Melacak Jejak Kampung Dobi Bersama Aleut dan Ingatan Tentang Mata Air di Cipaku

October 03, 2016
Dobi yang saya tahu adalah peri di film Harry Potter. Kalau Dobi di Bandung apa artinya?

Karena Penasaran saya daftar jadi peserta Ngaleut pada hari minggu 2 Oktober 2016. Judul acara jalan-jalan Komunitas Aleut hari itu adalah melacak jejak Kampung Dobi di Bandung. 

Kampung Dobi merupakan salah satu yang tertua. Dobinya sudah tidak ada. Jadi cuma bisa lihat bekas-bekasnya doang. 

Stasiun kereta api Bandung jadi titik pertama kami berkumpul. Jam 8 pagi di bawah langit yang kelabu, kami beranjak menuju jalan-jalan kecil di depan stasiun. Ada Jalan H. Akbar dan Jalan Mesri. Nama jalan lainnya saya gak ingat (dan gak cari tahu di peta :D).


Kolam mata air Ciguriang


Jadi apa itu Dobi?

Dobi adalah laundry. Pencuci pakaian, maksudnya. Dobi itu artinya orang yang punya skill mencuci pakaian, sampai-sampai jadi profesi yang termashyur. Kampung Dobi gak cuma ada di Bandung, tapi terdapat di sepanjang Sumatera hingga Jawa. Dobi bisa jadi berasal dari Bahasa India, karena di India sana juga ada Dobi yang artinya sama. 

Kalau orang zaman sekarang gak mau cuci pakaian sendiri, perginya ke Laundry. Nah orang zaman dulu perginya ke Kampung Dobi. Mereka yang minta pakaiannya dicucikan ini termasuk orang-orang Belanda. 

Tiap hari Dobi-dobi mencuci, selalu pada malam hari. Nyuci bajunya di samping mata air Ciguriang. Pakaian dibanting-banting, digosok-gosok dengan sabun batangan. Sabun ini mereka gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan juga. Satu sabun, untuk semua kegunaan :D 

Karena nyucinya malam hari, geng Dobi ini sambil nyuci sambil nyanyi. Bertalu-talu dengan pakaian yang mereka banting-banting ke batu (papan) penggilasan. Sebenarnya tujuannya supaya semangat aja sih, karena kalau gak nyanyi mungkin suasananya sepi dan bikin ngantuk kali ya :D 

Kampung Dobi di Bandung terletak di belakang Jalan Mesri. Tepat di belakang GOR Pajajaran. 

Kata bapak-bapak tua yang merupakan warga setempat dan mendadak jadi narasumber kami, dahulu pohon di Kampung Dobi lebih banyak lagi. Ada pohon Aren (Kawung) makanya di situ disebut Kebon Kawung. Juga dua pohon Kiara yang menaungi kolam mata air Ciguriang. 

Saya lihat ada satu Pohon Aren sih, kurus dan menjulang tinggi dengan dahan-dahannya yang kering. Apa itu satu-satunya sisa pohon dari masa lampau? Ternyata bukan. Baru ditanam sih, ya sekitar puluhan tahun namun bukan dari tahun 1900an. 

Melihat ada satu Pohon Aren aja di situ saya kok rasanya agak sedih ya. Memperhatikan Pohon Aren dan memendarkan pandangan menyaksikan pemukiman, kolam mata air yang jernih dan di sisinya ada sampah, juga menatap sisa tempat para Dobi mencuci. Diselingi bau pesing yang menyeruak dan angin yang sejuk karena kami berdiri di bawah pepohonan rindang.

Dahulu seperti apa ya pemandangannya. Mencuci pakaian di tengah kebon kawung. Terus kan airnya dingin banget. Bagaimana cara mereka menghangatkan diri? Kayaknya bersiduru kali ya, di sekitar situ ada kompor kayu mungkin. Kan mereka harus minum atau mengemil sesuatu supaya tubuh tetap hangat. Berarti harus ada yang mengirim air minum dan makanan kan. Eh gimana sih hehehe rasa penasaran makin menjadi-jadi. 

Sayang sekali orang yang berprofesi sebagai Dobi sudah meninggal. Gak ada jejak hidup yang dapat kami ulik sejarahnya. Padahal ingin sekali bertanya pada mereka. 

Berapa pakaian yang mereka cuci dalam waktu semalam? 
Berapa upahnya?
Nyucinya tiap hari?
Gimana rasanya mencuci pakaian pada malam hari hingga fajar menyingsing di bawah naungan pepohonan rindang? Serem gak? :D Ada pengalaman horor gak? (halah)
Siapa kliennya? Ada orang terkenal gak?
Setelah dicuci, pakaiannya disetrika gak?
Kampung Dobi ini asli orang Bandung semua atau ada pendatang?

Arya cerita sewaktu Komunitas Aleut ke Kampung Dobi di tahun 2011, masih ada yang mencuci di tempat pencuciannya ini. Mereka lihat sendiri. Sementara si bapak tua itu bilang terakhir kali Dobi-dobi mencuci adalah di tahun 80an. Mungkin yang Aleut lihat waktu itu warga yang sedang mencuci pakaiannya sendiri ya. Bukan Dobi. Ah entahlah. 

Di sekitar Kampung Dobi ini banyak mata airnya. Bersama Aleut saya lihat satu mata air lain selain Ciguriang. Namanya Susi, Sumur Siuk. Mata air ini kondisinya jauh lebih bersih dan terjaga. Di sisi mata air ada bangunan yang terdiri dari kamar mandi. Warga setempat masih mencuci dan mandi di situ. Ambil airnya gampang banget, tinggal disiuk alias tinggal diambil dengan cibuk dan byur byurrr tumpahkan ke tubuh sendiri. 

Sumur Siuk ini dangkal. Sekitar 3 meter kali ya. Bentuknya melebar seperti kolam. Tiap sisi dibangun dinding setinggi 3 meter dan atapnya terbuka. Saya gak tahu sih di belakang dinding itu ada apa. Semoga gak ada yang bawa tangga dan ngintip orang mandi karena kamar mandinya terhubung langsung ke Sumur Siuk ini. Kamar mandi mah beratap. Mata airnya yang enggak. 

Air di Sumur Siuk ini jernih sekali. Saya bisa lihat dasarnya. Rasanya aneh lihat ada mata air yang sanggup bertahan di antara kepungan pemukiman. Alhamdulillah. 

Dari Sumur Siuk, Aleut berjalan lagi. Kami balik arah karena ada urusan lain jadi gak ikut Ngaleut hingga acara selesai. Kalau lihat foto-foto acaranya, mereka mengunjungi mata air lainnya. 

Bandung memang terdiri dari banyak mata air. Namanya juga pegunungan. Di tempat saya tinggal sekarang, Ledeng, juga pernah ada banyak mata air (banyak bangetngetgetnget). Sayang sekali mata airnya sudah pada kering. Satu mata air terdekat dari rumah ada di tebing, di Cipaku. Menuju ke sana kami harus turun tangga yang curam-curam ukuran tangganya. 

Karena kakek saya yang memperbagus kondisi mata airnya dan beliau juga yang membangun akses berupa tangga, termasuk kakek saya juga yang membangun tempat pencucian, maka Pak Aki -panggilan saya untuk kakek- yang memberi nama untuk mata air tersebut. 

Beliau menamakan mata airnya Ci Iim. Ci = air. Iim = nama anak kesayangannya (Siti Fatimah, nick namenya Iim). 

Ci Iim dan mata air lainnya yang ada di dataran lebih tinggi mengairi pesawahan di Cipaku. Yes, Cipaku itu dulunya lembah yang bisa jadi tadinya hutan sih. Cuma saya ingatnya Cipaku itu sawah luaaaaas sekali. Hijau membentang dan di sisi sawahnya ada pemukiman penduduk dan hutan. Sawah-sawah itu milik kakek saya. Dulu keluarga besar saya sering botram (piknik makan-makan) di saung di sawah Cipaku. Sekarang sawahnya sudah tidak ada, sudah jadi perumahan. 

Jejak mata airnya masih ada, tapi ya tinggal puing-puing. Mata airnya sudah tinggal kenangan. Sudah mati. Kakek saya pun sudah meninggal di tahun 2008. 

Ya begitulah cerita Ngaleut hari minggu kemarin. Ngaleut yang menyenangkan sekaligus membuat saya agak sedih sih karena ingat Pak Aki, Ci Iim, dan kenangan indah akan pemandangan sawah-sawah di Cipaku. 


berkumpul di depan Stasiun Bandung

Arya, pemandu dari Komunitas Aleut

Rumah Haryoto Kunto, penulis buku-buku Bandung tempo dulu
Menatap rumah Pak Kunto dan mendengar Arya cerita

Pohon Aren (Kawung)
Bekas 'papan' penggilasan pakaian



Di komplek pemakaman keluarga Mesri
Di jalan gang yang sempit, di Sumur Siuk
Sumur Siuk, difoto pake ponsel

Foto : Nurul Ulu, Indra Yudha



Foto-foto lebih banyak ada di fanpage Bandung Diary.


12 comments on "Melacak Jejak Kampung Dobi Bersama Aleut dan Ingatan Tentang Mata Air di Cipaku"
  1. Manusia berubah lingkungan mengikuti ya Mbak. Begitu pula penemuan teknologi merubah beberapa profesi. Dari kampung dobi menjadi laundry, dari hamparan persawahan menjadi hamparan perumahan. Cerita yang sangat menarik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih :)

      Iya, tapi kenapa di Jepang mah teknologi dan lingkungan masih selaras ya? Apa mungkin kelihatannya sekilas begitu kali ya :D

      Delete
  2. wah seru ya ikutan komunitas Aleut bisa tau tempat2 bersejarah di Bandung, jadi pengen ikutan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nya sok atuh ikutan, Bud. Tiap hari minggu deh, cek IG mereka aja, namanya sama Aleut.

      Delete
  3. Menarik sekali ceritanya, seiring berjalannya waktu profesi dobi tergerus dengan jaman Dan GA menjanjikan lagi
    Ditengah kota Bandung masih ada Mata air yang masih jernih yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya bisa jadi karena teknologi juga, lebih cepet, lebih murah mungkin. iya saya juga gak nyangka euy, tapi kalo musim kemarau mah katanya kering mata airnya.

      Delete
  4. Sumur Siuknya itu yang menarik. Semoga di masa mendatang masih senantiasa ada airnya.

    ReplyDelete
  5. Wahh baru tahu lho ulu, ada profesi namanya dobi, ada perkampungan nya juga..mencerahkan bingit tulisanmu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Acaranya yang mencerahkan, Mba Dewi. Saya nulisin doang ceritanya hehehe

      Delete
  6. Baru sekali saya ikut komunitas untuk jalan abreng ke tempat dan mengulas sejarahnya. Itupun di Malioboro. Dari sana ketahuan sekali informasi tentang sejarah yang kuketahui benar-benar masih sangat dangkal :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kaaan? :D ayo sering-sering ikutan acara kayak gitu, Mas. hehehe

      Delete