangunan-bangunan proyeknya dulu. 

Ohiya, panasnya Surabaya yang konon menyengat gak terlalu mengganggu tuh. Thanks to Cirebon dan Indramayu yang sering saya kunjungi. Berbeda dengan panas Jakarta yang...sorry to say: kotor dan pengap. Surabaya cukup menyenangkan. Di tiap ruas jalan ada pohonnya, paling gak ya 3-5 pohon.

Sebenarnya emang panas sih Surabayanya, di jam-jam terpanasnya emang lebih enak di dalem ruangan aja. Sisanya ya no problemo. Cuma tiap hari dikasih cuaca sepanas itu kami bakal megap-megap, cuaca di Bandung udah cocok lahir batin sih :D

Dua hari di Surabaya, kami bertiga hanya berkunjung ke beberapa tempat wisata saja. Mengingat trip ini satu paket dengan pekerjaan kami di Fish Express, jadi yah jalan-jalannya mengalah dulu. 

Monumen Kapal Selam saya datangi karena ingin menyenangkan Nabil yang doyan perahu, pesawat terbang, dan sejenisnya. Tentu saja dia senang berat melihat perahu raksasa macam monumen kapal selam itu. Sampai gak mau turun dan keukeuh minta foto-foto melulu. Sepanjang menyelami kapal selamnya, gak ada pemandu yang mendampingi. Jadi bingung itu barang-barang dan mesin di dalam kapal selam namanya apa dan buat apa :D

House of Sampoerna tentu saja masuk ke daftar kunjungan. Semacam legendanya Jawa Timur sekaligus Indonesia lah. Sebagai yang pernah merajai industri rokok kretek di nusantara sekaligus dunia gitu loh. Lagipula, rokok kretek kan cuma ada di negara kita. Kretek : tembakau + cengkeh. 

Naik bis wisatanya yang hits banget itu dan seruuuu! Bandung harus punya yang seperti ini. Eh ada sih Bandros, bandung Tour On The Bus. Tapi saya belum pernah menumpang Bandros jadi belum bisa membandingkan. Palingan ya ribet aja sih katanya kalau naik Bandros. Bayar pula :D Nanti deh saya coba dulu Bandros baru dibahas di sini. Cuma yang saya rasain pas naik Heritage Track Busnya Sampoerna, rasanya kok seneng yah Surabaya punya ginian. 

Saya cobain turun jalan kaki setelah beres keliling dengan bis wisata tersebut. Ternyata apa yang saya lihat dari dalam bis dengan yang saya rasakan pas jalan kaki beda jauh sensasinya. Begitu menyusuri dengan berjalan kaki di sekitar House of Sampoerna, Surabaya entah kenapa terlihat lebih...kusam. Gak sekinclong pas tadi di dalam bisnya. 

Sebentar saja keliling area pecinannya Surabaya, sayang kesorean dan kami gak berbekal peta yang memadai. Kawan dari Surabaya tidak menemani. Ditambah pas jalan-jalan keliling waktunya kesorean dan kok tempatnya agak-agak bronx gimana gitu.



Padahal mau menjelajah kawasan Pecinan Surabaya lebih lama, lebih dekat. Kayaknya harus bawa teman arek Suroboyo supaya lebih luwes bergaul dengan orang lokal. Lain kali ke Surabaya lagi saya kontak temen ah di sana, temenin jalan-jalan :D Bangunan tua yang kuno dan apik bentuknya di sana banyak sekali euy, sayang kalau dilewatin. 

Agak was-was kami ngeluarin hape dan motret. Jadi yah hanya strolling down the road sambil lihat bangunan tua di kanan dan kiri. Di dekat masjid Ampel kami menyetop taksi, kembali pulang ke hotel. Kecapekan hehehe.

Yah memang gak pernah cukup yang namanya jalan-jalan. Selalu pengen nambah hari berliburnya meski hanya satu hari. Tapi...uang tidak bertambah semudah populasi penduduk di negeri ini :D Kami harus mengepak barang-barang dan kembali ke Bandung. 


1 Syawal 1436 H

18/07/15


Menginap di Hotel Ibis Styles Braga, Strategis Banget Lokasi Hotelnya!

11/07/15
Helow. Mau cerita pengalaman nginep di hotel Ibis Styles Braga nih. Beruntung saya, Gele, dan Nabil nginep di akhir minggu. Ada Car Free Night, kakaaa! Secara yah lokasi hotelnya ada di jantung kota Bandung aja gitu, keluar hotel langsung ketemu jalan Braga. Jalan gak sampai 2 menit eh langsung jumpa dengan jalan Asia Afrika yang lagi hits abis di Bandung. Dan sekarang tiap malam minggu ada Car Free Night di sebagian ruas jalan Asia Afrika. 

Di mulai dari lobi hotelnya yuk. Clean dan colorful. Dominan warna kuning tapi tak bikin jereng mata. Sofa-sofa empuk yang modern tersedia di beberapa titik. Foto-foto di lobinya seru juga lah. Ada spot yang bisa bikin follower kita nambah kalo diupload ke instagram :P

Bahagia Setelah Menikmati Layanan Traditional Spa At DF Clinic

08/07/15
Baru aja pulang sehabis perawatan tubuh di DF Clinic sore kemarin. Klinik kecantikan dan kesehatan ini langganan Ibu, tante-tante, dan beberapa teman saya. Lokasinya tidak jauh dari rumah saya di Setiabudhi. 30 menit naik angkot, sampai di Jalan Lemah Neundeut no. 10. FYI, lokasinya dekatdari jalan Pasteur. 

Biasanya sih teman-teman saya ambil paket kecantikan wajah kalau berkunjung ke DF Clinic. Kalau saya memutuskan membayar 195.000 untuk paket tradisional spa. Ini badan lagi butuh pijatan :D 

Tracks For Breezy Bandung In The Middle of The Night When Youre Feeling Gloomy (Playlist #3)

07/07/15
Sudah lama tidak berbagi playlist di sini. 

Bandung sedang dingin-dinginnya. Katanya sih sudah masuk Halodo. Tahu gak Halodo? Musim Kemarau. Angin di musim kemarau di waktu malam lebih menggigit dibanding pada waktu musim hujan. Anginnya kering, sadis, dingin seolah-olah kalau dalam waktu semalam tak berselimut maka esok harinya kita berubah jadi es batu. 

Di waktu dingin, sehabis mengalami momen-momen sentimentil, rasanya jadi gloomy. Segelas kopi tidak ampuh mengobati perasaan sendu. Sial, nulis sendu ngingetin saya sama sen-du. seneng-duit. 

Well anyway, ini ya lagu-lagu yang saya masukin ke playlist kategori : Chilly and Gloomy. 

Sekarang lebih banyak dengerin dan hunting musik di soundcloud. Youtube sedang susah diakses dari provider internet yang saya pake. Ugghhhh. 

Ini cuma 10 lagu. Aslinya lebih dari 30 lagu. Ah ya. Silakan. 

1. Banda Neira - Hujan di Mimpi
"Seperti genangan akankah bertahan
atau perlahan menjadi lautan" 

Foto : http://dibandaneira.tumblr.com/

Salsa Andaliman di Tribal Art Cuisine

05/07/15
4 Juli 2015. Pertama kalinya menghadiri acara kuliner yang unik. Kalau biasanya saya datang untuk kenyang, pengalaman baru-baru ini di Tribal Cuisine yang berlangsung di Salian Art Space, saya makan untuk mengapresiasi sebuah budaya. Tiba-tiba makanan buat saya terlihat lebih menyerupai artefak daripada sepotong daging berbumbu Andaliman. 


Berlokasi di Salian Art Space di jalan Sersan Bajuri Bandung, Rahung Nasution mempresentasikan enam jenis masakan khas dari Batak dan Toraja. Self-chef tersebut tidak hanya menyajikan enam makanan secara bersambung satu persatu-satu, tapi juga menceritakan kisah dibalik makanannya. Lengkap kisah dari Mandailing dan Tanah Karo, hingga ke raja-raja Toraja.

Batak buat saya terasa masih jauuuuuh sekali. Beberapa teman saya orang Batak, tapi sudah terlalu Sunda untuk disebut Batak. Budaya Batak yang saya kenal ya dari novelnya Dewi Lestari, Gelombang. Beberapa bab awal di novel tersebut menceritakan kisah kecil Alfa Sagala di kaki Pusuk Buhit. Gara-gara baca Gelombang, saya kepengen banget bisa ke Sianjur Mula-Mula yang konon katanya awal dari suku Batak berada. 

Perasaan yang sama dengan membaca Gelombang saya alami saat menghabiskan masakan Rahung. Menyantap masakan buatan Rahung, ada perasaan sentimentil yang membuat saya langsung kepengen terbang ke Batak dan Toraja!

Anyhow, siapa Rahung Nasution?

Photo Courtesy : Salian Art

Pengalaman Bersama Uber di Bandung

04/07/15
Kemajuan teknologi mengubah wajah bisnis konvensional. Teknologinya gak jauh-jauh, lah itu yang sehari-hari kita pegang apaan coba. Smartphone. Benda sekecil itu sekarang bisa mengendalikan banyak hal. Memudahkan kita. 

Ambil contoh masalah fotografi aja deh. Aplikasi foto dan desain sekarang banyak, filter foto macam-macam, kolase foto bervariasi. Gak perlu lagi menguasai photoshop kalau kebutuhan foto dan desainnya masih dasar. Ya kayak saya ini. Hahaha selamat tinggal, Photoshop :D 

Gak itu aja sih. Transportasi dan akomodasi juga sekarang tersedia semudah kita membalik telapak tangan. Bahkan membalik jemuran pun lebih sulit dari memesan hotel via aplikasi. Hahaha :D 

Ini mau nulis Uber aja pembukanya panjang. Beberapa hari yang lalu saya kemalaman karena sebuah acara. Jarak tempuh ke rumah dari tempat buka puasa bareng cukup jauh (20km!) jadi saya minta Gele jemput. Ada sih angkutan umum, tapi gimana ya lagi males aja gitu naik angkot.

Sumber foto : Instagram @uber_bdg