Tanah Air yang Hilang, Resensi Buku

October 28, 2018
Ternyata ada yang lebih berat dari beli buku dan membacanya. Yaitu mengembalikan buku yang saya pinjam. Sebelum bukunya saya kembalikan, saya mau nulis resensi Tanah Air yang Hilang.

Ehe iya ini bukunya temen saya bernama Gegep (tengkyu, Gep!). Ayo kita mulai. 

Judul : Tanah Air yang Hilang
Penulis : Martin Aleida
Penerbit : Kompas
Halaman : 325
Cetakan pertama : 2017

Buku ini mengumpulkan cerita 19 orang Indonesia yang dipaksa/terpaksa kehilangan tanah air. Paspor mereka dicabut sehingga mereka harus mencari tanah air yang baru. 

Begitulah bunyi halaman pembuka buku ini. Ini buku pertama bertema eksil yang saya baca. Oleh karena itu, saya gak punya buku pembanding sebagai referensi tambahan untuk menulis resensi ini. 




Martin Aleida mewawancarai eksil yang bermukim di Eropa. Ia wartawan Kompas yang pernah mendekam di penjara setahun lamanya karena peristiwa G30S. Nasibnya jauh lebih beruntung dari rekan yang lain yang mengalami penyiksaan dan ditawan lebih lama.

Bila kamu bertanya-tanya, kenapa Martin ditangkap? Baca aja di bukunya ya. Spoiler atuh saya ceritain di sini mah. 

Di umurnya yang tak lagi cerkas dan muda, ia mendatangi eksil dan mendaras cerita dari mereka. Sejak tahun 2016 misi tersebut dilakukan, selama tiga bulan. 

Di Prancis dan Ceko ke Belanda dan Jerman. Di sana bertemu muka dengan para eksil.

Dari 19 tulisan di bukunya, ada satu tulisan yang Martin tumpahkan dalam bentuk cerpen. Sebab orang yang ia wawancara meminta nama suaminya tidak disebut. Nah cerpen bertajuk Tanah Air itulah karya Martin yang pertama saya baca, sebelum saya kenal buku Tanah Air yang Hilang ini. Bab terberat adalah si cerpen ini. Karena melibatkan sebuah proses tragis bernama bunuh diri. 

Mungkin kamu pernah ingat, ada tulisan dari web Vice yang viral. Kira-kira judulnya tentang satu generasi intelektual yang hilang akibat G30S. 

Di buku ini, saya mengetahui para intelektual tersebut. 

Tahun 1960an muda-mudi pintar nan cerdas ini dikirim pemerintahan Soekarno belajar ke negara blok Timur. Fyi, gak semua dari mereka pro Uni Soviet. Ada juga anak petani miskin niatnya hanya mau belajar lalu pulang ke Indonesia menerapkan ilmunya. 

Pada bab berjudul Saya Masih Bisa Hidup, saya mengenal Waruna Mahdi. Sarjana kimia lulusan Moskwa. Saat ini ia bekerja di lembaga penelitian terpandang di dunia di Jerman. 

Di bab Penderitaan di Indonesia Menyemangati Hidup Saya, ada Sunarto sarjana teknik industri yang bekerja di Berlin menjadi sopir taksi. 

M. Djumaini Kartaprawira, lulusan S3 Hukum di Uni Soviet dan bekerja di institut forensik bidang hukum di bab Dari Rusia Untuk Cinta Paling Agung. 

Bayangkan saja. Umur masih 20an, otak sedang moncer-moncernya mendaras ilmu, dapat beasiswa sekolah di luar negeri, lalu tahun 1965 paspor dicabut. Gak bisa lagi pulang ke tanah air sendiri. Di era Soeharto mereka harus menutup diri sebab ada ketakutan keluarga di Indonesia tertimpa getahnya. 

Meski berisi wawancara, tulisan Martin membuai seperti kita sedang baca cerita pendek. Dengan gaya tulisan yang antik, getir, dan romantis. Perhatikan saja judul tiap babnya: 

Kerut di Matanya Begitu Dalam
Sedih Sesedih-Sedihnya
Musim Gugur di Tiongkok, Musim Bunga di Eropa
Sengsara Tapi Ada Cahaya
Cinta Tak Mati-Mati di Daratan Jauh
Dari Rusia Untuk Cinta yang Paling Agung
Wanita Pala di Amsterdam

Martin mewawancarai bukan hanya eksil pro soekarno, tapi juga mereka yang menurut saya cenderung komunis. Gak banyak memang. Kisahnya pun diurai sedemikian implist sehingga gak kelihatan banget komunisnya. 

Secara rinci eksil-eksil ini cerita detik-detik setelah terjadi G30S di Indonesia. Proses screening di kedutaan bagaimana, cara mereka keluar dari Sovyet bagaimana, kerjanya apa, nikah dengan siapa, bagaimana kehidupannya setelah era Orde baru berakhir. Termasuk latar belakang mereka sebelum berangkat disekolahkan Soekarno. 

Bukan hanya mereka tercerai dari keluarganya di tanah air, sebab bila saling kontak atau memberitahu detail keluarganya bisa-bisa dihabisi antek Soeharto dan dibenci tetangga. Tapi juga ada yang keluarganya berpikir mereka gak pulang sebab lupa tanah air keenakan hidup di luar negeri. Saya cuma yang ya ampun kok bisa! Saking hilang kontak sampai begitu kisahnya. 

Tanah Air yang Hilang masuk daftar buku favorit saya. Seperti biasa kalau cetakan Kompas (Gramedia), teknis rancangan bukunya bagus-bagus. Sedikit typonya, ukuran huruf yang nyaman untuk mata, dan rapi susunan bab dan organisasi tata letaknya. Rasanya gak lihat ada typo di buku ini. 

Begitulah. Resensi yang pendek dan gak cukup membantu kamu mengetahui apa buku ini cocok untuk kamu ya? :D Saya menulisnya buru-buru sebelum bukunya saya kembalikan siang ini. Hahahaha. Coba dibrowsing saja lagi bukunya, siapa tahu ketemu resensi yang bagus. 

Namun bila kamu tertarik sejarah masa lalu kemerdekaan negeri ini dan romantisme kisah mereka yang paspornya dicabut dan dilarang pulang ke tanah air, maka ini buku yang tepat. Ditulis oleh ia yang pernah jadi korban kebengisan Orde Baru, tentang orang-orang yang juga jadi korban dari kezaliman Soeharto. 

Kalau kamu pernah nonton film Surat Dari Praha dan juga pernah menyaksikan pertunjukan teater boneka berjudul Secangkir Kopi Dari Playa, keduanya punya tema yang sama dengan buku Tanah Air yang Hilang. 

Perasaan saya usai menonton filmnya, teater itu, dan baca bukunya menghasilkan suasana yang sama, yakni temaram, getir, dan sedih. Namun mengutip kalimat I Ketut Putera, eksil yang bermukim di Sofia, Ceko: sengsara, tapi ada cahaya di dalamnya. Iya, meski ngenes, tapi saya baca kisah hidup mereka, ada cahaya di sana. 


Post Comment
Post a Comment