Social Media

Image Slider

Berkunjung ke De' Ranch, Ada Apa Aja, sih.

21 May 2013
Macem-macem. Pada intinya sih wisata kuda. Juga wisata alam. Beberapa wahana yang bisa dinikmati adalah bermain sepeda, memancing, naik kuda, naik delman, ada trampolin juga. Kalau saya suka naik delmannya aja. Juga seneng liat lapangannya. Enak buat lari-lari atau tiduran :))

Tiket masuk De' Ranch Rp 5.000 aja. Tiketnya bisa dituker dengan satu cup susu murni rasanya bisa kita pilih sendiri.

Kalau lapar, disana ada food court. Variatif makanannya. Ada yang tradisional, juga ada yang western. Tinggal pilih aja sesuai selera. Kalau harga, ya seperti tempat wisata pada umumnya. Harga relatif lebih mahal dibanding kalau kita beli di luar kawasan wisatanya tersebut. Misalnya saya pernah beli nasi goreng cikur, harganya 15.000.

De' Ranch ada barisan penjaja makanan ringan. Jikalau gak mau makan yang berat dan banyak porsinya ya jajan centil aja. Ada es lilin, burger, kebab, roti-rotian, dan masih banyak lagi.

Nah gitu aja sih. Hehehehe. Selamat jalan-jalan yak :D titip Bandung, jangan nyetir sembarangan, juga jangan nyampah seenak udel :)


Baca juga:

De'Ranch: Wisata Kuda Dulunya Rumah Kuda-kuda Milik Senor Belanda





Petunjuk Arah Menuju De' Ranch, Lembang - Bandung

20 May 2013
Ini nih saya kasih cara biar nyampe gak pake nyasar ke De' Ranch.

1. Angkot yang bisa bawa kamu ke De' Ranch ada dua macam. Pertama, ada Lembang - St. Hall. Angkot ini keliaran di sekitar Pasar Baru, Stasiun, depannya PVJ (Paris Van Java mall), Terminal Ledeng. Ada juga angkot Lembang - Ciroyom. Keduanya punya warna badan yang sama, krem. Ntar setelah angkotnya ngelewatin perempatan (ke kiri menuju Gunung Tangkubanparahu, ke kanan arah Pasar Lembang dan balik lagi ke Bandung) minta diturunin disitu. Kamu jalan kaki ke arah jalan yang lurus dengan arah angkot tadi datang. Kira-kira jalan kaki 5-10 menit deh sampe di De' Ranch.

2. Kalo naik kendaraan pribadi arahkan menuju Jalan Setiabudi, terminal Ledeng. Dari situ lurus aja sampe kira-kira 15 km. Nanti mentok, belok kanan, lurus. Nanti ketemu perempatan. Lurus aja jangan belok-belok. De' Ranch ada setelah belokan pertama.

Baca juga:

Berkunjung ke De' Ranch, Ada Apa Aja, sih

De'Ranch: Wisata Kuda Dulunya Rumah Kuda-kuda Milik Senor Belanda

19 May 2013

Beberapa waktu lalu saya main ke De'Ranch. TV swasta nasional banyak yang meliput tempat wisata ini. Saya pikir saya juga boleh deh nyoba main kesana. Toh dari rumah deket.

Dua alasan saya gak pernah datang ke tempat wisata populer di Bandung Utara adalah karena kedekatan lokasinya dengan rumah saya. Males :D Juga karena kemacetannya. Seolah-olah semua orang dari penjuru Nusantara hanya menuju Bandung utara alias Lembang. Ya, disanalah De'Ranch berada: l e m b a n g.



Saya mau mencari tahu, memang apa sih yang kalian para turis cari di Lembang?

De'Ranch mungkin bisa jadi petunjuk pertama saya. Hari Rabu adalah waktu yang tepat buat ke De'Ranch karena bebas macet. Selasa - Jumat saya rekomen adalah waktu yang baik untuk berwisata di Bandung. Sabtu dan  Minggu itu rentan macet.

Dari Jalan Setiabudi saya melancong ke Lembang dengan kendaraan berupa Angkot. Biayanya 3ribu. Jarak tempuhnya kira-kira 13 kilometer. Waktu tempuhnya kira-kira lagi adalah 20 menit.

Angkot tidak membawa saya sampai di muka De'Ranch. Harus jalan kaki dulu dari tempat Angkot menurunkan saya. Cuma lima menit saja dan sampailah saya di tempat wisata yang banyak kudanya ini.

Sesaat saya mau menikmati udara Lembang. Sejuk. Dingin. Udaranya jernih sebersih air mineral. Oksigen masuk ke semua rongga badan buat badan terasa ringan. Ini dia yang mereka, turis, suka rupanya. Satu: u d a r a. 

Biaya masuk ke De'Ranch terbilang murah, lima ribu rupiah perorang. Itu pun jadi 'tiket' untuk dapat satu gelas susu murni yang rasanya bisa kita pilih sendiri. Saya pilih rasa Strawberi waktu itu. Manis dan enak.

Saya mengamati area bermain di De'Ranch. Wah lumayan ya luas juga lahannya. Bukit besar berdiri gagah di depan teras De'Ranch. Di belakang bukit itu ada yang lebih juara lagi: Gunung Tangkuban Parahu. De'Ranch punya halaman belakang yang indah sekali. Saya suka.


Disini banyak kuda. Banyak rerumputan yang bisa diinjak bahagia. Banyak kursi dan meja makan. Dan, banyak pilihan makanan dan jajanan. Seru!

Pada dasarnya De'Ranch menawarkan konsep wisata kuda. Wisata ala koboi-koboi di Amerika. Jadi kita pilih, mau naik kuda atau delman. Kita dibawa keliling lapangan. Kalau berkuda kita diwajibkan (tapi kayaknya gak wajib juga sih :D) memakai rompi koboi & topi koboi. Seorang mamang (tukang, sundanese) mendampingi kita selama berkuda. Kita diatas kuda, mereka jalan kaki memegang tali kekang. Luas lapangannya gak bisa saya kasihtau karena saya memang gak tau. Lapangan sepakbola aja kayaknya lebih kecil dari lapangan De'Ranch.

Kuda bukan satu-satunya objek wisata disini. De'Ranch melengkapinya dengan banyak area bermain buat orang gede dan buat anak kecil. Misalnya area pemancingan, bersepeda, trampolin, dan semacam gokart-gokart-an.

Saya bermain ayun-ayunan dulu. Saya pikir-pikir ini pemandangan alam di luar kompleks De'Ranch luar biasa sekali. Cantik sekali. Hijau dan tinggiiiiiii sekali. Saya main ayunan sambil nontonin pemandangan bukit & gunung. Lagipula, kapan terakhir saya main ayun-ayunan ya... sudah lama sekali. Saya main ayunan-ayunan dengan gaya kaki menendang-nendang Gunung Tangkuban. Hehehe.

Dari Ayunan saya beralih ke yang lain. Jalan kaki. Masih dalam rangka pengamatan medan :)) Orang-orang datang kesini karena mencari tempat untuk melepas penat atau mengajak bermain anggota keluarga. Bisa juga dalam rangka kunjungan sekolah atau kerja. Satu yang gak bisa terpisahkan dari tempat ini ya udaranya. Sarana wisata lainnya adalah penunjang agar kita-kita berlama-lama disana, terus makan deh.

Di De'Ranch, harga tiket masuknya murah. Harga tiket per arena wisatanya yang gak murah. Jadi saya gak akan bermain banyak-banyak disini. Hehehe.

Habis jalan kaki sebentar, saya putuskan satu objek yang mau saya coba: delman. Saya tidak tertarik bersepeda. Juga tidak mau memancing. Tidak mau yang lain. Hanya delman. Saya masih terkesima dengan bukit dan gunung. Dengan lahan yang dipunya De'Ranch, saya rasa cara terbaik menikmatinya adalah dengan naik delman. Udaranya sejuk, pemandangannya cantik, angkutannya tradisional. Cocok. Ibaratnya manusia lagi pake pakaian yang matching, semuanya saling cocok.

Ongkosnya dua puluh lima ribu. Dalam hitungan saya ini mahal. Tak apa, untuk sekali ini saja. Satu delman, untuk tiga orang. Empat dengan kusirnya. Saya suka sekali sama delman di De'Ranch. Tanpa De'Ranch, delman gak akan semenyenangkan ini. Tanpa hari rabu, delman yang saya naiki gak akan sesyahdu ini suasananya. Saya berada di waktu dan tempat yang tepat.

Delman adalah alat transportasi jaman nenek saya masih muda. Sekarang pun masih ada. Namun keberadannya bersaing dengan klakson dan badan dari mesin roda dua & empat. Jalanan gaduh. Jalanan berdebu. Kuda menebar kotoran dimana-mana, kusir tak peduli dengan itu. Pusing saya.

Tapi disini, sepertinya saya seolah-olah sedang jadi nenek saya di Bandung tahun 30an. Hening, hijau pohon, dingin, sejuk. Aahh berapa kali saya ketik kata 'sejuk' disini ya :D Etapi inget ya, datangnya pagi-pagi bukan di hari sabtu dan minggu biar dapet keheningannya. 

Kusir delman saya bercerita bahwa dahulunya lahan De'Ranch ini yang punya orang Belanda. "Ada banyak kuda dan kandang-kandangnya", cerita Bapak Kusir. Saya tebak, orang Belanda itu juga tinggal disini. Tebakan saya salah. Hahaha :D Rupanya hanya kandang-kandang kuda saja. Apa ya istilahnya... istal kuda?

Paling gak, pemandangan yang saya nikmati ini juga pasti diminati orang-orang Kolonial itu. Saya rasa orang-orang Belanda yang dulu pernah tinggal di Bandung pasti memilih spot ini untuk ditinggali. Walau pada akhirnya 'hanya' jadi kandang kuda :D toh mereka nongkrong juga disini, seperti turis-turis jaman sekarang.

Cuaca Lembang mengingatkan mereka dengan cuaca di Belanda yang dingin. Waktu saya berdiri di lapangan  De'Ranch yang menghadap ke arah bukit dan gunung, saya membayangkan sayalah orang Belanda itu. Ini yang mereka suka. Pemandangan tropis dengan cuaca yang mirip dengan tempat lahir mereka.

foto diambil dari webnya De'ranch di http://deranchlembang.com/id/

Bandung Hari Minggu 6-to-10

03 May 2013
Tiada yang lebih membahagiakan selain menerima amplop gaji dan jalan-jalan di Bandung pada hari minggu pukul enam pagi.

Serius.

Selalu ada yang berubah di Bandung tiap tahunnya. Jalan yang makin berlubang, trotoar habis dimakan pot bunga atau PKL, kemacetan yang bikin emosi naik, termasuk jam jalan-jalan.

Untuk tahun ini dan tahun lalu, waktu terbaik untuk jalan-jalan santai di Bandung adalah hari minggu dimulai jam enam pagi. Lalu berakhir pukul 10 pagi. Lebih dari jam tersebut, ya sudah, bercampur aduk dengan berbagai merek kendaraan di jalan raya dan ribuan manusia.

Jam enam pagi saya sudah ada di dalam angkot yang membawa saya ke Car Free Day Dago. Udara masih segar, sejuk, dan ada perasaan damai. Rasanya mau senyum aja. Good day or perhaps i have to say: precious moment. Waas pisan, kalau kata orang Sunda :)

Enam sampai sepuluh pagi pada hari minggu di Bandung adalah golden moment . Tidak ada kemacetan. Jalan raya di Bandung kosong (kecuali beberapa ya, macam Gasibu). Angkot melaju seperti kereta kencana, tidak ada ngetem berarti. Semua serba santai seakan jarum jam tidak pernah bergerak barang satu detik.

Car Free Day di Dago hanya satu dari beberapa pilihan untuk jalan-jalan 6-to-10. Kita bisa jalan-jalan santai ke sekitar Braga. Di sekitar Braga itu kalau pagi hari ada serombongan distributor koran dan majalah. Ada pula sederet penjual bubur, lontong kari & gorengan. Siapa tahu lapar :D Pilihan saya sih ke French Bakery. Mereka sudah buka dari jam 6 pagi. Menu yang saya mau makan buat cemilan makan paginya: sandwich. Enak. Kalau dahulu enak pangkat sepuluh. Sekarang Sandwich French Bakery ini enaknya pangkat satu saja.

Hmm kemana lagi ya?
Oh! Roti Gempol!

Ya yang penting begitu sudah jam sepuluh, sebaiknya siap-siap pulang saja. Terus jalan-jalan juga tak apa toh, hanya ada suasana yang berganti saja. Bandung tetap lebih baik kok, hanya salah urus.

Ayo cobainlah bangun lebih pagi di hari minggu dan jalan-jalan santai jam enam pagi.

Uhuy! :D


Orang Lokal di Bandung yang Macet dan Surabi Imut yang Gendut

28 April 2013
Diary ini tentang Malam minggu di Surabi Imut yang sudah tidak lagi imut tapi obesitas alias gendut, namun sehat secara keuangan bagi pemiliknya :D

Semalam saya keluar rumah, bersama suami dan anak juga adik saya. Kalau gak salah seusai adzan Isya. Berarti saat itu pukul setengah delapan malam.

Jarak dari rumah saya ke pusat kota hanya beberapa menit saja. Karena dekat, kami putuskan jalan kaki. Dengan berjalan kaki jarak tempuhnya menjadi hampir 30 menit. Kami bukan berjalan kaki di pinggir jalan raya Setiabudi ya, melainkan masuk ke jalan-jalan kecil dan kampus UPI.

Tujuan kami adalah Surabi Setiabudi.
Kata adik saya, surabinya punya rasa yang lezat dan ukurannya lebih besar daripada Surabi Imut yang ada di sebrangnya itu.

Tidak ada gejala yang menunjukkan hiruk pikuk pada saat kami berjalan kaki. Ada banyak pohon besar di kampus UPI, hanya segelintir orang saja yang berpapasan dengan kami. Beberapa ruas jalan di kampus malah gulita.

Dari area kampus UPI, kami menembus kawasan Gerlong. Suasana mulai ramai. Saya sudah tahu bahwa kami sedang menjelang keramaian. Malam minggu gitu loh.

Namun saya tidak menyangka bakal seramai itu. Hingar bingar. Pusing kepala saya. Asap rokok bertebaran mengotori udara Bandung. Musik bertalu. Kendaran dimana-mana baik yang parkir maupun yang terkena macet. Ugh pengap sekali rasanya Bandungku ini.

Kami berempat berunding. Surabi Setiabudi terlalu penuh orang dan asap rokok. Saya menolak masuk kesitu, juga suami saya. Ada sedikit keluarga yang juga sedang makan-makan disitu. Tidak enak dilihat. Maksud saya, ada percampuran area antara keluarga (ada anak kecil) dengan muda-mudi yang sedang senang-senang. Saya rasa mereka sedang berada di tempat yang benar tapi waktu yang salah.

Seperti kami.
Malam minggu di Bandung sebaiknya di rumah saja.

Alhasil kami memasuki Surabi Imut. Suasananya tidak kalah ramai namun lebih beradab. Kami naik ke lantai dua dan secara kebetulan ada satu 'hot spot' yang kosong. Kami pesan makanan dan meminta pelayan membersihkan meja yang amburadul karena baru saja beberapa orang makan disitu. Pelayannya cantik berambut panjang dan sama sekali tidak mengucapkan kata 'maaf' dan 'terima kasih' pada kami. Hanya 'Oh' saja. Tuh, Surabi Imut, benerin pelayanannya.

Saya pesan pisang bakar keju susu.
Suami saya milih Pempek.
Adik saya pesan dua surabi 'modern' sekaligus.

Sejujurnya harga makanan di Surabi Imut terlampau mahal untuk kami yang orang lokal ini. Pisang bakarnya 6ribu. Nampak murah, ya? Sejujurnya dengan porsi yang dihidangkan, harganya jadi terlampau mahal buat saya. Tapi nama (merek) Surabi Imut tidak lantas membuatnya bersalah karena memasang harga tersebut. Walau begitu, saya masih merasa itu diatas harga rata-rata.

Beberapa harga makanan 'kampung' dengan rasa modern harganya sudah harga turis. Suasananya juga seperti 'terpaksa menikmati daripada gak ada'. Tidak ada kenyamanan dan kehangatan yang Bandung banget. Semua serba komersil saya rasa.

Tidak menyalahkan Surabi Imut.
Saya menyayangkan Bandung yang kewalahan menghadapi ini.
Atau mungkin... saya, orang lokal, yang kewalahan menghadapi perubahan-perubahan ini ya...

Roti Berkote, Emang Ada?

26 April 2013
Salah satu kawasan favorit saya di Bandung adalah Pecinan. Dahulu ketika Belanda masih menduduki Bandung, mereka membagi Bandung jadi dua area: utara dan selatan. Utara untuk bule-bule dan antek-anteknya, selatan untuk kaum pribumi. Untuk kaum bermata sipit dan berkulit putih (Ting Hoa), mereka tinggal di kawasan yang sekarang berpusat di Pasar Baru. 

Mesti diakui bahwa kawasan bisnis ini berantakan, tidak bersih, dan apa ya...semacam abandoned gitu. Agak-agak kumuh. Diantara berantakannya itu ada beberapa bangunan yang masih berusaha untuk terus hidup. Saya suka bangunan-bangunan tua di kawasan Pecinan. Bentuk bangunannya berbeda dengan rumah yang pernah saya tinggali. Jadi saya penasaran bagaimana rupa bangunan Pecinan itu didalamnya. Pintu dan jendelanya kalau bisa ngomong mau saya ajak ngobrol. Apa yang mereka lihat di Bandung tahun 20an? Siapa saja penghuninya di Bandung tahun 30an? Dimana orang-orang nongkrong pada masa itu? :D

Cibadak adalah salah satu kawasan Pecinan (ini menurut saya sih :D). Di jalan ini ada beberapa gang kecil yang menghubungkan Jalan Cibadak dengan Jalan raya lainnya. Nah gang paling pertama yang bisa kamu temukan di Jalan Sudirman terhubung dengan Jalan Cibadak.

Kenapa saya ngomongin gang ini?
Karena ada tukang jualan roti yang lezat sekali rotinya!
Bukan cuma lezat pastinya, porsinya juga tebal. Gendut.
Meski demikian, harganya juga mahal euy :D
Tapi ada pilihan kok kalau gak mau yang mahal mah.

Gang Kote namanya. Penjual roti itu menamakan rotinya Roti 234, orang-orang mengenalnya dengan nama Roti Gang Kote. Mereka memproduksi rotinya sendiri. Entah dimana proses pembuatan rotinya. Mereka menjual roti tawar dan roti kadet.

Bentuk rotinya sama seperti roti pada umumnya. Bedanya, roti 234 ini teksturnya empuk sekali. Ukurannya, seperti yang sudah saya ceritakan diawal: tebal. Mantap. Belum pernah saya makan roti dengan isian setebal ini. Beneran!

Akang-akang yang jualan rotinya tidak segan-segan menumpahkan taburan apapun didalam rotinya. Kalau selai, ya selainya banyak. Kalau kornet ya kornetnya melimpah. Kalau keju ya kejunya dipotong tidak kecil juga tidak tipis melainkan banyak. Oooh. Ini favoritku: Keju!

Harganya (untuk saya) mahal tapi sepadan rasa pastinya. Saya gak terlalu sering beli roti kote ini. Tidak terlalu sering bertemu bikin makin kangen toh :D bayangkan betapa saya nunggu-nunggu roti kote ini dan bayangkan juga rasanya di mulut waktu gigitan pertamanya. Uh enak banget! 

Ada tiga paket harga: biasa, spesial, dan super. Sebaiknya beli yang spesial saja. Harganya beda tipis dengan paket yang biasa. Kalau ambil yang biasa, terlalu sayang di ukuran rotinya lebih terasa mahalnya saja :D 

Saya suka beli roti isi keju susu, Rp 30.000 dapat 12 potong. Tebal-tebal. Ya rotinya ya kejunya.  Makan satu atau dua potong juga sudah kenyang. 

Kapan-kapan main ke Bandung atau sedang kebetulan lewat Cibadak, liat-liat gangnya, siapa tahu berjodoh dengan Gang Kote. 

What Is Bandung Diary?

Bandung Diary adalah blog mengenai kota tempat saya tinggal, Bandung. Ada tempat-tempat seru, jalan-jalan, review tempat makan, ulasan tentang hotel, dan banyak lagi. Kuliner dan belanja murah merupakan dua hal yang orang luar Bandung paling tahu. Sesungguhnya kami punya buanyak sekali keseruan lainnya selain makan enak dan belanja.

Saya, Ulu, yang menulis.
Suami saya, Indra Yudha, yang memoto.
Terkadang saya juga memajang foto hasil jepretan sendiri dan teman-teman di sini. 

12 tahun menetap di Bandung, banyak sukanya banyak dukanya. 
Saya bagikan yang suka-sukanya saja dulu disini :)

Menurut saya Bandung itu unik. Tempat tumbuh kembang bisnis, bisa. Buat Rekreasi, apalagi. Sebagai tempat belajar, wah cocok juga. 


Meski tidak sesejuk dan sedingin dulu, saya akui Bandung masih membuat saya betah karena kegiatan dan orang-orang yang ada di dalamnya. Sekaligus juga geleng-geleng kepala karena kota ini ya banyak ketidakbagusannya juga kok. 

Selamat menikmati Bandung. Jangan buang sampah sembarangan ya. Pesen-pesen hotel ke saya aja, lebih murah dari si Agoda :)

Mau ngundang saya makan, main, jalan-jalan, nyobain produk, minta review, pasang iklan di sini juga bisa. Kita obrolin di bandungdiary@gmail.com. Tarif bersahabat, adil buat semua, dan semoga kita bisa awet temanan :) hihihi