Jalan-jalan Melihat Pabrik Kina, Pabrik Berusia 122 Tahun

December 22, 2018
Hindia Belanda pernah jadi penyuplai terbesar kebutuhan kina dunia. 90% suplier kina di bumi adalah kita, dari Bandung. Dari Indonesia yang waktu itu belum merdeka.

Pabrik tertua di Bandung ya Pabrik Kina ini. Terdiri dari bangunan-bangunan berlokasi di tiga sudut jalan. Di antara pertemuan Jalan Pajajaran, Jalan Cihampelas, dan Jalan Cicendo. Pabrik Kina, begitu kami warga Bandung mengenalnya. Padahal nama resminya sejak 1971 adalah Kimia Farma.

Teman-teman, tahu kan kina untuk apa? Di masa lalu, bangsa Eropa mencari dunia baru, mendaratlah mereka di negara-negara tropis kayak kita ini.

Tentu saja sakit-sakit mereka tuh. Udara berbeda, hawa kontras, makanan gak cocok. Digigit nyamuk pun penyakitnya ganas macam Malaria. Kina jawaban atas wabah Malaria saat itu.

Belanda melihat pundi-pundi emas di sini. Demi kina, penelitian dan budidaya segera digalakkan. Makan waktu lama memang, hampir 50 tahun merintis bisnis kina. Belanda dan risetnya yang gak pernah main-main.



Pabriknya memang bersejarah, namun hari jumat tengah Desember itu (14/12/2018) yang jadi sejarah buat saya, Indra dan Nabil. Pertama kalinya kami menabur jejak di dalam Pabrik Kina, kompleks bangunan antik nan legendaris di Bandung. 

Terima kasih kepada Dewi yang ajak saya ikut tur pendek ini. Ia dan teman-teman dari komunitas Heritage Lovers yang mengatur kunjungan ke Pabrik Kina.

Kami gak secara rinci melongok pabriknya. Ada banyak bagian pabrik yang tak boleh dilihat warga umum seperti saya. Gak apa-apa, sangat dimengerti.

Pak Kasdi, pegawai Kimia Farma yang bertugas di bagian teknik pemeliharaan memandu kami keliling Pabrik Kina. Ia tahu banyak perjalanan pabrik ini. "Saya kerja di pabrik dari tahun 1985," katanya.

Kami berjalan keluar pabrik yang luas totalnya kira-kira 5000m ini, dari gedung di Jalan Cicendo, ke gedung di Jalan Pajajaran. Masih gerimis. Sebagian dari kami berjalan seperti berlari.

Pabrik ini akan dikosongkan. "Pindah ke Banjaran, gedungnya di sana sudah siap!" ucap Pak Kasdi. Kabar Pabrik Kina akan pindah bergulir sejak tahun 2016 kalau tidak salah. Saya konfirmasi ke Pak Kasdi. Ia melanjutkan "produksi di sini kapasitasnya sudah gak cukup, harus pindah ke pabrik yang lebih besar."

Oh. Saya pikir karena lokasi pabrik ada di pusat kota makanya dipindahkan.

Dahulu ketika zaman kolonial, lokasi Pabrik Kina berada sekarang dianggap sisi luar kota. Sekarang mah kebalikannya. Manusia tambah banyak, pemukiman merajalela, jalanan digilas kendaraan mesin gak habis-habis.

Pabrik Kina dan Stasiun Kereta Api Bandung, lokasinya berdekatan. Tidak heran. Rel kereta jadi jantung transportasi angkutan kina. Baik dari perkebunan maupun pengiriman ke Batavia.

Terowongan Bawah Tanah Pabrik Kina

Pabrik ini unik juga. Sebab bukannya dirancang dalam satu kompleks yang sama, Gmeling Meyling -arsitek Pabrik Kina- merancang tiga titik bangunan yang lokasinya bersebrangan. Dahulu bila lori-lori yang bawa kina datang, melintas jalan ya biasa saja gak bikin macet atau membahayakan. Kirim antar bangunan pabrik pun gak masalah.

saya dan kubil

Namun saat jalanan berjejalan manusia dan kendaraan, dibangunlah terowongan bawah tanah untuk menghubungkan ketiga bangunan tersebut.

Ada terowongan untuk jalan manusia. Ada terowongan khusus kina.

Nah kami masuk ke satu terowongan itu. Langit abu-abu. Hujan rintik-rintik. Bila sebelumnya suasana terasa romantis dibungkus aroma tempo dulu, sekarang rada mencekam. Horor mengekor.

Sambutan sebelum masuk lorong bawah tanah bikin bulu kuduk meremang. Pak Kasdi bilang jangan melamun, jangan sompral, sampai dengan melarang orang yang pernah kesurupan masuk ke terowongan. Waduh. Tegang nian!

"Teh Ulu, itu anaknya dipegang terus ya," makin deg-degan hahaha. Anak kecil dianggap peka terhadap kehadiran makhluk halus. Saya sudah bawa Nabil bepergian ke banyak tempat, dari yang kotor sampai yang kinclong, dari yang busuk sampai yang mewah, dari yang bau sampai yang wangi termasuk dari yang antik-antik sampai dengan modern.

Ini anak gak pernah menunjukkan bahwa dia terganggu kehadiran mereka. Jadi saya pun santai saja. Tapi memang dia harus saya gandeng terus tangannya, takutnya nyangkut ke pipa atau jatuh.

Sepanjang lorong itu saya berjalan cepat sekali. Komat-kamit baca Al Falaq. Takut, Ceu :D

Panjang terowongan/lorong kira-kira 20m. Tangga menuju terowongannya curam. Suasana gelap dan terdengar suara air menetes-netes. Gak kebayang bila malam hari masuk terowongan itu. Becek pula. Belum lagi ada suara keras -yang sepertinya sensor- berbunyi 'bletuk!" setelah kita melewatinya. 'Nya' di sini entah apa, sebuah palang di atas kepala kami mungkin.

Keluar lorong, kami masuk ke area kuno. Sebuah bekas lokasi pengolahan kina, untuk diambil ekstraknya. Ada banyak besi berkarat. "Mesin-mesin di sini asalnya dari Belanda," terang Pak Kasdi. Ada menara seperti sutet atau pemancar. Entah masih berfungsi atau tidak, dari bentuknya seperti sudah mati.

Ada kolam beberapa buah. Di atas kolam ada lantai yang terdiri dari mesin-mesin berat. Di lantai itu kina diambil sari-sarinya, air hasil ekstraknya masuk ke kolam. Banyak yang berfoto di sini.

Bagi saya suasana di sini terasa seram. Tidak sehoror di terowongan, tapi sama saja auranya bikin ingin lekas beranjak dari sana.

Kalau saya pegawai Pabrik Kina, terowongan dan area bekas pengolahan itu akan jadi mimpi buruk saya. Heuheu.

Diorama Pabrik Kina 

Di seberang lokasi pengolahan ini, ada bangunan kuno. Ruang produksi liquid namanya. Wah ini bangunannya menarik. Fasadnya seperti menara. Koridor di sayap kanan dan kirinya manis sekali. Dengan kolom yang bentuknya persegi.

Kami menyaksikan pintu ke ruangan arsip, kecil bangunannya namun kokoh. Kuat pula. Pak Kasdi bilang gedungnya dibuat antiapi.

Saya sudah sebut kami gak lihat banyak di Pabrik Kina bukan? Nah tibalah kami di gedung terakhir yang kami boleh masuki. Ruangan rapat.

Pak Kasdi bawa kami kemari karena diorama. Bapak-bapak yang asalnya dari Cilacap ini cerita kalau diorama di dalam ruang rapat itu sudah ada sejak zaman Belanda. "Tahunnya berapa saya kurang tahu," ucapnya lagi.

Pak Kasdi dan Diorama Pabrik Kina.
Huruf BK dalam diorama inisial dari Bandoengsche Kinine, nama kolonial pabriknya. 

Masuk ke ruang rapat ini pun lumayan menyenangkan. Sebab bangunannya ala-ala kolonial. Dari lantai, kolom, pintu, dan jendela. Terlihat ada kanopi tambahan di sana-sini. Termasuk ruang-ruang yang sepertinya baru.

Dioramanya bagaimana?

Wah bagus sekali! Kelihatannya memang bergaya tempo dulu. Gaya-gayanya mengingatkan saya pada garis-garis arsitektur Artdeco. Diorama tesebut memperlihatkan kina sejak bentuk tanaman, pengolahan, sampai dengan kina siap pakai.

Menurut Pak Kasdi, bila Pabrik Kina pindah ke Banjaran, diorama gak akan dibongkar. Ia akan 'dimuseumkan'. Wacananya kan bila Kimia Farma resmi pindah ke pabrik baru di Banjaran, kompleks Pabrik Kina bakal dirancang sebagai tempat nongkrong: coworking space, museum, kafe, dan sejenisnya.

Si Heong, Sirene Pabrik Kina si Penanda Waktu

Ciri khas Pabrik Kina ada dua: menara seperti cerobong warna biru oranye yang kusam dan suara sirene.

Sirene berbunyi sebagai penanda waktu bagi karyawannya. Penanda waktu masuk, istirahat, dan pulang.

Oleh warga sekitar pabrik, suara sirene yang oleh mereka disebut Si Heong (karena bunyinya yang 'ngaheong') dijadikan patokan waktu juga.

Dahulu sirene berbunyi tiap jam 6.30, 12.00, dan 15.00. Tiga kali saja. Sekarang sirenenya ngaheong empat kali dan di waktu yang sedikit beda dengan yang dulu.

Jangkauan suara sirine tidak seluas dulu. Bandungnya sudah bising dan ada beberapa bangunan tinggi di dekat pabrik. Seperti mall BEC, Rumah Sakit Cicendo, dan hotel-hotel.

Asal suara ini dari ketel uap buatan abad 19 merek Babcock & Wilcox (B&W). Tapi itu dulu. Dianggap tidak ramah lingkungan, tahun 1995 sirenenya diganti dengan alat yang lebih modern.

Sejarah Kina di Bandung

Pernah ada pohon kina di Pangalengan. Jejaknya sudah putus. Habis. Hilang. Padahal tercatat ada lima pohon kina yang disebut-sebut 'akina kina' alias kakeknya kina alias leluhurnya pohon kina di Indonesia. Tentang pohon kina ini saya baca kisahnya di buku Kisah Para Preanger Planters.

Frans Wilhelm Junghuhn -yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Budidaya Tanaman Kina di Jawa- merintis perkebunan kina, 32 tahun sebelum Pabrik Kina berdiri.

Kina berasal dari Peru. Saat Junghuhn meneliti kina, didapatilah fakta bahwa kina yang ia semai dan budidayanya mencapai angka 1,1 juta pohon, mutunya buruk. Jelek. Kinanya jelas tidak terpakai. Jabatannya dicopot. Junghuhn kecewa.

Dari buku yang saya baca - masih dari Kisah Para Preanger Planters, tulisan Her Suganda- kina yang diproduksi besar-besaran adalah kina yang pemerintah Hindia Belanda beli benihnya asal Bolivia. Tahun 1865 waktu itu. Van Gorkom adalah orang di balik kina yang diproduksi besar-besaran ini.

Terbukti kinanya bermutu bagus, tahun 1896, pemerintah kolonial mendirikan Pabrik Kina atau yang dahulu bernama Bandoengsche Kinine Fabriek di bekas lahan perkebunan karet. Kejayaan pabrik ini kira-kira begini: pernah produksi 1000 ton kina.

Seribu ton, cooyyyyyy! Ke mana itu uangnya pergi yak hahahaha ke negeri Belanda nih jangan-jangan, jadi DAM, jadi trotoar, jadi perpustakaan, jadi kincir angin, atau buat reklamasi. Khekhekhe :D













Apakah kalian ingin melihat foto terowongannya? :D 
16 comments on "Jalan-jalan Melihat Pabrik Kina, Pabrik Berusia 122 Tahun"
  1. Wah terpotong? Seru yaaa jjsnya. Duh bener kana ya dana hasil penjualannya. Coba sekarang seperti itu, murni milik bandung dan jabar. Makmoer kita 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terpotong apanya, Teh? Kita harusnya makmur kok walo tanpa pabrik kina, teh. Salah urus aja. Hehe.

      Delete
  2. penasaran sama terowongannya, mau lihat donk fotonya :)

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen ngajakin neng awah ke pabrik Kina juga nih, seru nya lu bisa belajar sejarah sambil jalan - jalan ieu mah judulna

    ReplyDelete
  4. Sering lewat sini niihh. Ternyata sejarah pabrik Kina menarik ya Teh. Aku penasaran sama terowongan bawah tanahnya daa haha

    ReplyDelete
  5. Mau dong terowongannya, bacanya kayak bayangin uji nyali gitu. Dulu sering lewat pabrik Kina cz dari sekolah jalan kaki buat olahraga di Gor Pajajaran

    ReplyDelete
  6. Karena serem, aku jadi penasaran pengen ke terowongan bawah tanahnya hahaha sesekali uji nyali tapi bareng-bareng wkwk

    ReplyDelete
  7. Wah.... mana teh fotonya yg diterowongan. Suka sama gaya bahasa teteh, aku berasa ada dilokasi padahal lagi baca sambil leyeh2, keren. Tp ini kina buat dijadiin obat apa ya?

    ReplyDelete
  8. Wah, seru nih bisa lihat ke dalemnya. Selama ini cuma lihat2 dari luar aja. Gak terbuka buat umum ya? Ihiks... mupeng :)))

    ReplyDelete
  9. Wah langka pisan bisa sampai masuk ke Pabrik Kina,,,

    ReplyDelete
  10. iya penasaran sama terowongannya teh ga bole foto kah teh?bisi aya nu nampaknya hehhe ntar didatangin jurnal Risa 😂

    ReplyDelete
  11. Teh meni seru lah jalan-jalan sejarah gini tuh, pengen atuhlah ikutan heritage lovers. Secara akutu belanda mania 😂

    ReplyDelete
  12. Wah asyik..sering lewat tp ga pernah masuk ke dalamnya aja..

    ReplyDelete
  13. Uluuu, baru tahu kalo 90% supplier Kina tuh asalnya dari kita. Kok keren sih!

    Itu beranian Ulu & Nabil di terowongan kalo aku kayaknya udah ciut duluan da :(

    ReplyDelete
  14. Uluuuu.... akutu penasaran banget sama pabrik kina dalemnya kayak apa. Cuma bisa lihat luarnya doang huhu

    ReplyDelete
  15. mauu dong teh liat terowonganya...

    ReplyDelete