Social Media

Image Slider

Menginap di Purwakarta, Enaknya Nginap Di Mana ya?

11/01/16
Nah kalau ke Purwakarta, enaknya nginep di mana ya?

Kalau ada teman atau kerabat yang bisa menampung, ya kontak lah mereka. Tapi menginap di hotel pun tak ada salahnya. Tersedia beberapa hotel yang tarif per malamnya bisa kita sesuaikan dengan isi kocek kita. 

Pada waktu di Purwakarta, saya menginap di Hotel La Derra. Terletak di Jalan Ahmad Yani, masih di pusat kota Purwakartanya. Tarif permalamnya dibawah Rp 300.000 saja. Untuk sarapan saya masih harus menambah Rp 25.000.

Hotel La Derra

Hotel La Derra

Recommended nih hotelnya. Murah tapi kebersihannya terjaga. Harganya terjangkau, sarapannya enak (saya pilih menu Nasi + Capcay + Teh Manis Panas). Untuk fasilitas mandi tersedia air dingin dan panas. Suprisingly untuk standar hotel dgn harga 200ribuan, luas kamar mandinya oke juga.

Amenitiesnya terbatas. Hanya ada handuk dan sabun mandi (cair) saja. Jadi bawa sendiri peralatan mandi lainnya kalau menginap di Hotel La Derra ya. 

Ukuran kamar (tidur) memang kecil, saya memesan kamar tipe Deluxe B. Bednya ukuran queen. Tapi gak masalah, gak menyusahkan saya. Palingan ukuran televisinya yang terlalu kecil :D Untungnya banyak channel tv kabel yang seru kayak Fox Movies Premium dan Star World. 

AC-nya oke! Temperatur Purwakarta lebih hangat dibanding Bandung, jadi pas masuk kamar emang butuh AC untuk mendinginkan badan. Orang Bandung ditaro di tempat yang lebih panas, uring-uringan aja gitu hahahaha terima kasih wahai penemu mesin pendingin ruangan :D

Lokasi restoran terdekat rasanya tidak dalam radius berjalan kaki. Ada sih warung makan padang aja. Tapi memesan makanan di restoran Hotel La Derra juga seru tuh, harganya terjangkau dan rasanya gak mengecewakan. Menu termahalnya tuh gak lebih dari Rp 50.000.

Selain Hotel La Derra, ada juga hotel-hotel lainnya. Bisa cek di Agoda atau Traveloka. Kalau saya biasa memesannya di Agoda. 

Oiya, tips yang mau menginap tidak jauh dari Taman Air Mancur Sri Baduga, nginepnya di Grand Situ Buleud Hotel saja. Bisa jalan kaki dari hotel ini ke taman airnya, tinggal nyebrang doang. 

Cara Menuju Purwakarta

Saya beritahu caranya menuju Purwakarta dari Bandung ya. 



  1. Kendaraan pribadi sih gampang. Masuk ke Tol Cipularang. Perhatikan papan petunjuk jalan. Nanti ada petunjuk jalan arah Purwakarta dan Ciganea. Kalau Cipularang masih lurus, Purwakarta belok kiri. Ikuti jalannya, gak lama dari belokan itu pasti sampai ke pintu tol Purwakarta. 
  2. Kendaraan umum ada tiga macam: kereta api, bis antar kota, dan travel. Saya bahas satu-satu ya. 
  • Kereta api : Bisa naik kereta dari stasiun Kiara Condong atau Stasiun Bandung. Jadwal berubah-ubah. Untuk kepastiannya cek langsung di stasiun kereta api terdekat atau ikuti cara saya ini, download aplikasi Padi Train di Google Store/App Store. Cek jadwal kereta api bisa dilakukan pada aplikasi tersebut, begitu juga dengan booking tiketnya. Tarifnya lebih mahal dibanding kita menumpang travel atau bis antar kota. Kalau tidak salah sekitar Rp 70.000 - Rp 100.000.
  • Travel Arnes : Berada di Baltos dan BTC. Mobil berangkat setiap jam mulai pukul 05.00 - 22.00. Ongkos Rp 30.000 perorang, sekali berangkat. 
  • Bis Antar Kota : Prima Jasa jurusannya saya kurang tahu :D Datang saja ke Terminal Leuwi Panjang. Cari bisnya di sana. Ongkos Rp 22.000

Rekomendasi kendaraan umum ke Purwakarta sih baiknya naik Travel Arness saja. Kalau ada uang berlebih, bisa naik kereta. Keduanya akan mengantar kita langsung ke dalam pusat kota Purwakarta. 

Kalau dari kota lain selain Bandung yang ingin menuju Purwakarta, cek di Internet moda angkutannya. Paling gampang sih cek dulu ketersediaan kereta api menuju Purwakarta ada atau tidak. Kalau naik kendaraan pribadi ya lebih fleksibel lagi. 

Selamat berkunjung ke Purwakarta! 

Di Taman Air Mancur Sri Baduga, Tumbuh Cinta untuk Purwakarta

10/01/16
Satu jam saja dari Bandung sampailah saya di Purwakarta. Cepat juga. Terasa seperti pergi ke Mall terdekat rumah saja. Sabtu 9 Januari 2015, saya dan dua orang teman berkunjung ke kabupaten Purwakarta. Untuk apa? Jalan-jalan tentunya!

Salah satu agenda plesir ke Purwakarta adalah melihat peluncuran Taman Air Mancur Sri Baduga. Air mancur ini disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara. Terbersit sangsi di hati saya, memang bisa mereka membuat air mancur sebesar itu?

Sebelum pertanyaan saya terjawab, kendaraan travel yang membawa kami bertiga dari Bandung telah sampai di pintu Tol Purwakarta dari pintu Tol Cipularang. Dalam perjalanan singkat menuju pool travel, sejenak saya mengamati kota kecil tersebut.


(Baca juga: Cara Menuju Purwakarta)


Tiba di pusat kotanya malah timbul apresiasi dari saya untuk Purwakarta. Saya merasa kota kecil ini semangatnya besar sekali. Di saat kabupaten kebanyakan merasa kecil dan minder dengan Bandung, Karawang, Bekasi, Jakarta, dan kota-kota industri besar lainnya, kabupaten Purwakarta malah sebaliknya. Dengan bangga ia maju ke depan, siap bersaing dengan kota metropolitan. Pembuktiannya dapat kita lihat dari langkah-langkah progresif yang Dedi Mulyadi lakukan selama menjabat menjadi Bupati Purwakarta.

Purwakarta didandani. Disulap supaya elok seperti rembulan, indah bagai lukisan. Taman Air Mancur Sri Baduga merupakan hadiah awal tahun baru yang cukup manis untuk warga Purwakarta.


Situ Buleud Menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga 


Taman Air Mancur Sri Baduga pada awalnya bernama Situ Buleud. Berbentuk melingkar mengelilingi sebuah danau (danau = situ, bahasa sunda), letaknya berada di tengah kota. Di tengah danau terdapat patung manusia sedang duduk bersila. Di sekelilingnya ada empat patung harimau dengan sikap mengaum, seolah-olah sedang menjaga Tuannya. 

Pagar besi mengelilingi area rekreasi tersebut. Tidak ada biaya pungutan untuk masuk ke dalamnya. Banyak pepohonan rimbun, penyumbang terbesar udara sejuk di taman air itu. Panorama danau yang luas tentu saja memberi suasana yang menyegarkan.

587 Cara Jadi Kurus di Curug Pelangi, eh sorry, Maksudnya Curug Cimahi!

05/01/16
Gele: Kuat gak nih? Turunnya gampang, nanti pulangnya gimana?
Ulu : Eeerrrr… kuat lah! Nanjak dikit doang. 

NANJAK DIKIT DOANG? Nanjak 587 anak tangga dibilang dikit doang hahaha aduh ini nih namanya pergi tanpa persiapan. Sudah lama ingin rasanya mengunjungi Curug Cimahi (curug = air terjun, bahasa sunda). Padahal lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Naik motor kurang dari 30 menit sudah sampai. Sampainya di depan loket Curug Cimahi ya, bukan di curugnya :D 

Terpampang besar-besar pada banner yang melintang di sekitar pintu masuk, CURUG PELANGI. Wah sekarang lebih terkenal dengan nama tersebut rupanya. Sekarang ada lampu yang dipasang di tebing air terjun, kalau malam lampunya dinyalakan. Lampu-lampu itu memancarkan warna-warni pada malam hari. Orang-orang yang memandangnya berasa sedang lihat pelangi katanya. Sejak saat itu air terjun ini namanya mulai berganti pelan-pelan gitu deh. Curug Pelangi.

Curug Cimahi sekarang populer dengan nama Curug Pelangi. Tapi di sini saya sebut Curug Cimahi saja ya. Nama yang terbentuk karena asal-usul sejarah ratusan tahun rasanya lebih patut dihargai dibanding nama yang muncul karena kecantikan dari lampu-lampu buatan manusia. Warnanya dangdut abis pula :P Sejak kapan pelangi muncul di malam hari? 

Pada saat saya ke sana, Bandung sedang jam 10 pagi. Langit mendung. Rintik-rintik mulai turun. Pada papan peringatan tertulis kalau hujan, Curug Cimahi ditutup. Tapi belum ada tanda-tanda akan deras, gerimis bahkan berhenti. Perjalanan kami lanjutkan saja. 

Karena sedang musim liburan, banyak pengunjung yang berdatangan. Dari yang muda hingga yang tua. Campur aduk jenis usia dan kalangan. Dalam perjalanan menuruni tangga, kami sering berhenti untuk istirahat. Ada dua balkon yang digunakan sebagai pitstop, untuk melihat Curug Cimahi dari jauh dan menyaksikan pesona alamnya. 

Ide bagus masang balkon di sini. Tiap balkon memuat jumlah orang tertentu saja. Balkon pertama 16 orang. Balkon kedua 25 orang. Tidak ada petugas di sana. Papan pengumuman perihal kuota ukurannya kecil amat. Di balkon pertama saya malah sempat melihat dan menghitung ada lebih dari 16 orang tuh. Wah ngeri juga euy… Balkonnya kan posisinya menggantung. Kalo kelebihan muatan nanti bisa…bisa… heeuu!

Anyway, kami sering berpapasan dengan orang yang berlawanan arah. Pengunjung yang menuruni tangga, kayak saya ini, mukanya masih segar dan antusias. Sebaliknya, mereka yang dalam perjalanan kembali pulang, mukanya asem abis hahaha :D Kuyu, capek, dan pucat. Nanjak 587 anak tangga dikata gampang… 

Jadi ragu-ragu meneruskan sampai Curug Cimahi euy. 

Ulu : Duh gimana nih, balik pulang aja gitu ya? 
Gele : Udahlah terusin aja, tanggung nih.

Tangga yang berkelok-kelok akhirnya berujung juga ke Curug Cimahi. Ah sampai juga! Ternyata boleh berenang ya di Curug Cimahi. Saya gak bawa pakaian ganti. Euh tahu gitu saya bawa tadi. 

Airnya bening, segar, sejuk, dan dingin. Bulir-bulir air terjun menciprati wajah saya. Terasa sangat menyenangkan. Rasa capek di ratusan tangga tadi jadi berguguran. Kami bermain air. Celana basah sudah. Tidak apa-apa lah. Yang penting senang! Tidak lupa dong foto-foto sepuasnya. Nabil mengumpulkan kerikil dari dalam air dangkal, saya berdiri dengan gaya seperti Kate sedang di buritan dalam film Titanic. Sementara itu Gele gak tahu ngapain, motret kayaknya sih. 

Tampak beberapa pemuda sedang asyik jeprat-jepret juga. Ala Instagram tentu saja. Seorang cewek dengan berpakaian lengkap asyik berenang tak bosan-bosan. Gak kedinginan itu orang ckckckck. Dari saya datang sampai saya beranjak pulang itu cewek masih berenang. Sendirian. Susah moto air terjunnya secara utuh karena dia ada di situ terus-terusan hahaha. 

Satu hal yang amat sangat mengganggu di area Curug Cimahi sejak kami menuruni tangga sampai di Curugnya dan kembali menapaki tangga tersebut: MUSIK! Ada toa di Curug Cimahi? Bunyinya? lagu-lagu Campur Sari! Bukan karena musiknya campur sari maka saya bilang ganggu. Tapi saya mau denger suara alam bukan suara orang nyanyi. Bahkan Afgan nyanyi di situ pun saya gak suka. Gimana kalo terjadi sesuatu yang di bawah sana, orang-orang minta pertolongan tapi gak kedengeran petugas di atas sana karena suara musiknya sangat sangat sangat kencang.

Parah abis itu yang nyalain musiknya. Salah tempat.

Cukup bersenang-senang dan keganggu iringan musik yang keluar dari toa Curug Cimahi. Saatnya kembali pulang. Siap? Kata Gele pada saya. SIAP! kata saya padanya. Perut lapar, kerongkongan kering. Kami gak bawa perbekalan makanan. Juga kehabisan stok air minum. Sampai sekarang saya masih kasihan ke Nabil karena keteledoran orang tuanya ajak dia jalan-jalan, dia jadi ketiban getahnya. Duh! 

Perjalanan panjang itu memakan waktu sekitar 30 menit. Cuma 15 menit lebih lama dari waktu menuruninya kok. Yeay! Saya dan Gele punya ketahanan fisik yang gak buruk rupanya. Di jalan sering berhenti sih. Nabil juga beberapa kali minta digendong. Emang ada momen di mana saya dan Gele capek banget. Makanya jalan pelan-pelan, ngukur kemampuan. 587 anak tangga…oh my…rasanya kok berat badan saya berceceran di tangga Curug Cimahi ya. 

Sampai di depan loket, artinya sampai di titik akhir perjalanan. Usai sudah perjuangan menghadapi 587 anak tangga. Kami menang! langsung jajan gorengan, chiki, dan air minum tiga botol! Gak kenyang, makanya cepet-cepet pulang, makan siang di rumah saja. 

Curug Cimahi, kami kembali lain kali ya. Mau bawa perbekalan lauk pauk dan nasi. Juga minuman berenergi. Oh iya, termasuk pakaian ganti!

Curug Cimahi
Lokasi : Cisarua, Lembang, Bandung Barat.
Tiket masuk Rp 17.000
Buka tiap hari, kalau hujan deras tutup.
Jam buka : 07.00 pagi.
Tutup : 02.00 pagi.

Cara menuju Curug Cimahi:

  1. Aksesnya bisa dijangkau dari Jl Setiabudhi - Sersan Bajuri - Parongpong
  2. Bisa juga dari Cimahi - terus aja di jalan Cihanjuang - Belok ke kiri arah Parongpong. 
  3. Angkot : Ledeng - parongpong, lanjut naik Ojek. Atau angkot apa aja yang jurusannya Parongpong deh.

Tanggal Liburan Tahun 2016

04/01/16
Kalau mau liburan zaman sekarang, harus cek tanggalnya sejak jauh-jauh hari. Kenapa? Demi menghindari macet sih. Ya kalau sanggup menempuh resiko stres kena macet, selamat berlibur lah bagaimana pun caranya :D 

Ayo dicatat! Mulai hunting rute penerbangan yang ongkosnya murah! :D

HARI LIBUR NASIONAL Tahun 2016 :
  • 1 Januari (Jum'at) : Tahun Baru 2016 Masehi
  • 8 Februari (Senin) : Tahun Baru Imlek 2567 Kongzili.
  • 9 Maret (Rabu) : Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938.
  • 25 Maret (Jum'at) : Wafat Isa Al-Masih.
  • 1 Mei (Minggu) : Hari Buruh Internasional.
  • 5 Mei (Kamis) : Kenaikan Yesus Kristus.
  • 6 Mei (Jum'at) : Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
  • 22 Mei (Minggu) : Hari Trisuci Waisak 2560.
  • 6 & 7 Juli (Rabu & Kamis) : Hari Raya Idul Fitri 1437 H.
  • 17 Agustus (Rabu) : Hari Kemerdekaan RI.
  • 12 September (Senin) : Hari Raya Idul Adha 1437 H.
  • 2 Oktober (Minggu) : Tahun Baru Islam 1438 H.
  • 12 Desember (Senin) : Maulid Nabi Muhammad SAW.
  • 25 Desember (Minggu) : Hari Raya Natal.

CUTI BERSAMA Tahun 2016 :
  • 4, 5 dan 8 Juli (Senin, Selasa dan Jum'at) :  Hari Raya Idul Fitri
  • 26 Desember (Senin) : Hari Raya Natal
                                                       
LONG WEEKEND 2016 :           
  • Februari 6-7-8 ( sabtu - senin -  imlek )                               
  • Maret 25-26-27 ( jumat - minggu - Isa al-masih )                              
  • Mei 5-6-7-8 ( kamis - minggu -  Kenaikan Yesus & Isra Mirajd )                            
  • Juli 2-3-4-5-6-7-8-9-10 (4-5 & 8 - cuti bersama lebaran)             
  • September 10-11-12 (sabtu - senin. Idul adha)
  • Desember 10-11-12 (sabtu - senin - Maulud Nabi)

Petunjuk Arah ke Taman Dewi Sartika Balaikota Bandung

03/01/16
Pasti pada cari informasi petunjuk arah ke Taman Dewi Sartika ya makanya nyangkut ke halaman blog saya ini. Hehehehe :D Anyway, taman yang kalian cari namanya emang Taman Dewi Sartika, bukan Taman Balaikota atau Taman Cikapayang. Lho gimana ceritanya? baca di tulisan yang judulnya Taman Dewi Sartika di Balaikota, Aduh Cantiknya.

Cara Menuju Taman Dewi Sartika:
  1. Lokasinya di sisi Balaikota bagian jalan Merdeka. Buka Google Map, cari Jalan Merdeka. Searah dengan mall BIP. Jalan kaki dikit doang dari BIP ke Balaikota kok, tinggal lurus aja. 
  2. Dapat dicapai dari Jalan Merdeka dan Jalan Wastukencana. 
  3. Bawa kendaraan? parkir di dalam Balaikota. Masuknya dari Jl. Wastukencana.
  4. Kalau motor bisa parkir di sebrangnya, Taman Vanda, depan Bank Indonesia.
  5. Angkot: St. Hall - Dago, Ledeng - Kalapa, Marhagayu - Ledeng, Bis kota jurusan Dago - Leuwipanjan, Antapani - Ciroyom

Taman Dewi Sartika di Balaikota, Aduh Cantiknya!

Pasti pada mupeng pengen ke Bandung, lihat taman-taman baru. Wagiman beraksi lagi. Walikota gila taman :D 

Gak tahu berapa lama persisnya, beberapa bulan ini emang salah satu sisi kompleks Balaikota ditutupi pagar seng. Ada renovasi, kata Emil. Tapi saya gak nyangka kalau renovasinya beres menjelang Tahun Baru. Pas banget 31 Desember. Memang ya, berbekal pengalaman kerja sebagai arsitek, deadline pekerjaan sudah biasa harus ditepati. Beda dengan pengalaman kerja sebagai birokrasi yang biasa mundur, biasa molor :P Hahaha. 

Anyway, nih saya kasih lihat Taman Dewi Sartika yang baru. 1 Januari 2016 saya menginjakkan kaki di taman ini. Aduh cantiknya ini taman. Banyak bunga dan banyak pohon. Ada dua selokan besar yang menampung air sungai Ci Kapayang. Dan masih banyak lagi!

Sebelumnya hanya ada satu jalur selokan di sini. Tapi taman yang baru, membuka jalur baru untuk air Ci Kapayang. Satu jalur di bawah tanah. Satu jalur lagi dibuka untuk umum. Ridan Kamil kasih satu spot khusus untuk pengunjung bermain air sungainya. Tapi baru bisa kita rasakan kalau hujan deh kayaknya. Atau kalau debit air sedang kencang dan tinggi. Ada satu level yang khusus dibuat aman kok buat main air. Tapi kalau kalian bawa anak-anak, tetap awasi mereka ya. 

Stonehedge di Taman Dewi Sartika menambah semarak taman ini. Orang berfoto-foto di balik dan depan batu tersebut. Saya juga :D Beberapa bangku taman tersedia. Tapi sebenarnya taman ini didesain untuk duduk gelosoran juga. Gak mesti duduk di bangku taman. Aduh enaknya duduk di taman, di bawah pepohonan rindang. 

Taman Dewi Sartika lokasinya di sebrang Taman Vanda dan Sekolah Banjarsari. Pas banget di bawah jembatan penyebrangan Jalan Merdeka, dekat Gereja Bethel. 

Tapi jangan menjelajah kawasan Taman Dewi Sartika saja. Coba masuk ke area Taman Balaikota ya. Di sana juga seru pemandangannya. Ada kolam ikan dan bisa melihat kantor dinas Ridwan Kamil yang bangunannya termasuk dalam cagar budaya (heritage). 

Setelah itu jalan kaki terus ke arah utara, ke arah mall BIP. Di situ masih ada jalur pejalan kaki yang cantik. Masih bisa foto-foto karena tempatnya memang keren! Bisa melihat sungai, bisa ngobrol dengan teman sambil lesehan. Lesehannya juga gak kumuh lho, pokoknya pengalaman rasa menikmati kota dengan cara yang sopan dan indah, ada semua di sini! 

Nikmati tamannya. Sampahnya kantongi dulu, jangan main buang aja sembarangan atuh. Kalau kalian datang ke taman ini dengan kendaraan, parkir yang benar. Jangan mentang-mentang alasan 'lihat sebentar' parkirnya sembarangan juga. Please deh, walikota sudah sediakan tempatnya, renovasi tamannya, attitude kita juga renovasi biar jadi bagus. Hargai jerih payah Pemkot dengan attitude kita yang sopan. 

Oiya, satu hal yang menurut saya mah penting. Gak ada papan petunjuk yang ngasihtahu kalau ini taman namanya Taman Dewi Sartika. Saya juga tahunya setelah baca koran Pikiran Rakyat keesokan harinya setelah saya datang ke taman tersebut. "Ooooh jadi namanya Taman Dewi Sartika, bukan Taman Cikapayang." 

Emang sih ada tulisan Taman Dewi Sartika, tapi di bawah patung Dewi Sartika, di dalam kompleks Balaikota. Gak terlihat. Kayaknya orang-orang terlanjur mengenal taman ini dengan nama Taman Cikapayang, atau Balaikota. Padahal Taman Cikapayang kan ada di Dago sana. 

Yah begitulah. Selamat jalan-jalan di Bandung. Perbendaharaan taman kita sekarang bertambah ya. Semoga daerah selatan Bandung juga ketiban rezeki taman-taman kota ya! 

Seperti biasa saya beri petunjuk arah ke Taman Balaikota yang baru! Taman Dewi Sartika. 

Cara Menuju Taman Dewi Sartika:
  1. Dapat dicapai dari Jalan Merdeka dan Jalan Wastukencana. 
  2. Bawa kendaraan? parkir di dalam Balaikota. Masuknya dari Jl. Wastukencana.
  3. Angkot: St. Hall - Dago, Ledeng - Kalapa, Marhagayu - Ledeng, Bis kota jurusan Dago - Leuwipanjan, Antapani - Ciroyom


Petunjuk Arah ke Teras Cikapundung

02/01/16
Pada tahu Babakan Siliwangi? Pasti sudah tahu Sabuga juga dong. Nah lokasi Teras Cikapundung tuh gak jauh dari Babakan Siliwangi/Sabuga. Ini detail lokasi Teras Cikapundung ya:

Cara Menuju Teras Cikapundung
  1. Lokasi Teras Cikapundung ada di Jalan Siliwangi. Jadi arahkan kendaraan kamu ke jalan tersebut. 
  2. Parkir mobil kayaknya ribet deh, sangat saya rekomendasikan untuk parkir di Sabuga saja, jalan kaki ke Teras Cikapundung. Kalau kendaraan kamu berupa motor sih masih gampang parkirnya (kalau gak penuh pengunjung sih).
  3. Usahain JANGAN PARKIR SEMBARANGAN DI PINGGIR JALAN SILIWANGI yah. Kemarin saya lihat beberapa orang main parkir motor pinggir jalan aja, alasannya cuma "mau lihat bentar aja". Cih! 
  4. Naik angkot: Cicaheum - Ledeng dan Cicaheum - Ciroyom. Turunnya pas di depan Teras Cikapundung. 


Melihat Teras Cikapundung, Taman Baru di Bandung!

Sesuai janjinya, Ridwan Kamil membuka dua taman baru di Bandung. Ini yang pertama: TERAS CIKAPUNDUNG. Namanya diambil dari nama sungai yang melintas di kota Bandung, Ci Kapundung. Tamannya juga dibuat melintas sungai ini. 

Kalau orang Bandung suka nanya dengan konteks becanda: APA NAMA SUNGAI TERPANJANG DI DUNIA? Jawabannya sudah pasti sungai Ci Kapundung. Karena sungai tersebut melintas jalan Asia Afrika. Kebayang gak? :D *garing krik..krik…*

Teras Cikapudung diresmikan tanggal 31 Desember 2015. Dapat dicapai dari Jalan Siliwangi, melihat proyek pembuatan taman ini bikin penasaran juga. Bakal kayak apa ya tamannya. Secara sejarah proyeknya juga kontroversial. Pada tahu kenapa?

Dalam sejarah pembuatan taman di era Ridwan Kamil, ini pertama kalinya dia 'menggusur' warga. Memindahkan, bahasa halusnya karena proses penggusurannya dilakukan secara baik-baik. Ada dialog dengan warga, menuruti aspirasi warganya, dan masih banyak lagi. Pasti sih ada yang kecewa dengan relokasi pemukiman warga ini. You cannot please everybody. Apalagi pas tahu dipindahin karena tanahnya mau dibuat jadi taman? What, mindahin warga demi taman? Nah di sinilah debatnya gak beres-beres...

Sebagian warga yang mendiami bantaran sungai Ci Kapundung di Jalan Siliwangi dipindahkan ke rumah susun di daerah Sadang Serang. Pada saat berita pemindahan ini sedang panas-panasnya, hampir tiap hari saya memperhatikan (kalau tidak ingin disebut 'kepo' hahaha :D ) status Ridwan Kamil dan seorang seniman yang sangat pro-warga. Heboh pisan :D Beberapa hari berita tentang proyek Teras Cikapundung dan pemindahan warga menjadi headline di surat kabar Pikiran Rakyat. 

Anyway, pada waktu berkunjung ke Teras Cikapudung, saya belum bisa menjejakkan kaki ke tamannya. Masih diportal euy. Saya ke sana tanggal 1 Januari 2016 dalam rangka merayakan ulang tahun saya wkwkwkwk :D Gak deng, maksudnya sih ke sana cepet-cepet sebelum tamannya penuh orang. Mau motret pas tamannya masih kosong gitu. 

Pukul 06.30 saya sudah di parkiran Teras Cikapundung. Beberapa orang nampaknya sudah mager di sana. Tapi kami hanya bisa memandang Teras Cikapundung dari jauh. Gak cuma saya, orang-orang yang ada di situ juga penasaran. Kapan Teras Cikapundung dibuka untuk umum?

Kayak apa pemandangan Teras Cikapundung, lihat di fotonya saja ya. Ada beberapa perahu karet terparkir di tepi sungai Ci Kapundung. Apa pengunjung bisa berperahu ya… wah menarik. Yang pasti mah bakal muncul banyak selfie di Jembatan Teras Cikapundung. Saya bakal datang lagi ke Teras Cikapundung ah!

Ini saya kasih petunjuk arah ke Teras Cikapundung ya.

Cara Menuju Teras Cikapundung

  1. Lokasi Teras Cikapundung ada di Jalan Siliwangi. Jadi arahkan kendaraan kamu ke jalan tersebut. 
  2. Parkir mobil kayaknya ribet deh, sangat saya rekomendasikan untuk parkir di Sabuga saja, jalan kaki ke Teras Cikapundung. Kalau kendaraan kamu berupa motor sih masih gampang parkirnya (kalau gak penuh pengunjung sih).
  3. Usahain JANGAN PARKIR SEMBARANGAN DI PINGGIR JALAN SILIWANGI yah. Kemarin saya lihat beberapa orang main parkir motor pinggir jalan aja, alasannya cuma "mau lihat bentar aja". Cih! 
  4. Naik angkot: Cicaheum - Ledeng dan Cicaheum - Ciroyom. Turunnya pas di depan Teras Cikapundung. 
Selamat berkunjung ke Teras Cikapundung. Ikuti aturannya. Jangan dilanggar, nanti kalian difoto orang dan dimasukin fotonya ke IG lho. Halah :D Maksudnya sih jangan egois, demi mendapatkan foto yang keren biar dilike 1000 orang kamu sampai jadi bahan bully-an, duh ngejer apa sih. Attitudenya please. Hehehe :D

Petunjuk Arah ke Warkop Modjok

01/01/16
Kafe yang nyamar jadi warung kopi ini menaikkan standar desain sebuah warung kopi :D Oya, buat kamu yang gak suka suasana terlalu ramai, saya sarankan datang pada pukul 09.00 sampai dengan sebelum pukul 14.00. Atau datangnya di atas jam 9 malam.

Karena di Warung Modjok peak hour dari jam 14.00 - 21.00. Itu kata kasirnya. Tapi saya sudah umumkan di sini, bisa jadi kamu datangnya jam 9 pagi tapi tetep aja ramai, hehehe :D Enjoy the place, enjoy the food! 


Ini saya kasih tahu cara menuju Warung Modjok: 
  1. Arahkan kendaraan kalian ke Jl. Setiabudhi, Terminal Ledeng. Sebelum Terminal Ledeng siap-siap belok kiri ke Jalan Sersan Bajuri. 
  2. Perumahan Pondok Hijau Indah terletak di sebelah kiri jalan, 1,5 km dari perpotongan mulut Jalan Sersan Bajuri - Jalan Setiabudhi. 
  3. Lokasi Warung Modjok dari pos satpam kompleks rumahnya berjarak sekitar 500 meter. Turun, belok kiri, dan belok kanan. 
  4. Angkot yang lewat kompleks Pondok Hijau Indah cuma satu: Ledeng - Parongpong. Jadi cari angkot apa saja yang jurusannya Terminal Ledeng, turun di terminal, nyebrang jalan ke Jalan Sersan Bajuri. Naik angkot lagi deh. Bisa juga naik Ojek kok. Atau Gojek.
Warung Modjok bisa kalian follow di IG: @warkopmodjok.  

Baca tulisan sebelumnya di Makan-makan di Warkop Modjok 

Baca Thanks!