Social Media

Image Slider

Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

#photographytalk 5 : Fotografer Favorit

25/12/16
Halo! Ini dengan Ulu. Ini artikel dengan tema #photographytalk yang ke lima! 

Enggak, saya gak punya fotografer favorit. Pertama karena saya kan suka motonya baru sekarang aja. Kedua, sumber fotografi saya sekarang banyak banget. Pusing lah banyak yang bagus-bagus. Ketiga, saya gak pernah benar-benar merhatiin seorang fotografer. 

Jadi sebagai anak baru di dunia fotografi, saya banyak lihat foto jepretan orang. Tapi mengidolakan satu fotografer, saya belum sampai ke sana levelnya karena bingung mau suka sama karya yang mana euy. Sebagai anak milenial saya ngerasa hidup saya ini mirip dunia youtube. Baru nonton video, udah kepengen nonton video baru lainnya. Hingar bingar, hiruk pikuk banget. Berderet hal-hal yang mau saya lihat, tapi baru juga mulai udah baris hal-hal baru lainnya. Ah euy matak lieur heuheuheu. 

Jadi untuk tema '#photographytalk 5 : Fotografer Favorit' ini, saya meminta bantuan Indra Yudha Andriawan. Dia ini orang yang banyak bantu saya menyediakan suplai foto untuk blog Bandung Diary. 

Pertama, umur Indra jauh lebih tua dari saya (heuheuheu maap harus sebut umur). Kedua, dia bisa motret pake kamera analog sekaligus bisa juga cuci cetak filmnya sendiri di kamar gelap. Ketiga, dia menjalani hobi fotografi di era fotografi belum seheboh sekarang. Keempat, Indra suka baca buku dan majalah fotografi. Walo dia dan fotografi sekarang perkembangannya stagnan alias gak catch up dengan dunia fotografi kekinian, Indra tahu siapa-siapa aja fotografer favoritnya. Sekaligus ngasihtahu alasannya kenapa.

Kalau alasannya karena hasil fotonya baguus mah sekarang semua orang bisa motret bagus ya. Canggih-canggih lah. Tapi menurut saya mah ada alasan selain foto bagus lah. Dan orang yang paling tepat ngomongin ini bukan saya, tapi Indra. 

Berikut ini saya menyadur semua percakapan saya dengan Indra perihal fotografer favoritnya ya. Oleh karenanya kalau adakata 'saya' maka itu untuk kata ganti yang merujuk kepada 'indra' ya.

Ayo kita mulai. 


1. James Nachtwey

"I used to call myself a war photographer. Now i consider myself as an antiwar photographer - James Nachtwey

Nachtwey adalah fotografer perang dan konflik. Kebanyakan foto-fotonya warna hitam putih. Pertama kali mengetahui tentang James Natchwey dari DVD War Photographer yang dibeli tahun 2003.


James Nachtwey
(photo courtesy : https://naceyphotojournalistfri.wordpress.com/the-photojournalist/)

Dari video dokumenter tentangnya itu saya baru tahu kalau James Nachtwey orangnya amat sangat pendiam. Pengalamannya berinteraksi dengan konflik dan peperangan menyebabkan sikap dia yang tertutup. Kalau lihat fotografer lain, mukanya paling tidak lebih 'berisi', lebih joyfull. Kalau James Nachtwey mah enggak. Orangnya gak banyak senyum, gak banyak omong. 

Saya mengagumi komitmen dia yang kuat terhadap proses menceritakan konflik dan perang melalui fotografi. Makanya miris suatu kali melihat iklan rokok pada baligo di Jalan Riau di Bandung. Si model yang berprofesi sebagai fotografer perang yang terlihat sangat dandy dan gaya. Fotografer perang di situ dijual sebagai barang yang macho dan keren. Padahal kalau lihat fotografer spesialis perang yang asli seperti James Nachtwey, orangnya nampak pemurung dan menarik diri dari dunia luar.


Photo courtesy : @jamesnachtweyofficial

Pernah nonton film tentang veteran perang Vietnam gak? Nah mirip-mirip gitu lah James Nachtwey. Tapi James Nachtwey mah lebih terkendali kondisi jiwanya. Ya mungkin sih. Bayangkan saja kalau jadi James Natchwey yang terus-terusan melihat tragedi, kematian, kepedihan, kehancuran...

"i have been a witness, and these pictures are my testimony. The events i have recorded should not be forgotten and must not be repeated." -  James Natchwey.

Cek Instagram James Nachtwey untuk melihat foto-fotonya lebih banyak. 


2. Steve Mccurry

Pertama kali mengetahui bapak ini dari majalah National Geographic versi Bhs Inggris di tahun awal 2000an. Ya betul, foto cover yang terkenal dengan julukan 'Afgan Girl' populer sekali. Tahun 1985 majalah NG menerbitkan majalah dengan cover foto seorang gadis Afganistan bernama Sharbat Gula.

Steve Mccurry
Photo courtesy : http://alchetron.com/Steve-McCurry-239106-W


Setelahnya saya mulai mengikuti karya Steve Mccurry. Dari foto-foto jepretan beliau, saya paling senang mengamati foto portraitnya. Setiap dia motret orang, saya amat sangat menyukai bagian matanya. Semua orang yang difoto Steve Mccurry selalu menunjukkan 'sesuatu' di matanya. Ada kesan misterius, tapi juga ada kesan lain yang mendalam dari orang yang ia foto. Kesan mendalam itu ada di bagian matanya, seolah-olah tiap subjek fotonya mengalami kehidupan penuh perjuangan.


Photo courtesy : @stevemccurryofficial

Jadi penasaran apa yang Steve Mccurry lakukan waktu memotret hingga ia dapat sorotan mata dari subjeknya yang begitu dalam. Apa ia mengajak subjeknya ngobrol? Apa dia berkenalan dulu atau langsung motret?

Teknik editing foto-fotonya juga mengerikan. Ah pokoknya editing fotonya sadis!

Cek foto-fotonya di Instagram Steve Mccurry.


3. Norbert Wu

Norbert Wu adalah fotografer wildlife khusus kehidupan laut. Pertama kali tahu tentang Norbert Wu dari majalah Photoasia (majalah yang sekarang sudah saya gak lihat lagi, tutup kali ya?). Di samping foto-fotonya yang bagus, hal yang paling saya suka dari Norbert Wu adalah tips dan triknya dalam teknik fotografi dan...bisnis!


Photo courtesy : http://www.norbertwu.com/nwp/subjects/seals_web/gallery-06.html

Misalnya gini, zaman dulu motret bawah laut belum ada peralatan secanggih, sevariatif, dan seterjangkau sekarang. Si Norbert Wu ini dia bikin sendiri alatnya karena anggarannya terbatas. Kita sekarang dimanjakan berbagai macam filter foto, dulu Norbert Wu menyusun sendiri filternya. Ribetnya lagi dia motret di dalam air, bukan di darat. Kebayang repotnya berkali-kali lipat dan dia bahagia melakukan semua itu. 'orang gila' :D 

Dari Norbert Wu pula saya belajar teknik Piggy Packing. Cmiiw ya. Piggy Packing adalah cara untuk mengatasi jadwal selama kita mengerjakan assignment dengan menyisipkan jadwal untuk pekerjaan yang lain, tanpa mengganggu pekerjaan utama. Misalnya, Norbert Wu ada assignment motret Manta Ray. Tapi dia juga menyisipkan jadwal untuk motret kehidupan Anjing Laut. Terus terang aja saya dan Ulu mempraktekan teknik Piggy Packing ini dalam kehidupan kami sehari-hari.

Piggy Packing juga sempet dibahas dikit kok di novel Supernova yang Partikel. Walau gak disebut Piggy Packing, tapi pekerjaan Paul The A Team ya gak jauh-jauh dari Piggy Packing :D

FYI, saya gak menemukan akun Instagram Norbert Wu. Mencari foto profilnya di internet juga susah. Hasil fotonya lebih mudah kita dapatkan ketimbang foto mukanya :D

Cek websitenya di http://www.norbertwu.com/


4. Sebastiao Salgado

Orang ini super sakti :D Sakti dan sakit lah hehehe. Lebih tepatnya sih 'sakit' dalam makna positif. Dia adalah seorang doktor di bidang ekonomi yang beralih menjadi fotografer. Spesifiknya mah jurnalis fotografer. Sebastiao Salgado mendapatkan highlight dalam karirnya sewaktu memotret peristiwa penembakan Ronald Reagan. 

Sebastiao Salgado membuat beberapa proyek fotografi yang rentang waktu pengerjaannya tahunan. Saya baca malah ada yang 1 proyek buku yang ia kerjakan, makan waktu pembuatan 10 tahun. Hasilnya? luar biasa! Cek buku fotografinya berjudul Genesis.


Sebastiao Salgado
Photo courtesy : https://id.pinterest.com/kskittyfrog7/sebasti%C3%A3o-salgado/

Sebastiao Salgado pernah datang ke Indonesia dan memotret di sini. Beberapa fotografer Indonesia mendampinginya memotret di Indonesia. Di majalah Fotomedia yang saya baca (majalahnya udah gak ada, by the way), beberapa fotografer lokal itu menulis testimoninya tentang bagaimana rasanya bekerja bersama Sebastiao Salgado. Salah satu fotografer menceritakan kalau Sebastiaou Salgado tidak makan dan tidak minum sewaktu memotret. Katanya supaya fokus motret, Salgado puasa. 

Untuk mengenali objek lokasi fotonya, Sebastiao Salgado pernah berjalan mengelilinginya selama 10x. Determinasinya kuat. Ia sendiri pernah mengatakan begini: tidak ada satu pun kamera di dunia ini yang dapat menyaingi kerja keras saya.

Baca tentang Sebastiao Salgado lebih banyak di link yang saya kasih ya. Atau browsing aja langsung di Google. 


5. Michael Yamashita

Beliau adalah seorang travel photographer. Dari Michael Yamashita saya belajar menangkap spirit of the place. Pertama kali tahu tentang Michael Yamashita dari proyek fotografi yang beliau buat, yaitu tentang Laksamana Cheng Ho. Buku fotografinya itu berjudul ZHENG HE, Tracing The Epic Voyages of China's Greatest Explorer.


Photo courtesy : https://www.amazon.com/Michael-S.-Yamashita/e/B001JOKG3C

Selain memuat foto perjalanan di dalam buku Laksamana Cheng Ho, beliau juga pernah menerbitkan buku fotografi perjalanan menyusuri sejarah Marcopolo, tentang Great Wall China, juga tentang New York, dan beberapa lainnya.

Jauh sebelum travel photography muncul di Instagram dan begitu memuakkan (sorry, begitu kata Indra :D), foto-foto jepretan seorang Michael Yamashita sangat amat menggugah dan bergelora. Tak ketinggalan setiap karyanya disertai sentuhan human interest yang mengagumkan.




Belasan tahun lalu saya pernah menghadiri workshop fotografinya di Jakarta, yes Michael Yamashita pernah mampir ke Jakarta dan menjadi pembicara pada sebuah workshop fotografi.Follow Instagramnya di @yamashitaphoto.

Saya belum bahas fotografer Indonesia favorit saya. Ada Ramasurya, Nicoline, Sonny Sandjaya, dan beberapa lainnya. Saya bahas di postingan berikutnya ya. Cek dan silakan baca semua tulisan bertagar #photographytalk juga ya di label Photography. Terima kasih dan selamat Natal bagi teman-teman yang merayakannya ☺




Tulisan ini diceritakan oleh Indra Yudha dan ditulis kembali oleh Nurul Ulu. 

Belajar Motret Makanan di Dapur Hangus Playdate

21/11/16
Ini pertama kalinya saya mengikuti workshop fotografi. Yeah saya gak pernah daftar ke kelas fotografi mana pun. Dan setelah saya belajar motret di Dapur Hangus Playdate, selanjutnya saya mau deh ikut workshop fotografi lainnya. Senang belajarnya. Ke mana aja saya teh. Hahaha :D





Dapur Hangus Playdate adalah acara yang diselenggarakan oleh Dapur Hangus. Pernah ada yang dengar atau baca Dapur Hangus? Ah cek Instagramnya saja. Foto-foto makanan di akun tersebut cantik, tajam, dan bagus banget!

Saya kenal orang di belakang merek Dapur Hangus sejak tahun 2012. Ika Rahma namanya. Mantan wartawan lulusan jurnalistik UNPAD ini memulai Dapur Hangus dari blognya. Saya termasuk pembaca setianya. Tulisannya lucu-lucu, kocak gitu. Dan waktu itu Ika udah mulai motret makanan.

Di Dapur Hangus, Ika menjual properti food photography. Gak cuma untuk properti aja sih, kalau barangnya mau dipake untuk kebutuhan sehari-hari pun bisa. Awalnya hanya menjual produk dapur dan meja makan, Ika juga menyediakan jasa food photography. 

Ika gak main-main dengan food photography. Dia nyicil kamera DSLR dan belajar motret makanan. Belajarnya non stop, sampai sekarang. 

Anyway Dapur Hangus Playdate adalah sesi workshop fotografi sekaligus foto produk dan endorse di Instagram. Playdate ini diadakan di rumah Ika.

Yeah saya punya produk. Iya betul Fish Express :D Ada 32ribu followers Dapur Hangus, sayang banget kalau acara begini saya lewatin gitu aja.

Dalam workshop yang hanya untuk 6 orang ini, suasananya kasual banget. Dan iya saya bersyukur banget karena pesertanya dibatasi kurang dari 8 orang. Orang yang hadir empat saja jumlahnya. Saya jadi bebas mau nanya apa aja kepada Ika. Hehehe.

Sebenarnya saya udah tahu sih sesi motret bakal kayak bagaimana. Tapi sejujurnya apa yang saya ketahui sama sekali gak menyamai kejadian aslinya. Food photography yang saya lihat di studionya Ika terlihat sangat pro. Sederhana  sih studionya tapi dari situ saya tahu keseriusan Ika terhadap food photography. Dan tiba-tiba saya jadi malu dengan skill motret saya yang jauuuuuhhhhh dengan kemampuan motonya Ika.

Di studionya Ika, lampu softbox ada 4 : 2 lampu kuning dan 2 lampu putih. Reflektor ada 2. Belum cermin yang fungsinya reflektor juga. Ada juga alas foto yang terbuat dari kayu, bukan kertas. Berat pula itu alas fotonya. Sebagai tambahan, lampu meja juga tersedia.

Dengan peralatan seserius itu, saya menerka-nerka bakal kayak apa fotonya nanti. DAN TERNYATA FOTONYA JADI BAGUS-BAGUS BANGEEEETTTTT! 





Anyway, saya kenalin dulu dengan peserta di Dapur Hangus Playdate (20/112016) ya :
Tia punya produk kukis cokelat, namanya Rocky Bars.
Ari yang produknya bakso dan cilok.
Mail dengan produk katering diet mayo dan es mambo.
Peserta terakhir saya, yang bawa filet ikan lele. Yesss Bandung Diary ini project sampingan doang. Aslinya mah saya dan Indra mendapat pendapatan utama di bidang perikanan :D

Setiap sesi pemotretan, saya ngintilin Ika. Saya motret di titik Ika berdiri untuk moto. Produk orang lain juga saya ikut memotretnya. Ya pokoknya jiplak angle foto ika 100% hahaha. Gak cuma saya, peserta yang lain juga sama. Cuma saya yang motret pake DSLR. Tia, Ari, dan Mail motret menggunakan smartphone. Sesekali Ika juga motret pake smartphonenya.

Di workshop ini saya sering ambil angle yang berbeda dengan yang Ika jepret. Hasil foto-foto saya dengan Ika beda jauh banget hahaha. Saya mah buram dan gak jelas mau memperlihatkan apa. Kalau Ika fokus banget. Saya mah masih bermain-main dengan angle makanannya. Kalau Ika mah enggak, dia motretnya kalem banget, secukupnya saja tapi komposisinya matang banget. 

First thing first yang saya pelajari di workshop ini adalah: LIGHTING. Mengetahui arah datangnya cahaya adalah penting banget! Biar apa? Agar cahayanya kena ke makanan yang mau kita foto dan makanannya jadi glowing. Kalau udah tahu arah cahaya, kita juga jadi tahu mesti motret dari mana, jadi pas kita berdiri kita gak nutupin cahaya.

Hal berikutnya adalah PROPERTI. Ika ini terkenal dengan gaya motretnya yang cantik dan penuh detail. Perintilan propertinya banyak tapi gak norak. Sebaliknya malah lucu banget. Fotonya tuh kayak cewek yang stylish abis, colorful tapi elegan. Kayak siapa ya, Eva Celia lah sosok paling tepat menggambarkan kecantikan foto makanan jepretan Ika versi manusia. 

FYI, kata Ika kalau mau naro makanan di wadah, cari yang bentuknya berlawanan dengan bentuk makanannya. Misal nih makanannya bulet, wadahnya persegi aja agar dalam foto nanti volume makanannya menonjol.

Hal seremeh melipat kain elap untuk properti aja saya baru belajar di workshop ini. Coba, untel-untel kain elap doang apa susahnya kan. Ternyata susah hahaha. Saya sampai mikir kalau ketekunan Ika lah yang membuatnya terampil menguntel-untel kain buat jadi properti. Konsistensi dia yang membuatnya lincah menata manekin dan teko di antara cookiesnya Tia. Sementara saya masih berdiri dan berpikir mesti naro piring di mana, Ika sudah membayangkan secara visual di kepalanya itu piring bakal ada di posisi seperti apa.

Terakhir: KOMPOSISI. Ah euy ini susah banget. Saya biasanya motret benda mati, landscape, moto muka orang, itu komposisinya aja sudah sulit. Makanan apalagi susah banget, apalagi Ika doyan naro properti yang perintilan gitu. Kata Ika sih properti foto itu masalah gaya aja. Ada food photographer yang gayanya super simple, bersih dari properti yang kecil-kecil. Tapi ada juga yang penuh perhatian terhadap detail kayak Ika.

Secara garis besar buat pemula mah ilmu komposisi Rule of Third udah cukup sih.






Saya menyukai warna-warna pilihan properti Ika. Saya juga cinta banget dengan mood foto jepretan Ika. Warnanya tajam, dan tegas. Dan gak norak. Saturasinya gak berlebihan, gak bikin mata ‘sakit’. Sambil menata properti dan makanannya, Ika cerita tentang belajar menyetel selera. Selera ini maksudnya menyatukan warna di satu frame. Kerjaan Ika dulu sering lihat foto-foto di Pinterest. Tapi kayaknya bukan cuma Pinterest yang menajamkan selera warna Ika deh. Jam terbang juga ngaruh.

FYI walau sudah terkenal dengan Dapur Hangus, Ika masih suka daftar workshop food photography. Saya gak nyangka :D “ya kalau saya gak ikut workshop nanti yang saya omongin di workshop yang saya  buat ya itu-itu aja,” kata Ika.

Di workshop food photography, Ika cerita dia gak cuma nyari ilmu fotografi. Ibu satu anak ini juga ngaku kalau properti-properti terbaru yang dia dapat, dia tahunya dari workshop yang dia ikuti.

Kalau kamu nanti ikutan workshop Dapur Hangus ini, perhatiin deh kedetailan Ika pada makanan yang ia foto. Setelah menata makanan, biasanya dia mengulas makanan biar kelihatan lebih glowing dengan kuas dan semprotan air. Atau pas dia mau motret produknya Mail, kentangnya dia bakar biar kelihatan lebih hangus dan menggugah selera. Terus waktu motret produk bakso, kuahnya kurang banyak, Ika ambil teko khusus untuk menuang air ke mangkok yang sudah tertata rapi. Nah ilmu kayak gitu dia dapat dari workshop food photography.

Hari itu saya senang banget ikutan Dapur Hangus Playdate. Mana produk saya difoto pula oleh Ika. Di zaman semua orang bisa jadi apa saja, termasuk fotografer, menjadi konsisten dan persisten adalah barang yang langka. Workshop bersama Dapur Hangus, saya melihat keduanya di diri orang yang telah membangun Dapur Hangus selama empat tahun ini.

Empat tahun memberi hidup untuk Dapur Hangus dan di akhir tahun 2016 ini Ika akan menerbitkan sebuah buku food photography. Wow.

Usai dari Dapur Hangus Playdate, di jalan pulang saya mikir ulang. Saya kira saya belajar motret makanan ala foto katalog dari Ika, ternyata lebih dari itu ilmunya. Senang rasanya bisa kenal dan belajar dari orang-orang kayak Ika yang fokus, konsisten, dan persisten. 

Kalau Ika membuka pendaftaran untuk Dapur Hangus Playdate lagi, ikutan ya. Highly recommended. Cek jadwalnya di akun Instagram Dapur Hangus. FYI yang terdekat tanggal 10 Desember nanti ada workshop food photography Dapur Hangus. 































Teks : Ulu
Foto : Ulu

#photographytalk with The Food Xplorer: 5 Things I Learned From Photography

17/11/16
Hellow semuanya! Saya Agung dan saya adalah Food Blogger. Profesi saya sekarang adalah food photographer. Blog saya http://thefoodxplorer.com.

Gak kerasa sudah dua tahun  saya ‘nyemplung’ ke dunia fotografi. Saya mengawali dunia ini dari hobi makan dan suka nulis review kuliner. Lama-lama jadi penasaran ingin motret juga. Sampai akhirnya saat ini saya benar-benar jatuh hati dengan fotografi.




Saya belajar fotografi dari dasar banget sampai sekarang saya bisa masuk ke industri fotografi profesional. Dunia ini isinya orang-orang hebat yang membuat saya selalu ingin mencoba banyak hal-hal baru.

Saya mau berbagi lima hal yang saya pelajari selama ini dari fotografi.

1. Photography = Poison!

Fotografi adalah racun! What, Apa maksudnya?

Coba deh masuk ke forum-forum komunitas fotografi atau baca review mengenai gears photography terkini. Bagi beberapa penikmat fotografi, hobi yang satu ini termasuk racun. Racun dalam artian hasrat atau keinginan untuk mencoba dan memiliki aneka kamera, lensa ataupun aksesoris terbaru dengan harapan akan meningkatkan kualitas portfolio kita ke level yang lebih yahud. Sumber informasi kamera-kamera itu bisa didapat dari website, blog, majalah, youtube atau hasil ‘cuci mata’ di toko-toko kamera. Dan saling meracuni antar fotografer itu udah hal yang biasa. Hehe ☺

Tapi kamera kan bukan barang murah.

Well, hobi fotografi saat ini udah bukan merupakan hobi yang mahal seperti beberapa tahun yang lalu. Sekarang saja kualitas kamera smartphone sudah banyak yang bagus. Saat ini pilihan kamera sangat banyak, mulai dari kamera di smartphone, action camera macem go pro, pocket, prosumer, DSLR, sampai kamera mirrorless yang sekarang jadi udah jadi lifestyle.

Satu hal yang perlu dicatat adalah semakin canggih gears kamu belum tentu semakin bagus hasil foto kamu. Ingin foto kamu bagus? Pengalaman saya membuktikan ada yang lebih penting dari kamera. Yaitu belajar dasar-dasar fotografi, rajin motret, banyak bertanya, cari mentor, ikut seminar dan workshop fotografi, gabung ke komunitas, tonton tutorial di youtube, dan masih banyak hal lainnya yang pastinya bakal mengupgrade kemampuan fotografi kita.




Kayak misalnya saja nih, kena racun foto-foto makro yang keren banget? Tapi lensa makro kan harganya mahal. Apalagi lesa makro kelas atas yang harganya di atas 10jutaan. Coba deh cari tips di internet tentang menyiasati lensa makro ini. Saya pernah memakai tools yang biayanya gak lebih dari 100ribu perak untuk sesi foto makro.

Contoh foto makro di atas itu saya jepret dengan bermodalkan extension ring manual yang harganya hanya sekitar 65ribu, dan ditandem dengan lensa nifty-fifty Canon 50mm 1.8II saya pasang di bodi kamera 700D. Hasilnya? Lumayan kan? ☺


2. Photography = Passion

Gak sedikit orang yang heran dan tidak mengerti kenapa saya meninggalkan dunia arsitektur dan desain interior. Well, saya bilang pada mereka fotografi adalah passion saya. Ada suatu gairah dan semangat dalam diri saya saat menyentuh yang hal-hal berbau fotografi. Gairah itu yang saya rasakan saat saya memegang body kamera, mencari komposisi melalui jendela bidik, mulai mematukkan tombol shutter, dan merasakan kepuasan saat melihat hasilnya.




Intinya saya suka dengan fotografi, entah itu saat hanya iseng jepret random, hunting kuliner, atau saat saya motret untuk commercial product, semuanya itu membuat saya excited. So buat kamu yang saat ini masuk ke dunia fotografi hanya sekadar ikut-ikutan tren, pernah bertanya gak apa ada gairah dalam diri kalian sewaktu menjalaninya?


3. Photography = You

Satu tahun pertama saya terjun ke dunia fotografi, cuma makanan yang jadi objek jepret saya. Di tahun kedua saya mulai berani untuk mencoba hal-hal baru, mulai dari mengerjakan project product photography sampai mulai coba-coba motret landscape, binatang, bunga, orang, atau apapun selain makanan. Sampai kemarin juga nyoba motret di wedding. 

Walau begitu tetap aja kalau ditanya orang "kerjaan lo apa sih sekarang, Gung?" saya tetap jawab dengan bangga :Food Photographer.

Saya gak bilang kita harus stuck di satu bidang aja, tapi coba deh cari kekuatan fotografi kamu tuh di mana. Apakah di moto benda mati, model, landscape, action/sport, street photography, atau apa?

Saat tahu gairah dan kekuatan kamu dalam fotografi, maka hal tersebut juga akan berkaitan dengan banyak hal lainnya. Salah satunya dan yang paling utama adalah menentukan kebutuhan gears alias kameranya.




Bagi saya lensa 100mm 2.8 L atau 50mm 1.4 adalah sahabat terbaik di dunia fotografi makanan. Koleksi lensa saya lainnya pun hanya lensa 50mm 1.8II dan sebuah lensa kit 18-55mm.

Photography = You, jadi kamu sendiri yang mengerti lensa apa yang paling kamu perlukan/butuhkan, bukan kamera yang kamu inginkan lho ya. Termasuk body kamera, dengan mengetahui kekuatan bidang fotografi kamu, kamu bisa menyeleksi karakter bodi kamera juga. Cocoknya dengan DSLR, mirrorless atau malah dengan smartphone.


 4. Photography = Art

Bagi saya fotografi adalah seni melukis cahaya. Bicara fotografi berarti membicarakan keindahan suatu objek yang ditangkap atau dibekukan ke dalam bentuk gambar (foto).

Cahaya memegang peranan penting dalam fotografi, ada berbagai macam teknik pencahayaan yang saya pelajari sampai saat ini. Lighting atau pencahayaan dalam fotografi sendiri terbagi tiga: Natural Light (matahari) , Ambiance Light - cahaya buatan yang ada dan menerangi di sekitar kita (lampu, lilin, obor,dll) , dan Artificial Light alias cahaya buatan (Flash/strobist, continous Lighting).




Mana cahaya yang paling bagus? Buat sebagian besar orang tentu menjawab natural light, tapi kalau buat saya sih tergantung. Yup, karena sekali lagi fotografi adalah seni, bagaimana kita ingin menyampaikan pesan melalui foto kita, apakah fotonya ingin cerah, terang, atau ingin dark/moody? Terus karakter dan tone seperti apa yang ingin kita tampilkan.

Dan satu hal yang pasti setiap fotografer mempunyai cita rasa yang berbeda ☺


5. Photography = Vision

Saya kira setiap fotografer bagusnya mempunyai visi yang jelas. Visi adalah apa yang kita lihat di depan dan yang menjaga kita dari pengaruh yang berada di sekitar kita.

Tanpa visi, foto-foto kita akan kehilangan makna dan hambar. Sejak awal saya memutuskan terjun ke dunia fotografi, saya langsung bertekad menjadi seorang food photographer / fotografer makanan. Walau sekarang ada beberapa job yang saya ambil gak ada hubungannya sama sekali dengan kuliner, tapi tetap hampir 80% portfolio saya semuanya di bidang kuliner.




Ada sebagian orang yang terjun ke industri fotografi hanya ikut-ikutan tanpa mempunyai bekal yang cukup. Tapi ada juga sebagian orang yang masuk ke dunia fotografi dengan modal yang sangat melimpah. Masalahnya, mau ikutan-ikutan atau modalnya besar sekalipun, semuanya itu percuma kalau kamu gak punya visi, dan tentu saja passion sebagai motor penggeraknya.

---- 

So, itu lima hal yang saya peroleh dari dunia fotografi. Saya sangat menikmati semua proses belajarnya. Fotografi buat saya bagaikan perjalanan. Sepanjang atau sejauh apapun perjalanan itu, saya akan menikmatinya ☺

FYI, follow ya Instagram @thefoodxplorer ☺ 






Ditulis oleh Putra Agung for Bandung Diary
Photo credit : Putra Agung



#photographytalk 3: Beauty In Ordinary

22/10/16
Saya belum update artikel kategori #photographytalk deh minggu kemarin. Saat ada suara-suara yang berkata kalau menulis adalah pekerjaan mudah, ternyata buat saya enggak. Menulis butuh mikir. Dan beberapa hari kemarin saya gak bisa mikir selain menyelesaikan deadline yang kayaknya gak habis-habis itu :D 

Well sekarang sedang nyantai dan #photographytalk kembali lagi! Saya mau bahas tentang motret kembang dan bunga. Namun saya gak bahas teknis motretnya ya. Saya mau kasihtahu kalau sekarang bunga dan kembang adalah objek favorit saya untuk difoto. Karena mereka lucu-lucu. Ada sih yang gak lucu juga :D 

Saya gak ingat sejak kapan jadi suka motret kembang dan bunga. Kalau lihat foto bunga jepretan orang sih suka banget. Rasanya adem, sejuk, dan ada kesan hening yang menenangkan. 

Terus saya pikir, gimana kalau mulai motretin bunga dan kembang, bukan cuma lihat saja di feed Instagram. Gimana tuh rasanya kalau saya motret mereka juga, apa rasanya bakal sama dengan memandang fotonya saja?

Ternyata lebih senang motonya hahahaha :D 

Kalau lihat fotonya saja, sejuk sih rasanya. Nah kalau motoin, efeknya lebih dramatis. Jauh lebih adem lagi. Sering sih pas mandang hasil fotonya di laptop kok malah buram. Ah euy... cuma gak nyesel-nyesel amat sih. Motretinnya juga sudah cukup :D 

Saya gak nyangka sih kalau motretin mereka bisa memberi gizi buat jiwa saya *lebay tapi begitulah adanya :D*

Well jadi kepikiran mau upload semua foto kembang dan bunga yang saya jepret dan menyatukannya di sebuah album berjudul Beauty In Ordinary. Kalau kamu lihat foto bunga dan kembang di Instagram saya, judulnya saya beri kalimat yang sama dengan album fotonya, Beauty In Ordinary. Yang cantik-cantik adanya pada mereka yang sederhana ya, ada pada keseharian kita. 

Foto-foto ini bukan saya semuanya yang jepret. Beberapanya adalah karya Indra, suami saya. Dari dia saya belajar motret bunga dan kembang. Juga dari lihat-lihat foto di Instagram sih hihi :D Berikut ini ada foto yang saya jepret dengan kamera ponsel. Juga ada yang menggunakan DSLR. Semua foto ini sudah diedit baik itu dengan aplikasi di hp maupun di laptop. Tone fotonya berantakan sih jadinya. Aheuheuheuheu PR besar Bandung Diary adalah membuat foto dengan tone yang sama, biar mata gak capek sih. Tapi...ah yasudahlah :D 

Apa kamu senang memotret bunga dan kembang juga? Ayo dong ceritain di sini gimana rasanya motret bunga dan kembang :D Sebutin akun Instagramnya nanti saya follow! 

Selamat menikmati kembang dan bunga-bunganya ya :)





















Teks : Nurul Ulu
Foto : Nurul Ulu, Indra Yudha