Social Media

Image Slider

HEY YOGYAKARTA!

24/06/15
Akhirnya bermuara juga ke tengah kota. Beradu dengan becak, delman, dan kaki-kaki turis. Jogja awal Juni padat sekali! 

Menit-menit terakhir di Jogja, akhirnya perjalanan kuliner kami seperti menemukan titik terang :D karena gak ada target kuliner di mana-mana jadi ya santai aja sih mau makan apa juga. Cuma satu dua hari di Jogja belum ketemu makanan enak yang di Bandung gak ada. Nah menjelang pulang baru deh ketemu makanan enak :D 

Kami bertiga menyempatkan diri menyantap makanan ala Angkringan, Pecel, Sate ala ibu-ibu Jokja, dan dua kali makan Lumpia di depan Hotel Mutiara. Yang terakhir ini, kalian harus coba makan kalau ke Jogja. Sangat saya rekomendasikan. Rasanya enak luar biasa, harganya itu loh 3.000 aja. Uniknya saos si lumpia adalah bawang putih yang digerus halus. Aduh enaknya masih terbayang-bayang sampai sekarang :)

Kami gak berbelanja di Malioboro. Malahan belanja di Pasar Beringharjo, jajan cemilan buat di kereta pulang nanti. Kesorean deh ke pasar Beringharjo-nya. Padahal pengen hunting makanan di sana. Ya wis nanti saja tahun depan sekalian mau ke ArtJog (keukeuh). 

Gak jadi ke ArtJog karena tiket masuknya sekarang 50.000. Tahun kemarin masih 10.000. Kecewa sih, tapi dimaklumi juga. Ada yang bilang ArtJog terlalu komersil. Tapi buat saya sih mungkin mereka mau menyaring pengunjung, jadi kaum alay yang datang tanpa apresiasi dan pengennya foto-foto dan bikin keramaian gak penting itu bisa tersingkirkan. Ya mungkin aja sih.

Kami gak belanja oleh-oleh. Satu perjalanan ini diniatkan gak beli oleh-oleh. Ibu sudah saya beritahu duluan karena beliau orang terpenting no satu buat saya sekarang ini. Dan dia bilang tak apa, yang penting uang bulanan jangan lupa katanya :D hahahah siap, Buuuu :P 

Jogja sekarang riuh sekali. Terutama pusat kotanya. Agak pusing ada di Malioboro dan sekitarnya. Saya lebih suka tempat yang agak jauh dari keramaian, lebih hening dan bisa membuat saya terlihat seperti warga lokal biasa saja bukannya turis.

Tapi agak susah ya, sekucel-kucel saya ada di Kota Gede, tetap aja kelihatan kayak turis, padahal udah nyoba bersikap seperti warga lokal :D Bukan karena saya cantik jelita sih hahahaa aduh ini minta dikeplak banget nulisnya.

Untuk terlihat natural terkadang yang kami kenakan baiknya ya t-shirt polos belel dan celana jeans plus sandal jepit. Sementara di Jogja kemarin saya berkemeja kotak-kotak, jeans, sepasang sepatu keds, dan satu tas ransel gendongan anak yang kayaknya teriak keras-keras "saya turis! saya turiiiis!" Belum pula Gele nenteng kamera. Bah. Hahaha. 

Satu hal yang saya gak sukai dari Jokja. Bis Transjog-nyaaaa! Aduh ini supir-supir Transjog sama sekali GAK sewoles kotanya yah. Nyetirnya ala smackdown. Banting kiri kanan. Rute bisnya juga aneh :D 3x naik Transjog, 4 sopir, kelakuan nyetirnya sama.

Tapi ada yang aneh ya dari Transjog. Mereka seolah-olah dijauhkan dari pusat kota yang penuh wisatawan. Mungkin ada kesepakatan yang kasat mata antara rombongan becak delman taksi dengan rombongan Transjog kali ya. Bagi-bagi lahan usaha gitu. 

One thing i know for sure: naiklah taksi atau sewa motor kalau sedang di Jogja. Becak bisa sih sesekali, tapi tarifnya kemahalan. Mau membantu ekonomi lokal ya sesekali naik becak. Cuma kalo rada lama di Jogjanya mendingan sewa motor sih :D 

Buat yang penasaran kami menginap di sama selama di Jogja. Satu, di rumah milik orang tua saya di daerah Maguwoharjo. Dua, di Hotel Kampoeng Djawa (highly recommended), terakhir di Hotel Poncowinatan (standar). Dua malam berikutnya tidur di gerbong kereta api :D 

Pulang ke Bandung, kami bertiga masih sehat dan gak ada yang jatuh sakit. Hamdalah. Sampai ketemu tahun depan, wahai Jogja! 

Taman Sari dan Sultan yang Kaya Raya Sekali

23/06/15
Ke Taman Sari. Gila ya jadi raja kok ya enak banget. Buat keperluan mandi saja dibuatkan satu kompleks yang luas dan istimewa. Kaya raya sekali raja-raja kita ini. Harta banyak, istri banyak. Mereka menciptakan surganya sendiri.

Masuk ke Taman Sari, tempat dahulu Sultan dan keluarganya mandi dan rekreasi

Pasti sudah pada tahu ya Taman Sari apa. Juga cerita tentang selir sultan mandi di kolam yang mana dan blablabla lainnya.

Seluas apa tempat yang dibangun tahun 1758 - 1765 itu? 18 taman dan kebun buah, danau, kolam, sumber mata air, pulau-pulau buatan, terowongan, gerbang, dan beragam bangunan lain. Tiket masuk 5.000. 

Banyak gerbang di Taman Sari. Gerbang Panggung dan Gapura Agung. Di Gapura Agung ada hiasan reliefnya. Bagus-bagus dan detail. Di buku Jelajah Kota-kota Pusaka disebutkan relief yang jadi hiasan Gapura Agung adalah relief burung, bunga melati, bunga teratai, tanaman rambat, dan sayap burung garuda. 

Dari kompleks utama, kami menuju Sumur Gumuling. 

Matahari Jogja di hari ketiga kami di sana mencapai titik terpanas. Super hot. Mencari Sumur Gumuling juga agak susah karena kami gak menyewa jasa pemandu lokal. Kompleks Taman Sari juga gak seperti dulu lagi. Banyak dibangun rumah penduduk di sekitar Taman Sari. Ya akhirnya nanya penduduk setempat saja dan sampai juga di tempat yang sangat adem, sejuk, dan bisa bersembunyi sebentar dari matahari. Sumur Gumuling. 

Sumur Gumuling merupakan bangunan bundar bertingkat dan berfungsi sebagai masjid. Di sebut sumur karena bangunan ini didirikan di bawah garis air bekas danau Taman Sari. Di bagian tengahnya ada Lantai Melayang yang menjadi tempat Sultan semedi. Ini ikonnya sih. Tidak benar-benar melayang kok hanya saja lokasinya di pusat bangunan saja. Sumur Gumuling dianggap sebagai replika istana Ratu Kanjeng Nyi Roro Kidul dan tempat Sultan bertemu dengannya. 

Unik juga keluar masuk kompleks Taman Sari di tengah rumah-rumah warga. Taman Sari dengan gapura-gapuranya yang mewah, Sumur Gumuling yang megah, terus tahu-tahu 5 meter dari situ mencelat rumah warga yang kondisinya sederhana sekali. Kontras banget. Eh rumah di sekitar Taman Sari jadul-jadul :D senang lihatnya. Katanya rumah-rumah di sana milik abdi dalem Keraton dan keturunannya ya? 

Perjalanan di Taman Sari diakhiri dengan bersantai di Masjid Soko Tunggal. Atap bangunan masjid disanggap satu kolom saja. Bisa gitu ya aneh :D 

Sejujurnya, ini bangunan favorit saya dari semua bangunan yang ada di Taman Sari. Bukan karena saya muslim :D tapi karena lantai masjidnya mengingatkan saya pada rumah almarhumah nenek saya di Indramayu. Warnanya kuning, 20 x 20 cm ukuran tiap lantainya. Teras masjidnya itu loh, ah sejuknya... Kalau punya rumah, saya mau teras rumahnya kayak yang dipunya Masjid Soko Tunggal.

Kota Gede, Aku Padamu

22/06/15
Dalam tubuh saya mengalir darah Pantura, Indramayu dan Cirebon. Ketika saya sampai di Kota Gede, Yogyakarta, agak aneh-aneh gimana gitu karena Kota Gede yang dahulunya kerajaan Mataram ini pernah mencaplok kawasan nenek moyang saya. Bergiliran dengan kerajaan Pajajaran, Mataram menjajah  Cirebon jauh sebelum Belanda datang. Sampai pada akhirnya Belanda yang menjajah kita semua. 

Mungkin begini ya rasanya orang Indonesia yang berkunjung ke negara Belanda. Hahaha perumpamaan yang gak terlalu tepat sih tapi ya kira-kira begitu lah. 

Ke Jogja, saya dan Gele membawa bakal peta perjalanan buatan Emile Leushuis. Karena kami gak berencana belanja atau wisata kuliner, tujuannya satu: gedung-gedung kuno di Kota Gede.

Sayangnya ukuran buku Emile gak ergonomis banget buat diajak jalan-jalan. Besar dan tebal, bukan buku ukuran saku. Alhasil saya hanya ngeprint petanya saja dan membaca keterangan bangunan dan sejarahnya di rumah. Padahal lebih asyik kalau membawa bukunya juga selama perjalanan. 

Menginap di hotel Kampoeng Djawa yang edgy dan hangat, kami berangkat pukul 8 pagi ke Kota Gede. Menumpang bis no 15, ongkosnya 3.000 saja perorang. 15 menit dari mulut jalan prawirotaman, bis membawa kami sampai di jalan masuk Kota Gede, mulai buka peta dan menyiapkan diri menempuh perjalanan hari itu.

Ketemu tukang becak dan tetap yak tukang becak di Jogja di mana-mana super agresif. Gak di Malioboro, gak juga di Kota Gede :D Mereka kalau diprospek jadi MLM kayaknya bisa tuh. 

Jogja cerah sekali. Matahari Jogja sudah memulai gigitan pertamanya. Jalan raya menyempit, paling lima meteran aja, mulai agak susah berjalan kaki meski ada trotoar. Beberapa kendaraan wisata seliweran mengangkut turis yang mulai berdatangan. Toko-toko silver khas Kota Gede belum banyak yang ramai pengunjung. Mungkin karena masih jam 9 pagi.

Seorang teman mengingatkan kami untuk makan Kipo, cemilan khas Kota Gede. Konon Kipo dulunya makanan raja-raja. Rasanya mirip dadar gulung loh. Manis dan kenyal. Hijau pula warnanya. 

Gele mulai motret dan sibuk sendiri. Saya menjaga Nabil dan membaca peta. Di dalam peta tercantum nomor-nomor yang menandakan bangunan. Kami mengikuti jalur di peta dan melihat bangunan yang dimaksud penulis buku Jelajah Kota-kota Pusaka tersebut. 

Kota Gede pernah jadi pusat kerajinan dan perdagangan. Pusat kota Mataram dan gak heran banyak bangsawan yang tinggal di sini. Pernah mengalami kemunduran gara-gara efek perang dunia ke II dan di tahun 80an pertumbuhan ekonomi Kota Gede bangkit lagi berkat kunjungan turis-turis bule yang meningkat. 

Satu hal yang perlu dihighlight dan ditiru kota Bandung dari Jogja adalah ketegasan pemerintah setempat untuk melarang mendirikan bangunan-bangunan pencakar langit di area Kota Gede. Mereka juga sanggup mencegah perkembangan komersil yang kita tahu malah merusak wajah kota. Hasilnya Kota Gede masih dapat menampilkan karakter yang orisinil kayak sekarang. Seenggaknya sih buat saya masih orisinil ya dibanding Bandung :D 

Di pinggir jalan utama, bangunan kunonya besar-besar. Beberapa diantaranya mewah sekali. Banyak bangsawan yang pernah bermukim di sini. Keturunan Keraton juga sepertinya. Masuk ke gang-gang di Kota Gede, baru deh melihat rumah yang ukurannya lebih kecil.

Meski di dalem gang, rumah-rumahnya juga gak kalah cantik dan masih banyak yang kuno! Banyak yang sudah kumal dan compang-camping, tapi entahlah buat saya malah terlihat begitu bersejarah. Itu rumah kalau bisa ngomong bakal cerita apa saja ya? 

Keluar masuk gang di Kota Gede, baru nyadar kalau gangnya bersih sekali! Saya dan Gele sampai yang uwow lah itu sama bersihnya. Puntung rokok pun gak ada. padahal tempat sampah juga gak banyak. Hebat nih warganya. Apa pas saya ke sana emang baru pada kerja bakti gitu ya? :D 

Saya melihat Pasar Legi, Rumah Kalang, Bangunan Ansor Silver, Masjid Perak, Rumah Joglo, Kompleks Makam Mataram, dan masih banyak lagi. Ada 23 titik utama yang penulis rekomendasikan untuk dikunjungi atau sekedar dilihat dari tepi jalan. Emang yah...rekomendasinya gak salah. Arsitektur bangunannya detail dan cantik sekali. Sejarah bangunannya bisa dibaca juga di dalam bukunya. Saya gak bisa ceritain satu-satu ya apa saja bangunan yang saya lihat di sana, beli aja bukunya :D

Sayang kami kelupaan masuk Pasar Legi! Aaahhkkk! Padahal buat saya wajah asli suatu wilayah salah satunya bisa dilihat dari dalam pasarnya. Termasuk hunting kuliner, biasanya saya lakukan di dalam pasar. Terus yang lupa gitu gara-gara nyari Warung Sidosemi sih :(

Di belakang Pasar Legi, kami hendak ke Warung Sidosemi. Sayang warungnya tutup. Ya udah ke Makam Mataram aja. Kompleksnya mirip candi. Kompleksnya luas dan teduh. Suasananya senyap dan hening. Di dalam kompleksnya ada masjid yang umurnya jauh lebih tua dibanding makamnya sendiri. Sayang masjidnya sedang direnovasi :(

Anyway, ada beberapa bangunan tua yang kami masuki. Bukan bangunan yang privat banget sih, cuma toko-toko perhiasan silver gitu. Ansor Silver. Emile meyarankan kita untuk menjenguk Ansor Silver. Pas saya masuk ke bangunannya....wuaaaaa!

Bangunan Ansor Silver megah sekali! Dari luar juga penampakannya tampak intimidatif sih buat bangunan di sekitarnya. Sekaya apa ya pemilik bangunan Ansor ini sampai rumahnya guede banget ya. Pasti bukan sembarang orang sih. Kata Mbaknya yang jadi pramuniaga, pemilik bangunan masih ada hubungan kerabat dengan Keraton. Oala ya pantes ya rumahnya kayak istana gitu.

Beberapa bangunan menarik lainnya adalah Rumah Kalang dan Rumah Joglo.

Rumah Joglo itu beneran rumah tempat tinggal warga, bukan sengaja dibuat untuk turis. Gak banyak rumahnya, hanya 2-3 rumah beriringan. Saya mau melihat-lihat bagian dalamnya, Gele mau motret. Tapi kami berdua malu dengan pemilik rumah yang kelihatan sedang asyik nongkrong di teras. Mau minta izin tapi bagaimana ya, malu euy. Jadi ya cuma lirik-lirik rumahnya dan senyum tanda permisi saja sama mereka. Aduh... pemandangan Rumah Joglo di dalam gang dan bukan diperuntukkan untuk turis tuh rasanya organik banget! Rumah Joglo beneran bukan dibuat-buat! Bukan pemandangan sehari-hari ya :D 

Rumah Kalang adalah bangunan yang tak berpenghuni. Kelihatannya sedang direnovasi. Bentuk bangunannya sih rumah Jawa. Tapi masih bisa terlihat pengaruh arsitektur Eropanya. Dari buku yang saya baca, tertulis bahwa terdapat lorong bawah tanah di belakang kompleks Rumah Kalang. Pernah digunakan sebagai tempat menyimpan uang dan barang berharga lainnya. 

Kalang sendiri merujuk pada definisi orang buangan. Berdasarkan buku yang saya baca, orang Kalang masih keturunan kerajaan Majapahit dan berasal dari abad 13. Mereka mulai bermukim di Kota gede di abad 17 dan bekerja sebagai tukang kayu. Foto rumah Kalang saya taro di foto pertama di bawah itu. Cuma dua bangunan itu bukan rumah utamanya, baru bagian depan saja. Atau jangan-jangan Rumah Kalang yang Gele foto dengan yang dimaksud di buku beda yah. Waduw! 

Banyak yang sudah terjadi di Kota Gede. Secara mereka pernah jadi pusatnya Mataram, kerajaan terkuat di Nusantara selain Majapahit, Pajajaran, dan Sriwijaya. Masih kurang buat saya waktu untuk mejelajahi Kota Gede. Rasanya pengen balik lagi dan lagi. Tahun depan ya, sekalian ke ArtJog :)

Lebih memudahkan kalau jalan-jalannya dengan seorang teman yang asli Jogja sih. Bisa membantu komunikasi dengan warga setempat dan bisa izin masuk bangunan tanpa merasa kikuk. Yah jadi catetan juga buat saya dan Gele. Dan kami sudah tahu akan mengontak siapa kalau kelak ke Jogja lagi. Hahaha :D

Kota Gede, kami akan kembali.

Off To Jogja

21/06/15
Bulan ini, Juni, saya dapat kesempatan pergi ke kota Gudeg. Rasanya sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di kota ketiga yang akan saya pilih untuk ditinggali setelah Bandung dan Cirebon. Ya itu juga kalau saya harus pindah dari Bandung dan gak bisa tinggal di Cirebon - Indramayu sih :D 

Tujuan utamanya mengunjungi ArtJog. Sayang atraksi utama tersebut malah gak jadi kami datangi. Kenapa? nanti ya saya ceritakan di blogpost selanjutnya. Walau gak jadi, saya gak sedih-sedih amat. Tahun depan ada alasan buat datang lagi ke kota Jogja. 

Anyway dalam perjalanan ini ada beberapa hal yang saya dan Gele baru sadari. Satu: kami lagi gak cocok dengan kereta api kelas ekonomi. Hahaha. We officially kiss economy class goodbye because of this. Kalau sebelumnya sih bis ekonomi, sekarang kereta api. Kelas ekonomi cocoknya buat kami yang dulu masih langsing dan belum punya kucrit umur tiga tahun deh. Mencari tipe perjalanan termurah gak lagi masuk prioritas. Pokoknya harus murah...dan nyaman. Pulang ke Bandung naik gerbong yang Kelas Bisnis aja deh jadinya. 

Ternyata tiket kereta api mahal ya. Untuk kami bertiga saja, trip Jogja kemarin pergi dan pulang menghabiskan ongkos lebih dari 600.000. Ini bukan tiket pesawat terbang :D Hahaha. Ya wislah, work hard, play hard. 

Berangkat ke Jogja, kami sudah tahu ingin ke mana saja. Tujuan utama Kota Gede. Bukan belanja perhiasan silver yang terkenal itu kok. Kami menyusuri bangunan-bangunan tua di sana berbekal satu peta yang saya ambil dari buku Panduan Jelajah Kota -kota Pusaka ditulis oleh geograf sekaligus pelaku wisata asal Belanda, Emile Leushuis. 

Kesadaran yang kedua itu muncul saat kami mengeliling Kota Gede. Bahwa menggiring anak kecil umur tiga tahun berjalan kaki dan menggendongnya di kala ia pegel dalam waktu lama adalah CAPEK banget! Semua ongkos makan yang saya anggarkan jebol. Saya dan Gele makan lebih rampus, makan lebih banyak dari biasanya karena kecapekan gendong Nabil secara bergiliran dan fisik yang cepat lelah karena kepanasan, matahari Jogja yang lebih menyengat dibanding Bandung. Hahahaha :D

Tiga target meleset dari trip Jogja kemarin. Ke Kali Code, ArtJog, dan mengelilingi kota tua Jogja sambil berjalan kaki melihat gedung tuanya. Seperti yang sudah saya tulis di atas, ada alasan untuk kembali lagi ke kota yang kalau bapak Anies Baswedan: tiap sudutnya romantis (tambahan dari saya: dan panas).

Ini juga trip pertama kami gak belanja oleh-oleh. Jadi mohon gak nanya oleh-oleh ya. Bukan karena pelit, cuma karena pengen nyobain jalan-jalan praktis gak heboh bawa segala macam dan belanja oleh-oleh. Sudi kiranya mengganggap tulisan saya dan foto jepretan Gele tentang Jogja ini sebagai oleh-oleh. Karena kami mengganggapnya demikian :)

Matur nuwun. Hatur nuhun.



Jalan-jalan di Bulan Ramadhan dan Bertemu Restumande di Bandung

19/06/15
Jalan-jalan di bulan puasa, kata siapa gak bisa. Emang gak kayak sehari-hari di bulan yang lain, yang pas haus tinggal minum dan ketika lapar ya cari restoran. Makanya saya juga gak pernah jalan-jalan seharian kalalu sedang berpuasa. Cukup berjalan kaki satu atau dua jam, di sore hari tentu saja supaya dekat dengan waktu berbuka puasa :D 

Seperti kemarin. Hari pertama puasa, saya-Gele-Nabil jalan-jalan sore di Bandung. Sekitar rumah saja. Bandung menjelang bulan Ramadhan panasnya luar biasa, di waktu sore hingga pagi hari dinginnya menusuk tulang. Keluar rumah di pagi lebih segar tapi seperti halnya semua orang di bulan puasa, di waktu pagi saya memilih untuk tidur zzzzzz :D 

Jalan-jalan ke mana sore kemarin? Ke Vila Isola! 


Vila Isola berada di kompleks kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Letaknya di Jalan Setiabudi dekat terminal Ledeng. Saya hanya perlu berjalan kaki dari rumah sebanyak 10 menit saja dan sampailah di kampus tersebut. 

Gedung tua selalu punya magnet aneh buat saya dan Gele. Siapa saja yang melihat gedung tua, apalagi yang kayak Vila Isola ini pasti deh jatuh cinta. Kok bisa manusia zaman dulu membuat bangunan serumit sekaligus secantik itu ya? Sementara makin ke sini kita mencari kepraktisan dan sesuatu yang serba cepat, Vila Isola dibangun dengan tingkat keribetan yang tinggi dan memakan waktu yang lama kayaknya. Gedung melengkung-lengkung gitu soalnya. Kalau sekarang kan bangunan serba kotak, praktis. 

Anyway, di Vila Isola kami gak hanya memandang gedung tua. Di dekatnya ada kolam ikan dan sudut-sudut yang menawan untuk jadi background pemotretan. Bahkan untuk duduk bersandar dan menuruni tangga di Vila Isola pun sudah dirancang sedemikian rupa supaya fotogenik dan kita nyaman berada di tiap langkahnya. 


Nongkrong di tepi kolam ikannya yang jadi tujuan kami. Dari rumah sudah berbekal roti basi :D Kami potong-potong dan sesampainya di pinggir kolam, langsung ditebar dikit-dikit rotinya. Ikan-ikan pada suka dan menghampiri kami. Nabil sih senang banget lihat ikan-ikan pada makan. "Waaaw ikan guedeeee! Waaaw ikannya banyaaaak!," teriak Nabil dari pinggir kolam. 

Keasyikan di Vila Isola, lupa kalau waktu berbuka sebentar lagi datang. Pukul lima lebih, kami baru beranjak pulang. Alamak gak sempat masak! Untungnya nasi sih sudah saya masak sebelum berangkat. 

Kami bergegas pulang. Nabil agak manyun karena masih mau bermain dengan ikan-ikan. Langkah sejuta kami berjalan agak berlari menuju rumah. Balapan dengan adzan Magrib. Sampai di rumah, kayaknya sudah gak ada waktu buat masak deh :D Keburu waktu taraweh dateng. 

Saya keluarin aja senjata rahasia! Bumbu dan daging yang sekali diangetin bisa langsung dimakan! Dan karena menu ala Padang termasuk kesukaan saya, jadi selalu nyetok Rendang Padang deh. Hihi. 


Saya beli benda yang namanya Restumande ini sebelum bulan puasa. Bumbu Padang instan gitu. Rendangnya tinggal diangetin gitu dan bisa jadi teman makan nasi pas berbuka puasa. Sayurnya mana? Gak ada, kan saya gak masak. Tapi kami selalu nyetok buah-buahan! Gak ada sayur, buah pun jadi. 

Gak pake ribet mengolah bumbu Padang Restumande. Karena ini tahun 2015 dan terkadang kita gak perlu hal yang rumit-rumit dalam memasak. Hohoho. Nasi masak di dalma rice cooker, Rendangnya diangetin barengan di dalam penanak nasi itu. Anget-anget dimakan! Ah enaaaakkkkk! 


Saya beli tiga pak Restumande: satu pak Rendang Kemasan yang sudah jadi dan dua macam bumbu Gulai dan Rendangnya. Buat dua macam yang terakhir itu, saya tinggal beli aja daging ikan, sapi, atau ayam. Angetin bumbunya dan masukin dagingnya. Tunggu sampai matang deh. Horeee! Gak ribet! Tapi saya belum praktekin karena belum belanja euy. Nanti saya ceritain ya gimana hasil masak dengan bumbu Gulai dan bumbu Rendangnya Restumande. 


Sebagai orang yang gak terlalu suka masak, bumbu Padang Restumande ini kepake banget :D Penyelamat di kala lapar, pahlawan di kala males masak. Eh, kalimat barusan harusnya jadi judul tulisan ini deh kayaknya :D 

Highly recommended kalau kalian termasuk saya kayak saya, males masak dan doyan makan masakan Padang. Rendang kemasan dari Restumande ini rasanya enak banget. Bumbunya meresap ke dalam daging. Gurih dan segala macam bumbu, yang saya tahu kalau meraciknya sendiri pasti susah, kerasa semua. Enak pangkat sejuta!

Rendang yang pedas sih selalu ya, kan signature dish-nya masakan Padang. Saya yang pada dasarnya gak terlalu suka pedas berlebihan, gak ada masalah dengan pedasnya Rendang dan Bumbu Padang dari Restumande. Pedasnya cenderung hangat. Kalau dimakan dengan nasi pedasnya lumayan teredam rasa pedanya. 

Satu lagi hal penting lainnya: dagingnya empuk! Ini saya ngemil rendangnya aja tanpa nasi juga sering :D Btw ini ya info detail Restumande, barangkali mau pada pesan juga. 



Rendang dan Bumbu Kemasan Restumande 22.500.
Alamat rumah makan : Jalan Brigjen Katamso 64, Bandung. 
Sms/wa : 085623060401
Pin BB : 5755BC09

Twitter : @Restumande dan @BumbuPadang
Instagram : @Restu_mande






Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha

Suria City Hotel di Jalan Peta 45 No. 75 Bandung

23/05/15
Halow. 

Minggu lalu saya berkunjung ke hotel yang baru resmi buka di sekitar wilayah Buah Batu kota Bandung. 

Letaknya hotelnya di Jalan Peta, yang mana berdekatan dengan jalan Buah Batu, Palasari, dan Jalan Ahmad Yani. Jadi terhubung langsung dengan jalan-jalan utama yang akan membawa kalian ke jalan pusat kota macam Jalan Riau dan Jalan Dago, misalnya. 

Hotelnya tidak besar, benar-benar secukupnya saja untuk numpang tidur. Buat saya kamarnya relatif sempit. Tapi kan buat tidur doang ya, bukan buat yang lain-lain. Apa coba yang lain-lain? :D Hotel cocoknya buat tidur aja sih, jadi banyak-banyaklah cari kegiatan di luar hotel. Belanja, main, jalan-jalan. Pulang kecapekan, tinggal tidur enak di Suria City Hotel. 

Terdiri dari 4 lantai, 26 kamar jenis superior dan deluxe, kamar mandinya shower, dan satu kolam renang di rooftop-nya. Kolamnya kecil banget, mini swimming pool. Per kamar duit yang harus dikeluarkan sekitar 300.000-400.000. Restorannya berada di lantai tertinggi, dekat dengan kolam renangnya. 

Hotel Suria adalah jenis hotel semi-syariah. Artinya, hotelnya family-friendly :) Hotel ini lebih cocok kalau kalian muslim, sih. 

Jalan-jalan ke mana ya enaknya kalau nginep di Hotel Suria City ini? Kalau saya, pagi-pagi sebelum menyantap makan pagi di hotel mau berjalan kaki ke kawasan daerah Talaga Bodas. Tinggal keluar hotel, nyebrang jalan dan berjalan ke arah kanan sepanjang 20 meteraan, langsung ketemu deh Jalan Talaga Bodas,  area pemukiman yang masih banyak pohonnya dan segar udaranya. Sekedar melihat Bandung dari sisi yang sepinya gitu deh. Syukur-syukur ketemu jajanan paginya Bandung toh :D bungkusssss! 

Kalau jalan-jalan seru pilihannya banyak! Yang terdekat dari Hotel Suria City ada Trans Studio Mall. Mau jajan makan-makan, arahkan kendaraan ke Jalan Buah Batu. Seabrek pilihan makanan ada di situ. Mau wisata buku, wah ini gampang banget naik angkot satu kali gak nyampe 5 menit nyampe deh di Palasari. Semua buku ada di situh. 

Di Bandung banyak hotel sekarang. Tinggal dipilih yang sesuai anggaran. Hotel Suria City boleh dimasukin ke daftar hotel pilihan. 

Sampai ketemu di Hotel Suria, eh Bandung!

#BeraniLebih Jauh Berjalan Kaki

30/04/15
Bandung macet melulu. Mirip Jakarta sekarang. Apalagi kalau akhir minggu, semua ruas jalan protokol ramai kendaraan. Semua tempat wisata penuh turis. Kapan dan ke mana warga Bandung harus menikmati kotanya? 

Aneh dan berlawanan banget kalau saya mengeluh tentang kemacetan di Bandung. Karena sudah dapat dipastikan saya adalah salah satu penyumbang sumber stresnya masyarakat perkotaan ini. 

Bagaimana bisa saya penyebabnya? 

Satu. Saya suka jalan-jalan di sekitar kota Bandung. Dari mall sampai hutan, dari warung sampai kafenya. Masalahnya, saya selalu menggunakan kendaraan pribadi ke mana pun saya pergi. 

Tidak ke mall, tidak juga ke taman kota. Pasti saya naik...motor! Kalau mobil sedang nganggur dan sopirnya -yang mana suami saya sendiri- tidak sedang kecapekan ya pasti saya naik mesin roda empat tersebut. 

Alasan saya menggunakan kendaraan pribadi agar cepat sampai di lokasi tujuan. Juga alasan kenyamanan. 

Pada akhirnya saya berpikir, jika dalam satu perjalanan di kota ini ada lima ribu warga Bandung dan lima ribu orang luar kota Bandung yang berpikiran sama dengan saya, bagaimana mungkin kota ini tidak macet? 


Dua. Saya membuat blog tentang Bandung. Pada awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi blog rekomendasi wisata. Blog ini hanya catatan perjalanan kecil tentang bagaimana saya menikmati kota tempat saya tinggal. 

Sampai kemudian blog saya ini dibaca banyak orang dan muncul pertanyaan 'how to get there'. Kalau membaca tulisan saya di blog ini, banyak sekali yang saya sisipi 'petunjuk arah' atau 'cara menuju ke sana' untuk membantu pembaca saya menemukan lokasi yang mereka inginkan. 


Aneh kalau saya mengeluh macet karena beberapa orang bisa saja mendapat petunjuk arah menuju lokasi tempat wisata yang mereka tuju dari blog yang saya buat ini. 

Sejak kesadaran itu tiba, saya memutuskan membuat kampanye #jalankaki dan #naikangkot di postingan yang saya sebarkan di media sosial. Mengutip perkataan walikota kebanggaan saya, Ridwan Kamil: put your car at home. pergilah dengan berjalan kaki dan naik angkot. 

Perubahan di kota Bandung sudah dimulai sedikit demi sedikit oleh walikotanya. Saya, sebagai warganya, merasa harus ikut berubah mengejar kemajuan yang Pak Walikota lakukan. Mengubah attitude warga yang selalu minta dilayani menjadi warga yang lebih mandiri. 

Trotoar dibuat lebar-lebar bebas PKL artinya satu: jalan kaki lebih jauh. Banyak dibangun halte artinya juga sama saja: jalan kaki lebih jauh. Daripada disamperin angkotnya sembarangan, saya memilih untuk berjalan kaki ke halte terdekat dan naik angkot dari titik tersebut. 


Kalau ada lima ribu orang di luar sana yang berpikiran dan berbuat sama dengan saya, ada paling enggak lima ribu kendaraan yang terpakir di garasi masing-masing. Jalanan Bandung dapat berkurang tingkat kemacetannya. Bukan tidak mungkin, bukan? ;)


Kalau sudah kepayahan berjalan kaki, coba dipikir lagi. Memangnya berapa kilometer yang harus warga Singapura dan New York tempuh dengan berjalan kaki setiap hari demi naik MRT dan kereta api? 

Mengeluh kekurangan infrastruktur yang kota ini punya hanya akan memberi sejuta alasan untuk kita gak bertindak. Kalau harus dimulainya dari diri kita sendiri, kenapa tidak. Dan saya sudah memulai kebiasaan #beranilebih jauh berjalan kaki dari diri sendiri dan keluarga kecil saya. Ikutan? ;)


Facebook : Nurul Wachdiyyah
Twitter: @bandungdiary
Instagram : Bandungdiary

Jalan Asia Afrika Bandung 1

20/04/15
Jangan bilang kekinian ya. Bosen :D berulang-ulang baca kosakata itu di semua timeline media sosial. 

Tujuan ke Jalan Asia Afrika pagi-pagi adalah motret buat blog ini. Ternyata semua orang tujuan sama pada hari minggu 19 April lalu. Jalan Asia Afrika. Kirain udah paling pagi aja datang ke asia-afrika. Gak tuh, orang-orang juga udah pada nongkrong di sana. Bawa pacar, anak, istri, ibu, pembantu, blablabla banyak banget! 

Pertama kali dalam sejarah saya tinggal di Bandung, jalan Asia Afrika sepenuh itu! Fiuh. Susah motret. Semua jenis kamera nongol di jalan asia-afrika. DSLR, pocket camera, sampai pinhole dan kamera hape.  Kamera Go Pro juga ada! 

Males berlama-lama di jalan Asia Afrika yang disemutin ribuan orang, kami beranjak ke tempat lain. Keesokan harinya setelah sholat subuh, saya dan Gele kembali ke Jalan Asia Afrika yang lebih tenang dan memotret dengan bahagia. Niat amat dateng lagi, pagi-pagi lagi? Setahu saya semua fotografer pasti niat-niat motretnya. Gele ada deadline moto Jalan Asia Afrika untuk web ini. 

Duh saya mau nulis panjang tapi ntar aja deh. Fotonya aja dulu. I'm in the middle of preparing myself for the battle tomorrow, Bandung Historical Study Games. Rangkaian acara peringatan Konferensi Asia Afrika juga nih. Saya belum belajar, hahaha :D duengdueng! Malah blogging dan blog walking. Bah. 

Foto-foto jalan Asia Afrika masih banyak. Makanya saya kasih judul ini bernomor. Ada sambungannya. Nantikan :D 

Jatigede In The Morning

15/04/15
Sebelum bersiap mengelilingi wilayah Jatigede dan melihat bendungan, saya berkeliling rumah dan halaman sekitar. Hunting foto ceritanya. Mencari cerita untuk dimuat di blog ini.

Mulai dari subuh-subuh duduk nongkrong di pintu samping rumah, merasakan angin paginya Jatigede sambil menyantap cemilan bernama Ketimus dan segelas air teh hangat. Matahari belum muncul namun langit sudah memutih. 

Saya minta izin melihat tempat paling belakang, gudang, dari rumah panggung saya saya inapi. Beberapa menit saya habiskan di Gudang, saya beranjak ke luar. Bermain di halaman belakang rumah Teh Awang. Di sana saya melihat ayam yang bertengger di atas pohon, memperhatikan detail kayu-kayu rumahnya, menemukan beberapa rumah yang abandoned, ditinggal pemiliknya. Ngobrol dengan emak-emak yang belum ingin pindah dari Jatigede. Terakhir sih memperhatikan seorang teman yang sedang mengemas bawaannya menuju Bendungan Jatigede.

Suka ngerasa gak sih ada banyak pagi yang kita lalui dan sama aja rasanya. Pagi di desa Cipaku itu buat saya adalah pagi yang berbeda. Menyadari bahwa saya berada di tanah yang akan tenggelam jadi bendungan, pagi di Jatigede saat itu sangat... apa ya...duh gimana jelasinnya ya. Sangat gak biasa. 

Membayangkan rumah ini, tanah ini, dan semua yang ada di dalamnya bakal tenggelam jadi bendungan...duh rasanya kok sedih ya. Kayaknya saya harus ketik ulang kalimat terakhir saya di postingan Jatigede sebelumnya. Berada di Jatigede dan berinteraksi dengan warganya walau cuma sebentar, saya jatuh cinta sekaligus patah hati. Tempat seindah dan sesubur jatigede kenapa harus ditenggelamkan dan dijadikan bendungan...


Hutan Larangan Jatigede

14/04/15
Desa Cipaku. 

Menginap di rumah panggung adalah pengalaman yang unik. Sensasinya ada di dalam rumah panggung berbeda dengan rumah modern. Terdiri dari kayu Mahoni dan Jati, ada di dalam rumah panggung rasanya adem. Di desa Cipaku semua rumah panggungnya punya minimal satu 'hiasan' di depan rumahnya: Pohon Rambutan. 

Ada pohon yang besar dan rimbun di halaman rumah sendiri hari gini sudah jarang sekali. Kalau di kota, punya halaman dan pepohonan di area rumah kita semacam pertanda kesejahteraan pemilik rumahnya. 

Rasanya gak jauh beda dengan apa yang saya lihat di Desa Cipaku, Jatigede, Sumedang. Orang-orangnya hidup sejahtera: rumah dari kayu jati, mau makan ayam tinggal sembelih ayam peliharaannya, mau makan rambutan tinggal petik!

Dari kacamata saya yang tinggal dan bekerja di kota kayak Bandung, hidup di Cipaku jauh lebih sederhana dan menenangkan. Meski ada perasaan was-was karena bulan Juni nanti kawasan Jatigede akan ditenggelamkan jadi bendungan, tapi warga lokal masih menyibukkan diri dengan aktivitas sehari-hari. Tanam padi, misalnya. 

Rumah yang saya tinggali 1x24 jam di Cipaku - Jatigede saat itu pemiliknya bernama Teh Awang. Wanita dua anak yang super ramah, baik hati, senang tertawa, dan selalu berusaha membuat tamunya nyaman. Oh iya, dia juga jago masak! 

Sehabis menyantap makan siang yang lezat hasil masakan Teh Awang, saya dan teman-teman yang lain langsung diajak tuan rumah acara ini, Kang Asep, berkunjung ke Hutan Larangan Cipaku, gak sampai satu kilometer jaraknya dari rumah tempat saya menginap.

Sebagai tuan rumah, Kang Asep fasih menjelaskan sejarah Jatigede dari zaman kerajaan Sunda sampai cerita tentang nama pepohonan yang ada di wilayah Jatigede. Beliau sendiri adalah sosok putera daerah yang terbilang sukses mereguk kesejahteraan di kota lain. Tidak melupakan kulitnya, Kang Asep sering bolak-balik Bogor - Sumedang, menjenguk kakek-nenek, sekaligus kampung halamannya. 

Hutan Larangan berada di tengah areal pesawahan dan berbatasan langsung dengan sungai Cimanuk. Suka merhatiin gak sih kalau sedang dalam perjalanan melintasi pesawahan yang luaaaas banget, ada pemandangan sawah di mana-mana terus nyembul areal hutan di tengah-tengahnya? Nah ya gitu kita-kira gambaran Hutan Larangan. Seperti Fangorn Forest di film Lord of The Rings gitu lah.

Pohonnya tinggi-tinggi, lebat, dan batang pohonnya besar-besar. Jalan setapak di hutan berupa bebatuan, tanah, dan air :D Licin karena sedang musim hujan dan seperti hutan tropis lainnya, banyak nyamuk. Saya bertemu dan bertegur sapa dengan penduduk lokal yang berjalan berlawanan arah. Habis pada ngapain ya mereka di Hutan Larangan?

Sudah kelihatan dari namanya, Hutan Larangan, dilarang tebang pohon, bahkan katanya ambil ranting pun gak boleh. Siapa saja yang masuk Hutan Larangan hanya boleh berjalan kaki dan berziarah saja di dalamnya.

Konsep takes nothing but pics and leave nothing but footprints berlaku di Hutan Larangan. Dan semua orang nurut. Warga patuh, begitu juga pendatang. Karena kalau enggak, sesuatu bakal menimpa orang yang melanggarnya. 'S e s u a t u' if you know what i mean...

Di Hutan Larangan ada banyak situs Kabuyutan. Situs Kabuyutan itu situs Patilasan. Semacam tempat yang pernah didatangi dan dikunjungi dalam rangka bersemedi selama beberapa waktu lamanya.

Tempat mereka bersemedi dijadikan tempat yang sakral. Bentuknya seperti makam raksasa, ada satu batu yang ditancapkan seperti nisan dan dibungkus kain putih. Buat saya sebagai orang kota yang tidak pernah bersinggungan langsung dengan tradisi seperti itu, situs-situs terlihat menyeramkan. Saya gak bisa bayangin ada di situ sendirian, baik itu dihari yang terang apalagi malam.

Tapi di satu sisi, tempat-tempat yang penuh doa dan harapan membawa kebaikan. Mempertahankan keberadaan situs kabuyutan, bagaikan mempertahankan kebaikan itu sendiri.

Situs Kabuyutan di Cipaku dipagari kayu yang berselimut bendera merah putih. Gak sedikit orang yang datang dari berbagai macam daerah berziarah ke situs kabuyutan. Mereka berdoa untuk dirinya sendiri, keluarganya, nenek moyangnya, sampai untuk keselamatan pekerjaannya. 

Di daerah Jatigede tercatat ada 33 Situs Kabuyutan. Jika Bendungan Jatigede rampung dan air mulai dibendung, maka situs-situs tersebut tenggelam. Semuanya. 

Saya bukan penganut agama yang masih mendatangi situs kabuyutan untuk ziarah. Tapi sedih gak sih ada tempat di mana orang-orang menaruh harapan, terus tempatnya ditenggelamkan? Tempat yang dikunjungi karena mereka percaya tempat itu adalah titik singgah nenek moyangnya, terus dalam waktu dekat mereka gak bisa melihat lagi tempatnya. 

Tan Hana Huni Tan Hana Mangke. Kita gak akan ada, kalau nenek moyang kita juga gak ada. Bila tidak ada masa lalu, maka tidak akan tercipta masa yang sekarang.

Saya gak bisa bayangin jadi warga Jatigede. Pindah rumah, pindah kampung halaman, situs Kabuyutan ditenggelamkan. Memindahkan kampung halaman gak sebanding dengan 20 juta atau 50 juta yang dikompensasikan pemerintah. Uang habis, kampung halaman dan semua memorinya ada terus. Sedih gak, sih? Saya mah sedih membayangkan tempat terhubung dengan nenek moyang saya terhapus sudah.

Kadang-kadang sejarah kan gak seharusnya semuanya ilang. Berada di Jatigede dan berinteraksi dengan warganya walau cuma sebentar, saya jatuh cinta sekaligus patah hati. 




























Tulisan yang lain ada di sini, di sana, di situ.