Pabrik Teh di 1246++++ mdpl

February 07, 2018
Tidur baru tiga jam saja. Semangat liburan lumayan ngurangin kepala pening akibat begadang.

Indra bilang di depan rumah yang kami inapi (rumah bibinya Indra), ada perkebunan teh. Diskusi bentar, kami sepakat hiking ke kebun teh. Pusing kepala langsung hilang ahahaha. 

Sekitar 20 menit berjalan kaki, gak sengaja ketemu sebuah bangunan besar mirip gudang. Iseng aja sih masuk ke dalamnya. Wangi teh menguar. Barulah paham itu pabrik teh. 


Sebelum masuk ke pabrik terlalu dalam, Indra masuk ke ruangan yang kayaknya sih kantor. Meminta izin kepada seorang bapak tua, ia memberi restu. Bahkan Pak Udung menemani kami berkeliling pabrik, sekalian curhat. Heuheuheu. 

Pabrik Teh Mekarwangi namanya dan berdiri tahun 90an. Bukan pabrik tua peninggalan Belanda. Walo gak tua-tua amat, proses pembuatan tehnya masih konvensional sih. 

Proses sortir daun teh, dilakukan manual. Kata Pak Udung, pemetik teh sekarang gak perhatian sama daun teh yang mereka petik. Ilalang dan daun tanaman lain juga kepetik banyak. Makanya harus disortir. Manual.

Abis itu daun teh dimasukkan ke sebuah mesin yang berputar-putar. Daun teh dipanggang sambil teraduk. 

Daun yang udah kering, dikirim ke bagian sortir lagi. Sortirnya masih manual juga, dilakukan gadis-gadis Cikajang yang belia nan cantik.

Daun dipisah dari batangnya. Si batang bakal masuk ruangan lain dan diproses lagi jadi teh, yakni teh celup (teh bubuk). 

Sementara daunnya entah dikemanakan, langsung dibungkus apa dipanggang lagi, saya gak tahu. 

Saya rasa pagi itu adalah pagi yang penuh berkah. Mataharinya hangat. Hawa pabrik teh yang dingin dan senyap, tapi saya suka. Seperti makanan, teh juga  mesin waktu.

Cikajang sama kayak Sukawana di Lembang, Gambung, Malabar. Sama-sama perkebunan teh yang digalakkan di zaman kolonial. Bicara Teh di negeri ini artinya bicara sejarah yang panjang. 

Juga bicara tentang kesedihan. Abainya pemerintah terhadap industri teh ini menyebabkan penjualan yang lesu. Bukan pemerintah yang sekarang aja sih yang gak perhatian, tapi sejak pemerintah yang dulu-dulu itu.

Teh, tanaman yang dianggap remeh. Batu bara, minyak bumi, dan kelapa sawit mah jor-joran banget ya. Teh? Mati segan hidup pas-pasan. 

Di pabrik ini aja, Pak Udung lebih banyak cerita yang sedih-sedihnya daripada senengnya. Kayaknya gak ada cerita seneng deh. Penjualan menurun lah, ekspor dilibas Thailand lah, pabrik dipertahankan untuk menggaji pegawainya aja lah. Hiks. 

Untuk mendongkrak penjualan, mereka bikin diversifikasi produk. Produk untuk dijual ke pasar, ke toko oleh-oleh, sampai ke supermarket. 

Produk buat ke pasar, tehnya teh bubuk. Buat toko oleh-oleh, daun tehnya masih campur-campur dengan batangnya. Teh kelas premium murni daun teh aja isinya. 

Saya beli semuanya. Murah kok, yang premium kalo gak salah 20 ribu deh (apa 30ribu gitu ya).

Sebagai orang yang gak ngerti rasa Teh, teh yang bubuk kok ya enak-enak aja. Terus saya coba teh berikutnya yang daun+batang, rasanya lebih maknyus. 

Pekat gitu kali ya. Rasanya tuh 'mentah'. Seperti ngisep daun dan tanah. Juga bagaikan menghirup bau matahari. Lezatnya banget ini tehnya. Abis nyobain teh model tubruk begini, teh celup jadi kayak sirup kebanyakan air heuheu.

Teh yang termahal saya gak coba sebab saya kasih buat bibinya Indra.

Kenapa sih industri teh melapuk begini? 

Apa gak bisa kirim petugas-petugas pengurus perkebunan ke Jepang gitu untuk studi banding. Kayaknya di sana, segala macam yang mereka kerjakan abadi dan lestari. Kenapa kita gak bisa kayak mereka...saaaddddd.

Apa yang gak ada di kita tapi ada di orang-orang Jepang? Apresiasi? Ketulusan?Kecintaan? Ketekunan? 

Indra bilang tingkat konsumsi teh di negara ini masih rendah. Apa iya? Terus saya browsing deh. Di tahun 2016, konsumsi per kapita Indonesia 500gr aja. Dibanding Inggris, mereka konsumsinya 2kg/kapita. 

Setengah tahun pertama di tahun 2017, ekspor teh turun sebanyak 17%. Padahal di tahun 2014, pemerintah menaikkan anggaran untuk revitalisasi perkebunan teh. Bahkan perbaikan dan penambahan infrastruktur salah satunya digalakkan untuk menekan biaya logistik yang mana salah satunya untuk teh ini. (Ngomong-ngomong saya dapet beritanya dari kompas.com dan situs-situs berita ekonomi).

Baca-baca aja deh sendiri tentang peliknya industri teh di negeri ini. Kayaknya sih, butuh orang-orang sekelas Bu Susi buat memperbaiki ekosistem kerja dan menggenjot penjualan. Orang yang ngerti dari hulu ke hilir perkebunan teh. Perubahan yang radikal dan revolusioner. 

Kalo perlu, kenapa gak taro anak-anak muda di kursi-kursi penting perkebunan teh dan minta mereka bikin program yang realistis tapi dinamis dan cepat. 

Kok kayaknya kalo lihat pesatnya industri startup Indonesia ya baguslah gitu, masa iya semangat yang sama gak bisa diaplikasikan ke industri-industri lama kayak perkebunan teh ini. 

Atau mungkin itu sebabnya ya, startup yang tumbuh sekarang, skala industrinya mungil-mungil. Sementara ngurusin perkebunan teh ibaratnya ngurusin panti asuhan. Kecil-kecil, banyak, terabaikan puluhan tahun, masalah yang berakar bererentet puanjang, dll, dst, dkk, dsb. 

Saya juga makin ngaco ngetiknya.  Nulis apa sih saya ini. Emang lebih gampang ngomong (nulis) ketimbang ngerjain. Bah. Bentar lah minum teh dulu. 














Teks: Ulu
Foto : Ulu