Pengalaman paling berkesan di Tegal yang sangat panas itu adalah makan siang di kantin Lima Sari. Lokasinya di Gang Kimto. Kami berkenalan dengan pemilik sekaligus koki yang memasakkan kami nasi goreng yancho dan mie ayam: Tante Wiwin. Ia, dengan penuh simpati, menaruh kipas angin tambahan dekat meja makan agar kami tidak kegerahan.
Mulanya saya dan Retna hendak menuju Nasi Lengko Lumayan di Gang Kimto. Dari stasiun kereta api kami gunakan googlemap untuk menuntun ke sana. Namun yang tidak kami ketahui, kami berjalan memutar masuk ke belakang jalan utama dan membelah pasar.
Saat mulai mempertanyakan apakah kami ini kesasar, ketemulah gang yang dimaksud dan saya langsung kalap bersukacita.
Karena sepanjang gang tersebut berjajar banyak rumah tua. Kira-kira mirip di Kauman Jogjakarta. Rupanya kami masuk ke Gang Kimto dari arah belakang. Bukan mulut gang bagian depan.
Saya foto jendela tua. Retna memotret pintunya. Kami berusaha tidak berisik dan tidak mengganggu para penghuni. Gangnya sempit, lebarnya hanya muat dua motor. Sesekali motor dan pejalan kaki lewat.
Tidak sengaja di gang tersebut kami bertemu sebuah rumah tua yang juga kantin bernama Lima Sari. Saya putuskan makan siang di situ saja. Retna setuju. Suasana yang hening dan dikelilingi rumah tua menambah kesan makan siang yang istimewa.
Tante Wiwin menyambut ramah turis-turis basah kuyup karena keringat ini. "Darimana?" tanyanya. Kami menyebut nama Bandung dan ia menyambar "ohhh Bandung! Bandung tuh enak tapi sayang jalanannya sempit! macet!" kami tertawa. Tanda perkenalan yang manis.
Saya memesan nasi goreng dan Retna memilih mie ayam.
Saat menyantap makan siang itu, suara ‘dug—dug-dug’ dari tembok sebelah terdengar keras, rapi, bertempo, dan gagah. Suaranya berlangsung agak lama, bertalu-talu sepanjang kami berada di sana 1,5 jam. Suara apakah itu, tanya saya pada Tante Wiwin.
Ibu-ibu bersuara lembut ini cerita bahwa ibunya pedagang bakso sejak tahun 1969. Produksi baksonya rumahan dan ia lakukan sendiri. Tante Wiwin dan ibunya masih tinggal serumah. Kantin dan produksi baksonya bersebelahan. Suara yang kami dengar adalah suara pisau golok mencincang daging sapi dan ikan dari balik dinding.
“Maksudnya, ibunya Tante Wiwin yang cincang daging? sendiri?” tanya saya memastikan.
"Iya, ibu saya masih cincang daging sapi sendiri," katanya lagi. "Umurnya 84 tahun, tangannya kuat wong kalau nonton tv sambil olahraga barbel,” Tante Wiwin cerita sambil memperagakan adegan angkat barbel ke atas kepala dan bawah.
“Gak pake mesin aja, Tante? kayak blender kan ada yang khusus buat daging," tanya saya sambil elus-elus lengan saya yang berlemak itu.
Ibunya Tante Wiwin tidak mau mencincang dengan blender/chopper karena dagingnya nanti akan berair. “Gak bagus buat adonan bakso,” ucapnya.
Saya bertanya lagi. Kalau boleh tahu berapa berat barbel yang digunakan ibunya Tante Wiwin. “Ah paling sekiloan aja,” jawabnya. Ia menambahkan “jualan baksonya juga sehari sekarang paling banyak lima kilo.”
Saya dan Retna berpandangan. Sepertinya di Bandung nanti kita harus rajin olahraga barbel, Na. Retna setuju. Mungkin angkat barbelnya sambil nonton drakor atau skroling reels.
Berarti sudah 55 tahun mereka berdagang bakso. Sudah puluhan tahun juga ibunya Tante Wiwin olahraga angkat beban -sambil nonton tv- agar kekuatan otot tangannya terbangun dan sanggup mencincang daging sapi sendiri. Walah betapa ini fakta yang menakjubkan.
Saat pamit pada Tante Wiwin, kami mengintip-ngintip ke jendela sebelah. Di sanalah ada sosok perempuan sedang berjalan perlahan, agak bungkuk, tersenyum pada kami, dan sedang siap-siap mau mencincang daging sapi entah batch cincangan yang ke berapa.
Usia pensiun, masih olahraga angkat beban sambil nonton tv, masih bekerja mencincang sendiri daging sapi, masih berjualan. Inikah yang namanya slow living itu?


















