Social Media

Image Slider

Showing posts with label Purwakarta. Show all posts
Showing posts with label Purwakarta. Show all posts

Review Hotel Harper Purwakarta

27/08/16
Judulnya garing amat ya :D tapi hotelnya gak garing kok.

Di Purwakarta pada kunjungan bulan lalu, saya menginap di Harper Purwakarta. Di kota kecil ini tidak terlalu banyak hotel. Menurut saya sih Harper Purwakarta ini hotel yang paling trendy dan modern di Purwakarta.




Oke kita mulai langsung reviewnya. 


LOCATION

Perhatian kepada yang suka Sate Maranggi Cibungur, lokasi hotel ini dekat sekali dengan surganya makanan khas Purwakarta tersebut. Naik kendaraan sekitar 5 menit sudah sampai. Bisa bolak-balik makan siang dan malam dari hotel ke Cibungur tuh di sana hahaha :D 

Tapi karena letaknya bukan di jantung pusat kota Purwakarta, agak ribet sih kalau mau ke kota. Ya tapi gak seribet di Bandung atau Jakarta. Jadi menurut saya sih milih hotel ini bukan hal yang salah. Lokasinya masih strategis. Cocoknya untuk yang bawa kendaraan pribadi. Kalau kamu tipe yang ke mana-mana naik angkot, mending pilih hotel di sekitar Situ Buleud (Taman Air Mancur Sri Baduga).


ROOM

Kamar saya twin. Tapi teman sekamar saya, Reni, harus cabut malamnya karena pada dini hari harus terbang ke Belitung. So saya tidur sendirian. Bednya saya satukan saja biar tambah lega. Empuknya kasur dan bantal standar lah. Nyaman kok. Tapi gak bikin tergila-gila gitu, biasa aja.




AC kamar oke banget saya suka. Butuh dingin ya dingin, mau dibuat agak panas ya cepet juga perubahan suhunya. Jendela kamar juga lebar. Pemandangan kamar saya dari lantai 5 adalah sawah-sawah :D Selama di Purwakarta sibuk sih masuk ke hotel pas malem doang langsung tidur zzzzzz...

Eh enggak tidur deng. Lewat jam 12 malam baru tidur. Karena apa, karen WIFI KENCENG BANGET! hahaha nonton yutub lah. Download lah. Upgrade app lah :D Oke banget wifinya saya kasih jempol lima!

Kamar mandi standar juga. Amenities lengkap. Kebersihan bagus.  


FOOD

Wah menu sarapan paginya oke-oke. Rasanya gak mengecewakan, tapi enak banget juga enggak. So-so lah, so good. 

Menunya variatif. Prasmanan sudah pasti, aneka pastry dan buah-buahan. Minumnya standar tapi ada menu jus. Dan ada omelet dan persosisan. Cukup festive sarapannya. Pasti senang berlama-lama di restorannya Harper Purwakarta :D 




Dan lagi interiornya bagus. Agak industrial sih desainnya. Kalau saya senang lihat interior yang niat begini. Motretnya enak meski pake kamera ponsel. 

Untuk menu di luar breakfast, harganya standar harga hotel. Lebih dari rata-rata harga pada umumnya. Rasanya gak tahu euy karena saya gak coba. Harusnya sih enak ya, sarapannya aja enak-enak. 

Kalau mau jajan di luar ya palingan ke Sate Maranggi Cibungur itu sih. Di sekitar hotelnya (dalam radius jalan kaki), saya gak merhatiin ada mini market enggak. Rasanya sih gak ada. Euh ini cuma asumsi gak bisa dijadikan jaminan informasi ahuehueheuhue gimana saya teh review hotel gini amat :D heuheuehueheu...


SERVICE

Standar. Pelayanannya bagus tapi standar alias biasa saja alias tidak berkesan. Saya gak ketemu banyak pegawainya juga sih heuehuehuehue cuma resepsionis doang. 


FACILITES

Ada kolam renangnya! Horeeee! Kolam renangnya ada dua pula. Buat anak-anak dan dewasa. Lokasinya dekat dengan restoran hotel di lantai dasar. Kolam renang outdoor. Enakeun kolam renangnya, lumayan gede ukurannya. 




Saya bangun kesiangan, gak berenang dan langsung makan saja. Habis makan menyempatkan jalan-jalan sebentar sekitar kolam renang. Ckckck kata temen yang berenang, pagi tadi sunrisenya bagus banget. Kelihatan langsung dari halaman kolam renang. Ah euy saya masih tidur gak lihat sunrise, gak berenang...i missed a lot. Ya nanti balik lagi ke Harper Purwakarta saya gak mau kelewat sunrisenya lagi ah. 



Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan Lenovo A6000. Edit foto via VSCO

Cerita Dari Purwakarta

25/07/16
Sate Maranggi terenak di Purwakarta di mana menurutmu? Di kota ini frekuensi saya menyantap Sate Maranggi baru di 4 tempat saja. 

Pertama, di pinggir jalan sebuah lapak non-permanen tanpa nama. Pada malam minggu sewaktu menunggu peluncuran air mandur Sri Baduga (Situ Buleud).
Kedua, di Sate Pareang di Wanayasa saat hendak ke Curug.  
Ketiga, di Sate Cibungur sebagai meeting point saya dengan teman-teman sebelum piknik di Purwakarta.
Keempat di restoran Sambel Hejo setelah menonton puncak HUT Purwakarta. 


Sate Maranggi Cibungur

Pengalaman pertama yang berkesan. Bukan hanya karena pengalamannya saja, tapi karena rasanya yang enak terenak dari semuanya. Dagingnya yang super empuk saya tidak butuh waktu lama mengunyahnya. Lezat sekali. 

Usai dengan Sate Maranggi, saya bertemu dengan sepiring ayam kampung goreng ala Purwakarta di restoran Sambel Hejo dan restoran bernama lucu (jika kamu tahu artinya dalam bahasa Sunda) Sajolna. Tidak kalah enak! Empuk dan gurihnya luar biasa, meninggalkan kesan teramat dalam di hati saya. 

Jika saya harus kembali ke Purwakarta, saya akan datang pada malam minggu untuk Sate Maranggi Tak Bernama di Situ Buleud dan keesokan harinya ke RM. Sajolna untuk menyantap Ayam Kampung Goreng yang super enak di sana! 

Dua hari di Purwakarta, saya tidak berkunjung ke banyak tempat. Hanya sedikit saja tapi berkesan. 

Kamu tahu Purwakarta adalah kota yang lebih hangat dari Bandung? Setengah hari pertama saya tidak merasakannya. Mungkin cuaca kelabu. Anginnya bertiup sana-sini, membantu mendinginkan suhu. Saat menandaskan Sate Maranggi dan Sop Iga di Cibungur, tubuh saya tidak kepanasan sampai harus kipas-kipas. 

Sate Maranggi Cibungurnya terasa enak tapi tak istimewa. Sop Iga rasanya jauh lebih menonjol dan berkesan. Kebersihannya oke, kecepatan makanannya mendarat di meja makan saya juga oke banget, harga relatif terjangkau. Jangan lupa pesan es kelapa muda, terasa sangat menyegarkan setelah mulut ini menyantap perdagingan. 

Dengan titik-titik air yang masih menggantung di angkasa, saya dan teman-teman bergegas ke Waduk Jatiluhur dan Giritirta. Balapan dengan hujan, Waduk Jatiluhur didahulukan. 


Waduk Jatiluhur

Ini pertama kalinya saya melihat Waduk yang katanya menahan banjir di Karawang dan Bekasi tersebut. Setahu saya, Jati adalah nama sebuah pohon dan Luhur artinya tinggi. Jatiluhur letaknya memang berada di ketinggian. Jalanan menuju ke sana menanjak dan berkelok. Masih banyak pohon di sisi kanan kirinya. Di sini Purwakarta terasa adem. 

Karena bendungan yang dibuat tahun 1960an ini juga dimaksudkan sebagai objek wisata, tersedia fasilitas nongkrong lengkap dengan sarana permainan sederhana di bawah pepohonan rindang. Cocok untuk orang tua yang bawa anak. Juga menarik untuk muda mudi yang ingin beromantis ria melihat perairan Waduk Jatiluhur sambil terayun-ayun di ayunan. 

Melamun sebentar di tepi Waduk Jatiluhur yang kelilingnya mencapai 150 km ini, saya membuka Google dan mencari tahu berapa luasnya. Sering saya membaca tentang Waduk Jatiluhur pada artikel sebuah surat kabar, pada tulisan sambil lewat yang saya baca saat browsing. Namun informasi itu terlewat begitu saja. Sekarang saya ada tepi waduknya, membaca lagi dan menelan informasi tentang Waduk Jatiluhur. Rasanya seperti mengoles balsem ke kulit, terasa banget nancap dalam ingatan hahaha :D 

Saya mengucap selamat tinggal pada Waduk Jatiluhur dan menyongsong Giritirta yang terkenal dengan Skypool-nya. 


Skypool Giritirta

Syukurlah hujan tidak turun. Tapi langit masih abu-abu. Menambah efek dramatis pada Giritirta yang disebut-sebut bagai pemandian khayangan. Di sini kolam renangnya berbatasan dengan tebing. Jadi terbayang tidak pemandangan hamparan lembahnya? 

Orang-orang mengatakan berenang di Giritirta bagai berenang di awan. Saya tidak berenang. Hanya berkeliling melihat-lihat saja. Sebagian pemandangan lembah dan perbukitan tertutup entah awan entah kabut. 

Mengelilingi Giritirta, saya mencium bau kaporit yang cukup tajam. Tidak terlalu masalah sih untuk saya, tapi untuk kamu saya tidak tahu. Di sini tersedia bukan hanya kolam renang dan fasilitas mandi saja, ada juga restoran, tempat menginap, dan areal wisata outbond.

Mungkin saya akan kembali ke lokasi pemandian di kawasan Wanayasa ini. Tidak lupa membawa pakaian renang.  

Kembali ke Kota Purwakarta dan saatnya istirahat. 


Sarapan di Harper Purwakarta

Merebahkan diri pada sebuah ranjang di kamar no 500 Hotel Harper Purwakarta terasa sangat nikmat. Sungguh hari yang panjang. Purwakarta dalam ingatan adalah tempat yang tak akan habis wisatanya disemai. Mungkin harus ada Purwakarta Diary :D Ah bukan saya yang buat, kamu dong warga Purwakartanya. 

Sate Maranggi Cibungur 
Sate Maranggi 1 tusuk 3K
Sop Sapi 18K
Nasi Timbel 5K
Es kelapa muda 15K

Tiket masuk Jatiluhur 10K

Tiket masuk Giritirta
Senin - Jumat : 20K
Sabtu & minggu : 25K
Tiket berenang : 60K



Kampung Andir Purwakarta, Pemukiman Rumah Adat Sunda

13/01/16
Purwakarta masih kelabu. Hujan deras semalam menyisakan mendung yang menggantung. Hari ini hari terakhir saya berada di Purwakarta, sore nanti akan kembali ke Bandung.

Setelah menyaksikan Air Mancur Sri Baduga dan Museum Diorama, sekarang judulnya menengok semesta Purwakarta. Naik ke daerah yang lebih tinggi dari pusat kotanya. Berkunjung ke Kampung Andir, santap siang di Warung Sate Maranggi yang sederhana tapi luar biasa nikmatnya,  dan menjadi tamu di Legok Barong.

(Baca juga: Cara Menuju Purwakarta)


Hari ini satu orang istimewa akan mengantar kami. Warga lokal Purwakarta, sehari-hari bekerja di dinas pemerintahan setempat. Ata namanya. Kang Ata, begitu saya menyapanya.

Rumah Sunda di Kampung Andir


Kampung Baru, begitu warga desa di sekitar kampung tersebut menyebutnya. Namun secara resmi nama kampung kami tuju adalah Kampung Andir. Terletak di Desa Cianting Kecamatan Sukatani, Kampung Andir ini dapat kita capai melalui Jalan Raya Plered. Plered populer sebagai sentra keramik. Tapi kami tidak berkunjung melihat pembuatan keramiknya. 

Gowes Sepeda Onthel di Museum Diorama Purwakarta

12/01/16
Gila museumnya canggih banget! Itu kesan pertama saya dan teman-teman waktu berkunjung ke Museum Diorama Purwakarta. Ini kota kecil, eh kabupaten maksudnya, yang menggeliat seperti naga baru bangun tidur. Museum Diorama, wajib banget kalian datangi kalau ke Purwakarta!

Lokasi Museum Diorama strategis. Dari stasiun kereta api malah bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Kalau saya kan dari pool Travel Arnes, jadi naik angkot no 06 dulu dan dilanjut berjalan kaki sedikit, baru sampai di museumnya.

Museum Diorama Bale Panyawangan menempati sebuah gedung tempo dulu bernama Gedung Kembar. Ada dua bangunan tua, posisinya saling bersebrangan, saling menghadap. Museum Diorama menempati salah satu bangunan tersebut. 


Museum Diorama Bale Panyawangan, tampak samping
Gedung Kembar, disebrang Museum Diorama.
Bangunan yang sama arsitekturnya dengan Museum Diorama

Jam Pertunjukkan Taman Air Mancur Sri Baduga

11/01/16
Taman Air Mancur Sri Baduga dibuka setiap hari pada jam-jam tertentu. Khusus untuk air mancurnya, hanya diaktifkan pada malam minggu saja di dua shift. 

Jam Pertunjukkan Taman Air Mancur Sri Baduga : 
Sabtu Malam minggu
19.00 - 20.30 
21.00 - 22.30



Berdasarkan informasi yang saya peroleh, air mancur ini hanya aktif di musim hujan saja. Karena kalau musim kemarau air Situ Buleud-nya akan dialirkan ke sawah-sawah di sekitar pusat kota Purwakarta. 

Waktu peluncuran air mancurnya sih emang spektakuler banget karena ada efek-efek tambahan kayak Aqua Screen dan tembakan-tembakan api. Nah untuk pertunjukkan regulernya nanti gak akan seheboh waktu peluncurannya. Namun tetap saja Taman Air Mancur Sri Baduga ini bakal cantik dan unik. Semoga kesan yang teman-teman yang dapatkan saat menonton air mancurnya sama seperti kesan yang saya peroleh :D

Baca juga :

Menginap di Purwakarta, Enaknya Nginap Di Mana ya?

Nah kalau ke Purwakarta, enaknya nginep di mana ya?

Kalau ada teman atau kerabat yang bisa menampung, ya kontak lah mereka. Tapi menginap di hotel pun tak ada salahnya. Tersedia beberapa hotel yang tarif per malamnya bisa kita sesuaikan dengan isi kocek kita. 

Pada waktu di Purwakarta, saya menginap di Hotel La Derra. Terletak di Jalan Ahmad Yani, masih di pusat kota Purwakartanya. Tarif permalamnya dibawah Rp 300.000 saja. Untuk sarapan saya masih harus menambah Rp 25.000.

Hotel La Derra

Hotel La Derra

Recommended nih hotelnya. Murah tapi kebersihannya terjaga. Harganya terjangkau, sarapannya enak (saya pilih menu Nasi + Capcay + Teh Manis Panas). Untuk fasilitas mandi tersedia air dingin dan panas. Suprisingly untuk standar hotel dgn harga 200ribuan, luas kamar mandinya oke juga.

Amenitiesnya terbatas. Hanya ada handuk dan sabun mandi (cair) saja. Jadi bawa sendiri peralatan mandi lainnya kalau menginap di Hotel La Derra ya. 

Ukuran kamar (tidur) memang kecil, saya memesan kamar tipe Deluxe B. Bednya ukuran queen. Tapi gak masalah, gak menyusahkan saya. Palingan ukuran televisinya yang terlalu kecil :D Untungnya banyak channel tv kabel yang seru kayak Fox Movies Premium dan Star World. 

AC-nya oke! Temperatur Purwakarta lebih hangat dibanding Bandung, jadi pas masuk kamar emang butuh AC untuk mendinginkan badan. Orang Bandung ditaro di tempat yang lebih panas, uring-uringan aja gitu hahahaha terima kasih wahai penemu mesin pendingin ruangan :D

Lokasi restoran terdekat rasanya tidak dalam radius berjalan kaki. Ada sih warung makan padang aja. Tapi memesan makanan di restoran Hotel La Derra juga seru tuh, harganya terjangkau dan rasanya gak mengecewakan. Menu termahalnya tuh gak lebih dari Rp 50.000.

Selain Hotel La Derra, ada juga hotel-hotel lainnya. Bisa cek di Agoda atau Traveloka. Kalau saya biasa memesannya di Agoda. 

Oiya, tips yang mau menginap tidak jauh dari Taman Air Mancur Sri Baduga, nginepnya di Grand Situ Buleud Hotel saja. Bisa jalan kaki dari hotel ini ke taman airnya, tinggal nyebrang doang. 

Cara Menuju Purwakarta

Saya beritahu caranya menuju Purwakarta dari Bandung ya. 



  1. Kendaraan pribadi sih gampang. Masuk ke Tol Cipularang. Perhatikan papan petunjuk jalan. Nanti ada petunjuk jalan arah Purwakarta dan Ciganea. Kalau Cipularang masih lurus, Purwakarta belok kiri. Ikuti jalannya, gak lama dari belokan itu pasti sampai ke pintu tol Purwakarta. 
  2. Kendaraan umum ada tiga macam: kereta api, bis antar kota, dan travel. Saya bahas satu-satu ya. 
  • Kereta api : Bisa naik kereta dari stasiun Kiara Condong atau Stasiun Bandung. Jadwal berubah-ubah. Untuk kepastiannya cek langsung di stasiun kereta api terdekat atau ikuti cara saya ini, download aplikasi Padi Train di Google Store/App Store. Cek jadwal kereta api bisa dilakukan pada aplikasi tersebut, begitu juga dengan booking tiketnya. Tarifnya lebih mahal dibanding kita menumpang travel atau bis antar kota. Kalau tidak salah sekitar Rp 70.000 - Rp 100.000.
  • Travel Arnes : Berada di Baltos dan BTC. Mobil berangkat setiap jam mulai pukul 05.00 - 22.00. Ongkos Rp 30.000 perorang, sekali berangkat. 
  • Bis Antar Kota : Prima Jasa jurusannya saya kurang tahu :D Datang saja ke Terminal Leuwi Panjang. Cari bisnya di sana. Ongkos Rp 22.000

Rekomendasi kendaraan umum ke Purwakarta sih baiknya naik Travel Arness saja. Kalau ada uang berlebih, bisa naik kereta. Keduanya akan mengantar kita langsung ke dalam pusat kota Purwakarta. 

Kalau dari kota lain selain Bandung yang ingin menuju Purwakarta, cek di Internet moda angkutannya. Paling gampang sih cek dulu ketersediaan kereta api menuju Purwakarta ada atau tidak. Kalau naik kendaraan pribadi ya lebih fleksibel lagi. 

Selamat berkunjung ke Purwakarta! 

Di Taman Air Mancur Sri Baduga, Tumbuh Cinta untuk Purwakarta

10/01/16
Satu jam saja dari Bandung sampailah saya di Purwakarta. Cepat juga. Terasa seperti pergi ke Mall terdekat rumah saja. Sabtu 9 Januari 2015, saya dan dua orang teman berkunjung ke kabupaten Purwakarta. Untuk apa? Jalan-jalan tentunya!

Salah satu agenda plesir ke Purwakarta adalah melihat peluncuran Taman Air Mancur Sri Baduga. Air mancur ini disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara. Terbersit sangsi di hati saya, memang bisa mereka membuat air mancur sebesar itu?

Sebelum pertanyaan saya terjawab, kendaraan travel yang membawa kami bertiga dari Bandung telah sampai di pintu Tol Purwakarta dari pintu Tol Cipularang. Dalam perjalanan singkat menuju pool travel, sejenak saya mengamati kota kecil tersebut.


(Baca juga: Cara Menuju Purwakarta)


Tiba di pusat kotanya malah timbul apresiasi dari saya untuk Purwakarta. Saya merasa kota kecil ini semangatnya besar sekali. Di saat kabupaten kebanyakan merasa kecil dan minder dengan Bandung, Karawang, Bekasi, Jakarta, dan kota-kota industri besar lainnya, kabupaten Purwakarta malah sebaliknya. Dengan bangga ia maju ke depan, siap bersaing dengan kota metropolitan. Pembuktiannya dapat kita lihat dari langkah-langkah progresif yang Dedi Mulyadi lakukan selama menjabat menjadi Bupati Purwakarta.

Purwakarta didandani. Disulap supaya elok seperti rembulan, indah bagai lukisan. Taman Air Mancur Sri Baduga merupakan hadiah awal tahun baru yang cukup manis untuk warga Purwakarta.


Situ Buleud Menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga 


Taman Air Mancur Sri Baduga pada awalnya bernama Situ Buleud. Berbentuk melingkar mengelilingi sebuah danau (danau = situ, bahasa sunda), letaknya berada di tengah kota. Di tengah danau terdapat patung manusia sedang duduk bersila. Di sekelilingnya ada empat patung harimau dengan sikap mengaum, seolah-olah sedang menjaga Tuannya. 

Pagar besi mengelilingi area rekreasi tersebut. Tidak ada biaya pungutan untuk masuk ke dalamnya. Banyak pepohonan rimbun, penyumbang terbesar udara sejuk di taman air itu. Panorama danau yang luas tentu saja memberi suasana yang menyegarkan.