Social Media

Image Slider

Showing posts with label Walking Tour. Show all posts
Showing posts with label Walking Tour. Show all posts

Bio Tour: Berkenalan dengan Pepohonan di Bandung

23/02/17
Kududuk di bawah naungan Pohon Trembesi, sarapan saya dalam wadah kotak makanan itu nikmat sekali. Ada Celorot, Bacang, Klepon dan Cikak. Semuanya tandas berturut-turut tanpa ampun di mulut. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali saya menyantap Celorot. 

"Dalam keseharian kita gak bisa jauh dari pepohonan. Coba dibuka lagi kotak makanannya."

Kupandang sisa-sisa perjuangan sarapan tadi. Tinggal daun-daun pembungkus makanannya saja. Ini saya aja yang kotak makannya sudah kosong atau peserta lain juga ya? 😹

"Celorot dibungkus daun kelapa yang masih muda. Bacang dibungkus daun hanjuang hijau. Klepon dan Cikak beralaskan daun pisang." 

Itu barusan yang ngomong namanya Arifin Pemandu Bio Tour. 

Oh saya belum cerita ya. Hari minggu (19/2/2017) saya dan Indra mengikuti sebuah walking tour bertema pepohonan di kota Bandung.

Tur jalan kaki ini bernama Bio Tour Bandung Botanical Garden. Arifin Surya Dwipa Irsyam nama pemandunya. Indischemooi penyelenggaranya.
Menjadi peserta Bio Tour biayanya Rp135.000. Durasi waktu turnya 3-4 jam. Jarak tempuh berjalan kaki sekitar 5 km. Peserta mendapat fasilitas berupa makanan satu kotak, minum, tote bag, pin, daun salam, dan pengetahuan dari seorang pemandu yang menyenangkan. 

Bio Tour memulai aktivitasnya di Balaikota yang ceria dan panas. Hari minggu pagi penuh sekali manusia di sana. 

Waktu Arifin mulai bercerita, orang-orang yang selintas lewat seperti penasaran. Beberapa pengunjung Balaikota bergabung dan menyimak sebentar, beberapa lainnya melirik dan berjalan lalu saja.

"Kita mulai dari Trembesi," kata Arifin mulai bercerita. 

Trembesi adalah pohon terbesar di kompleks Balaikota Bandung ini. Ikonik. Ironisnya bahkan yang terlihat besar dan jelas begini saya tidak tahu apa namanya. Pada mulanya saya pikir itu Pohon Beringin.

"Trembesi disebut juga Ki Hujan. Kalau hujan turun, daun Trembesi akan mengatup sehingga air hujan langsung meluncur ke akar. Pohon ini aslinya berasal dari daerah gurun. Trembesi punya kemampuan menyerap air dalam jumlah banyak. Saking banyaknya, Trembesi meneteskan air melalui daun seolah sedang hujan," cerita Arifin.

Beribu kali saya datang ke Balaikota, baru tahu kalau Trembesi begitu karakternya. Nama 'trembesi' mirip kata 'merembes' (meresap) sih.

"Coba lihat pohonnya," Arifin menunjuk ke arah atas. Kami semua mendongak menatap batang dan daun Trembesi yang tinggi-tinggi sekali. 

"Untuk menopang pohon sebesar ini kan pasti dibutuhkan akar yang juga besar. Oleh karenanya Trembesi jenis pohon peneduh yang harus ditanam di lahan yang luas supaya akarnya leluasa tumbuh dan menopang batang pohonnya. Pohon ini gak cocok kalau ditanam di pinggir jalan," Arifin menjelaskan. Berapi-api dengan suara yang lantang dan cemerlang.

Kami manggut-manggut tanda memahami. Arifin bergegas menuju pohon yang lain, kami mengikutinya. Mirip anak ayam, nempel ke mana pun induknya pergi.

Kali ini kami mengelilingi pohon Kayu Manis. Memang ada pohon Kayu Manis di Bandung, tepatnya di Balaikota? ADA BANGET! Saya baru mengetahuinya. 

Arifin memetik satu daun Kayu Manis. Sebelum memetik ia mengucapkan minta maaf dulu karena daunnya dipetik. Entah mohon maafnya kepada pohonnya atau kepada kami. 

Ia meremas daunnya sambil berkata "salah satu ciri Pohon Kayu Manis ada di daunnya. Kalau kita remas akan terasa tekstur daunnya yang mirip perkamen naskah tua". Ia melanjutkan "coba cium wangi daunnya," Arifin menyodorkan daun yang agak remuk itu pada kami. 

Bergiliran kami mencium wangi daunnya. Hmmm iya wangi kayu manis. Gak nyangka di Balaikota ada pohon jenis rempah begini. Saya ikut meremas daun Kayu Manis. Arifin benar, efek suara dan sensasinya seperti sedang meremas perkamen naskah tua. Saya belum pernah pegang perkamen naskah tua sih, tapi ya kira-kira daunnya seperti kertas tapi tekskturnya lebih kokoh. 

"Kayu Manis adalah jenis pohon peneduh. Selain jadi bumbu dapur, pohon ini berkhasiat sebagai obat mual dan obat perut kembung." Kami manggut-manggut sambil berbisik "oohhhh" pertanda baru tahu. Daun Kayu Manis masih digilir peserta untuk diendus-endusi aromanya.

Cowok yang menenteng-nenteng buku berjudul 1001 Garden Plants in Singapore ini beranjak, mengajak kami ke tempat parkir motor, melihat pohonnya lainnya.

Ki Sabun nama pohon berikutnya. Kiara Payung nama aliasnya. Mengandung senyawa Saponin yang jadi bahan membuat sabun, pohon ini menyebabkan jalan licin bila hujan. Karenanya gak cocok ditanam di pinggir jalan dan tempat parkir. 

Bahkan pohon peneduh di tempat parkir saja sebaiknya harus dipikirkan karakter pohonnya ya. Gokil saya baru tahu siah! Arifin harus diangkat jadi kepala divisi pertamanan kota Bandung deh! 

Di bawah Pohon Jamblang yang langka (yes! Ada Pohon Jamblang di Balaikota dong!),  Arifin cerita kalau buah Jamblang (Anggur Jawa) dahulu banyak dijual di pasar tradisional. "Rasa buahnya lebih enak dari stroberi dan apel. Paling cocok dimakan di siang hari yang terang" katanya lagi.

Indra -suamiku- mengiyakan cerita Arifin, "waktu SD masih suka makan buah jamblang. Ke mana ya buah ini sekarang?" tanyanya padaku. Sepertinya di zamannya saya dulu, udah gak ada kebiasaan makanin buah jamblang deh. 

Arifin mengingatkan bahwa langkanya buah jamblang jadi penegas kalau pola makanan orang kota berubah. Saya belum pernah makan buah ini. Lantas kenapa buahnya jadi langka kalau rasanya enak?

Begitulah. Makin siang, makin banyak pepohonan yang dibahas. Saya buat daftarnya, ini pohon ada semua di Balaikota, Gaessss! Here goes: 

Pohon Ganitri yang bijinya diolah dan jadi biji tasbih.

Pohon Damar yang berfungsi sebagai pemecah angin, getahnya untuk menambal gigi.

Hanjuang yang jadi pohon pagar pembatas dua dunia: mati (pemakaman) dan hidup.

Trengguli, pohon jamu untuk diet melangsingkan badan.

Pohon Kemiri ada minyak di biji pohonnya, digunakan sebagai bahan bakar lampu penerang.

Pohon Puspa yang khas priangan dan jenis pohon peneduh yang cocok untuk reboisasi.

Pohon Huni memiliki daun yang edible alias dapat dimakan mentah-mentah (lalap).

Pohon Pucuk Merah yang ditanam di pot dan menurut Arifin cara penanamannya salah banget.

Ki Merak alias Patrakomala yang mengandung senyawa sianida.

Pohon Kenari yang jenisnya tanaman peneduh dan akarnya besar-besar, gak cocok ada di tepi jalan.

Saya tulis singkat-singkat aja, kenyataannya saat Bio Tour si pemandu bercerita banyaaaakkkkk sekali. Nyerocos dengan koma dan titik yang teratur. 

Sesekali Arifin menyebut nama latin tanamannya, fasih banget. Kamu tahu sedang bersama orang yang mencintai bidangnya saat ia -tanpa kikuk dan tidak planga plongo- sanggup melafalkan nama lokal sebuah tanaman, sekaligus nama ilmiahnya dan ceritanya panjang lebar seolah-olah dia mau bagikan semua dunia perbotanian yang ia cintai pada kami semua. 

Menjauh dari Balaikota, tanaman di dalam selokan pun Arifin bahas. Dari tanaman yang tumbuh di parit seperti Kareumbi dan Babadotan, sampai tanaman hias yang kebanyakan bunganya beracun misalnya Patrakomala dan Oliander.

Lalu tibalah waktunya pepohonan favorit saya dibahasnya: Angsana dan Tanjung.

Pohon Angsana ada banyak di wilayah Dago: Jalan Raden Patah, Jalan Pager Gunung, dan Jalan Kyai Gede Utama. Perhatikan bila bunganya yang kuning itu berguguran. Aduh cantiknya. 

Lalu bunga tanjung dijadikan hiasan pada keranda jenazah. Sebab bunganya menguarkan wangi nan harum. Di rumah ibuku ada satu Pohon Tanjung. Bila malam wanginya sedap nian. 

Kata Arifin nih, Pohon Tanjung adalah pohon peneduh yang ideal ditanam di pinggir jalan. Sebab akarnya tidak terlalu besar, daunnya menyerap karbondiosida, dan buahnya mungil. 

Aduh bayangin yah jalan kaki di tepi jalan, malam hari gitu, terus ada wangi-wangi dari Pohon Tanjung. Sekarang gak takut lagi ada kuntilanak kali yah karena sudah tahu asal muasal wanginya darimana 😹

Saya termasuk beruntung bisa tinggal di lingkungan yang masih banyak pohonnya. Cuma sayang sekali saya gak tahu nama pohonnya apa aja, fungsinya apa, khasiatnya apa, beracun enggak. Kecuali pohon buah yang saya konsumsi.

Karena Bio Tour sekarang saya jadi tahu. Emang sih gampang tinggal baca di buku atau browsing di Google. Tapi kalau pratik langsung turun ke jalan kayak Bio Tour lebih seru karena ada interaksi dengan pohonnya secara langsung. 

Selama turnya saya tuh: 
mencium bunga Pohon Tanjung
ngebauin daun Kayu Manis
menghirup aroma getah Pohon Kenari
gesek-gesek daun Pohon Sikat Botol di tangan, wanginya kayak kayu putih
melihat pohon yang bisa jadi 'obat HIV'
mengernyit karena bau jamu dari Buah Trengguli
makan Bunga Begonia
makan Buah Bihbul yang teksturnya kayak mentega, enak amat saya suka! 
mengagumi bunga Oliander dan Patrakomala yang cantik-cantik tapi beracun
Dan rumput pipih boleh diinjak! 

Seru yah lima indra kepake semua. Mata, telinga, hidung, lidah, tangan. Pantesan selama tur ini hati rasanya senang. Begitu pun turnya meninggalkan kesan yang membekas baik. 

Oiya, sekarang kutahu, kalau lapar dan gak punya uang tinggal pergi ke Balaikota dan Taman Lalu Lintas, berburu buah di sana. Hehe. Tinggal cari tahu mana yang beracun, mana yang aman untuk perut manusia.

Bahkan saya sekarang tahu kalau tumbuhan raksasa kayak Pohon Trembesi itu ternyata bersaudara dengan tanaman kacang hias merambat. Jauh amat ya, yang satu menjulang ke angkasa, satunya lagi membumi di tanah.  

Menurut panitianya, Bio Tour akan dilakukan secara rutin. Kapan waktunya, langsung tanya ke penyelenggaranya aja. Cek akun di Instagram @indischemooi. Jangankan saya yang mewajibkan diri mengikuti tur pepohonan ini, walikota Bandung juga harus. Orang-orang di Dinas Pertamanan juga wajib nih melek pepohonan di Bandung.

Bagian paling menohok dari tur ini adalah muncul kesadaran kalau usaha walikota Bandung dan Pemkot dalam mempercantik kota belum selaras dengan keberadaan makhluk lainnya. Kitanya senang, estetik sih emang. Namun salah sebab kita gak kenal karakteristik tanamannya. 

Arifin menunjuk pohon Pucuk Merah yang ditanam dalam pot di Balaikota. Tanaman bernama Kastuba. 

"Cara menanam kayak gini salah. Pucuk Merah butuh lahan luas untuk tumbuh," kami mengamati pohonnya yang mulai layu dan mengering. Pantas atuh mati ya. Akarnya gak leluasa bergerak ketahan pot. Pohonnya gimana mau tumbuh.

Arifin juga menyinggung bunga-bunga warna merah yang digantung di tiang-tiang lampu jalan. Ternyata salah menempatkan bunga Pohon Kastuba kayak gitu. Kodratnya pohon Kastuba tumbuh 1,5 m - 4 m dan gak boleh kena sinar matahari langsung. 

Kastuba di Jalan Riau dan Purnawarman rada mending sih karena digantung di bawah pepohonan besar. Pot Kastuba yang di jalan Dago salah naro karena ngegantungnya di tengah jalan dan kena sinar matahari langsung. 

"Jadi cocoknya tanaman yang digantung di pinggir jalan kayak gitu apa dong, Pin?" tanya saya.

"Bunga Senecio Macroglossus, tapi gak tahu nama dagangnya," kata Arifin yang sekolahnya jurusan Biologi di Unpad dan magister di IPB ini. 

Hmm coba deh nanti saya google kayak gimana itu Senecio Macroglossus. 

Begitulah Bio Tour. Radius yang kami kitari gak nyampe 5 km aja, tapi pepohonannya beragam banget. Saya paling suka bagian mencium-mencium wangi bunga dan daun, rasanya damai banget. Hehehe. Kayaknya Bio Tour ini mesti diulang-ulang deh acaranya. Biar makin banyak yang ikutan.

Mudah-mudahan pepohonan di Bandung lestari. Pohon yang renta diganti yang muda. Pohon yang muda tumbuh aman gak ditebang-tebang dan gak jadi korban pembangunan.

Dan semoga kita kenal sama tanaman dan pepohonan di sekitar kita yah! 


Bacang, Cikak, Klepon, Celorot
Di bawah Pohon Puspa
Pohon Kayu Manis
Bunga Puspa yang wangi dan rumput Gajah Kecil 
yang aman banget diinjek-injek tapi seringnya dilarang diinjek 


The Giant Pohon Karet Munding
Karet Munding masih bayi
Membahas Pohon Kenari 
Buah Pohon Kenari kalau dibelah kayak gini penampakannya
Baby Kareumbi
Pohon gak boleh dililit kain kayak gitu,
mengganggu metabolisme pohon, kata Arifin
Dua Pohon Tanjung di Jalan Aceh, jenis pohon peneduh yang ideal karena:
buahnya kecil, akarnya gak gede-gede amat, menyerap karbondiosida







Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan Lenovo A6000

Ngaleut Rasia Bandoeng, Tentang Skandal di Bandung Tahun 1914

01/11/16
Tahun 1917 bulan Desember di kota Bandung terbit sebuah novel berjudul Rasia Bandoeng. 

Novel ini berkisah tentang sepasang muda mudi Tionghoa yang jatuh hati dan kawin lari. Karena keduanya berasal dari marga yang sama, maka cinta mereka terhalang tradisi. FYI, kisah dalam novel ini merupakan kisah nyata. Menambah nilai bonus (appropiate gak sih menyebutnya sebagai bonus?)  bagi para pecinta cerita fiksi sekaligus sejarah. 

Pertama, ini kisah sungguh-sungguh terjadi. Kedua, setting dalam novelnya berlatar Bandung di periode 1900an. 

Rasia Bandoeng terbit dalam tiga jilid. Jilid terakhirnya muncul di tahun 1918. Hampir 100 tahun sejak novel tersebut pertama kali hadir, sebuah komunitas sejarah di Bandung menyalin ulang dan menerbitkannya kembali. 

Komunitas Aleut bukan cuma menerbitkan ulang, tapi juga menyelenggarakan acara menyusuri tempat-tempat yang diceritakan dalam novelnya pada hari minggu (30/10/2016). 




Gak banyak acara jalan-jalan yang dibuat rutenya berdasarkan sebuah buku apalagi genrenya novel. Malah jarang banget. Atau hampir gak ada ya? 

Di Bandung saja yang menyelenggarakan walking tour berdasarkan novel kayaknya baru Aleut dan Gamboeng Vooruit (waktu saya ikut tur ke Gambung, salah satu lokasi yang ada di novel Sang Juragan). 



Cerita Novelnya

Tokoh utama di novel ini ada dua: Hilda Tan dan Tan Tjin Hiauw. Konfliknya muncul karena mereka berdua punya marga yang sama yaitu Tan. Di komunitas Tiong Hoa, orang yang marganya sama tidak boleh menikah, apalagi punya keturunan. Orang dengan marga yang sama artinya punya hubungan kekerabatan yang dekat (sedarah). 

Dengan pria yang rentang umurnya berbeda tujuh tahun itu Hilda tidak peduli marganya sama. Pokoknya cinta mati ke si Tan Tjin Hiauw deh. 

Hilda berasal dari keluarga kaya raya. Sebaliknya Tan Tjin Hiauw berasal dari keluarga yang kondisi keuangannya sedang bangkrut. Rumor mengatakan bahwa si laki-laki menyambut cinta Hilda lantaran ingin memperoleh kekayaan keluarga Hilda. Tapi bagaimana mungkin bisa kecipratan harta kekayaan ayahnya Hilda kalau Hilda sendiri 'dipecat' dari ahli waris keluarganya ya…

Secara garis besar kisah di novel ini sama kok dengan kebanyakan cerita di novel fiksi lainnya: cinta kasih yang ditolak adat tradisi.



Menyusuri Ceritanya

Ngaleut Rasia Bandoeng hari itu destinasinya adalah tempat-tempat yang jadi lokasi Hilda dan Hilda Tan dan Tan Tjin Hiauw berkencan. Rutenya dari Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan ke area sekitar Braga, Pasar Baru dan Stasiun Bandung. 

Biasanya kalau history walking tour kan jalan kaki terus hinggap di satu titik lalu cerita tokoh atau cerita penting. Ini kayaknya baru pertama kali saya menyusuri tempat-tempat bersejarah di Bandung yang bumbu ceritanya dari skandal sepasang kekasih. Ada sedikit perasaan seolah-olah saya tim insert tv yang sedang menyelidik.

Penulis menggunakan nama rahasia: Chabanneau*******. Di novel ini yang masih misteri adalah penulisnya sih. Itu satu-satunya rahasia yang belum terpecahkan.

Fakta lainnya adalah novel ini dibuat berdasarkan surat-surat Hilda yang isinya curhat tentang perasaan dan hubungannya dengan Tan Tjin Hiauw. Belum cukup ini diangkat dari kisah nyata, si penulis menyatakan dalam pendahuluannya kalau nama tokoh dalam novelnya ia ubah sedikit tapi inisialnya sama dengan tokoh aslinya. 

Alex (pemandu Aleut) cerita, penulis novel ini memeras Hermine (tokoh asli Hilda). Kalau tidak ingin kisahnya bocor ke muka umum, Hermine diminta membayar sejumlah uang. Hermine gak mau, lalu terbitlah novel Rasia Bandoeng.

Sepanjang mendatangi kawasan yang disebut dalam novel Rasia Bandoeng, cuma sedikit bangunan yang masih berdiri. Salah satunya eks Hotel Ekspres di Kebonjati. Saya mengenal hotel ini dengan nama Hotel Surabaya. Sekarang bangunan ini milik perusahaan Kagum, jadi hotel Gino Ferucci. Bagian depan gedungnya yang masih kuno masih dipertahankan. Tapi ke bagian tengah dan belakang sudah berganti wajah jadi modern dan bertingkat mencakar langit.

Kami juga melihat kawasan tempat Bioskop Venus dan Apollo (di Banceuy) yang gedungnya sudah tidak ada lagi. Juga ke lokasi kantornya Tan Tjin Hiauw dan toko milik keluarga Hilda. Termasuk ke lokasi Sarikat Kuli-kuli Tionghoa di Pasir Kaliki sebelum berbelok ke arah Stasiun Bandung.



Berbagi Sudut Pandang tentang Rasia Bandoeng

Arya (Komunitas Aleut) dalam sesi terakhir di Ngaleut ini berbagi pandangannya mengenai novel ini. Rasia Bandoeng baginya adalah literasi dibalik pemerasan. Iya juga sih, kalau Hilda menuruti kemauan si pemeras, gak ada novel Rasia Bandoeng.

Bila tidak ada novelnya, gak ada acara Ngaleut Rasia Bandoeng hari itu. Gak ada yang tahu bioskop Apollo dan Venus. Gak ada yang tahu sejarah keluarga Tan Djia Goan, ayahnya Hilda. Gak ada yang tahu perihal Hotel Expres. Gak ada yang tahu Perempatan Kompa. Gak ada yang tahu dulu di Alun-alun Bandung ada pohon beringin dan kalau sore di situ mangkal PSK, gak ada yang tahu nama gang Ijan itu dulunya Soeria-Ijan, dan masih banyak detail-detail lokasi dalam novelnya yang bisa kami telusuri jejaknya hari ini. Ya ada sih di buku yang lain. Tapi kan beda buku beda cerita.

Juga saya baru tahu dari novel ini kalau istilah Pelesiran artinya kamu singgah ke rumah bordil. Juga panggilan 'neng' yang dulu berlaku untuk laki-laki.

Skandal dibalik terbitnya Rasia Bandoeng ini bisa jadi blessing in disguise. 

Sama seperti karakter Hilda yang menurut saya keras kepala (dalam kosakata yang enak dibaca, maka 'teguh pendirian' adalah kalimat yang tepat :D). Di dalam angkot menuju pulang ke rumah, saya ngobrolin novel ini dengan Indra. Indra bilang kayaknya di dunia ini memang diciptakan sosok-sosok seperti Hilda agar orang lain belajar dari hidupnya. 

Maksudnya Hilda orang gak bener terus kita belajar dari kesalahan dia gitu? tanya saya pada Indra. 

Indra menjawab. Every storm has its silver lining. Sisi negatifnya ya dirasakan oleh Hilda: dikucilkan dari keluarga, mesti berjuang dengan pendapatan Tan Tjin Hiauw yang gak sebanyak uang ayahnya, dan jadi omongan banyak orang. Tapi kan selalu ada sisi positifnya, yaitu belajar dari kesalahan Hilda. Buat Indra kesalahan Hilda adalah keras kepala, gak nurut pada orang tuanya. 

Liefde is bliend. Cinta itu buta. Begitu kalimat pertama dalam bab XI di novel ini. 

Kalau nikah semarga, saya gak bisa menilai itu salah sih. Kakak ipar saya menikah dengan perempuan yang masih satu keluarga. Anaknya sekarang empat. Terus biasa-biasa aja sih gak ada masalah heuheuehu. Prinsip tiap adat memang berbeda-beda ya.

Yang menarik saya baru saja membaca novel Memang Jodoh karya Marah Rusli. Ceritanya mirip Rasia Bandoeng, diangkat dari kisah nyata penulisnya sendiri. 

Marah Rusli adalah orang Minang yang menikah dengan perempuan dari Suku Sunda. Pernikahannya itu tidak disetujui keluarga Marah Rusli. Buku ini terbit 50 tahun setelah Marah Rusli wafat karena keinginan beliau sendiri. Kata Marah Rusli sih novel terakhirnya ini kisah nyata dan ia gak mau menyinggung tokoh-tokoh asli dalam novelnya. Kalau diterbitkan 50 tahun kemudian kan para tokoh dalam novelnya sudah meninggal. Begitu katanya.

Wow baik banget ya. Satu novelnya Marah Rusli itu menurut saya mah kenyinyiran dalam bentuk terbaik, tercerdas, terhalus, dan tersopan. Beda banget dengan Rasia Bandoeng ini. Sudah mah kejadiannya tahun 1913-1917, novelnya pun terbit di tahun 1917. Melibatkan pemerasan pula. 

Menjadi peserta di Ngaleut Rasia Bandoeng, saya tentu saja baca novelnya dulu sebelum berangkat jalan-jalan. Ini buku membawa perasaan melankolis mengingat settingnya yang beneran Bandung tahun 1900an. Namun juga tragis.

Bacaan saya baru sampai di halaman 130an. Novelnya tamat di halaman 257. Sebelum membaca novelnya, seperti biasa saya baca Kata Pengantarnya yang lumayan panjang. Tapi wajib dibaca ya, jangan dilewatkan oleh sebab kata pengantarnya cerita panjang lebar tentang latar belakang novelnya disalin dan terbitkan ulang. 

Lalu saya langsung baca daftar isi dan langsung loncat ke bagian terakhir. 

Di bagian terakhir buku ini ada 12 tulisan seorang wartawan Pikiran Rakyat yang berkaitan dengan kehidupan nyata tokoh-tokoh dalam novel Rasia Bandoeng. Wah ini juga menarik banget!

Kalau bab cerita di novelnya ada 27 kalau gak salah. Jadi ya ini buku padat gizi :D 

FYI kalau kamu sama kayak saya, berasa pusing kalau baca tulisan berejaan lama, nah novel ini sudah menggunakan ejaan baru. Gak semua sih, karena tutur kalimatnya masih melayu tempo dulu. Beberapa kosakata masih dipertahankan aslinya. Tapi ejaan kayak OE diubah jadi U. 

Ngaleut Rasia Bandoeng Tur jalan kaki yang melankolis sih menurut saya mah. Ngaleut yang menyenangkan. Buku apalagi yang bisa dijadiin tur jalan kaki gini ya? Mau lagi lah ikutan :D 

Novel Rasia Bandoeng dapat dibeli di Komunitas Aleut. Cek Instagramnya untuk detail pembelian novelnya. 


























Teks : Ulu
Foto : Ulu. Foto-foto gak terlalu nyambung sih dengan novelnya. Cek IG atau Twitter Aleut juga ya. Heuheuheu. 

Melacak Jejak Kampung Dobi Bersama Aleut dan Ingatan Tentang Mata Air di Cipaku

03/10/16
Dobi yang saya tahu adalah peri di film Harry Potter. Kalau Dobi di Bandung apa artinya?

Karena Penasaran saya daftar jadi peserta Ngaleut pada hari minggu 2 Oktober 2016. Judul acara jalan-jalan Komunitas Aleut hari itu adalah melacak jejak Kampung Dobi di Bandung. 

Kampung Dobi merupakan salah satu yang tertua. Dobinya sudah tidak ada. Jadi cuma bisa lihat bekas-bekasnya doang. 

Stasiun kereta api Bandung jadi titik pertama kami berkumpul. Jam 8 pagi di bawah langit yang kelabu, kami beranjak menuju jalan-jalan kecil di depan stasiun. Ada Jalan H. Akbar dan Jalan Mesri. Nama jalan lainnya saya gak ingat (dan gak cari tahu di peta :D).


Kolam mata air Ciguriang


Jadi apa itu Dobi?

Dobi adalah laundry. Pencuci pakaian, maksudnya. Dobi itu artinya orang yang punya skill mencuci pakaian, sampai-sampai jadi profesi yang termashyur. Kampung Dobi gak cuma ada di Bandung, tapi terdapat di sepanjang Sumatera hingga Jawa. Dobi bisa jadi berasal dari Bahasa India, karena di India sana juga ada Dobi yang artinya sama. 

Kalau orang zaman sekarang gak mau cuci pakaian sendiri, perginya ke Laundry. Nah orang zaman dulu perginya ke Kampung Dobi. Mereka yang minta pakaiannya dicucikan ini termasuk orang-orang Belanda. 

Tiap hari Dobi-dobi mencuci, selalu pada malam hari. Nyuci bajunya di samping mata air Ciguriang. Pakaian dibanting-banting, digosok-gosok dengan sabun batangan. Sabun ini mereka gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan juga. Satu sabun, untuk semua kegunaan :D 

Karena nyucinya malam hari, geng Dobi ini sambil nyuci sambil nyanyi. Bertalu-talu dengan pakaian yang mereka banting-banting ke batu (papan) penggilasan. Sebenarnya tujuannya supaya semangat aja sih, karena kalau gak nyanyi mungkin suasananya sepi dan bikin ngantuk kali ya :D 

Kampung Dobi di Bandung terletak di belakang Jalan Mesri. Tepat di belakang GOR Pajajaran. 

Kata bapak-bapak tua yang merupakan warga setempat dan mendadak jadi narasumber kami, dahulu pohon di Kampung Dobi lebih banyak lagi. Ada pohon Aren (Kawung) makanya di situ disebut Kebon Kawung. Juga dua pohon Kiara yang menaungi kolam mata air Ciguriang. 

Saya lihat ada satu Pohon Aren sih, kurus dan menjulang tinggi dengan dahan-dahannya yang kering. Apa itu satu-satunya sisa pohon dari masa lampau? Ternyata bukan. Baru ditanam sih, ya sekitar puluhan tahun namun bukan dari tahun 1900an. 

Melihat ada satu Pohon Aren aja di situ saya kok rasanya agak sedih ya. Memperhatikan Pohon Aren dan memendarkan pandangan menyaksikan pemukiman, kolam mata air yang jernih dan di sisinya ada sampah, juga menatap sisa tempat para Dobi mencuci. Diselingi bau pesing yang menyeruak dan angin yang sejuk karena kami berdiri di bawah pepohonan rindang.

Dahulu seperti apa ya pemandangannya. Mencuci pakaian di tengah kebon kawung. Terus kan airnya dingin banget. Bagaimana cara mereka menghangatkan diri? Kayaknya bersiduru kali ya, di sekitar situ ada kompor kayu mungkin. Kan mereka harus minum atau mengemil sesuatu supaya tubuh tetap hangat. Berarti harus ada yang mengirim air minum dan makanan kan. Eh gimana sih hehehe rasa penasaran makin menjadi-jadi. 

Sayang sekali orang yang berprofesi sebagai Dobi sudah meninggal. Gak ada jejak hidup yang dapat kami ulik sejarahnya. Padahal ingin sekali bertanya pada mereka. 

Berapa pakaian yang mereka cuci dalam waktu semalam? 
Berapa upahnya?
Nyucinya tiap hari?
Gimana rasanya mencuci pakaian pada malam hari hingga fajar menyingsing di bawah naungan pepohonan rindang? Serem gak? :D Ada pengalaman horor gak? (halah)
Siapa kliennya? Ada orang terkenal gak?
Setelah dicuci, pakaiannya disetrika gak?
Kampung Dobi ini asli orang Bandung semua atau ada pendatang?

Arya cerita sewaktu Komunitas Aleut ke Kampung Dobi di tahun 2011, masih ada yang mencuci di tempat pencuciannya ini. Mereka lihat sendiri. Sementara si bapak tua itu bilang terakhir kali Dobi-dobi mencuci adalah di tahun 80an. Mungkin yang Aleut lihat waktu itu warga yang sedang mencuci pakaiannya sendiri ya. Bukan Dobi. Ah entahlah. 

Di sekitar Kampung Dobi ini banyak mata airnya. Bersama Aleut saya lihat satu mata air lain selain Ciguriang. Namanya Susi, Sumur Siuk. Mata air ini kondisinya jauh lebih bersih dan terjaga. Di sisi mata air ada bangunan yang terdiri dari kamar mandi. Warga setempat masih mencuci dan mandi di situ. Ambil airnya gampang banget, tinggal disiuk alias tinggal diambil dengan cibuk dan byur byurrr tumpahkan ke tubuh sendiri. 

Sumur Siuk ini dangkal. Sekitar 3 meter kali ya. Bentuknya melebar seperti kolam. Tiap sisi dibangun dinding setinggi 3 meter dan atapnya terbuka. Saya gak tahu sih di belakang dinding itu ada apa. Semoga gak ada yang bawa tangga dan ngintip orang mandi karena kamar mandinya terhubung langsung ke Sumur Siuk ini. Kamar mandi mah beratap. Mata airnya yang enggak. 

Air di Sumur Siuk ini jernih sekali. Saya bisa lihat dasarnya. Rasanya aneh lihat ada mata air yang sanggup bertahan di antara kepungan pemukiman. Alhamdulillah. 

Dari Sumur Siuk, Aleut berjalan lagi. Kami balik arah karena ada urusan lain jadi gak ikut Ngaleut hingga acara selesai. Kalau lihat foto-foto acaranya, mereka mengunjungi mata air lainnya. 

Bandung memang terdiri dari banyak mata air. Namanya juga pegunungan. Di tempat saya tinggal sekarang, Ledeng, juga pernah ada banyak mata air (banyak bangetngetgetnget). Sayang sekali mata airnya sudah pada kering. Satu mata air terdekat dari rumah ada di tebing, di Cipaku. Menuju ke sana kami harus turun tangga yang curam-curam ukuran tangganya. 

Karena kakek saya yang memperbagus kondisi mata airnya dan beliau juga yang membangun akses berupa tangga, termasuk kakek saya juga yang membangun tempat pencucian, maka Pak Aki -panggilan saya untuk kakek- yang memberi nama untuk mata air tersebut. 

Beliau menamakan mata airnya Ci Iim. Ci = air. Iim = nama anak kesayangannya (Siti Fatimah, nick namenya Iim). 

Ci Iim dan mata air lainnya yang ada di dataran lebih tinggi mengairi pesawahan di Cipaku. Yes, Cipaku itu dulunya lembah yang bisa jadi tadinya hutan sih. Cuma saya ingatnya Cipaku itu sawah luaaaaas sekali. Hijau membentang dan di sisi sawahnya ada pemukiman penduduk dan hutan. Sawah-sawah itu milik kakek saya. Dulu keluarga besar saya sering botram (piknik makan-makan) di saung di sawah Cipaku. Sekarang sawahnya sudah tidak ada, sudah jadi perumahan. 

Jejak mata airnya masih ada, tapi ya tinggal puing-puing. Mata airnya sudah tinggal kenangan. Sudah mati. Kakek saya pun sudah meninggal di tahun 2008. 

Ya begitulah cerita Ngaleut hari minggu kemarin. Ngaleut yang menyenangkan sekaligus membuat saya agak sedih sih karena ingat Pak Aki, Ci Iim, dan kenangan indah akan pemandangan sawah-sawah di Cipaku. 


berkumpul di depan Stasiun Bandung

Arya, pemandu dari Komunitas Aleut

Rumah Haryoto Kunto, penulis buku-buku Bandung tempo dulu
Menatap rumah Pak Kunto dan mendengar Arya cerita

Pohon Aren (Kawung)
Bekas 'papan' penggilasan pakaian



Di komplek pemakaman keluarga Mesri
Di jalan gang yang sempit, di Sumur Siuk
Sumur Siuk, difoto pake ponsel

Foto : Nurul Ulu, Indra Yudha



Foto-foto lebih banyak ada di fanpage Bandung Diary.