Kerinduan Pada Hidangan Pesisir

December 02, 2017
“Neng, ayo. Sebentar lagi sampai.”

Indra –suami saya- membangunkan. Ia mengemas tas bawaan kami, bersiap turun dari ular besi. Laju kereta api melambat, pertanda akan berhenti. Dalam waktu beberapa menit lagi saya tiba di kampung halaman, bertemu muka dengan hawa panas menyengat.

Dari Bandung kami berangkat pagi-pagi. Hampir empat jam perjalanan, Cirebon kini kami pijaki.

Kedatangan saya di Kota Udang berawal dari sebuah kerinduan. Kangen kampung halaman. Rindu tanah leluhur. 15 tahun bermukim di Parijs Van Java, saya kembali ke Cirebon membawa misi berbeda: membedah perjalanan sejarah kota itu seperti saya mengulik sudut-sudut kota Bandung.

Saya tidak sendiri. Saya ajak tim kecil yang terdiri dari Indra, juga anak kami bernama Nabil yang umurnya lima tahun. 

Mengupas sejarah kota yang dahulunya perlintasan bangsa-bangsa ini sepertinya menarik bila dimulai dari sesuatu yang ringan namun legendanya panjang: kuliner. Berlibur dua hari satu malam di Cirebon, misi saya menuntaskan rasa rindu pada hidangan pesisir. 


******

Suara kereta api menderit. Bayangan romantika pulang kampung berbayang saat berada di stasiun kereta api Cirebon. 


Indra menggandeng tangan saya. Saya menggenggam tangan Nabil. Keluar stasiun, bertiga kami menyongsong hawa panas Kota Udang.

"Mau langsung makan?" Indra mengelus-elus perutnya, si gembul itu bertanya seperti mengajak. Saya mengiyakan, di dalam kereta api cuma makan sedikit.

Saya cek jam tangan "jam setengah sebelas, mau makan besar atau ngemil aja?"

"Makan besar," jawab Indra mantap.

Seperti naga di perut Indra, anakonda di perutku pun sama gelisahnya. Di Jalan Siliwangi saya menyetop becak. Hendak ke mana kah kami bertiga?

Menuju sebuah rumah makan di ujung batas utara kota Cirebon!

******

Empal Gentong Krucuk jadi pembuka jelajah kuliner kami di Cirebon. Menumpang becak, lima menit waktu tempuhnya dari stasiun.




Hampir jam makan siang. Tiga porsi empal gentong tersaji. Kepul panas dari kuah empalnya menguar. Kami endus wanginya, lapar semakin liar.

Banyak orang menyamakan empal gentong dengan gulai. Saya sendiri merasa makanan legendaris ini serupa soto bersantan. 


Empal Gentong terdiri kuah dan bahan-bahan daging berlemak sapi. Di permukaan kuahnya ada potongan daun kucai, membuat aromanya lebih istimewa.

Memandang empal gentong rasanya seperti bertemu kawan lama. "Hello again, my old friend!" ucap saya sebelum makan.

“Gak ada yang kayak gini di Bandung,” Indra berseri-seri. Sendok demi sendok nasi dan empal ia jejalkan ke mulut sembari mendengar ocehan saya tentang masa kecil, bahwa nenek saya adalah bos paren. DI waktu senggangnya ia berkebun daun kucai yang beliau jual perikat Rp1.000. Daun kucai bisa kita temui juga dalam seporsi nasi lengko.


Ngomong-ngomong kalian tahu paren tidak? Padi yang habis ditumbuk, dikarungin, dijemur, dan dikarungin lagi. Nah itulah paren. Di dalam paren itulah beras berada. Di rumah kami punya satu gudang besar yang isinya berpuluh-puluh paren. Nenek saya bekerja urus sawah. Panennya setahun tiga kali. 35 juta paling tidak ia dapatkan dalam setahun. Kecil atau besar itu jumlah, saya tidak tahu. Kami gak pernah foya-foya ala orang kaya pun. Ayah saya saja mesti teruskan sekolah ke SMF dan bangku kuliah mencari biaya sendiri. 

Di daerah saya tinggal dulu, di pesisir Jawa Barat ini, profesi terbanyak jadi petani dan nelayan. Jadi PNS levelnya dianggap lebih baik. Bos-bosnya petani, nelayan, dan toko material besi biasanya yang terkaya. Termiskin ya dua profesi yang saya sebut tadi. Keluar dari jerat kemiskinan, biasanya jadi TKW. Ada juga yang cari jalan pintas seperti melacurkan diri. Jadi PSK, ada banyak di sana. Dulu ya, entah sekarang bagaimana. 

Kembali ke empal saja. 

Berjam-jam empal dimasak dalam kuali (gentong), bergolak selama 7 jam, apinya berasal dari kayu bakar. Kayunya mesti lah kayu pohon asam, kayu dari pohon mangga pun jadi. Bumbu meresap kuat-kuat di dagingnya, melekat dalam pada kuahnya. Barulah ideal disantap.

Cuaca dan makanan memang sepaket. Dalam dekapan hawa Cirebon yang hangat dan empal gentong yang mahanikmat, keringat kami bercucuran deras! 


Anehnya, usai makan badan ini terasa lebih sejuk.

Naga dan ular di perut kami tenang sudah. Tapi saya tahu kali ini mereka ingin sesuatu yang manis, dingin, dan menyegarkan. Penawar lemak-lemak empal gentong.

Krucuk kami tinggalkan. Menuju Jalan Karanggetas kami menumpang angkot warna telur asin. Es Kopyor 4848 menanti kami di sana.

Satu gelas es kopyor ditukar dengan tiga lembar uang sepuluh ribu. “Mahal,” Indra bersungut-sungut. Jelas saja mahal namanya juga kopyor.





“Tapi enak banget, kan? Terenak sedunia!" saat saya berkata demikian, Indra sudah mau nambah satu gelas. Hahaha. 

Kopyornya banyak satu gelas terisi. Dimasukan juga susu (kental manis) dan sedikit cairan gula. Terakhir, sirup merah. Lalu kocok-kocok. Sluuuurp!


Ramuan sirup warna merah adalah kunci kelezatannya. Pernah lihat sirup tjampolay? Nah begitulah sirup di sini. Pemilik toko mengatakan (gula) sirupnya buatan sendiri. Katanya tidak berbahan pengawet dan kita bisa membeli sirupnya terpisah dari es kopyor. 

Siang itu di sudut kota Cirebon, sambil menyeruput minuman terenak sedunia, saya membagi kisah pergi-pulang perjalanan SMA pada Indra. Termasuk tentang cinta monyet yang saya patahkan hatinya di sisi sungai Sukalila, di seberang toko Es Kopyor 4848.

Es Kopyor bukan sajian terakhir yang kami santap. 


Kami ke Pagongan makan Nasi Lengko dan Mie Koclok di Panjunan. Di penghujung hari kami masuk ke penginapan, lunglai kekenyangan dan bahagia.

Saya melewatkan sega jamblang, tahu gejrot, dan docang. Biar saja. Selalu ada yang tertinggal agar ada alasan kembali bukan?

******

Esok siang saya meminta Indra pindah kota. “Kita ke Indramayu.”

Indramayu adalah tetangganya Cirebon. Kota kampung halaman pertama saya sebab masa kecil hingga SMP tandas di sana. 


Salah satu makanan yang saya rindukan dari Indramayu adalah rumba.

Bila di Bandung, rumba ini saudara kembarnya lotek. Kalau di Surabaya mirip pecel.


Sayurannya dikukus atau direbus. Terdiri dari beberapa sayuran, dalam seporsi rumba ada kangkung, timun, daun semanggi, dan tauge. Juga terdapat sayuran langka bernama kembang turi dan buah lamtoro.

Rumba dimakan dengan bumbu yang tidak manis dan tidak asin, tapi pedas. Pedas yang durjana itu bernama sambel asem. 


Bayangkan bumbu manalagi yang rasa bumbunya pedas saja sudah. 

Saking pedasnya, tubuh berkeringat seperti sedang berarung jeram. Sebab panasnya ganda: panas cuaca dan 'panas' cabai! 

‘Bukan makan rumba kalo gak keringatan’ begitulah prinsip makan rumba. Kombinasi kerupuk dan minum air hangat membuat rumba mendarat damai di dalam perut.




Sehabis gempuran pedas yang biadab, tubuh terasa lebih sejuk. Paradoks. Saya sering menemui makanan pedas di Cirebon dan Indramayu. Rupanya rasa pedas memiliki khasiat mendinginkan tubuh. Seperti memasak nasi di rice cooker, energi panasnya akan berhenti di satu titik. Habis itu temperaturnya turun sedikit dan rice cookernya mengeluarkan uap dan sedikit air.


Indra kepedasan. Seperti beruang kutub nyasar di pantai Gunung Kidul. Pakaian kami basah. Butuh beberapa waktu untuk mulut kami ini 'seimbang' lagi. Hahaha. 

Lidah sudah tenang. Bibir mulai damai. Rasa pedas hilang, kami sambut makanan berikutnya di restoran Panorama Indramayu. Di sini terdapat satu hidangan yang unik. 

Sebab pada mulanya makanan ini adalah limbah. Tahu ikan mayung? ikan yang dagingnya jadi asin jambal roti. Kepalanya tidak berguna. Tak ada pasarnya. 

Oleh para nelayan kepala ikan mayung dikumpulkan. Statusnya sampah. Mereka bawa limbah ini pulang ke rumahnya. Sayang bila dibuang -sebab ukuran kepalanya besar sekali!- istri nelayan mengolahnya jadi masakan yang kita kenal bernama: Gombyang. 



pinjem foto dari Kompas, sebab foto kami gak tahu di harddisk yang mana :D (source)

Gombyang ini lah yang sekarang jadi menu kenamaan di Indramayu. Kepala ikan mayung direbus. Tidak tahu berapa lama. Dimasukkan aneka rempah ke dalam kuahnya sehingga muncul rasa asam yang kuat dan segarnya luar biasa. Saya benci asam tapi di sini pengecualian.

Pedas tidak? bisa diatur. Di dalam kuahnya ada cabai hijau dan merah. Bila ingin pedas, tinggal dipotong saja cabainya. Tidak mau pedas ya keluarkan saja dari piringnya.

Di restoran Panorama ini menurut saya Gombyang terbaik berada. Kuahnya banyak, warnanya bening, dan kepala mayungnya bisa dimakan berdua. Besar sekali! Dagingnya masih banyak. Tulangnya bisa disedot-sedot nikmat sampai ia kering. 

Makanan pesisir ini memang....ckckckck....makanan nusantara sih intinya itu memang....kalau boleh saya mau hidup seribu tahun untuk cari makanan-makanan terenak nusantara dari ujung Sabang sampai ubun-ubun Merauke! Hahaha. 

Sudah waktunya kembali ke Bandung, perjalanan kuliner di pesisir harus disudahi. "Gimana? seneng?" tanya Indra. 

Saya mengangguk saja, senyum lebar sampai telinga. 

Di dalam kereta api menuju Bandung, perut terpuaskan, hati senang. Makanan adalah mesin waktu, dibawanya kita menyusuri kenangan dalam aroma dan rasa.

Ngomong-ngomong, bila waktu bisa dibeli dan bawa kita kembali ke masa lalu, berapa harganya ya...






Teks: Nurul Ulu
Foto oleh Indra Yudha


*tulisan dibuat dalam rangka lomba Traveloka. tapi kalah :') jadi saya edit ulang tulisannya*


42 comments on "Kerinduan Pada Hidangan Pesisir"
  1. Empal gentong... Es kopyor... Mauuu...

    ReplyDelete
  2. Cerita-cerita kayak gini nih yang bikin langsung ngecek tiket dan pengen jalan-jalan. Hahaha. Emang belum pernah ngerasain empal gentong yang bener-bener enak sih kalau di Bandung, ke Cirebon wae kitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. eis iya atuh ke Cirebon gih :D beda empal gentong di Bandung sama di tempat muasalnya, Teh. Pan cuaca juga ngaruh ke rasa lidah kita meureun.

      Delete
  3. Es kopyor na ngagupayan euy, haus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ke Cirebon, Tian. Deket sekarang mah naik kereta api. Bebas macet.

      Delete
  4. enak baca tulisannya,kerasa banget seger es kopyornya mba..:)

    ReplyDelete
  5. Seru sekali bacanya, berasa ada ikut ke sana. Tapi jadi ngiler pengen cobain makanannya terutama rumba, namanya lucu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Yasinta :) iya lucu ya kayak apaan gitu, Rumba, Zumba, Rumba, Zumba. Hahaha

      Delete
  6. Huhuuu hujan2 begini enaknya makan empal gentong. Iya emang enak aslinya di Cirebon tuh empal, jamblang, nikmat pisaaan .

    Tapi ada di sekitar Sadakeling,makanan khas Cirebonan ini, haduuh enak juga plus makanannya sambil hareudang, seuhah teaa..ngoprot weh kesang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makan sambil keringetan, hahahaha bener pisan. Tapi abis itu jadi sejuk rasanya walo sebentar hahaha

      Delete
  7. Jadi inget pas ada KAI Travel Fair di Jakarta. Kasian tmn2ku pd antri desek2an, tp gk kebagian. Belakangan baru tau kalo tiket murahnya bs dibeli lewat Traveloka juga. Lhaa tau gitu ga usah capek antri. Haha.

    Btw, aku blm pernah ke cirebon. Seru sekaliii kukineran disana sepertinyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga tau belakangan klo tiket murah di KAI Travel Fair itu bisa dibeli online, Noe. Saya kebagian beli tiket ke Semarang kelas eksekutif. Muraaaah beli di Traveloka. Terus ke Semarangnya batal. Weks.

      Delete
  8. Keren tulisannya, lu, as usual!Aku paling terharu sm penjjelasann indra ttg traveloka dlm satu tarikan napas, wkwkwk.. happy travelling!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuakakakak ya gitu deh karena lapar meureun pgn cepet makan tapi saya malah ngelama2in hahaha. Hatur nuhun, Teh Ayu :)

      Delete
  9. Cirebooon...
    Kapan aku ke sana lagiii...

    Aku pernah 3 tahun tinggal di Klayan, teh...
    Masih inget banget, kaka aku sekolahnya SMPN 1, jln. Siliwangi.
    ((bener gak??))


    **kangenkangenkangen
    ((tanggungjawab teteeehh...))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaaa Lendy kamu anak Cirebon? Iya bener SMP 1 di Jl Siliwangi, deket stasiun kereta api. Berarti orang tuanya Lendy kerja di Pertamina ya? Klayan kan komplek perumahan Pertamina. Lendy dulu sekolah di mana?

      Delete
  10. Aku baca artikel ini kek baca cerpen, ada tegangnya, ada momen ngilernya. Dan sebagai anak pesisir, aku nyesel main ke sini. Jadi lapar, hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ih makasih, Teh. Saya jadi seneng, dipuji cerpenis & novelis euy :) kita sama-sama anak pesisir, saya di pesisir barat, teteh di pesisir timur. Hahaha pantas mulut kita ini cadas kayak batu karang ya. Wkwk.

      Delete
  11. Suka banget tulisannya ulu, beraca baca cerpen, dan jadi ikut membayangkan semua yang dialami ulu dan keluarga selama kulineran, sukses ya,Ulu

    ReplyDelete
  12. Duh, jadi pengen ke cirebon lagi, sekali numpang lewat ke cirebon dan suka banget sama empal gentong,tulisannya keren Ulu

    ReplyDelete
  13. Aku hampir saja menjelajahi Cirebon bulan lalu, namun sayang karena satu hal harus batal :( pas baca tulisan ini jadi makin mupeng ke sana, penasaran sama kuliner-kulinernya.

    Sotonya nampak menggiurkan. Kuahnya bening gak kayak soto di Palembang sini. Slrupp. Dan, btw, limit 3 jam dari Traveloka itu emang sangat membantu. Di situs lain batasannya 6 jam soalnya. *pengalaman hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooow,Yan. Wah mudah-mudahan kamu diberikan rezeki utk ke Cirebon ya. Panasnya mungkin sama kayak di Palembang, eh kayaknya panasam Cirebon deh. Hehehe. Kamu bakal suka peninggalan budaya di Cirebon, Yan. Gak lebih terawat dr yg di Yogyakarta sih *sad* tapi keberagaman budayanya unik :)

      Delete
  14. Keren banget ini tulisaaan, suka sama gaya bahasanya...goodluck semoga menang lombanya yaaa :)

    ReplyDelete
  15. Sering2 nulis dengan gaya kayak gini, Lu. Seru !.
    Penggennn banget ngajak Fauzan ke Cirebon, biar tahu kampung leluhur kakek dari Bapaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lhooo Fauzan wong cerbon jeh! Sini saya ajarin bhs jawa pesisir, Teh :D hihihi

      Delete
  16. duh kok agak baper ya baca ini. hahaha... bukan kenyang makanan doang, tapi kenyang kenangan juga inimah... hehe

    ReplyDelete
  17. Duuh yaa, ngegoda bae tehbulu mah. Jdi kangen kampung halaman, aplgi yg diomongin kuliner woow bikin perut berbunyi2 gawe ngiler pisan. Secara semuanya ga ad digrntlo. Lumayan sambil, menghayal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah Fely kamu komen wkwkwkwk kapan arep balik dermayu? Ya pasti gak ada di Gorontalo, Fel :D

      Delete
  18. Membaca kata pesisir dalam judul, jujur ada harapan didalam tulisan ini ada adegan makan seafood nya. Hahahhaa...
    Tapi makanan cirebon emang enak-enak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah apa asyiknya kalau pembaca bisa nebak isi tulisan hanya dari judul :D surprise...surprise :))))))

      Delete
  19. cirebon selalu ada cerita.. dlu pernah magang disini 3 bulan pas di pesisir.. argghh kangen cirebon...

    ReplyDelete
  20. aku blm pernah ke cirebon! Tapi sekarang ada KA yg langsung loh mb dari Jember ke Cirebon. save dulu ini macem2 rekomendasinya. Gmn ngatasin perut biar cukup kulineran seharian gitu? haha, aku seringnay kekenyangan soalnya, wkwk

    ReplyDelete
  21. kampung bapak ibu juga disini, klo pulang kampung suka berburu kuliner sekitar pesisir, cuma blm pernah coba Empal Gentong Krucuk itu

    ReplyDelete
  22. Mau dong kak es kopyor-nyaaa :D

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete