Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung I

September 20, 2014
Saya terkejut waktu tahu kalau pohon bisa kita gunakan sebagai landmark alias penanda. Iya sih sebagai generasi 90an, saya sering janjian dengan teman-teman waktu zaman sekolah dulu di bawah pepohonan. "Ketemu di depan gang deh ya, yang ada pohon beringin besar itu loh". Tapi tidak pernah tahu kalau pohon bisa dijadikan penanda suatu tempat. Utamanya penanda jalan. Jadi ya kejadian-kejadian spontan janjian di tempat yang ada pohon tertentu (misalnya besar dan langka) saya anggap biasa.

Sampai saya ada di Bandung dan Gele yang ngasihtahu. Ada dalam ilmu tata ruang dan arsitektur, pepohonan bukan makhluk hidup yang berfungsi sebagai peneduh dan penampung air saja. Tapi juga bisa kita tanam sebagai penanda/landmark.

Kalau dari segi fungi ekologi ah sudah pada tahu kan ya. Pepohonan bisa manampung air hujan, mengeluarkan oksigen yang bikin adem, menyerap udara kotor dan ada lagi nih yang menurut saya penting banget: menahan angin.

Kalau kata geograf penulis buku Bandung Purba, Toponomi Bandung, dan Geowisata Cekungan Bandung, T Bachtiar, semakin sedikit pohon di suatu tempat maka akan semakin sering terjadi angin ribut, banjir heboh padahal hujan cuma 30 menit turunnya, pemakai jalan kepanasan dan mudah gelisah lalu marah-marah. Wow ini semua sudah mulai terjadi di Bandung. Saya mengalami sendiri.

Secara arsitektural *halah gaya sekali ini bahasannya* pepohonan menambah nilai keindahan kota. Dibanding bangunan dan gedung megah yang kesannya kaku, pepohonan memberi kesan lembut dan sejuk. 

Kembali ke pohon sebagai penanda.

Pada tahu Jalan Dago kan? :D Tahu tidak di kanan dan kiri ruas jalan ini berbaris pohon Damar. Memang gak sepanjang jalan yang resminya bernama Jalan Djuanda ini sih. Tapi pada ngeuh gak sama pemandangan pohon Damar di Dago? 

Bagaimana dengan Jalan Cipaganti. Jalan yang jadi jalur turis ini jadi rumah buat Pohon Mahoni. Pernah merhatiin gak pohon mahoni di jalan cipaganti? 

Lalu Pohon Angsana, Pohon Ki Acret, Pohon Kersen, dan masih banyak pepohonan lainnya di ruas jalan di Bandung. 

Dahulu untuk menandai suatu kawasan, pemerintah Belanda menancapkan pepohonan tertentu. Dipilih berdasarkan keindahan dan fungsinya. Jalanan yang berpotensi membuat pemakai jalan kepanasan akan disiasati dengan menanam pohon-pohon peneduh yang disesuaikan dengan kokoh tidaknya akar pohon, setinggi apa pohon tersebut nantinya, apa efeknya untuk lingkungan sekitar sekali hanya meneduhkan.

Gak sedikit sih pepohonan yang sudah mati dan tumbang lalu pemerintah kita menggantinya dengan pohon yang lain. Terkadang pohon baru yang ditanam kemarin-kemarin itu melenceng dari konsep tata ruang yang pemerintah Belanda pernah buat.

Apalagi sekarang. 

Kecanggihan teknologi dan penambahan jumlah penduduk menggeser pemandangan sekitar.  Pohon ditebang, gedung dibangun, jalan raya diperlebar. Kita lupa dengan nama pohon. Lebih asyik menunduk cek timeline di twitter dibanding memerhatikan pemandangan jalan raya yang kita lalui. Nama pohonnya saja tak tahu, begitu juga daun, bunga, dan perawakan pohonnya seperti apa. 

Ah generasi macam apa kita ini. Masa depan Bandung di tangan kita dan anak-anak kita, Pohon Damar saja tak tahu yang mana. 

Ayo kita mulai pelajaran tentang pepohonan di pinggir jalan kota Bandung ini:

Pohon Angsana di Bandung
2 comments on "Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung I"
  1. saya gak pernah perhatiin sampe begitu, Mak. Baru tau kalau jadi penanda jalan.

    Pohon angsana itu cantik banget kalau udah berwarna kuning semua. Trus, bunganya berguguran. Kayaknya gak perlu jauh2 ke luar negeri hihihi. Cuma, agak jarang melihat angsana itu bergerombol

    ReplyDelete
    Replies
    1. di sekitar ruas jalan kecil dipati ukur masih banyak Angsana. Di belakang jalan Dago juga. btw ini sebenernya tulisan belum fix hehehehe

      Delete